Puisi Isra Mikraj

Selamat Memperingati Isra Mikraj 2021.

Semoga semakin rajin salatnya., sehingga ada bekas sujudnya (min atsaris sujud) dalam kehidupan, bukan bekas hitam di jidat. Kalau ini min atsaril karpet. Inilah yang paling ditakuti oleh para ulama, para wali. Sebab kalau sampai jidat mereka hitam akan membuat mereka riya’ (pamer). Wallahu’alam.

 

 

 

Jalan Berbelok Ke Baitullah: Untuk Ulil Abshar Abdalla

Gus Ulil Ultah

Selamat ulang tahun untuk sahabatku, Ulil Abshar Abdalla. Setelah Cak Nur dan Gus Dur, dialah yang berani melawan otoritarianisme pemikiran agama. Sebagaimana kedua pendahulunya tersebut, Ulil menolak penafsiran tunggal atas teks-teks agama. Segala kemungkinan tafsir ia beberkan dengan disiplin keilmuan pesantren yang dikuasainya.

Hasilnya ialah: Islam menjadi agama yang terbuka. Tidak ada, dan memang tidak boleh ada, monopoli atas tafsir agama. Ijtihad yang ditempuh Ulil membuka jalan bagi banyak orang untuk mendekati Islam dari berbagai sisinya. Bahkan mereka yang semula jauh dari ajaran agama, termasuk pada pemabuk, pembangkang, dan para pendosa lainnya, merasa nyaman dengan jenis Islam yang diperkenalkan oleh Ulil. Mereka merasa diterima, dan diberi akses kepada Tuhan melalui pintu mereka sendiri.

Ini tentu berbeda dengan pemahaman mainstream yang menempatkan agama semata-mata sebagai urusan surga-neraka, halal-haram, dan sejenis itu. Atas ijtihadnya itu, Ulil dikagumi dan diikuti oleh banyak orang, tapi juga dibenci oleh yang lainnya. Ia pernah difatwa “halal darahnya” oleh Forum Ulama Umat Islam (FUUI).

Namun pikiran-pikiran Ulil terus bergulir dan mendapatkan tempat tersendiri di benak kaum Muslim, khususnya anak-anak muda yang tengah mencari Islam yang berbeda dengan “Islam mainstream” yang bagi mereka sudah terlalu kolot untuk bisa menjawab kebutuhan masa kini.

Sekali lagi, selamat ultah Gus Ulil.  Sebuah puisi khusus saya buatkan untuk Anda di hari yang istimewa ini.

Salam,

Ahmad Gaus

 

 

 

 

 

Dalam Fana

Dalam Fana

dalam fana aku tiada
dalam tiada aku mengada
aku adalah debu purba
dihempas angin negeri-negeri tua
mencari tempatku di alam semesta
namun tak ada

aku adalah setitik air
berkelana mencari samudera
ingin melebur dalam keluasannya
namun tak sampai jua

kuikuti jalan fana
dalam fana wujudku tiada
aku melihat tidak dengan mata
mendengar tidak dengan telinga
berkata tidak dengan mulut
meraba tidak dengan tangan
mencium tidak dengan hidung
sebab indraku terputus
segala yang ada pupus

pikiranku sirna karena aku tidak membutuhkannya
perasaanku sirna karena aku tidak mengindahkannya
pikiran dan perasaan membuatku
terpenjara dalam ruang dan waktu
sedang burung-burung jiwaku
datang dan pergi tak kenal waktu

aku tidak hidup di bawah langit
aku tidak hidup di atas bumi
sebab langit dan bumi tidak ada
ruang dan waktu tidak ada
dan dalam tidak ada apa-apa
hanya DIA yang mutlak ada

dalam fana aku tiada
dalam tiada aku mengada
bersama Sang Ada

Puisi: Ahmad Gaus

Puisi ini dibacakan dalam Kultum Ramadan di Gedung Film, Jl. MT Haryono Kav. 47-48, Jakarta, 09 Mei 2019

kultumLSF

[Puisi] “Meninggalkan Tubuh”

ruh

 

 

Pembacaan Puisi oleh Ira Diana (penyair, novelis)

MENINGGALKAN TUBUH
  — puisi ahmad gaus

Aku berjalan ke timur

Bertanya pada semua yang kutemui

Benarkah jalan yang kutuju

           untuk mencari diriku

Semua membisu, tidak  ada yang tahu

Dalam terang cahaya, aku seperti buta

Dalam terik siang, yang kutemukan

                      hanya bayang-bayang

Aku berjalan ke barat dengan tergesa

Saat matahari masih menyala

Kutemukan semua keindahan

                                 panorama senja

Tapi sayang,  yang kucari  tidak ada

Aku berjalan ke setiap penjuru angin

Tapi perjalananku hanya melelahkan batin

Sedang  tujuan yang ingin kucapai

                                      makin tak tergapai

Orang yang kucari, tak juga

                                      menampakkan diri

Seseorang mengetuk pintu malamku

dan berkata; bagaimana engkau akan

                                 menjumpai Tuhanmu

sedangkan menuju dirimu sendiri saja

engkau tak pernah sampai

Perjalananmu berat karena engkau

                                    membawa tubuhmu

Berpuasalah, tinggalkanlah tubuhmu

Hanya dengan berada di luar tubuh

engkau akan menemukan dirimu

Menjumpai Tuhanmu

 

Dimuat dalam buku puisi Ahmad Gaus, Senja di Jakarta (2017)

Mekah