Posted by: Ahmad Gaus | October 13, 2012

Islam Ditelanjangi

Melacak Akar-akar Kekerasan dalam Islam

Bedah buku “Islam Ditelanjangi” karya Robert Spencer

Makalah Disampaikan dalam Diskusi di UIN Jakarta, 20 Oktober 2003

Oleh Ahmad Gaus AF

Pengamat Pemikiran dan Gerakan Islam dari Yayasan Paramadina

Motto: Barang siapa yang menyelamatkan nyawa seorang manusia maka dia seolah-olah telah menyelamatkan nyawa seluruh umat manusia (Q 5: 32)

Buku ini ditulis oleh Robert Spencer, seorang sarjana Amerika, beragama Katolik, yang mengaku sudah belajar Islam selama 20 tahun. Oleh karena itu membicarakan, atau apalagi  mengkritisi buku ini, berarti mengadili dia secara in absentia. Akan tetapi karena buku ini sudah diterjemahkan dan sudah diterbitkan oleh Paramadina, maka saya kira saya boleh mewakili Spencer di sini. Saya akan bersikap dingin. Saya akan mengatakan apa yang dikatakan oleh Spencer, saya akan mengeritik apa yang dikritik oleh Spencer, saya akan menghujat apa yang dihujat oleh Spencer. Pendek kata, saya akan menjadi penyambung lidah dari Robert Spencer.

Buku ini ditulis beberapa saat setelah peristiwa 11 September yang mengguncangkan Amerika. Menghancurkan gedung kebanggaan Amerika Serikat WTC, menghempaskan hampir lima ribu nyawa manusia. Dan membuat publik AS hingga saat ini dicekam oleh ketakutan dan teror. Teror yang mereka takuti itu adalah terror yang dilakukan oleh orang-orang Islam sambil meneriakkan lafaz Allahu Akbar. Serbu! (Amrozi, Ali Imron, dkk ketika divonis mati mengepalkan tangannya, sambil tersenyum dan meneriakan Allahu akbar). Ini juga membuat citra orang Islam yang bengis dan berdarah dingin.

Dengan latar belakang kasus WTC itu, maka hampir semua asumsi yang dibangun di dalam buku ini terkait dengan citra Islam yang agresif, kasar, dan anti-kemanusiaan. Buku ini diawali dengan pertanyaan-pertanyaan seputar Islam dan Pluralisme, Islam dan HAM, Islam dan Perempuan, Islam dan Demokrasi, Islam dan Perdamaian, dan seterusnya, ada sembilan pertanyaan.

Saya mau sedikit melakukan overview terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dia ajukan. Tapi karena waktunya terbatas saya hanya akan memilih beberapa pertanyaan yang terkait langsung dengan tema diskusi ini, yakni akar-akar kekerasan dalam Islam. Pertanyaan pertama yang langsung terkait dengan kasus serangan teroris adalah:

1. Apakah  Islam itu agama damai?

Spencer menceritakan bahwa setelah serangan 11 September itu Osama bin Laden bertanya kepada seorang Syaikh mengenai sikap masjid-masjid di Arab Saudi. Syaikh itu menjawab bahwa para syeikh di sana, Arab Saudi, sangat positif. Mereka memuji Osama bahwa tindakannya itu sangat membesarkan hati. Para syeikh meyakini bahwa orang-orang yang mati ditabrak pesawat dan tertimpa reruntuhan menara kembar itu bukanlah orang-orang yang tidak berdosa. Oleh karena itu apa yang dilakukan Osama bin laden adalah jihad yang pahalanya sudah dijanjikan oleh Allah.

