Dari Seminar Ikatan Guru Indonesia (IGI)

Ikatan Guru Indonesia (IGI)

Di era demokrasi saat ini kita tidak perlu lagi berpikir hanya boleh ada satu organisasi profesi. Sebab, organisasi-organisasi kemasyarakatan (ormas), termasuk organisasi profesi, pada dasarnya adalah gerakan sosial mandiri yang hadir untuk memperjuangkan aspirasi anggotanya.

Dalam masyarakat dengan tingkat heterogenitas yang sangat tinggi seperti kita, dan lapisan yang begitu tebal, adalah absurd untuk membayangkan hanya ada satu organ yang memperjuangkan aspirasi masyarakat. Justru semakin banyak organ semakin baik. Mereka akan berkompetisi dan bekerja keras untuk kemaslahatan masyarakat, dan terutama para anggotanya.

Ormas adalah kekuatan civil society yang menjadi tulang punggung demokrasi. Tanpa civil society tidak ada akan demokrasi. Maka kehadiran IGI (Ikatan Guru Indonesia), walaupun sudah ada PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), harus dilihat dalam perspektif ini. Keduanya, juga yang lain kalau ada, berhak hadir untuk menyejahterakan masyarakat, terutama para anggotanya. Dan secara lebih luas, mereka juga berkontribusi pada perkembangan dan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

Selamat buat IGI. Teruslah bekerja untuk anggota, teruslah berkarya untuk bangsa.

Terima kasih telah mengundang saya sebagai narasumber di  acara Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan kemarin, 25 September 2021 di Swiss Belhotel, Serpong, kerjasama IGI dan Sekjen MPR RI. Semoga kelak kita bisa lagi berkolaborasi.

 

Salam,

Ahmad Gaus

Esok Pagi Kau Buka Jendela

Catatan Ultah Pernikahan untuk JZ
Ini bukan puisi seperti yang biasa aku tulis di hari-hari istimewa. Hanya sebuah goresan air mata. Saat kamu terkurung sendiri di antara hidup dan mati. Saat napasmu tersengal, dan keringat dingin bercucuran. Namun tembok begitu angkuh, memisahkan kita yang hanya berjarak beberapa meter saja. “Doakan aku ya, jangan sampai mati karena Covid,” katamu. Aku terdiam. Di antara riuh hujan malam itu, suara batukmu terus terdengar. “Aku tidak bisa tidur,” katamu lagi. “Badanku meriang, tulang-tulangku remuk.”
Hujan semakin deras. Angin memukul-mukul jendela. Aku disergap kesunyian. Dingin merayap di punggungku. Ketika suaramu menghilang, aku mengintip dari sela pintu. Kudengar deru napasmu. Berat tertahan. Semoga kamu tertidur pulas dan besok pagi bangun kembali, jangan sampai tidak, doaku.
Dini hari itu pikiranku menerawang. Pada akhir Juni s.d. medio Juli lalu, 11 (sebelas) anggota keluargaku di Tangerang terpapar Covid-19 secara hampir bersamaan. Kakak, adik, kakak ipar, dan para keponakan. Dan mereka tinggal di rumah yang sama, rumah besar. Demi alasan keselamatan, kita memutuskan untuk tidak menjenguk, walaupun mereka sangat membutuhkan kehadiran kita. Tapi ketika aku mendengar kabar bahwa ibuku juga sakit, aku tidak peduli lagi dengan keselamatan. Aku berkali-kali ke sana, dan engkau menyertai, menembus zona merah. Begitulah… sampai ibuku benar-benar pulih, dan satu persatu keluargaku yang lain berangsur sembuh.
Kamu begitu kuat saat itu. Tapi… dua minggu kemudian kamu juga tumbang. “Penciumanku hilang,” katamu sore itu. Aku terkejut. Selama ini kita berpikir, corona begitu dekat. Tapi sekarang bukan hanya dekat. Ia sudah ada di rumah kita. Bersama kita. Akhirnya kita pun menjadi bagian dari pandemi global, dari sejarah dunia yang mengerikan.
10 hari telah berlalu. Kini kondisimu makin membaik. Dan hari ini, di ulang tahun ke-24 pernikahan kita, kamu bilang sudah bisa mencium aroma kopi dari cangkirku, meski masih samar. Kamu juga sudah bisa tertawa menonton drama Korea. Bersabarlah barang sebentar, demi syair lagu ini: “Esok pagi kau buka jendela, ‘kan kau dapati seikat kembang merah… ” (Ebiet G. Ade, Elegi Esok Pagi)
Selamat ultah pernikahan kita, Jumie Zaini. Selamat ultah juga untuk diriku sendiri. 😁
Salam peluk dari ruang tengah,
10 Agustus 2021
Ahmad Gaus

