Elegi untuk Ibu Omi

 

omi1

ELEGI UNTUK IBU OMI *)

 

Suatu hari nanti kita akan sendiri
Duduk di sisi jendela
Di tepi pagi yang sunyi
Memandangi bunga-bunga di taman
Tumbuh, merekah, kemudian layu dan jatuh ke bumi
Menikmati kicau burung-burung di halaman
Sebelum mereka terbang satu persatu menuju cakrawala

Seperti itu pula orang-orang yang kita cintai
Keluarga, sahabat, handai taulan
Satu demi satu mereka pergi meninggalkan kita
Sebagian telah berpulang menuju keabadian
Sebagian lagi masih menunggu antrian
Di simpang jalan kehidupan

Mereka yang pergi bukan tidak mencintai kita
Tapi masing-masing punya dunia sendiri
Dunia yang tidak bisa kita kunjungi sekalipun hanya dalam mimpi (begitu kata penyair Libanon-Amerika, Khalil Gibran, dalam puisi “On Children”)
Dunia yang dibangun untuk masa depan mereka yang lebih baik
Agar kelak, mereka pun dapat menikmati hidup bahagia seperti kita
Duduk dekat jendela
Ditemani secangkir teh di sore hari yang sunyi

Kesunyian bukanlah tragedi
Seperti ranting tua yang jatuh ke jalan
Dilindas roda kendaraan
Bukan!

Kesunyian itu seperti tsunami yang berdiam di dalam botol
Menunggu tangan-tangan malaikat menumpahkannya di kanvas kehidupan
Dari kesunyian lahir bayi-bayi mungil bernama kearifan, kebijakan, dan peradaban

Kesunyian adalah sahabat lama yang kita nantikan
Sebab dialah yang akan menemani kita
Mengumpulkan serpihan jiwa yang berserakan
Di sepanjang perjalanan

Kesunyian menguji kesabaran kita hingga batas terjauh
Untuk menghubungkan dua dunia
Yang fana dan yang baqa

Kesunyian bukanlah alasan untuk merasa sunyi
Sebab seluruh semesta ini, kata penyair sufi Jalaluddin Rumi, ada di dalam diri
Mengapa kita harus merasa sunyi

Suatu hari nanti kita akan sendiri
Duduk di tepi jendela, di ujung senja yang sunyi
Tapi kita semua membutuhkan kesunyian
Sebab pada dasarnya kita memang harus belajar mempersiapkan diri
Menuju kesunyian yang abadi.

 

PIM 3 Jakarta, 26/01/2019

*) Ibu Omi Komaria Madjid adalah istri almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur), cendekiawan, guru bangsa, dan pemimpin besar revolusi pemikiran yang pernah dimiliki bangsa ini.

Note:
Puisi ini dibacakan di acara pertemuan Caknurian II dan tasyakuran ulang tahun ke-70 Ibu Omi Madjid di Pondok Indah Mal 3, Jakarta. Terima kasih kepada Prof Komaruddin Hidayat sebagai host acara, dan Kiai Ulil Abshar Abdalla yang menginspirasi lahirnya puisi ini. Terima kasih juga untuk teman-teman yang hadir di acara ini. Ingatlah: Semua akan berpuisi pada waktunya. 😂

omi2

omi3

 

 

 

 

Puisi Sufistik: “Meninggalkan Tubuh”

 

 

Pembacaan Puisi oleh Ira Diana (penyair, novelis)

MENINGGALKAN TUBUH
  — puisi ahmad gaus

Aku berjalan ke timur

Bertanya pada semua yang kutemui

Benarkah jalan yang kutuju

           untuk mencari diriku

Semua membisu, tidak  ada yang tahu

Dalam terang cahaya, aku seperti buta

Dalam terik siang, yang kutemukan

                      hanya bayang-bayang

Aku berjalan ke barat dengan tergesa

Saat matahari masih menyala

Kutemukan semua keindahan

                                 panorama senja

Tapi sayang,  yang kucari  tidak ada

Aku berjalan ke setiap penjuru angin

Tapi perjalananku hanya melelahkan batin

Sedang  tujuan yang ingin kucapai

                                      makin tak tergapai

Orang yang kucari, tak juga

                                      menampakkan diri

Seseorang mengetuk pintu malamku

dan berkata; bagaimana engkau akan

                                 menjumpai Tuhanmu

sedangkan menuju dirimu sendiri saja

engkau tak pernah sampai

Perjalananmu berat karena engkau

                                    membawa tubuhmu

Berpuasalah, tinggalkanlah tubuhmu

Hanya dengan berada di luar tubuh

engkau akan menemukan dirimu

Menjumpai Tuhanmu

 

Dimuat dalam buku puisi Ahmad Gaus, Senja di Jakarta (2017)

Mekah