Agama dan Korupsi

Korupsi Membelit Birokrasi Agama

Oleh Ahmad Gaus AF

DEPARTEMEN Agama (Depag) bukanlah institusi yang suci. Oleh sebab itu, masalah korupsi yang belakangan ini menyeret para pejabat dan institusi Depag, tidak harus dipandang ‘istimewa’, hanya lantaran departemen ini berlabel agama. Tidak sepatutnya agama diseret-seret dalam kasus-kasus korupsi. Tidak sepatutnya pula, penangkapan para birokrat agama dalam kasus korupsi lalu menjadi moral laundry bagi para ‘koruptor sekuler’ untuk boleh merasa lega karena secara moral mereka lebih awam dari ‘koruptor religius’.

Korupsi tetaplah korupsi. Dilakukan oleh agamawan ataupun ateis, bencana yang diakibatkan korupsi sama saja. Jika di Depag korupsi terkutuk, di departemen lain pun ia tetap terkutuk, tidak lantas menjadi ‘wajar’ karena di situ tidak ada agama. Korupsi bukanlah soal agama. Secara etis ia adalah masalah moral dan kemanusiaan, karena pengkhianatan atas amanat rakyat dan merugikan orang banyak. Dan secara politis ia masalah sistem yang lemah. Oleh sebab itu, seorang ateis sekalipun bisa saja bersih dari praktik korupsi karena sistemnya tidak memungkinkan dia untuk berlaku korup. Sebaliknya, seorang yang religius bisa sangat korup karena sistemnya memungkinkan dia untuk korupsi.

Jadi, korupsi lebih merupakan masalah sistem, bukan soal taat atau tidaknya seseorang beragama.Oleh karena itu, pernyataan bahwa Depag harus dibubarkan, hanya lantaran di situ banyak korupsi, dilihat dari sisi ini jelas berlebihan. Sebab, jika logika itu yang digunakan, semua departemen harus dibubarkan. Karena tidak ada satu departemen di Tanah Air ini yang bebas korupsi. Bukan hanya departemen, seluruh instansi swasta maupun pemerintah, rantai birokrasi yang terentang dari hulu sampai hilir, semua diindikasikan korup. Lebih dari sekadar budaya, korupsi telah menjadi peristiwa birokrasi yang dianggap lumrah di mana-mana.

***

Depag memang sejak lama dicibir sebagai institusi yang korup. ”Depag sudah seperti sarang penyamun. Praktik mark up proyek dan KKN telah menjadi budaya, maka wajar rakyat menyebut sebagai penyamun berjubah agama,” ujar seorang pendemo di depan Kantor Depag Jakarta, Senin (20/6), sebagaimana dikutip situs PesantrenOnline.com.Tapi korupsi di Depag, sekali lagi, tidaklah istimewa. Ia hanya cermin suryakanta yang memantulkan bayangan sistem yang korup dan budaya korupsi di negeri ini dengan gambar yang lebih besar.

Di negeri yang dikenal religius, agama selalu dimintai pertanggungjawaban atas segala kebobrokan moral yang terjadi. Tetapi, serta-merta menjadikan agama dan institusi agama sebagai kambing hitam hanya akan mengaburkan persoalan yang sesungguhnya. Dalam politik modern, praktik korupsi harus dilepaskan dari dominasi isu budaya, apalagi agama, dan didorong menjadi persoalan membangun sistem yang bersih serta disangga oleh political will yang kuat. Tanpa itu, pemberantasan korupsi dan penegakan good governance hanya akan menjadi ilusi kaum moralis.

Survei lembaga Transparency International menyatakan, Indonesia termasuk 10 negara terkorup di dunia bersama-sama Tajikistan, Turkmenistan, Azerbaijan, Paraguay, Chad, Myanmar, Nigeria, Bangladesh, dan Haiti. Fakta bahwa Indonesia adalah bangsa religius (taat agama) tetapi pada saat yang sama juara dalam peringkat negara terkorup, menunjukkan bahwa religiositas dan perilaku korup memiliki korelasi yang lemah. Ini bukan berarti kita pesimistis terhadap peran agama dalam pemberantasan korupsi, sebagaimana dipelopori oleh NU dan Muhammadiyah.

