Sehelai Kain dari Surga

Sehelai Kain dari Surga

Kain itu dicuri dari surga
ketika bidadari melepas pakaiannya
dan mandi bersama para pangeran

Seseorang yang cemas
bergegas membawanya pergi
Membuat duplikat kain itu
dan menjualnya di toko busana

Ini pakaian resmi para bidadari, katanya
Jika engkau mengenakannya akan terhindar
dari api neraka

Sejak itu, para pedagang
membuat kain-kain tiruan para bidadari
Mencari uang dengan mengutip
ayat-ayat suci

Para lelaki dengan mata jalang
menutup setiap inci tubuh perempuan
dengan nafsu yang bergolak

Kita harus menyelamatkan perempuan, ujar seseorang
Atau mereka menebarkan setiap helai rambutnya
jadi bara neraka

Tubuh perempuan
menjadi tema khutbah
Dihujat dengan penuh semangat

Di atas cat walk
kaum perempuan tidak peduli
dengan tubuh mereka

Sebagian mereka terbang
dengan sayap-sayap merpati
pulang ketika langit gelap gulita

Sebagian lagi tidur di kolong jembatan
dengan baju compang-camping
tak peduli pakaian bidadari

Di loud speaker masjid
para lelaki terus saja menyuarakan kecemasan
ke mana perginya moral?

Mereka menghitung berbagai kerusakan
akibat aurat yang terbuka
Peradaban dibangun di atas sehelai kain
Dunia dijelaskan dengan peraturan
yang dikalungkan di leher-leher
yang jenjang.

Ini zaman panas
Setiap orang membawa api bagi yang lainnya
Sedikit saja lengah engkau akan
dicemplungkan ke neraka jahanam.

Ini zaman monopoli
Dalil dan kebenaran sudah direnggut
oleh otoritas moral
Kaum perempuan tidak memiliki tubuhnya sendiri

Di tempat-tempat ibadah
Kaum perempuan tergolek tanpa busana
Dikelilingi orang-orang berjubah
yang melukis tubuh mereka
pada halaman-halaman kitab suci

Pesan-pesan wahyu diganti
dengan bara api yang dinyalakan
dalam pikiran mereka sendiri
Kitab suci hanya tinggal huruf
dan sekumpulan teks
yang mati.

Banda Aceh, Januari 2012

Gereja Tua

gerejatua

PUISI ESAI AHMAD GAUS

Gereja Tua

/1/

AZAN magrib bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan di kampung Setu
Terdengar oleh Nasruddin seperti lomba tarik suara
Orang-orang bergegas pergi sembahyang.

Sejak pulang dari Tanah Suci
Nasruddin tidak pernah lagi datang ke masjid
Salat berjamaah ataupun ikut pengajian
Setiap malam Jumat.

Para tetangga merasa heran
Berharap Nasruddin menjadi haji mabrur
Menggantikan imam masjid yang sudah tua
Menjadi amil1) dan mengurus pengajian
Harapan mereka sia-sia.

Seorang tetangga menyindir
Nasruddin hajinya mardud2), ditolak oleh Tuhan
Penampilannya tidak mencerminkan seorang haji
Tidak pernah terlihat memakai sorban
Apalagi peci haji.

Ada juga yang mengatakan
Nasruddin merasa malu karena bohong
Ia sebenarnya tidak pergi ke Mekah
Tapi ke tempat lain di luar negeri.

Para tetangga masih ingat
Hari pertama Nasruddin tiba dari Tanah Suci
Mereka menyalaminya penuh haru
Nasruddin tampak kaku dan pendiam
Tidak ada cerita yang keluar dari mulutnya
Bagaimana suasana di Baitullah
Wukuf di Padang Arafah
Bermalam di Mina
Melontar jumrah aqabah.

Nasruddin tidak membawa buah tangan
Sajadah, tasbih, dan semua yang diharapkan
Dari orang yang pulang haji
Bahkan sebutir korma pun tidak ada
Jangankan air zam-zam.

Yang lebih mengherankan
Beberapa hari sebelum Nasruddin tiba di tanah air
Ada seekor unta yang diantar entah oleh siapa
Dan kini diikat di depan rumahnya.

Para tetangga bergunjing menertawakan
Baru kali ini ada orang pulang haji membawa unta!
Ha.. ha.. ha.. ha…
Mengapa tidak sekalian saja Kabahnya dibawa!
Hi.. hi.. hi.. hi…

/2/
Nasruddin menutup telinga
Mereka tidak memahami unta
Hewan itu saksi hidup Nabi Muhammad
Setia menemaninya berdagang di Syam3)
Membawanya hijrah ke Madinah
Saat berada dalam ancaman kafir Mekah.

Setiap pagi Nasruddin memandikan unta itu
Kain yang digunakannya terbuat dari bahan halus
Kain yang kasar bisa melukai kulitnya yang bagus
Ia tidak habis pikir bagaimana hewan yang jinak itu
Bisa menaklukkan gurun pasir yang buas.

Unta selalu disebut dalam buku sejarah Islam
Tidak ada hewan yang menyaingi kesetiaannya
Mendampingi perjuangan Nabi dan para sahabat
Tapi jasanya jarang diingat.

Nasruddin menjelaskan itu kepada keluarganya
Seperti para tetangga, mereka juga tidak mengerti
Bahkan menginginkan unta itu segera dijual
Atau mereka akan melepaskannya
Saat Nasruddin tertidur.

