Categories
Puisi

[Puisi] O CLARA, MANGE WISA KO

jemb sukarno
Jembatan Sukarno, Manado

O CLARA, MANGE WISA KO

Selamat malam, Clara
maukah kau temani aku sejenak saja
menyusuri tepian pantai di sana
atau sekadar bercengkrama di dermaga
menunggu saat purnama tiba
di seberang jembatan Sukarno

Aku ingin mendengar sekali lagi
deru nafasmu yang terengah
seperti isyarat bahwa ada sesuatu
yang tengah berubah

Di lorong-lorong kota
seribu gereja menunggu
sebuah lilin yang masih menyala
lonceng-lonceng makin keras dibunyikan
ayat-ayat suci makin keras dibacakan
udara kota berhimpitan

Maka kau harus terus menjaga
agar api itu tetap menyala
sebab kalau sampai padam
seluruh kota ini akan gelap gulita
lalu kau mau ke mana
mange wisa ko, Clara?

Manado, 28 Oktober 2018
Ahmad Gaus
penulis, aktivis

 

Deklarasi manado
Deklarasi Sumpah Pemuda Milenial oleh Jaringan Komunitas Bela Indonesia (KBI), di Jembatan Sukarno, Manado, 28 Oktober 2018

Unsrat manado

Categories
Puisi

[Puisi] Kepada Yth. Cebong dan Kampret

 

 

Kepada Yth.
CEBONG DAN KAMPRET

Sebuah negeri tergelincir dari tanganku
Jatuh ke dalam kolam
Sekawanan burung masuk ke tubuhku
Membawa reruntuhan kota
Ekosistem kehidupan telah berubah
Dan aku terpaksa menyesuaikan diri
Meminum air yang bercampur dengan puing-puing bangunan yang belum lama berdiri dan runtuh
Menghirup udara yang tercemar dari polusi besi-besi tua yang gemar berteriak.

Aku tidak tahu kapan pastinya tubuhku bermutasi
Ekor dan sayapku tumbuh begitu saja
Meniru orang-orang, aku pun mulai bisa berenang seperti anak katak
Dan belajar terbang seperti kelelawar
Menyusup ke dalam kepala orang lain dan mencuri pikiran mereka
Kutanam di tengah kota yang telah mati
Dan tumbuh menjadi pohon dengan daun-daun yang dapat berbicara
Menggantikan lidah yang sudah hangus karena tidak pernah berhenti saling menista.

Orang-orang terbangun dari tidur dengan isi kepala dipenuhi burung.
Mereka berhamburan dari mulut dan lubang telinga
Terbang ke sana ke mari memenuhi seantero kota
Kaki mereka mencengkram batu-batu yang menyala
Dan dijatuhkan di atas pemukiman warga
Penduduk berlarian ke luar rumah dengan wajah menengadah dan mulut menganga
Menelan batu-batu itu sampai memenuhi perut mereka
Lalu meledak seperti bom bunuh diri
Langit gelap gulita. Bumi rata.

Apakah semua harus dihancurkan dulu?
Sebelum dibangun kembali oleh anak-anak yang belum lahir
Anak-anak manusia — bukan anak katak atau kelelawar.

 

Pontianak, 31 Juli 2018

Wassalam,

Ahmad Gaus AF
penulis, aktivis

Note: Puisi “Cebong dan Kampret” dibacakan di Aula Universitas Tanjung Pura, Pontianak, 31 Juli 2018. Dibacakan kembali dalam pertemuan para aktivis Komunitas Bela Indonesia (KBI) di Hotel Best Western Premier The Hive, Jakarta, 7 Agustus 2018

Pontianak Untan

“Pertemuan Komunitas Bela Indonesia, Jakarta, 7 Agustus 2018”

Best Western Premier The Hive Jkt

Komunitas Bela Indonesia