Bincang-bincang Puisi Esai di Singapura

puisi esai launch

Sabtu pekan lalu, 28 Desember 2013, dua buku puisi esai karya penulis Indonesia diluncurkan dan dibedah di Singapura. Dua buku tersebut masing-masing Imaji Cinta Halima karya Novriantoni Kahar dan Kutunggu Kamu di Cisadane karya Ahmad Gaus. Acara ini merupakan kerjasama antara Leftwrite Center, Jabatan Pengkajian Melayu National Universtity of Singapore (NUS) dan the Art House.

Selain mengundang langsung dua penulis puisi esai Indonesia, acara yang bertajuk Pembaharuan Sastra: Puisi Esai dalam Gerakan Pemikiran, ini juga menghadirkan Dr Azhar Ibrahim dari NUS dan Mohamed Imran dari the Reading Group Singapura. Acara dimulai dari pukul 10 s.d 12 siang waktu setempat.

Dalam mengantarkan sesi diskusi, Mohamed Imran mengatakan bahwa puisi esai telah menarik perhatian kalangan peminat dan pemerhati sastra di Singapura, terutama terkait dengan pembaruan di ranah sastra dan sekaligus sebagai gerakan pemikiran. “Kita mengetahui bahwa dua pembicara ini bukan hanya penulis puisi tapi juga aktivis yang sudah lama bergiat dalam gerakan Islam progresif di Indonesia,” ujar Imran. “Apa yang mereka tulis dalam buku mereka masing-masing tentunya tidak jauh dari apa yang menjadi concern mereka selama ini sebagai intelektual dan aktivis,” tambah pendiri the Reading Group Singapura tersebut.

sin1
Novriantoni, Gaus, dan Imran

Ahmad Gaus yang tampil sebagai pembicara pertama mengulas peta sastra Indonesia modern dan dimana posisi puisi esai. Menurutnya, puisi esai sebagai sebuah gerakan lahir dengan terbitnya buku Atas Nama Cinta karya Denny JA yang memuat lima buah puisi esai bertemakan diskriminasi berdasarkan perbedaan ras, sekte agama, orientasi seksual, dan pandangan agama. Dari segi bentuknya puisi esai berbeda dengan puisi lirik. Puisi lirik adalah puisi yang mengungkapkan perasaan melalui simbol dan metafor. Sedangkan puisi esai mengungkap realitas melalui bahasa konvensional. Dalam sejarah perpuisian di Indonesia, puisi lirik merupakan puisi arus utama, dan telah menjadi paradigma dalam penulisan puisi. Puisi esai menawarkan genre baru penulisan puisi yang berusaha keluar dari arus utama tersebut dan membentuk tata bahasa sendiri di luar lirisisme.

Kelahiran puisi esai, lanjut Gaus, diilhami oleh tulisan John Barr yang mengatakan bahwa puisi semakin sulit dipahami publik. Penulisan puisi mengalami stagnasi, dan tak ada perubahan berarti selama puluhan tahun. Publik luas merasa semakin berjarak dengan dunia puisi. Menurut John Barr, para penyair asik masyuk dengan imajinasinya sendiri, atau hanya merespon penyair lain. Mereka semakin terpisah dan tidak merespon persoalan yang dirasakan khalayak luas. Barr merindukan puisi dan sastra seperti di era Shakespeare. Saat itu, puisi menjadi magnet yang dibicarakan, diapresiasi publik, dan bersinergi dengan perkembangan masyarakat yang lebih luas.

Sementara itu Novriantoni Kahar yang tampil sebagai pembicara berikutnya menuturkan pengalamannya menyampaikan gagasan-gagasan keislaman dalam bentuk puisi. Selama ini, ujarnya, ia banyak menulis kolom atau artikel ilmiah populer di surat kabar dan majalah. Sebagai pengamat pemikiran dan gerakan Islam, ia merasa mendapatkan media baru dalam menyampaikan kegelisahannya secara impulsif dan personal. Puisi esai baginya merupakan pengalaman baru dalam berwacana. Alumni Universitas Al-Azhar Kairo ini menulis kisah-kisah cinta dalam antologi Imaji Cinta Halima yang bulan November lalu juga diluncurkan di Jakarta. Dengan setting dunia Timur-tengah, buku puisi esai Novri hampir semuanya terkait dengan pergulatan perempuan Muslimah dalam menyikapi moderitas.

Dr Azhar Ibrahim Alwee yang menjadi pembahas pada acara tersebut menandaskan pentingnya karya-karya sastra selalu diletakkan dalam setting sejarah yang rill. Menurut dosen dari National University of Singapore ini, puisi esai semangatnya sejalan dengan yang selama ini dikenal sebagai puisi memori sosial. Di dalam puisi jenis ini, isu-isu yang menjadi perhatian publik dibawa ke dalam karya puisi. “Dengan cara seperti itu, masyarakat menjadi akrab dengan puisi,” tutur Azhar di hadapan para peserta yang hadir dari kalangan aktivis, dosen, pegiat seni, termasuk sastrawan ternama Singapura Mohamed Latiff dan Suratman Markasan.

Untuk uraian lengkap dari Novri dan Azhar lihat link berikut:
http://inspirasi.co/forum/post/3423/catatan_perjalanan_muhibah_sastra_di_singapura#.UsIYcckR_NI.twitter

artHouse2
Setelah sesi peluncuran dan diskusi buku, saya membacakan sebuah puisi berjudul “Sehelai Kain dari Surga” yang pernah saya posting juga di WordPress dan Kompasiana.

IMG02635-20131228-1148
Andy, seorang pengajar muda sastra di sekolah Singapura membaca penggalan puisi berjudul “Gereja Tua” dari buku Kutunggu Kamu Di Cisadane karya Ahmad Gaus

Posted by Gaus, 31 Dec 2013. Follow my twitter: @AhmadGaus / Facebook: Gaus Ahmad

Mengenang BUYA HAMKA dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Buya_Hamka01

Terlalu gegabah menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di Senen. – HB Jassin

TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK

Catatan Ahmad Gaus

(Berikut adalah esai untuk mengenang Buya Hamka yang wafat pada tanggal 24 Juli 1981 dalam usia 73 tahun. Beliau almarhum adalah seorang ulama dan sekaligus sastrawan besar yang dimiliki bangsa kita. Selamat membaca).

ADA CERITA menarik dari Kutaraja (kini Banda Aceh). Setiap Rabu malam, orang-orang berkerumun di stasiun kereta menunggu kiriman majalah Pedoman Masjarakat yang terbit di Medan. Mereka bukan hanya agen penjual majalah itu, tapi juga ratusan pembaca yang tidak sabar ingin membaca kelanjutan kisah “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” yang dimuat di majalah itu secara bersambung pada 1938.1] Penulis cerita bersambung itu ialah Hamka, nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Amrullah, yang juga pengasuh dan pendiri majalah mingguan Pedoman Masjarakat.

Hamka menuturkan bahwa ia mendapat banyak surat dari pembaca—atau tepatnya, penggemar—cerita Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Sebagian surat itu berisi pengungkapan kesan mereka setelah membaca kisah cinta tragis antara Zainuddin dan Hayati yang dikungkung adat dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. “Seakan-akan Tuan menceritakan nasibku sendiri,” tulis seorang pemuda dalam suratnya.2]

Berdasarkan masukan dari berbagai pihak, cerita bersambung itu akhirnya diterbitkan dalam bentuk novel dengan judul yang sama pada 1939. Hamka menulis novel itu berdasarkan kisah nyata tentang kapal Van Der Wijck yang berlayar dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Tanjung Priok, Jakarta, dan tenggelam di Laut Jawa, timur laut Semarang, pada 21 Oktober 1936. Peristiwa itu kemudian diabadikan dalam sebuah monumen bersejarah bernama Monumen Van Der Wijck yang dibangun pada tahun 1936 di Desa Brondong, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, sebagai tanda terima kasih masyarakat Belanda kepada para nelayan yang telah banyak membantu saat kapal itu tenggelam. Dan Hamka mengabadikannya dalam sebuah novel.

van-der-wijck2

Walaupun peristiwa tenggelamnya kapal Van Der Wijck itu benar-benar terjadi, kisah yang ditulis Hamka dalam novel itu tentu saja fiksi belaka. Sebagaimana umumnya karya sastra yang baik dibangun di atas serpihan kejadian nyata, Hamka pun mengolah tragedi yang memilukan itu dalam kisah fiksi yang diberi badan peristiwa konkret dengan plot yang apik sehingga imajinasi pembacanya memiliki pijakan di dunia faktual. Karakter utamanya (Zainuddin, Hayati, dan Aziz) seolah pribadi-pribadi yang benar-benar hidup dan mewakili potret kaum muda pada masa itu ketika mereka berhadapan dengan arus perubahan sementara kakinya berpijak pada adat dan tradisi.

Kepiawaian Hamka dalam menyampaikan kritiknya atas tradisi boleh jadi melanjutkan kesuksesan pendahulunya Marah Rusli dalam roman Siti Nurbaya yang melegenda itu. Keduanya juga sama-sama berkisah tentang adat dan kawin paksa. Dan keduanya berujung kematian tokoh-tokoh utamanya. Bedanya, Siti Nurbaya menimbulkan dampak yang sangat kuat dan melintasi zaman karena ide ceritanya itu sendiri, sementara Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck melahirkan guncangan keras karena kontroversi yang menyertai ide cerita. Siti Nurbaya adalah kisah cinta di atas panggung tradisi. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga kisah cinta yang sama namun sekaligus kisah tentang kesusastraan di pentas pertarungan politik. Belum pernah ada perdebatan yang begitu keras tentang sebuah novel melebihi karya Hamka ini. Novel ini dituduh sebagai plagiat dari novel Majdulin karya Mustofa Lutfi al Manfaluti (sastrawan Mesir), yang merupakan saduran dari novel Sous les Tilleuls (‘Di Bawah Pohon Tilia’) karya Alphonse Karr (sastrawan Prancis).3]

Sebagaimana novel Siti Nurbaya, novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga berkisah tentang cinta yang tak sampai. Tokoh utamanya, Zainuddin, adalah anak dari Pendekar Sutan yang diasingkan ke Cilacap karena membunuh mamaknya dalam sebuah perselisihan harta warisan. Setelah bebas ia pergi ke Makassar dan di kota ini menikah dengan Daeng Habibah. Dari pernikahan inilah lahir Zainuddin. Setelah orangtuanya meninggal, Zainuddin pergi ke Batipuh, Padang Panjang, yang merupakan kampung halaman ayahnya. Sayangnya, di sana ia tidak diperlakukan dengan baik karena dianggap bukan anak Minang. Maklum walaupun ayahnya seorang Minang, ibunya orang Bugis sehingga putuslah pertalian darah menurut garis matrilinear yang bernasabkan kepada ibu.

Sungguhpun begitu Zainuddin menjalin cinta dengan Hayati, gadis Minang yang prihatin terhadap nasibnya dan sering mencurahkan kesedihan hatinya kepada Hayati. Sebagai gadis keturunan bangsawan, tentu saja keluarga Hayati mencegahnya berhubungan dengan Zainuddin yang bukan orang Minang dan tidak jelas pula masa depannya. Keluarga Hayati memilih Aziz yang asli Minang dan berasal dari keluarga terpandang. Hayati harus tunduk pada kesepakatan keluarga, walaupun hatinya condong pada Zainuddin.

Zainuddin menganggap Hayati telah berkhianat. Akhirnya dengan membawa perasaan luka ia pergi ke Jakarta, kemudian pindah ke Surabaya. Sementara itu Hayati dan Aziz yang telah menikah juga pergi ke Surabaya dan tinggal di sini karena alasan pekerjaan. Tanpa sengaja, dalam suatu acara keduanya bertemu dengan Zainuddin yang telah menjadi orang sukses. Sedangkan kehidupan ekonomi Aziz dan Hayati semakin lama semakin memburuk. Aziz jatuh miskin sampai-sampai ia dan istrinya harus menumpang di rumah Zainuddin. Tak tahan menahan penderitaan, Aziz akhirnya bunuh diri dan sebelumnya meninggalkan pesan agar Zainuddin menjaga Hayati.

Zainuddin yang pernah dikhianati merasa sulit untuk menerima kembali Hayati. Perasaan cinta yang masih menyala dicoba untuk dipadamkan. Bahkan ia meminta Hayati untuk kembali ke kampung halaman di Batipuh, walaupun wanita itu merajuknya: “Tidak Hayati ! kau mesti pulang kembali ke Padang! Biarkan saya dalam keadaan begini. Pulanglah ke Minangkabau! Janganlah hendak ditumpang hidup saya , orang tak tentu asal ….Negeri Minangkabau beradat !…..Besok hari senin, ada Kapal berangkat dari Surabaya ke Tanjung Periuk, akan terus ke Padang! Kau boleh menumpang dengan kapal itu, ke kampungmu”. (hal. 198)

Hayati pun pulang dengan menumpang kapal Van Der Wijck. Namun nasib malang menimpanya. Kapal yang ditumpanginya tenggelam di Laut Jawa. Zainuddin yang mendengar berita itu langsung menuju rumah sakit di Tuban. Sayang nyawa Hayati tidak dapat diselamatkan. Sejak peristiwa itu Zainuddin sering mengalami sakit sampai akhirnya meninggal dan dimakamkan di samping pusara Hayati.

Ujung cerita tragis tampaknya menjadi pilihan untuk menyampaikan pesan bahwa cinta yang merupakan pangkal kebahagiaan seseorang sering dikorbankan demi martabat keluarga atau keturunan. Novel ini ditulis sebagai kritik terhadap beberapa tradisi dalam adat Minang saat itu yang tidak sesuai dengan dasar-dasar Islam ataupun akal budi yang sehat.4] Penulisnya sangat berwenang melakukan itu karena ia hidup dalam kumparan masa tersebut. Sehingga ia bukan hanya merekam sejarah, melainkan juga sang pelaku yang fasih dengan kultur masyarakat Minang dan perubahannya pada zaman itu.5]

Sejak awal novel ini diterbitkan berpindah dari satu penerbit ke penerbit lain. Mula-mula penerbit swasta, kemudian mulai tahun 1951 oleh Balai Pustaka. Lalu pada tahun 1961 oleh Penerbit Nusantara. Hingga tahun 1962 novel ini telah dicetak lebih dari 80 ribu eksemplar. Setelah itu penerbitannya diambilalih oleh Bulan Bintang.6] Tidak hanya di Indonesia, Van Der Wijck juga berkali-kali dicetak di Malaysia. Hingga kini novel ini terus dicetak, bahkan tahun ini (2013) novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini sedang dibuat film layar lebarnya.

Tenggelam3

Reaksi negatif dari sejumlah pembaca Muslim telah muncul saat pertama novel ini diterbitkan. Mereka menolak membacanya dan mengatakan bahwa seorang ulama tidak sepatutnya mengarang cerita tentang percintaan. Dalam sebuah tulisan di Pedoman Masyarakat No. 4 1938, Hamka seolah membela diri menyatakan bahwa tidak sedikit roman yang berpengaruh positif terhadap pembacanya seperti roman tahun 1920-an dan 1930-an yang mengupas adat kolot, pergaulan bebas, kawin paksa, poligami, dan bahaya pembedaan kelas.7]

Tidak berhenti di situ, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menghadapi batu sandungan lebih keras pada 1962, yakni 24 tahun sejak pertama diterbitkan. Seorang penulis bernama Abdullah SP membuat esai berjudul “Aku Mendakwa Hamka Plagiat” yang dimuat di Harian Bintang Timur 7 September 1962. Dalam esai itu ia menilai bahwa Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ialah hasil jiplakan dari novel Magdalena karya sastrawan Mesir Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi yang juga hasil saduran dari novel Sous les Tilleuls karya pengarang Prancis, Alphonse Karr.

Untuk membuktikan tuduhannya Abdullah SP membuat perbandingan dengan metode “idea-script” dan “idea-sketch” yang menjajarkan dua novel itu secara detail dalam bentuk tabel perbandingan. Metode perbandingan semacam ini baru pertama dilakukan sepanjang sejarah sastra Indonesia. Dan dari hasil perbandingan itu Abdullah SP menemukan banyak kemiripan, sehingga ia menuduh Hamka sebagai plagiator. Karuan saja tuduhan itu memicu polemik, lebih-lebih serangan terhadap Hamka tidak berhenti pada esai tersebut melainkan berlanjut dengan dibuatnya kolom khusus di Harian Bintang Timur yang berjudul “Varia Hamka” dalam lembaran kebudayaan Lentera yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer.

Plagiat

Kasus ini terus bergulir menjadi polemik lantaran muncul pada era pertentangan ideologi yang cukup keras antara kubu seniman kiri Lekra versus kubu Manifes Kebudayaan. Para sastrawan Manifes Kebudayaan membela Hamka dari tuduhan para seniman Lekra. Kedudukan Hamka sebagai anggota Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), partai yang dilarang oleh Presiden Soekarno pada Agustus 1960, memperkeras polemik dan membawanya ke ranah politik—bukan semata polemik sastra. Lekra banyak menentang agama. Oleh sebab itu, Hamka yang merupakan ulama dianggap sebagai salah satu target penting.8] Kubu Abdullah SP (yang konon adalah nama samaran dari Pramoedya Ananta Toer sendiri) berhadapan dengan kubu HB Jassin bersama para sastrawan yang ikut membela Hamka yakni Anas Makruf, Ali Audah, Wiratmo Soekito, Asrul Sani, Rusjdi, Umar Junus, Soewardi Idris, dan lain-lain.

Serangan terhadap Hamka berlangsung berbulan-bulan “dengan bahasa yang sangat kasar dan tak layak sama sekali dimuat dalam ruang kebudayaan Lentera dan telah menjadi fitnah terhadap pribadi dan keluarga sastrawan tersebut.”9] Dalam sebuah pembelaannya terhadap Hamka, HB Jassin menulis bahwa Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bukanlah karya plagiat. Menurutnya, yang disebut plagiat adalah pengambilan karangan orang lain sebagian atau seluruhnya dan membubuhkan nama sendiri seolah-olah kepunyaannya. Di samping plagiat, ada saduran, yaitu karangan yang jalan ceritanya dan bahan-bahannya diambil dari suatu karangan lain, misalnya cerita luar negeri disesuaikan dengan alam sendiri (Indonesia) dengan mengubah nama-nama dan suasananya. Saduran itu pun harus disebutkan nama pengarang aslinya. Selain “plagiat” dan “saduran”, ada juga “pengaruh”, yakni hasil ciptaan pengarang sendiri mendapat pengaruh pikiran atau filsafat pengarang lain, baik disengaja maupun tidak.

