Categories
Puisi

Bgm Kamu Bisa Aku Benci by @rizkysufi dan Waltz Sore by @tasyataz

Antolologi Puisi dan Esai dari Kampus

Swiss German University (SGU), BSD-City

Bagaimana Kamu Bisa Aku Benci?

Oleh Rizky Sufi Kautsar*)

 

Aku akan meninggalkanmu
Jika itu harus.
Aku akan melupakanmu
Jika itu juga harus.
Aku akan memaafkanmu
Jika itu memang harus.

Tapi aku tidak akan membencimu
Bahkan jika aku harus.
Bagaimana aku bisa membenci kamu,
Siapa yang aku cintai begitu setia
Dan tanpa syarat?

*) Rizky Sufi Kautsar, Mahasiswa Swiss German University (SGU) Jurusan Biomedical Engineering, Semester 8.

_______________________

Waltz Sore

Oleh Annisa Tazakka*)

Daunnya berguguran seolah membiarkan

terang bulan menembus ranting anak dahannya.

Dan dia menikmati itu, menikmati si kecilku

berwaltz ria dengan anggunnya.

Waltz 7 musim di musim yang sangat dingin

mematikan urat-urat tulang.

Ketukan dan hentakan tempo berurai hingga melebur

dengan cahaya-cahaya borealis.

Kadang terang sekali

sesekali meredup dan berdetak kencang.

Di jam 12 si kecilku terlihat menggarang

malah semakin angkuh saja

aku memperhatikannya, terus mengamatinya.

Kagumku menjalar mengalahkan nalar

merobohkan pikiran-pikiran.

Dulu selalu kuanggap dia sebagai pelengkap

karena aku menyadari

dia selalu membanggakanku

pernah juga kuhakimi dia sebagai penyusah.

Bagaimana tidak, dia melakukan apa yang kulakukan

di saat aku akan mencapai 10 tahun.

Dan di detik ini, aku hanya bersembunyi-sembunyi melihat dia

dari semak-semak belukar.

Dalam pandanganku kali ini, dia semakin saja terang

semakin saja menyilaukan

dan semakin saja bercahaya.

Mungkin dia tidak tahu

kalau itu semua melebihi orang kebanggaannya.

Aku layu saat menyadari itu

dan pucat pasi saat dia menangkap bayanganku

dan menarikku ke dalam keangkuhan

dan membimbingku melanjutkan waltznya.

――――――――――

*) Annisa Tazakka, Mahasiswi SGU Jurusan International Business Administration, Semester 8.

Puisi di atas diambil dari buku Istana Angin: Bunga Rampai Puisi Kampus (LotusBooks, 2011). Berminat memiliki buku ini hubungi: 0818829193

____________________________________________________________________________

Categories
Buku Baru Ahmad Gaus Puisi

Para Penyair dan Sastrawan Bicara tentang Buku Puisi Esai Ahmad Gaus

Buku terbaru karya Ahmad Gaus “Kutunggu Kamu Di Cisadane: Antologi Puisi Esai.” (KomodoBook, 2012). Kata Pengantar Oleh: Jamal D. Rahman (Pemimpin Redaksi Majalah Sastra HORISON). /  @AhmadGaus

APA KATA MEREKA tentang BUKU INI

Membaca puisi esai Ahmad Gaus menjadi peluang untuk melihat persoalan kemanusiaan tidak hitam-putih, melainkan penuh kejutan seperti lagu-lagu dangdut Indonesia yang perkasa. – Acep Zamzam Noor, Penyair

Puisi esai adalah gagasan menantang, khususnya bagi penyair yang intelektual. Ahmad Gaus memenuhi tantangan itu. Lewat antologinya ini, ia mencoba menguji kesungguhan kita sebagai bangsa yang bhinneka tunggal ika. – Agus R. Sarjono, Penyair.

Gaus itu peka soal puisi dan tajam soal esai. Ketika ia menulis puisi esai, karyanya asik dibaca karena temanya tajam dan bahasanya indah. – Denny JA, Penulis Buku Atas Nama Cinta: Sebuah Puisi Esai

Kedalaman sufistik dan ketajaman sosio-antropologis menunjukkan pengalaman empirik penulisnya dalam menyelami kehidupan. Kelima puisi esai ini menarik, menggugah dan mencerdaskan. – Fakhrunnas MA Jabbar, Sastrawan dan Budayawan

Melalui puisi-puisi esainya Gaus memotret dunia yang kongkrit dan merefleksikannya dengan bahasa yang indah dan jernih. – Ahmadun Yosi Herfanda, Penyair dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

_________________________________________________________________________

Pesan buku ini via Mobile: 0818829193/ PIN 21907D51. Jabodetabek Rp35.000.00/ Jawa dan Luar Jawa Rp45.000.00

______________  Follow me at twitter @AhmadGaus  ____________________

Categories
Puisi

Lukisan Flamboyan

Puisi Ahmad Gaus

 

Seperti sungai yang mengalir

ribuan tahun lamanya menuju muara

aku pun ingin menujumu

beribu-ribu tahun lagi.

 

Seperti angin yang berhembus

menaburkan pupuk pada putik-putik kembang

aku pun ingin menyemaikan rindu

pada kelopak hatimu.

 

Langit kujadikan kanvas

tintanya air mata dan hujan

dan engkau yang terus berlari membawa keranjang

memunguti bunga-bunga flamboyan.

 

Aku ingin melukismu lagi

menggoreskan warna-warni pelangi pada rambut

dan bola matamu yang menyala

berguguran seperti cahaya.

 

Ciputat, 06/06/11

 

Categories
Puisi

Puisi

Sketsa Hujan
Ahmad Gaus AF

 

Siapa yang memberimu bunga

dan mengalungi lehermu dengan api?

Engkau masih terlelap dalam mimpi

ketika aku memunguti sisa-sisa butiran hujan
dan menyelipkannya di gaunmu yang terbakar.

Jendela kamarmu dipenuhi rumput ilalang
engkau terjaga dan memahat
airmatamu dengan kabut
menjadi patung-patung duka
lalu menghiasnya dalam bingkai waktu yang beku

Musim ini segera berlalu

tapi engkau masih saja terlelap

dalam mimpi panjangmu
sementara di luar

orang-orang berlarian
berebut hujan.

Chennai – India, 15/08/07

— Puisi ini dimuat dalam buku ISTANA ANGIN: Bunga Rampai Puisi Kampus (LotusBooks, 2011)