Ahmad Wahib dan Pergolakan Pemikiran Islam

Wahib
Ahmad Wahib adalah nama yang sangat sering disebut ketika kita membicarakan perkembangan pemikiran Islam. Siapakah dia? Seberapa menarik pemikiran-pemikirannya sehingga ia tetap dikenang sebagai pemberontak pemikiran dan namanya menjadi legenda? Dan mengapa penting sekali “menghidupkan kembali” Ahmad Wahib dalam diskursus keislaman kita sekarang?
Dalam video ini, Ahmad Gaus AF mengupasnya untuk Anda. #AhmadWahib #AhmadGaus #PemikiranIslam #Islam
Wahib 3
Wahib 2
Salam,
Ahmad Gaus

Inilah Para Pemenang Lomba Menulis Puisi Natal 2018

Featured

PADA tanggal 18 Desember lalu saya mengumumkan “Lomba Menulis Puisi Natal” melalui blog www.ahmadgaus.com yang dibuka sampai tanggal 24 Desember (kemarin). Pengumuman mengenai lomba itu sendiri saya sebar melalui media sosial twitter dan grup-grup WA, selain di blog ini. Tujuan dari lomba ini tiada lain ialah untuk menyambut dan menyemarakkan Natal 2018, dan sebagai tanda kasih saya untuk para sahabat di seluruh tanah air yang tengah bersuka cita merayakan Natal.

Sampai tadi malam (24 Desember Pk. 23.00) saya telah memilih 3 puisi terbaik dari sejumlah puisi yang dikirim ke email saya (gaus.poem@gmail.com). Hasil lomba ini saya umumkan di akun-akun media sosial saya: Gaus Ahmad (FB), Ahmad Gaus (Twitter), gausahmadgaus (Twitter ke-2) dan ahmadgaus68 (IG).

Saya ucapkan selamat kepada para pemenang. Anda berhak atas buku puisi saya “Senja di Jakarta” yang segera akan saya kirimkan setelah anda memberi alamat pengiriman ke email saya (gaus.poem@gmail.com. Terima kasih kepada semua warganet yang telah ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Untuk anda yang belum beruntung mendapatkan hadiah, tidak usah bersedih (huhuhu..)  Insya Allah dalam momen-momen tertentu saya adakan lomba lagi dengan hadiah buku terbaru lagi. (Doakan pada tahun 2019 akan terbit 3 buku terbaru saya (puisi, novel, dan karya akademik). Aminkan dooong.. hehe.

Berikut adalah puisi pemenang lomba yang saya urutkan dengan angka berdasarkan kategori juara 1, juara 2,dan juara 3. Selamat menikmati.

 

(1)

KURAYAKAN NATAL

Karya: Rendy Saselah (Manado)

Kurayakan natal di pelupuk ombak, dalam keriangan masa kecil menarikan riak gelombang utara
tempat leluhur mengaji laut

Pabila hari telah tiba di ujung kelender
serasa aku menjadi seorang bocah yang biasa melarungkan harapan. Dimana yang aku tuju pertama adalah kenangan yang berarak lewat denting lonceng gereja kampung halaman

Tetapi hari sudah membawaku terlampau jauh dari kenangan Sagu dan Ikan Bakar, terlebih dengung suara Ibu melantunkan tembang natal dari balik kelambu kamar tidurku

Oh kasiang e!

Bau garam laut, desir ombak terus saja mengusikku seakan memaksa bahwa aku harus kembali meniup lilin dua puluh lima desember di kampung halaman. Juga menyalakannya di atas kubur Opa dan Omaku dalam penantiannya menunggu Tuhan datang

Kurayakan natal, di pelupuk ombak
di laut yang sama, namun tak ada pasir, hanya bentang beton reklamasi tempat aku memandang kembang api berhamburan. Seketika kutandai utara, meraih senyum Ibu samar menitip kecup lewat arus yang membawaku merantau

Manado, 22 Desember 2018

 

(2)

MALAM NATAL 

— Karya: Samsara Natama (Depok)

 

Malam ini, Maranatha di Bumi.

Sejenak,

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang membara

Sang surya telah bertelut di angkasa

Merendahkan diri, haturkan hormat kepada sang purnama, lagi sang kartika

Yang menjadi saksi bisu atas kisah cinta Sang Raja,

 

Sejenak,

Kala dunia bercerita tentang kilau emas dan perak

Gemerlap lentera dan kehangatan lilin-lilin kecil, diiringi alunan merdu simfoni

Di bawah kemegahan dan kemeriahan langit-langit peneduh

Suara malaikat menaikkan pujian kepada Bapa,

 

Sesaat, waktu terhenti,

Di sekeliling lautan manusia

Yang terlarut dalam ribuan emosi dan jutaan memori

Mengenang suka, merindu asa, melepas jemu

Di tengah keheningan jiwa yang rapuh

Saat itulah aku memandang salib-Mu.

 

Berdiri, mengecap kata dengan bibirku

Duduk, melantunkan nada dalam hatiku

Tetapi, kedua mataku enggan berpaling dari lambang kasih terbesar itu

Yang tak ‘kan pernah ada lagi, dan yang tak sanggup siapa jua sandingi.

 

Sebab, aku sadar

Malam ini tercipta bukan untukku

Bukan juga untuk tercapainya segala angan

Akan penghargaan di atas telapak tangan

Atau bahkan, yang elok tersusun di bawah pohon sang Santa

Apalagi, serendah tuntutan hari besar semata.