Nasruddin kasihan kepada untanya
Para tetangga mencibir
Keluarga sendiri tidak bisa menerima
Akhirnya ia menitipkan unta itu di sebuah gereja
Yang digembala sahabatnya — Pendeta Martin

/3/

Gereja itu sudah ada sejak zaman Belanda
Di papan nama tertulis Gereja Pelita Suci
Tapi warga kampung Setu
Menyebutnya gereja lilin
Pada malam-malam tertentu
Jemaah gereja menyanyi dan berdoa
Sambil memegang lilin yang menyala
Menarik perhatian anak-anak kampung
Yang pulang mengaji.

Sudah tiga puluh tahun
Pendeta Martin tinggal di gereja itu
Melayani Tuhan dan para jemaat
Sekali waktu membuka pengobatan umum
Untuk orang-orang Muslim
Di sekitar gereja.

Pohon palem tua tumbuh di depan gereja
Daunnya dianggap sebagai simbol
Kemenangan dari dosa dan kematian
Ketika Yesus memasuki Yerusalem
Sebelum Ia disalibkan.4)

Di mata Nasruddin
Pohon palem itu seperti pohon kurma
Buahnya yang kering adalah makanan unta
Di batang palem itu dia mengikat untanya
Setiap malam.

Pendeta Martin menyukai unta milik Nasruddin
Sering terlihat bercengkrama di depan gereja
Seperti berbicara kepada manusia
Sebelum Nasruddin datang
Memberi makan dan memandikan untanya.

/4/

Pendeta Martin seorang alim
Memahami dengan baik seluk beluk unta
Suatu pagi dia menjelaskan kepada Nasruddin
Unta adalah makhluk Tuhan yang unik
Perangainya sopan dan memiliki aura religius
Ia mengutip Kitab Kejadian 24 5)
Kata unta disebut 16 kali.

Sambil bercakap dengan Pendeta Martin
Nasruddin memandikan untanya dengan kain basah
Campuran air hangat dan minyak zaitun
Ia mengelus punggung onta itu
Membayangkan di atasnya pernah duduk
Nabi Muhammad, rasul utusan Tuhan

Nasruddin percaya kepada Pendeta Martin
Unta memiliki aura religius
Dalam Alquran Tuhan berfirman,
Tidakkah mereka memperhatikan
Bagaimana unta-unta itu diciptakan?6)

Pendeta Martin menjelaskan Injil Lukas 18:25
Gambaran orang-orang berharta yang sulit masuk surga
Bagaikan sulitnya unta masuk ke lubang jarum.

Nasruddin heran, apakah Tuhan berbicara buruk tentang unta?
Sang Pendeta menepis, itu hanya metafora
Orang-orang Yahudi kaya memiliki kebiasaan
Harta mereka dibawa di kiri-kanan punggung unta
Mereka tidak bisa memasuki pintu
Rumah-rumah Yahudi yang menyerupai lubang jarum
Bentuknya sempit dan memanjang
Siapa yang ingin memasuki lubang itu
Harus melepaskan hartanya.

/5/

Minggu kedua setelah pulang haji
Nasruddin berlatih menaiki unta
Lekuk punggungnya bagaikan bukit Tursina
Tempat Nabi Musa menerima wahyu.

Di atas punggung unta
Nasruddin membayangkan Rasulullah
Berhijrah ke Madinah
Di sana kaum Anshar berebut
Menghendaki Nabi tinggal di rumah mereka
Nabi membiarkan untanya berhenti sendiri
Dan unta itu duduk di pelataran
Rumah milik Abu Ayyub al-Anshari
Di situlah Nabi tinggal.

Di Madinah banyak orang berilmu
Memilih profesi sebagai konsultan unta
Mereka dibayar oleh para saudagar kaya
Setelah menaksir kemampuan hewan itu
Menyesuaikan diri dengan padang pasir
Tidak makan dan minum
Selama berminggu-minggu.

/6/

Unta hewan yang pintar
Nabi memperlakukannya begitu mulia
Tidak sia-sia Nasruddin membelinya
Jauh-jauh dari Arab
Ditentang keluarganya sendiri
Ditertawakan oleh para tetangga
Dianggap orang gila.

Masih terngiang di telinganya
Cemoohan orang-orang yang curiga
Nasruddin naik haji hanya terpaksa
Karena semua keluarganya sudah haji
Ia juga tidak pernah mengikuti latihan manasik7)
Menghapalkan doa tawaf dan sa’i.

Di dalam pesawat menuju Jedah
Para calon haji sibuk membaca buku
Fikih panduan menunaikan ibadah haji
Nasruddin membaca buku-buku ekonomi
Ia ingin umat Islam maju
Bisa membangun teknologi tinggi
Supaya pergi ke Tanah Suci
Naik pesawat buatan sendiri.

Ustadz pembimbing haji menegurnya
Meluruskan niat menuju Mekah
Meminta ampun di depan Kabah
Menghapus dosa-dosa.

/7/

Ketika pulang haji
Nasruddin bercerita kepada Pendeta Martin
Tujuannya pergi ke Tanah Suci
Bukan untuk menghapus dosa
Bukan pula mencari pahala
Ia ingin menyelami denyut nadi
Negeri para nabi dilahirkan
Tempat yang disucikan
Pertaruhan orang-orang beriman.

Banyak orang berkali-kali naik haji
Lebih banyak yang tidak mampu memaksakan diri
Menjual harta benda, sawah, dan ladang
Semua dipertaruhkan demi iman
Tapi ibadah haji dibisniskan
Dana umat diselewengkan.

Pendeta Martin terkejut
Semua umat beragama punya tabiat sama
Menjual agama untuk kepentingan pribadi.

Kita harus berbuat sesuatu, kata Nasruddin
Pendeta Martin mengamini
Umat di bawah bernasib sama
Hidup susah dan menderita
Kondisi yang subur untuk diadu domba
Bukan soal Islam atau Kristen
Kemiskinan tidak pandang agama.

Pagi hingga petang
Malam hingga larut
Nasruddin dan Pendeta Martin selalu berdiskusi
Apa yang bisa dilakukan untuk umat
Percakapan tentang buku-buku dan kitab suci
Makin mengakrabkan keduanya.

Unta Nasruddin senang berada di gereja tua itu
Para jemaat sangat menyayanginya
Mengajaknya bercakap-cakap
Memperlakukannya sebagai manusia.

/8/

Setiap pagi Nasruddin menuntun unta
Kadang berada di punggungnya
Berjalan mengelilingi kampung
Menyisir tepi-tepi jalanan kota.

Orang-orang yang melihat Nasruddin
Menganggapnya manusia aneh
Menunggang unta di tengah kemacetan
Terjepit di antara ribuan kendaraan bermotor.

Nasruddin tidak peduli
Naik unta dianggap peristiwa historis
Napak tilas perjalanan agama Islam
Dari zaman Nabi Muhammad.

Di punggung unta ada sejarah
Kapitalisme perdagangan kaum Muslim masa awal8)
Terpancar dari Madinah ke Baghdad
Granada, Cordoba, Damaskus
Lalu Paris, New York, London
Pusat-pusat kapitalisme dunia
Tumbuh pesat di atas kuburan
Sejarah peradaban Islam.

/9/

Suatu hari Nasruddin dan untanya
Masuk ke pelataran kantor-kantor perbankan
Bursa efek dan pusat-pusat bisnis
Perbelanjaan modern.

Nasruddin melihat untanya seperti gelisah
Membandingkan keadaan ekonomi negeri Syam
Yang ramai di zaman Nabi Muhammad
Dengan perekonomian di zaman ini.

Nasruddin membiarkan saja
Ia ingin unta itu tahu dunia sudah berbeda
Jauh keadaannya dibandingkan 14 abad silam
Kaum Muslim hidup dalam kapitalisme global
Di bawah kendali negara-negara industri maju
Dan mereka bukan pemeluk agama Muhammad.

Unta itu menatap Nasruddin
Pandangannya kosong
Mulutnya bergerak-gerak,

“Siapa saya sekarang?” tanyanya

“Kamu adalah masa lalu,” jawab Nasruddin.

Ia tahu pernyataan itu sangat keras
Bisa melukai perasaan unta
Tapi ia sengaja mengatakan itu
Agar untanya mengerti
Dunia masa kini bukan lagi miliknya.

“Apakah saya masih berguna?”

“Masih, tapi sekadar alat analisa?”

“Apa bisa lebih spesifik?” tanya unta itu penasaran.

Nasruddin menjelaskan,

Begini. Kamu adalah simbol perekonomian kaum Muslim
Tapi itu dulu, ketika ekonomi Islam masih sangat dominan
Sekarang dunia sudah berubah
Tidak bisa lagi dijelaskan melalui sudut pandang Islam
Perkembangan ekonomi global
Didominasi oleh sistem kapitalisme Barat
Semuanya ahistoris dalam sejarah Islam.

Unta itu menyibakkan ekornya
Matanya berkejap-kejap
Seperti sedang menutupi perasaannya
Sesaat kemudian,

Baiklah, bukannya saya tidak mau disalahkan
Tapi rasanya kurang fair kalau hanya melihat dari pihak saya
Ini pasti ada yang salah dengan umat Islam sendiri.

Nasruddin terperangah
Ia merasa unta itu mulai menebar tuduhan
Memfitnah kaum Muslim.

“Apa yang salah dengan umat Islam?” kejar Nasruddin

Unta itu menatap Nasruddin
Ia tahu majikannya mulai kesal
Lalu ia melanjutkan,

Lihat, apa yang dilakukan kaum Muslim
Selama berabad-abad
Mereka hanya mengutak-atik syariah
Bertengkar soal akidah
Perkara semacam itu tidak pernah selesai
Di zaman saya dulu, pembebasan Islam itu kongkrit
Pesan-pesan Alquran sangat hidup
Tapi sekarang menjadi abstrak
Kaum Muslim tidak mampu menghidupkannya
Mereka tertidur selama berabad-abad
Seperti para pemuda Ashabul Kahfi
Ketika bangun dunia sudah berubah
Mereka tidak sanggup hidup
Akhirnya memilih mati.

Kata-kata itu seperti godam
Palu besar yang dipukulkan ke kepala Nasruddin
Matanya dipenuhi kunang-kunang
Samar-samar menatap cahaya
Lampu-lampu kendaraan yang mulai menyala.

/10/

Hari mulai senja
Nasruddin menuntun untanya
Memasuki halaman gereja
Tapi langkahnya terhalang
Garis polisi di sekeliling pagar
Batu-batu berserakan di bagian dalam
Genting yang hancur dan pecahan kaca.

Suasana di dalam gelap dan sepi
Azan magrib berkumandang
Bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan di kampung Setu
Terdengar oleh Nasruddin
Seperti tangisan para jemaat gereja.

Orang-orang yang lewat menuju masjid
Menghampiri Nasruddin dan bercerita
Tapi pagi puluhan massa datang dari mana
Menyerang gereja dan memukuli Pendeta Martin
Sekarang dia dirawat di rumah sakit.

Bumi yang dipijak berguncang
Langit tidak mengirimkan berita
Orang-orang itu membantu Nasruddin
Membawa untanya ke dekat masjid
Nasruddin bergegas menuju rumah sakit
Bibirnya tak henti membaca doa.

Malang tak dapat ditolak
Beberapa menit sebelum ia datang
Pendeta Martin sudah berpulang
Menghadap Tuhan Bapak
Di kerajaan surga.

/11/

Gereja itu masih dikelilingi garis polisi
Batu-batu dan pecahan genting dilumat sepi
Sesepi kematian penghuninya yang tragis
Berita ini jangan dieksposes, kata petugas
Nanti memancing kemarahan yang lebih besar
Semua sudah ditangani pihak berwajib.

Pendeta Martin pergi terlalu cepat
Banyak pekerjaan sudah dibuat
Membangun solidaritas
Menghilangkan sekat-sekat
Antarumat beragama.

Nasruddin bersandar di pohon palem
Membayangkan orang-orang dari mana
Datang sambil meneriakkan takbir
Menyerang
Lalu menghilang.

Beberapa jemaat gereja menghampiri Nasruddin
Menghiburnya dengan kutipan Alkitab
Seorang dari mereka berkata,

Tuan, bila gereja ini masih diizinkan ada
Sudilah Tuan membiarkan unta ini
Tetap tinggal di sini bersama kami
Seperti pesan Bapak Pendeta sebelum wafat
Kami berjanji akan merawatnya
Sebaik Tuan menyayanginya.

Nasruddin tertunduk
Tangannya mengusap punggung unta
Di atasnya pernah duduk
Seorang Nabi utusan Tuhan
Kemudian ia berbisik ke telinga unta,

Kita akan tinggal di sini
Saya akan menggantikan Bapak Pendeta
Menjaga gereja ini.

Azan zuhur berkumandang
Bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan
Di kampung Setu.

Orang-orang yang lewat menuju masjid
Menyalami jemaat gereja
Menyampaikan belasungkawa
Seorang yang bersurban dan berpeci haji
Menghampiri Nasruddin dan berkata,

Biarlah unta ini kami bawa
Kami akan buatkan rumah untuknya
Di samping masjid.

Catatan Kaki

1. Amil adalah orang yang bertugas mengurus jenazah. Biasa dibedakan dengan amil zakat yaitu orang atau lembaga yang bertugas dalam pengumpulan dan pengelolaan zakat.

2. Status haji mardud didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh al-Thabrani: “Tidak ada talbiyah bagimu dan tidak ada keberuntungan atasmu karena makananmu haram, pakaianmu haram, dan hajimu mardud (ditolak).” Biasanya dibedakan dengan haji makbul yaitu haji yang diterima karena terpenuhi syarat-syaratnya, dan dibedakan juga dengan haji mabrur yaitu haji yang sejati, karena ibadah haji mampu mengubah perilaku seseorang menjadi lebih baik.

3. Negeri Syam sekarang dikenal dengan nama Suriah. Sejak usia 12 tahun Muhammad telah sering diajak oleh pamannya, Abu Thalib, untuk berdagang di Syam. Uraian yang lengkap mengenai ini lihat Imam Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, terjemahan, Jld 1, Jakarta, Darul Falah, Cet. V, 2005.

4. Daun palem adalah simbol dari kemenangan, diasosiasikan dengan kejayaan Yesus memasuki kota Yerusalem. Lihat, Yohanes 12:12-13.

5. Kejadian 24 adalah bagian dari Kitab Kejadian dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Termasuk dalam kumpulan kitab Taurat yang disusun oleh Musa. Lihat, http;//id.wikipedia.org/wiki/Kejadian_24

6. Surat al-Ghasiyah ayat 17: Afalaa yandhuruuna ila ‘i-ibili kayfa khuliqat

7. Manasik = tata cara pelaksanaan ibadah haji

8. Istilah kapitalisme perdagangan (commercial capitalism) berasal dari seorang sosiolog dan historian Prancis, Maxime Rodinson, yang meyakini bahwa masyarakat Muslim awal mempraktikkan kapitalisme jenis ini. Lihat Maxime Rodinson, Islam and Capitalism (terjemahan Inggris oleh Brian Pearce), London, Allen Lane, 1974. Lihat juga, Gene W. Heck, Charlemagne, Muhammad, and the Arab Roots of Capitalism, Walter de Gruyter, 2006

Puisi di atas adalah salah satu puisi yang dimuat dalam buku Ahmad Gaus, Kutunggu Kamu di Cisadane: Antologi Puisi Esai (KomodoBook, 2012)

Follow My Twitter @AhmadGaus
Face Book: Gaus Ahmad
Email: gausaf@yahoo.com
_______________________________

Negeri Ini Kekurangan Penulis

typing her life

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. Menulis adalah bekerja untuk keabadian — Pramoedya Ananta Toer

“Menulis? Nggaklah, gw gak bakat kalee…!!” Kalimat seperti itu sering saya dengar dari orang-orang yang menganggap kegiatan tulis-menulis sebagai sesuatu yang asing.

Menulis memang menuntut suatu keterampilan khusus. Tapi, semua bentuk keterampilan–termasuk menulis–pada dasarnya bisa dipelajari. Kesalahan banyak orang ialah terlalu percaya pada mitos bahwa seorang penulis itu dilahirkan, bukan dibentuk. Akibatnya, orang yang merasa tidak dilahirkan sebagai penulis memiliki alasan untuk menjauhi profesi ini.

Dalam pandangan tradisional, penulis itu profesi istimewa yang hanya bisa disandangkan pada orang-orang tertentu. Dan celakanya pula, sebagian penulis secara sadar membentuk dunia mereka sebagai dunia yang asing bagi kebanyakan orang. Semakin tidak tersentuh dunia itu semakin istimewa kedudukannya. Saya pernah mendengar seorang penulis terkenal mengeluh karena, menurutnya, sekarang ini semua orang ingin menjadi penulis dan tidak ingin menjadi pembaca. Gejala itu, lanjutnya lagi, bisa dilihat dari blog-blog yang bertebaran di internet yang isinya kebanyakan hanya “sampah”.

Menurut saya pandangan semacam ini lumayan gawat. Bagaimana mungkin seorang penulis tidak bisa mengapresiasi karya orang lain. Urusan “sampah” itu karena dia melihat dari kacamatanya sebagai seorang penulis terkenal. Kalau saja dia mau sedikit berpandangan positif, sampah itu juga bernilai, setidaknya bagi si penulisnya yang sudah bersusah-payah menuangkan pikiran-pikirannya. Itulah gambaran dunia tulis-menulis kita yang dibesarkan oleh kultur elitisme.

Dalam kultur writerpreneurship*), pandangan semacam itu dijauhkan. Setiap orang diajak untuk belajar dan berlatih menjadi penulis. Profesi penulis adalah cita-cita luhur sebagaimana cita-cita untuk menjadi pengusaha, pengacara, pejabat, politisi, ilmuwan, dan sebagainya.

Pandangan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi penulis bukanlah ajaran writerpreneurship. Sebagai lapangan kerja, tulis-menulis adalah dunia yang terbuka lebar. Semakin banyak orang yang menjadikan aktivitas tulis-menulis sebagai sumber penghasilan semakin baik, karena itu berarti mengurangi pengangguran dan meringankan beban pemerintah yang tidak selalu bisa menyediakan lapangan kerja. Sebagai lapangan pengabdian, dunia tulis-menulis mengundang siapa saja untuk menyumbangkan pikiran-pikiran terbaiknya melalui karya yang bermanfaat bagi banyak orang.

Dibandingkan dengan penduduknya, jumlah penulis di negeri kita ini masih sangat sedikit. Kalau kita bertanya kepada pelajar atau mahasiswa siapa penulis favorit mereka, mereka lebih hapal dengan nama-nama penulis asing. Tentu ini ada hubungannya dengan membanjirnya novel dan komik terjemahan di toko-toko buku kita.

Para penerbit memiliki pertimbangan sendiri mengapa mereka lebih suka menerbitkan buku-buku terjemahan daripada buku karya anak bangsa sendiri. Pertimbangan utamanya tentu soal pasar buku terjemahan yang sudah pasti. Karena mereka biasanya membeli copyrights buku-buku yang di negeri asalnya menjadi best seller. Dengan hanya meletakkan logo international best seller pada sampul buku terjemahannya, dipastikan buku itu akan habis terjual.

Pertimbangan lainnya karena para penerbit kekurangan naskah buku yang potensial dari dalam negeri, padahal sebagai lembaga bisnis mereka harus terus memutarkan roda perusahaannya. Berapa buku yang terbit di Indonesia? Ternyata, jumlah buku baru yang terbit di Indonesia hanya sekitar 8 ribu judul per tahun. Jumlah itu jauh lebih rendah dibandingkan negara Asia Tenggara lain, seperti Malaysia yang menerbitkan 15 ribu judul per tahun atau Vietnam yang mencapai 45 ribu judul per tahun.

Ini tentu fakta yang menyedihkan. Bagaimana mungkin negeri dengan penduduk 237 juta jiwa kekurangan buku dan penulis. Memang sih, kita bisa mengatakan bahwa bangsa ini dibesarkan oleh tradisi lisan (oral) sehingga tidak terbiasa menulis. Itu adalah alasan klise yang tidak sepatutnya dijadikan halangan psikologis (mental block). Justru seharusnya ia menjadi faktor pendorong bagi tumbuhnya minat pada dunia tulis-menulis.

Dalam ungkapan “negeri ini kekurangan penulis” sebenarnya juga terselip undangan kepada generasi muda untuk menekuni profesi ini. Dunia tulis-menulis adalah dunia yang pintunya masih terbuka lebar dan bisa dimasuki siapa saja. Kalau kita tidak masuk ke dalamnya maka orang lainlah yang akan memasukinya. Orang lain itu adalah para penulis asing yang menjadi tuan di negeri kita. Dalam suatu diskusi saya bertanya kepada peserta siapa penulis Indonesia yang paling dia sukai, dan dia menjawab Kahlil Gibran. Hallooooooo… Kahlil Gibran itu penulis Libanon, bro, masak sih tidak tahu.

Pada kesempatan yang sama saya juga menanyakan kepada peserta lain, siapa penyair Indonesia yang dia kenal, dia menjawab Chairil Anwar. Beberapa peserta yang lain juga menyebut nama penyair Angkatan 45 itu. Wooooyyyyy… masak hari gini penyair Indonesia masih juga Chairil Anwar. Mau dikemanakan WS Rendra, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Hamid Jabbar, Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Hasan Aspahani, Agus R. Sarjono, Joko Pinurbo, Jamal D. Rahman, Hanna Fransisca, Susy Ayu, Weni Suryandari…??

Aaahhh… sudahlah! Masyarakat kita memang kurang akrab dengan dunia tulis-menulis. Dan ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk terus memenuhi ingatan mereka dengan kreativitas kita sehingga suatu hari nanti akan tercipta masyarakat yang menghargai karya negeri sendiri.

Tulisan di atas disampaikan pada Workshop dan Pelatihan Menulis di Kampus Asia Afrika, Pamulang, Tangsel, 8 Desember 2012.

 *) Tentang WriterPreneurship, selengkapnya silakah Anda baca di buku saya: “WriterPreneurship: Bisnis dan Idealisme di Dunia Penulisan” (Penerbit Referensi, 2012).

Follow Twiter saya: @AhmadGaus — FB: Gaus Ahmad — email: gausaf@yahoo.com

Kota-kota dalam Koloni Airmata

Hujan menepi pada dinding beton rumah-rumah yang menyekap ingatan tentang rasa sakit. Sejarah yang dikubur oleh cairan timah yang membeku dalam tubuh orang-orang yang mengaumkan kepedihan. Dalam reportoar para pembenci di atas panggung yang disulap menjadi zona perang.

