Categories
Novel

Laura & Burung Hantu (III)

– 9 –

Pertemuan dengan Si Boy

Sementara itu, Laura mulai siuman ketika mendengar sebuah suara mengeong di telinganya. Entah berapa lama dia tidak sadarkan diri. Saat matanya dibuka, dia tersentak melihat seekor kucing di depan matanya. Kucing jantan yang sangat dikenalinya.

“Boy, kenapa kamu ada di sini?”  

“Meoong,” kucing itu menjawab.

“Kamu sama siapa, Boy?”

“Meong.” Lagi-lagi kucing itu mengeong, tapi kali ini dia membalikkan badan sambil berjalan. Laura mengerti isyarat itu. Dia mengikuti dari belakang ke mana kucing yang dirawatnya dari kecil itu berjalan. Laura teringat saat-saat dia pertama kali memelihara Boy bayi. Kucing itu belum diberi nama.

“Tolong kamu rawat dia ya, Laura, di rumahku sudah terlalu banyak kucing.” Begitu kata-kata Maudi, teman Laura yang mengantarkan kucing kecil itu ke rumahnya. Laura dan keluarga mencari-cari nama yang pas untuk kucing jantan kecil itu. “Bagaimana kalau kita kasih nama Si Boy,” usul Laura. Kebetulan waktu itu sedang ramai sinetron Anak Jalanan di sebuah stasiun televisi di mana pemeran utamanya sangat terkenal, Si Boy, namanya. Semua setuju. Sejak itulah kucing kecil mereka dipanggil Si Boy.

tumblr_mvib0xnIhG1s0y297o1_500

Setelah mulai besar, pada tahun kedua, Si Boy menghilang. Berhari-hari Laura mencoba mencarinya hingga ke ujung-ujung gang dan perumahan penduduk, namun tidak berhasil menemukannya. Hingga akhirnya dia pasrah. Teman-temannya mengatakan, kucing jantan kalau sudah besar akan pergi, mencari pasangan.

Laura tidak menyangka bahwa akhirnya bisa bertemu kembali dengan Si Boy. Tubuhnya tidak jauh berbeda dengan dulu saat pergi dari rumah. Kalau manusia, dia ini posturnya six pack. Tampak kekar dan jantan.

Lamunan Laura buyar ketika Si Boy berhenti di depan sebuah rumah yang letaknya terpencil, jauh dari rumah-rumah yang lain. Bahkan rumah itu nyaris tidak terlihat dari depan karena ditutupi pohon-pohon besar yang tumbuh di halamannya. Tapi tanaman kecil dan rumput-rumput di halamannya tampak rapi, menandakan bahwa rumah itu ada penghuninya.  

Si Boy terus berjalan di depan seperti memberi isyarat agar Laura mengikutinya sampai ke dalam. Namun Laura tampak ragu. Saat kakinya menginjak lantai teras dari ubin tua, dia menghentikan langkahnya. Telinganya seperti mendengar suara yang memanggil namanya. Matanya menyelidik ke seantero ruang depan. Tidak semua terlihat karena suasana remang dan cenderung gelap. Di langit-langit hanya ada lampu neon kecil tergantung seperti sudah terlepas dari pegangannya. Laura melangkah pelan.

 

044787400_1508826803-3__Haunted-House-Facade-Home-Building-Old-House-578218__Max_Pixel

“Laura!” Suara itu lagi, terdengar samar tapi cukup jelas dari mana asalnya. Laura menengok ke sebelah kiri, arah datangnya suara. Tidak ada siapapun di sana. Hanya rimbun daun bergerak-gerak ditiup angin. Namun sekonyong-konyong sebuah sinar bulat menyala seperti memberi isyarat pada Laura tentang keberadaannya. Mata burung hantu. Laura terkejut. Belum sempat dia bereaksi lebih jauh, Si Boy mengeong dari dalam seolah memanggilnya. Ragu-ragu Laura melangkah ke dalam. Matanya masih sempat melirik ke arah burung hantu untuk memastikan bahwa bukan burung itu yang memanggil namanya.

Si Boy membawa Laura melewati ruang tamu menuju sebuah kamar. Seorang pria tua berbaring di atas tempat tidur dari kayu, beralaskan kasur dengan seprei warna gelap sehingga menimbulkan suasana suram. Rupanya dia mengetahui kedatangan Laura, dan menyambutnya dengan suara batuk yang tertahan. Si Boy melompat ke atas tempat tidur. Orang itu bangun dari tidurnya, lalu meletakkan punggungnya pada sandaran kayu tempat tidur. Tangannya mengelus-elus kepala Si Boy. Terbetik rasa iri di hati Laura melihat kemanjaan Si Boy pada “majikannya” itu. 

“Jadi selama ini Boy tinggal di sini sama Kakek?” Laura membuka percakapan.  “Oh iya, maaf, nama saya Laura, saya dibawa ke sini oleh Si Boy. Ini kucing saya,” tambah Laura.

“Oh, namanya Boy,” sahutnya. Tangannya masih mengelus-elus kepala Si Boy. “Namamu sendiri siapa tadi?”

“Saya Laura, Kek.” Lalu dia menceritakan kisah Si Boy yang dia rawat sejak kecil, menghilang, sampai bertemu lagi di Taman Eden. Orang itu menggut-manggut.

“Kakek di sini tinggal sama siapa?”

“Kakek tinggal sama cucu. Dia itu yang menemukan kucing ini terkapar di pinggir jalan karena dilindas sepeda motor yang melarikan diri. Dia membawanya ke sini dan merawatnya hingga sembuh. Laura kaget mendengar itu. Didekatinya Si Boy dan tangannya mengelus-elus kepalanya.

“Di mana cucu kakek sekarang?” Tanya Laura.