 

Malam ini bukan tentang diriku

Natal bukan tentang hadiah yang kuingini, melainkan terwujudnya cara Tuhan menyatakan cinta-Nya kepada dunia

Natal ialah tentang Allah yang turun dari takhta kemuliaan, menjadi sama rendahnya dengan manusia

Natal ialah tentang cara Tuhan mengasihiku.

 

Malam ini,

Aku diam, mengingat janji dan kesetiaan-Nya.

Aku tenang, menikmati damai hadirat-Nya.

Menikmati kasih Tuhan secara utuh, dalam satu tahun langkah kehidupanku, hingga detik ini

Aku sungguh bersyukur atas semua itu.

 

Akhirnya, ketika lonceng berbunyi, aku hendak melangkah lagi

Meninggalkan euforia malam Natal di penghujung hari

Namun, cinta-Nya ‘kan terus menetap sepanjang waktu

Karenanya, kuhendak membagikan cinta itu kepadamu.

Sebab, Dia telah terlebih dulu mengasihiku.

 

Malam ini, Haleluya, Kristus t’lah lahir.

 

 

(3)

MERRY CHRISTMAS, MARZUKI

 — Karya: Citra Racindy (Medan)

 

Lonceng gereja bergema

Baju baru tersusun di lemari

Kulihat wajahmu penuh warna

Hari Natal kini telah menghampiri

 

Kelap kelip rumahmu kini penuh lampu berwarna

Di ruang tamu roti tersusun rapi

Kado-kado kecil terbungkus dengan bentuk yang berbeda

Aku turut merasakan kebahagianmu, Marzuki

 

Perasaan yang sama ketika aku menyambut Idul Fitri

Bahagia, sedih semua bercampur aduk

Bergegas aku pergi ke toko roti

Tok..tok..

Aku sudah di depan rumahmu membawa roti yang empuk

 

 

 

 

Ucapan Natal dalam al-Quran

Mengucapkan Selamat Natal itu tidak merusak akidah. Malah ucapan Natal itu ada dalam al-Quran sendiri. Masalah ini diributkan hanya oleh kaum Muslim di Asia Tenggara. Sementara di negara-negara Arab para ulama sudah terbiasa mengunjungi orang-orang Nasrani untuk mengucapkan Natal. Mereka ikut bergembira. Larangan mengucapkan Natal itu lahir dari pikiran yang sempit. Demikian cuplikan pernyataan ahli tafsir Prof. Dr.H.M. Quraish Shihab. Simak videonya di sini:

 

 

 

 

Pro-Kontra Islam Nusantara

Kuliah Twitter seputar Pro-kontra Islam Nusantara
Oleh Ahmad Gaus AF — penulis, aktivis, dosen ilmu kebudayaan
isnu

Salah satu buku yang diterbitkan sebagai referensi mengenai Islam Nusantara

1. Hari-hari ini pro-kontra Islam Nusantara kembali mencuat. Beberapa daerah di Sumatera terang-terangan menolak Islam Nusantara. Untuk menanggapi isu tersebut saya mau kultwit sedikit, sekadar apresiasi dan kritik. Yang berminat silakan gelar tikar. Siapkan kopi (+ rokok). 🙂 Tagarnya: #Isnus

2. Islam Nusantara adalah Islam yang beradaptasi dengan budaya lokal — budaya khas Nusantara dan tidak ada di kawasan-kawasan Islam lain seperti Arab dan Timur Tengah, Asia Tengah, dan lain-lain. #Isnus

3. Hasil adaptasi Islam dan budaya Nusantara telah melahirkan — misalnya — tradisi lebaran, tabuh beduk, ketupat lebaran, halal bihalal, sarung, dll. Itulah #Isnus

4. Konsep #Isnus merefleksikan kerendah-hatian Islam dalam melihat budaya setempat sebagai produk sejarah panjang dan telah melahirkan adat, norma, sistem sosial, dan sebagainya. Maka ada kaidah fikih, al-adat muhakkamah (adat dapat menjadi hukum), artinya tidak harus hukum Islam. #Isnus

5. Faktanya ada Islam Sunda, Islam Jawa, Islam Ambon, dll, yang merupakan ekspresi kultural. Ini bukan aliran Islam tersendiri. Sebab sistem tauhid dan peribadatannya sama belaka. #Isnus

6. Menurut cendekiawan Minang, Prof Azyumardi Azra, filosofi “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” adalah contoh refleksi Islam Nusantara. Islam datang dan menyebar melalui proses pribumisasi. #Isnus

7. Dengan begitu #Isnus berarti membumikan Islam di kawasan Nusantara, agar agama ini bersenyawa dengan — dan memiliki akar dalam — budaya setempat. Sehingga Islam dan budaya saling mengisi, bukan saling menolak atau bersaing yang akan melahirkan konflik.

