[Puisi] Ketupat Lebaran

lebaranketupat

KETUPAT LEBARAN

Anak-anak membakar petasan di ujung gang dan dilemparkan begitu saja ke arahku

Senyampang ledakan persis di wajahku, aku terlempar jauh sekali

Ke masa kanak-kanak, di bawah pohon kelapa

Ketika nenekku mengajari menganyam ketupat.

“Nanti malam malaikat-malaikat akan turun,” katanya. “Kita beri mereka makanan enak supaya nanti kita ditunjuki jalan ke surga.”

Malam hari kulihat banyak sekali ketupat di mushalla tempat kami salat tarawih

Tapi usai qunut dan witir para jamaah melahap ketupat-ketupat itu dan sebagian dibawa pulang hingga tidak ada yang tersisa.

“Aku tidak melihat para malaikat makan ketupat, ke mana mereka?” Tanyaku.

Imam tarawih, yang tidak lain adalah kakekku, menjelaskan bahwa para malaikat akan datang di sepertiga malam. Maka malam itu aku dan teman-teman berjaga di mushalla. Sebagian memukul bedug dan yang lain saling memijat bergantian dengan cara menginjak badan. Tidak ada satu pun yang mengaji karena kami khawatir malaikat datang tanpa diketahui.

Lewat tengah malam listrik padam. Tapi langit begitu terang. Para malaikat beriringan membawa obor yang dibuat oleh nenekku. Menyebrangi sungai yang masih jernih dan luas di kampungku.

Penduduk mengikuti para malaikat itu dari belakang. Kakekku menyerukan agar semua berbaris rapi menuju sebuah bukit. Itulah tempat keutamaan, katanya, di mana para nabi telah menunggu ribuan tahun lamanya.

“Terus berjalan, terus!” Kakekku berseru lagi. Semua mengikuti perintahnya, menembus malam yang diterangi cahaya obor. Makin jauh kami berjalan suasana makin sunyi. Sampai ke lereng bukit. Kami mendengar rumputan dan batu-batu bertakbir.

Dari kejauhan aku mendengar sayup-sayup bunyi petasan berubah perlahan-lahan menjadi suara takbir. Melesap masuk ke lorong waktu yang sangat panjang, yang menghubungkan ruh dan jasadku.

Malam ini aku melihat almarhum kakek dan nenekku turun dari bukit membawa ketupat.

Ciputat, 04-06-2019

Ahmad Gaus

[Puisi] S

ae6871b3c7ac0d0d572f78aad4c3b0e6
Screenshot_2020-05-16-16-59-38-1-1

 

 

[Puisi] U

Screenshot_2020-05-09-11-55-00-1-1

 

 

 

[Puisi] W

FF20200508_092641(1)

Follow my IG: @gauspoem

[Puisi] X

569de1c747c7622b5693bea820d98fd9

20200508_092943

Puisi-puisi saya yang dipublikasikan di sini telah saya posting terlebih dulu di instagram. Untuk mendapatkan puisi saya lebih awal setiap harinya sila follow my IG and mention for following back. 

IG: gauspoem

__________________________

[Puisi] Z

20200505_155145

IG: gauspoem

__________________________

[Puisi] Donna

51a27c03c4be8cb2f42f50e51f8ad83e

20200504_131549

Puisi-puisi saya yang dipublikasikan di sini telah saya posting terlebih dulu di instagram. Untuk mendapatkan puisi saya lebih awal setiap harinya sila follow my IG and mention for following back. 

IG: gauspoem

__________________________

[Poem] Dust in the Shoes

Dust in the Shoes

Every time I ask how much you love me

you enter your shoes and tell me about the journey

to your dream home by sowing love throughout the seasons

of the years of suffering, but when you arrive at the

gate of the house there is nothing in

your shoes except dust.

(IG: gauspoem)

Screenshot_2020-05-02-13-22-15-2

Puisi-puisi saya yang dipublikasikan di sini telah saya posting terlebih dulu di instagram. Untuk mendapatkan puisi saya lebih awal setiap harinya sila follow my IG and mention for following back. 

IG: gauspoem

[Puisi] NYA

20200501_140112

Puisi-puisi saya yang dipublikasikan di sini telah saya posting terlebih dulu di instagram. Untuk mendapatkan puisi saya lebih awal setiap harinya sila follow my IG and mention for following back. 

IG: gauspoem

Jalan Terjal

 

Jalan Terjal2

IG: ahmadgaus68

Baca juga:

Sketsa Hujan

Doa Penawar Rindu

Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia

KAU

Kau

Baca juga:

SAIL AND LAND

 

[Puisi] Kota Yang Ditinggalkan

079521000_1581601682-shutterstock_1608967960

Kota Yang Ditinggalkan

Kapan lagi angin gunung akan bertiup ke kota
menaburkan benih pepohonan di tubuh kita
agar tumbuh menjadi hutan!

Sungai-sungai adalah nafas kita
yang berhulu di cakrawala
beribu-ribu tahun mengalir menuju muara jiwa
beribu-ribu perahu berlayar di atasnya
membawa sendiri mata air dari telaga
dan kita masih saja bicara tentang kearifan purba
melalui huruf dan angka-angka.

Berapa banyak kota yang dibangun di atas makam
kesunyian sukma-sukma manusia
Berapa banyak peradaban yang membusuk
dalam piramida kurban manusia.

Waktu berkejaran, mimpi terus disusun
dimasukkan ke dalam keranda
aku memandangi sepi menyergap jalan-jalan kota
musim kemarau diam-diam
menyusup lewat jendela.

– a poem by ahmad gaus