Categories
Kolom

Masa Depan Tidak Ada Pada Masa Lalu

Oleh Ahmad Gaus

John L Esposito dan John J. Donahue, suatu ketika menyampaikan pandangan yang bagi sebagian kita mungkin cukup menghibur. Katanya, dalam catatan sejarah jatuh-bangunnya kerajaan-kerajaan manusia di muka bumi, tidak ada kebangkitan yang begitu memesona selain kebangkitan peradaban Islam. Peradaban Islam, lanjut keduanya dalam buku yang sudah menjadi klasik, Islam in Transition (1982), begitu cepat meluas dan perkembangan budayanya begitu kaya. Tidak hanya sampai di situ, kedua Islamisis itu juga menegaskan bahwa peradaban Islam menampilkan sistem yang cocok, sikap pandang yang mendunia dan pandangan hidup yang memberi arti dan arah hidup kepada pemeluk-pemeluknya selama 12 abad lamanya.

Kenapa 12 abad? Rupanya pandangankeduanya terhenti pada abad ke-18. Setelah masa-masa itu keduanya menganggap bahwa bangunan Islam—terutama sebagai sebuah peradaban yang menyeluruh—mulai retak-retak. Sejak abad 19 dan 20 Islam mulai menghadapi tantangan yang sangat berat dalam bidang politik dan ideologi. Karena itu kedua Islamisis tadi, setelah sebelumnya memuji, kini mengajukan pertanyaan yang getir: “Apakah Islam masih mampu memenuhi kebutuhan kehidupan modern di bidang politik, sosial, dan ekonomi?”

Inilah pertanyaan yang telah menyibukkan kaum terpelajar Muslim untuk mencoba mencari jawaban dan pemecahannya. Tema-tema di seputar hubungan Islam dan modernitas mulai banyak menyita perhatian kalangan terpelajar Islam. Dan bersamaan dengan itu persepsi terhadap dunia Barat tampak mulai berusaha diubah. Jika dulu Barat (Eropa) adalah daerah yang dikuasai peradaban Islam selama kurang lebih 7 abad, maka kini keadaannya sudah berbalik. Umat Islam dipaksa untuk menerima kenyataan bahwa kini mereka jauh tertinggal oleh Barat dalam berbagai sektor kehidupan.

Inovasi-inovasi di bidang teknologi yang gencar dilakukan terutama setelah revolusi Industri telah melengkapi peradaban Barat dengan perangkat penaklukan yang kelak menjadi alat utama dalam menjajah negeri-negeri Islam. Jika dulu Islam menguasai Barat maka kini, terutama sejak abad 19, Barat lah yang menguasai Islam. Kondisi inilah yang kini sering menjadi hambatan psikologis kaum Muslim dalam menerima—dan memang sejatinya ingin menolak—hasil-hasil peradaban Barat, baik ilmu pengetahuan, teknologi, sistem pemikiran, lebih-lebih gaya hidup dan produk budaya. Sikap penolakan itu terkadang begitu ekstrim sehingga, sebagai misal saja, ketika pemikiran rasional dan filsafat pada abad ke-19 dibawa dari Barat ke dunia Islam, kalangan ulama mati-matian menolaknya karena itu dianggap tidak-Islami. Padahal, menurut ulama-ulama modern seperti Muhammad Abduh dan Rifah Tahtawi, semua itu adalah milik Islam yang dulu dikembangkan di Eropa.

Mengingat Kembali

Sikap apologi dan apriori terhadap Barat di kalangan umat Islam memang bisa dipahami. Selain karena alasan iman [kaum Muslim umumnya menganggap Barat sebagai “kafir”], juga karena alasan dendam historis dan rasa superior agamanya atas yang lain. Selama berabad-abad orang Islam meyakini adagium: al-Islamu ya’lu wala yu’la alayhi (Islam itu tinggi atau unggul dan tidak ada yang lebih unggul darinya.) Dan adagium itu memang dibuktikan. Islam telah menguasai Barat (Eropa) selama kurang lebih 7 abad. Masa-masa itu disebut sebagai masa kejayaan Islam. Umat Islam memainkan peranan sangat penting di Eropa.