Melampaui Nurcholish Madjid

MELAMPAUI NURCHOLISH MADJID

Diam-diam, wacana Islam liberal terus menyeruak dan mengambil bentuk yang kian beragam. Islam liberal ala Nurcholish Madjid tahun 1970-an sudah dianggap kuno. Bahkan kerangka pikir Cak Nur konon sudah tidak bisa lagi digunakan karena sudah obsolet. Kini telah lahir generasi post Cak Nur yang lebih progresif, lebih liberal, selain murid-murid Cak Nur yang lain yang makin bergeser ke kanan dan menjadi pendukung gerakan-gerakan sektarian.

Bagaimana ceritanya? Yuk kita ngupi bareng di acara ini. Kita akan ngerumpi santai tentang murid-murid ideologis Cak Nur yang tercerai berai dalam berbagai sekte dan golongan. 😁

 

 

Rayap dan Laron

Selamat ulang tahun untuk maestro puisi sufistik:

Prof Dr Abdul Hadi WM.

Semoga selalu sehat dan terus berkarya. Sesuai janji saya kemarin, saya buatkan catatan kecil yang tayang di Geotimes.id, hari ini dan setangkai puisi yang dirangkum dari pikiran-pikiran Pak Hadi, sebagai kado ultah. Semoga berkenan.

 

Sastra Sufistik dari Hamzah Fansuri hingga Abdul Hadi WM

 

 

 

 

PASSING OVER: Ziarah Spiritual ala Budhy Munawar-Rachman

 

PASSING OVER: Ziarah Spiritual ala Budhy Munawar-Rachman

Oleh: Ahmad Gaus AF

Bagi para peminat kajian filsafat dan teologi, khususnya teologi antar-iman, Dr. Budhy Munawar-Rachman bukanlah nama yang asing. Dalam filsafat, Budhy mencarikan tempat yang memadai bagi filsafat Islam dalam dunia yang didominasi oleh filsafat Barat. Di kampus-kampus Islam ia mengajar filsafat Barat, di kampus umum ia mengajar filsafat Islam. Itu menunjukkan bahwa otoritasnya di kedua disiplin tersebut memang tidak diragukan.

Dalam teologi, yang dikembangkan oleh Budhy bukanlah Ilmu Kalam dalam pengertian tradisionalnya, bukan juga perbandingan agama (apalagi ini), melainkan perjumpaan agama-agama atau pencarian titik temu agama-agama (kalimatun sawaa) — mengikuti jejak gurunya, Nurcholish Madjid (Cak Nur). Dalam wacana keagamaan (Islam), Budhy memang menjadikan Cak Nur sebagai referensi utamanya, karena merasa cocok dengan posisi pemikirannya sendiri yang bercorak progresif. Budhy juga aktif mengembangkan pikiran-pikiran Cak Nur dengan bahan-bahannya sendiri dari khazanah filsafat timur dan barat.

Posisi Budhy terhadap Cak Nur kurang lebih sama dengan posisi Ibn Rusyd terhadap Aristoteles, yakni sebagai komentator dengan otoritas yang besar. Budhy menulis banyak buku mengenai pemikiran Cak Nur, salah satunya Ensiklopedi Nurcholish Madjid setebal 4000 halaman (4 jilid). Walaupun berguru secara kaffah kepada Cak Nur, bukan berarti Budhy tidak mengembangkan pemikiran sendiri. Sumbangannya yang terpenting ialah gagasan “passing over“, yang dapat disebut sebagai post-Caknurian. Melalui gagasan ini, Budhy menghadirkan harta karun yang terpendam dari agama-agama dan tradisi spiritualitas, dan sekaligus menawarkan peta jalan baru bagi perjumpaan agama-agama.

Passing over ialah “menyebrang dari satu budaya ke budaya yang lain, dari satu agama ke agama yang lain.” Yang dimaksud ‘menyebrang’ di sini bukan murtad atau menjadi muallaf, justru ini sangat dihindari, melainkan menyelam ke jantung tradisi agama/kepercayaan lain dan membuka diri untuk diperkaya oleh agama/kepercayaan lain tersebut. Jadi semacam ziarah spiritual. Dan sebagai ziarah, maka pada gilirannya proses ini diakhiri dengan gerakan kembali ke agama semula, namun dengan insight yang baru. Begitulah passing over. Dari situ akan diperoleh pengalaman-pengalaman rahasia yang bersifat mistik-spiritual.

Budhy bukan hanya berwacana. Dia sendiri yang memberi contoh (praktik) bahwa passing over itu bisa dilakukan, bahkan perlu, untuk memperkaya pengalaman religius dan spiritualitas, serta mencairkan hubungan antaragama yang membeku, bahkan cenderung mengeras akhir-akhir ini.

Para pemikir dan mistikus besar pada umumnya melakukan passing over sebelum mencapai pencerahan, sebut saja Mahatma Gandhi, yang melakukan passing over ke Kristen dan Islam, dengan tetap sebagai Hindu. Juga tokoh-tokoh seperti Louis Massignon, Henry Corbin, W.C. Smith, Sachiko Murata, William Chittick, Huston Smith, dan yang lainnya, melakukan passing over.

Budhy sendiri, setahu saya melakukan passing over ke Hindu, Katolik, Tao, dan Perenialisme. Budhy mengunjungi pusat-pusat spiritual di Tibet dan India, berguru di Brahma Kumaris, mengalami misa, praktik meditasi, Taichi, dll. Setelah menyebrang, Budhy kembali ke agamanya semula dengan pencerahan. Tidak menjadi muallaf Hindu, Katolik, atau lainnya. Budhy tetap seorang muslim yang saleh. Terakhir malah saya lihat dia menjadi khatib salat jumat pada Ramadan kemarin.

Istilah passing over berasal dari John S. Dunne, profesor teologi di Universitas Notre Dame (AS). Namun praktiknya telah dilakukan oleh para mistikus/sufi di masa lalu. Di Indonesia mungkin banyak juga yang melakukan itu, saya tidak tahu, tapi sejauh ini Budhy Munawar-Rachman lah yang merupakan konseptor sekaligus model atau prototipenya.

Dengan jaringan yang luas sebagai intelektual-aktivis, gagasan Budhy mengenai passing over memiliki pengaruh yang cukup mendalam di kalangan anak muda, satu generasi di bawahnya. Artinya, banyak anak muda yang mengikuti jejaknya. Ini jelas tidak bisa diabaikan, karena merupakan kontribusi penting bagi perjumpaan agama-agama dan dialog antar-iman di Indonesia, saat ini dan masa depan.

Melalui gagasan passing over Budhy juga menempati posisi yang unik dalam peta pemikiran dan diskursus keagamaan di tanah air. Tidak banyak orang seperti dia. Jika kalangan lintas agama ingin agama mereka dibicarakan oleh pihak luar, maka Budhy lah yang akan diundang. Bukan saja karena Budhy memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama mereka, melainkan juga karena mereka menaruh kepercayaan kepada Budhy yang selalu menebar karma baik, dalam ucapan, pikiran, dan tindakan.

Terakhir, walaupun Budhy dan saya sama-sama murid Nurcholish Madjid, bukan berarti kami selalu seia sekata. Dalam beberapa segi pemikiran Cak Nur kami sering berbeda pandangan. Bukan karena ego-intelektual, saya kira, tapi karena spektrum pemikiran Cak Nur itu sendiri yang memang sangat terbuka untuk ditafsirkan. Tapi walaupun sering berbeda pendapat, kami tidak pernah saling mengkafirkan, hehe.. Selamat ulang tahun, Budhy (22 Juni), doa-doa terbaik mengiringimu.

Catatan:

1. Tulisan Budhy Munawar-Rachman mengenai Passing Over dapat dibaca dalam bukunya, Islam Pluralis (Rajawali Press, 2004)

2. Saya dan Prof Komaruddin Hidayat pernah menyusun buku antologi lintas agama. Dan atas saran Budhy, buku itu diberi judul “Passing Over: Melintasi Batas Agama” (Gramedia, 1999, 2004)

Salam
AHMAD GAUS AF
Penulis dan editor, berkhidmat di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok.

Tulisan ini sudah tayang di geotimes.id kemarin (21/06). Pemuatannya kembali di sini dan di FB atas izin redaksi dan tanpa perubahan.

https://geotimes.id/kolom/passing-over-ziarah-spiritual-ala-budhy-munawar-rachman/

 

Puisi Ulang Tahun Alifya K Sadra

ALIFYA

Kemarin lusa, 29 Mei 2021, anak pertama saya, Alifya Kemaya Sadra tepat berumur 22 tahun. Teman-temannya merayakan secara sederhana di rumah sambil menikmati bakso buatan mama Alif yang terkenal paling uenaak se-Tangsel 🙂

Sebagai ayah teladan dan idaman, saya menulis puisi dan membacakannya di depan teman-teman Alif, dan sempat divideokan oleh anak saya yang kedua, Raysa Falsafa Nahla. Di twiter saya video itu saya posting dan menanyakan siapa ayah yang menulis puisi untuk anak gadisnya yang  berulang tahun dan membacakannya, kalau tidak ada berarti saya ayah yang langka, heheee..

Perkara Toa

Selebriti  Zaskia Adya Mecca belum lama ini mengeluhkan soal suara loud speaker masjid atau toa yang terlalu keras ketika membangunkan sahur. Dalam status instagramnya, Zaskia menilai bahwa cara membangunkan sahur seperti itu tidak etis dan tidak menghargai orang lain.

Kontan saja Zaskia menuai kecaman dari para netizen. Mereka menyebut bahwa Zaskia sudah terkena sindrom Islamofobia. Yakni, tidak suka dengan segala sesuatu yang berbau syiar Islam.

Benarkah masalahnya sesederhana itu? Masalah toa masjid sudah lama menjadi persoalan yang dikeluhkan warga secara bisik-bisik karena mereka tahu apa risikonya kalau mengangkat masalah itu ke permukaan.  Tentu kita masih ingat seorang ibu bernama Meliana di Tanjung Balai, Sumut, yang divonis 18 bulan penjara pada 2018 lalu hanya gara-gara mengeritik loud speaker masjid.

Saat itu ia meminta kepada petugas masjid agar volume speaker suara azan dikecilkan.
Kasus itu pun segera menjadi rumor yang beredar di kalangan warga lengkap dengan bumbu-bumbu penyedapnya. Mereka pun mencari tahu asal-usul agama dan kesukuan Meliana. Walhasil, kasus “sepele” itu berhasil digoreng dan meletup menjadi  isu SARA. Rumah Meliana, warga keturunan Tionghoa beragama Konghucu, itu dirusak.  Bersamaan dengan itu, rumah ibadah vihara yang ada di kota itu pun dibakar warga.

 

 

Kita bertanya-tanya, benarkah orang tidak boleh terusik ketenangannya dengan suara berisik dari loud speaker masjid? Kalau tidak boleh, berarti alangkah otoriter cara kita beragama. Kita tidak mau tahu urusan ketenangan orang lain. Kita merasa penting dan mendesak sekali mengumandangkan azan, pengajian, ceramah, dll., melalui toa, dan orang tidak boleh terganggu. Ini kepentingan agama, kepentingan Tuhan, kalian tidak boleh protes atau merasa terganggu. Begitu kira-kira cara berpikir mereka.

Suatu hari Rasulullah SAW beritikaf di masjid, lalu beliau mendengar orang membaca Al-Quran dengan suara keras. Rasulullah kemudian menyingkap tirai dan berkata, ‘Ketahuilah, setiap kamu sedang bermunajat kepada Tuhan. Jangan sebagian kalian menyakiti sebagian yang lain. Jangan juga sebagian kalian meninggikan suara atas sebagian lainnya dalam membaca.’ Atau ia berkata, ‘dalam shalat,’” (HR Abu Dawud).

Hadits ini menjadi sandaran pendapat Sayyid Abdurrahman Ba’alawi dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin. Ba’alawi menjelaskan bahwa tadarus Al-Quran, zikir atau semacamnya yang membuat “kebisingan” dilarang karena dapat mengganggu orang yang sedang shalat. Selanjutnya ia mengatakan, zikir dan sejenisnya, termasuk membaca Al-Quran, dengan suara keras di masjid hukumnya tidak makruh kecuali jika menggangu konsentrasi orang yang sedang shalat atau mengusik orang yang sedang tidur.

Dalil-dalil di atas saya pinjam dari pandangan KH Taufik Damas yang menanggapi kasus yang sama — karena sebagian orang memang masih membutuhkan dalil. Sebetulnya untuk perkara-perkara menyangkut muamalah dan hidup bertetangga kita tidak memerlukan dalil-dalil, sebab kita memiliki akal sehat, adab, sopan santun, dan tata krama dalam hidup bermasyarakat. Keterlaluan kalau berteriak-teriak lewat toa atau pengeras suara, merasa tidak mengganggu orang lain.

Toa juga tidak satu, melainkan banyak, diarahkan ke empat penjuru angin, dan dari banyak masjid yang berdekatan pula, sehingga satu sama lain saling  berbenturan, menimbulkan kebisingan yang luar biasa. Dan orang lain tidak boleh merasa terganggu. Kalau merasa tergangggu berarti dia anti-Islam, islamofobia, bahkan melakukan penodaan agama dan bisa dipenjara, rumahnya dirusak, viharanya dihancurkan, seperti yang dialami oleh Ibu Meliana dalam contoh di atas.

Kalian waras? Kalian ini sedang beragama atau sedang kesurupan?

Salam Waras dalam Beragama

Ahmad Gaus

 

Via Dolorosa: Jalan Penebusan Kristus

Via Dolorosa

Selamat menjalani Tri Hari Suci untuk para sahabat blogerku yang beragama Kristen/Katolik.

Pengorbanan ala Kristus masih dibutuhkan untuk membangun dunia yang lebih damai. Mari ikuti jalan penderitaan Yesus (Via Dolorosa). Mari bersama menuju Golgota.

Salam Kasih,

Ahmad Gaus

Please share this poster if you want to be a part of building a peaceful world:

****

Anda tertarik menulis biografi, bagaimana caranya? Baca tautan berikut ini: Menulis Biografi

 

Yuk, Menulis Biografi

Mau menulis buku biografi tapi tidak tahu bagaimana memulainya, atau tidak tahu caranya, karena anda bukan seorang penulis. Tidak tahu pula siapa yang harus dihubungi. Bukan masalah besar. Yang penting anda punya keinginan untuk membagi kisah hidup anda kepada orang lain (anak-cucu, saudara, sahabat, kolega, handai taulan, teman kecil, dll).

Alangkah senangnya sahabat-sahabat anda kalau nama mereka disebut dalam biografi anda. Mungkin itu akan menjadi hadiah terbaik anda kepada mereka.

Menulis buku biografi juga tidak harus menunggu tua. Juga tidak perlu menjadi super hero dulu baru menulis biografi. Kenapa? Coba simak catatan singkat di bawah ini berikut beberapa contoh buku biografi yang saya tulis:

BANYAK orang yang suka membaca buku, tapi lebih banyak lagi yang suka membaca biografi. Kenapa? Karena dari biografi orang akan belajar tentang kehidupan seseorang. Adalah hal yang manusiawi belaka bahwa orang senang membaca cerita hidup orang lain. Dan buku biografi mewujudkan kesenangan itu.

Nurcholish Madjid atau akrab disapa Cak Nur adalah seorang cendekiawan dan guru bangsa. Beliau juga Pendiri dan Rektor Universitas Paramadina.

Memang banyak jenis atau genre buku, dari buku-buku wacana, sastra, ilmu pengetahuan, buku tips atau “how to”, hingga komik dan panduan wisata. Namun buku biografi tetaplah jenis buku yang paling diminati.  Pasalnya, buku biografi bukan jenis buku berat yang harus berpikir keras untuk membacanya. Biografi hanya berisi cerita hidup sang tokoh — tentang kesuksesan, kebahagiaan, hobi, cita-cita, petualangan, kegagalan, kesulitan, perjuangan, dan tentu saja hal-hal yang lucu dalam pengalaman hidup sang tokoh. Semuanya human interest.

Kemal Ranadireksa adalah eks Direktur BNI, dan salah seorang pendiri Bank Mandiri.

Utomo Dananjaya atau Mas Tom adalah Pakar Pendidikan dan Tokoh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

Sebuah biografi memang ditulis untuk membagikan cerita kehidupan kita kepada orang lain.  Cerita itu bisa menjadi inspirasi bagi pembaca tentang bagaimana sang tokoh mengatasi kesulitan, juga memberi semangat kepada pembaca.

Siapa yang boleh menulis biografi, atau memiliki buku biografi? Semua orang boleh. Jangan kira bahwa yang boleh mempunyai buku biografi hanya mantan-mantan presiden, pejuang, pengusaha sukses, diplomat hebat, selebriti papan atas. Tidak.

Djohan EFfendi adalah Menteri Sekretaris Negara di masa Presiden KH Abdurrahman Wahid

Pengalaman saya sendiri sebagai penulis biografi, sebagian tokoh yang saya tulis adalah “orang-orang biasa”, bukan tokoh besar. Mengapa mereka mau menulis biografi, karena mereka ingin berbagi cerita dengan keluarga, sahabat, kolega, dan kelak untuk anak cucu. Itu saja sudah cukup memenuhi arti penting sebuah biografi.

Jusuf Talib adalah mantan politisi Golkar

Jadi, sekali lagi, tidak usah menjadi pahlawan dulu untuk membuat biografi. Jika anda seorang ayah/ibu, kakek/nenek, atau bahkan pemuda/pemudi yang ingin bercerita, anda pantas menulis biografi. Biarkan anda dikenal melalui buku anda sendiri. Biarkan anda dikenang oleh anak cucu, saudara, dan teman-teman anda melalui biografi anda. Sebab mereka tidak tahu riwayat hidup anda. Siapa yang akan membuat hidup anda menjadi berharga kalau bukan anda sendiri?

Irjen Farouk Muhammad adalah mantan Kapolda Maluku dan NTB, juga Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).

Bagus kalau anda bisa menulis biografi anda sendiri, tapi kalau tidak juga bukan masalah besar. Sebab, ada orang yang memang memiliki keahlian untuk melakukan itu. Saya termasuk orang yang berkhidmat pada pekerjaan itu sejak lama.

Sampai sekarang sudah puluhan buku biografi yang saya tulis, baik yang memakai nama saya sebagai writer, maupun sebagai ghost writer (penulis hantu) dimana nama saya tidak muncul karena sang tokoh menginginkan seolah dia sendiri yang menulis buku tersebut. Bagi saya sebagai penulis profesional tidak masalah, yang penting bayarannya cocok, heheee..

Taufiq EFfendi adalah Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara di Era Presiden SBY. Sekarang politisi Gerindra

Dalam esai ini, sebagaimana yang anda lihat, saya sertakan contoh beberapa buku biografi yang pernah saya tulis.

Koesoediarso Hadinoto adalah Pakar Nuklir, Perwira Timggi Angkatan Udara, Ketua Jurusan Elektro ITB dan UI, Direktur Industri Pesawat Terbang (Inerbang).

Jika anda berminat untuk menulis biografi, silakan hubungi saya di email: gaus.poem@gmail.com atau WA: 0857 5043 1305.

Salam,

Ahmad Gaus

Islam Peradaban versi Cak Nur

 
 
CAK NUR DAN ISLAM PERADABAN
 
 
Selamat ulang tahun ke-82 untuk Cak Nur (Nurcholish Madjid). Pemikir sejati tidak pernah mati !!
 
Cak Nur merupakan sosok yang fenomenal, sekaligus juga kontroversial, karena pikiran-pikirannya berbeda dari kebanyakan orang. Ia melawan arus, mengagetkan, dan membuat guncangan yang besar. Hal itu menunjukkan pengaruhnya yang penting. Kata cendekiawan Muhammadiyah, Dr. Moeslim Abdurrahman (alm), pikiran-pikiran keislaman yang berkembang di Indonesia sejak tahun 1970-an hanyalah catatan kaki dari pemikiran Nucholish Madjid.
 
Mengapa Cak Nur menempati posisi yang begitu penting dalam diskursus keislaman di Indonesia? Pertama, tentu saja masalah otoritas. Ia tumbuh di lingkungan pesantren, kuliah di IAIN, dan belajar kepada maha guru Islam Prof Fazlur Rahman di Universitas Chicago. Karya-karya intelektualnya memperlihatkan otoritas tersebut. Kedua, dia memikirkan hal-hal yang tidak dipikirkan/ tidak terpikirkan oleh orang lain. Dia pemikir sejati. Di antara tembok-tembok komunalisme yang menguat di kalangan Islam, Cak Nur mengetengahkan Islam sebagai ajaran fitrah, ajaran hanif, yang bersifat terbuka, dan lintas batas.
 
Itu yang sekarang hilang. Islam sekadar menjadi kategori sosiologis yang sempit, dan makin dibuat sempit oleh kecenderungan fanatik, fundamentalistik dan ototiter dalam memahami agama. Padahal kata Cak Nur, mengutip hadis Nabi, sebaik-baik agama di sisi Allah adalah al-hanifiyyat as-samhah, yakni upaya terus menerus mencari kebenaran dengan lapang dada, toleran, tanpa kefanatikan, dan tidak membelenggu jiwa.
 
Manusia tidak boleh terpenjara di dalam kotak-kotak yang sempit. Sebab Islam itu rahmatan lil alamin. Kebaikan untuk semua. Maka salah satu kritik Cak Nur yang paling keras ialah terhadap komunalisme (seperti partai Islam, negara Islam, ideologi Islam, dsb). Karena di dalam kotak komunalisme semacam itu Islam menjadi sempit. Padahal Islam adalah rahmatan lil alamin.
 
Gagasan sekularisasi Cak Nur terkait dengan pandangan ini. Jadi yang dimaksud sekularisasi oleh Cak Nur ialah tauhid tapi dalam bahasa sosiologi. Tauhid yang benar ialah menduniawikan hal-hal yang memang bersifat duniawi (seperti ideologi, negara, partai) dan tidak mensakralkannya.
 
Ketiga, Cak Nur berani mengangkat perkara-perkara yang tidak diangkat oleh orang lain, oleh ulama lain. Ia adalah pemikir Islam pertama di Indonesia yang berani “membunyikan” ayat-ayat toleransi. Selama ini ayat-ayat toleransi dalam al-Quran ditelantarkan, dianggap tidak ada, atau disembunyikan karena kepentingan-kepentingan tertentu. Banyak sekali ayat-ayat yang berhubungan dengan toleransi agama di dalam al-Quran, tapi orang tahunya cuma satu, yaitu lakum dinukum waliyadin.
 
Mengapa? Karena para mubaligh menyampaikannya hanya itu.
Padahal lakum dinukum itu bukan ayat toleransi. Itu ayat tentang menyembah Tuhan. Kalau Cak Nur berbicara mengenai toleransi maka ia mengutip al-Baqarah 62, al-Maidah 69, Ass-Syura 13, dsb.
 
Karena orang salah memilih dalil, maka setiap kali bicara toleransi, justru yang terjadi ialah menutup kemungkinan lahirnya sikap-sikap toleran. Akibatnya adalah lahirnya kesadaran palsu tentang toleransi. Toleransi menjadi ajaran pinggiran yang dianggap tidak penting. Cak Nur mengingatkan bahwa toleransi adalah ajaran pokok dalam Islam karena semangatnya bertebaran dalam al-Quran. Bahkan juga terkandung di dalam rukun iman yang enam. Jadi toleransi adalah bagian integral dari keimanan itu sendiri.
 
“Islam Peradaban”
 
Dengan pandangan toleransi semacam itu, maka di tangan Cak Nur Islam menjadi agama yang sangat humanis. Biarkan orang beriman atau tidak sesuai dengan pilihan bebas mereka (Q18:29). Sebab, iman hanya bermakna kalau lahir dari kebebasan, bukan dipaksa. Bukan wewenang manusia untuk menghukumi mereka sesat, itu urusan Tuhan. Urusan manusia adalah fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.
 
Ketika Cak Nur bicara toleransi maka yang ia bicarakan ialah kemungkinan mengembangkan doktrin toleransi itu sejauh yang dimungkinkan oleh al-Quran sehingga menjadi upaya emansipasi. Kata-katanya yang sering dikutip adalah: “Semakin dekat orang Islam pada al-Quran maka ia semakin toleran; semakin jauh dari al-Quran maka ia semakin tidak toleran.”
 
Islam yang dikembangkan oleh Cak Nur ialah Islam Peradaban yang agung, yang terbuka; bukan Islam syariah yang parsial dan tertutup, apalagi Islam politik yang partisan. Pikiran-pikiran Cak Nur saat ini tumbuh subur dan berkembang di kalangan kaum muda lintas agama. Sedangkan di kampus-kampus Islam saya kira kurang dieksplorasi sehingga tidak ada lagi semacam revolusi teologi ala Cak Nur.
 
Yang terjadi justru kampus-kampus sekarang semakin gandrung kembali ke syariah semata-mata karena “pasar”, tanpa visi keislaman yang jelas dan komprehensif karena tidak mengerti Islam ini mau dibawa ke mana, kecuali ke perkara halal dan haram. Alangkah jauhnya. Haihaata, haihaata.. !!
 
Salam Peradaban,
 
Ahmad Gaus
Penulis buku “Api Islam Nurcholish Madjid”, Peneliti CSRC UIN Jakarta, dosen Bahasa dan Budaya, Swiss German University (SGU), Tangerang.
 
Tulisan ini didedikasikan untuk mengenang almarhum Nurcholish Madjid yang lahir pada tanggal/hari ini (17 Maret).
 
Versi lengkap dari tulisan saya di atas dimuat pagi ini di Geotimes, berikut saya seratakan link-nya:
 
Apabila anda merasa tulisan ini bermanfaat, mohon di-share. Terima kasih
 
 
 
 

Evie dan Fenomena Pindah Agama

Melintasi Batas Agama
Dulu Evie Yana Farida biasa dipanggil amoi, karena keturunan Tionghoa. Sekarang juga masih — kadang-kadang. Dulu dia tinggal di Karawaci Tangerang, daerah pecinan. Tapi sekarang rumah itu sudah menjadi kantor kelurahan. Keluarganya pindah ke Cianjur.
Dulu Evie beribadah di gereja dan kelenteng sekaligus, karena memang agamanya dua. Tapi belakangan tidak lagi, karena sudah memeluk Islam atau menjadi muallaf.
Walaupun pindah agama, Evie tidak meninggalkan agamanya sambil meludah, seperti banyak dilakukan oleh orang yang pindah agama. Maksud saya, ada para muallaf yang menjelek2kan agama sebelumnya, seperti ustadz YW yang mantan pendeta, ustadzah IH yang mantan biarawati, dll.
Memang orang-orang seperti ini akan diberi karpet merah dan tepuk tangan. Karena memang ada umat yang haus dengan “siraman rohani” semacam itu, tapi sebagian besar umat Islam tidak membutuhkannya. Cerita-cerita tentang kejelekan agama lain adalah sampah, masuk ke dalam tong sampah, dan yang menyampaikannya juga tidak akan lebih dari itu.
Setelah menjadi muallaf, Evie menjalankan agamanya dengan keyakinan yang penuh. Namun, sekali lagi, dia tetap memuliakan agama sebelumnya, dan juga agama-agama serta aliran/mazhab yang lain. Evie bahkan mendalami falsafah Budha, Hindu, Syeikh Siti Jenar, dll. Dia mendengarkan Buya Syakur, Gus Baha, Fahruddin Faiz, dll.
Dengan terus belajar dan membuka wawasan, Evie merasa (dalam kata-kata dia sendiri) “Lebih terang benderang sekarang bagaimana seharusnya kita mengamalkan agama kita.” Ia juga mengatakan babwa semakin banyak berteman dengan orang-orang dari agama/aliran lain, “semakin aku menyayangi dan konsisten dengan kepercayaanku.”
Evie mewakili apa yang dalam wacana teologi disebut “passing over” yakni melintas dari agama sendiri, mengenal dan menyelami agama-agama lain atau tradisi spiritualitas yang lain guna memperluas wawasan, memperkaya batin, dan mengerti orang lain. Secara sosiologis passing over juga berperan dalam menciptakan toleransi dan pembangunan perdamaian.
Hanya orang-orang yang memiliki keberanian, rasa kepercayaan diri yang kuat pada imannya, serta memiliki cinta yang tulus pada sesama, yang berani melakukan itu. Dan Evie memilikinya.
Atas keberaniannya itu, maka saya buatkan puisi khusus buat

Evie Yana Faridadi hari ulang tahunnya hari ini. Oh ya, Evie ini adik kelas saya waktu di pondok pesantren Daar el Qolam, Tangerang. Sekarang, atau sejak belasan tahun, dia mengajar di salah satu universitas ternama di Irak utara. Selamat ulang tahun Evie, semoga Allah selalu membimbingmu dan memberi yang terbaik untukmu.
Salam Passing Over
Ahmad Gaus.

 

Baca juga: Kerukunan dan Toleransi Itu Beda, Son

 

 

Kekuatan Perempuan