8. Budaya lokal sudah ada sebelum agama Islam masuk, bagaimana mungkin Islam mau menyainginya? Lebih produktif kalau bersinergi dalam proses akulturasi dan asimilasi, sehingga lahir peradaban hibrid yang menunjukkan kekayaan sebuah bangsa. #Isnus

9. Akulturasi ialah ketika Islam sebagai unsur asing datang ke Nusantara dan berjumpa dengan budaya setempat. Budaya setempat mau menerima dan mengolahnya menjadi budaya sendiri. Masjid Menara Kudus adalah contoh akulturasi di mana Islam berpadu dengan budaya Hindu yang sudah lama ada. #Isnus

10. Asimilasi ialah ketika Islam yang dari tanah Arab diterima sebagai agama di Nusantara tapi unsur-unsur  budaya Arabnya tidak. Maka Muslim Indonesia berislam dengan budaya mereka sendiri. Lebaran dan opor ayamnya adalah contoh asimilasi ini. #Isnus

11. Tentu saja sebagai nilai, Islam itu universal dan kosmopolitan. Tapi sebagai realitas sosial ia akan harus menyesuaikan diri dengan konteks budaya lokal. #Isnus

12. Dulu dakwah Wali Songo bisa diterima oleh masyarakat karena mereka memanfaatkan budaya lokal Nusantara seperti wayang. Maka proses islamisasi yang sukses di Nusantara sebenarnya berutang budi pada budaya-budaya Nusantara. #Isnus

13. Dengan kata lain, Islam Nusantara ialah Islam yang mengakar pada budaya-budaya Nusantara yang beragam, sehingga artikulasi budaya Islam bisa berbeda di berbagai wilayah, namun mereka dipersatukan oleh tauhid yang sama.

14. Budaya-budaya Nusantara yang beragam memberi corak tersendiri pada wajah Islam di sini, yang memperlihatkan pluralitas. Majalah Time menyebut “smiling Islam” (Islam yg tersenyum),  moderat dan toleran. Bukan wajah Islam yang marah seperti di wilayah-wilayah konflik di Timur Tengah. #Isnus

15. Kawasan Islam Arab dan Islam Persia pernah tumbuh menjadi kawasan peradaban yang tinggi. Tapi kawasan Islam Nusantara belum melahirkan peradaban yang tinggi (kecuali dalam tingkat tertentu, peradaban literasi). Inilah tantangan #Isnus.

16. Apakah saya setuju sepenuhnya dengab gagasan #Isnus ini? Secara substansi saya sangat setuju. Sebab inilah wajah Islam yang masih dapat diharapkan mampu memberi sumbangan pada perdamaian dunia. Namun sebagai konsep saya meragukan validitasnya. Mengapa?

17. Menurut Wikipedia, Nusantara is a Javanese word (istilah Jawa).. based on the Majapahit concept of state. Tidak heran kalau pihak yang kontra mengatakan bahwa Islam Nusantara adalah Jawa. #Isnus

18. Menurut Wikipedia, kawasan Nusantara meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina. Setelah Majapahit runtuh, maka yang disebut Nusantara telah menjadi kawasan geopolitik imajiner. #Isnus

19. Maka problem Islam Nusantara ialah terminologi, dari politik ke budaya. Tidak mudah menghilangkan trauma hegemoni politik Jawa atas wilayah-wilayah lain. Dan ini yang terbaca dari penolakan Sumatera atas gagasan #Isnus.

20. Di Malaysia, istilah nusantara berkonotasi budaya, sedangkan istilah melayu berkonotasi politik. Tapi di Indonesia justru sebaliknya. Maka istilah Islam Nusantara secara psikologis masih dipahami sebagai perpanjangan politik Jawa dan jawanisasi. #Isnus

21. Mempertimbangkan istilah atau kata amatlah penting dalam membangun konsep karena di dalamnya ada discourse. Seperti kata Konghucu, “semua tergantung istilah;” atau “kata membangun dunia” (Freire); atau “pada mulanya adalah kata” (Bibel), atau Pertama-tama ialah nama (QS 2:31). #Isnus

22. Kalau yang ingin dituju oleh konsep Islam Nusantara ialah menampilkan aspek budaya-budaya Islam di Indonesia, maka istilah “Islam Melayu” atau “Islam Melayu-Nusantara” sebetulnya lebih memadai secara konseptual. #Isnus

23. Bahasa Melayu sejak dulu telah menjadi bahasa kawasan. Penyebaran Islam di kawasan ini pun menggunakan bahasa Melayu. Bersamaan dengan itu budaya Melayu telah menjadi bagian penting dari budaya umat Islam di seluruh Indonesia. #Isnus

24. Budaya Melayu adalah satu-satunya budaya yang paling potensial untuk dikembangkan sebagai budaya kawasan. Saya pernah membahas ini dalam seminar di Pekan Baru, Riau. Ini link-nya:

25. Akhirnya, soal pro-kontra Islam Nusantara  ini saran saya: jangan menerima membabi buta. Jangan juga menolak asal menolak tanpa memahami substansi yang ditolak. Apalagi menyebar hoax yang aneh-aneh tentang #Isnus, Kata pepatah: “Annasu aduwwun limaa jahilu” (manusia itu musuh atas apa yang tidak diketahuinya). 

26. Demikian kuliah singkat saya tentang Islam Nusantara #Isnus. Terima kasih atas atensi, retweet, dan respon semua tweeps. Semoga bermanfaat. Sekarang izinkan saya kembali menikmati lagu-lagu Melayu kesukaan saya: “Selayang Pandang”:

 

Para Penjahat Atas Nama Tuhan

syiah2

Dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada hari ini (16/11/2013), saya menulis sebuah puisi terkait dengan kondisi kehidupan beragama di tanah air dewasa ini.

Para Penjahat Atas Nama Tuhan
Puisi Ahmad Gaus

Di manakah Tuhan
ketika rumah-Nya diserang
dan dihancurkan?