Jassin

Menurut HB Jassin dalam pengantar buku Manfaluthi yang kemudian diterjemahkan menjadi Magdalena (1963), memang antara dua novel itu terdapat ada kemiripan plot, pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang mengingatkan kepada Magdalena, tetapi ada pengungkapan sendiri, pengalaman sendiri, permasalahan sendiri. Sekiranya ada niat pada Hamka untuk menyadur Magdalena Manfaluthi, lanjutnya, maka kepandaian Hamka melukiskan lingkungan masyarakat dan menggambarkan alam serta manusianya, kemahirannya melukiskan seluk-beluk adat istiadat serta keahliannya membentangkan latar belakang sejarah masyarakat Islam di Minangkabau, mengangkat ceritanya itu jadi ciptaan Hamka sendiri.

Atas dasar itu, Jassin berpandangan bahwa karya Hamka bukan plagiat atau jiplakan, karena Hamka tidak hanya menerjemahkan dan membubuhkan nama sendiri dalam terjemahan itu, melainkan ia menciptakan karya dengan seluruh kepribadiannya. Karena itu, “terlalu gegabah untuk menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di Senen.”

Bagaimana sikap Hamka sendiri atas kasus yang menimpanya. Dalam majalah Gema Islam (1962) ia menulis: “Tjatji maki dan sumpah-serapah terhadap diri saja dengan mengemukakan tuduhan bahwa buku Tenggelamnja Kapal Van der Wijck jang saja karang 24 tahun jang lalu, adalah sebuah plagiat, atau djiplakan, atau hasil tjurian atau sebuah skandal besar, tidaklah akan dapat mentjapai maksud mereka untuk mendjatuhkan dan menghantjurkan saja. Dengan memaki-maki dan menjerang demikian persoalan belumlah selesai.”

Hamka akhirnya memang lebih banyak bersikap pasif. Ia menyatakan bahwa kalau ada orang yang menunggu-nunggu dirinya membalas segala serangan dan hinaan itu, maka mereka akan lelah menunggu karena ia tidak akan membalas. Yang ia tunggu, ujarnya, adalah terbentuknya satu Panitia Kesusastraan yang bersifat ilmiah, yang apabila Panitia tersebut memandang perlu untuk menanyainya, maka ia akan bersedia memberikan keterangan.

Pada tanggal 19 November 1962, Bintang Timur memuat pernyataan bahwa redaksi menerima larangan dari Peperda (Penguasa Perang Daerah) agar persoalan Hamka tidak dimuat lagi di lembar kebudayaan Lentera. Namun pro-kontra kasus itu sudah terlanjur membesar sehingga larangan dari Peperda itu seolah dianggap sepi. Polemik terus bergulir selama kurang lebih 3 tahun, sampai terjadinya peristiwa yang disebut G30S/PKI 1965 yang benar-benar mengubur kasus tersebut.

Sisi lain yang menarik dari karya Hamka ialah pelabelan sastra Islam padahal tidak satu pun ada petuah agama yang terkandung di dalamnya (secara eksplisit). Baik di dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck maupun karya lainnya yang terkenal seperti Di Bawah Lindungah Kabah dan Merantau Ke Deli, sastrawan kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, ini sangat piawai menyisipkan nilai-nilai keislaman secara implisit.

Merantau

Hal ini berbeda dengan para penulis karya islami yang banyak bermunculan akhir-akhir ini yang sangat gamblang menggunakan simbol-simbol Islam, bahkan mengutip ayat-ayat Quran atau hadis, sehingga karya novel hampir menyerupai kitab fikih. Pada Hamka, penyebutan kata Islam bisa dihitung dengan jari, alih-alih mengutip Quran. Hal ini menarik perhatian kritikus sastra Jakob Soemardjo. Ia menilai bahwa Hamka lebih mengutamakan substansi keislaman ketimbang pemaparan tentang hukum-hukum Islam secara eksplisit. “Hamka memasukkan nilai-nilai agama secara universal, sehingga umat di luar Islam juga tertarik untuk menikmatinya,” kata Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung itu.10]

Mungkin karena sifatnya yang tidak verbalistik itulah maka karya-karya Hamka menjadi abadi. Sampai wafatnya pada 24 Juli 1981, Hamka akan terus dikenang sebagai pengarang yang berdedikasi pada kesusastraan di tanah air. Kabar terakhir yang menggembirakan ialah bahwa selain akan difilmkan, novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck juga sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan akan diterbitkan di Mesir. Buku Hamka ini merupakan langkah awal penerjemahan buku-buku Indonesia ke dalam bahasa Arab.11]

Catatan
1. Sebagaimana dituturkan kolega Hamka yang juga wartawan dan penulis terkenal, M. Yunan Nasution, lihat: http://buyahamka.org/ mengenang-sastrawan-besar-hamka/

2. “Hamka Menggebrak Tradisi”, Tempo, 19 Mei 2008

3. Polemik mengenai kasus ini telah didokumentasikan, di antaranya dalam buku: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dalam Polemik, editor Junus Amir Hamzah dengan bantuan penuh HB Jassin (Jakarta: Mega Book Store, 1963); Aku Mendakwa Hamka Plagiat! Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 oleh Muhidin M Dahlan (Yogyakarta: ScriPtaManent dan Merakesumba, 2011)

4. HB Jassin, Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei I (Jakarta: Gramedia, 1985), hal. 63

5. “Hamka Menggebrak Tradisi”, Tempo, 19 Mei 2008

6. Maman S. Mahayana, Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2007), hal. 168

7. “Hamka Menggebrak Tradisi”, Tempo, 19 Mei 2008

8. Maman S Mahayana, Oyon Sofyan, dan Ahmad Dian, Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern (Jakarta: Grasindo, 1995), hal. 78–79

9. DS Moeljanto dan Taufiq Ismail, Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk (Jakarta: Mizan, 1995), hal. 40, catatan kaki no. 1

10. “Berdakwah Tanpa Mengajari”, Jurnal Nasional, 31 Agustus 2008

11. http://www.antaranews.com/berita/334814/novel-tenggelamnya-kapal-van-der-wijch-menyapa-pembaca-arab diakses pada 14 Juni 2013

___________________________________________________________________

Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck saya masukkan ke dalam buku saya yang terbaru: 21 Karya Puncak Sastra Indonesia (1920-2012) yang sedang dalam proses terbit. Kata Pengantar ditulis oleh budayawan, sastrawan, dan penyair senior Leon Agusta. (Ahmad Gaus)
___________________________________________________________________

Mengapa Orang Saleh Masuk Neraka? Tentang “Robohnya Surau Kami”

film aa navis

Rumah Produksi Rupa Kata Cinema tahun ini akan memproduksi film “Robohnya Surau Kami”, yang diangkat dari cerpen legendaris karya sastrawan Minang, AA Navis. Seberapa menarik karya cerpen tersebut? Berikut catatan iseng saya:

ROROHNYA SURAU KAMI

Mengapa cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis yang terbit tahun 1955 masih terus dibaca orang hingga sekarang? Sebenarnya bukan hanya dibaca tapi juga dikagumi dan dipuji sebagai salah satu karya sastra terbaik dalam genre cerpen di negeri ini. Banyak jawaban bisa diberikan. Salah satunya adalah, ia merupakan hasil eksplorasi estetik penulisnya terhadap latar budaya yang melahirkan dan membesarkannya. Dengan begitu karya sastra memiliki akar pada kultur penulisnya (dalam hal ini kultur Minang).[1] Selain itu, cerpen ini juga menjadi fenomenal karena keberaniannya mengangkat tema yang secara kritis menyinggung kepicikan penganut agama.[2] Tema kritis semacam ini memang muncul juga kelak pada Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin. Namun kritisisme dan nilai estetika pada kedua cerpen ini tetap bisa dibedakan.

Robohnya Surau Kami membuktikan bahwa karya sastra yang baik tidak harus selalu dikaitkan dengan pengaruh sastra Barat. Di tengah derasnya pengaruh asing pada budaya baca-tulis di tanah air tahun 1950-an, cerpen justru semakin mengokohkan keberadaannya dengan mengangkat kultur etnis. Di masa sesudah perang, cerpen menempati kedudukan yang utama dalam kesusastraan Indonesia, ditandai dengan kenyataan bahwa hampir semua majalah membuka rubrik cerpen, dan banyaknya antologi cerpen yang terbit pada masa ini.[3] Tentu tidak semuanya merupakan karya sastra, atau harus dikaitkan dengan sastra. Namun, para sastrawan mulai menaruh perhatian pada cerpen lebih dari masa-masa sebelumnya yang melulu pada puisi dan novel/roman. Karya-karya sastra dalam genre cerpen pun bermunculan, dan Robohnya Surau Kami merupakan salah satu puncaknya.

Cerpen Robohnya Surau Kami kembali diterbitkan pada tahun 1986 bersama dengan 9 (sembilan) cerpen lainnya karya AA Navis.[4] Karena Robohnya Surau Kami dianggap sebagai masterpiece maka ia dijadikan judul buku. Sebagaimana judulnya, surau (mushalla di daerah Minang) menjadi latar utama dalam cerpen ini, dengan tokoh utama sang Kakek yang menjadi penjaga surau. Sang Kakek menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk beribadah dan mengabdikan diri di surau. Ia memiliki keluarga tapi lebih mementingkan Tuhan. Ibadah lebih penting daripada mencari nafkah. Sedangkan untuk kehidupan sehari-harinya ia memperoleh dari sedekah orang-orang kampung.

robohnya-surau-kami1

Sang kakek juga dikenal memiliki keahlian mengasah pisau. Dan untuk itu ia sering diminta bantuan oleh warga kampung. Ia tidak meminta bayaran untuk pekerjaan tersebut, tapi menerima pemberian apa saja sebagai pengganti jasanya. Suatu hari datang Ajo Sidi yang meminta tolong agar pisaunya diasahkan. Ajo Sidi ini dikenal sebagai orang yang pandai bercerita. Ia pun menuturkan cerita kepada Sang Kakek tentang Haji Saleh, seorang alim yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah. Namun, setelah meninggal dunia, Haji Saleh justru dimasukan ke dalam neraka bersama orang-orang saleh lainnya. Mereka pun lalu protes kepada Tuhan, mengira Tuhan khilaf atau salah mengambil keputusan.

Tuhan bertanya apa yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Mereka menjawab bahwa selama hidup di dunia waktunya dihabiskan untuk beribadah, bahkan sampai melupakan keluarga semata-mata demi menyembah Tuhan. Bahkan di antara mereka ada yang sudah naik haji berkali-kali, dan bergelar syeikh. Lalu Tuhan menjawab: “… kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.”

Mereka tercengang mendengar jawaban itu. Lalu Haji Saleh bertanya kepada malaikat yang menggiring mereka, “Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’

“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun.”

Sang Kakek merasa tertekan oleh cerita Ajo Sidi tersebut. Ia merasa dirinyalah haji Saleh dalam cerita itu. Ia pun terus merenung dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur. Mendengar kakek penjaga surau meninggal dunia, warga kampung segera mengurus jenazahnya dan mengantarkannya ke pemakaman. Hanya Ajo Sidi yang tidak terlihat. Ternyata hari itu ia tetap pergi bekerja, dan sebelum berangkat ia hanya berpesan kepada istrinya agar membelikan kain kafan tujuh lapis untuk mengafani jenazah kakek penjaga surau.

Sepeninggal sang kakek, surau yang dulu teduh dan nyaman itu tidak terawat lagi. Anak-anak kerap bermain di tempat yang nyaris tak terlihat lagi seperti surau itu. Bahkan, bilik dan lantai kayu surau itu dijadikan sebagai persediaan kayu bakar bagi warga kampung.

Dari segi tema, cerpen ini memang bukan satu-satunya yang mengangkat isu agama dan menyelipkan kritik pedas terhadap fenomena kehidupan beragama dalam masyarakat saat itu. Sastrawan lain, seperti Ramadhan KH, menulis cerpen Antara Kepercayaan, yang mengeritik gejala intoleransi di antara umat Islam dan Kristen.[5] Bahkan WS Rendra juga menulis cerpen senada berjudul Mungkin Parmo Kemasukan Setan yang mengeritik disiplin ketat yang diterapkan dalam asrama yang dikelola pastor katolik. Parmo yang tinggal di asrama itu suatu saat berlibur di rumah orang tuanya melampiaskan keterkungkungannya dengan tindakan semua gue.[6]

robohnya-surau-kamiAAnavis

Selain Robohnya Surau Kami, buku karya AA Navis ini memuat 9 cerpen lain: Anak Kebanggaan, Angin dari Gunung, Dari Masa ke Masa, Datangnya dan Perginya, Menanti Kelahiran, Nasihat-Nasihat, Penolong, Topi Helm, dan Pada Pembotakan Terakhir. Semua cerpen itu ditulis dalam semangat yang sama sebagai kritik sosial. Karena itu di dalamnya penuh dengan sindiran-sindiran satir atas fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Membaca antologi Robohnya Surau Kami sekali lagi kita diingatkan bahwa karya sastra memang tidak bisa dipisahkan dari denyut nadi kehidupan masyarakat tempat karya itu dilahirkan. Kreativitas bersastra adalah hasil penjelajahan atas realitas sosial di lingkungan penulisnya.

AA Navis atau nama panjangnya Ali Akbar Navis yang lahir di Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 17 November 1924, sangat piawai menggali ide-ide cerita dari lingkungan budaya yang sangat dikenalinya, sehingga karya yang dihasilkannya memiliki akar pada kultur penulisnya. Di situlah terletak kekuatan antologi Robohnya Surau Kami. Selain antologi ini, AA Navis juga menghasilkan karya-karya lain: Bianglala: Kumpulan Cerita Pendek (1963), Kemarau: Sebuah Novel (1967), Saraswati: Si Gadis dalam Sunyi: sebuah novel (1970), Dermaga dengan Empat Sekoci: Kumpulan Puisi (1975), Bertanya Kerbau Pada Pedati: Kumpulan Cerpen (2002), Gerhana: Novel (2004), dan lain-lain sekitar 65 karya sastra, 22 buku antologi bersama sastrawan dari dalam dan luar negeri, serta 106 karya ilmiah.

aanaviskaryadandunianya_21185

Pengamat sastra A. Teeuw menilai bahwa A.A. Navis sebenarnya bukan seorang pengarang besar, melainkan seorang pengarang yang menyuarakan suara Sumatera di tengah konsep Jawa (pengarang Jawa) sehingga ia layak disebut sebagai pengarang “Angkatan Terbaru”.[7] Maklum pada masa itu dominasi pengarang Sumatera mulai memudar bersamaan dengan munculnya para pengarang baru yang berasal dari Jawa atau Sunda.[8] Penilaian A. Teeuw benar, tapi harus diberi catatan bahwa, khususnya Robohnya Surau Kami, memang berlatar budaya etnik Sumatera (dhi Minang), namun suara yang terdengar keras adalah persoalan praktek keagamaan (Islam) dan lingkungan alam Indonesia. Perhatikan ucapan ini: “Aku beri kau negeri Indonesia yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh….”

Pada umumnya orang hanya tahu bahwa Robohnya Surau Kami meraih hadiah lomba cerpen dari majalah Kisah pada tahun 1955. Jarang yang tahu bahwa hadiah tersebut adalah hadiah kedua, sedangkan pemenang hadiah pertama ialah cerpen Kejantanan di Sumbing karya Subagio Sastrowardoyo.[9] Yang menarik, sebagaimana dikemukakan oleh sastrawan Abrar Yusra, Robohnya Surau Kami justru lebih terkenal daripada cerpen Kejantanan di Sumbing yang mendapat hadiah pertama.[10]

Catatan
1. Damhuri Muhammad, Darah-Daging Sastra Indonesia (Yogyakarta: Jalasutra, 2010), hal. 5

2. Maman S. Mahayana, Akar Melayu: Sistem Sastra & Konflik Ideologi di Indonesia & Malaysia (Magelang: Indonesia Tera, 2001), hal. 102

3. Maman S. Mahayana, ibid., hal. 103

4. AA Navis, Robohnya Surau Kami (Jakarta: Gramedia, 1986).

5. Dimuat di Majalah Prosa, 1955, diterbitkan kembali dalam Satyagraha Hoerip, ed., Ceritera Pendek Indonesia, I (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Dep. P dan K, 1979), hal. 234-45

6. Maman S. Mahayana, ibid., hal.102

7. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/tokoh/753/A.A.Navis

8. Maman S Mahayan, Akar Melayu, op.cit., hal. 100

9. Korrie Layun Rampan, Leksikon Susastra Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2000), hal. 3 dan 447

10. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/tokoh/753/A.A.Navis

—————————————————————————————————-
PELATIHAN MENULIS Bersama AHMAD GAUS
—————————————————————————————————-

Menulis itu menyenangkan. Banyak orang menemukan kembali gairah hidupnya setelah diperkenalkan dengan dunia tulis-menulis, sebab di dalam aktivitas itu ada energi gerak yang memutar baling-baling kehidupan menuju dunia tanpa batas: dunia imajinasi. Jika anda muak dengan realitas di sekeliling anda, ciptakanlah realitas lain yang menyenangkan di dunia imajinasi. Semakin banyak orang yang dapat anda bawa masuk ke dunia imajinasi anda, semakin besar kemungkinan imajinasi itu menjadi kenyataan. Bukankah sebelum menjadi tanah air yang riil, Indonesia ialah negeri yang diimajinasikan (imagined community, kata Ben Anderson) oleh penyair Muhammad Yamin, dll? Begitu juga Amerika Serikat yang pada mulanya dibentuk oleh imajinasi dalam Pocahontas, Rip van Winkle, dll.

Menulis itu menyenangkan. Ratusan orang telah membuktikannya dalam berbagai pelatihan menulis yang saya pandu. Saya memberi pelatihan menulis gratis di berbagai pesantren dan sekolah.

Suasana Pelatihan Menulis di Ponpes Daar al-Huda Curug Tangerang

Pelatihan Menulis di Ponpes Daar el Huda, Curug, Tangerang

asss

Pelatihan Menulis di Ponpes as-Sa’adah, Pasir Manggu, Cikeusal, Serang

GoodWriter

Wiji Thukul, Penyair Pemberontak

“Aku Ingin Jadi Peluru”

Wiji Thukul2

Peringatan

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

– Wiji Thukul, Solo, 1986 –

Puisi-puisi Wiji Thukul yang dimuat dalam antologi Aku Ingin Jadi Peluru,1) membuktikan bahwa puisi mampu menjadi saksi atas sebuah zaman. Kata-katanya bagaikan bidikan kamera yang mengabadikan setiap momen yang dilihat dan dirasakan untuk dituangkan dalam puisi. Pada Wiji Thukul, momen puitik ialah seluruh hidupnya di sebuah masa yang penuh gejolak dan ketidakpastian. Kehidupannya yang sulit sebagai orang pinggiran tak pernah lelah ia bela. Namun apa lacur, ia harus berhadapan dengan tembok-tembok kekuasaan yang membuatnya tetap terpinggirkan. Dan ia sadar tidak sendirian. Lingkungan terdekatnya sendiri semuanya orang melarat. Bapaknya tukang becak, istrinya buruh jahit, mertuanya pedagang barang rongsokan, tetangga dan teman-temannya adalah buruh pabrik yang dibayar murah, dan jutaan orang lain yang bernasib sama dengan mereka.