Meskipun banyak kalangan Barat berusaha untuk membantah kenyataan sejarah tersebut, namun para sarjana yang jujur tetap mengakuinya. W. Montgomery Watt dari Edinburgh University misalnya pernah mengatakan bahwa kita [bangsa Eropa] punya utang budaya terhadap Islam, tetapi kita terlalu angkuh untuk mengakuinya. Kita mengecilkan pentingnya pengaruh Islam dalam warisan kita. Bahkan kita tidak mengakuinya sama sekali. Untuk kepentingan hubungan baik dengan kaum Muslim, kata Watt, kita harus mengakui utang budaya kita. “Berusaha menutupi dan mengingkarinya adalah ciri kebanggan yang palsu,” tandasnya dalam The Influence of Islam on Medieval Europe (1972). Sarjana Barat lainnya, seperti Gustave Lebon, juga memberikan kesaksian yang senada. Katanya, “Orang Islamlah yang menyebabkan orang-orang Eropa mempunyai peradaban. Merekalah yang menjadi guru orang Eropa selama enam ratus tahun.”

Memang ketika Islam melebarkan sayapnya, Eropa sedang dalam zaman kegelapan. Dua adikuasa yang sedang berjaya ketika itu, yaitu Bizantium dan Persia, terus-menerus terlibat peperangan. Pernah suatu ketika Nabi Muhammad mengirim utusan ke wilayah yang dikuasai Bizantium, dan utusan itu dibunuh oleh tentara Bizantium. Lalu Nabi mengirim tentara ke Bizantium, dan terjadilah peperangan antara kekuatan lama (Bizantium) dan kekuatan yang baru lahir (Islam). Peperangan Nabi itu kelak dilanjutkan oleh Umar bin Khattab. Jika sebelumnya Bizantium berhasil menaklukkan Persia, sebagaimana janji al-Quran (Q 30: 1-6), maka kini tentara Islam berhasil menaklukkan mereka. Daerah-daerah kekuasaan Bizantium di Palestina, Suriah, Irak, Mesir, berhasil dikuasai tentara Islam. Umar bin Khattab kini tampil sebagai penguasa baru di wilayah-wilayah bekas kekuasaan Bizantium dan Persia.

Pada masa Bani Umayah (661-750) ekspansi Islam meluas sampai ke Afrika Utara, Spanyol, dan Sisilia di Eropa. Kaum Muslim juga berhasil menguasai wilayah Asia Tengah, Bukhara, Samarkand, dan Farghanah, juga Balukhistan dan Sind di anak benua India. Kekuasaan Bani Umayah jatuh pada 750 M dan dilanjutkan oleh Bani Abbas sampai 1258 M. Pada masa Bani Abbas inilah jejak peradaban Islam ditorehkan. Mereka mempelajari sains dan filsafat Yunani yang mereka temukan di Mesir, Suriah, Irak, dan Persia.

Lebih jauh kaum Muslim sebenarnya bukan hanya mengambil sains dan filsafat Yunani begitu saja melainkan mengembangkannya secara kreatif, sehingga mereka berhasil membangun peradaban yang tiada taranya dari abad ke-8 sampai abad ke-13. Hal ini diakui oleh ahli sejarah Yahudi dan Arab, Max I. Dimont: “Dalam hal ilmu pengetahuan, bangsa Arab [Muslim] jauh meninggalkan bangsa Yunani. Peradaban Yunani itu, dalam esensinya, adalah ibarat sebuah kebun yang subur yang penuh dengan bunga-bunga indah namun tidak banyak berbuah. Peradaban Yunani itu adalah sebuah peradaban yang kaya dalam filsafat dan sastra, tetapi miskin dalam teknik dan teknologi. Karena itu, merupakan suatu usaha bersejarah dari bangsa Arab dan Yunani Islamik bahwa mereka mendobrak jalan buntu ilmu pengetahuan Yunani itu, dengan merintis jalan ilmu pengetahuan baru—menemukan konsep nol, tanda minus, bilangan bilangan irasional, dan meletakkan dasar-dasar ilmu kimia baru—yaitu ide-ide yang meratakan jalan ke dunia ilmu pengetahuan modern melalui pemikiran kaum intelektual Eropa pasca-Renaisans.”

Ilmu pengetahuan dan filsafat memang merupakan kata kunci bagi pembangunan peradaban Islam ketika itu. Tidak heran jika umat Islam pada masa itu mempelopori perkembangan sains yang kelak menjadi cikal-bakal revolusi industri dan teknologi. Menurut satu pendapat, pada zaman pra modern, tidak ada masyarakat manusia yang memiliki etos keilmuan yang begitu tinggi seperti umat Islam. Tidak seperti orang Yunani yang hanya mampu berpikir filosofis—untuk tidak mengatakan mengatakan mengawang-awang, kaum Muslim mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan ke dalam kehidupan nyata, sehingga berguna untuk kemanusiaan. Mereka mengembangkan ilmu-ilmu empiris, di samping filsafat, seperti kedokteran, pertanian, astronomi, ilmu ukur, ilmu bangunan, dan sebagainya. Karena itu tidak heran jika mereka mampu mewariskan peninggalan yang untuk zaman itu mungkin terlalu maju. Sebut saja misalnya bangunan-bangunan yang indah seperti Taj Mahal di India, Dome of the Rock di Palestina, Istana Merah (al-hamra) di Spanyol, dll.

Dunia ilmu pengetahuan pun sampai kini masih mencatat nama-nama kaum Muslim yang berjasa dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Di bidang filsafat dikenal nama-nama seperti Ibn Sina, Ibn Rusyd, al-Kindi, Ibn Miskawaih; al-Biruni dan al-Farghani dalam astronomi; al-Khawarizmi, Umar al-Khayam, dan al-Thusi dalam matematika; al-Razi, Ibn Sina, al-Thabari, dalam ilmu kedokteran; Jabir ibn Hayyan dan al-Razi dalam ilmu kimia; Ibn Haytsam dalam optika; al-Khawarizmi, al-Yaqubi, dan al-Mas’udi dalam Geografi; al-Jahiz, Ibn Miskawaih, dan Ikhwan al-Shafa dalam ilmu hewan.

Dampak dari pemikiran rasional-empiris juga mengimbas ke bidang agama, sehingga pemikiran keagamaan juga mengalami kemajuan. Ulama-ulama besar di berbagai bidang keagamaan bermunculan. Di bidang hukum Islam (fiqih) sudah umum dikenal perintis empat mazhab masing-masing Abu Hanifah, Malik bin Annas, al-Syafii, dan Ibn Hambal. Dunia tafsir melahirkan nama-nama besar seperti al-Zamaksari dan al-Thabari. Begitu juga dalam pemikiran hadis sudah sangat diketahui nama Bukhari dan Muslim; sedangkan dalam bidang teologi guru-guru besarnya adalah al-Asy’ari (peletak mazhab suni), al-Maturidi, Ibn Huzail, Washil bin Atha. Tidak ketinggalan dunia tasawuf pun mencatat nama-nama harum seperti Rabiah Adawiyah, Ibn Arabi, Yadiz al-Bustami, dll.

Baghdad yang merupakan ibukota peradaban Islam ketika itu benar-benar telah menjadi jantungnya dunia. Kecuali Konstantinopel di Bizantium, tidak ada kota di dunia ini yang mampu menandinginya. Konon diibaratkan sekarang sama dengan kota-kota besar dunia semisal, New York, Paris, London.

Duplikasi dari Baghdad yang juga dikuasai Islam adalah Spanyol. Berbagai kemajuan yang terdapat di Baghdad dapat pula ditemui di Spanyol Islam. Dari sinilah kelak peradaban Islam mengalami perpindahan tangan ke Eropa. Di Spanyol yang merupakan tempat berdirinya sekolah-sekolah dan universitas-universitas Islam terkemuka orang-orang Eropa menuntut ilmu kepada orang Islam. Apa yang terjadi kemudian adalah gerakan penerjemahan secara besar-besaran berbagai literatur Arab ke dalam bahasa-bahasa Latin dan Eropa. Dan yang mereka pindahkan, menurut Harun Nasution (Islam Rasional, 1995), bukan hanya sains dan filsafat saja, tapi juga pemikiran rasional Islam untuk menggantikan pemikiran dogmatis yang dikembangkan Gereja di Eropa. Semua inilah, lanjut Nasution, yang membawa kepada munculnya Renaisans di Eropa. Pemikiran filosofis dan sains yang diambil orang Eropa dari dunia Islam mereka kembangkan dan pada abad ke-16 M masuklah Eropa ke zaman modern.

Sementara itu di dunia Islam sendiri tengah terjadi kemunduran-kemunduran. Baghdad diserang dan dihancurkan tentara Mongol Hulagu Khan pada 1258 hingga rata dengan tanah. Buku-buku yang mengandung berbagai jenis ilmu pengetahuan dibakar dan abunya dibuang ke sungai, sampai-sampai konon air sungai berubah warna menjadi hitam pekat. Sepak terjang tentara Mongol ini jelas berbeda dengan perilaku tentara Islam ketika menaklukkan Spanyol. Tentara Islam [Arab] ketika masuk ke Spanyol justru melindungi dan membebaskan kaum tertindas, seperti dkatakan Max I Dimont: Penaklukan Spanyol oleh bangsa Arab pada 711 M telah mengakhiri pemindahan agama kaum Yahudi ke Kristen secara paksa yang telah dimulai oleh Raja Recaded pada abad keenam. Di bawah kekuasaan kaum Muslim selama 500 tahun setelah itu, muncul Spanyol untuk tiga agama dalam “satu tempat tidur”. Dengarkan juga kesaksian sarjana Barat Alfred Guillaume berikut ini: “Sekiranya orang Arab bersifat ganas seperti orang Mongol dalam menghancurkan api ilmu pengetahuan….Renaisans di Eropa mungkin akan terlambat lebih dari seratus tahun.”

Penutup

Itu adalah pengakuan tentang peranan kaum Muslim dalam mempelopori ilmu pengetahuan sehingga mengantarkan Eropa ke zaman modern. Saat ini peranan tersebut sudah mulai kembali diakui oleh para sarjana Barat lainnya. Di Cordova, Spanyol, ada patung Averroes (Ibn Rusyd) untuk mengenang jasanya dalam membawa sains dan filsafat ke Eropa. Dan konon, seperti dikatakan Cak Nur, saat ini orang Spanyol banyak yang merasa tertarik dengan masa silam mereka yang agung di bawah Islam. Tapi bagi kaum Muslim sendiri tentu tidak perlu menengok terlalu lama ke masa lalu. Sebab masa depan kaum Muslim tidak ada pada masa lalu, melainkan pada apa yang sedang mereka lakukan untuk mengejar ketertinggalan mereka di berbagai lapangan kehidupan.

Sadar akan ketertinggalannya, kaum Muslim mulai menengok ke Barat, terutama berkaitan dengan kepentingan untuk melakukan modernisasi bidang-bidang material seperti industri, pertanian, militer, pers, pendidikan, dan semacamnya; sementara untuk bidang-bidang mental dan spiritual kaum Muslim masih merasa belum atau tidak perlu belajar ke Barat. Bagaimanapun, untuk bidang-bidang yang disebut pertama tadi, Barat merupakan kampiunnya.

Tetapi seperti halnya ketika kaum Muslim mengambil dan mengembangkan filsafat Yunani sembari membuang unsur-unsur mitologis syirik di dalamnya, begitu pula interaksi mereka dengan Barat sekarang ini. Barat tidak perlu kecewa jika dunia Islam tidak mau menelan mentah-mentah segenap produksi budayanya. Penolakan sebagian umat Islam terhadap produk-produk tertentu Barat tidaklah bisa disebut munafik. Mereka hanya mencoba bersikap hati-hati, dan berusaha menjaga identitas—suatu sikap yang samasekali tidak unik [artinya terjadi pada semua komunitas, bukan hanya Islam], akibat globalisasi.

Nilai, gaya hidup, sistem, adalah hal-hal yang sedang dicoba dikembangkan sendiri oleh umat Islam. Dan yang sedang kita saksikan sekarang ini adalah penggabungan antara nilai-nilai Islam sendiri dengan produk peradaban paling mutakhir di bidang-bidang material yang sekarang kebetulan dikembangkan di dan oleh dunia Barat. Jika ini berhasil, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama umat Islam akan kembali mengulangi masa kejayaan mereka seperti dulu. Gerak dan langkah ke arah itu memang terkadang riuh, bahkan ribut, sehingga sering menimbulkan rasa was-was dan tanda tanya orang lain: Ada apa gerangan dengan [umat] Islam?

Categories
Kolom

How Liberal Can You Go?

   
 
 

How Liberal Can You Go?

Oleh: Ahmad Gaus AF
Pengamat Pemikiran dan Gerakan Islam, Paramadina

 

ANCAMAN serius bagi setiap pemikiran keagamaan adalah kemandekan, kebuntuan, dan ketiadaan semangat inovasi. Kondisi semacam itu akan menyebabkan agama kehilangan relevansinya dengan zaman dan masyarakat yang terus berubah. Pemikiran keagamaan dalam bentuk tafsir, teologi, dan lebih-lebih hukum (fiqih), bagaimanapun merupakan hasil interaksi dengan semangat zamannya.

Maka, mandeknya pemikiran keagamaan akan berdampak langsung pada irelevansi agama dan akhirnya peminggiran agama dari denyut nadi kehidupan manusia.

Itulah sebabnya, di setiap kurun waktu selalu ada orang atau kelompok yang “gelisah” bahwa agama mereka akan kehilangan elan vital untuk menyesuaikan diri dengan-atau menjawab-tantangan zaman. Mereka berusaha mempelopori perubahan dan melampaui pemikiran status quo. Namun, gerakan semacam itu tidak selalu berjalan mulus karena akan ditantang oleh mereka yang juga “cemas” dengan kemurnian iman mereka apabila perubahan dilakukan di wilayah-wilayah keagamaan.

Sejarah kemunculan gerakan-gerakan keagamaan (Islam) di Tanah Air dengan jelas menunjukkan hasrat kepada perubahan di satu kutub, dan pada saat bersamaan muncul perlawanan dari kutub lain yang mencoba mempertahankan apa yang mereka anggap “kebenaran mutlak” yang tidak bisa diganggu gugat. Contoh paling mudah adalah Nurcholish Madjid ketika pada dekade 1970-an, ia dan teman-temannya mendeklarasikan perlunya kelompok pembaru yang liberal.

Melalui berbagai ceramah dan tulisannya, Cak Nur mengajak umat Islam untuk melakukan perubahan-perubahan yang mendalam supaya dapat mengikuti perkembangan zaman. Ia mengajukan argumen bahwa organisasi-organisasi Islam yang selama ini mengklaim sebagai pembaru telah berhenti sebagai pembaru, karena mereka tidak sanggup menangkap semangat dari ide pembaruan itu sendiri, yaitu dinamika dan progresivitas. Lebih jauh, menurut dia, ide-ide dan pemikiran Islam yang diwadahi dan hendak diperjuangkan oleh partai-partai Islam ketika itu sudah memfosil, usang, kehilangan dinamika, sehingga tidak menarik lagi. Karena itu, kemudian ia mengajukan tesis: Islam Yes, Partai Islam No!

Dalam makalahnya yang berjudul Menyegarkan Kembali Pemahaman Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia, ketua umum PB HMI dua periode ini juga mengkritik ide Negara Islam yang menurutnya hanya merupakan suatu apologi, yaitu apologi terhadap ideologi-ideologi Barat modern seperti demokrasi, sosialisme,dan komunisme. Sebagai apologi, ujarnya, pikiran-pikiran itu hanya mempunyai efektivitas yang berumur pendek.

Dua tesis itulah (Islam Yes Partai Islam No, dan Tidak Ada Negara Islam), yang menyulut kontroversi berkepanjangan. Tetapi, ia juga banyak diakui telah menyegarkan kembali pemahaman Islam yang dianggap telah lama membeku, dan seraya itu memberikan “rasa aman teologis” bagi kaum Muslim tanpa harus bergabung dengan partai Islam atau mendirikan negara Islam.

SEMANGAT untuk menyegarkan kembali pemahaman Islam itu pulalah tampaknya yang kini diwarisi oleh anak-anak muda yang juga menyuarakan perlunya suatu pembaruan yang liberal dalam pemikiran Islam. Dinyatakan oleh koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar-Abdalla dalam tulisannya, Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam.

Dibandingkan dengan gerakan pembaruan pemikiran Islam era 1970-an, apa yang dilakukan oleh Ulil Abshar dan kawan-kawan di JIL sekarang ini jauh lebih agresif dan maju, karena terorganisir dengan baik. Tema-tema yang diangkat pun lebih beragam dengan melibatkan narasumber berbagai tokoh yang dipandang sejalan dengan, dan dapat mendukung, ideologi Islam liberal.

Atas dasar itu, tidak heran jika Ketua PB-NU KH Salahuddin Wahid pernah menyatakan bahwa JIL-yang kebanyakan dipelopori oleh anak-anak muda NU-jauh lebih liberal dari Cak Nur. Kalau Cak Nur, katanya kepada majalah Sabili Nomor 15, 25 Januari 2002, masih kental dengan nuansa Islamnya seperti penggunaan istilah masyarakat madani, sedangkan JIL menggunakan istilah masyarakat sipil. Berbeda dengan Kiai Salahuddin, para penentang JIL, cenderung berpendapat bahwa JIL itu hanya kelanjutan belaka dari proyek dan ide-ide Cak Nur.

Mana yang benar, bukanlah soal yang terlalu penting. Yang penting adalah sejauh mana ide-ide itu memang mampu membangunkan tidur orang banyak, bukan sekadar memancing kemarahan orang banyak. Dalam hal ini, pilihan-pilihan isu tidak bisa diabaikan. Apa yang membuat gerakan pembaruan pemikiran Islam era 70-an begitu spektakuler dan gaungnya begitu kuat, tidak lain karena pilihan isunya.

Kalau saja waktu itu Cak Nur bicara soal hak waris, kesaksian perempuan, jilbab, kawin antaragama, dan yang setara dengan itu, mungkin proyek pembaruannya tidak akan cukup berwibawa.

Betapapun gerakan pembaruan ketika itu adalah gerakan kultural, namun ia bisa menjadi counter political discourse bagi pemikiran arus utama (mainstream) yang tertanam kuat di benak para politisi dan aktivis Islam tentang hubungan antara Islam, partai politik, dan negara. Boleh dibilang bahwa perdebatan mengenai hubungan ketiganya pada masa itu (Orde Baru) sudah menemui jalan buntu. Kaum Muslim di-fait accompli bahwa menjadi Muslim harus dengan sendirinya menjadi pendukung partai Islam dan mendirikan negara Islam; sebaliknya, rezim Orde Baru sangat alergi dengan partai Islam dan ide-ide negara Islam. Penghadapan antara umat dan rezim seakan-akan adalah zero sum game. Di sinilah kehadiran gagasan pembaruan ketika itu menemukan arti pentingnya; ia memberikan solusi dan jalan keluar dari kebuntuan.

APA yang diagendakan oleh gerakan Islam liberal sekarang ini sebenarnya juga sebagian menyangkut isu-isu struktural, seperti demokrasi dan penghargaan kepada HAM. Dalam tingkat tertentu, isu-isu pinggiran seperti soal jilbab, kawin antar- agama, dan lain-lain, juga bisa ditransformasikan menjadi isu struktural sehingga dampaknya langsung terasa. Misalnya kasus jilbab. Memang benar bahwa seorang ahli tafsir seperti Prof Quraish Shihab saja mengisyaratkan bahwa jilbab itu budaya Arab. Yang bukan bangsa Arab tidak terkena ketentuan untuk mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh. Perintah dalam Al Quran dan hadis menyangkut ketentuan jilbab, kata Shihab, adalah perintah dalam arti sebaik-baiknya, bukan perintah wajib (Lihat, Wawasan Al Quran, 1996, tentang Pakaian). Akan tetapi, yang harus menjadi agenda para pejuang demokratisasi pemikiran keagamaan seperti JIL bukanlah soal hukumnya wajib atau tidak (itu soal interpretasi fiqih yang boleh berbeda), melainkan memperjuangkan agar orang bisa melaksanakan apa yang diyakininya sendiri tanpa paksaan.

Sasaran kampanye JIL dalam hal ini bukanlah masyakarat itu sendiri, tetapi institusi atau otoritas yang membelenggu kebebasan masyarakat dalam menjalankan apa yang diyakini dari ajaran agamanya. JIL, sekadar contoh, tidak perlu mempengaruhi mahasiswa IAIN/UIN untuk tidak berjilbab, karena itu akan percuma selama institusinya sendiri mewajibkan jilbab. Artinya, kampanye demokratisasi Islam harus diarahkan langsung kepada sistem yang melingkupinya.

Begitu juga sebaliknya. Lembaga atau otoritas yang melarang perempuan Muslim memakai jilbab-seperti lazim di masa rezim Orde Baru-juga harus dilawan, demi persamaan hak yang dijunjung tinggi Islam liberal. Bukankah prinsip liberalisme adalah “mekanisme pasar”? Di sinilah diuji sejauhmana kalangan Islam liberal itu sungguh-sungguh liberal dalam pandangan dan sikapnya. How liberal can you go?

Kasus lain. Kawin antaragama adalah juga isu pinggiran, karena tidak menjadi mainstream dan cenderung tidak tampak. Diakui atau tidak, sudah banyak warga masyarakat yang melakukan kawin antaragama, sekalipun mereka tahu kesulitan yang akan mereka hadapi, misalnya dalam hal pencatatan pernikahan mereka di kantor catatan sipil.

Isu pinggiran ini akan menjadi isu publik apabila agenda pemecahannya struktural. Misalnya, dalam Islam, memisahkan kantor urusan agama (KUA) dengan catatan sipil. Sehingga dengan begitu menghilangkan kendala pencatatan bagi pasangan beda agama. Dalam konteks ini perlu dipikirkan bahwa salah satu agenda Islam liberal adalah mereduksi campur tangan (birokrasi) negara dalam mengatur kehidupan umat beragama. Hal lain yang bisa dilakukan adalah menyusun fiqih baru menyangkut ketentuan kawin beda agama.

Dua kasus itu sekadar contoh terhadap mana gerakan Islam liberal bisa memainkan peran strategisnya. Pendekatan baru adalah kata kuncinya. Bukankah Islam liberal sendiri hanya old wine in the new bottle? Karena itu, tanpa pendekatan baru, JIL tidak bisa mengelak dari tuduhan bahwa agendanya hanya mengulang-ulang proyek usang yang sudah ketinggalan zaman.

Akhirnya, dengan sedikit memperbandingkan gerakan Islam liberal era Cak Nur dan kawan-kawan pada dekade 1970-an dengan era Ulil Abshar dan kawan-kawan pada dekade 2000-an sekarang ini, bukanlah hendak menegaskan supremasi, prestise, dan kelebihan yang satu atas yang lain. Di setiap generasi, memang seharusnya muncul pikiran-pikiran baru yang menyegarkan. Gerakan pembaruan Cak Nur digulirkan pada masa transisi masyarakat dan bangsa dari era Orde Lama ke era Orde Baru, yang menyebabkan munculnya tuntutan-tuntutan baru yang perlu diberikan jawabannya.

Gerakan Islam liberal sekarang ini juga digulirkan pada era transisi dari rezim otoriter Orde Baru ke Orde Demokrasi atau era kebebasan. Tantangan era kebebasan sekarang ini pasti jauh lebih kompleks, dan pasti pula membutuhkan pikiran-pikiran yang jauh lebih liberal, yang lebih menyentakkan kesadaran banyak orang, dan mengganggu tidurnya orangorang yang malas. How liberal can you go?

Tulisan ini dimuat di Kompas, Jumat, 13 Desember 2002