Categories
Kolom

Masa Depan Tidak Ada Pada Masa Lalu

Oleh Ahmad Gaus

John L Esposito dan John J. Donahue, suatu ketika menyampaikan pandangan yang bagi sebagian kita mungkin cukup menghibur. Katanya, dalam catatan sejarah jatuh-bangunnya kerajaan-kerajaan manusia di muka bumi, tidak ada kebangkitan yang begitu memesona selain kebangkitan peradaban Islam. Peradaban Islam, lanjut keduanya dalam buku yang sudah menjadi klasik, Islam in Transition (1982), begitu cepat meluas dan perkembangan budayanya begitu kaya. Tidak hanya sampai di situ, kedua Islamisis itu juga menegaskan bahwa peradaban Islam menampilkan sistem yang cocok, sikap pandang yang mendunia dan pandangan hidup yang memberi arti dan arah hidup kepada pemeluk-pemeluknya selama 12 abad lamanya.

Kenapa 12 abad? Rupanya pandangankeduanya terhenti pada abad ke-18. Setelah masa-masa itu keduanya menganggap bahwa bangunan Islam—terutama sebagai sebuah peradaban yang menyeluruh—mulai retak-retak. Sejak abad 19 dan 20 Islam mulai menghadapi tantangan yang sangat berat dalam bidang politik dan ideologi. Karena itu kedua Islamisis tadi, setelah sebelumnya memuji, kini mengajukan pertanyaan yang getir: “Apakah Islam masih mampu memenuhi kebutuhan kehidupan modern di bidang politik, sosial, dan ekonomi?”

Inilah pertanyaan yang telah menyibukkan kaum terpelajar Muslim untuk mencoba mencari jawaban dan pemecahannya. Tema-tema di seputar hubungan Islam dan modernitas mulai banyak menyita perhatian kalangan terpelajar Islam. Dan bersamaan dengan itu persepsi terhadap dunia Barat tampak mulai berusaha diubah. Jika dulu Barat (Eropa) adalah daerah yang dikuasai peradaban Islam selama kurang lebih 7 abad, maka kini keadaannya sudah berbalik. Umat Islam dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa kini mereka jauh tertinggal oleh Barat dalam berbagai sektor kehidupan.

Inovasi-inovasi di bidang teknologi yang gencar dilakukan terutama setelah revolusi Industri telah melengkapi peradaban Barat dengan perangkat penaklukan yang kelak menjadi alat utama dalam menjajah negeri-negeri Islam. Jika dulu Islam menguasai Barat maka kini, terutama sejak abad 19, Barat lah yang menguasai Islam. Kondisi inilah yang kini sering menjadi hambatan psikologis kaum Muslim dalam menerima—dan memang sejatinya ingin menolak—hasil-hasil peradaban Barat, baik ilmu pengetahuan, teknologi, sistem pemikiran, lebih-lebih gaya hidup dan produk budaya. Sikap penolakan itu terkadang begitu ekstrim sehingga, sebagai misal saja, ketika pemikiran rasional dan filsafat pada abad ke-19 dibawa dari Barat ke dunia Islam, kalangan ulama mati-matian menolaknya karena itu dianggap tidak-Islami. Padahal, menurut ulama-ulama modern seperti Muhammad Abduh dan Rifah Tahtawi, semua itu adalah milik Islam yang dulu dikembangkan di Eropa.

Mengingat Kembali

Sikap apologi dan apriori terhadap Barat di kalangan umat Islam memang bisa dipahami. Selain karena alasan iman [kaum Muslim umumnya menganggap Barat sebagai “kafir”], juga karena alasan dendam historis dan rasa superior agamanya atas yang lain. Selama berabad-abad orang Islam meyakini adagium: al-Islamu ya’lu wala yu’la alayhi (Islam itu tinggi atau unggul dan tidak ada yang lebih unggul darinya.) Dan adagium itu memang dibuktikan. Islam telah menguasai Barat (Eropa) selama kurang lebih 7 abad. Masa-masa itu disebut sebagai masa kejayaan Islam. Umat Islam memainkan peranan sangat penting di Eropa.

Meskipun banyak kalangan Barat berusaha untuk membantah kenyataan sejarah tersebut, namun para sarjana yang jujur tetap mengakuinya. W. Montgomery Watt dari Edinburgh University misalnya pernah mengatakan bahwa kita [bangsa Eropa] punya utang budaya terhadap Islam, tetapi kita terlalu angkuh untuk mengakuinya. Kita mengecilkan pentingnya pengaruh Islam dalam warisan kita. Bahkan kita tidak mengakuinya sama sekali. Untuk kepentingan hubungan baik dengan kaum Muslim, kata Watt, kita harus mengakui utang budaya kita. “Berusaha menutupi dan mengingkarinya adalah ciri kebanggan yang palsu,” tandasnya dalam The Influence of Islam on Medieval Europe (1972). Sarjana Barat lainnya, seperti Gustave Lebon, juga memberikan kesaksian yang senada. Katanya, “Orang Islamlah yang menyebabkan orang-orang Eropa mempunyai peradaban. Merekalah yang menjadi guru orang Eropa selama enam ratus tahun.”

Memang ketika Islam melebarkan sayapnya, Eropa sedang dalam zaman kegelapan. Dua adikuasa yang sedang berjaya ketika itu, yaitu Bizantium dan Persia, terus-menerus terlibat peperangan. Pernah suatu ketika Nabi Muhammad mengirim utusan ke wilayah yang dikuasai Bizantium, dan utusan itu dibunuh oleh tentara Bizantium. Lalu Nabi mengirim tentara ke Bizantium, dan terjadilah peperangan antara kekuatan lama (Bizantium) dan kekuatan yang baru lahir (Islam). Peperangan Nabi itu kelak dilanjutkan oleh Umar bin Khattab. Jika sebelumnya Bizantium berhasil menaklukkan Persia, sebagaimana janji al-Quran (Q 30: 1-6), maka kini tentara Islam berhasil menaklukkan mereka. Daerah-daerah kekuasaan Bizantium di Palestina, Suriah, Irak, Mesir, berhasil dikuasai tentara Islam. Umar bin Khattab kini tampil sebagai penguasa baru di wilayah-wilayah bekas kekuasaan Bizantium dan Persia.

Pada masa Bani Umayah (661-750) ekspansi Islam meluas sampai ke Afrika Utara, Spanyol, dan Sisilia di Eropa. Kaum Muslim juga berhasil menguasai wilayah Asia Tengah, Bukhara, Samarkand, dan Farghanah, juga Balukhistan dan Sind di anak benua India. Kekuasaan Bani Umayah jatuh pada 750 M dan dilanjutkan oleh Bani Abbas sampai 1258 M. Pada masa Bani Abbas inilah jejak peradaban Islam ditorehkan. Mereka mempelajari sains dan filsafat Yunani yang mereka temukan di Mesir, Suriah, Irak, dan Persia.

Lebih jauh kaum Muslim sebenarnya bukan hanya mengambil sains dan filsafat Yunani begitu saja melainkan mengembangkannya secara kreatif, sehingga mereka berhasil membangun peradaban yang tiada taranya dari abad ke-8 sampai abad ke-13. Hal ini diakui oleh ahli sejarah Yahudi dan Arab, Max I. Dimont: “Dalam hal ilmu pengetahuan, bangsa Arab [Muslim] jauh meninggalkan bangsa Yunani. Peradaban Yunani itu, dalam esensinya, adalah ibarat sebuah kebun yang subur yang penuh dengan bunga-bunga indah namun tidak banyak berbuah. Peradaban Yunani itu adalah sebuah peradaban yang kaya dalam filsafat dan sastra, tetapi miskin dalam teknik dan teknologi. Karena itu, merupakan suatu usaha bersejarah dari bangsa Arab dan Yunani Islamik bahwa mereka mendobrak jalan buntu ilmu pengetahuan Yunani itu, dengan merintis jalan ilmu pengetahuan baru—menemukan konsep nol, tanda minus, bilangan bilangan irasional, dan meletakkan dasar-dasar ilmu kimia baru—yaitu ide-ide yang meratakan jalan ke dunia ilmu pengetahuan modern melalui pemikiran kaum intelektual Eropa pasca-Renaisans.”

Ilmu pengetahuan dan filsafat memang merupakan kata kunci bagi pembangunan peradaban Islam ketika itu. Tidak heran jika umat Islam pada masa itu mempelopori perkembangan sains yang kelak menjadi cikal-bakal revolusi industri dan teknologi. Menurut satu pendapat, pada zaman pra modern, tidak ada masyarakat manusia yang memiliki etos keilmuan yang begitu tinggi seperti umat Islam. Tidak seperti orang Yunani yang hanya mampu berpikir filosofis—untuk tidak mengatakan mengatakan mengawang-awang, kaum Muslim mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan ke dalam kehidupan nyata, sehingga berguna untuk kemanusiaan. Mereka mengembangkan ilmu-ilmu empiris, di samping filsafat, seperti kedokteran, pertanian, astronomi, ilmu ukur, ilmu bangunan, dan sebagainya. Karena itu tidak heran jika mereka mampu mewariskan peninggalan yang untuk zaman itu mungkin terlalu maju. Sebut saja misalnya bangunan-bangunan yang indah seperti Taj Mahal di India, Dome of the Rock di Palestina, Istana Merah (al-hamra) di Spanyol, dll.

Dunia ilmu pengetahuan pun sampai kini masih mencatat nama-nama kaum Muslim yang berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Di bidang filsafat dikenal nama-nama seperti Ibn Sina, Ibn Rusyd, al-Kindi, Ibn Miskawaih; al-Biruni dan al-Farghani dalam astronomi; al-Khawarizmi, Umar al-Khayam, dan al-Thusi dalam matematika; al-Razi, Ibn Sina, al-Thabari, dalam ilmu kedokteran; Jabir ibn Hayyan dan al-Razi dalam ilmu kimia; Ibn Haytsam dalam optika; al-Khawarizmi, al-Yaqubi, dan al-Mas’udi dalam Geografi; al-Jahiz, Ibn Miskawaih, dan Ikhwan al-Shafa dalam ilmu hewan.

Dampak dari pemikiran rasional-empiris juga mengimbas ke bidang agama, sehingga pemikiran keagamaan juga mengalami kemajuan. Ulama-ulama besar di berbagai bidang keagamaan bermunculan. Di bidang hukum Islam (fiqih) sudah umum dikenal perintis empat mazhab masing-masing Abu Hanifah, Malik bin Annas, al-Syafii, dan Ibn Hambal. Dunia tafsir melahirkan nama-nama besar seperti al-Zamaksari dan al-Thabari. Begitu juga dalam pemikiran hadis sudah sangat diketahui nama Bukhari dan Muslim; sedangkan dalam bidang teologi guru-guru besarnya adalah al-Asy’ari (peletak mazhab suni), al-Maturidi, Ibn Huzail, Washil bin Atha. Tidak ketinggalan dunia tasawuf pun mencatat nama-nama harum seperti Rabiah Adawiyah, Ibn Arabi, Yadiz al-Bustami, dll.

Baghdad yang merupakan ibukota peradaban Islam ketika itu benar-benar telah menjadi jantungnya dunia. Kecuali Konstantinopel di Bizantium, tidak ada kota di dunia ini yang mampu menandinginya. Konon diibaratkan sekarang sama dengan kota-kota besar dunia semisal, New York, Paris, London.

Duplikasi dari Baghdad yang juga dikuasai Islam adalah Spanyol. Berbagai kemajuan yang terdapat di Baghdad dapat pula ditemui di Spanyol Islam. Dari sinilah kelak peradaban Islam mengalami perpindahan tangan ke Eropa. Di Spanyol yang merupakan tempat berdirinya sekolah-sekolah dan universitas-universitas Islam terkemuka orang-orang Eropa menuntut ilmu kepada orang Islam. Apa yang terjadi kemudian adalah gerakan penerjemahan secara besar-besaran berbagai literatur Arab ke dalam bahasa-bahasa Latin dan Eropa. Dan yang mereka pindahkan, menurut Harun Nasution (Islam Rasional, 1995), bukan hanya sains dan filsafat saja, tapi juga pemikiran rasional Islam untuk menggantikan pemikiran dogmatis yang dikembangkan Gereja di Eropa. Semua inilah, lanjut Nasution, yang membawa kepada munculnya Renaisans di Eropa. Pemikiran filosofis dan sains yang diambil orang Eropa dari dunia Islam mereka kembangkan dan pada abad ke-16 M masuklah Eropa ke zaman modern.

Sementara itu di dunia Islam sendiri tengah terjadi kemunduran-kemunduran. Baghdad diserang dan dihancurkan tentara Mongol Hulagu Khan pada 1258 hingga rata dengan tanah. Buku-buku yang mengandung berbagai jenis ilmu pengetahuan dibakar dan abunya dibuang ke sungai, sampai-sampai konon air sungai berubah warna menjadi hitam pekat. Sepak terjang tentara Mongol ini jelas berbeda dengan perilaku tentara Islam ketika menaklukkan Spanyol. Tentara Islam [Arab] ketika masuk ke Spanyol justru melindungi dan membebaskan kaum tertindas, seperti dkatakan Max I Dimont: Penaklukan Spanyol oleh bangsa Arab pada 711 M telah mengakhiri pemindahan agama kaum Yahudi ke Kristen secara paksa yang telah dimulai oleh Raja Recaded pada abad keenam. Di bawah kekuasaan kaum Muslim selama 500 tahun setelah itu, muncul Spanyol untuk tiga agama dalam “satu tempat tidur”. Dengarkan juga kesaksian sarjana Barat Alfred Guillaume berikut ini: “Sekiranya orang Arab bersifat ganas seperti orang Mongol dalam menghancurkan api ilmu pengetahuan….Renaisans di Eropa mungkin akan terlambat lebih dari seratus tahun.”

Penutup

Itu adalah pengakuan tentang peranan kaum Muslim dalam mempelopori ilmu pengetahuan sehingga mengantarkan Eropa ke zaman modern. Saat ini peranan tersebut sudah mulai kembali diakui oleh para sarjana Barat lainnya. Di Cordova, Spanyol, ada patung Averroes (Ibn Rusyd) untuk mengenang jasanya dalam membawa sains dan filsafat ke Eropa. Dan konon, seperti dikatakan Cak Nur, saat ini orang Spanyol banyak yang merasa tertarik dengan masa silam mereka yang agung di bawah Islam. Tapi bagi kaum Muslim sendiri tentu tidak perlu menengok terlalu lama ke masa lalu. Sebab masa depan kaum Muslim tidak ada pada masa lalu, melainkan pada apa yang sedang mereka lakukan untuk mengejar ketertinggalan mereka di berbagai lapangan kehidupan.

Sadar akan ketertinggalannya, kaum Muslim mulai menengok ke Barat, terutama berkaitan dengan kepentingan untuk melakukan modernisasi bidang-bidang material seperti industri, pertanian, militer, pers, pendidikan, dan semacamnya; sementara untuk bidang-bidang mental dan spiritual kaum Muslim masih merasa belum atau tidak perlu belajar ke Barat. Bagaimanapun, untuk bidang-bidang yang disebut pertama tadi, Barat merupakan kampiunnya.

Tetapi seperti halnya ketika kaum Muslim mengambil dan mengembangkan filsafat Yunani sembari membuang unsur-unsur mitologis syirik di dalamnya, begitu pula interaksi mereka dengan Barat sekarang ini. Barat tidak perlu kecewa jika dunia Islam tidak mau menelan mentah-mentah segenap produksi budayanya. Penolakan sebagian umat Islam terhadap produk-produk tertentu Barat tidaklah bisa disebut munafik. Mereka hanya mencoba bersikap hati-hati, dan berusaha menjaga identitas—suatu sikap yang samasekali tidak unik [artinya terjadi pada semua komunitas, bukan hanya Islam], akibat globalisasi.

Nilai, gaya hidup, sistem, adalah hal-hal yang sedang dicoba dikembangkan sendiri oleh umat Islam. Dan yang sedang kita saksikan sekarang ini adalah penggabungan antara nilai-nilai Islam sendiri dengan produk peradaban paling mutakhir di bidang-bidang material yang sekarang kebetulan dikembangkan di dan oleh dunia Barat. Jika ini berhasil, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama umat Islam akan kembali mengulangi masa kejayaan mereka seperti dulu. Gerak dan langkah ke arah itu memang terkadang riuh, bahkan ribut, sehingga sering menimbulkan rasa was-was dan tanda tanya orang lain: Ada apa gerangan dengan [umat] Islam?

Categories
Penggalan Buku

Masjid Cak Nur

 

Sebuah Masjid di Atas Langit

 Oleh Ahmad Gaus AF

 

 

Dalam suatu pertemuan Majelis Reboan, awal tahun 1985, KH Abdurrahman Wahid menantang Nurcholish untuk membuat gebrakan baru, setelah menyelesaikan PhD-nya di Universitas Chicago, AS.[1] Menjawab tantangan itu, Nurcholish mengatakan bahwa ia ingin membangun masjid ketiga terbesar di Indonesia setelah Masjid Istiqlal di Jakarta dan Masjid Syuhada di Yogyakarta. Mendengar itu Abdurrahman Wahid terbahak, diiringi gelak tawa para peserta pertemuan yang ada di situ (Utomo Dananjaya, Ekky Syahruddin, Soetjipto Wirosardjono, Masdar F. Mas’udi, dll). Mereka menduga Nurcholish sedang berkelakar.

Waktu itu, Abdurrahman Wahid belum lama terpilih sebagai Ketua Umum PB NU dalam Muktamar Situbondo. Sebagai masinis dari gerbong yang mengangkut 40 juta kaum santri, ujarnya, dia tidak berpikir untuk membikin masjid, masa’ Nurcholish yang baru meraih gelar doktor bidang keislaman dari Amerika, pulang ke Indonesia cuma mau membikin masjid.

Tapi, Nurcholish tidak sedang berkelakar. Ia menjelaskan bahwa universitas-universitas besar dan ternama di Amerika, pada mulanya tumbuh dari lingkungan kompleks keagamaan semacam pesantren di Indonesia. Ia menyebut pendeta Harvard yang “pesantren”-nya kemudian tumbuh menjadi Universitas Harvard yang besar dan paling berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern. Karena faktor-faktor kesejarahan tertentu seperti penjajahan, ujarnya, pesantren-pesantren di Indonesia berada di pinggiran kota, dan tidak tumbuh menjadi universitas yang berpengaruh semacam Harvard.

Menurut Nurcholish, ia tidak berencana mendirikan pesantren, karena ia bukan kiai seperti Abdurrahman Wahid, melainkan ingin membangun masjid yang akan berfungsi semacam “pesantren”, dan kemudian tumbuh di dalamnya universitas. Predesen semacam itu, urainya, bisa ditemukan di masa-masa kejayaan peradaban Islam di Baghdad maupun Spanyol.

Madinatul Umran

Pada awal 2003, dalam sebuah forum yang diselenggarakan oleh ICRP, Abdurrahman Wahid bertanya kepada Nurcholish apa yang sedang direncanakannya, selain mau maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2004. Di luar dugaannya, Nurcholish memberikan jawaban yang sama dengan pernyataannya 18 (delapan belas) tahun silam, bahwa ia ingin membangun masjid. Abdurrahman Wahid tersentak. Lho, belum jadi juga toh masjid itu? Begitu pikirnya. Tapi kali ini ia sudah tahu Nurcholish serius. Bahkan, ia juga bicara soal dananya. “Namanya masjid monumen,” kata Abdurrahman Wahid menirukan Nurcholish saat itu. Ia kemudian menuturkan keberhasilan Nurcholish membangun sekolah dan universitas, tetapi sejauh ini belum berhasil membangun masjid. “Mungkin orang-orang yang mendukungnya ‘gak mengerti jalan pikiran Cak Nur,” ujar Abdurrahman Wahid, yang pernah mengucurkan dana Rp.500 juta untuk membantu pembelian kantor baru Paramadina.

Nama masjid yang dibicarakan itu sebenarnya ialah Madinatul Umran, yang berarti “peradaban kertaraharja”. Pada akhir dasawarsa 1980-an, Nurcholish  menggambar arsitektur masjid itu di langit-langit pikirannya. Kemudian, belasan tahun lamanya ia berusaha memindahkan lukisan masjid itu dari langit ke tanah yang keras. Namun, sampai hari ia dipanggil Tuhan pada 29 Agustus 2005, tak pernah ada peletakan batu pertama. Berbeda dengan sekolah-sekolah dan universitas yang diprakarsainya yang begitu cepat memperoleh dukungan sponsor, rencana pembangunan Masjid Madinatul Umran selalu tersendat. Para pendukung yang semula begitu antusias dan ingin segera merealisasikan rencana itu, satu persatu pergi dan tak terdengar lagi beritanya.

Melihat rancangan arsitektur, fasilitas, lokasi, dan prasarananya, masjid ini memang terbilang ambisius. Dari segi kemegahan, sebagai pembandingnya Nurcholish menyebut-nyebut Masjid Muhammad Ali di Kairo, Masjid Sulaimaniyah di Istambul, dan Taj Mahal di Agra. Dana yang diperlukan bagi pembangunan masjid mencapai Rp6,8 miliar (perhitungan tahun 1997). Lahan yang diperlukan untuk pembangunan masjid luasnya minimal 7000 (tujuh ribu) meter persegi dan berada di keramaian kota dengan tujuan untuk mengundang apresiasi dan menarik perhatian banyak orang. Saat itu telah ditentukan lokasinya di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, yang sekaligus juga akan menjadi lokasi kampus Universitas Paramadina.[2]

Keyakinan Nurcholish untuk mewujudkan impian akan sebuah masjid megah itu lahir dari pengamatannya sendiri tentang kelas menengah kota yang sedang tumbuh, terhadap siapa ia berharap akan mendapatkan dukungan yang memadai. Bersama Utomo Dananjaya dan beberapa pendiri Paramadina lainnya, Nurcholish mulai menjajakan konsep Masjid Madinatul Umran itu kepada calon-calon donatur potensial. Para jamaah Paramadina yang kebanyakan dari kelas menengah kota—yang diam-diam telah terbentuk menjadi segmen Muslim tersendiri sebagai hasil dari pengajian di hotel-hotel bintang lima yang dikelola Paramadina—sangat antusias menyambut rencana tersebut, dan menganggapnya sebagai cita-cita bersama. Mata para jamaah berbinar-binar manakala Nurcholish sudah mulai berbicara mengenai Masjid Madinatul Umran.

Pada bulan Januari 1990, dalam suatu kesempatan makan malam di Restoran Arirang, Jakarta, yang di-setting sebagai acara presentasi, para dermawan dan sejumlah pejabat tinggi pemerintah tampak hadir. Beberapa di antara mereka menyatakan kesiapan untuk mendukung pembangunan Madinatul Umran, bahkan ada yang langsung memberikan kantornya untuk digunakan sebagai sekretariat pembangunan masjid. Seorang menteri dari kalangan militer menyebut tentang adanya lima kemungkinan bakal lokasi masjid ini. Dermawan lainnya berjanji akan menjadi fasilitator dalam pertemuan-pertemuan fund raising.

Kepercayaan kepada Nurcholish sebagai ikon cendekiawan Muslim modern menjadi faktor penting bagi tumbuhnya harapan akan Islam Indonesia yang sedang bangkit menyongsong zaman baru. Mendengarkan bagaimana Nurcholish menjelaskan visi-misi Madinatul Umran sebagai episentrum peradaban, tidak syak lagi ia memang sangat serius dengan rencananya tersebut. Konsep yang memuat pandangan dasar, fungsi, dan peruntukan masjid sudah disusun, menyusul kemudian maket yang menggambarkan bangunan fisik, lingkungan, dan fasilitas masjid.

Akan tetapi, karena berbagai faktor dan kendala, perkembangan pembangunan masjid ini sering sekali tertunda. Baru pada 29 April 1997 sebuah kepanitiaan resmi dilantik di Hotel Regent, Jakarta. Di dalamnya tercatat nama-nama seperti Emil Abeng (putra Tanri Abeng/Presiden Direktur Bakrie Grup saat itu) yang duduk sebagai ketua panitia, Shahnaz Haque (aktris) dan Ratih Sanggarwati (peragawati dan foto model) yang dilibatkan untuk mobilisasi dana, serta sederet nama lain dari kalangan dalam Paramadina maupun simpatisan.

Monumen Ketiga

Masjid Madinatul Umran merupakan simbol perjuangan dalam mewujudkan cita-cita masyarakat beradab, adil, dan makmur. Nurcholish merujuk contoh perjuangan Nabi Muhammad SAW ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Hal pertama yang dilakukan Nabi ketika tiba di Madinah ialah membangun Masjid Nabawi (sesudah Masjid Quba yang dibangun di tengah perjalanan hijrah). Masjid Nabawi inilah yang menjadi modal utama perjuangan Nabi dalam mewujudkan masyarakat beradab. Fungsi masjid ini tidak hanya sebagai tempat kegiatan peribadatan, melainkan lebih luas lagi, yaitu menjadi pusat bagi segenap aktivitas beliau dalam berinteraksi dengan umat. Singkatnya, masjid ketika itu merupakan pranata terpenting masyarakat Islam.

Masjid Madinatul Umran dirancang oleh Nurcholish untuk menjadi monumen ketiga setelah Masjid Syuhada dan Masjid Istiqlal. Masjid Syuhada terletak di Yogyakarta, ibukota revolusi di masa perjuangan kemerdekaan. Nama Syuhada diambil dari bahasa Arab yang berarti pahlawan. Nama ini digunakan untuk memperingati jasa para pahlawan dan sekaligus sebagai doa kepada mereka yang telah berjasa bagi bangsa dan negara. Dengan demikian, Masjid Syuhada merupakan monumen kepahlawanan. Sementara itu, Masjid Istiqlal yang terletak di ibukota proklamasi, Jakarta, dibangun sebagai monumen kemerdekaan. Kata Istiqlal sendiri memiliki makna kemerdekaan.  Pembangunan Masjid Istiqlal dimaksudkan untuk mengingatkan bangsa Indonesia agar senantiasa bersyukur atas karunia kemerdekaan yang tak terkira nilainya, yang diperoleh atas jasa dan pengorbanan para Bapak Bangsa (the Founding Fathers).

Kedua masjid yang didirikan untuk memperingati hari-hari besar sejarah bangsa itu, menurut Nurcholish, menunjukkan adanya keinsafan dan kesadaran yang amat mendalam para pemimpin nasional kita tentang peranan jiwa keagamaan dalam kebangkitan, pertumbuhan, perkembangan, dan pembangunan bangsa. Jika Masjid Syuhada dibangun sebagai penanda fase revolusi, dan Masjid Istiqlal menjadi penanda fase kemerdekaan, maka Masjid Madinatul Umran dengan sadar direncanakan untuk menandai fase ketiga dalam sejarah perjalanan bangsa, yaitu pembangunan nasional. Bagi Nurcholish, pembangunan nasional memang masih jauh dari cita-cita konstitusional yang diamanatkan dalam UUD 1945. Masyarakat yang adil dan makmur sebagai cita-cita bersama pun masih harus terus diperjuangkan. Akan tetapi, ujarnya, kita tidak boleh mengingkari bahwa pembangunan telah membawa kebaikan bagi seluruh bangsa. Salah satu wujud nyata dari keberhasilan pembangunan ialah tetap utuh dan bersatunya seluruh tanah air dari Sabang sampai Merauke, dan makin kukuhnya kedudukan UUD 1945 dan Pancasila.

Seraya menegaskan perasaan bangganya terhadap hasil-hasil pembangunan yang menurutnya sangat mengesankan dan pantas dipanjatkan puji syukur ke hadirat Allah atas semua hasil itu, Cak Nur  menekankan pentingnya membangun sebuah masjid monumen. Masjid Madinatul Umran dimaksudkan sebagai masjid monumen itu. Sebagai monumen kebangsaan, yang merupakan kelanjutan dari masjid-masjid monumen Syuhada dan Istiqlal, Madinatul Umran dirancang untuk menampilkan unsur-unsur ekspresi artistik Islam Indonesia yang representatif. Dengan cara begitu, dari segi arsitektural, Masjid Madinatul Umran bukan hanya akan menjadi pendorong bagi perkembangan seni Islam Indonesia lebih lanjut, tapi juga menjadi suatu masterpiece  bangunan Islam Indonesia yang membanggakan sebagai salah satu landmark ibukota negara, seperti suksesnya Masjid Islamic Center di Washington D.C. sebagai salah satu landmark ibukota Amerika.

Usaha untuk menampilkan kembali unsur-unsur klasik dalam sebuah bangunan masjid modern memang bukan tanpa preseden. Dalam konteks ini, Nurcholish tidak menutupi kebanggaannya kepada Presiden Soeharto yang telah membangun ratusan masjid dengan konsep revivalisme arsitektur klasik Masjid Demak dalam arsitektur masjid-masjid yang didirikan oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang dipimpin Pak Harto. Pandangan dasar Masjid Madinatul Umran ialah nilai-nilai keislaman dalam paduannya yang harmonis dan utuh dengan nilai-nilai keindonesiaan. Pancasila menjadi simbol perpaduan antara keislaman dan keindonesiaan, sebab Pancasila mengandung nilai-nilai tauhid yang menjadi pesan dasar Islam, dan sekaligus juga merupakan identitas bangsa Indonesia. Masjid Madinatul Umran dengan sadar dirancang untuk menjadi salah satu sumber usaha substansiasi dan pengisian nilai-nilai Pancasila. Sejajar dengan kedudukan Pancasila yang telah final sebagai dasar hidup bersama dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka Masjid Madinatul Umran juga dididirikan untuk ikut memikul amanat toleransi dan kerukunan agama dalam masyarakat plural Indonesia.

Pusat Kegiatan Paramadina

Rencana pembangunan Masjid Madinatul Umran tidak terlepas dari pengembangan aktivitas Yayasan Wakaf Paramadina yang didirikan Nurcholish dan kawan-kawan pada tahun 1986. Karena itu, pandangan dasar masjid ini serupa dengan pandangan dasar Paramadina yang dibangun di atas prinsip kebebasan dan toleransi, dengan menekankan dialog dalam semangat keterbukaan. Program-program yang dirancang untuk menjadi kegiatan Madinatul Umran sebenarnya juga merupakan perluasan dari kegiatan Paramadina. Bahkan dalam konsep yang disusun oleh Nurcholish, dengan jelas disebutkan bahwa Masjid Madinatul Umran merupakan pusat kegiatan Yayasan Wakaf Paramadina.

Beberapa program pokok yang dirancang untuk menjadikan masjid sebagai monumen yang hidup, terlibat aktif, dan memberi kontribusi nyata dalam kehidupan masyarakat adalah sebagai berikut:[3]

  1. Peningkatan dan penyebaran faham keagamaan Islam yang luas, mendalam dan bersemangat keterbukaan, dengan titik berat kepada:

a)    Pemahaman sumber-sumber ajaran Islam, khususnya masa-masanya yang paling formatif, dalam kaitannya dengan lingkungan sosial, politik,, ekonomi, budaya, dll.

b)   Penyadaran tentang sejarah pemikiran Islam, khususnya masa-masanya yang paling formatif, dalam kaitannya dengan lingkungan sosial, politik,, ekonomi, budaya, dll.

c)    Penginsafan tentang segi-segi budaya dan peradaban dalam sejarah Islam dan bangsa-bangsa Muslim.

d)   Penanaman semangat non-sektarian dan pengembangan serta pemeliharaan ukhuwah Islamiyah dalam arti yang sebenar-benarnya.

e)    Pendalaman dan perluasan segi komparatif mazhab-mazhab dan aliran-aliran dalam Islam, antara lain guna menangkal timbulnya faham-faham kelompok yang sempit dan eksklusivistik.

f)     Pengembangan sikap penuh toleransi dan hormat kepada kelompok-kelompok agama lain yang damai dan bersahabat sebagaimana hal itu diajarkan oleh Islam.

 

  1. Penyediaansarana fisik guna menopang kegiatan tersebut, khususnya perpustakaan yang tepat dan benar-benar memadai.
  2. Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan ilmiah khusus dalam bentuk berbagai halaqah (lingkaran, circle) ilmiah untuk para ulama, kaum intelektual, para dai dan mubalig, serta para mahasiswa dan remaja.
  3. Pengadaan penelitian dan pengembangan, serta penyelenggaraan pertemuan-pertemuan ilmiah tentang berbagai masalah aktual.
  4. Penyelenggaraan pendidikan manajemen dan kewirausahaan (entrepreneurship) guna ikut mendorong gerak dinamik pembangunan nasional.
  5. Pengadaan pelayanan masyarakat umum serta penyelenggaraan acara-acara seni dan budaya Islam.
  6. Penerbitan jurnal, booklet dan buku-buku ilmiah tentang keislaman dan keindonesiaan.
  7. Penggalangan kerjasama dengan lembaga-lembaga ilmiah di luar negeri, guna meningkatkan mutu intelektualitas Islam Indonesia.
  8. Inventarisasi, pemeliharaan, dan pengembangan warisan budaya Islam Indonesia guna memupuk kesadaran keislaman-keindonesiaan.

Mereka yang mencermati perkembangan pemikiran Nurcholish sejak tahun 1970-an akan mudah menarik kesimpulan bahwa gagasan-gagasan yang dituangkan dalam rancangan kegiatan Madinatul Umran tidak lain adalah tema-tema pokok dari pikiran Nurcholish sendiri yang dicobanya untuk diwujudkan. Metode gerakan dakwahnya yang setia di jalan kultural membuatnya tetap percaya bahwa masjid adalah pusat budaya atau “kultur centrum”. Dari masjidlah—tempat nama Allah paling banyak disebut—memancar cahaya peradaban Islam. Karena itu, ke mana saja Nurcholish pergi mengunjungi negeri-negeri lslam, oleh-oleh cerita yang selalu dituturkannya tidak lain adalah masjid-masjid indah peninggalan kejayaan peradaban Islam di masa lampau.

Dengan menyebut Madinatul Umran sebagai pusat kegiatan Paramadina, menjadi jelas pula bahwa masjid ini merupakan muara dari semua impian Nurcholish tentang bangunan peradaban Islam yang agung, yang tak henti-hentinya ia suarakan. Akan tetapi, sebagaimana telah dikemukakan di atas, sampai akhir hayat Nurcholish tidak pernah ada peletakan batu pertama pembangunan masjid bernama Madinatul Umran. Obsesi yang terlampau besar untuk mewujudkannya, bertabrakan dengan fakta-fakta keras yang menghadangnya, melahirkan perasaan “frustasi” pada diri Nurcholish sehingga belakangan ia tidak pernah menyinggung soal pembangunan masjid itu lagi.[4]

Kisah sebuah Buletin

Saat ini, mungkin hanya Utomo Dananjaya yang matanya masih selalu berkaca-kaca setiap kali menatap maket bangunan masjid yang tak pernah terwujud itu—sebelum akhirnya maket itu sendiri pun raib entah ke mana. Abdurrahman Wahid mungkin orang terakhir kepada siapa Nurcholish menyampaikan impiannya tentang membangun sebuah masjid. Nama yang lainnya adalah Rahmat, yang selama 10 tahun menjadi sekretaris pribadi Nurcholish. Setelah kemangkatan Nurcholish pada 2005, Rahmat tetap mengabdikan dirinya mengurus kantor lama Paramadina yang telah diubah fungsinya menjadi mushalla. Bukan kebetulan bahwa mushalla ini diberi nama Mushalla Rahardja Paramadina. Rahardja dalam bahasa Arab semakna dengan Umran. Selain itu, sejak Juli 2007 Rahmat dan kawan-kawan juga secara rutin menerbitkan buletin Jumat bernama Madinatul Umran, untuk memelihara ingatan pada masjid impian itu.[5]

Dicetak setiap terbit sebanyak 800 eksemplar, buletin Madinatul Umran yang berukuran saku ini pada mulanya hanya dibagikan kepada jamaah salat Jumat di Mushalla Rahardja dan di kantor Paramadina yang baru di Pondok Indah Plasa III yang juga rutin mengadakan jumatan. Seratus eksemplar di antaranya dikirimkan melalui pos kepada lembaga-lembaga Islam dan sejumlah tokoh. Pendanaan buletin yang membutuhkan biaya Rp. 640 ribu setiap terbit dicarikan sendiri oleh Rahmat dari para jamaah dan donatur. Yayasan Medco dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Departemen Agama pernah tercatat sebagai penyumbang, selain beberapa individu yang mengulurkan bantuan atas nama pribadi.

Berbeda dengan buletin-buletin Jumat lain yang biasanya diedarkan di masjid-masjid, Madinatul Umran disebarkan di outlet-outlet laundry milik Joes Noerdin, pengusaha waralaba binatu ternama, 5 à Sec. Joes yang sejak lama bersimpati kepada Nurcholish belakangan bahkan menanggung semua biaya percetakan buletin, sedangkan biaya untuk pra-produksi diperoleh dari para donatur individual.

Buletin Madinatul Umran memuat materi khutbah Jumat yang disampaikan para khatib di Mushalla Rahardja Paramadina. Dalam setiap edisinya dimuat isi khutbah pertama dan khutbah kedua, sehingga materi buletin ini bisa langsung digunakan oleh para khatib pemula untuk bahan khutbah. Terkesan dengan isi dan nama buletin yang dinilai mengingatkan pada Nurcholish, beberapa orang yang dikirimi buletin ini melalui pos karena jarak yang jauh sengaja datang ke Mushalla Rahardja Paramadina semata-mata untuk memberi ongkos cetak, agar buletin tetap terbit.

Sampai  bulan Maret 2010, buletin Madinatul Umran telah memasuki edisi ke-80. Tapi, Rahmat dan kawan-kawan tidak tahu sampai kapan mereka akan mampu menjaga kesinambungan penerbitannya. Mereka juga tidak tahu apakah usahanya itu akan mampu membangkitkan ingatan orang-orang pada impian bersama membangun sebuah masjid dengan nama yang sangat elok itu: Madinatul Umran, Peradaban Kertaraharja.[]

 

Tulisan ini adalah salah satu bagian dari buku API ISLAM- Biografi Nurcholish Madjid, karya Ahmad Gaus (Penerbit Buku Kompas, 2010).

 


[1] Wawancara dengan KH Abdurrahman Wahid di Jakarta (17/07/2007).

[2] Booklet “Masjid Monumen Pembangunan Madinatul Umran”, Yayasan Wakaf Paramadina, 1990

[3] Dikutip dari Booklet, Ibid.

[4] Konon, Nurcholish juga merasa malu kepada beberapa arsitek yang pernah dihubunginya, antara lain Ir. Ahmad Noe’man, yang pernah mengarsiteki Masjid Salman ITB, yang sangat dikagumi Nurcholish. Kepada Rahmat, sekretaris pribadinya, Nurcholish pernah mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak sulit mendapatkan dana dari para pengusaha non-Muslim, kalau ia mau, tapi ia masih menjaga perasaan umat Islam.

[5] Deskripsi mengenai Buletin Madinatul Umran diolah dari hasil wawancara dengan Rahmat Hidayat, sekretaris pribadi Nurcholish Madjid (22/03/2010).