Engkau tidak akan tahu arti sedih
sebelum kakimu tergelincir dan berdarah
ketika menyeru Tuhan di tengah jerit kesakitan
dalam kobaran api yang membakar
rumah-rumah ibadah.

Engkau tidak akan mengerti
apa artinya terbuang
sampai merasakan sendiri bagaimana
iman direndahkan.

Anak-anak dan perempuan lari ketakutan
menunggu malaikat datang
membawa mereka terbang ke angkasa
bertemu dengan Tuhan yang bersemayam
di atas ‘aras.

Orang-orang tua bertanya
apakah Tuhan mereka telah binasa
dijebloskan ke dalam penjara?

Burung-burung gemetar
melihat orang-orang mengamuk
membawa senjata
batu dan parang.

Di manakah Tuhan
Ketika rumah-Nya disegel
dan dipagari kawat berduri?

Di negeri ini
iman dicurigai bagai sindikat
orang mau beribadah disamakan
dengan penjahat.

Di negeri ini
lebih mudah membuka panti pijat
daripada membuka rumah ibadat
orang mabuk difasilitasi
menyembah Tuhan dihalang-halangi.

Di negeri ini
orang mau beribadah dianggap
mengganggu ketertiban umum
sementara para penjahat yang mengatasnamakan Tuhan
bebas berkeliaran sambil berteriak
Allahu akbar
serang! kejar! bunuh!
Allahu akbar

Setiap hari para pemimpin berpidato
tentang Konstitusi
tapi di mana mereka bersembunyi
ketika orang yang berbeda keyakinan diteror
diinjak-injak?

Orang-orang dibiarkan
dianiaya di kampung mereka
menjadi pengungsi di negeri sendiri
hak hidup mereka direnggut
di hadapan para petinggi negeri.
Kemajemukan diancam
kebebasan disandera
orang-orang dengan pongahnya meringkus kebenaran
memaksakan kehendak dengan kekerasan.

Apakah Tuhan berduka
ketika umat-Nya terlunta-lunta?
Apakah Tuhan merasakan luka
melihat umat-Nya bertaburan isak tangis
dilempari genting dan pecahan kaca?

Jakarta, Hari Toleransi Internasional, 16/11/2013

MENYANYIKAN NURCHOLISH MADJID

Islam Yes Partai Islam No

Menyanyikan Nurcholish Madjid
CATATAN berikut merupakan Pengantar Penulis untuk Biografi Nurcholish Madjid “API ISLAM”, terbitan Kompas 2010. Semoga bermanfaat sebagai renungan di tahun baru 1435 Hijriyah.

BUDAYAWAN Emha Ainun Nadjib bertanya kepada Omi Madjid, lagu apa yang paling disukai Cak Nur (Nurcholish Madjid). Istri almarhum Cak Nur itu menjawab, Umi Kulsum. Cahaya di atas panggung redup. Kelompok gamelan Kiai Kanjeng pimpinan Emha Ainun Nadjib mengalunkan lagu Ghannily shwayya shwayya dari Umi Kulsum, penyanyi legendaris asal Mesir, kemudian A’atiny naya wa ghanni dari Fairouz, penyanyi wanita Kristen Arab asal Libanon. Berkali-kali Emha mengumandangkan salawat dan doa, sambil bergumam, laka Cak Nur…, laka Cak Nur… (untukmu Cak Nur…, untukmu Cak Nur).

Para pengunjung yang memadati ruang teater TIM (Taman Ismail Marzuki) pada 28 Mei 2008 untuk menghadiri haul 1000 hari wafatnya almarhum Cak Nur itu sadar bahwa mereka tidak sedang berada dalam ruang diskusi pemikiran, di ruang mana Cak Nur biasa mereka temui. Emha membawa mereka ke ruang Cak Nur yang lain, yakni Cak Nur si anak Jombang yang gemar asyrakalan dan melantunkan salawat. (Tradisi salawatan ini, hingga sekarang, masih menjadi bagian dalam setiap acara wisuda di Universitas Paramadina yang didirikan Cak Nur). Cak Nur si pemikir, ujar Emha, sudah banyak yang tahu, tapi Cak Nur yang memiliki cita rasa seni, banyak yang belum tahu. Maka Emha membawa imajinasi hadirin untuk mengenal Cak Nur dari syair-syair Abu Nawas yang sering dilantunkannya sewaktu belajar di Pesantren Gontor.

Acara haul itu benar-benar menghadirkan suasana Jombang, kota santri, tempat kelahiran Cak Nur. Emha menyerasikan kesyahduan kota santri dengan kota Nabi (madinatun-nabiy) ketika ia melantunkan ayat-ayat suci dan pujian-pujian kepada Rasulullah Muhammad SAW. Kata Emha, Cak Nur adalah orang yang sangat mencintai Nabi. Ia tak pernah berhenti mengajak bangsa ini untuk meneladani akhlak Rasul. Di tengah kegalauan bangsa ia hadir seperti cahaya. Bahasa tubuhnya lembut, dan energinya menenangkan.

Sama-sama lahir di Jombang dan menimba ilmu agama di pesantren Gontor, Emha tampaknya sangat mengenal sosok Cak Nur. Ia menganggap Cak Nur sebagai kakaknya sendiri. Di antara mereka ada Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), juga dari Jombang. Gus Dur menyebut kedekatannya dengan Cak Nur seperti pinang dibelah dua. Jika kedua belahan pinang itu berkelahi, tutur Emha suatu ketika, tak pernah bisa lama. Biasanya salah satunya segera memanggil Emha untuk menjadi juru damai. Dan perkelahian pun berubah menjadi gerr-gerrran…!