Para penjaga malam negeri ini menjerit kesakitan. Mencabut luka satu demi satu reruntuhan peradaban yang telah asing. Orang-orang menjelma serigala—mencabik-cabik tubuh mereka sendiri, menggali urat nadi untuk menghanyutkan rasa sakit yang mengeras dalam genangan darah.

Mereka berbaris membentuk pasukan burung, berarak di atas langit yang robek oleh desingan peluru. Para malaikat melantunkan salawat, memisahkan roh-roh jahat dari butiran hujan—sebab hujan adalah airmata yang menguap ke angkasa, tangisan yang direnggut penguasa-penguasa durjana.

Kota-kota kini dalam koloni airmata dan kabut dan dingin yang menebal di setiap persendian. Orang-orang bergegas memburu bayangan langit yang runtuh menjadi percikan api. Semua mimpi berserakan dan terbakar. Sebab mereka tak mampu lagi membedakan warna senja dan fajar yang mulai menyingsing di kaki bukit.

Hukum Bermazhab dalam Sastra dan Pintu Ijtihad Puisi yang Tidak Pernah Ditutup

Pengantar untuk Buku Puisi Esai:
KUTUNGGU KAMU DI CISADANE
Oleh Ahmad Gaus

Duapuluh tahun kemudian saya kembali menulis puisi. Selama rentang waktu itu saya hanya menulis artikel opini atau kolom di media massa, serta sejumlah buku. Dunia puisi sudah saya tinggalkan, dan nyaris tidak pernah diingat lagi. Saya sudah menganggapnya sebagai masa lalu, catatan kelam dalam karir kepenulisan saya.

Tahun 1991 adalah puncak kebencian saya terhadap puisi—kurun waktu di mana saya banyak menulis dan mengirimkan puisi-puisi saya ke media massa, tapi tidak pernah dimuat. Akhirnya saya muat sendiri dalam majalah mahasiswa yang saya pimpin. Mungkin ini pelajaran penting: seorang penulis tidak perlu bisa menuangkan gagasannya ke dalam semua bentuk tulisan. Saya merasa tidak berbakat menulis karya fiksi seperti puisi dan cerpen (cerita pendek). Ada cerpen yang saya tulis sejak tahun 2007 dan sampai sekarang belum juga selesai. Ada juga puisi yang saya selesaikan selama 3 tahun, padahal puisi itu pendek saja. Mungkin karena saya menuliskannya dengan keraguan yang sempurna—keraguan bahwa saya tidak berbakat menjadi penyair!

Tetapi, saya memang tidak bercita-cita menjadi penyair. Bahkan sampai sekarang. Perkara dulu—saat remaja—saya suka menulis puisi, biasanya karena sedang jatuh cinta. Ada juga puisi-puisi yang saya tulis karena perasaan “dendam” kepada sejumlah penyair yang begitu licik bermain dengan kata-kata. Sejak duduk di bangku Tsanawiyah/SMP saya membaca puisi-puisi karya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan yang lainnya, dengan kekaguman yang meletup-letup. Lalu saya mencoba meniru mereka, menulis puisi. Kemudian saya mengirimkannya ke media massa. Untuk sebagian besar saya tidak tahu nasib puisi-puisi itu, mungkin masuk dalam keranjang sampah. Ada juga redaksi yang berbaik hati mengembalikannya dalam amplop tertutup, dan saya membukanya dengan tangan gemetar di toilet sekolah. Isinya selalu saja: Anda belum beruntung!

Maka saya segera memutar haluan. Energi dan waktu tidak ingin lagi disia-siakan untuk sesuatu yang tidak pasti. Saya kembali melanjutkan kebiasaan menulis artikel opini. Sejak duduk di bangku kelas 2 Aliyah/SMA artikel dan esai saya sudah dimuat di beberapa koran. Saya masih ingat honor pertama saya dikirimkan melalui pos wesel dan nyangkut di Balai Desa. Bapak Ketua RT di kampung saya, Haji Aman namanya, memberikannya kepada saya saat bertemu di mushalla sebelum salat magrib. Sambil menyerahkan itu, entah mengapa dia begitu iseng mengumumkan kepada para jamaah salat magrib jumlah yang tertera dalam wesel sebesar Rp7.500,00. Itu tahun 1986.

Ketika mulai duduk di bangku kuliah, tulisan-tulisan saya mengalir lebih deras. Bahkan saat duduk di semester empat, saya diberi kehormatan untuk mengisi kolom tetap di harian Jayakarta (kalau tidak salah diterbitkan oleh Kodam Jaya). Koran itu, seperti juga koran-koran lainnya hanya membuka rubrik budaya pada edisi minggu. Saya pun kerap membaca puisi-puisi dari para penyair yang tersebar di koran-koran edisi minggu itu. Tentu saja saya juga membaca majalah sastra seperti Horison. Jadi, walaupun tidak menulis puisi, diam-diam saya tetap menikmatinya.

Hampir semua puisi yang saya baca di media massa sebenarnya merupakan puisi yang sulit untuk dipahami. Saya sendiri menikmatinya bukan terutama karena saya dapat memahaminya, melainkan justru karena saya tidak memahaminya. Ada pola yang—entah dari mana dan sejak kapan—membentuk semacam kesadaran dalam diri saya bahwa semakin sulit sebuah puisi dipahami, semakin baik bagi saya. Semakin abstrak bahasanya semakin indah.

Membaca puisi ialah memasuki lorong-lorong gelap yang saya tidak tahu apakah di kiri-kanannya ada ranjau dan di ujung sana ada jurang. Tapi saya sudah terbiasa menikmati berada di dalam kegelapan itu. Sebuah puisi—seperti juga sebuah lukisan—yang mendorong lahirnya banyak penafsiran menunjukkan kekayaan makna puisi tersebut. Guru bahasa Indonesia saya di SMA dulu mengatakan bahwa puisi Chairil Anwar yang berjudul “Nisan” ditafsirkan berbeda-beda oleh para pengamat sastra asing. Begitu juga puisi pendek dari Sitor Situmorang berjudul Malam Lebaran, isinya hanya satu baris /”Bulan di atas kuburan”/ namun menimbulkan ragam penafsiran. Semakin banyak tafsir semakin baik, karena itu berarti puisi tersebut sangat kaya makna.

***
Belakangan saya tahu bahwa pola pikir semacam itu tidak bebas pengaruh. Ada semacam discourse dalam dunia perpuisian yang menghegemoni kesadaran publik bahwa yang disebut puisi ialah “ini”, bukan “itu”. Estetika puisi ialah “begini”, dan bukan “begitu”. Mungkin itu yang membuat puisi semakin rigid. Dunianya dikelilingi oleh tembok tinggi, di dalamnya hanya terdapat para penyair yang duduk satu meja dengan sesama penyair sambil minum anggur, mendiskusikan hal-hal penting tentang senja dan pohon cemara. Sementara itu—mengutip Chairil Anwar—“mereka yang bukan penyair tidak ambil bagian.”

Di tangan para penyairlah, hidup dan matinya puisi dipertaruhkan. Publik tidak ambil bagian karena mereka hanya konsumen—seperti umat dalam tradisi keagamaan yang harus ikut saja apa kata ulama. Hukum mana yang boleh diikuti dan tidak, sudah ada ketentuannya. Para penyair juga kerap diperlakukan seperti ulama yang kepada mereka dinisbatkan mana karya puisi dan mana yang bukan, mana sekte kepenyairan yang benar dan mana aliran sesat. Puisi-puisi jenis baru tidak tercipta karena seakan-akan ada paham bahwa “pintu ijtihad sudah ditutup”. Para penyair baru harus mengikuti saja salah satu mazhab yang sudah ada.

Jika benar begitu, maka inilah saat dimana dunia perpuisian sebenarnya justru membutuhkan lahirnya tradisi baru yang memberi nafas baru bagi dunia literasi. Sejarah kesusastraan di tanah air mencatat adanya dinamika pembaruan semacam itu, dan meletakkannya dalam arus perubahan budaya. Begitulah pergeseran dari Angkatan Balai Pustaka ke Pujangga Baru, kemudian Angkatan 1945, dan seterusnya. Karena itu, kelahiran tradisi baru dalam penulisan puisi sejatinya akan memulihkan fungsi pembaruan dalam kesusastraan.

Atas dasar itu, saya sangat terkesan bahwa seorang Sapardi Djoko Damono memberi apresiasi yang begitu besar terhadap puisi-puisi esai karya Denny JA dalam buku Atas Nama Cinta. Kita tahu bahwa Sapardi merupakan salah satu “paradigma” dalam dunia perpuisian modern di tanah air. Ia menjadi kiblat bagi banyak penyair muda. Karya-karyanya diakui telah menjelma menjadi kerajaan estetika tersendiri—estetika lirisisme, seperti yang mengemuka dalam diskusi “Imperium Puisi Liris” di Bentara Budaya Jakarta, Maret 2008. Sebagian karya puisi yang lahir dari tangan penyair-penyair muda, saya kira, juga bercorak sapardian.

Puisi-puisi esai karya Denny JA adalah kekecualian terhadap paradigma sapardian tersebut. Puisi sapardian bercorak liris, sementara puisi Denny JA bercorak esai—maka kemudian diberi nama “puisi esai”, sebuah gabungan istilah yang juga baru dalam kesusastraan Indonesia.

Kenyataan bahwa Sapardi memberi apresiasi dan dorongan bagi lahirnya karya-karya puisi jenis baru, memperlihatkan bahwa ia tidak ingin melihat puisi Indonesia terperangkap dalam statisme. Ada kerinduan terhadap terobosan, karena selama puluhan tahun penulisan puisi mengalami stagnasi, tidak ada perubahan yang berarti. Padahal, “pintu ijtihad” untuk menciptakan puisi-puisi jenis baru tidak pernah ditutup, dan mazhab-mazhab dalam sastra juga bermunculan, misalnya dulu ada mazhab sastra realisme sosial, mazhab sastra untuk sastra—yang merupakan derivasi dari ideologi seni untuk seni (l’art pour l’art), mazhab sastra kontekstual yang dipelopori oleh Ariel Heriyanto dan Arief Budiman, dan belakangan ada mazhab sastra dakwah.

***
Saya sendiri, pada mulanya, membaca puisi-puisi esai Denny JA dengan perasaan heran dan penuh tanya; ini puisi atau bukan? Kok penuturannya bercerita. Rupanya pengaruh paradigma lirisisme masih sangat kuat dalam kesadaran saya, sehingga nyaris kehilangan perspektif untuk menilai sebuah karya puisi yang bukan dari mazhab lirisisme.

Setelah berulang-ulang membacanya, saya meyakini puisi jenis ini sebenarnya yang biasa dibaca di panggung-panggung agustusan karena mudah dipahami. Saya menyebut panggung agustusan untuk menunjukkan bahwa popularitas sebuah puisi ialah ketika ia dibaca oleh masyarakat awam di atas panggung, dan agustusan adalah panggung yang paling populis.

Membaca puisi esai mengingatkan saya pada jenis tulisan opini. Di dalamnya ada gagasan yang tidak disembunyikan. Dituangkan dalam format puisi, namun cara bertuturnya esai. Yakni, dengan bahasa komunikasi sehari-hari. Bukankah puisi itu sendiri sebenarnya ialah komunikasi? Saya berpikir bahwa siapa saja bisa membuat puisi semacam ini—yang bukan penyair pun bisa ambil bagian!

