Posted by: Ahmad Gaus | December 21, 2012

Gereja Tua

gerejatua

PUISI ESAI AHMAD GAUS

Gereja Tua

/1/

AZAN magrib bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan di kampung Setu
Terdengar oleh Nasruddin seperti lomba tarik suara
Orang-orang bergegas pergi sembahyang.

Sejak pulang dari Tanah Suci
Nasruddin tidak pernah lagi datang ke masjid
Salat berjamaah ataupun ikut pengajian
Setiap malam Jumat.

Para tetangga merasa heran
Berharap Nasruddin menjadi haji mabrur
Menggantikan imam masjid yang sudah tua
Menjadi amil1) dan mengurus pengajian
Harapan mereka sia-sia.

Seorang tetangga menyindir
Nasruddin hajinya mardud2), ditolak oleh Tuhan
Penampilannya tidak mencerminkan seorang haji
Tidak pernah terlihat memakai sorban
Apalagi peci haji.

Ada juga yang mengatakan
Nasruddin merasa malu karena bohong
Ia sebenarnya tidak pergi ke Mekah
Tapi ke tempat lain di luar negeri.

Para tetangga masih ingat
Hari pertama Nasruddin tiba dari Tanah Suci
Mereka menyalaminya penuh haru
Nasruddin tampak kaku dan pendiam
Tidak ada cerita yang keluar dari mulutnya
Bagaimana suasana di Baitullah
Wukuf di Padang Arafah
Bermalam di Mina
Melontar jumrah aqabah.

Nasruddin tidak membawa buah tangan
Sajadah, tasbih, dan semua yang diharapkan
Dari orang yang pulang haji
Bahkan sebutir korma pun tidak ada
Jangankan air zam-zam.

Yang lebih mengherankan
Beberapa hari sebelum Nasruddin tiba di tanah air
Ada seekor unta yang diantar entah oleh siapa
Dan kini diikat di depan rumahnya.

Para tetangga bergunjing menertawakan
Baru kali ini ada orang pulang haji membawa unta!
Ha.. ha.. ha.. ha…
Mengapa tidak sekalian saja Kabahnya dibawa!
Hi.. hi.. hi.. hi…

/2/
Nasruddin menutup telinga
Mereka tidak memahami unta
Hewan itu saksi hidup Nabi Muhammad
Setia menemaninya berdagang di Syam3)
Membawanya hijrah ke Madinah
Saat berada dalam ancaman kafir Mekah.

Setiap pagi Nasruddin memandikan unta itu
Kain yang digunakannya terbuat dari bahan halus
Kain yang kasar bisa melukai kulitnya yang bagus
Ia tidak habis pikir bagaimana hewan yang jinak itu
Bisa menaklukkan gurun pasir yang buas.

Unta selalu disebut dalam buku sejarah Islam
Tidak ada hewan yang menyaingi kesetiaannya
Mendampingi perjuangan Nabi dan para sahabat
Tapi jasanya jarang diingat.

Nasruddin menjelaskan itu kepada keluarganya
Seperti para tetangga, mereka juga tidak mengerti
Bahkan menginginkan unta itu segera dijual
Atau mereka akan melepaskannya
Saat Nasruddin tertidur.

Nasruddin kasihan kepada untanya
Para tetangga mencibir
Keluarga sendiri tidak bisa menerima
Akhirnya ia menitipkan unta itu di sebuah gereja
Yang digembala sahabatnya — Pendeta Martin

/3/

Gereja itu sudah ada sejak zaman Belanda
Di papan nama tertulis Gereja Pelita Suci
Tapi warga kampung Setu
Menyebutnya gereja lilin
Pada malam-malam tertentu
Jemaah gereja menyanyi dan berdoa
Sambil memegang lilin yang menyala
Menarik perhatian anak-anak kampung
Yang pulang mengaji.