“Dia lagi ke apotik membeli obat untuk kakek. Tapi katanya mau pulang agak malam karena mau datang ke acara ulang tahun temannya dulu.”

Laura tersentak mendengar si kakek menyebut kata ulang tahun, teringat hari ulang tahunnya sendiri, hari ini, yang berantakan akibat peristiwa yang sama sekali tidak diduganya. Teringat Jodi yang entah dimana keberadaannya. Kesal juga dia mengingat pacarnya itu. Dia juga terbayang wajah teman-temannya yang pasti sangat kecewa karena dia tidak memberi tahukan pembatalan pesta ulang tahunnya.

“Siapa nama cucu kakek? Dan siapa temannya yang ulang tahun itu?” Tanya Laura bertubi seakan tidak sabar.

“Ardi. Kalau nama temannya, Kakek tidak tahu.”

“Ardi? Rasanya saya kenal. Apa dia yang suaranya agak parau, yang dulu sekolahnya di SMP Pondok Pinang, dan pernah naksir sama Lauren?”

“Iya, betul,” jawab si kakek. “Tapi kakek tidak tahu kalau dia naksir sama Mama Lauren. Bukannya dia sudah meninggal dunia?”

“Lauren, Kek, sepupu saya, bukan Mama Lauren yang paranormal itu.” 

“Oohh…” sungut si kakek.

Tidak salah lagi, pikir Laura, itu pasti Ardi yang ditemuinya di telaga. Pantas saja aku hampir mengingat suaranya yang khas. Tapi kenapa dia ada di telaga? Kenapa dia tidak mau menampakkan muka? Apa dia malu, takut aku mengenalinya? Astaga, bagaimana keadaan dia sekarang? Apa masih di atas pohon? Berjubel pikiran di kepala Laura.  Lagi-lagi dia merasa bersalah.

“Kenapa, Nak, kok bengong.”

“Ah, enggak apa-apa, Kek, saya lagi mencoba mengingat-ingat karena sudah lama tidak ketemu dia.”

“Oh begitu. Kalau nanti kamu ketemu Ardi di jalan, kamu pasti kaget karena pakaiannya waktu tadi keluar rumah, sama dengan yang kamu pakai sekarang.”

Demi apa, Laura seperti disengat kalajengking. “Oh, iya, eeh, apa iya, Kek? Mungkin kebetulan saja, Kek. Semoga Ardi cepat pulang ya, Kek. Biar obatnya bisa cepat diminum. Oh iya, ngomong-ngomong saya mau pamit dulu, Kek, takut kemalaman. Salam saja sama Ardi.”

“Ya sudah, nanti kakek sampaikan,” ujar si kakek sambil bangkit dari tempat tidur untuk mengantar Laura ke halaman. Walaupun sudah tua, mungkin sekitar 70 tahunan, si kakek tampak masih gagah, jalannya masih tegap. Hanya saja dia sedang sakit batuk-batuk jadi kelihatan pucat dan lelah.

“Si Boy boleh saya bawa ya, Kek?”

“Kalau itu, kamu harus bilang dulu sama Ardi. Nanti kalau dia nanya, kakek bingung jawabnya.”

“Tapi dia mau ikut saya tuh, Kek, lihat.”  Laura menunjuk Si Boy yang menggesek-gesekkan badan ke kakinya seperti tidak mau ditinggal. “Saya ‘kan sudah tahu rumah kakek, jadi nanti saya bisa ke sini lagi untuk bilang sama Ardi. Ya, Kek, pliss.”

“Ya sudah kalau begitu, tapi ini makanannya dibawa juga.”

“Tidak usah, Kek. Di rumah saya banyak makanan kucing. Saya selalu menyiapkan untuk kucing-kucing kampung yang suka datang ke rumah.”

“Sudah, bawa saja, nanti kamu akan membutuhkannya.”

Laura tidak bisa menolak. Diambilnya makanan kucing yang terbungkus kantong plastik itu. Mereka berjalan ke arah teras, beberapa meter dari kamar tidur, karena rumah itu cukup besar, namun terkesan sepi karena tidak ada siapa-siapa lagi selain si kakek, Ardi, dan Si Boy.

Pada dinding ruang tengah tergantung beberapa foto perempuan, laki-laki, dan anak-anak tanggung. Tapi Laura tidak berniat untuk menanyakan perihal mereka karena merasa harus cepat pergi. Mendekati pintu depan, tiba-tiba Laura mengambil posisi di sebelah si kakek, dan memegangi tangannya.  

“Kek, kenapa Kakek memelihara burung hantu?”

“Kakek tidak memelihara burung hantu, mereka yang datang sendiri ke sini, hehee.”

“Mereka? Berarti banyak dong?” Kejar Laura.

“Ya, banyak, tapi datang dan pergi. Mereka ke sini cuma numpang tidur karena di rumah kakek masih banyak pohon besar. Tapi sebenarnya mereka itu burung hantu jadi-jadian.”

“Maksud Kakek? Saya nggak ngerti.”

“Burung hantu jadi-jadian itu tadinya manusia, karena melakukan kesalahan maka dia dikutuk jadi burung hantu.”

“Kakek serius? Saya takut, Kek.”

“Hehehe… Nggak. Kakek cuma becanda.”

Secara refleks tangan Laura memukul bahu si kakek. Dan si kakek pura-pura meringis kesakitan. Mereka masih berdiri di pintu bagian dalam. Melanjutkan percakapan yang sebenarnya dibuat-buat oleh Laura untuk menekan perasaan takutnya.

ghosts-gespenter-spooky-horror-40748_bfxguc

Matanya kembali menerawang seisi ruangan rumah. Tidak ada kesan angker, hanya saja lampu penerangannya memang kurang. Di beberapa sudut bahkan terlihat ada vas bunga lengkap dengan isinya. Tapi dia tidak tahu itu bunga asli atau plastik. Kalau itu hasil tangan Ardi, berarti punya jiwa seni juga anak itu, pikir Laura.

“Kek, apa betul ada nenek tua d sekitar sini yang suka menyihir kupu-kupu jadi burung hantu.” Laura masih penasaran perihal burung hantu.

“Kalau itu memang ada riwayatnya. Tapi tidak semua jenis kupu-kupu. Hanya kupu-kupu yang dulunya jelmaan dari bidadari yang disihir jadi burung hantu. Karena si nenek itu iri hati, dia ingin jadi bidadari tapi sudah terlalu tua. Makanya kupu-kupu bidadara itu yang jadi korbannya.”

“Serius, Kek?”

“Enggak, kakek cuma becanda, hehehee.”

Lagi-lagi Laura melayangkan tinjunya ke bahu si kakek.  Di balik candaan-candaannya, Laura merasakan aura misteri pada diri si kakek, tapi dia mencoba untuk rileks dan akrab.

“Ya sudah, kalau mau pergi silakan, hati-hati di jalan. Nanti kalau ketemu Ardi tolong kasih tahu dia kakek nunggu obatnya, jangan terlalu malam. Nanti kakek keburu tidur.”

Setelah berpamitan sekali lagi, Laura meninggalkan halaman rumah itu diiringi Si Boy.

 

Lanjut baca: Laura & Burung Hantu (IV)

Laura & Burung Hantu (II) ⇐  Cerita sebelumnya

 

Categories
Seminar

Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia

Quote

“… selama ini ada kesenjangan antara bahasa baku dengan bahasa gaul. Pendulumnya bergerak terlalu ekstrem dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Harusnya kita punya bahasa “menengah” yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan yang tidak terlalu kaku namun juga sekaligus memiliki karakter bahasa budaya tinggi.”

Ahmad Gaus yang bertindak sebagai pembicara utama berpendapat bahwa tidak ada perkembangan yang berarti dalam bahasa Indonesia sejak ia dibakukan, dipolakan dalam rumus bahasa yang baik dan benar. Yang terasa, ujarnya, justru kekakuan dalam berbahasa. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang sangat formal yang hanya cocok digunakan di forum-forum resmi. Di luar itu, seperti dalam pergaulan, bahasa yang baik dan benar itu tidak bisa digunakan, “Lucu sekali kalau kita bercakap-cakap dengan teman menggunakan bahasa baku,” tandasnya.

Dijelaskan bahwa selama ini ada kesenjangan antara bahasa baku dengan bahasa gaul. Pendulumnya bergerak terlalu ekstrem dari kiri ke kanan atau sebaliknya. Harusnya kita punya bahasa “menengah” yang berfungsi sebagai bahasa pergaulan yang tidak terlalu kaku namun juga sekaligus memiliki karakter bahasa budaya tinggi.

Ia mencontohkan bahasa dalam film-film Indonesia yang tidak maksimal mengeksplorasi kekayaan estetik bahasa Indonesia. Akibatnya film-film kita gagal menyajikan sentuhan seni yang paripurna, sebab kita hanya disuguhi cerita. Berbeda dengan film-film produksi luar yang mampu mengintegrasikan kecanggihan cerita, sinematografi, dan sekaligus keindahan bahasa. “Kalau film hanya mampu menampilkan bahasa yang sama dengan bahasa sehari-hari, lalu di mana unsur seninya. Bahasa film harusnya setingkat atau beberapa tingkat lebih tinggi dari bahasa sehari-hari. Sebab salah satu fungsi film ialah mengedukasi, termasuk di dalamnya mengedukasi masyarakat agar memiliki selera bahasa yang berkelas.”

Tersingkirnya estetika dari bahasa Indonesia, menurut Gaus, disebabkan karena bahasa sudah dipisahkan dari sastra. Sehingga seperti jasad tanpa ruh, raga tanpa jiwa. Pendidikan sastra hanya menjadi bagian kecil dalam mata pelajaran bahasa. Ada komunitas sastrawan di satu pihak yang menjadi penguasa jagad sastra, di pihak lain ada masyarakat yang tidak mengenal sastra. Keduanya dipisahkan oleh tembok tinggi. Padahal di masa lalu masyarakat adalah pencipta karya sastra itu sendiri seperti yang terlihat dalam budaya berpantun. Saat ini pantun sudah hilang dari tradisi berbahasa, padahal anak-anak yang diajari pantun sejak dini akan tumbuh menjadi penutur bahasa yang baik. 

Akibat lebih jauh dari terpisahnya bahasa dan sastra ialah, bahasa kita menjadi sangat kaku dan kering. Belum lagi orientasi politik bahasa yang cenderung pada birokrasi dan peraturan. “Masak cuma mau memasukkan 3 perubahan sepele saja harus mengeluarkan Peraturan Menteri yang mengubah EYD menjadi EBI. Ini menunjukkan rezim bahasa tidak mengerti persoalan dan minim wawasan,” tandas Gaus. Walhasil sejauh ini, bahasa Indonesia hanya dapat menjadi alat komunikasi dan tidak bisa menjadi ekspresi kebudayaan. Maka yang harus kita lakukan ialah memutus keterasingan masyarakat terhadap sastra. Bahasa butuh ruang untuk berkembang, dan salah satu medianya adalah karya sastra…”

Selengkapnya baca di sini: https://www.csrc.jalalon.com/news/diskusi-umum-masa-depan-bahasa-dan-sastra-indonesia-2

Categories
Puisi

[Puisi] Revolusi dalam Selimut

woman-sleeping-paris-19283419
Sumber Ilustrasi: https://www.dreamstime.com/royalty-free-stock-images-woman-sleeping-paris-image19283419

 

REVOLUSI DALAM SELIMUT

Orang hilang menempelkan poster dirinya di pusat keramaian. Pagi hari ketika penduduk sibuk membangunkan pasar yang tertidur di bawah jembatan layang. Seseorang melihatnya berlari mengenakan baju perang, lalu menyelinap ke dalam kamar.