Itulah momen-momen puitik penyair Wiji Thukul. Hidupnya sama sekali tidak indah. Realitas yang disaksikan di sekelilingnya juga tidak indah. Begitu juga wajah kekuasaan yang sewenang-wenang dan menindas orang-orang pinggiran. Ia terlibat dan menyelami penderitaan orang kecil lalu menyuarakannya dengan lantang. Itulah sebabnya kita tidak akan menemukan kata-kata mendayu-dayu dalam puisi-puisi Wiji Thukul. Kata-katanya sangat lugas, bahkan jika dibandingkan dengan puisi-puisi pamplet WS Rendra yang kerap masih menggunakan metafor. Bahkan Wiji Thukul dengan sadar menghindari metafor karena menganggapnya tidak perlu. Dalam sebuah puisi yang ditujukan kepada sahabatnya Prof. Dr. W.F. Wertheim (sosiolog Belanda, ahli Asia Tenggara) yang berjudul “Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan?” ia menulis:

Waktu aku jadi buronan politik
karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik
namaku diumumkan di koran-koran
rumahku digrebek –biniku diteror
dipanggil Koramil diinterogasi diintimidasi
(anakku –4 th– melihatnya!)
masihkah kau membutuhkan perumpamaan
untuk mengatakan: AKU TIDAK MERDEKA

Puisi itu ditulis ketika ia menjadi aktivis yang paling dicari oleh rezim Orde Baru. Ada banyak cerita di balik itu. Majalah Tempo edisi 13-19 Mei 2013 membuat edisi khusus mengenang tragedi 1998 yang menulis laporan utama Teka-Teki Wiji Thukul. Pada sampul depan tertulis pertanyaan: Siapa yang telah menghabisinya? Pertanyaan itu hingga sekarang tidak (belum) terjawab. Sejak dinyatakan hilang, tidak ada yang tahu pasti apakah ia masih hidup atau sudah mati. Laporan edisi khusus Tempo itu mencoba mengurai jejak-jejak Wiji Thukul sejak menjadi aktivis hingga saat menjadi buron dan kemudian menghilang. Tempo juga melampirkan suplemen berupa buku kecil yang diberi judul “Para Jendral Marah-marah: Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam Pelarian”.

Dalam kata pengantar Tempo disebutkan bahwa buku kecil itu mencoba melengkapi berbagai antologi puisi Thukul yang sudah terbit dan untuk memberi gambaran sekilas macam apa puisi penyair kelahiran Solo, 26 Agustus 1963 itu. Antologi yang dimaksud ialah: Puisi Pelo dan Darman dan Lain-lain (keduanya diterbitkan Taman Budaya Surakarta pada 1984), Mencari Tanah Lapang (Manus Amici, Belanda, 1994), dan Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000).

Antologi yang disebut terakhir boleh dibilang paling lengkap karena memuat 5 kumpulan puisi yang sebelumnya pernah terbit, yaitu Lingkungan Kita Si Mulut Besar (46 puisi), Ketika Rakyat Pergi (16 puisi), Darman dan Lain-lain (16 puisi), Puisi Pelo (29 puisi), dan Baju Loak Sobek Pundaknya (28 puisi). Buku kecil yang dimuat sebagai suplemen Majalah Tempo memang merupakan puisi-puisi Thukul yang belum disiarkan secara luas. Manuskripnya sendiri berupa tulisan tangan berasal dari sahabat Thukul yang pernah menjadi Wakil Ketua Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia, Stanley Adi Prasetya. Thukul memberikan kepadanya sekitar pertengahan Agustus 1996 sebelum menuju pelarian. Baru belakangan Stanley mempublikasikannya dalam tulisan berjudul Puisi Pelarian Wiji Thukul sebagai bagian dari artikelnya di jurnal Dignitas Volume VIII Nomor 1 Tahun 2012, yang diterbitkan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat.

Esai ini tidak merujuk pada kumpulan puisi tersebut, namun wajib menyebutkannya karena menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan Wiji Thukul baik sebagai aktivis maupun penyair yang menjadi korban dari puisi-puisi yang ditulisnya. Bagaimanapun, antologi Aku Ingin Jadi Peluru telah cukup memberi gambaran estetika kepenyairan Thukul, selain merupakan antologi yang paling lengkap, bukan saja dari segi jumlahnya (karena dihimpun dari 5 kumpulan puisinya yang terbit terdahulu) tapi juga dari coraknya yang beragam, tidak melulu tentang pemberontakan.

Orang yang tidak menyukai puisi-puisi abstrak dan rumit dapat memilih Aku Ingin Jadi Peluru sebagai sahabat apresiasi yang cukup menantang. Namun jangan salahkan penulisnya jika setelah membaca itu ia merasa tidak nyaman sebab “bait-baitnya lebih mendatangkan kegelisahan daripada kesenangan.”2) Mungkin karena ia tidak menyuguhkan keindahan imajiner yang meliuk-liuk.

Wiji Thukul

Ada dua hal yang sangat menonjol dalam setiap puisi di sini: bahasanya lugas dan pesannya jelas. Pada umumnya puisi-puisi Thukul bertutur tentang kehidupan orang-orang miskin, terpinggirkan, dan tertindas. Namun, ia memberi kekuatan pada mereka bahwa harapan masih ada kalau mau melawan. Hal itu tampak jelas pada puisi yang dikutip di awal tulisan ini. Juga pada puisi berikut:

Tentang Sebuah Gerakan

tadinya aku pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!

aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?

aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?

1989

Apa artinya jika “aku” diganti dengan “setiap orang”? Ia telah melepaskan kepentingan pribadinya! Tapi ia bukan pahlawan yang ingin membela orang lain. Ia berangkat dari persoalannya sendiri, bahwa ia butuh rumah, butuh pangan yang cukup, butuh pakaian untuk menutupi kemaluannya. Ini kepentingan pribadi. Lalu ia menyadarkan banyak orang lain yang nasibnya sama untuk bangkit menuntut. Sebab pekerjaan besar semacam itu tidak mungkin ia pikul sendiri. Inilah yang menarik dari puisi di atas. Tampak seperti sebuah kalimat prosa. Tapi, bahkan kalau kita susun menjadi paragraf biasa, bukan dalam bentuk puisi yang tersusun ke bawah, kita tetap akan kesulitan menyebutnya karangan prosa. Sebabnya ialah, ia mengunci akhir bait pertama dengan kalimat puisi “ingat: setiap orang!” Kalimat puisi itu lebih hidup lagi pada bait ketiga: aku bukan orang suci/ yang bisa hidup dari sekepal nasi/ dan air sekendi. Bukan hanya maknanya yang terbangun dalam susunan logis, namun ia juga memperhatikan betul rima akhir.

Dalam puisi ini Thukul mengajak orang-orang yang senasib dengannya untuk memikirkan sebuah gerakan yang akan mengubah hidup mereka. Namun ia tidak memaksa orang-orang lain itu, karenanya ajakan itu hanya disampaikan dengan pertanyaan semacam gumam pada diri sendiri: aku berpikir tentang gerakan/ tapi mana mungkin/ kalau diam?

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Thukul (bait 2 dan 4) mengesankan rasa ragu untuk menggeneralisasi nasibnya dengan nasib orang lain. Dalam wawancaranya yang dimuat di bagian akhir buku ini, Wiji Thukul menyatakan: “… saya tidak membela rakyat. Saya sebenarnya membela diri saya sendiri. Saya tidak ingin disebut pahlawan karena berjasa memperjuangkan nasib rakyat kecil. Sungguh saya hanya bicara soal diri saya sendiri. Lihatlah saya tukang pelitur, istri buruh jahit, bapak tukang becak, mertua pedagang barang rongsokan, dan lingkungan saya semuanya melarat. Mereka semua masuk dalam puisi saya. Jadi saya tidak membela siapa pun. Cuma secara kebetulan, dengan membela diri sendiri ternyata juga menyuarakan hak-hak orang lain yang sementara ini entah di mana.”

Terlepas dari pengakuan itu, puisi-puisi Wiji Thukul memang menjadi api yang membakar harapan banyak orang akan sebuah perubahan. Ia bukan hanya menyuarakan pemberontakan namun juga ancaman yang apabila dibaca secara post-factum tampak jelas kebenarannya, seperti dalam puisi berjudul “Bunga dan Tembok” ini:

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!

di dalam keyakinan kami
di mana pun – tiran harus tumbang!

Solo, 87-88


Menurut kesaksian seorang sahabatnya, Moelyono, syair-syair Wiji Thukul mengalami pergeseran dari semula bertemakan cerita kehidupan orang tuanya yang miskin, hidupnya yang serba sulit karena Thukul menikah usia muda, menjadi protes sosial yang menghantam kekuasaan. Kesaksian itu benar belaka. Dan setelah periode itu, puisi-puisinya basah kuyup oleh suara kutukan dan pemberontakan. Dalam Puisi Sikap, misalnya, ia benar-benar menegaskan sikapnya terhadap kekuasaan yang dikecamnya sampai mati: (….) andai benar/ ada kehidupan lagi nanti/ setelah kehidupan ini/ maka aku kuceritakan/ kepada semua makhluk/ bahwa sepanjang umurku dulu/ telah kuletakkan rasa takut itu di tumitku/ dan kuhabiskan hidupku/ untuk menentangmu/ hei penguasa zalim

Puisi itu bertanggal 24 Januari ’97, artinya ditulis pada masa kekuasaan mencapai puncak keangkuhannya sambil mengabaikan suara-suara yang menginginkan perubahan. Puisi yang senada dengan itu misalnya Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa, dimana ia menulis: aku bukan artis pembuat berita/ tapi aku memang selalu/ kabar buruk buat/ penguasa. Masih banyak lagi puisinya yang memekakan telinga para penguasa: Catatan, Tong Potong Roti, Tentang Sebuah Gerakan, Bunga dan Tembok, Peringatan, Sajak Suara, dan lain-lain.

Puisi-puisi Wiji Thukul kerap dianggap menyalahi unsur estetika dalam sastra, tidak puitis, bahasanya vulgar dan menghantam. Namun, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Wahyu Muryadi, ketika ditanya alasan majalahnya mengangkat laporan khusus mengenai Wiji Thukul, menyatakan justru dengan bahasa seperti itu puisi-puisi Wiji Thukul sangat menakutkan penguasa. Ia membongkar kejahatan yang selama ini disembunyikan. Budayawan Mudji Sutrisno menyebut bahwa puisi bagi Wiji Thukul ialah senjata. Aktivis Fadjroel Rachman mengemukakan hal senada. Di tangan Wiji Thukul, ujarnya, puisi menjadi suara rakyat tertindas yang lantang menentang kezaliman penguasa, karena Thukul menjadi bagian dari rakyat tertindas itu sendiri. Thukul adalah rakyat yang bersuara melalui media puisi. Tidak peduli ia akan disebut penyair atau bukan. Hal ini berbeda dengan Chairil Anwar yang menyatakan: yang bukan penyair tidak ambil bagian.3)

Sebelum dikenal sebagai penyair pemberontak dengan bahasa yang lugas dan keras, Wiji Thukul menulis puisi-puisi bernada lirih yang berkisah tentang kehidupan pribadinya, keluarganya, lingkungannya, dan tentang Tuhan. Puisi-puisi dalam kategori ini cukup banyak: Baju Loak Sobek Pundaknya, Sajak Ibu, Tujuan Kita Satu Ibu, Hujan, Dalam Kamar 6 x 7 Meter, Gentong Kosong, Apa yang Berharga dari Puisiku, Catatan Hari Ini, Catatan Suram, Darman, Gumam Sehari-hari, Kota ini Milik Kalian, Sajak Tiga Bait, dan lain-lain.

Dalam sebuah puisi yang judulnya cukup panjang, “Aku Dilahirkan di Sebuah Pesta yang Tak Pernah Selesai”, Wiji Thukul menulis: … selalu saja ada yang datang dan pergi hingga hari ini// ada bunga putih dan ungu dekat jendela di mana/ mereka dapat memandang dan merasakan/ kesedihan dan kebahagiaan/ tak ada menjadi miliknya// Tuhanku aku terluka dalam keindahan-Mu. Larik terakhir itu mengingatkan kita pada larik puisi Doa dari Chairil Anwar: Tuhanku aku hilang bentuk-remuk. Sama-sama bersimpuh di hadapan Tuhan, namun Chairil tampak berusaha untuk menyatu dan pasrah total, sementara Wiji Thukul tidak menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan Tuhan, semacam pemberontakan juga namun dengan cara yang lembut.

Tak pelak lagi, Wiji Thukul adalah “binatang jalang” yang lain di masa yang berbeda dengan Chairil Anwar. Ia bahkan telah mengorbankan hidupnya untuk sebuah perjuangan berdarah-darah demi perubahan hidup bangsanya. Dan ia percaya bahwa “suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan: engkau harus hancur!/ di dalam keyakinan kami di mana pun – tiran harus tumbang!” (Bunga dan Tembok).

Dan sebagaimana kata-kata dalam puisi Chairil Anwar yang sering dikutip, kata-kata Wiji Thukul pun telah menjadi slogan yang sangat terkenal dan diteriakkan dalam aksi-aksi demonstrasi menentang kelaliman. Di bawah ini adalah beberapa kutipan dari puisi Wiji Thukul:

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan, apabila engkau memaksa diam, aku siapkan untukmu pemberontakan!!! (Sajak Suara)

Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat, dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran pasti terancam. (Peringatan)

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: lawan! (Peringatan)

Sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu, ia ingin bicara mengapa kau kokang senjata dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan? (Sajak suara)

Jika kami bunga engkau adalah tembok, tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji suatu saat kami akan tumbuh bersamad dengan keyakinan: engkau harus hancur! dalam keyakinan kami di manapun – tirani harus tumbang! (Bunga dan tembok)

Mogoklah maka kau akan melihat dunia mereka jembatan ke dunia baru dunia baru ya dunia baru. (Bukan Kata Baru)

Kami satu: buruh kami punya tenaga jika kami satu hati kami tahu mesin berhenti sebab kami adalah nyawa yang menggerakkannya. (Makin Terang Bagi Kami)

Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli, apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu. (Satu Mimpi Satu Barisan)

. . . sajakku adalah kebisuan yang sudah kuhancurkan sehingga aku bisa mengucapkan dan engkau mendengarkan, sajakku melawan kebisuan. (Satu Mimpi Satu Barisan)

Jika tak ada mesin ketik aku akan menulis dengan tangan, jika tak ada tinta hitam aku akan menulis dengan arang, jika tak ada kertas aku akan menulis pada dinding, jika menulis dilarang aku akan menulis dengan tetes darah! (Penyair)

Aku berpikir tentang gerakan tapi mana mungkin kalau diam? (Tentang Sebuah Gerakan)

Aku menulis aku penulis terus menulis sekalipun teror mengepung. (Puisi Di Kamar)

Penjara sekalipun tak bakal mampu mendidikku jadi patuh. (Puisi Menolak Patuh)

Kita tidak sendirian kita satu jalan, tujuan kita satu ibu: pembebasan! (Tujuan Kita Satu Ibu)

Kausiksa aku sangat keras hingga aku makin mengeras, kaupaksa aku terus menunduk tapi keputusan tambah tegak. (Derita Sudah Naik Seleher)

Aku bukan artis pembuat berita tapi memang aku selalu kabar buruk buat para penguasa. (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Puisiku bukan puisi tapi kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan. Ia tak mati-mati meski bola mataku diganti. Ia tak mati-mati meski bercerai dengan rumah. Ia tak mati-mati. Telah kubayar apa yang dia minta umur-tenaga-luka. (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Kata-kata itu selalu menagih padaku ia selalu berkata: kau masih hidup! aku memang masih utuh dan kata-kata belum binasa. (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Penyair Goenawan Mohamad menulis bahwa Wiji Thukul tidak bisa dipisahkan dari perubahan politik Indonesia menjelang akhir abad ke-20, ketika demokratisasi bergerak lagi melintasi penindasan, kekerasan, bahkan pembunuhan. Goenawan percaya bahwa Thukul sebenarnya seorang pemenang. Tapi ia pemenang yang tak membawa pialanya ke rumah. Ketika rezim yang dilawannya runtuh, ia hilang. Mungkin ia diculik dan dibunuh seperti beberapa aktivis prodemokrasi lain, tanpa meninggalkan jejak.4)

Bagaimanapun nasib Wiji Thukul saat ini, masih hidup atau sudah mati, puisi-puisinya akan terus dibaca. Sebab setiap karya yang ditulis dengan darah dan airmata, akan terus bergema sepanjang masa. Benar ia hilang tanpa jejak, tapi suaranya melambung ke angkasa, suara yang mewakili rasa sakit kemanusiaan yang direnggut secara paksa.

Catatan

1) Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru, editor: Dorothea Rosa Herliany (Magelang: IndonesiaTera, 2000)

2) Solichan Arif, “Cerita Wiji Thukul si Penyair Hilang”, http://www.koran-sindo.com/node/313947

3) Disarikan dari diskusi “Wiji Thukul: Sebuah Angka Peradaban yang Hilang”, yang disiarkan TVRI pada 27 Mei 2013, dipandu oleh Soegeng Sarjadi.

4) Goenawan Mohamad, “Thukul”, Catatan Pinggir, Tempo, 13-19 Mei 2013

100 Buku Terbaik Karya Anak Bangsa

JANUARI

1. Dari Zaman Citra ke Metafisika; Bunga rampai Telaah Sastra DKJ (Bramantio, dkk., Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia [KPG])
2. Hatta, Hikayat Cinta & Kemerdekaan (Dedi Ahimsa Riyadi, Penerbit Edelweiss)
3. Mengenang Hidup Orang Lain Sejumlah Obituari (Ajip Rosidi, KPG)
4. Penyeret Babi (Inggit Putria Marga, Penerbit Anahata)
5. Sejuta Hati untuk Gusdur; Sebuah Novel dan Memorial ( Damien Dematra, Penerbit Gramedia Pustaka Utama [GPU])
6. Sudesi; Sukses dengan Satu Istri (Arswendo Atmowiloto, GPU)

FEBRUARI
7. (Bukan) Testimoni Susno (IzHarry Agusjaya Moenzir, GPU)
8. Buwun (Mardi Luhung, Pustaka Pujangga)
9. Kumpulan Budak Setan (Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, Ugoran Prasad, GPU)
10. Sepoting Bibir Paling Indah di Dunia (Agus Noor, Penerbit Bentang)
11. Si Anak Kampoeng (Damien Dematra, GPU)
12. Wirausaha Muda Mandiri (Rhenal Kasali, GPU)

MARET

13. Banjir Kanal Timur; Karya Anak Bangsa (Robert Adhi Ksp, Penerbit Grasindo)
14. BUMN Expose, Menguak Pengelolaan Aset Negara Senilai 2.000 Triliyun Lebih (Ishak Rafi Ck & Baso Amir, Penerbit Ufuk Press)
15. Ciuman di Bawah Hujan (Lan Fang , GPU)
16. Darah-Daging Sastra Indonesia (Damhuri Muhammad, Penerbit Jalasutra)
17. DNA SuksesMulia (Farid Poniman, Indrawan Nugroho, Jamil Azzaini, GPU)
18. FIFA Word Cup 2010 (Tony Hendroyono, Penerbit B First)
19. Jejak Batin Jenny Rachman; Kutemukan Ridha-Nya (Alberthiene Endah, GPU)
20. Myelin; Mobilisasi Intangibles menjadi Kekuatan Perubahan (Rhenald Kasali, GPU)
21. NU dan Keindonesiaan (Mohamad Sobary, GPU)
22. Oh My Goodness ; Buku Pintar Seorang Creative Junkies (Yoris Sebastian, GPU)
23. Tempurung (Oka Rusmini, Penerbit Grasindo)
24. Tirai Menurun (NH Dini, GPU)

APRIL

25. Anti Partai (Bima Arya Sugiarto, Penerbit Gramata)
26. Dilarang Gondrong, Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda awal Tahun 1970-an (Aria Wiratma Yudhistira, Penerbit Marjin Kiri)
27. Entrok (Okky Madasari, GPU)
28. Jelajah Musi, Eksotika Sungai di Ujung Senja (Tim Kompas, Penerbit Buku Kompas [PBK])
29. Misteri-misteri Terbesar di Dunia (Tony Hendroyono, Penerbit Buku Katta)
30. Orang Indonesia Tionghoa Mencari Identitas (Aimee Dawis, Ph.D., GPU)
31. Rahasia Selma (Linda Christanty, GPU)
32. Tafsir Kebahagiaan; Pesan AlQur’an Menyikapi Kesulitan Hidup (Jalaluddin Rakhmat, Penerbit Serambi)
33. Trilogi Insiden (Seno Gumira Adjidarma, KPG)

MEI

34. Norman Edwin, Catatan Sahabat Alam (Norman Edwin, KPG)
35. Klop (Putu Wijaya, Penerbit Bentang)
36. Konde Penyair Han (Hanna Fransisca, Penerbit Katakita)
37. Sejumlah Perkutut buat Bapak (Gunawan Maryanto, Penerbit Omahsore)
38. Stanza dan Blues (WS Rendra, Penerbit Bentang Pustaka)
39. Wahai Pemimpin Bangsa!!! Belajar dari Seks Doang!!! (Mariska Lubis, Penerbit Grasindo)

JUNI

40. Mencari Tuhan dan Pertempuran Rahasia (Nugroho Suksmanto & Triyanto Triwikromo , GPU)
41. Ashadi Siregar; Penjaga Akal Sehat dari Kampus Biru (Candra Gautama dkk, KPG)
42. Football Inspirations for Success (Achmad Su’udi, GPU)
43. Memoar Romantika Probosutedjo; Saya dan Mas Harto (Alberthiene Endah, GPU)
44. Menjadi Tjamboek Berdoeri; Memoar Kwee Thian Tjing (Arief W Djati & Ben Anderson, Penerbit Komunitas Bambu)
45. Padang Bulan (Andrea Hirata, Penerbit Bentang Pustaka)
46. Ratusan Anak Bangsa Merusak Satu Bumi (Emil Salim, PBK)
47. Sang Pencerah, Novelisasi Kehidupan K.H. Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhammadiyah (Akmal Nasery Basral, Penerbit Mizan)
48. Tersebab Aku Melayu (Taufik Ikram Jamil, Penerbit Yayasan Pustaka Riau)

JULI

49. Dari Kiai Kampung ke NU Miring (Binhad Nurrohmat, Penerbit Ar-Ruz Media)
50. Dominasi Penuh Muslihat, Akar Kekerasan dan Diskrimnasi (Haryatmoko, GPU)
51. Globucksisasi; Meracik Globalisasi Melalui Secangkir Kopi (Rahayu Kusasi, Penerbit Kepik Ungu)
52. Hotel Prodeo (Remy Sylado, KPG)
53. Keep Your Hand Moving (Anwar Holid, GPU)
54. The Swan (Dewi Ria Utari, GPU)

AGUSTUS

55. Argumen Islam untuk Sekulerisme (Budhy Munawar-Rachman, Penerbit Grasindo)
56. Batavia 1740; Menyisir Jejak Betawi (Windoro Adi, GPU)
57. Opera Van Gontor (Amroeh Adiwijaya, GPU)
58. Pak Beye dan Istananya (Wisnu Nugroho, PBK)
59. Semar Dadi Ratu ; Mengenang Gus Dur Kala Jadi Presiden (Sumanto Al-Qurtuby, Penerbit Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang)
60. Soetanto Effect; Ubah Orang Buangan jadi Rebutan (Ken Kawan Soetanto, Penerbit Bentang)

SEPTEMBER

61. Al Qur;an; Kitab Toleransi (Zuhairi Misrowi, Penerbit Grasindo)
62. Api Islam Nurcholish Madjid (Ahmad Gaus AF, Penerbit Buku Kompas (PBK)
63. Di Balik Bencana-bencana (H Zainal Arifin Thoha, Penerbit Kutub Yogyakarta)
64. Islam dan Hak Asasi Manusia, Konsep dan Implementasi (Prof Musdah Mulia, Penerbit Naufan Pustaka)
65. Mindset Islami (Sugeng Waluyo, GPU)
66. Pak Beye dan Politikya (Wisnu Nugroho, PBK)
67. Penegakan Hukum Progresif (Prof Dr Satjipto Rahardjo SH, Penerbit Buku Kompas (PBK))
68. Potret Siapakah Aku (Protasius Hardono Hadi, Penerbit Kanisius)
69. Tan Malaka, Bapak Republik yang Dilupakan (Tim Seri Buku TEMPO, KPG dan Majalah Tempo)
70. Wajah Konstruksi Indonesia (Hendra N. Soenardji , Irwan Kartiwan , Kamajaya Al Katuuk , GPU)

OKTOBER

71. Antologi Cerpen & Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit (2010)
72. Bulan Celurit Api (Beni Arnas, Penerbit Koekoesan)
73. Demokrasi Substansial : Risalah Kebangkrutan Liberalisme (Donny Gahral Adian, Penerbit Koekoesan)
74. Etika Lingkungan Hidup (A Sonny Keraf, PBK)
75. Jalan Berlubang (Lilimunir Cusworth, Penerbit Kramat Lontar)
76. Menguak Misteri Sejarah (Asvi Warman Adam, PBK)
77. Namaku Mata Hari (Remy Sylado, GPU)
78. Ompung Odong-odong; Membingkai Kenangan, Merangkai Makna (Mula Harahap, Penerbit Galang)
79. Saatnya Baduy Bicara (Asep Kurnia, S.Pd. & Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si., Penerbit Bumi Aksara)
80. Soekarno dan Modernisme Islam (M. Ridwan Lubis, Penerbit Komunitas Bambu)

NOVEMBER

81. Ani Yudhoyono; Kepak Sayap Putri Prajurit (Alberthiene Endah, GPU)
82. Bintang Anak Tuhan (Kirana Kejora, Penerbit Hi-fest Publishing)
83. Buli-buli Lima Kaki (Nirwan Dewanto, GPU)
84. It’s Complicated ; Teman Sharing Ketika Hubungan Menjadi Rumit (Alexandra Dewi, GPU)
85. Jangan Pernah Jadi Malaikat (Christianto Wibisono, GPU)
86. Kisah Istimewa Bung Karno ( Kolumnis dan Wartawan Kompas, PBK)
87. Knowledge and Innovation ; Kekuatan daya Saing (Zuhal, GPU)
88. Melukis Langit (Kit Rose, Penerbit Pensil 324)
89. Mengawini Ibu ( Khrisna Pabichara, Penerbit Kayla Pustaka)
90. Merapi dan Orang Jawa; Persepsi dan Kepercayaannya (Lucas Sasongko Triyoga, Penerbit Grasindo)
91. Pak Beye dan Kerabatnya (Wisnu Nugroho, PBK)
92. SOHO (Imelda Akmal Architectural Writer Studio, GPU)
93. The Miracle Of Writing : Memunculkan Keajaiban Menulis (M Iqbal Dawami, Penerbit Leutika)

DESEMBER

94. Empat Amanat Hujan; Bunga Rampai Puisi Panggung Sastra Komunitas Dewan Kesenian Jakarta (Achi T.M. dkk, KPG dan DKJ)
95. G30S 1965, Perang Dingin & Kehancuran Nasionalisme (Tan Swie Ling, Penerbit Komunitas Bambu)
96. Happy Writing; 50 Kiat Agar Bisa Menulis dengan “Nyasyik” (Andreas Harefa, GPU)
97. Jejak Pemikiran BJ Habibie; Peradaban Teknologi untuk Kemandirian Bangsa (Andi Makmur Makka, Penerbit Mizan)
98. Keliling Indonesia, Dari Era Bung Karno sampai SBY (Gerson Poyk, Penerbit Libri)
99. Membaca Sejarah Nusantara; 25 Kolom Sejarah Gus Dur (Abdurrahman Wahid, Penerbit LKIS)
100. Si Murai dan Orang Gila; Bunga Rampai Cerpen Panggung Sastra Komunitas Dewan Kesenian Jakarta (Akhmad Sekhu, dkk., KPG dan DKJ)

Itulah 100 Buku Terbaik Karya Anak Bangsa Indonesia tahun 2010

Di Poskan Oleh : http://www.armhando.com .

http://www.armhando.com/2012/02/100-buku-terbaik-karya-anak-bangsa.html

Berislam dengan Santun oleh Prof Dr Komaruddin Hidayat/ @komar_hidayat

Timbangan Buku API ISLAM Nurcholish Madjid

Kompas, Rabu, 22 Desember 2010

 

Oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

 

Sosok dan pemikiran Nurcholish Madjid (1939-2005) sulit dihapus dari ingatan intelektual Islam Indonesia kontemporer. Bersama Abdurrahman Wahid, keduanya meletakkan fondasi pemikiran keagamaan dan ke-Indonesia-an yang inklusif dan visioner. Mereka mempertegas integrasi Islam, demokrasi, dan negara kebangsaan baik dalam tataran epistemologis maupun dalam praksis-politik.

Yang sering mengemuka, setiap menyebut Cak Nur, demikian dia disapa, selalu dikaitkan dengan gagasan kontroversialnya, baik dalam bidang politik maupun keagamaan. Sering kali saya mendengarkan kritik dan caci maki terhadap pemikiran Cak Nur tentang keagamaan. Akan tetapi, setelah saya berdialog baik-baik, ternyata pemahamannya sepotong-sepotong. Itu pun disertai prasangka negatif. Kesimpulan saya, Cak Nur memang banyak disalahpahami.

Lewat buku ini, dan sekian banyak buku lainnya yang menghimpun pemikiran Cak Nur, pembaca bisa lebih dingin dan mudah mengapresiasi atau mengkritik karena yang bersangkutan telah tiada. Gagasannya mempunyai kaki dan sayap. Dia akan menjelaskan kepada siapa saja yang dijumpai serta akan membela dirinya sendiri di hadapan penghujatnya.

Paradigma pemikiran

Dalam pengantarnya, Yudi Latif sangat artikulatif menjelaskan gagasan-gagasan besar Cak Nur, terutama tentang paham ”sekularisme”, ”sekularisasi”, dan ”modernisasi” yang menjadi obyek polemik dan sekaligus mengentakkan pemikiran umat pada dekade 80-an dan bahkan sampai sekarang. Sebagai sesama alumni pesantren Gontor Ponorogo yang kemudian meraih doktor ilmu sosial-politik di Australia, Yudi cukup fasih menjelaskan geneologi pemikiran paradigmatik Cak Nur.

Secara akademis-intelektual, ada empat kualitas yang dimiliki Cak Nur, yang jarang dimiliki teman seangkatannya. Pertama, dia menguasai khazanah klasik pemikiran Islam. Dia memiliki perangkat intelektual yang kuat untuk mempelajari apa yang disebut ’kitab kuning’. Kedua, Cak Nur mempelajari teori-teori sosial dan metodologi riset sehingga kritis dalam memahami teks dan konteks sosial-historis sebuah doktrin agama. Ketiga, dia adalah juga seorang aktivis organisasi sosial sehingga pemikirannya selalu mempertimbangkan dampak strategis bagi perubahan sosial. Keempat, Cak Nur adalah penulis yang baik dan produktif sehingga memudahkan bagi mereka yang pro atau kontra untuk melakukan klarifikasi.

Pada dekade 80-an aktivis-intelektual dan intelektual-aktivis yang datang dari dunia pesantren memang masih langka. Cak Nur tampil menonjol sendirian. Kata teman-teman dekatnya, sungkan membantah Cak Nur karena bacaannya paling lengkap dibanding teman seangkatannya. Orangnya santun dan pribadinya bersih. Untuk konteks hari ini, beberapa topik yang dilontarkan Cak Nur waktu itu tidak lagi dianggap kontroversial. Apa yang dulu membuat terkaget-kaget, sekarang sudah banyak yang memahami, menerima dan mendukungnya secara kritis berkat terjadinya mobilitas intelektual anak-anak santri sehingga mampu mengakses kepustakaan Islam klasik ataupun ilmu-ilmu sosial modern. Konsep semacam inklusifisme, pluralisme, sekularisasi, toleransi, demokrasi sekarang merupakan topik seminar di kalangan akademisi yang didekati secara kritis dan serius.

Buku ini memperlihatkan bahwa kekuatan pemikiran Cak Nur terletak pada kemampuannya menggali spirit Islam lalu memformulasikan ke dalam kaidah-kaidah ilmu sosial kontemporer untuk ikut memecahkan masalah yang muncul pada zamannya. Salah satu terobosan yang historis adalah ketika Cak Nur melemparkan gagasan: ”Islam-Yes, Partai Islam-No” untuk melelehkan kebekuan sakralisasi partai Islam yang membuat Islam terkurung atau terpenjara oleh rumah partai yang sempit dan pengab. Padahal, banyak umat Islam yang merasa tidak nyaman untuk bergabung ke partai Islam yang ada waktu itu.

Meski waktu itu Cak Nur dihujat dan dicaci, ternyata apa yang dia gagas memperoleh pembenaran di kemudian hari. Bahkan, PKS dan PAN yang jelas-jelas semula mengusung ideologi ke-Islam-an, sekarang menyatakan diri sebagai partai terbuka. Jadi, untuk membaca pikiran Cak Nur mesti meli- hat teks, konteks dan argumentasinya.

Sisi pribadi

Dalam buku setebal 382 halaman ini Gaus berusaha menggambarkan sosok Cak Nur apa adanya. Kekaguman penulis pada sang tokoh tidak membuatnya terjatuh pada subyektivitas yang berlebihan. Bahkan, dalam beberapa bagian kritik terhadap Cak Nur juga ditampilkan.

Meski masih banyak bagian- bagian penting dari penggalan hidup dan pemikiran Cak Nur yang belum disajikan dalam buku ini, dokumentasi dan narasi sosok Cak Nur yang ditulis oleh Ahmad Gaus ini sangat membantu untuk mengenal lebih dekat siapa Cak Nur.

Buku ini sangat bagus jika diposisikan sebagai pemandu untuk memahami karya-karya tulis Cak Nur lainnya serta untuk memahami dinamika intelektual yang dimotori oleh angkatan-66, khususnya oleh kalangan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam melakukan penyegaran pemikiran Islam.

Judul Api Islam pilihan Ahmad Gaus sendiri terinspirasi tulisan Seyyed Amir Ali dan Bung Karno. Mungkin penulisnya ingin menekankan bahwa apa yang dilakukan Cak Nur adalah menghidupkan kembali api Islam yang diwarisi dari para pendahulunya. Atau api Islam itu selalu menyala berpindah dari putra-putri terbaik dan tercerahkan yang muncul di setiap generasi.

Lewat buku ini akan terlihat sisi-sisi manusiawi Cak Nur bagi mereka yang tidak mengenal dekat. Misalnya, bagaimana perjuangan hidupnya untuk menyelesaikan doktornya di AS dengan beasiswa yang sangat minim sehingga Mbak Omi, istrinya, mesti bekerja mencari tambahan uang. Gaya hidup Cak Nur sangat sederhana. Tidak punya sopir pribadi, tidak juga ada pembantu rumah tangga. Memasak dan mencuci pakaian adalah hal yang biasa dilakukan sendiri kecuali pada saat sakit keras.

Sebagai sebuah biografi tokoh besar seperti Cak Nur, buku ini niscaya akan memberi inspirasi bagi kaum muda. Jalan hidup yang ditempuh oleh sang tokoh memberi pelajaran bahwa untuk menjadi somebody tidaklah mudah. Banyak jalan mendaki. Tidak sedikit pengorbanan. Akan tetapi, dengan begitu hidup menjadi bermakna.

 Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

• Judul: Api Islam Nurcholish Madjid: Jalan Hidup Seorang Visioner
• Penulis: Ahmad Gaus AF
• Penerbit: Penerbit Buku Kompas, 2010
• Tebal: xlii + 382 halaman
• ISBN: 978-979-709-514-7

 

Komentar

Masyhur gagah

Jumat, 24 Desember 2010 | 13:29 WIB

sebuah resensi yang menarik untuk dibaca. saya sendiri tertarik untuk memiliki buku tersebut. hanya saja, tampaknya buku tersebut belum terdistribusi di provinsi NTB. mudah-mudahan segera di distribusikan……

juman rofarif

Rabu, 22 Desember 2010 | 09:17 WIB

sebuah timbangan yang membangkitkan dan menggugah dari sosok kompeten tentang buku bagus tentang sosok hebat… mantabeh!

Yunanto yunan

Rabu, 22 Desember 2010 | 08:37 WIB

Hidup CAk Nur….Pemikirannya yang luar biasa..

 

_________________________________________________________________________________

Penulis: @AhmadGaus

Pengantar: @yulatif

Epilog: Budhy Munawar-Rachman

 

Berminat membeli buku ini hubungi Patricius/Kompas: 08158925350

__________________________________________________________________________________