Maka saya mulai menulis kembali puisi, setelah lebih dari dua puluh tahun tidak melakukannya. Melalui puisi esai, saya menemukan cara baru beropini. Dan inilah lima buah puisi esai saya yang dimuat dalam antologi ini, yang semuanya memotret dinamika kehidupan sosio-politik dan religius di tanah air beserta para aktornya.
***

Seperti halnya ritual-ritual dalam agama Islam yang saya peluk, dimana ada hukum yang fleksibel untuk mengikuti salah satu mazhab, maka pilihan saya untuk bermazhab pada puisi esai ini pun ada di dalam kerangka fleksibilitas tersebut. Sebagai penganut mazhab Syafii saya tidak menuduh sesat penganut mazhab Hanafi, Hanbali, Maliki, bahkan Dja’fari (Syiah). Sebagai penganut mazhab puisi esai, saya juga tidak hendak menisbikan mazhab puisi liris, puisi eMbeling, dan sebagainya. Bahkan saya tetap mengapresiasi, menikmati, dan seandainya mampu, mencipta puisi-puisi jenis itu.

Kiranya tidak perlu saya menjelaskan satu persatu dari lima puisi esai saya yang dimuat dalam buku ini. Saya serahkan kepada pembaca untuk menilainya. Sebagai mazhab baru dalam sastra Indonesia, puisi esai niscaya terus mencari bentuk melalui berbagai kreasi, walaupun mungkin tidak akan ada, dan memang tidak perlu ada, bentuk final dan standar. Puisi-puisi saya ini boleh jadi hanya salah satu varian saja dari apa yang dinamakan puisi esai itu.

Sebelum menutup pengantar ini, saya ingin menyampaikan penghargaan yang tulus kepada banyak pihak yang memungkinkan terbitnya buku ini. Pertama-tama saya harus berterima kasih kepada Denny JA yang terus mendorong agar buku ini segera diterbitkan. Kritik, saran, dan masukan-masukannya telah menjadi bagian dari karya ini baik yang disampaikan melalui email maupun dalam berbagai pertemuan di Ciputat School—sebuah forum yang difasilitasi oleh Denny JA untuk menginspirasi pencerahan budaya.

Teman-teman lain di Ciputat School yang membaca naskah awal puisi-puisi ini juga ikut memberi masukan, bahkan kritik yang pedas, sehingga acapkali saya tidak bisa tidur nyenyak atas kritik-kritik tersebut. Namun saya tahu semuanya dilakukan dengan tulus demi kesempurnaan yang relatif. Para pegiat Ciputat School yang saya maksud ialah: Elza Peldi Taher, Jonminofri, Ihsan Ali Fauzi, Zuhairi Misrawi, Anick HT, Neng Dara Affiah, Novriantoni Kahar, Budhy Munawar-Rachman, Nur Iman Subono, Ali Munhanif, Jojo Rahardjo, dan lain-lain yang tidak cukup halaman untuk menyebutkannya satu persatu.

Teman-teman di Jurnal Sajak juga telah banyak memberi dukungan. Mereka adalah Agus R. Sarjono, Acep Zamzam Noor, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Tugas Suprianto, dan khususnya Jamal D Rahman, yang bersedia meluangkan waktu menulis kata pengantar untuk buku ini.

Akhirnya, buku ini dipersembahkan kepada para bidadari yang selalu menyemarakkan hari-hari saya dengan canda dan tawa mereka: istri tercinta, Jumiatie Zaini dan anak-anak kami, Alifya Kemaya Sadra dan Raysa Falsafa Nahla, serta keponakan kami yang tinggal bersama kami, Winda Widyana.
Karya ini jelas sangat jauh dari sempurna untuk dipublikasikan. Namun saya berpegang pada satu adagium di dunia penulisan: Terbitkan karyamu hari ini, besok engkau buat yang lebih baik lagi! Selamat membaca.

Ciputat, 1 Juli 2012
Ahmad Gaus

_________________________________________________________________________________________________________
Buku KUTUNGGU KAMU DI CISADANE tersedia di gerai-gerai Gramedia. Anda juga bisa memesan melalui alamat2 di bawah ini:

FB: Gaus Ahmad
Twitter: @AhmadGaus
Email: gausaf@yahoo.com
PIN: 21907D51
_________________________________________________________________________________________________________

Puisi Esai adalah Puisi yang Bercerita

Bumi Siliwangi, Isolapos.com

“ Puisi Esai adalah puisi yang bercerita dengan merujuk kepada fakta sosial yang pernah terjadi,” ujar Ahmad Gaus, pembicara dalam Workshop Menulis Puisi dan Esai yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang bekerja sama dengan Jurnal Sajak, Senin (16/7).

Ahmad menambahkan puisi esai merupakan cara baru menulis puisi. “Butuh retorika yang keras agar puisi ini berkembang,” tutur ahmad
Menurutnya, puisi esai merupakan bentuk komunikasi yang mudah dipahami dengan bahasa puisi yang dapat menggugah emosi. “Puisi ini tidak cukup hanya pengalaman, namun harus ada bingkai sosial,” ujar Ahmad.

Menanggapi hal tersebut, Jamal D. Rahman pembicara ke dua dalam seminar tersebut mengatakan, penyair perlu memanfaatkan bahasa sebaik-baiknya.
Selain itu, Menurut Jamal puisi esai dapat menyadarkan kepada para penyair tentang pentingnya riset. “Karena ada fakta dan fenomena sosial yang dihadirkan,” ujar Jamal. [ Julia Hartini]

Ahmad Gaus : Puisi Esai Adalah Puisi yang Bercerita