Jendela masih asik bercakap-cakap dengan halaman. Berarti Tuhan sudah pergi pagi ini, pikirnya. Maka diambilnya pedang yang tergantung di dinding dan diselipkan ke dalam selimut. Ia pun tertidur sambil memeluk guling yang terbuat dari kulit perempuan.

Dalam mimpi di pagi hari itu ribuan orang mengeluk-elukkannya sebagai raja. Duduk manis di singgasana dan berkhutbah tentang azab Tuhan bagi siapa saja yang tertidur saat api revolusi dikobarkan. Kemudian ia membujuk orang-orang untuk memenggal kepala mereka dan menggantungkannya di pintu kota.

Waspadalah! Orang-orang saling menyapa dalam rupa manusia. Tapi di tubuh mereka tidak ada siapa-siapa, kecuali api yang ragu-ragu mau membakar kota atau dirinya.

 

16/5/2017

 

 

Categories
Puisi

Datang dan Pergi

enjoy sunset

 

DATANG DAN PERGI

Ada yang datang seperti kabut
begitu tenang dan lembut
merambat di tepi-tepi hati
lalu pergi
dengan hati-hati.

Ada yang datang seperti ombak
keras mendesak-desak
menghentak batu karang
lalu menghilang.

Ada juga yang datang seperti hujan

membasahi halaman demi halaman
catatan di buku harian
dan hanya bertahan
sebagai kenangan.

Ada lagi yang datang seperti senja
merah saga.

Yang datang dan pergi tidak pernah tahu
di mana aku berdiri menunggu
berpura-pura menjadi
daun pintu.

Pasar Minggu, 28/08/17

[Puisi ini dimuat dalam buku antologi “Senja di Jakarta”, 2017]

Senja di Jakarta

 

Baca juga:

Sketsa Hujan

Tangsel Spring

Pesta Ulang Tahun di Masa Corona

Categories
Puisi

[Puisi] Menjaring Bayang-Bayang

Bogor4

MENJARING BAYANG-BAYANG

Aku dan bayang-bayangku adalah satu kesatuan
Ke timur atau ke barat, ke utara atau ke selatan
Kami selalu pergi bersama-sama
Tidak ada yang bisa memisahkan kami kecuali kegelapan

Di dalam gelap aku tidak pernah bertanya ke mana bayang-bayangku pergi
Dan dia tidak pernah peduli apa yang aku lakukan

Aku membutuhkan bayang-bayangku
Karena dia memberitahu aku tentang cahaya
Tapi aku juga takut dengan bayang-bayangku sendiri
Karena dia menjelmakan sisi yang paling gelap dari diriku

Aku dan bayang-bayang tidak pernah saling mengejar
Karena kami memahami posisi masing-masing
Kadang dia ada di belakang mengikutiku
Kadang dia di depan dan aku yang mengikutinya

Bayang-bayang selalu melekat padaku
Tapi aku tidak memilikinya
Dia adalah milik cahaya
Bahkan aku tidak mengenalinya
Hanya kegelapan yang mengenalinya dengan baik
Karena dia adalah anak kandung kegelapan

Cahaya dan kegelapan bersaing menjaring bayang-bayangku
Hasilnya adalah gambaran diriku dalam satu dimensi… gelap dan tidak utuh!
Itulah sebabnya aku tidak percaya pada bayang-bayangku sendiri
Walaupun aku tahu dia akan terus bersamaku
Sampai nanti aku mati

Catatan:
Puisi dibacakan dalam workshop Lembaga Sensor Film (LSF) “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now” di Ibis Styles, Bogor, 1 September 2018

Bogor1
Bersama Hasanuddin Ali (di samping kiri saya), penulis buku “Millennial Nusantara” yang menjadi salah satu narasumber dalam workshop LSF “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now”.
Bogor5
Bersama teman-teman LSF. Ketua LSF, Dr. Ahmad Yani Basuki duduk di tengah (berjaket hitam)

 

Categories
Esai Puisi

Menikmati ‘Hujan Bulan Juni’ bersama Tuan Sapardi

HUJAN BULAN JUNI

Hujan Bulan Juni3

Bulan Juni ialah musim kemarau, dan hujan dipastikan tidak turun. Jika hujan rindu ingin bercumbu dengan bunga-bunga, maka ia harus bersabar menunggu musim kemarau berlalu…

“Hujan Bulan Juni” memperlihatkan kekuatan Sapardi sebagai penyair yang mampu keluar dari labirin kesunyian yang melahirkan kefanaan (Amir Hamzah), kepasrahan (Chairil Anwar), atau amukan (Sutardji Calzoum Bachri), menuju ruang kontemplasi yang mencerahkan….

— Catatan Ahmad Gaus

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Puisi di atas berjudul Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono — biasa disingkat SDD — yang ditulis pada 1989 dan dimuat dalam antologi (kumpulan karangan) dengan judul yang sama. Hujan Bulan Juni merupakan puisi yang sangat terkenal dan dideretkan dalam jajaran puisi cinta romantis bersama dengan puisi Aku Ingin yang juga dimuat dalam antologi ini.1) Esai ini tidak secara khusus membahas Hujan Bulan Juni sebagai sebuah puisi melainkan sebagai antologi yang di dalamnya terdapat 96 puisi karya SDD, yang bulan ini (Juni 2013) kembali diterbitkan oleh kelompok penerbit Kompas-Gramedia.

