Categories
Puisi

[Puisi] PERSEKUSI

persecution

PERSEKUSI

Batu-batu yang jatuh dari langit berlarian di tubuhku seperti kawanan serigala. Taring-taringnya mengancamku di balik cermin; dan matanya mengirimkan dendam. Mereka tidak peduli mulutku sudah lama terkunci, tak bisa lagi menjadi pengeras suara yang melontarkan lolongan mereka ke angkasa. Terus saja mereka melolong sepanjang malam.

Dan aku benar-benar tak bisa tidur, sebab suara-suara itu sangat mengganggu, seperti jeritan orang-orang di ruang penyiksaan. Akhirnya kuputuskan untuk masuk lebih jauh lagi — ke jantungku, urat-urat sarafku, pembuluh-pembuluh darahku…

Rupanya inilah negeri masa kanak-kanakku; negeri elok nan damai. Tapi huru-hara itu datang seperti hujan batu yang ditimpakan dari langit dan merenggut semuanya: keluarga, sanak-saudara, sahabat, handai taulan. Gedung-gedung yang megah dan taman-taman yang indah, terkubur batu.

Sudut-sudut kota dijaga kawanan serigala dengan sorot mata penuh dendam. Mereka akan mengejar siapa saja yang menghina pemimpin serigala, mencabik-cabik tubuhnya, dan melemparkannya ke neraka.

03/06/17