Yang membuat Spencer kecewa terhadap kaum Muslim adalah bahwa kalangan Islam moderat di Barat yang jumlahnya tidak kecil itu ternyata mereka bungkam 1000 bahasa terhadap tragedi WTC itu. Tidak berusaha untuk mengutuk. Dan kalau ada yang bersuara itu pun membingungkan bahkan mengesankan seakan-akan secara diam-diam mereka mendukung aksi terorisme itu. Dia mengutip seorang Libya yang tinggal di Amerika yang mengatakan bahwa “11 September merupakan hari yang paling indah dalam hidup saya.” Dia terfana kok ada orang Islam bergembira ketika orang lain tertimpa musibah. Kok bisa orang-orang Islam berpesta di jalan-jalan raya di Palestina, Baghdad dan Indonesia ketika ribuan orang meregang nyawa. Dia bingung, hati orang Islam itu terbuat dari apa? Ini yang membuat dia berusaha keras mencari akar-akar kekerasan dalam Islam. Kemudian dia membuka-buka al-Quran dan dia menemukan ayat yang bunyinya begini:

Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir maka hantamlah batang leher mereka. Dan apabila mereka menyerah tawanlah mereka. Sesudah itu bolehlah dibebaskan atau mintakan tebusan sampai perang usai. (QS Muhammad/47:4)

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tapi janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka karena mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kecam daripada pembunuhan (QS. 2: 190-191)

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik di mana pun saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 9: 5)

Perintah untuk melakukan perang melawan Yahudi dan Kristen lebih jelas lagi dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang lain, di mana kewajiban ini dikaitkan dengan ketidakberiman mereka terhadap apa yang diwahyukan kepada mereka. “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang-orang yang diberikan Al-Kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” (QS. 48: 29). Dan demikian pula: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi kasih sayang antar sesama mereka” (QS. 48: 29).

Tidak ada ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan keharusan menyebarkan kedamaian kepada orang-orang kafir. Oleh karena itu, ketika mantan bintang penyanyi pop Cat Stevens – masuk Islam yang sekarang mengganti namanya menjadi Yusuf Islam – meminta kepada para teroris untuk membebaskan jurnalis Amerika Daniel Pearl, suaranya tidak begitu bergema di kalangan audiennya. “Kini adalah saat yang tepat untuk memperlihatkan kepada dunia kasih sayang Islam,” kata penulis buku Peace Train ini.[1] Tetapi, mana jaminan eksplisit Al-Qur’an untuk menyebarkan kedamaian kepada non-Muslim? Permohonan petinju legindaris Muhammad Ali terhadap pembebasan Pearl juga menyingkap asumsi yang sama: “Saya tidak kehilangan harapan bahwa kita dapat memperlihatkan rasa kasih dan sayang dalam situasi yang serba sulit ini. Sebagai Muslim, kita harus tampil di depan dengan contoh nyata.”[2] Karena Pearl bukan teman seiman, maka para penculik itu dapat menjawab permintaan orang-orang terkenal yang masuk Islam dari Kristen ini dengan menegaskan Surat Al-Qur’an 48: 29, di mana mereka dibolehkan untuk tidak berlaku kasih dan sayang

Atas dasar itu Spencer berkesimpulan bahwa kekerasan itu memang memiliki akar yang menghunjam kuat di dalam jantung Islam. Maka tindakan Osama bin Laden menyerang Amerika dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa itu, kata Spencer, tidak menyimpang dari Islam. Bahkan mendapatkan dukungan doktriner dan teologis. Dengan kata lain, Osama bin Laden tidak sedang membajak Islam sebagaimana dikatakan oleh banyak sarjana. Yang dilakukan oleh Bin Laden adalah mengamalkan islam dengan sebenar-benarnya. Maka pertanyaan: Apakah Islam agama damai? Dia menjawab dengan tegas: tidak!

2. Pertanyaan lain yang dikemukakan Spencer adalah: Apakah Islam itu agama yang toleran terhadap non-Muslim?

Dia memulai bagian ini dengan pernyataan bahwa dalam masalah toleransi ini agama Islam memiliki prinsip-prinsip yang sangat bagus, misalnya ada ayat yang berbunyi: tidak boleh ada paksaan dalam agama. (Q 2:256). Tetapi dalam prakteknya, menurut dia, sejarah Islam menunjukkan betapa orang-orang Islam itu tidak bisa toleran. Contoh yang dia kemukakan adalah berlakunya sistem devshirme (h. 227) yaitu penangkapan anak-anak Kristen di wilayah Islam pada masa khilafah Usmaniah untuk dijadikan budak dan pasukan perang setelah terlebih dahulu dipaksa masuk Islam atau mati.