Pertamakali Hujan Bulan Juni diterbitkan oleh kelompok penerbit Kompas-Gramedia (Grasindo) pada tahun 1994. Kemudian diterbitkan kembali oleh penerbit Editum pada tahun 2009 tanpa perubahan yang berarti. Puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni ditulis antara tahun 1964-1994. Sebagian besar puisi di dalamnya pernah terbit dalam antologi Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), dan Perahu Kertas (1983). Proses penyeleksian puisi yang pernah terbit dalam antologi yang berbeda-beda untuk diterbitkan kembali dalam buku Hujan Bulan Juni menunjukkan bahwa buku ini memang dianggap (paling) penting oleh penulisnya.

Hujan Juni

SDD memilih sendiri sajak-sajaknya untuk buku ini dari sekian ratus sajak yang pernah dihasilkannya selama 30 tahun (1964 – 1994). Mengenai ini ia menulis bahwa ada “sesuatu yang mengikat sajak-sajak ini menjadi satu buku.”2) SDD memang tidak menjelaskan apa sesuatu yang mengikat itu. Namun, akunya, sajak-sajak lain tidak dimasukkan dalam antologi ini karena suasananya — atau entah apanya — agak berbeda dengan buku ini.

Secara sepintas lalu judul buku Hujan Bulan Juni yang diambil dari salah satu judul puisinya menunjukkan bahwa suasana yang ingin dibangun dalam buku ini ialah suasana “hujan” dengan berbagai konotasi dan metafornya. Dari 96 puisi yang dimuat dalam Hujan Bulan Juni terdapat 9 judul puisi yang memakai kata “hujan”. Judul-judul tersebut adalah: Hujan Turun Sepanjang Jalan, Hujan dalam Komposisi 1, Hujan dalam Komposisi 2, Hujan dalam Komposisi 3, Di Beranda Waktu Hujan, Kuhentikan Hujan, Hujan Bulan Juni, Hujan-Jalak-dan-Daun-Jambu, Percakapan Malam Hujan. Dan satu judul yang senada: Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang.

Kata “hujan” juga disebut dalam berbagai puisinya: Pada Suatu Pagi Hari, Dalam Doa II, Aku Ingin, Puisi Cat Air untuk Rizki, Sepasang Sepatu Tua, dan sebagainya. Kalau boleh menyebut puisi di luar antologi ini yang juga menggunakan kata hujan, simak saja misalnya “Di Sebuah Halte Bis” (Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana), “Lirik untuk Lagu Pop” (jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang gerimis), dan “Kepompong Itu” (…ketika kau menutup jendela waktu hari hujan).

Walaupun banyak kumpulan puisi yang bertemakan hujan, tapi jelas tidak ada yang “basah-kuyup” melebihi Hujan Bulan Juni. Belum lagi puisi tentang hujan yang tidak dimasukkan dalam antologi ini seperti “Tajam Hujanmu” dan “Kuterka Gerimis”, yang dimuat dalam antologi Perahu Kertas.

Playing-in-the-Rain2

Jika selama ini puisi-puisi tentang hujan selalu dikaitkan dengan kesendirian, kehampaan, kerinduan, dan kesepian, maka tidak terlalu keliru pandangan bahwa SDD ialah penyair sunyi yang melanjutkan tradisi Amir Hamzah dan Chairil Anwar, terutama pada puisi-puisi awalnya. Simak misalnya bait dalam puisi yang ditulis pada tahun 1967 berikut: Hujan turun sepanjang jalan/ Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan/ Kembali bernama sunyi..

Mengapa hujan begitu istimewa di mata penyair SDD, tentu ada rahasia yang ingin dia kemukakan melalui pelukisannya atas peristiwa alam tersebut. Berikut tiga contoh puisi berbeda tentang hujan, yang ditulis dalam rentang waktu berjauhan:

Sihir Hujan

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
— swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan,
telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
— menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

1982

Percakapan Malam Hujan

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya
kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar
kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba
suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat
manusia. Ia suka terang.”

1973

Hjan bln Juni

Hujan Turun Sepanjang Jalan

Hujan turun sepanjang jalan…
Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan…
Kembali bernama sunyi…
Kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali…
Tak ada yang menolaknya…kita pun mengerti, tiba-tiba
atas pesan yang rahasia…
Tatkala angin basah tak ada bermuat debu…
Tatkala tak ada yang merasa diburu-buru…

1967

Tidak ada diksi yang istimewa dalam ketiga puisi di atas. Semua kata dipungut dari perbendaharaan sehari-hari yang ada di sekitar kita dan akrab: jalan, selokan, mantel, sepatu, pohon, pintu, jendela, debu, tiang listrik. Kata-kata sederhana itu juga dirangkai dalam larik dan bait yang sederhana, nyaris tidak ada dentuman yang tercipta oleh bangunan puisi tersebut. Ia hanya menceritakan suasana saat hujan turun. Cara berceritanya pun sangat sederhana, tidak meledak-ledak.

Namun di balik kesederhanaannya, puisi-puisi tersebut menjadikan benda-benda itu seakan hidup. Kita dapat membayangkan Hujan yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik. SDD sangat piawai menghidupkan suasana melalui kata-kata yang sederhana. Bait-bait yang tersusun dari kata-katanya menjadi sangat indah manakala kita hanyut terbawa oleh suasana yang ia hidupkan melalui proses imagery atau penggambaran. Sang penyair pada dasarnya memang seperti pelukis yang menggambarkan sesuatu dengan kata-kata sehingga apa yang dia lihat dan rasakan juga dapat dilihat dan dirasakan oleh pembaca.3) Di dalam suasana yang sudah dihidupkan oleh penyairnya melalui kata-kata (pada contoh tiga puisi di atas), kita tidak lagi bertemu dengan hujan sebagai benda mati, melainkan makhluk hidup entah malaikat atau manusia, bahkan seseorang yang misterius namun humoris seperti pada puisi “Percakapan Malam Hujan”.