Sudah tiga puluh tahun
Pendeta Martin tinggal di gereja itu
Melayani Tuhan dan para jemaat
Sekali waktu membuka pengobatan umum
Untuk orang-orang Muslim
Di sekitar gereja.

Pohon palem tua tumbuh di depan gereja
Daunnya dianggap sebagai simbol
Kemenangan dari dosa dan kematian
Ketika Yesus memasuki Yerusalem
Sebelum Ia disalibkan.4)

Di mata Nasruddin
Pohon palem itu seperti pohon kurma
Buahnya yang kering adalah makanan unta
Di batang palem itu dia mengikat untanya
Setiap malam.

Pendeta Martin menyukai unta milik Nasruddin
Sering terlihat bercengkrama di depan gereja
Seperti berbicara kepada manusia
Sebelum Nasruddin datang
Memberi makan dan memandikan untanya.

/4/

Pendeta Martin seorang alim
Memahami dengan baik seluk beluk unta
Suatu pagi dia menjelaskan kepada Nasruddin
Unta adalah makhluk Tuhan yang unik
Perangainya sopan dan memiliki aura religius
Ia mengutip Kitab Kejadian 24 5)
Kata unta disebut 16 kali.

Sambil bercakap dengan Pendeta Martin
Nasruddin memandikan untanya dengan kain basah
Campuran air hangat dan minyak zaitun
Ia mengelus punggung onta itu
Membayangkan di atasnya pernah duduk
Nabi Muhammad, rasul utusan Tuhan

Nasruddin percaya kepada Pendeta Martin
Unta memiliki aura religius
Dalam Alquran Tuhan berfirman,
Tidakkah mereka memperhatikan
Bagaimana unta-unta itu diciptakan?6)

Pendeta Martin menjelaskan Injil Lukas 18:25
Gambaran orang-orang berharta yang sulit masuk surga
Bagaikan sulitnya unta masuk ke lubang jarum.

Nasruddin heran, apakah Tuhan berbicara buruk tentang unta?
Sang Pendeta menepis, itu hanya metafora
Orang-orang Yahudi kaya memiliki kebiasaan
Harta mereka dibawa di kiri-kanan punggung unta
Mereka tidak bisa memasuki pintu
Rumah-rumah Yahudi yang menyerupai lubang jarum
Bentuknya sempit dan memanjang
Siapa yang ingin memasuki lubang itu
Harus melepaskan hartanya.

/5/

Minggu kedua setelah pulang haji
Nasruddin berlatih menaiki unta
Lekuk punggungnya bagaikan bukit Tursina
Tempat Nabi Musa menerima wahyu.

Di atas punggung unta
Nasruddin membayangkan Rasulullah
Berhijrah ke Madinah
Di sana kaum Anshar berebut
Menghendaki Nabi tinggal di rumah mereka
Nabi membiarkan untanya berhenti sendiri
Dan unta itu duduk di pelataran
Rumah milik Abu Ayyub al-Anshari
Di situlah Nabi tinggal.

Di Madinah banyak orang berilmu
Memilih profesi sebagai konsultan unta
Mereka dibayar oleh para saudagar kaya
Setelah menaksir kemampuan hewan itu
Menyesuaikan diri dengan padang pasir
Tidak makan dan minum
Selama berminggu-minggu.

/6/

Unta hewan yang pintar
Nabi memperlakukannya begitu mulia
Tidak sia-sia Nasruddin membelinya
Jauh-jauh dari Arab
Ditentang keluarganya sendiri
Ditertawakan oleh para tetangga
Dianggap orang gila.

Masih terngiang di telinganya
Cemoohan orang-orang yang curiga
Nasruddin naik haji hanya terpaksa
Karena semua keluarganya sudah haji
Ia juga tidak pernah mengikuti latihan manasik7)
Menghapalkan doa tawaf dan sa’i.