Gus Dur dan Cak Nur

Gus Dur dan Cak Nur

Rasanya tidak ada yang bisa menggambarkan sosok Cak Nur sebaik Emha menggambarkannya. Demikian juga buku ini. Ditulis dengan perasaan was-was karena bisa saja terjerembab ke dalam reduksi dan penyederhanaan, buku ini pasti tidak lengkap. Buku ini ditulis sekadar untuk memenuhi dahaga kerinduan para sahabat, murid, dan masyarakat pada umumnya pada sosok Sang Begawan (pinjam istilah Kuntowijoyo) dan pikiran-pikirannya.

Api Islam BB

Di luar visi-visi besarnya, Cak Nur adalah orang yang ajarannya sangat sederhana. Menjadi Muslim yang baik, katanya, adalah menjadi manusia yang baik. Ia sering mengajari bangsa ini untuk selalu bersabar, menunda kesenangan, dan mau berkorban untuk kepentingan orang banyak. Ia menggambarkan pengorbanan sebagai “jalan mendaki yang sulit” (aqabah) karena mempunyai efek peningkatan harkat dan martabat manusia.

Cak Nur tidak pernah membiarkan dirinya hanyut dalam keadaan tidak menentu dan pusaran kekacauan, karena ia menghayati Tuhan sebagai Yang Maha Hadir (Omnipresent), yang selalu memberi jalan keluar. Setiap perkara kehidupan selalu dicarikan jalan keluarnya secara baik, husnul khatimah. Cara itulah, misalnya, yang ia tempuh ketika menurunkan Pak Harto dari kursi kekuasaan yang telah didudukinya selama 32 tahun. Jika bukan dengan seruan husnul khatimah, manalah ada penguasa yang rela diturunkan sambil dinistakan. Cak Nur memberi contoh tentang berpolitik secara baik.

***

Cak Nur meninggal dunia pada 29 Agustus 2005. Ia pergi meninggalkan warisan ilmu pengetahuan kepada generasi sekarang dan mendatang. Buah pikirannya menjadi rujukan yang terus dibicarakan. Obsesinya untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa besar telah menginspirasi banyak kaum muda menempuh jalan yang dilaluinya, mencermati pemikirannya, serta mencontoh sikap dan tindakannya.

CakNurMeninggal

Sampai akhir hayatnya, Cak Nur adalah orang yang lurus (hanif). Ia hanya percaya pada kebenaran yang lapang (al-hanifiyah al-samhah), kebenaran yang tidak membelenggu jiwa, kebenaran yang berproses di dalam penghayatan akan Tuhan dan pengalaman iman yang berlangsung sepanjang hayat. Kebenaran seperti ini hanya mengakui kemutlakan Tuhan, namun relatif pada dirinya sendiri. Kebenaran seperti ini bersifat rendah hati, dan tidak memaksa orang lain. Cak Nur mengajarkan: Kalau kita berhenti mencari, dan merasa sudah sampai pada kebenaran, maka kita mudah menjadi sombong!

Kritik Cak Nur terhadap fundamentalisme agama terutama pada kesombongannya. Kaum fundamentalis ingin meringkus kebenaran dan memaksakannya kepada orang lain. Fundamentalisme kini telah menjelma menjadi kekerasan agama. Dewasa ini kita semakin sering melihat orang-orang yang marah meneriakkan asma Allah, mengancam orang yang berbeda pandangan, dan menyerang rumah-rumah ibadah orang yang berbeda keyakinan. Dulu masyarakat dunia mengenal Islam Indonesia dan Asia Tenggara sebagai Islam yang berwajah lembut. “Islam with a smiling face,” tulis majalah Time dan Newsweek pada 1996. Tapi kini wajah itu telah berubah menjadi brutal dan penuh kebencian. Di titik ini kita teringat Cak Nur yang selalu tersenyum, mendakwahkan Islam sebagai rahmat bagi semua.

Cak Nur adalah guru kebebasan. Kata Cak Nur, kebebasan adalah hal pertama yang diberikan Tuhan kepada manusia, bahkan kebebasan untuk beriman atau tidak beriman kepada-Nya (faman sya’a fal yu’min, wa man sya’a fal yakfur). Kalau Tuhan tidak memberi kebebasan kepada makhluknya untuk tidak beriman, bagaimana mungkin kita bisa beriman secara tulus? Keimanan yang sejati hanya bisa lahir dari kebebasan. Konstruksi kebebasan seperti ini mendorong tumbuhnya sikap keimanan yang terbuka. Yaitu, tidak merasa benar sendiri, dan mau menerima perbedaan sebagai konsekuensi dari kebebasan yang diberikan Tuhan. Wujud dari sikap keagamaan seperti ini adalah toleransi antar-sesama. Orang yang berbeda bukanlah musuh yang harus dimusnahkan. Ajaran tentang kebebasan dan toleransi telah menjadi dasar bagi perdamaian dan persahabatan antar-agama.

Nilai-nilai yang diusung Cak Nur adalah nilai-nilai universal yang ada pada semua agama, bukan nilai sektarian, dari dan untuk kepentingan kelompok tertentu saja. Saat ini, di tengah menguatnya kembali intoleransi dan kekerasan atas nama agama, pikiran-pikiran Cak Nur kembali relevan untuk diingat dan disemaikan. Cita-cita Cak Nur untuk menjadikan umat Islam Indonesia lebih toleran, moderat, dan bersahabat, belum selesai dan harus terus dikerjakan. Buku ini adalah upaya kecil untuk menyambung cita-cita Cak Nur tersebut.

***

Dalam menyusun buku ini penulis berutang budi kepada banyak orang. Pertama-tama, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Ibu Omi Madjid, istri almarhum Cak Nur dan putra-putri mereka, Nadia dan Mikail. Saya mohon maaf jika banyak kekurangan dalam buku ini.

Putri alm Cak Nur, Nadia Madjid menyampaikan sambutan dalam acara Sewindu Haul Cak Nur

Putri alm Cak Nur, Nadia Madjid menyampaikan sambutan dalam acara Sewindu Haul Cak Nur

Kemudian kepada Mas Tom (pendiri Paramadina), yang selalu bertanya, “Mana biografi Cak Nur itu?” Maka, buku ini juga saya hadiahkan untuk Mas Tom, disertai doa dari saya, istri, dan anak-anak kami, Fya dan Echa, agar ‘Apa Tom’ sehat, panjang umur, dan tetap beramal saleh.

Mas Tom (Utomo Dananjaya)

Mas Tom (Utomo Dananjaya)

Yudi Latif

Yudi Latif

Saya juga menerima dorongan yang positif dan tulus dari dua sahabat saya, Budhy Munawar-Rachman dan Yudi Latif yang menorehkan catatan mereka untuk buku ini. Perhatian mereka terhadap proses penulisan buku ini sangat membesarkan hati. Semua jalan mereka usahakan agar buku ini bisa terbit. Menurut saya, Cak Nur tidak bisa digantikan oleh salah satu muridnya yang paling pintar sekalipun. Tapi kalau orang seperti Budhy dan Yudi berkolaborasi, ditambah beberapa yang lain, akan lahir “Cak Nur edisi baru”. Bentuknya mungkin post-Nurcholish, semacam rekonstruksi atas wacana-wacana Nurcholishian untuk menjawab tantangan zaman yang sudah berubah dan berbeda dengan zaman Cak Nur dulu.

Budhy Munawar-Rachman

Budhy Munawar-Rachman

Beberapa teman di JIL (Jaringan Islam Liberal), murid intelektual Cak Nur ataupun bukan, telah melakukan itu, seperti tampak dalam berbagai pernyataan dan tulisan mereka yang berusaha merevisi sejumlah bangunan epistemologi Nurcholishian yang pernah menjadi paradigma dalam diskursus keislaman di Tanah Air. Sementara itu, murid-murid Cak Nur yang lain masih senang dengan wacana-wacana seperti “inklusivisme” dan “titik temu” (Cak Nur tahun 80-an). Ketika Cak Nur telah melesat jauh, para pengeritiknya dari sayap kanan Islam masih terus mempersoalkan gagasan sekularisasi (Cak Nur tahun 70-an).

Yang agak lumayan adalah para pengeritik Cak Nur dari sayap kiri Islam, seperti beberapa anak muda NU. Mereka bisa menangkap ide-ide Cak Nur sejak edisi pertama hingga terakhir. Sehingga sosok Cak Nur muncul seperti gambar hidup, bukan potret yang mati. Sayangnya, argumen-argumen mereka terlampau pekat dengan kecurigaan. Akhirnya posisi mereka pun nyaris serupa dengan para kritikus sayap kanan, yakni sama-sama menciptakan halusinasi tentang sosok Cak Nur “yang mengancam”.

Bagi kritikus sayap kanan, Cak Nur adalah agen zionis dan orientalis yang mengancam Islam yang mereka pahami. Bagi kritikus sayap kiri, Cak Nur adalah advokat ideologi modernisme yang mengancam basis pengetahuan dan praksis politik kelompok tradisionalis. Cara pandang seperti ini telah menghidupkan kembali politik aliran. Bentuk serangan mereka terhadap Cak Nur dikesankan seolah-olah wacana ilmiah, padahal hanya propaganda ideologi, yang membangkitkan kebencian antar-kelompok.

Terlepas dari itu, saya ingin berterima kasih kepada mereka semua. Sebab buku ini pun, mau tidak mau, berutang kepada berbagai pandangan yang pernah muncul, baik pro maupun kontra, terhadap pemikiran Cak Nur. Entah buku ini ada di posisi mana. Sebisa mungkin saya berusaha untuk objektif. Tapi bagaimanapun, Cak Nur adalah guru saya, sehingga tidak sepenuhnya saya bisa melepaskan unsur subjektivitas. Saya teringat pesan Ahmad Sumargono ketika berbicara melalui telepon, “Jangan mengatakan hal-hal yang buruk tentang orang yang sudah wafat.” Luar biasa. Kata-kata itu diucapkan oleh Ahmad Sumargono, penentang Cak Nur yang paling serius. Terima kasih, Mas Gogon. Saya berharap kritik-kritik yang saya rangkum dalam buku ini bukan hal yang buruk.

Beberapa bagian buku ini merujuk pada manuskrip yang ditulis oleh Ihsan Ali-Fauzi, yang semula direncanakan sebagai otobiografi Cak Nur. Tapi entah kenapa, sudah lebih sepuluh tahun, tak juga terbit. Sebagian bahan itu telah dimuat dalam Ensiklopedi Nurcholish Madjid. Saya memanfaatkan beberapa bagian yang saya anggap penting, terutama untuk tulisan mengenai Gontor, IAIN, dan HMI. Terima kasih kepada Ihsan.

