[Puisi] “Meninggalkan Tubuh”

ruh

 

 

Pembacaan Puisi oleh Ira Diana (penyair, novelis)

MENINGGALKAN TUBUH
  — puisi ahmad gaus

Aku berjalan ke timur

Bertanya pada semua yang kutemui

Benarkah jalan yang kutuju

           untuk mencari diriku

Semua membisu, tidak  ada yang tahu

Dalam terang cahaya, aku seperti buta

Dalam terik siang, yang kutemukan

                      hanya bayang-bayang

Aku berjalan ke barat dengan tergesa

Saat matahari masih menyala

Kutemukan semua keindahan

                                 panorama senja

Tapi sayang,  yang kucari  tidak ada

Aku berjalan ke setiap penjuru angin

Tapi perjalananku hanya melelahkan batin

Sedang  tujuan yang ingin kucapai

                                      makin tak tergapai

Orang yang kucari, tak juga

                                      menampakkan diri

Seseorang mengetuk pintu malamku

dan berkata; bagaimana engkau akan

                                 menjumpai Tuhanmu

sedangkan menuju dirimu sendiri saja

engkau tak pernah sampai

Perjalananmu berat karena engkau

                                    membawa tubuhmu

Berpuasalah, tinggalkanlah tubuhmu

Hanya dengan berada di luar tubuh

engkau akan menemukan dirimu

Menjumpai Tuhanmu

 

Dimuat dalam buku puisi Ahmad Gaus, Senja di Jakarta (2017)

Mekah

 

 

 

[Puisi] Bangsa Merdeka

Puisi “Bangsa Merdeka” diambil dari kumpulan puisi saya “Senja di Jakarta” yang terbit pada November 2017. Video pembacaan puisi dibuat pada 14 Agustus 2018 sebagai bagian dari kampanye spirit kemerdekaan oleh Yayasan Indonesia Bahagia (YIB). Lokasi: Atap Gedung Film, Jakarta. Videografer: Ira Diana

 

BANGSA MERDEKA

Kalau engkau bertanya kepadaku
benarkah kita sudah merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
ribuan jendela di mata orang-orang tua
yang duduk di atas kursi roda
di sana engkau akan melihat
bukit-bukit gerilya dan hutan belantara
tempat pembantaian manusia
ladang-ladang tebu yang dibombardir
kampung-kampung ibu mereka yang diteror mortir
dan sungai-sungai berwarna merah
yang hingga kini masih mengalir
di mata mereka.

Kalau engkau bertanya kepadaku
mengapa kita harus merdeka
akan kuajak kau pergi ke desa
melihat anak-anak berangkat ke sekolah
melintasi pematang-pematang sawah
menggendong tas berisi buku-buku
sejarah yang berdarah
dan sejumput impian mewah: menjadi dokter,
insinyur, tentara, guru, wartawan, seniman,
pegawai negeri, atau apa saja
yang membuat mereka berguna
untuk bangsa.

Sebab bangsa adalah pusaka yang diwariskan
oleh kakek-nenek moyang mereka
sebab bangsa adalah himne yang dinyanyikan
dengan linangan airmata.

Kalau engkau bertanya kepadaku
apa arti merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
pintu-pintu penjara
tempat dulu orang-orang tua kita
meringkuk di dalamnya
disiksa oleh para penjarah bangsa.

Dan kalau engkau masih bertanya
apakah kita sudah merdeka
untuk apa kita merdeka
dan apa arti merdeka
kusarankan kau
masuklah ke dalam penjara.

Jakarta, 16 Agustus 2017

BukuSenja