Dalam puisi Hujan Bulan Juni yang menjadi judul antologi ini, goresan tangan SDD pada kanvas puisinya bahkan terasa lebih lembut. Kesederhanaan kata tetap dijaga. Bangunan puisi tegak dengan tiang pancang bait-bait yang transparan. Pengungkapannya halus, alur pikirnya jernih. Puisi ini sering diartikan sebagai ketabahan dari seseorang yang sedang menanti. Sebab, bulan Juni ialah musim kemarau, dan hujan dipastikan tidak turun. Jika ia (hujan) ingin bertemu dengan pohon bunga, maka ia harus bersabar menunggu musim kemarau berlalu.

Di sini SDD tidak lagi bicara tentang sunyi yang gelisah. Ia bahkan tidak menonjolkan si aku-lirik. Kalaupun ada, si aku-lirik hanya menceritakan perilaku hujan yang merahasiakan rindu, menghapus jejak, dan membiarkan isi hatinya. Hujan dipersonifikasi sebagai makhluk yang berjiwa dengan sifat dan perilaku tertentu. Ini juga tampak pada ketiga puisi di atas.

Dengan menerbitkan kembali puisi-puisinya dalam Hujan Bulan Juni yang merefleksikan aneka pengalaman batin dan perjalanan hidup yang terus bergerak, SDD tampaknya ingin jatidiri kepenyairannya dilihat kembali, tidak melulu diletakkan di ruang sunyi. Sebab, sebagaimana diakuinya dalam kata pengantar buku ini, ia tidak tahu apakah selama 30 tahun itu ada perubahan stilistik dan tematik dalam puisinya. Seorang penyair, ujarnya, belajar dari banyak pihak: keluarga, penyair lain, kritikus, teman, pembaca, tetangga, masyarakat luas, koran, televisi, dan sebagainya.

Esai ini berpandangan bahwa SDD tidak hendak menancapkan tonggak kepenyairannya di ruang estetika sunyi yang telah terbangun dengan megahnya sejak masa kejayaan Amir Hamzah. Kita tahu bahwa puisi-puisi awal SDD, kendatipun dipandang sebagai pembebasan dan penemuan baru,4) tetap saja diletakkan di dalam mainstream puisi tentang kesunyian. Salah satu puisinya, Solitude (1965), yang menyuarakan “jagat sunyi” bahkan disebut sebagai visi estetika kepenyairannya, dimana puisi-puisi sebelum dan sesudah itu hanyalah… “dinamika visi estetik dalam keseluruhan kepenyairan SDD.”5) Senada dengan itu, penyair Goenawan Mohamad menyebut antologi puisi SDD yang pertama, Duka-Mu Abadi, sebagai Nyanyi Sunyi kedua (setelah Nyanyi Sunyi yang pertama diciptakan oleh Amir Hamzah).6)

Jika kesunyian dipandang sebagai tema utama dalam puisi-puisi Sapardi, lantas di mana letak kepeloporannya dalam jagat perpuisian tanah air? Bukankah tema itu telah sangat mapan di tangan para penyair besar sejak Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, dan puncaknya pada Sutardji Calzoum Bachri? Jika kita memotret SDD dari Duka-Mu Abadi memang akan terbentang hamparan kesunyian yang—boleh jadi—merupakan kelanjutan dari “tradisi” perpuisian sebelumnya, kendatipun ia membunyikan kesunyian itu dengan cara yang berbeda. Namun saya berpandangan bahwa Hujan Bulan Juni-lah yang merupakan tonggak kepenyairan SDD. Antologi ini memperlihatkan kekuatan SDD sebagai penyair yang mampu keluar dari labirin kesunyian yang melahirkan kefanaan (Amir Hamzah), kepasrahan (Chairil Anwar), atau amukan (Sutardji Calzoum Bachri), menuju ruang kontemplasi yang mencerahkan.

Hujan Bulan Juni2

Puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni lebih dari sekadar membunyikan kesunyian melalui ungkapan perasaan yang melimpah, melainkan juga menghadirkan kesadaran intelektual penyairnya. Sejumlah puisinya tentang kematian, misalnya, memang menghadirkan kesunyian yang mencekam, namun jika dicermati lagi sebenarnya merupakan renungan filosofis yang mendalam, seperti pada puisi Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati, Saat Sebelum Berangkat, Iring-iringan di Bawah Matahari, Dalam Kereta Bawah Tanah Chicago, Ajaran Hidup, dan lain-lain. Begitu juga puisi-puisinya Tiga Lembar Kartu Pos, Pada Suatu Hari Nanti, Dalam Diriku, Tuan, Yang Fana Adalah Waktu, dan lain-lain, yang bertemakan hidup, waktu, dan Tuhan — semuanya merupakan lukisan kesunyian yang, lagi-lagi, merefleksikan perenungan intelektual yang dalam.

Dalam puisi Hujan Bulan Juni SDD mempertentangkan dua realitas, membuat paradoks (hujan yang turun di musim kemarau), yang memungkinkan keniscayaan, sebagai gambaran dari pribadinya yang senantiasa terlibat dan optimistis. Paradoks atau pertentangan itulah yang menjadi kekuatan khas SDD sebagai seorang penyair. Hal itu juga tercermin dari pemakaian kata-kata yang sederhana namun menyimpan makna yang dalam.7).

Seraya menutup uraian ini mari kita simak tiga puisi dari antologi Hujan Bulan Juni yang menjelaskan paradoks yang dimaksud.

DALAM DIRIKU

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga penuh darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya.

1980

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.

1978

TUAN

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar.

1980

 

Catatan:

1). Puisi Aku Ingin hanya terdiri dari dua bait: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Salah satu indikasi kepopularan dua puisi tersebut ialah telah dibuat musikalisasi puisi oleh Ags. Arya Dipayana (Aku Ingin), dan H. Umar Muslim (Hujan Bulan Juni). Puisi Hujan Bulan Juni juga telah dikomikkan oleh Mansjur Daman, komikus silat pencipta serial Mandala. Sementara itu puisi Aku Ingin sering dicetak dalam surat-surat undangan pernikahan.

2). Kata Pengantar Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni (Jakarta: Grasindo, 1994).

3). A.F. Scott, Curren Literary Term: A Concise Dictionary (London: The Macmilland Press, 1980), p. 139). Lebih jauh mengenai penggambaran (imagery) atau gambar (image) dalam puisi lihat juga, Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994) dan Suminto A. Sayuti, Puisi dan Pengajarannya (Yogyakarta: Yasbut FKSS IKIP Muhammadiyah, 1985).

4). Pengakuan ini disampaikan oleh Goenawan Mohamad. Dikutip dari Hasan Aspahani, “Kenapa Mesti Ada Sore Hari? Kajian Ringkas Duka-Mu Abadi Hingga Kolam”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., Membaca Sapardi (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010), hal. 253

5). Suminto A. Sayuti, “Puisi Sapardi: Sebuah Jagat Sunyi”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 57

6). Dikutip dari Suminto A. Sayuti, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 61

7). Maman S. Mahayana, “Paradoks”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 161

_________________________________

 

Foto 1: Bersama Sapardi Djoko Damono di Selangor, Malaysia

Foto 2: Buku antologi puisi karya para mahasiswa/i saya di SGU yang diberi kata pengantar oleh Sapardi Djoko Damono

———————————-

Saat bertemu di Selangor, Malaysia, saya tunjukkan salah satu puisi saya di dalam buku Senja di Jakarta yang  berjudul Kursi Ruang Tungga, sebagai “tanggapan” terhadap puisi beliau Hujan Bulan Juni, dan beliau membacanya terkekeh-kekeh..

KURSI RUANG TUNGGU

untuk SDD

tak ada yang lebih tabah dari kursi ruang tunggu;

dirahasiakannya resah rindunya pada kenangan

di bangsal tua itu.

tak ada yang lebih bijak dari kursi ruang tunggu;

dibiarkannya takdir meninggalkannya

di tempat terkutuk itu.

tak ada yang lebih arif dari kursi ruang tunggu;

dihapuskannya sisa-sisa airmatanya yang kering

di pelukan malam itu.

Akasia Valley, Serpong – 5/8/17

fd66ea1150b6666b84db4d3e0a255835

 

 

 

 

 

Categories
Penggalan Buku

Hujan Lebat di Pasir Ris

rainBeach

/24/ Hujan Lebat di Pasir Ris

TENDA-TENDA yang berjajar di tepi pantai diterpa angin kencang. Matahari sore membiaskan cahaya merah pudar di kaki langit. Posisi pantai yang terletak di timur laut mata angin itu memang tidak sepenuhnya menyajikan keindahan panorama sunset. Namun keindahan yang sesungguhnya telah terpatri di hati Sally.

Ia merasa semua perhatian dari teman-teman barunya tertumpah kepadanya. Belum pernah ia merasa begitu dimanja — sejak tubuhnya terbenam di dunia yang sangat keras, dunia yang memaksanya untuk berdiri di atas kaki yang lunglai. Kini ia tahu ada dunia lain yang sangat bersemangat. Dunia yang hidup dalam pikiran anak-anak muda yang begitu optimis melihat ke depan.

Ini adalah hari ketiga ia dan Jihan berkumpul bersama teman-teman barunya di Singapura. Kadang ia merasa cemburu kepada Jihan yang begitu mudah berkomunikasi dengan mereka melalui bahasa orang-orang terpelajar yang tidak selalu ia pahami. Tapi Jihan memang berhak atas semua itu karena dia berpendidikan tinggi, berwawasan luas, berparas cantik, bertubuh sempurna, dan semua predikat baik yang pantas disandangkan kepadanya.

Sedangkan dirinya? Seorang perempuan kampung yang hanya sempat belajar satu tahun di perguruan tinggi. Itu pun di kota kecil yang jauh dari fasilitas modern seperti di kota besar. Terlintas rasa sesal bahwa ia pernah mengambil keputusan berhenti kuliah. Tapi perasaan itu segera ditepis. Ia tidak ingin menyalahkan orangtuanya. Situasilah yang memaksanya mengambil keputusan itu. Sejak ayahnya meninggal, ia mengambil tanggung jawab menjadi tulang punggung keluarga, karena ia anak tertua. Saat itu, Mega adiknya baru duduk di bangku kelas satu SMA dan si bungsu Fitri masih kelas lima SD. Keduanya membutuhkan biaya untuk melanjutkan sekolah. Ia harus bekerja. Mengadu nasib di Jakarta. Kota yang kejam bagi mereka yang lemah.

Tapi Sally tidak merasa lemah. Ia hanya merasa sedih. Kesedihan yang mendadak muncul saat ia berada di puncak bahagia, berkumpul bersama anak-anak muda yang tak henti-henti mencandainya dengan cerita-cerita lucu, sambil menunggu sesi barbeque setelah lelah berdiskusi.

Sally merasa gamang untuk tertawa. Hanya senyuman kecil tersungging di sudut bibirnya. Ia tahu, anak-anak muda itu tulus. Sejak perkenalan beberapa hari lalu, ia merasa mereka bahkan sangat memanjakannya. Jihan yang baik hati seperti sengaja menciptakan situasi agar seluruh perhatian anak-anak muda itu dicurahkan kepadanya. Aaaahh… Jihan memang seperti seorang kakak yang mengemong adiknya. Tapi kini perhatian itu membuatnya jengah. Ia tersudut — oleh perasaannya sendiri.

“Ayo, makanan sudah siap.” Seseorang berteriak.

Tangan-tangan bersilangan di atas meja. Sendok dan garpu beradu. Mulut-mulut mulai mengunyah. Tapi Sally tetap diam. Jihan membantu menyiapkan satu porsi untuknya.

“Makan dulu, Sal,” ujarnya lembut, seperti tahu temannya sedang gelisah memikirkan sesuatu.

“Kamu ingat si peneror itu lagi?”

“Bukan, Jihan, aku ingat ibu dan adik-adikku, kenapa aku tidak memberitahu mereka soal kepergianku ke sini. Firasatku tidak enak.”

“Ah.. itu kan perasaanmu saja, Sal. Ya sudah, kalau begitu kamu hubungi saja mereka sekarang, supaya kamu merasa tenang.”

Saran yang baik. Sally mengambil telepon genggam dari dalam tasnya, berniat menulis pesan kepada adik-adiknya. Namun ia mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali telepon genggam itu. Teman-teman yang lain memperhatikan tingkah laku Sally yang berbeda dari biasanya.

“Sally, kok tidak makan?” tanya Ana.

Mereka yang tengah asik menikmati barbeque menoleh ke arah Sally hampir bersamaan, membuatnya grogi. Tapi ia merasakan semua tatapan itu memancarkan getaran simpati dan perhatian pada dirinya. Tidak ingin merusak suasana, akhirnya ia memutuskan untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Jihan.

“Terima kasih, Ana, rasa laparku baru muncul setelah melihatmu makan begitu lahap,” kata Sally. Kelakarnya memancing gelak tawa.

-o0o-

“Jangan pergi terlalu jauh, Sal,” teriak Jihan.

“Tidak, aku cuma mau menikmati angin pantai,” jawab Sally.

Pasir putih terhampar seperti butiran mutiara. Cahaya matahari sore yang masih tersisa hanya mampu mengintip dari balik awan yang mulai menebal. Anak-anak remaja berwajah oriental berkejaran di atas pasir basah. Tawa mereka berderai saat lidah ombak berhasil menyentuh kaki-kaki putih telanjang.

Sally terus melangkah menyusuri tepian pantai. Semakin menjauh dari teman-temannya yang kembali melanjutkan obrolan sehabis makan. Angin yang menerpa wajahnya terasa basah, entah karena mengandung butiran air laut atau rintik gerimis. Ia tidak peduli. Kakinya terus diayunkan.

Tiba-tiba ia teringat Bahar. Ia merasa bersalah telah menyia-nyiakan cinta pria itu. Mungkin ia akan lebih nyaman bersama Bahar, karena sama-sama dari kampung. Bukan bersama teman-teman barunya yang semuanya orang pandai — berpendidikan tinggi. Mereka lebih cocok dengan Jihan, gadis kota yang sangat mandiri, cantik, dan intelek.

Sally merindukan Bahar ada di sisinya. Tapi di mana Bahar sekarang? Apakah ia sudah kembali bekerja di kapal pesiar di Thailand setelah pertemuannya di kampung hanya meninggalkan perasaan kecewa, sebab Sally tidak memberinya kepastian apapun.

Kini Sally merasa itu adalah tindakan yang bodoh, yang membuatnya sangat tersiksa. Ia ingin Bahar ada di sampingnya. Bergandengan tangan. Berkejaran. Bergulingan di atas pasir — seperti pernah mereka lakukan saat di kampung, di kaki bukit, di area perkebunan tomat. Kalau hujan deras mengguyur ia ingin berada dalam pelukan pria itu. Berdua saja mencari tempat berlindung, atau membiarkan hujan membasahi tubuh mereka. So sweet…!!

Dan ilusi itu terlalu kuat untuk ditepis. Sosok Bahar menguasai pikirannya, dan menjelma di hadapannya.

“Kang Bahar.”

“Salimah.”

“Kok ada di sini?”

“Kenapa Kang Bahar juga ada di sini?”

“Kapalku merapat karena cuaca buruk, tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Thailand.”

“Kalau saya sedang bersembunyi, Kang.”

“Bersembunyi? Dari siapa?”

“Dari orang-orang yang akan membunuhku.”

“Siapa yang akan membunuhmu, Limah? Memang kamu salah apa?”

“Aku tidak salah, Kang, tapi aku dijebak.”

Sekonyong-konyong suara petir menggema. Sally tersentak. Tubuhnya limbung. Bahar meraih tubuh itu. Tubuh yang sudah sangat dikenalnya. Suara petir kembali menyalak. Kali ini disertai hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya. Bahar membopong tubuh Sally, membawanya berlindung di bawah pohon.

Di tempat lain Jihan dan teman-temannya berlarian meninggalkan tenda yang meliuk-liuk diterjang angin dan hujan deras. Tempat yang aman ialah ruang dalam restoran. Tapi pengunjung yang terlalu banyak dan semua masuk ke dalamnya membuat restoran yang luas itu terasa sempit.

“Man Sally? Mana Sally?” Beberapa orang bertanya kepada Jihan. Tampak wajah-wajah yang cemas.

“Tadi pergi ke sana.” Jihan menyahut, menunjuk ke satu arah.

“Kamu susullah dia, Imran, nanti dia tersesat.” Suara Rosnidar bergetar.

Bagaikan mendapat aba-aba, Imran dan kawan-kawan bergegas menerobos hujan. Berlari ke arah yang ditunjuk oleh Jihan. Suara petir bersahutan dengan debur ombak. Mereka terus berlari. Berharap bisa menemukan Sally. Sebelum langit benar-benar gelap.[]

________________
Tulisan di atas adalah cuplikan dari novel terbaru saya yang akan terbit Januari 2013, berjudul PENULIS HANTU.

Saran/respon via Twiter: @AhmadGaus FaceBook: Gaus Ahmad email: gausaf@yahoo.com PIN 21907D51