Saya juga ingin berterima kasih kepada teman-teman saya di CSL (Center for Spirituality and Leadership). Pertama-tama kepada para senior saya: Pak Hario Soeprobo, Pak Mahdi Syahbuddin, dan Pak Hendro Martowardojo. Kemudian teman-teman seperjuangan: Bang Dame, Mas Eko, Jhody, Vita, Zaki, Ali, Dwi, dan Pepen. Dalam kegiatan wawancara dengan para narasumber, saya dibantu oleh Ade Buchori dan Abdul Halim (keduanya dari Universitas Paramadina), dan Asnawi (IAIN Jakarta). Mereka juga mentranskripsikan hasil wawancara di Jombang, Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

Draft awal artikel mengenai ICMI disiapkan oleh Muhamad Nabil (IAIN Jakarta). Rifki (Paramadina) dan Afif (HMI Cirebon) juga saya minta bantuannya untuk melihat Cak Nur dalam perspektif kaum muda. Sedangkan dari perspektif kaum tua, saya berutang budi kepada Bapak Arifin Pakih, peserta awal kegiatan-kegiatan Paramadina, yang memberi banyak masukan. Beliau juga meminjamkan beberapa catatan reflektifnya mengenai Cak Nur dan Paramadina, termasuk catatan keributannya dengan seorang ustadz di masjid lingkungan tempat tinggalnya di Cirendeu, gara-gara sang ustadz berceramah menuding-nuding Cak Nur dan Paramadina sebagai sesat. “Saya tidak rela masjid digunakan untuk menghujat-hujat orang,” ujarnya.
Maulana Muladi (Tabloid Jumat), Deden Ridwan dan Taufik MR (keduanya dari Mizan) telah meminjamkan bahan-bahan yang sangat penting untuk penulisan buku ini. Begitu juga teman-teman di Paramadina, terutama Kang Muslih, Rahmat, dan Indah. Teman lain yang fanatik dengan Paramadina, tapi tidak pernah mengaji di Paramadina, ialah Chaider S. Bamualim. Beberapa bagian buku ini saya tulis dalam perjalanan riset dengan dia di Bandung, Cianjur, Tasikmalaya, dan Kuningan selama dua bulan pada 2009. Anak keturunan Arab dari Sumba, NTT, ini sangat ngefans kepada Cak Nur, dan menulis tesis di Universitas Leiden, Belanda, seputar konsep Cak Nur mengenai al-hanifiyat al-samhah. Atas dukungan mereka semua buku ini bisa selesai.

Saya juga ingin berterima kasih kepada semua narasumber yang kami wawancarai dalam rangka mengumpulkan bahan-bahan untuk penulisan buku ini. Meski tidak semua hasil wawancara dikutip secara langsung, tapi apa yang mereka sampaikan menjadi referensi pikiran dalam membentuk keseluruhan alur cerita dalam buku ini. Nama-nama narasumber saya lampirkan di halaman belakang.

Akhirnya, saya harus katakan bahwa tanpa kebaikan dan peran Mas St. Sularto di Kompas, pasti penyelesaian buku ini akan memakan waktu lebih lama lagi. Ucapan terima kasih kepada beliau dan juga teman-teman di Penerbit Buku Kompas. Semoga kerjasama yang baik menetaskan inspirasi untuk menulis karya-karya lain yang berguna bagi masyarakat.

Pernyataan para tokoh yang dikutip pada sampul belakang buku ini diambil dari kesaksian mereka dalam acara haul 1000 hari wafatnya Cak Nur di TIM pada 28 Mei 2008 lalu. Untuk itu, saya mohon keikhlasan mereka, karena komentar mereka saya munculkan tanpa izin (kecuali Neng Dara Affiah, yang saya minta komentarnya secara khusus tentang Cak Nur). Saya menganggap bahwa itu pernyataan publikasi, sehingga bisa diklaim milik umum.

Emha Ainun Nadjib yang memimpin acara haul itu menuturkan bahwa Kiai Kanjeng tidak akan bisa “menyanyikan Nurcholish Madjid” secara sempurna kecuali semua alat musiknya dimainkan. Itu juga berlaku untuk buku ini. Berbagai pandangan pro dan kontra, atau “netral”, yang berhasil dirangkum sebisa mungkin dimunculkan sebagai “alat musik” untuk menyanyikan lagu-lagu tentang Cak Nur.

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip doa persembahan yang dibawakan oleh Kang Jalal (Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat) pada acara haul 1000 hari wafatnya Cak Nur sebagai berikut: “Saudara kami Nurcholish Madjid telah meninggalkan kenangan indah bagi kami. Ia telah mengajari kami Islam yang penuh kasih kepada seluruh alam. Ia telah menanamkan pada hati kami Islam Qurani yang dengan amal menilai kemuliaan orang, apapun mazhabnya; Islam Muhammadi yang dari cintanya kepada sesama manusia menghormati semua pecinta Tuhan, apapun agamanya; Islam ilmi yang dari bukti-bukti ilmiah menghargai perbedaan pendapat, apapun alirannya.”

Demikian. Selamat membaca buku ini dan semoga bermanfaat.

Ciputat, Juli 2010
Salam Penulis
Ahmad Gaus AF

Beberapa Persoalan dalam Isu dan Kasus Toleransi Agama di Indonesia

Oleh Ahmad Gaus

Toleransi Agama di Indonesia

Tanggal 16 Nopember ditetapkan sebagai Hari Toleransi Internasional. Ditetapkan sejak 16 Nopember 1995 oleh UNESCO – United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) – PBB. UNESCO mengadopsi Declaration of Principles on Tolerance – sebuah deklarasi yang menegaskan kembali pentingnya mempromosikan dan menjamin toleransi.

Tujuan Toleransi:

Untuk menangkal prasangka dan kebencian (Ban Ki-Moon, Sekretaris Jenderal PBB, pada pesan Perayaan Hari Toleransi 2011). Prasangka dan kebencian selalu disulut oleh ketidakmampuan kita menerima fakta sosiologis kemajemukan yang ada di sekitar kita.

Banyak aspek di sekitar kita yang memang secara given adalah beragam dan berbeda: suku, agama, ras, orientasi politik, orientasi seksual, dan lainnya. Terhadap berbagai keberagaman itu, tugas kita adalah mengakui dan menyantuninya.

Dengan mengakui dan menyantuni maka perbedaan bukanlah alat pembedaan yang melahirkan peminggiran bagi yang lain, hanya karena alasan berbeda.

Prinsip toleransi:
• Menghargai keberagaman
• Mengakui hak-hak asasi manusia

Keberagaman bukan hanya fakta tapi juga kebutuhan. Dengan meletakkan keberagaman sebagai kebutuhan, maka kita akan terus menerus mengupayakannya untuk tetap berbeda.

Cara Hidup
Toleransi hendaknya menjadi salah satu landasan dan cara kita hidup bersama.

Mengukur Kondisi Toleransi di Indonesia
Apakah toleransi beragama di Indonesia saat ini sudah cukup baik, sangat baik, buruk atau sangat buruk? Apa indikasinya?

Ciri terpenting dari kondisi toleransi di tanah air saat ini ialah toleransi yang pasif, atau biasa disebut ko-eksistensi (lazy tolerance). Hidup berdampingan secara damai. Tapi satu sama lain tidak saling peduli. Karena menganggap “masalahmu adalah masalahmu”, “masalahku adalah masalahku”.

Toleransi semacam ini nyaris tidak menyumbangkan energi bagi penguatan kohesi sosial. Kalau mau menciptakan toleransi yang kokoh, maka toleransi yang pasif itu harus ditingkatkan menjadi toleransi yang aktif-progresif, atau biasa disebut pro-eksistensi. Dalam kondisi ini, setiap elemen sosial yang berbeda (suku, agama), saling menguatkan dan memberdayakan satu sama lain. Contoh: Partisipasi dalam perayaan hari-hari besar keagamaan. Saling membantu dalam mendirikan rumah ibadah, dsb.

Persoalan dalam Toleransi Beragama

Toleransi antar umat beragama hingga kini masih diselimuti persoalan. Klaim kebenaran suatu agama terhadap agama lainnya mendorong penganutnya untuk memaksakan kebenaran itu dan bersifat sangat fanatik terhadap terhadap kelompok agama lain. Lebih tragis lagi ketika penyebaran kebenaran itu disertai aksi kekerasan yang merugikan korban harta benda dan jiwa. Fenomena kekerasan antar pemeluk agama hampir terjadi di seluruh belahan dunia.

Masalah Paradigma

Paradigma lama: Kompetisi misi agama dilakukan untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Dilakukan secara tidak sehat. Melanggar etika sosial bersama.

Paradigma baru: Kompetisi misi agama harus berjalan secara sehat dan menaati hukum yang disepakati. Kompetisi atau berlomba-lomba menjalankan kebaikan (fastabiqul khairat).
Jadi, orientasinya adalah pengembangan internal umat.

Paradigma lama: Misi agama seringkali mengundang pertentangan yang membawa kekerasan dan membangkitkan jihad atau perang antarpemeluk agama.

Paradigma baru: Kegiatan misi agama harus membawa persaudaraan universal (human brotherhood, ukhuwah basyariah). Dalam paradigma baru, ajakan agama-agama lebih mengacu kepada wacana etika kemanusiaan global, untuk menjawab isu-isu global dan lintas agama, seperti masalah kemiskinan, ketidakadilan, krisis lingkungan, pelanggaran HAM, dan sebagainya.

Paradigma lama: Mempersoalkan perbedaan dan menganggapnya sebagai ancaman.
Paradigma baru: Mengacu pada platform bersama (common platform, kalimatun sawa), menganggap perbedaan sebagai kekuatan. Indonesia dipersatukan oleh perbedaan-perbedaan.

Para pendukung paradigma baru terus berupaya mengembangkan theology of religions, yaitu teologi yang tidak hanya milik satu agama, tetapi semua agama, atau teologi pluralis.

Peranan Para Tokoh

Dalam mengatasi krisis toleransi, peranan para pemuka agama, tokoh adat, pemerintahan dsb, sangat diperlukan.

• Pemuka agama: pendekatan religius (khutbah yang bersifat positif)
• Pemuka adat: pendekatan budaya
• Pemerintah: mengayomi dan berdiri di atas semua golongan. Menegakkan hukum.

 

Artikel di atas adalah materi “Workshop dan Pelatihan Penguatan Moderatisme di Kalangan Kaum Muda Lintas Agama di Papua (18 Januari 2012)” oleh Narasumber: Ahmad Gaus AF