Mulai abad keempatbelas dan berlanjut hingga akhir abad ketujuhbelas Sultan Orkhan, melakukan penangkapan dan pembudakan 20 persen anak-anak Kristen dari berbagai wilayah yang penduduknya mayoritas Kristen. Anak-anak ini diberikan pilihan masuk Islam atau mati dan, setelah melalui proses pelatihan yang ketat, mereka diikutkan dalam pasukan tempur, pasukan perang elite raja. Pertama sekali anak-anak yang tidak beruntung ini diambil dari rumah dan keluarga-keluarha mereka dalam waktu yang berbeda-beda—kadang-kadang setiap tujuh tahun dan kadang-kadang empat tahun—tetapi setelah berselang beberapa waktu, devshirme ini menjadi peristiwa tahunan.[3] Ketika peristiwa itu berakhir, sekitar 200 ribu anak-anak telah menjadi budak dengan cara ini.[4]

Islamisasi Satu Kota

Transformasi Konstantinopel setelah penaklukannya pada tahun 1453 adalah contoh kasus yang menarik dicermati. Sebelumnya, kota itu menjadi pusat umat Kristen di wilayah timur dan kota kedua yang semuanya berpenduduk Kristen, menyaingi Romawi dalam  kemegahan dan kekuasaannya. Gereja Katedral Hagia Sophia, dibangun oleh Kaisar Justin pada abad keenam, merupakan gereja yang sangat agung dan sangat dihormati oleh umat Kristen hingga terjadinya pembangunan gereja Santo Peter di Vatikan.

Akan tetapi, para penakluk Muslim, seperti Taliban yang menghancurkan patung-patung Budha di Afganistan pada 2001, memperlakukan kekayaan keindahan kota itu sebagai sesuatu yang tidak suci. Menurut Hoca Sa’deddin, penasehat sultan-sultan Murad III pada abad keenambelas, “gereja-gereja yang berada di dalam kota kosong dari para pemujanya dan dibersihkan dari kotoran dan patung-patung sesembahan dan oleh kotoran gambar-gambar mereka, dan kemudian dibuat tempat salat bagi kaum Muslim dan didirikannya kubah, beberapa menara dan kapel layaknya kebun-kebun surga.”[5]

Philip Mansel menyatakan luasnya “pembersihan” ini:

Perubahan gereja-gereja terulang lagi (terhadap empat puluh dua gereja) menjadi beberapa mesjid untuk menegaskan supremasi Islam. Perubahan itu meliputi semua mosaik dan dinding-dinding umat Kristen, penghancuran ikon-ikon dan penempatan mimbar salat menghadap ke arah Mekkah, yang sebelumnya terdapat altar tinggi menghadap ke selatan Yarussalem. Pada 1490-an, gereja Bizantium Santo Saviour di Chora, dengan mosaiknya yang tiada duanya pada masa Kristus, menjadi Kariye Cami (nama mesjid). Di Galata, pada 1545, gereja katedral Santo Michael dibongkar dan diganti dengan Han (guest house atau hotel) Rustem Pasha. Pada 1586 tempat duduk Bapak sendiri, gereja Pammacaristos yang gemerlapan, diambil hanya karena alasan bahwa Mehmed II saat berkunjung ke situ, dia melakukan salat di sana. Gereja itu diganti namanya Fethiye Cami, mesjid kemenangan, sejak khilafah itu telah menaklukkan Azerbaijan.[6]

Kerasnya sikap Islam terhadap orang kafir menciptakan situasi yang berlawanan dalam negeri yang dikuasai oleh Islam. Perlakukan keras itu menjadi nyata dalam lingkungan Islam pada akhir periode pendudukan kolonial. Pada 1962, ketika penjajah Perancis pergi dan Islam menjadi negara agama di Aljazair, banyak gereja dialihfungsikan menjadi mesjid. Tetapi, hal ini secara sederhana persoalan pendudukan yang menghancurkan real estate. Undang-undang baru di sana melarang umat Kristen mempraktikkan agama mereka secara terbuka. Kaum Muslim menunjukkan bahwa mereka bermaksud berbisnis pada 1978, ketika pendeta keuskupan Katolik Roma untuk orang-orang Aljazair, Monsignor Gaston Jaquier, dibunuh. Barangkali hal itu terjadi karena ia pergi ke luar dengan mengenakan kalung salib kepasturannya di ruang terbuka.[7]