Yang ingin ditekankan ialah bahwa agama tidak akan cukup powerful untuk menanggulangi persoalan korupsi sendirian. Nilai-nilai agama mendorong para pemeluknya untuk menghindari perilaku keji seperti korupsi. Tetapi di dalam praktik, nilai saja tidaklah cukup. Ia, sekali lagi, harus disangga oleh sistem yang kuat dan political will yang juga kuat. Political will yang kuat itu saat ini justru sudah mulai tumbuh di lingkungan Depag. Menteri Agama (Menag) M Maftuh Basyuni menyatakan, dirinya bertekad menciptakan Departemen Agama yang dipimpinnya menjadi departemen yang paling bersih dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme sehingga menjadi anutan bagi departemen lain. Termasuk dirinya, katanya, siap diperiksa jika diperlukan dalam pengusutan kasus korupsi.

Dalam sambutan pada acara pembukaan pentaloka manajemen strategis pejabat eselon II Depag di Jakarta, Senin (20/6), Menag mengatakan, pemerintah telah mencanangkan gerakan percepatan pemberantasan korupsi. ”Ini memerlukan keberanian dan kesungguhan. Saya minta agar seluruh jajaran Depag mendukung gerakan ini,” ujar Menag Maftuh Basyuni. Ia juga mengaku, sejak dirinya diangkat dan dilantik sebagai menteri sudah melakukan kontrak politik untuk membasmi penyakit korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang terjadi di instansi departemen yang dipimpinnya. Ini contoh political will.

Tugas Depag selanjutnya membangun sistem yang bersih dan kuat. Kebobrokan birokrasi Depag selama ini bermula dari lemahnya sistem. Akibatnya, banyak kebijakan yang merupakan improvisasi personal para pejabat yang ‘kreatif’. Tidak mengherankan jika para aktivis yang tergabung dalam Koalisi Rakyat untuk Perubahan Departemen Agama (Korup Depag) yang berunjuk rasa di kantor Depag, menuding departemen itu sebagai sarang penyamun. Betapa tidak, seorang penguasa Depag bisa memiliki tidak kurang dari 20 kewenangan yang menjadikannya sangat powerful dan seolah menjadikan dirinya sebagai komisaris utama dalam sebuah bisnis travel beromzet Rp5 triliun.Yang tidak kalah hebat ialah kewenangan menunjuk pelaksana transportasi haji dan kekuasaan untuk menyediakan akomodasi haji, di mana penguasa Depag diberi kewenangan penuh menentukan rekanan bisnis yang menyediakan dua sarana itu tanpa tender. Ini membuka peluang bagi penguasa Depag untuk bermain dengan segelintir pengusaha.

Lagi-lagi, penyakit kelemahan sistem ini jelas bukan hanya milik institusi Depag. Jika mau diberi makna spiritual, prinsip-prinsip good governance itu bisa dipahami sebagai pelaksanaan sifat-sifat shiddiq (transparency), amanah (accountability), tabligh (communicatibility), fathanah (intelligency), dan istiqamah (consistency).

Dengan mentransendensikan prinsip-prinsip tersebut, maka good governance bukan hanya merupakan sistem yang kuat tetapi juga merupakan sikap pribadi yang kuat (political will). Penggabungan kedua unsur tersebut akan menjadi tulang punggung pemberantasan korupsi dan penegakan good governance yang sedang digalakkan oleh pemerintahan SBY.***

Dimuat di Media Indonesia, 23 Juni 2005

Mengaji sebagai Life Style

 

Image result for pengajian artis 

Mengaji sebagai Life Style

Oleh Ahmad Gaus AF*)

Forum-forum pengajian kelas menengah di Jakarta dewasa ini hampir menyerupai hajatan kaum selebriti. Tempat pelaksanaannya di kantor-kantor, hotel berbintang, atau perumahan mewah di kawasan elit. Pesertanya adalah mereka yang secara duniawi sudah merasa berkecukupan. Tetapi, sebagaimana kata para ahli, mereka mengalami kehampaan spiritual. Katanya lagi, mereka kaya materi tetapi miskin ruhani. Limpahan harta, kedudukan, popularitas, ternyata tidak membuat hidup jadi bahagia. Ada hamparan tanah gersang di dalam jiwa yang damba akan siraman ruhani. Dan agama adalah makanan ruhani yang dirindukan itu. Maka, berbondong-bondonglah kalangan pengusaha, esmud, selebritis, mendatangi pengajian.

Inilah kondisi obyektif bagi tumbuhnya pengajian-pengajian eksekutif di Jakarta akhir-akhir ini. Krisis ekonomi yang melanda bangsa kita sejak 5 tahun terakhir juga disebut-sebut sebagai pemicu maraknya pengajian kelas menengah di ibukota. Mereka membutuhkan cara pandang yang lain, yang meta-ilmiah atau supra-rasional, terhadap apa yang sedang terjadi, yang lebih bisa menenangkan batin.

Dan, sebagaimana hukum pasar, ada demand ada supply, begitu juga yang berlaku di dunia pengajian. Permintaan akan sebuah komoditas yang bernama siraman ruhani di kalangan elit meningkat tajam sejalan dengan trend pengajian yang kian menjadi life style di kota-kota besar. Maka, menjadi mubaligh atau penyampai pesan-pesan agama, kini menjadi lapangan kerja yang cukup terhormat dan sekaligus “basah”.

Semangat berislam belakangan memang menunjukkan grafik yang lumayan meningkat. Itu adalah buah dari gerakan pengajian yang dipelopori oleh ustadz-ustadz metropolitan yang merambah dunia glamour. Artis wanita berjilbab kini sudah menjadi pemandangan lumrah baik dalam tayangan infotainment maupun di mal-mal. Kalangan artis pria juga tidak segan-segan mengenakan “baju takwa” ketika tampil di televisi.

Dalam representasi mereka, Islam tampak menjadi lebih gaul. Saat ini, artis, politisi, pengusaha, public figure, atau siapa pun kalangan mapan di ibukota yang belum menunaikan haji—atau minimal umrah—dianggap kurang gaul. Pengalaman mencium Kabah menjadi cerita komersial yang diulang-ulang dalam talkshow relijius di televisi khususnya di bulan Ramadhan. Bahwa sepulang dari berhaji atau umrah sikap dan perilaku tidak kunjung berubah, itu urusan lain.

Pesan-pesan agama yang disampaikan di pengajian eksekutif pada dasarnya sama saja dengan yang disampaikan para kiai di surau-surau di pedesaan. Yang beda hanya pendekatan, metode, dan citarasanya. Pendekatannya dialogis, disesuaikan dengan audiens kelas menengah yang cenderung kritis. Metodenya Islam made simple yang sudah diringkas menjadi paket-paket tertentu seperti “membina keluarga sakinah”, “menjaga kesucian hati”, “kiat menghindari stress”, “cara menghadapi kematian”, dan sebagainya. Kelas menengah tidak memiliki banyak waktu untuk mempelajari agama sebagaimana kebanyakan kaum muslim di desa-desa yang mengaji sejak usia 4 tahun. Itulah sebabnya produk agama yang ditawarkan kepada kelompok ini harus dikemas secara praktis dan ready for use. Paket-paket pengajian seperti tasawuf, mukjizat Alquran, meneladani akhlak Rasul, dan lain-lain, disajikan secara lengkap bak komoditas makanan olahan di etalase super market.

Terakhir soal cita rasa. Pesan-pesan agama ibarat hidangan makanan. Menu sama disajikan secara berbeda, rasanya akan beda. Kalangan eksekutif menyukai ibadah dengan cita rasa mewah. Tempatnya di hotel berbintang, dosennya berpenampilan ok punya, turun dari mobil mewah, bahkan banyak yang alumnus universitas di Barat.

Riwayat pengajian eksekutif ini bisa dilacak pada figur seperti Nurcholish Madjid. Doktor Islam lulusan The University of Chicago, AS, ini melalui Yayasan Paramadina yang didirikannya menyelenggarakan Klub Kajian Agama (KKA) secara rutin di hotel-hotel berbintang di Jakarta sejak 1986.

Image result for cak nur

 

Cak Nur (panggilan akrab Nurcholish) memperkenalkan sejenis Islam “yang tidak menghukum” atau memasukkan orang ke neraka. Melainkan, Islam yang ramah, yang merangkul semua orang. Tidak heran jika jamaah Cak Nur terentang dari kalangan intelektual, politisi, eksekutif, profesional, sampai kalangan artis dan model.

Lembaga semacam Paramadina yang menyelenggarakan pengajian eksekutif kini sudah banyak, meskipun visi keislamannya tidak selalu sama. Mereka melayani jamaah yang beragam dengan kebutuhan yang beragam pula. Semua itu bagian dari pluralisme dan demokratisasi kehidupan beragama. Dan karena itu, semua harus dihargai dan diberi tempat.[]

(Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Trend Pria, MATRA, Februari, 2005).

 

*) Ahmad Gaus AF, Pengamat pemikiran dan gerakan Islam dari Yayasan Paramadina, Jakarta.

 

 

Sweeping FPI

Menanti Malam Qadar di Singing Hall

Oleh Ahmad Gaus AF*)

ADAKAH korelasi antara kekhusukan bulan Ramadhan dengan gebyar hiburan malam di singing hall, diskotek, kafe, dan hotel-hotel berbintang? Bagi sebagian aktivis Islam, jawabannya jelas ada.
Tempat-tempat semacam itu dinilai sebagai ajang maksiat dan umbar syahwat. Oleh karena itu, untuk menjaga kesucian bulan Ramadan, tempat-tempat itu harus ”ditertibkan”. Itulah yang kita saksikan menjelang Ramadan lalu. Massa aktivis Islam di Jakarta, Banten, Solo, Cirebon, Bandung, Bekasi, Lampung, berpawai keliling kota mengultimatum pemilik tempat-tempat hiburan malam untuk berhenti beroperasi selama puasa.
Dulu, aksi ”penertiban” ini dilakukan para aktivis Islam secara sepihak. Akibatnya, tak jarang menimbulkan bentrokan dengan preman dan aparat keamanan –karena tempat-tempat semacam itu biasa dibekingi preman dan aparat. Kini, penertiban itu didukung pemerintah melalui berbagai aturan. Ada yang melalui peraturan daerah (Perda) seperti di Jakarta, Bogor, Solo, Bandung; ada yang berbentuk surat edaran seperti oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, Cirebon; ada juga dalam bentuk instruksi seperti oleh Wali Kota Bandar Lampung; dan lain-lain. Pendeknya, mereka sepakat bahwa tempat-tempat hiburan malam itu adalah tempat maksiat. Tuntutan yang mengemuka: para pengusaha hiburan malam harus menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah di bulan suci.
Akan tetapi, masalah yang terkait dengan penertiban tempat hiburan malam jelas tidak sesederhana itu. Sebab, ia menyangkut konflik ekonomi, politik, dan moral sekaligus. Kontroversi yang paling keras berkisar pada soal ekonomi dan politik. Para pengusaha hiburan malam merasa bahwa penertiban itu bukan win-win-solution. Ia cenderung merugikan para pengusaha dan para pekerja di sektor tersebut. Pemerintah mengharuskan para pemilik tempat hiburan untuk tetap membayar upah karyawan. Padahal, selama sebulan itu praktis mereka tidak mendapat penghasilan sama sekali.

Para pengusaha hiburan malam menolak sudut pandang yang melulu negatif terhadap sektor usaha yang mereka lakukan. Menurut mereka, hiburan malam adalah usaha legal yang jelas-jelas memberikan kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). Usaha hiburan malam ikut menggalakkan sektor pariwisata. Selain itu, usaha bidang hiburan juga menyerap banyak tenaga kerja. Itu berarti membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran.
Toh, pemerintah tetap bergeming. Ia, bersama para aktivis Islam, bersikukuh bahwa bisnis hiburan malam adalah bisnis berahi yang akan merusak kesucian Ramadan. Mereka menuntut agar diskotik, singing hall (karaoke), kafe, bilyar, ditutup untuk menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Hormat karena Simpatik

Klaim tentang kesucian bulan Ramadan yang dikaitkan dengan usaha hiburan malam sebenarnya berlebihan. Bisingnya malam di karaoke dan diskotik yang bertabrakan dengan panggilan sahur tidak membuat langit runtuh. Permintaan agar rumah-rumah makan tutup di siang hari demi menghormati orang yang berpuasa juga merupakan paradoks. Sebab ia justru tidak menghormati hak orang-orang yang tidak berpuasa, yaitu orang sakit, wanita yang berhalangan, anak-anak, dan umat non-Muslim. Akhlak mulia mengandaikan orang-orang yang berpuasalah yang justru harus menghormati mereka yang tidak berpuasa.
Soal hormat-menghormati adalah soal etika publik dalam dialog yang sejajar. Ia tidak didiktekan, melainkan dihayati dengan simpati dan empati. Hormat itu lahir dari dalam, bukan karena aturan atau tekanan. Adalah tugas kita semua sebagai kaum muslim untuk membuat orang-orang menghargai Islam dengan tulus, karena kita sendiri bersikap simpatik.
Satu hal lagi adalah pandangan terhadap para wanita pekerja malam di rumah-rumah hiburan sebagai ”bukan wanita baik-baik”. Ini jelas pandangan yang buta dan kasar. Buta karena tidak mau tahu sisi lain dari nilai pekerjaan, dan kasar karena meletakkan sudut pandang moral secara hitam putih.
Dalam khazanah cerita sufi, ada kisah tentang seorang pelacur yang masuk surga dan seorang ustad yang justru dijebloskan ke neraka. Kediaman mereka bersebrangan, dibatasi jalan raya. Setiap hari sang ustad, sambil mengajari murid-muridnya mengaji, memandangi dari jauh apa yang dilakukan sang pelacur di rumah itu. Hatinya gusar setiap kali ia melihat lelaki yang datang silih berganti.
Singkat cerita, keduanya mati. Malaikat memasukkan si pelacur ke surga dan sang ustad ke neraka. Pertimbangan malaikat: meskipun di pengajian, pikiran dan hati sang ustad ternyata selalu ada di rumah sang pelacur. Sebaliknya, meskipun berada di rumah bordil dan melayani para lelaki hidung belang, wanita pelacur itu ternyata hati dan pikirannya selalu rindu dan ingin berada di tempat pengajian sang ustad.

Kita tidak pernah tahu apa yang bersemayam di hati orang. Siapa yang tahu bahwa si Rahmi yang bekerja sebagai pemandu karaoke itu sedang menunggu datangnya malam lailatul qadar saat ia memandu pengunjungnya dalam alunan musik pop dangdut? Si Rahmi sendiri tidak tahu bagaimana mendapatkan pekerjaan yang menurut ukuran para aktivis Islam itu merupakan pekerjaan terhormat dan halal. Persis seperti bait lagu gubahan Titiek Puspa, Kupu-kupu Malam: ”Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa...”

Ahmad Gaus AF

Pengamat Pemikiran dan Gerakan Islam dari Yayasan Paramadina, Jakarta
[Kolom, Gatra Nomor 51 beredar Jumat 29 Oktober 2004]

________________________________

TANGGAPAN-TANGGAPAN :

Maklum Paramadina nggak bener

(rossichamp@yahoo.com, 04/11/2004 22:49)

Yah maklum yg nulis orang Paramadina jadinya ya tidak menghargai Islam sendiri, mereka sama dengan JIL suatu kelompok yg ingin menghancurkan Islam. bagi saudara yg mengaku Islam harap bener-bener menjalankan Islam dengan benar jangan seperti Paramadina dan JIL. lihat saja ketua paramadina yg lagi sakit itu, hati lagi sakitnya, lebih baik mereka sadar akan teguran Allah jangan berusaha lagi untuk menghancurkan Islam, Allah akan mengazabmu. dan semoga saja azab Allah menimpa juga pada Ulil Absara (kelompok JIL) segera mungkin, Amin.

 

 

Hati-hati dalam menuangkan pikiran yang liberal

(f_mufti@telkom.co.id, 05/11/2004 02:49)

Tulisan Sdr Ahmad Gaus AF dengan judul tsb diatas menandakan bahwa sang penulis adalah orang yang sangat toleran , saking tolerannya , orang yang berpuasapun harus menghormati orang yang tidak berpuasa (lain halnya dg mereka yang tak berpuasa karena uzur syar’i atau non muslim). Pola pikir yang saya anggap agak nyeleneh dan aneh,apalagi dia mencontohkan ilustrasi cerita tentang sang pelacur yang masuk surga dan sang ustad masuk neraka ditambah lagi cerita si Rahmi yang menunggu malam lailatul-qadar di sebuah cafe sambil melayani tamunya, pikiran yang sungguh tidak menggambarkan seorang muslim yang mempunyai ghirrah agama yang baik. Namun dari semua itu saya tidak heran karena beliau ternyata anak didik yayasan Paramadinanya Nurcholis Majid. Ooooooo pantas…

 

 

Pembelaan yang terlalu dipaksakan

(abu_rumaisha@hotmail.com, 04/11/2004 14:20)

Dengan gaya pembelaan seperti yang saudara lakukan, maka apapun dapat dipandang benar. Kebenaran tidak harus selalu diukur dengan uang, pemasukan daerah, pariwisata dll. Saya heran, dulu kita pusing dengan semakin maraknya tempat hiburan malam, kini ketika ada pihak yang mencoba menertibkannya, justru ada yang menentangnya dengan argumen yang sangat terasa dipaksakan.

 

 

Artikel ini sejuk sekali

(Japik_kiro@yahoo.com, 04/11/2004 20:15)

Saya merasakan kesejukan saat membaca artikel ini baris demi baris. Seandainya kita punya cara pandang seperti ini, wah.. alangkah indahnya damai. Peace. Saya sangat setuju dengan statement ” Hormat itu lahir dari dalam, bukan karena aturan atau tekanan”. Sangat masuk akal dan begitulah seyogianya.
Hendaknya kita tidak menghakimi orang lain dengan mengatakan mereka maksiat, menodai bulan suci dan tidak menghormati. Biarkan itu menjadi urusan mereka dengan Tuhan. Tuhanlah yang berhak menghakimi, karena pada saatnya nanti Tuhan itu mengadili manusia, masuk sorga atau neraka, menurut perbuatan masing-masing pribadi,bukan per kelompok atau gerombolan. Seorang ibu yang saleh tanpa dosa tidak bisa banyak berharap bahwa anaknya semua otomatis masuk sorga bersama-sama dengan dia, terutama kalau ada anak yang perbuatannya tidak berkenan denhan kehendakNya.

Menarik sekali ilustrasi yang diberikan. Seorang yang tampak luar rajin beribadah tapi pikrannya ke tempat pelacuran ternyata masuk neraka, sementara sang pelacur yang rindu mengaji masuk sorga. Di sini saya melihat ketulusan hati pribadi seseorang untuk dekat dengan Tuhan itu lebih berkenan kepadaNya dari pada yang secara tampak luar rajin mengaji atau berdoa , mati-matian membela agama sampai membentuk organisasi yang malah merusak citra baik dari agama itu sendiri, tapi hati dan pikiran serta perbuatannya tidak sejalan. Tuhan itu Maha Besar dan tidak ada kekuatan yang dapat meruntuhkan Dia, oleh karena itu Dia tidak perlu dibela.

Salut untuk penulis dari Yayasan Paramadina. Banyak2 menulis artikel seperti ini.

 

 

Yang namanya mak siyat ya maksiyat

(afafaiman@maktoob.com, 04/11/2004 23:05)

Tempat2 hiburan dewasa itu rata2 bisa di bilang tempat maksiyat , pemerintah dan para ulamak seharusnya bisa memberantasnya paling tidak mengurangi , rakyat itu ibarat anak murid , harus diawasi di bimbing , kalau tidak namanya nafsu pasti menjurus ke kejelekan dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain . soal saling menghormati ya memang harus ada tapi kan ada batasannya.

 

 

Salut atas tulisan yang sangat indah

(wayan@gondronk.dk, 04/11/2004 15:42).

Ass.wr.wb. Saya sangat salut atas tulisan mas ahmad gaus…semoga jadi bahan pemikiran & renungan bersama, semoga amal ibadah & puasa kita diterima oleh ALLAH SWT…AMIN!! salam hangat dari Copenhagen Denmark

 

 

Hargailah org lain, dan kamu juga akan dihargai!!!

(d_purba@yahoo.com, 06/11/2004 10:00)

Saya sangat simpati dan kagum akan tulisan bapak ini, bukan karena saya adalah sebagai seorang kristiani, tapi karena saya sangat mengerti dan faham akan arti saling menghormati antara sesama. Adalah benar kalau kita mengerti dan tau apa sebenarnya yang akan kita lakukan agar orang lain simpati, dan tiDak ada melakukan dengan paksa seperti yang sering terjadi di tanah air kita tercinta ini, krn di Indonesia tidak hidup hanya satu agama, golongan saja. Saya kadang heran di Indonesia sangat terkenal sekali dengan faham agama yang sangat kental, tapi rasa saling menghormati dan memahami sepertinya hanya kata-kata hiasan di bibir saja, prakteknya biasanya sangat jauh panggang dari api. Saya memang tidak tinggal di Indonesia tapi di eropah, yang hampir tidak kita dengar orang berdiskusi apa itu agama, menghormati dll, tapi pada prakteknya mereka banyak sekali menghormati dan memahami orang lain. Jadi tidak hanya ngomong besar seperti di Indonesia. Jadi ada baiknya kalau ngomong besar biasanya tidak ada prakteknya alias nol!!!!

 

Artikel bikin lega ..

(gadisaf02@hotmail.com, 05/11/2004 09:30)

Membaca artikel ini saya merasa lega. Setiap puasa kita selalu ribut ngurus orang lain gak boleh ini itu, melarang gak boleh ini itu. kalau NIATNYA puasa dari hati dan ikhlas ya gak usah mikir ini itu. Kita hidup bermasyarakat di Indonesia, masyarakat yang beragam. Selama puasa masjid yg mengumandangkan ayat suci bergema dimana mana nyaris sepanjang hari pun sudah “diterima” oleh masyarakat yg majemuk ini. Lalu aturan tutup ini dan itu. Selama ini sesuatu yang ditutupi justru mengundang orang ingin tau. Jadi ujiannya justru disitu. Trimakasih untuk artikelnya

Pendapat yg objektif

(the_iblue@yahoo.com, 04/11/2004 13:46)

Saya setuju dengan pendapat anda karena sekarang kerap terjadi ‘pemaksaan’ atas pelaksanaan ibadah khususnya Islam. Pandangan yg anda kemukakan sangatlah objektif. Mengingat poin utama yg disampaikan adalah agama dijalankan dengan akal, nurani, dan akhlak yg baik dalam diri dan aktualisasi dlm pelaksanaan. Perbanyak ibadah yg bermanfaat buat diri sendiri dan org lain secara damai saya kira adalah perbuatan yg tepat. Wassalam

OO gitu toh (risdhy98@yahoo.com, 04/11/2004 16:36)

Itukan kata PARAMADINA, kalau urusan hati sich memang kagak ada yang tahu. Menurut Anda boleh jadi yang pelacur jadi masuk syurga karena hatinya bersih, yang shaleh secara lahir masuk neraka karena hatinya busuk, yang betul dua-duanya melanggar aturan Allah SWT. Ungkapan anda membawa kepada ungkapan lagu lama, berkutat antara bungkus dan isi, yang bener dan diridai oleh Allah SWT adalah antara bungkus dan isi idealnya selaras. Karena amalan yang akan diterima oleh Allah SWT mengandung tiga unsur, pertama niatan yang benar dan lurus, kedua caranya yang benar dan ketiga ihklas dilakukan semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. Dan yang paling penting adalah standar kebenaran itu sendiri datangnya hanya daripada Allah SWT yang digali dari Kitab Suci Alquran dan sunnah Rasulullah SAW, bukan atas dasar standard manusia. Karena kalau atas standad manusia yg digunakan, apa yang baik menurut Anda (penulis) belum tentu baik menurut Saya akan begitu seterusnya. Tapi kalau baik menurut Allah pasti akan membawa maslahat buat manusia bukan sebaliknya. Karena Allah yang menciptakan Kita Maha Tahu apa yang baik dan buruk buat Kita. Makanya Allah berikan pertunjuk (Al Hudan) dan pembeda (Al Furqan) kepada Kita berupa Al-quran. Itu semua akan Kita yakini kalau Kita mengaku sebagai Muslim. Kalau Anda tidak yakin berarti status Kita harus dipertanyakan Muslim atau,……Semoga memberikan pencerahan kepada Anda dan Saya yakin Anda lebih pintar daripada Saya yang bukan pemikir dan pemerhati, tapi Alhamdulillah Allah SWT masih membukakan hati Saya untuk bisa membedakan yang baik, benar, jelek dan salah menurut tuntunan-Nya. Semoga demikian juga dgn Anda. Amiin

Terima Kasih

(boni.hendarin@gmail.com, 04/11/2004 15:19)

Terima kasih saudara Ahmad atas tulisan ini. Anda telah meletakkan pengertian hak asasi manusia ditempat asalnya.

Fanatik berselimut munafik

(gilgalzz@yahoo.com, 04/11/2004 21:03)

Apakah demi menjaga “kesucian” bulan ramadhan, dapat dilakakan dengan “menghalalkan” segala cara? Bukankah tindakan premanisme dengan sorban dan baju koko akan merusak nilai-2 kesucian bulan ramadhan itu sendiri? Bukankah yang terlihat hanyalah Penzholiman para fanatik islami terhadap orang lain? Dimanakah nilai-nilai kedamaian yang “katanya” adalah nilai islami? Tong kosong memang nyaring bunyinya !

 

 

Inilah JIL

(froelo@yahoo.com, 04/11/2004 21:53)

Inilah pemikiran JIL berupaya mendangkalkan esensi Islam. Hanya bersandarkan satu bait nyanyi Titik Puspa, mencoba menghalalkan pelacuran, padahal banyak jalan mendapatkan rezeki yg halal. Habis ini, hukum qisas, potong tangan dll. Dengan HAM, Hak Azazi Allah dengan pengaturan kehidupan ini…., apakah juga ada upaya untuk menghilangkannya ?

 

 

wah akhirnya ada juga yg berpikiran seperti ini

(008_nothing@anonymous.to, 05/11/2004 10:53)

salut buat penulis. Saya selalu berpikiran umat Islam berpuasa dgn godaan yg makin besar akan mendapat pahala yg juga sepadan makin besar. Atau sebaliknya, berpuasa manahan lapar tetapi menyantap nafsu memaksa kehendak atas dalih agama. Akhirnya toh minus plus, pahala nol.

 

 

Jika Dia menghakimi dengan Neraka ………

(mensana@hotmail.com, 10/11/2004 02:58) Surga Neraka

Aku tidak ingin ada
Jika keberadaanku diuji dengan
Tawaran Surga dan Ancaman neraka
Namun begitu ternyata aku ada

Surga Neraka membuatku muak
Iming-iming Surga mendorong ketidakikhlasan
Ancaman Neraka mendorong keterpaksaan

Aku tak mau iming-iming itu
Aku akan melangkah dan berpikir bebas
Tidak menerima buta setiap ajaran
Yang kurasa seringkali tolol
Seperti begini adanya

Kelihatannya aku terlihat sombong ….
Bukan …
Aku merasakan Dia Maha Cinta
Sehingga
Jika Dia menghakimi dengan Api Neraka Abadi kepada siapapun.
Maka terpaksa aku akan berkata :
“Persetan Kau dan aku melawanMu”

(Beberapa tanggapan lain tidak dicantumkan karena isinya “senada”). Selengkapnya bisa dilihat:  http://web.gatra.com/artikel.php?id=48717