
IG: ahmadgaus68
Baca juga:
Aku menulis, maka aku ada

IG: ahmadgaus68
Baca juga:
Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia

Baca juga:

Kota Yang Ditinggalkan
Kapan lagi angin gunung akan bertiup ke kota
menaburkan benih pepohonan di tubuh kita
agar tumbuh menjadi hutan!Sungai-sungai adalah nafas kita
yang berhulu di cakrawala
beribu-ribu tahun mengalir menuju muara jiwa
beribu-ribu perahu berlayar di atasnya
membawa sendiri mata air dari telaga
dan kita masih saja bicara tentang kearifan purba
melalui huruf dan angka-angka.Berapa banyak kota yang dibangun di atas makam
kesunyian sukma-sukma manusia
Berapa banyak peradaban yang membusuk
dalam piramida kurban manusia.Waktu berkejaran, mimpi terus disusun
dimasukkan ke dalam keranda
aku memandangi sepi menyergap jalan-jalan kota
musim kemarau diam-diam
menyusup lewat jendela.– a poem by ahmad gaus

Sahabat, kadang kita merasa kecewa saat harus berpisah atau ditinggal pergi oleh orang yang kita sayangi. Itu manusiawi belaka. Asal jangan sampai membuat kita terpuruk, seolah-olah dunia mau kiamat.
Film ini mengajarkan bahwa datang dan pergi adalah hal yang lumrah. Kita tidak bisa berharap seseorang akan ada selamanya dalam hidup kita. Saat seseorang pergi, Tuhan akan mengutus seorang yang lain sebagai penggantinya.
Sahabat, hidup ini tidak abadi. Begitu pula momen-momen yang melintas di dalamnya. Semuanya bergerak seperti sungai yang mengalir menuju samudera. Momen yang telah lewat tidak akan kembali.
Maka nikmatilah setiap momen dalam hidupmu. Karena itu akan memperkaya batinmu, menjadi kenangan indah, yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi karya-karya besarmu.
———-
Demikian kesan dan inspirasi yang saya dapatkan setelah menonton (kembali) film La La Land (2016) sekadar mengisi waktu Lockdown Corona. Bagaimana kesan dan pandanganmu, teman?

Segala sesuatu di dunia ada batas waktunya: penghidupan maupun penghabisannya.
Corona diutus-NYA untuk suatu masa tertentu. Telah ditetapkan-NYA berapa nyawa dihindarinya dan berapa nyawa direnggutnya.
Jangan meminta Corona pergi sebelum waktunya pergi. Memintanya berlalu sebelum habis batas waktu seperti meminta siang di saat malam dan sebaliknya, meminta sore di kala pagi dan sebaliknya.
Bershobarlah, semua ada giliran dan dipergilirkan-NYA. Cukupkan bermohon kepada-NYA agar terjaga dari serangan Corona, dianugerahi kekuatan untuk bertahan, dan masih diberkahi panjang usia dengan dimampukan mengisi hari-hari #dirumahajah dengan positif dan tetap produktif.
Jangan membenci Corona. Membenci Corona membenci Pencipta-NYA. Cukuplah kita waspada saja, sebab ia hanya melakukan tugas dari-NYA.
Ketahuilah,
Corona diutus-NYA dengan misi untuk menguji kesetiaan hati kita untuk tidak berpaling dari-NYA, mengetes seberapa besar nyali kita untuk tidak takut Corona, ciptaan-NYA, dan kita tetep teguh hanya takut kepada-NYA.
Tetaplah setia hati kita kepada-NYA, tetaplah takut kita hanya kepada-NYA dengan selalu mengingat-NYA, terus mendekat dan lekat kepada-NYA. Sebab hanya dengan sikap jiwa demikian Corona tak kan menyentuh apalagi mengganggu kehidupan kita. Janji utusan-NYA, Nabi Agung Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, MAN KHOFALLOH KHOFAHU KULLU SYAI (Barangsiapa yang takut hanya kepada ALLOH, ia ditakuti segala sesuatu).
Untuk itu, ikutilah selalu orang yang selalu ingat, dekat, dan lekat dengan ALLOH. Orang yang hanya takut kepada ALLOH. Kita akan terbawa.
Salam Kajembaran Rohmaniyah,
abahjagat21
Sumber: KENAPA JANGAN MEMBENCI CORONA http://tqnppsuryalaya.com/kenapa-jangan-

SAIL
if I must sail later
I want to depart from your breasts
and land at your base
BERLAYAR
Kalau nanti aku harus pergi berlayar
aku ingin bertolak dari payudaramu
dan berlabuh di pangkalmu
Baca juga:

Surat Cinta untuk Corona
Dear Corona,
KUTULIS surat ini saat hujan turun di sore hari
Setelah panas terik yang membakar sepanjang siang tadi
Orang-orang berharap engkau tersungkur di tanah
Lalu bangkaimu diseret air hujan hingga jauh ke laut
Begitulah, sengaja kuawali surat ini dengan meringkas “kebencian kolektif” yang ditujukan kepadamu.
Agar engkau tahu di mana posisimu sejauh ini.
SEKARANG tidak ada orang yang pergi ke taman untuk melihat pelangi
Atau mengikat janji dengan kekasihnya di sore hari yang indah
Mereka takut engkau ada di sana
Sebab saat ini engkau memang lebih menakutkan daripada nenek sihir dengan sapunya.
OH YA, ngomong-ngomong soal nenek sihir, pernahkah kau mendengar cerita tentang penyihir yang seumur hidupnya tidak pernah tertawa?
Sekali waktu dia tertawa, seekor tikus bisa berubah menjadi gadis cantik. Alangkah saktinya.
ADA juga kisah tentang penyihir jahat yang jiwanya tersimpan dalam buah pir.
Begitu orang-orang tahu buah pir dapat menurunkan berat badan, penyihir itu mati berkali-kali. Karma bagi penjahat.
Kesaktianmu mungkin sama dengan para penyihir itu
(Dan mungkin juga kelemahanmu)
Abrakadabra!
Sekali tepuk engkau berhasil menaklukkan dunia
Mengubah aturan di semua negara
Memaksakan moralitas baru dalam hubungan sosial
Menghentikan kemacetan lalu lintas di kota-kota yang sibuk
Mengeluarkan orang-orang dari penjara dalam jumlah yang sangat besar
ENGKAU juga memberi intrupsi pada pemahaman agama yang dogmatik
Mengusir kaum beriman dari rumah-rumah ibadah
Tapi memaksa orang untuk lebih dekat dengan Tuhan.
ENGKAU sebuah paradoks untuk kebatilan dan kebenaran
Nilai-nilai sekarang bukan hanya nisbi tapi jungkir balik
Banyak fenomena harus ditafsir ulang
JADI, engkau memang hebat, Corona
Tidak pernah ada yang bisa melakukan itu sebelumnya
Tapi tahukah kau bahwa seluruh dunia memusuhimu
Perang global sudah dideklarasikan untuk melawanmu
Dan engkau sendirian.
SAAT ini, bila kau lewat di kotaku
Orang-orang sudah mengenakan alat perlindungan diri
Kendaraan militer berjaga di setiap sudut dan tempat-tempat keramaian
Sesekali menyemprotkan tembakan ke udara dan pinggir jalan sehingga mengenai siapa saja
Seperti pasukan tempur yang menembak tanpa sasaran karena musuh tidak terlihat
ENGKAU telah membuat semua orang menjadi bodoh
Membuat malu negara-negara maju yang memiliki persenjataan paling canggih
Semua lumpuh, tidak berdaya di hadapanmu
Korban-korban kematian berjatuhan seperti daun-daun kering diterjang angin
ZAMAN yang murung bertambah murung
Kekerasan, kelaparan, kemiskinan, ada di mana-mana
Apalagi yang mau kau tambahkan
Menegakkan keadilan?
Silakan saja
Tapi lihat itu orang-orang yang kehilangan pekerjaan
Orang-orang yang dikuburkan tanpa didampingi keluarganya
Para malaikat pun tak sanggup berdiri di hadapan takdir mereka yang terasing
AAHHH… aku tidak tahu apalagi yang harus kutuliskan di sini, Corona
Tapi yang pasti sore ini sehabis hujan, aku ingin melihat kau menari bersama anak-anak di halaman
Tanpa mengancam
Tanpa ada korban
Itu saja.
WASSALAM
Ahmad Gaus
*****
ADULT ROMANCE: Apa yang dilakukan oleh mantan-mantan seleb ketika mereka sudah tersingkir dari dunia hiburan karena kalah bersaing dengan para pendatang baru? Sally, salah satu dari mereka, terjebak dalam pelukan para pejabat tinggi yang menjanjikan uang dan kemewahan. Tapi ia menolak semata-mata dijadikan sebagai objek kesenangan daging. Ia menggoreskan takdirnya sendiri dalam perjuangan yang keras dan penuh risiko. Simak kisahnya dalam novel ini:

Silakan dibaca di sini: https://h5.novelme.com/bookinfo/22983

Kepada Siapa Engkau Bicara
Akhirnya kau tegakkan lagi kaki-kaki langit itu
Setelah hujan karbon, kiamat debu, dan tubuh-tubuh yang berubah jadi arang
Tapi kepada siapa engkau bicara jika pohon-pohon saja menutup telinga
Hewan-hewan piaraan mengungsi ke hutan
Sebab di sana mereka tidak perlu berpura-pura menjadi manusia.
Engkau tahu sejarah sedang berselisih paham dengan pikiran
Ia mengambil jalan lurus atau menikung
Tapi pikiran ingin berbalik arah
Maka duduk saja di persimpangan
Menunggu kereta lewat di keningmu.
Lihat, matahari keluar dari ruang pesta dengan tubuh limbung
Mungkin semalaman dicekoki minuman keras
Tapi mau bagaimana lagi, hari ini dia harus berangkat ke sekolah
Belajar lagi menghitung jumlah manusia di jalan raya, rumah ibadah,
gorong-gorong
Belajar lagi mengucapkan nama Tuhan dengan lidah yang lembut
Sementara kita tetap di sini
Mengenang mereka yang pernah menanam pohon-pohon cahaya
dengan wajah murung
Sebab kita tahu dunia sebenarnya sudah hancur
dalam pot bunga.
— ahmadgaus —
Kredit gambar:
Kredit Featured Image:

Elegi Bulan April
(Catatan kelam wabah Corona)
Ahmad Gaus
Kuantar Maret ke pintu gerbang dengan tubuh menggigil
Seperti melepas seekor burung merpati yang sakit pilek
Hujan terakhir telah kucatat pada petang hari yang muram
Pemakaman sepi dari orang-orang yang kehilangan keluarga,
kekasih, dan sahabat mereka
Tanah-tanah bercerita, kematian karena wabah penyakit
begitu lengang, begitu tiada
Seperti hidup itu sendiri yang hanya dilalui
Kita yang terbiasa merayakan kesedihan tak sanggup
menerima kenyataan bahwa mati adalah kesunyian
Dan sejatinya sejak dahulu selalu begitu, hanya saja
kita mengingkarinya dengan keramaian
dan bunyi-bunyian
Kita yang selalu berdoa melalui pengeras suara
kini hanya bisa mengirim doa dari pintu rumah yang tertutup rapat
Kendaraan dikunci, pasar-pasar dikunci, kota-kota dikunci
Besok tidak pasti siapa lagi yang akan diantarkan
oleh wabah ini ke pemakaman
Kita gelisah membayangkannya,
karena kita adalah tawanan paling lemah
dari ketidakpastian.
Ciputat, 01 April 2020
CORONA (Dewi Kahyangan)
Ahmad Gaus
Begitu banyak cerita tentang dirinya
Tapi dia tetaplah misteri
Ada yang bilang dia mikro-organisma belaka
Ada yang percaya dia adalah setan yang melarikan diri dari neraka
Atau para dewa yang turun ke bumi untuk kembali menguasai dunia
Aku sendiri lebih suka membayangkannya sebagai dewi kahyangan yang
datang berselendang bianglala
Begitu lembut namun perkasa, membentangkan sayapnya
dari timur ke barat
seperti menantang manusia
Dewi kahyangan meradang karena dicampakkan
dan kini menjelma kuntum mawar yang mengembara
dalam pikiran manusia
menusukkan duri-durinya dalam tidur mereka
Setiap malam orang-orang gelisah membayangkan kematian
kerlip bintang hilang dari pandangan
sajak-sajak cinta terasing dari kehidupan
hanya sosok tak kasat mata yang terbayang
seperti dewi kahyangan dalam cahaya bulan
berjalan mendekat dan mengatakan ‘aku mencintaimu’
Ciputat, 01 April 2020
Puisi-puisi di atas dimuat juga dalam:
https://cakradunia.co/news/puisi-puisi-covid-19-ahmad-gaus/index.html#
——————–
Ahmad Gaus, adalah seorang dosen dan penulis. Ia mengajar matakuliah bahasa dan budaya di Swiss German University (SGU), Tangerang. Buku puisinya yang sudah terbit adalah Kutunggu Kamu di Cisadane (Puisi Esai, 2013), dan Senja di Jakarta (2017).