Di dalam pesawat menuju Jedah
Para calon haji sibuk membaca buku
Fikih panduan menunaikan ibadah haji
Nasruddin membaca buku-buku ekonomi
Ia ingin umat Islam maju
Bisa membangun teknologi tinggi
Supaya pergi ke Tanah Suci
Naik pesawat buatan sendiri.

Ustadz pembimbing haji menegurnya
Meluruskan niat menuju Mekah
Meminta ampun di depan Kabah
Menghapus dosa-dosa.

/7/

Ketika pulang haji
Nasruddin bercerita kepada Pendeta Martin
Tujuannya pergi ke Tanah Suci
Bukan untuk menghapus dosa
Bukan pula mencari pahala
Ia ingin menyelami denyut nadi
Negeri para nabi dilahirkan
Tempat yang disucikan
Pertaruhan orang-orang beriman.

Banyak orang berkali-kali naik haji
Lebih banyak yang tidak mampu memaksakan diri
Menjual harta benda, sawah, dan ladang
Semua dipertaruhkan demi iman
Tapi ibadah haji dibisniskan
Dana umat diselewengkan.

Pendeta Martin terkejut
Semua umat beragama punya tabiat sama
Menjual agama untuk kepentingan pribadi.

Kita harus berbuat sesuatu, kata Nasruddin
Pendeta Martin mengamini
Umat di bawah bernasib sama
Hidup susah dan menderita
Kondisi yang subur untuk diadu domba
Bukan soal Islam atau Kristen
Kemiskinan tidak pandang agama.

Pagi hingga petang
Malam hingga larut
Nasruddin dan Pendeta Martin selalu berdiskusi
Apa yang bisa dilakukan untuk umat
Percakapan tentang buku-buku dan kitab suci
Makin mengakrabkan keduanya.

Unta Nasruddin senang berada di gereja tua itu
Para jemaat sangat menyayanginya
Mengajaknya bercakap-cakap
Memperlakukannya sebagai manusia.

/8/

Setiap pagi Nasruddin menuntun unta
Kadang berada di punggungnya
Berjalan mengelilingi kampung
Menyisir tepi-tepi jalanan kota.

Orang-orang yang melihat Nasruddin
Menganggapnya manusia aneh
Menunggang unta di tengah kemacetan
Terjepit di antara ribuan kendaraan bermotor.

Nasruddin tidak peduli
Naik unta dianggap peristiwa historis
Napak tilas perjalanan agama Islam
Dari zaman Nabi Muhammad.

Di punggung unta ada sejarah
Kapitalisme perdagangan kaum Muslim masa awal8)
Terpancar dari Madinah ke Baghdad
Granada, Cordoba, Damaskus
Lalu Paris, New York, London
Pusat-pusat kapitalisme dunia
Tumbuh pesat di atas kuburan
Sejarah peradaban Islam.

/9/

Suatu hari Nasruddin dan untanya
Masuk ke pelataran kantor-kantor perbankan
Bursa efek dan pusat-pusat bisnis
Perbelanjaan modern.

Nasruddin melihat untanya seperti gelisah
Membandingkan keadaan ekonomi negeri Syam
Yang ramai di zaman Nabi Muhammad
Dengan perekonomian di zaman ini.

Nasruddin membiarkan saja
Ia ingin unta itu tahu dunia sudah berbeda
Jauh keadaannya dibandingkan 14 abad silam
Kaum Muslim hidup dalam kapitalisme global
Di bawah kendali negara-negara industri maju
Dan mereka bukan pemeluk agama Muhammad.

Unta itu menatap Nasruddin
Pandangannya kosong
Mulutnya bergerak-gerak,

“Siapa saya sekarang?” tanyanya

“Kamu adalah masa lalu,” jawab Nasruddin.

Ia tahu pernyataan itu sangat keras
Bisa melukai perasaan unta
Tapi ia sengaja mengatakan itu
Agar untanya mengerti
Dunia masa kini bukan lagi miliknya.