Demikian juga di Tunisia, “pada awal 1950-an separuh dari warga Tunisia beragama Katolik, akan tetapi dengan deklarasi kemerdekaan sekitar 280 ribu warga Katolik Tunisia diusir keluar. Saat ini hanya tersisa sekitar sepersepuluh dari jumlah itu dan banyak gereja di Tunisia ditutup atau tidak berfungsi.”[8]

Bagaimana situasinya saat ini? Di negara-negara Islam, kalangan non-Muslim masih ditindas, terkurung oleh diskriminasi hukum, dan hidup mereka berada dalam bahaya.

Saat ini, umat Kristen di Sudan dijadikan budak dan diganggu (dengan alasan Syari’at) di Pakistan. Itulah ujung gumpalan es yang terapung; terdapat ratusan kasus serupa yang terjadi di seluruh dunia Islam. Barangkali ada gunanya jika kita, setidak-tidaknya, menyebut beberapa saja, karena kisah-kisah semacam ini hampir-hampir telah diabaikan sepenuhnya oleh media Barat.

Nasib Orang Kafir Saat Ini

Barangkali, yang paling buruk adalah pindah agama dari Islam ke Kristen, karena kenyataannya seluruh mazhab fikih Islam bersepakat bahwa orang yang menghina Islam dapat dibunuh. Nabi sendiri menetapkan hukuman mati bagi “seorang yang meninggalkan agama Islam dan memisahkan diri dari kelompok Muslim.”[9]

Semua kitab hadis sepakat bahwa Nabi Muhammad bersabda tentang hal yang seperti ini, dan hal itu telah menjadi landasan awal hukum Islam semenjak awal. Menurut kitab Reliance of the Traveller: “ketika seseorang telah menginjak akil-baligh dan sehat, dengan sengaja inkar terhadap Islam, dia harus dibunuh.” Meskipun hak membunuh bagi orang yang ingkar diatur dalam hukum Islam diberikan kepada pemimpin komunitas dan Muslim yang lainnya dapat dihukum karena melaksanakan tugas ini atas diri mereka sendiri, seorang Muslim yang membunuh orang murtad tidak perlu membayar ganti rugi dan tidak perlu melakukan suatu beban apa pun (sementara, untuk kasus pembunuhan di luar itu, ia harus membayar ganti rugi, yang dikenal dengan sebutan “diyah”).[10]

Beberapa Muslim masih berupaya untuk menjadi Kristen. Salah satu di antaranya adalah seorang berkebangsaan Sudan bernama al-Faki Kuku Hasan, yang berita tentangnya tersebar dengan sebutan “seorang mantan Syeikh Muslim yang masuk Kristen pada 1995.” Hasan ditangkap karena murtad pada Maret 1998 dan ditawan, meskipun mendapat protes internasional, hingga kesehatannya menurun (dia menderita strok pada musim semi 2001) dan dibebaskan pada 31 Mei 2001.[11]

Spencer menyebutkan bahwa pelaksanaan hukum Islam itu sangat kaku sehingga cenderung menakutkan. Ketika disebutkan dalam teksnya potong tangan, maka yang dilakukan adalah potong tangan. Begitu juga dengan hukum rajam, qisas, dan lain-lain. Itulah sebabnya, kata Spencer, orang-orang non-Muslim di Nigeria dan Libanon mati-matian menolak pemberlakuan syariat Islam yang diperjuangkan oleh kaum Muslim.[]

Pointers:

Buku ini ditulis beberapa saat setelah peristiwa serangan 11 September. Ditulis dalam suasana seperti itu bias anda bayangkan. Jangan orang lain, orang-orang Islam saja banyak yang marah. Yusuf Qardhawi dan Said Tantawi. Kami orang Muslim Arab adalah pihak yang paling dirugikan oleh serangan tersebut. Kalau Amerika hanya menderita fisik bangunan dan nyawa, tapi kami menderita kerugian moral, historis dan teologis sekaligus. Karena tiba-tiba saja banyak orang yang mengidentikan Islam dengan terorisme. Nah, buku ini ditulis dalam suasana kemarahan. Cuma, bagusnya, meskipun marah, si Spencer ini masih menyempatkan diri untuk membaca sahih bukhari-muslim, membuka-buka literature islam, membaca sejarah perang salib. Dst. Yang dilupakan oleh Spencer adalah konteks dari sebuah teks.  Ketika dia mengutip ayat Quran mengenai penggallah musuh-musuhmu, itu adalah dalam suasana perang, yang perang itu sendiri merupakan  perang membela keadilan atau perang membela diri dari serangan kaum musyrik. Dalam suasana perang kita tidak boleh berlunak hati. Tapi harus keras dan tegas. Kalau memukul pukullah yang mematikan.

Karena Spencer mengutip ayat-ayat Quran itu dengan pemahaman harfiah, teksual, dan lepas samasekali dari asbabun  uzulnya, daro konteks diturunkannya ayat, maka dia sama dengan kaum tekstualis, literalis. Dalam bahasa resmi, mereka yang memahami teks secara harfiah, tekstual, biasa disebut kaum fundamentalis. Ada, bahkan banyak, orang Islam yang melakukan hal semacam itu. Oleh karena itu yang dikritik oleh Spencer sebenarnya adalah Islamnya kaum fundamentalis. Bukan Islam liberal, misalnya. Atau Islam moderat model NU dan Muhammadiyah.

Membaca buku semacam ini akan sama dengan membaca buku-buku lain karya orientalis yang menyudutkan Islam dan kaum Muslim. Bagaimana cara membacanya. Pertama, Positif (ada yg berguna) dan kritis (Zaenab) dengan pandangan Orientalisme, karena mereka membantu kita memahami apa yang sebenarnya dipikirkan oleh orang-orang non-Muslim terhadap Islam dan umat Islam. Ini penting untuk melakukan introspeksi dan kritik diri. Kedua, memegang prinsip Imam Syafii: Rayi shawab yahtamilul khata’i wa ra’yu ghairi khatai yahtamilu shawabi.

Islam banyak dipuja oleh kalangan Barat, tetapi juga banyak dicerca. Pujian itu bagaikan parfum, boleh dihirup jangan ditelan karena akan mabok. Kritikan ibarat jamu, makin pahit main menyehatkan. Kalau anda minum perasan daun sambiloto itu pahit, tapi belum seberapa, tapi kalau sambiloto dicampur brotowali, nah itu baru sangat menyehatkan. Buku ini adalah adonan sambiloto plus brotowali. Tidak ada madunya sama sekali. Tetapi jangan takut untuk membacanya karena ini menyehatkan. Membaca buku ini perlu karena ibarat kepala kita dibenturkan ke tembok realitas. Jangan hanya membaca buku-buku yang membuat kita terbuai dan lupa diri. Misalnya buku-buku yang masih mendambakan kejayaan Islam masa lampau.

Tentang Tradisi Kekerasan.

Spencer sudah cukup fair. Ia sadar juga bahwa kekerasan itu tidak hanya ada dalam Islam tapi juga dalam agama-agama samawi yaitu agama Kristen dan Yahudi (h. 33, 34). Misalnya dia mengutip Mazmur (Kitab Zabur, surat 139:9): “Berbahagialah orang yang mengambil anakmu yang masih kecil dan menghantamkannya ke bebatuan.” Di tempat lain (Mazmur 101: 8) disebutkan: “Aku akan menghancurkan orang-orang jahat di tanah ini yang mengotori kota Yesus Kristus.” Kitab Josua, menurut Spencer, penuh dengan pertumpahan darah dan peperangan yang tak kenal ampun yang dikobarkan atas nama Tuhan.

Tradisi kekerasan dalam agama Kristen yang paling mencolok adalah pada kasus Perang Salib. Ketika Paus Urbanus II mengumunkan Perang Salib pada 1095, kebiadaban terhadap kemanusiaan telah dimulai atas nama Yesus Kristus. Ketika tentara Salib menduduki Yerusalem, yang pertamakali mereka lakukan adalah membakar sinagog Yahudi yang di dalamnya terdapat tidak kurang dari 300 orang yang sedang beribadah. Mereka juga terus merangsek masuk ke jantung kota dan membunuhi orang-orang Islam, wanita dan anak-anak.

Pada waktu Perang Dunia II berlangsung apa yan dilakukan gereja Kristen? Gereja Kristen tidak berusaha mencegah malapetaka kemanusiaan itu. Malah, setiap kali tentara berangkat ke medan tempur untuk saling membunuh, gereja secara resmi menyampaikan doa.

Dengan kata lain, kita harus mengakui bahwa kekerasan, peperangan, permusuhan, memang bagian dari sejarah agama apapun. Kita tidak perlu risau kalau hal-hal semacam itu diungkapkan (unveiled—dalam istilah Spencer). Justru kita semua harus belajar dari sejarah kelam semacam itu.

Konklusi:

Sementara kita sadar bahwa semua agama itu mengandung dua unsur sekaligus, yakni soft element dan hard element, elemen-elemen lunak yang mendukung perdamaian dan elemen-elemen keras yang menjadi alasan peperangan dan permusuhan, maka yang perlu harus terus menerus ditumbuhkembangkan adalah pandangan-pandangan anti-kekerasan. Jalurnya ada tiga:

–          Jalur relijius, ajaran-ajaran agama Islam, Kristen, Hindu, Budha, dll.

–          Jalur etis, ajaran-ajaran filosofis dari para pemikir anti kekerasan seperti Mahatma Ghandi, Jidu Krishnamurti, dll.

–          Jalur spiritual, yang dilakukan oleh komunitas-komunitas metafisis, seperti Anand Khrisna, Brahma Kumaris, Jamaah Salamullah, dll.

Jalur relijius adalah: mengedepankan aspek-aspek ajaran Islam yang mendukung perdamaian. Ini jauh lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan aspek-aspek yang mendukung kekerasan. Tema-tema seperti jihad, mati syahid, itu harus ditafsir ulang. Islam sendiri sejatinya adalah perdamaian. Islam, salam, artinya perdamaian atau kedamaian. Oleh karena itu, kekerasan dalam berbagai bentuknya harus dianggap penyimpangan dari Islam. Selain itu juga perlu digalakkan dialog dengan kelompok atau umat beragama lain. Karena dengan dialog kita bisa saling mengerti dan memahami. Dewasa ini lembaga-lembaga yang memfasilitasi dialog antar agama tumbuh subur di berbagai tempat. Interfidei, Madia, ICRP, Paramadina. Ini harus didukung.[]


[1] “Yusuf Islam Calls for Journalist’s Release,” www.cnn.com, 3 Fenruari 2002

[2] Boxing Legend Ali Asks for Reporter’s Release,” www.cnn.com, 31 Januari 2002

[3] Thomas Sowell, Conquests and Cultures: An International History (Basic Books, 1998), hlm. 192.

[4] Goodwin, The Janissaries, hlm 36-37.

[5] Ibid.

[6] Ibid., hlm. 51-52

[7] Aid to the Church in Need, “Religious Freedom in the Majority Islamic Countries 1998 Report: Tunisia.”

[8] V.S. Naipaul, Among the Believers: An Islamic Journey (Vintage Books, 1982), hlm. 18.

[9] Reliance of the Traveller, hlm. 08.1, 09.4.

[10] “Sudanese Prisoner Released from Hospital,” Compass Direct: Gobal News from the Frontline, 1 Juni 2001, www.compassdirect.org.

[11] Jubilee Campaign, “Persecution of Christians in Egypt,” 2000, www.jubileecampaign.co.uk


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: