Posted by: Ahmad Gaus | December 15, 2012

Hujan Lebat di Pasir Ris

rainBeach

/24/ Hujan Lebat di Pasir Ris

TENDA-TENDA yang berjajar di tepi pantai diterpa angin kencang. Matahari sore membiaskan cahaya merah pudar di kaki langit. Posisi pantai yang terletak di timur laut mata angin itu memang tidak sepenuhnya menyajikan keindahan panorama sunset. Namun keindahan yang sesungguhnya telah terpatri di hati Sally.

Ia merasa semua perhatian dari teman-teman barunya tertumpah kepadanya. Belum pernah ia merasa begitu dimanja — sejak tubuhnya terbenam di dunia yang sangat keras, dunia yang memaksanya untuk berdiri di atas kaki yang lunglai. Kini ia tahu ada dunia lain yang sangat bersemangat. Dunia yang hidup dalam pikiran anak-anak muda yang begitu optimis melihat ke depan.

Ini adalah hari ketiga ia dan Jihan berkumpul bersama teman-teman barunya di Singapura. Kadang ia merasa cemburu kepada Jihan yang begitu mudah berkomunikasi dengan mereka melalui bahasa orang-orang terpelajar yang tidak selalu ia pahami. Tapi Jihan memang berhak atas semua itu karena dia berpendidikan tinggi, berwawasan luas, berparas cantik, bertubuh sempurna, dan semua predikat baik yang pantas disandangkan kepadanya.

Sedangkan dirinya? Seorang perempuan kampung yang hanya sempat belajar satu tahun di perguruan tinggi. Itu pun di kota kecil yang jauh dari fasilitas modern seperti di kota besar. Terlintas rasa sesal bahwa ia pernah mengambil keputusan berhenti kuliah. Tapi perasaan itu segera ditepis. Ia tidak ingin menyalahkan orangtuanya. Situasilah yang memaksanya mengambil keputusan itu. Sejak ayahnya meninggal, ia mengambil tanggung jawab menjadi tulang punggung keluarga, karena ia anak tertua. Saat itu, Mega adiknya baru duduk di bangku kelas satu SMA dan si bungsu Fitri masih kelas lima SD. Keduanya membutuhkan biaya untuk melanjutkan sekolah. Ia harus bekerja. Mengadu nasib di Jakarta. Kota yang kejam bagi mereka yang lemah.

Tapi Sally tidak merasa lemah. Ia hanya merasa sedih. Kesedihan yang mendadak muncul saat ia berada di puncak bahagia, berkumpul bersama anak-anak muda yang tak henti-henti mencandainya dengan cerita-cerita lucu, sambil menunggu sesi barbeque setelah lelah berdiskusi.

Sally merasa gamang untuk tertawa. Hanya senyuman kecil tersungging di sudut bibirnya. Ia tahu, anak-anak muda itu tulus. Sejak perkenalan beberapa hari lalu, ia merasa mereka bahkan sangat memanjakannya. Jihan yang baik hati seperti sengaja menciptakan situasi agar seluruh perhatian anak-anak muda itu dicurahkan kepadanya. Aaaahh… Jihan memang seperti seorang kakak yang mengemong adiknya. Tapi kini perhatian itu membuatnya jengah. Ia tersudut — oleh perasaannya sendiri.

“Ayo, makanan sudah siap.” Seseorang berteriak.

Tangan-tangan bersilangan di atas meja. Sendok dan garpu beradu. Mulut-mulut mulai mengunyah. Tapi Sally tetap diam. Jihan membantu menyiapkan satu porsi untuknya.

“Makan dulu, Sal,” ujarnya lembut, seperti tahu temannya sedang gelisah memikirkan sesuatu.

“Kamu ingat si peneror itu lagi?”

“Bukan, Jihan, aku ingat ibu dan adik-adikku, kenapa aku tidak memberitahu mereka soal kepergianku ke sini. Firasatku tidak enak.”

“Ah.. itu kan perasaanmu saja, Sal. Ya sudah, kalau begitu kamu hubungi saja mereka sekarang, supaya kamu merasa tenang.”

Saran yang baik. Sally mengambil telepon genggam dari dalam tasnya, berniat menulis pesan kepada adik-adiknya. Namun ia mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali telepon genggam itu. Teman-teman yang lain memperhatikan tingkah laku Sally yang berbeda dari biasanya.

“Sally, kok tidak makan?” tanya Ana.

Mereka yang tengah asik menikmati barbeque menoleh ke arah Sally hampir bersamaan, membuatnya grogi. Tapi ia merasakan semua tatapan itu memancarkan getaran simpati dan perhatian pada dirinya. Tidak ingin merusak suasana, akhirnya ia memutuskan untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Jihan.

“Terima kasih, Ana, rasa laparku baru muncul setelah melihatmu makan begitu lahap,” kata Sally. Kelakarnya memancing gelak tawa.

-o0o-

“Jangan pergi terlalu jauh, Sal,” teriak Jihan.

“Tidak, aku cuma mau menikmati angin pantai,” jawab Sally.

Pasir putih terhampar seperti butiran mutiara. Cahaya matahari sore yang masih tersisa hanya mampu mengintip dari balik awan yang mulai menebal. Anak-anak remaja berwajah oriental berkejaran di atas pasir basah. Tawa mereka berderai saat lidah ombak berhasil menyentuh kaki-kaki putih telanjang.

Sally terus melangkah menyusuri tepian pantai. Semakin menjauh dari teman-temannya yang kembali melanjutkan obrolan sehabis makan. Angin yang menerpa wajahnya terasa basah, entah karena mengandung butiran air laut atau rintik gerimis. Ia tidak peduli. Kakinya terus diayunkan.

Tiba-tiba ia teringat Bahar. Ia merasa bersalah telah menyia-nyiakan cinta pria itu. Mungkin ia akan lebih nyaman bersama Bahar, karena sama-sama dari kampung. Bukan bersama teman-teman barunya yang semuanya orang pandai — berpendidikan tinggi. Mereka lebih cocok dengan Jihan, gadis kota yang sangat mandiri, cantik, dan intelek.

Sally merindukan Bahar ada di sisinya. Tapi di mana Bahar sekarang? Apakah ia sudah kembali bekerja di kapal pesiar di Thailand setelah pertemuannya di kampung hanya meninggalkan perasaan kecewa, sebab Sally tidak memberinya kepastian apapun.

Kini Sally merasa itu adalah tindakan yang bodoh, yang membuatnya sangat tersiksa. Ia ingin Bahar ada di sampingnya. Bergandengan tangan. Berkejaran. Bergulingan di atas pasir — seperti pernah mereka lakukan saat di kampung, di kaki bukit, di area perkebunan tomat. Kalau hujan deras mengguyur ia ingin berada dalam pelukan pria itu. Berdua saja mencari tempat berlindung, atau membiarkan hujan membasahi tubuh mereka. So sweet…!!

Dan ilusi itu terlalu kuat untuk ditepis. Sosok Bahar menguasai pikirannya, dan menjelma di hadapannya.

“Kang Bahar.”

“Salimah.”

“Kok ada di sini?”

“Kenapa Kang Bahar juga ada di sini?”

“Kapalku merapat karena cuaca buruk, tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Thailand.”

“Kalau saya sedang bersembunyi, Kang.”

“Bersembunyi? Dari siapa?”

“Dari orang-orang yang akan membunuhku.”

“Siapa yang akan membunuhmu, Limah? Memang kamu salah apa?”

“Aku tidak salah, Kang, tapi aku dijebak.”

Sekonyong-konyong suara petir menggema. Sally tersentak. Tubuhnya limbung. Bahar meraih tubuh itu. Tubuh yang sudah sangat dikenalnya. Suara petir kembali menyalak. Kali ini disertai hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya. Bahar membopong tubuh Sally, membawanya berlindung di bawah pohon.

Di tempat lain Jihan dan teman-temannya berlarian meninggalkan tenda yang meliuk-liuk diterjang angin dan hujan deras. Tempat yang aman ialah ruang dalam restoran. Tapi pengunjung yang terlalu banyak dan semua masuk ke dalamnya membuat restoran yang luas itu terasa sempit.

“Man Sally? Mana Sally?” Beberapa orang bertanya kepada Jihan. Tampak wajah-wajah yang cemas.

“Tadi pergi ke sana.” Jihan menyahut, menunjuk ke satu arah.

“Kamu susullah dia, Imran, nanti dia tersesat.” Suara Rosnidar bergetar.

Bagaikan mendapat aba-aba, Imran dan kawan-kawan bergegas menerobos hujan. Berlari ke arah yang ditunjuk oleh Jihan. Suara petir bersahutan dengan debur ombak. Mereka terus berlari. Berharap bisa menemukan Sally. Sebelum langit benar-benar gelap.[]

________________
Tulisan di atas adalah cuplikan dari novel terbaru saya yang akan terbit Januari 2013, berjudul PENULIS HANTU.

Saran/respon via Twiter: @AhmadGaus FaceBook: Gaus Ahmad email: gausaf@yahoo.com PIN 21907D51


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: