Cinta Segitiga Berakhir Bahagia

Dua orang perempuan saling menyayangi. Tapi, keduanya mencintai pria yang sama. Cinta segitiga terjalin begitu saja. Ada cemburu. Ada marah. Ada curiga. Tapi kasih sayang di antara kedua perempuan itu membuat mereka harus menafsirkan kembali cintanya pada si pria. Mereka tidak ingin kehilangan sahabat dan kekasih. Akhirnya sebuah kompromi dilakukan. Cinta segitiga tidak harus berakhir nestapa, asalkan…

Ikuti kisahnya dalam novel Hujan dalam Pelukan di platform NovelMe, selagi masih gratis, sebelum diconvert ke halaman berbayar. Selamat menikmati petualangan cinta tiga sahabat dalam drama ‘orang dewasa’. Ini link-nya 

https://h5.novelme.com/bookinfo/22983

Hujan dalam Pelukan

Hujan Ddalam pelukan (2)-1SINOPSIS

Salimah adalah gadis desa yang datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Kepergiaannya ke ibukota hanya berbekal nomor telepon seorang pejabat tinggi yang menjanjikan akan memberinya pekerjaan. Sebelumnya mereka bertemu dalam sebuah panen raya di desanya yang dibuka oleh sang pejabat. Tapi rupanya pejabat tinggi itu hanya ingin melampiaskan kesenangan daging. Setelah puas, Salimah dicampakkannya di ibukota tanpa diberi pekerjaan yang dijanjikan.

Perjuangan keras dimulai. Salimah menjadi pemain figuran dalam sinetron. Dalam waktu 4 tahun ia baru berhasil menjadi pemeran utama. Produser memberinya nama baru: Sally. Sayang ia kemudian tersingkir oleh para pendatang baru. Ia pontang-panting mencari pekerjaan lain untuk bertahan hidup.

Pertemuan Sally dengan seorang pria jurnalis investigasi kembali memutar haluan hidupnya. Pesona cinta sang jurnalis dan dorongan untuk bisa survive di ibukota membuat Sally rela melakukan apa saja, termasuk menjadi ‘umpan’ untuk mengungkap mafia impor pangan dan peredaran narkoba di kalangan pejabat. Akibatnya, ia pun menjadi buronan para mafia.

Sally tidak menyerah. Tekadnya untuk bertahan dan memperbaiki hidup mengantarkannya pada perjuangan yang keras dan penuh risiko. Pada saat yang sama ia pun dihadapkan pada pilihan yang sulit antara cinta atau cita-cita. Bagaimana Sally menghadapi pilihan-pilihan tersebut? Bagaimana pula hubungan mantan selebriti ini dengan para mafia dan pejabat-pejabat tinggi yang memandang perempuan semata-mata hanya seonggok daging? Temukan jawabannya dalam novel terbaru saya: Hujan dalam Pelukan. Novel 34 bab ini dikemas dalam bahasa yang ringan dengan alur cerita yang penuh kejutan dan mendebarkan 🙂

Novel ini dapat dibaca di platform Novelme, ini link-nya: https://h5.novelme.com/bookinfo/22983

Selamat menikmati.

 

 

Wassalam,

Ahmad Gaus

 

 

Kunci Pembuka Hati


PAGI yang cerah. Sally membantu adik-adiknya mencabuti umbi kentang.

Sudah lama ia tidak melakukan itu sehingga beberapa kali melakukan kesalahan.

“Hati-hati Kak, pakai ini,” kata Fitria menyodorkan garpu tanah.

“Ambil yang daunnya sudah kuning saja, Kak,” tambah Mega.

“Ah iya, kakak sudah lupa, hihihik.” Sally menyingkirkan beberapa umbi kentang muda yang belum saatnya dipanen tapi sudah telanjur dicabut dari tanah. Suara tawanya mengundang perhatian para petani yang sedang sibuk memanen.

“Maklum Neng Limah sudah jadi orang terkenal, jadi sudah lupa cara memanen kentang,” ujar seorang ibu.

“Eeeeehh Bu Hapsah dengar saja. Saya tidak lupa kok bu, cuma tidak ingat, hehehehe,” jawab Sally berkelakar.

“Ya itu mah sama saja, lupa, tidak ingat, sarua keneh.” Tiga kakak-beradik itu tertawa mendengar logat sunda Bu Hapsah yang medok.

Panen kentang itu tidak dibuka oleh bapak gubernur, tidak dihadiri pejabat pertanian maupun petugas penyuluh. Itu memang panen biasa, bukan panen raya. Sudah lama tidak ada panen raya kentang karena sebagian lahan sudah alih fungsi menjadi ladang macam-macam sayuran, bahkan banyak yang tidak lagi ditanami karena para petani merugi dan gulung tikar.

“Panen sekarang beda ya dengan dulu, sekarang sepi,” ujar Sally lagi. Ia bicara kepada Bu Hapsah yang tampaknya sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya. Namun suara lain menyahut.

“Ya, sepi karena sudah lama kamu tidak pulang kampung.” Sally menoleh mencari arah datangnya suara. Seseorang sekonyong-konyong sudah berdiri di belakangnya.

“Kang Bahar.” Sally membalikkan badan.

“Saya kira kamu sudah lupa sama saya,” ucap Bahar

“Memangnya saya sudah kelihatan kayak nenek-nenek pikun?”

Keduanya tersenyum. Sally melepaskan sarung tangannya untuk menyambut jabat tangan Bahar. Sudah lama kedua tangan itu tidak saling bersentuhan. Waktu dan jarak yang memisahkan, menciptakan dorongan yang kuat dari dalam diri masing-masing untuk menyatu dalam getaran yang sama. Tidak ada kata yang terucap. Sally tertunduk. Bahar masih menggenggam tangan Sally yang dulu selalu menggelendot manja atau melingkar di pinggangnya saat duduk di belakang sepeda motornya.

“Wah, kok salamannya lama bener,” sergah Mega yang sejak tadi memperhatikan keduanya. Terburu-buru Sally menarik tangannya. “Usil saja kamu,” balasnya memelototi sang adik. Dan Mega paham, ia melirik Fitri dan mengedipkan matanya memberi isyarat. Lalu keduanya menjauh.

“Kapan kamu datang, Limah?”

“Baru kemarin, tapi besok harus berangkat ke Jakarta lagi.”

“Kok cepat sekali, saya sengaja menambah cuti lho, supaya bisa bertemu kamu.”

Kata-kata itu mengagetkan Sally, walaupun dalam hatinya terbersit perasaan senang. “Saya banyak pekerjaan Kang. Memangnya Kang Bahar cuti sampai kapan?”

“Saya menambah cuti satu minggu lagi, karena dapat kabar kamu mau datang, tapi kalau kamu mau pergi besok, saya juga akan pergi secepatnya.”

“Mengapa tergantung sama saya, Kang? Urusan kita kan beda.”

“Kamu masih saja bilang begitu. Kapan urusan kita akan sama?”

“Maksud Kang Bahar? Saya tidak paham.”

“Kamu sebenarnya sudah paham, Limah, hanya kamu selalu pura-pura tidak paham.”

Sally terdiam. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Tapi benar kata Bahar, dia paham, bahkan sangat paham. Hanya saja tidak pernah berusaha untuk membuka hati untuk pria yang ia tahu sejak dulu mencintainya itu. Sekarang tiba-tiba ia disudutkan untuk memberi jawab atas pertanyaan yang tertunda bertahun-tahun, dan sudah dilupakannya.

“Saya dengar Kang Bahar bekerja di pelayaran ya, di mana itu, Kang?” Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Di kapal pesiar, perairan Malaka. Tapi pertanyaan saya belum dijawab, Limah, kapan kamu mau membuka hati untuk saya? Saya sudah lama sekali menunggu.”

“Kapan… ya terserah Kang Bahar dong, kalau ada kuncinya, buka saja sendiri,” jawab Sally seenaknya.

Naluri remajanya muncul. Ia berlari-lari di tengah ladang, di antara orang-orang yang sedang sibuk memanen kentang. Bahar segera mengejarnya. Di kaki bukit, di dekat perkebunan tomat, ia berhasil menangkap tubuh Salimah yang berusaha berontak. Guncangan yang keras dari Salimah dan dekapan yang erat dari Bahar membuat keduanya oleng. Lalu tubuh keduanya ambruk. Tertawa bergulingan di tanah, tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang memperhatikan dari kejauhan.

Kisah di atas adalah cuplikan dari novel terbaru saya Hujan dalam Pelukan. Novel ini terdiri dari 33 bab, selengkapnya dapat dibaca di platform Novelme. Link-nya ada di sini: Hujan dalam Pelukan

Cover Hujan Dlm Pelukan-1

Kasih Tak Sampai

jembatan siti n
Jembatan Siti Nurbaya, Padang

 

Kasih Tak Sampai

— Untuk Siti Nurbaya

akhirnya kujumpai kau di sini
di atas sungai batang arau
sebuah jembatan terbentang
menghubungkan bukit hijau
dan masa lampau
yang mengambang di udara

deretan kisah lama masih ada
tragedi dan roman airmata
gedung-gedung tua yang berhimpitan
di sepanjang tepian
kupandangi lagi matamu, bibirmu
rambutmu yang dipintal cakrawala

kapal-kapal datang dan pergi
tapi engkau tetap berdiri
bertahan dengan cintamu
di ambang waktu

Padang, 14/10/18

 

Padang
Pantai Padang– di bukit sana terletak makam Siti Nurbaya, tokoh legendaris dalam roman karya Marah Rusli.