“Apakah saya masih berguna?”

“Masih, tapi sekadar alat analisa?”

“Apa bisa lebih spesifik?” tanya unta itu penasaran.

Nasruddin menjelaskan,

Begini. Kamu adalah simbol perekonomian kaum Muslim
Tapi itu dulu, ketika ekonomi Islam masih sangat dominan
Sekarang dunia sudah berubah
Tidak bisa lagi dijelaskan melalui sudut pandang Islam
Perkembangan ekonomi global
Didominasi oleh sistem kapitalisme Barat
Semuanya ahistoris dalam sejarah Islam.

Unta itu menyibakkan ekornya
Matanya berkejap-kejap
Seperti sedang menutupi perasaannya
Sesaat kemudian,

Baiklah, bukannya saya tidak mau disalahkan
Tapi rasanya kurang fair kalau hanya melihat dari pihak saya
Ini pasti ada yang salah dengan umat Islam sendiri.

Nasruddin terperangah
Ia merasa unta itu mulai menebar tuduhan
Memfitnah kaum Muslim.

“Apa yang salah dengan umat Islam?” kejar Nasruddin

Unta itu menatap Nasruddin
Ia tahu majikannya mulai kesal
Lalu ia melanjutkan,

Lihat, apa yang dilakukan kaum Muslim
Selama berabad-abad
Mereka hanya mengutak-atik syariah
Bertengkar soal akidah
Perkara semacam itu tidak pernah selesai
Di zaman saya dulu, pembebasan Islam itu kongkrit
Pesan-pesan Alquran sangat hidup
Tapi sekarang menjadi abstrak
Kaum Muslim tidak mampu menghidupkannya
Mereka tertidur selama berabad-abad
Seperti para pemuda Ashabul Kahfi
Ketika bangun dunia sudah berubah
Mereka tidak sanggup hidup
Akhirnya memilih mati.

Kata-kata itu seperti godam
Palu besar yang dipukulkan ke kepala Nasruddin
Matanya dipenuhi kunang-kunang
Samar-samar menatap cahaya
Lampu-lampu kendaraan yang mulai menyala.

/10/

Hari mulai senja
Nasruddin menuntun untanya
Memasuki halaman gereja
Tapi langkahnya terhalang
Garis polisi di sekeliling pagar
Batu-batu berserakan di bagian dalam
Genting yang hancur dan pecahan kaca.

Suasana di dalam gelap dan sepi
Azan magrib berkumandang
Bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan di kampung Setu
Terdengar oleh Nasruddin
Seperti tangisan para jemaat gereja.

Orang-orang yang lewat menuju masjid
Menghampiri Nasruddin dan bercerita
Tapi pagi puluhan massa datang dari mana
Menyerang gereja dan memukuli Pendeta Martin
Sekarang dia dirawat di rumah sakit.

Bumi yang dipijak berguncang
Langit tidak mengirimkan berita
Orang-orang itu membantu Nasruddin
Membawa untanya ke dekat masjid
Nasruddin bergegas menuju rumah sakit
Bibirnya tak henti membaca doa.

Malang tak dapat ditolak
Beberapa menit sebelum ia datang
Pendeta Martin sudah berpulang
Menghadap Tuhan Bapak
Di kerajaan surga.

/11/

Gereja itu masih dikelilingi garis polisi
Batu-batu dan pecahan genting dilumat sepi
Sesepi kematian penghuninya yang tragis
Berita ini jangan dieksposes, kata petugas
Nanti memancing kemarahan yang lebih besar
Semua sudah ditangani pihak berwajib.

Pendeta Martin pergi terlalu cepat
Banyak pekerjaan sudah dibuat
Membangun solidaritas
Menghilangkan sekat-sekat
Antarumat beragama.

Nasruddin bersandar di pohon palem
Membayangkan orang-orang dari mana
Datang sambil meneriakkan takbir
Menyerang
Lalu menghilang.

Beberapa jemaat gereja menghampiri Nasruddin
Menghiburnya dengan kutipan Alkitab
Seorang dari mereka berkata,

Tuan, bila gereja ini masih diizinkan ada
Sudilah Tuan membiarkan unta ini
Tetap tinggal di sini bersama kami
Seperti pesan Bapak Pendeta sebelum wafat
Kami berjanji akan merawatnya
Sebaik Tuan menyayanginya.

Nasruddin tertunduk
Tangannya mengusap punggung unta
Di atasnya pernah duduk
Seorang Nabi utusan Tuhan
Kemudian ia berbisik ke telinga unta,

Kita akan tinggal di sini
Saya akan menggantikan Bapak Pendeta
Menjaga gereja ini.

Azan zuhur berkumandang
Bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan
Di kampung Setu.

Orang-orang yang lewat menuju masjid
Menyalami jemaat gereja
Menyampaikan belasungkawa
Seorang yang bersurban dan berpeci haji
Menghampiri Nasruddin dan berkata,

Biarlah unta ini kami bawa
Kami akan buatkan rumah untuknya
Di samping masjid.

Catatan Kaki

1. Amil adalah orang yang bertugas mengurus jenazah. Biasa dibedakan dengan amil zakat yaitu orang atau lembaga yang bertugas dalam pengumpulan dan pengelolaan zakat.

2. Status haji mardud didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh al-Thabrani: “Tidak ada talbiyah bagimu dan tidak ada keberuntungan atasmu karena makananmu haram, pakaianmu haram, dan hajimu mardud (ditolak).” Biasanya dibedakan dengan haji makbul yaitu haji yang diterima karena terpenuhi syarat-syaratnya, dan dibedakan juga dengan haji mabrur yaitu haji yang sejati, karena ibadah haji mampu mengubah perilaku seseorang menjadi lebih baik.

3. Negeri Syam sekarang dikenal dengan nama Suriah. Sejak usia 12 tahun Muhammad telah sering diajak oleh pamannya, Abu Thalib, untuk berdagang di Syam. Uraian yang lengkap mengenai ini lihat Imam Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, terjemahan, Jld 1, Jakarta, Darul Falah, Cet. V, 2005.

4. Daun palem adalah simbol dari kemenangan, diasosiasikan dengan kejayaan Yesus memasuki kota Yerusalem. Lihat, Yohanes 12:12-13.

5. Kejadian 24 adalah bagian dari Kitab Kejadian dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Termasuk dalam kumpulan kitab Taurat yang disusun oleh Musa. Lihat, http;//id.wikipedia.org/wiki/Kejadian_24

6. Surat al-Ghasiyah ayat 17: Afalaa yandhuruuna ila ‘i-ibili kayfa khuliqat

7. Manasik = tata cara pelaksanaan ibadah haji

8. Istilah kapitalisme perdagangan (commercial capitalism) berasal dari seorang sosiolog dan historian Prancis, Maxime Rodinson, yang meyakini bahwa masyarakat Muslim awal mempraktikkan kapitalisme jenis ini. Lihat Maxime Rodinson, Islam and Capitalism (terjemahan Inggris oleh Brian Pearce), London, Allen Lane, 1974. Lihat juga, Gene W. Heck, Charlemagne, Muhammad, and the Arab Roots of Capitalism, Walter de Gruyter, 2006

Puisi di atas adalah salah satu puisi yang dimuat dalam buku Ahmad Gaus, Kutunggu Kamu di Cisadane: Antologi Puisi Esai (KomodoBook, 2012)

Follow My Twitter @AhmadGaus
Face Book: Gaus Ahmad
Email: gausaf@yahoo.com
_______________________________


Responses

  1. Sangat menyentuh…

  2. Puisi ini seperti kisah nyata, sayangnya di Indonesia tidak ada unta Pak..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: