Bagaimana kedudukan puisi dan para penyair di panggung sejarah nasional? Yuk, kita ngobrol bareng di acara virtual ini sambil mendengarkan pembacaan puisi dari para penyair.
Aku menulis, maka aku ada
Bagaimana kedudukan puisi dan para penyair di panggung sejarah nasional? Yuk, kita ngobrol bareng di acara virtual ini sambil mendengarkan pembacaan puisi dari para penyair.
Jodoh itu ada di tangan Tuhan. Kalau sepasang kekasih beda agama/keyakinan ternyata harus berjodoh, siapa yang bisa menghalangi? Di antara kendala-kendala teologis dan sosiologis, orang yang berani membuka jalan bagi pasangan beda agama yang ingin menikah pastilah dia orang hebat. karena dia melawan arus dan pemahaman ortodoks tentang pernikahan.
Teman saya, Ahmad Nurcholish, adalah salah satu orang hebat yang saya maksud. Dengan bekal pengetahuan agama dari pesantren, pemahaman terhadap kitab-kitab klasik, dan pengalaman interaksi lintas agama dan keyakinan, dia mewakafkan seluruh hidupnya untuk membantu orang-orang yang merasa kesulitan untuk melangsungkan pernikahan beda agama. Sampai saat ini sudah ribuan orang yang dia bantu mewujudkan impian mereka untuk hidup dalam ikatan pernikahan, walaupun beda agama.
Dalam pandangan keagamaan, Nurcholish yang kini Direktur ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace) mengikuti jejak Gus Dur dan Cak Nur, dua raksasa pluralisme Islam yang pernah dimiliki bangsa ini.
Selamat ulang tahun, kawan.
Ketika aku merindukanmu, kutanami tubuhku dengan bulu matamu…
oo000oo
Masa depan bahasa Indonesia tergantung pada sastra. Tanpa sastra, dan khususnya puisi, bahasa Indonesia tinggal menunggu kematiannya. Simak perbincangan saya di video berikut:

Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2021
Kalau engkau pergi ke kota santri
Sampaikan salamku pada gadis manis di asrama putri 🙂 🙂
Follow my instagram: @gauspoem
Let me know by DM if you want me to follow you back
IMAJINASI ISLAM
Untuk Prof Komaruddin Hidayat
Suatu malam bulan jatuh di atas menara
Setangkup kubah meleleh bagaikan timah yang dipanaskan di atas bara
Bintang-bintang redup, dan langit kehilangan jejak
Nabi-nabi yang diutus untuk membangun surga dan menerangi dunia
Wahai sadarlah para pengembara yang tersesat di gurun sahara
Manusia tidak menghendaki surga ada di muka bumi, sebab bumi terlalu kotor
Bumi hanya tempat untuk menumpahkan darah
Surga ada di atas langit
Di bawah pohon anggur
Di atas sungai susu
Di sela paha bidadari yang selalu perawan
Manusia membangun surga-surga imajiner
Tubuh mereka di atas bumi, tapi jiwa mereka di atas langit
Demikianlah perpecahan paling tragis dalam peradaban manusia
Sedangkan Tuhan adalah satu kesatuan
Pikiran manusialah yang memisah-misahkan
Yang wujud dan yang gaib
Yang jauh dan yang dekat
Timur dan barat
Hitam dan putih
Tuhan membuat garis lengkung pertemuan langit dan bumi
Manusia membangun tembok yang tegar atas nama keyakinan
Padahal Tuhan tidak ada di dalam perpecahan
Maka di manakah wahyu? Di mana agama?
Wahyu sudah menjadi debu yang menempel di kaki unta
Sedangkan agama tinggal rangkanya
Seperti layang-layang putus yang dikejar oleh anak-anak dan diperebutkan hingga robek
Tapi tidak usah berputus asa
Sebab kita masih bisa membayangkan dunia yang lain
Dunia yang berada di antara langit dan bumi
Tempat anak-anak bermain petak umpet dalam warna-warni pelangi
Perempuan-perempuan dengan bebas mengibarkan rambut mereka di cakrawala
Dan para lelaki menulis syair-syair cinta
Ciputat, 11/10/21
Ahmad Gaus
Puisi di atas dipersembahkan untuk sahabat saya, Prof Dr Komaruddin Hidayat sebagai kado ulang tahunnya yang ke-68 pada 18 Oktober 2021. Prof Komar adalah Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok. Hari ultahnya nanti akan dirayakan oleh teman-teman Caknurian secara daring yakni dengan diskusi buku, maupun luring alias makan-makan karena pandemi sudah berlalu. 🙂
Puisi di atas akan dibacakan pada kedua momen tersebut.
Don’t forget to follow my IG: @gauspoem
Baca juga:
ANDAIKAN KAU DATANG
Selamat ulang tahun, Om Yon Koeswoyo (27 September 1940 – 5 Januari 2018), semoga berbahagia di alam sana, karena jasamu sungguh tak ternilai, menginspirasi, dan menghibur jutaan manusia di negeri ini. Sampai sekarang suaramu masih terus terdengar, lagu-lagumu terus diputar, amalmu terus mengalir. Bersama kedua saudaramu, Om Tonny dan Om Yok, plus Murry, kalian sungguh manusia-manusia pilihan. Aku ingat waktu di SD dulu semua buku tulisku dan teman-teman bergambar Koes Plus dengan formasi lengkap, kami membacanya seperti sedang menyanyi: Yon, Yok, Tonny, Murry… padahal Om Tonny adalah yang tertua.
Om Yon, aku tahu hidupmu tidak selalu indah, tapi mungkin karena itu lagu-lagu kalian (Koes Plus), bercerita banyak hal dalam kehidupan, termasuk tragedi-tragedinya. Kalau bukan karena pengalaman sendiri, tidak mungkin syair dan nada lagu-lagu itu begitu menyentuh. Banyak lagu kalian yang membuat orang menangis seperti Kembali Ke Jakarta, Kisah Sedih di Hari Minggu, Hidup Yang Sepi. ..
Engkau sendiri yang bilang bahwa lagu “Hidup Yang Sepi” adalah cerita hidupmu sendiri yang tidak pernah punya kekasih. Sekalinya jatuh cinta pada seorang gadis, dia pergi melanglang buana meninggalkanmu, hingga engkau berkhayal dalam lagu “Andaikan Kau Datang” – walaupun lagu itu dibuat oleh abangmu, Tonny Koeswoyo, tapi kau melantunkannya begitu mengiris, menyayat hati. Juga lagu ini, Hatiku Beku:
Tolonglah, tolonglah aku
Mengapa beku hatiku
Bila itu ‘kan berlalu
‘Ku menunggu tiada tentu
Pernikahanmu yang pertama kandas karena engkau miskin dan terpuruk, sampai harus menyewakan rumah dan buka usaha jual-beli mobil. Aku dengar cerita saat istrimu mau melahirkan engkau harus meminjam uang untuk membayar biaya persalinan yang hanya satu setengah juta rupiah saja.
Kalian (Koes Plus) adalah contoh bahwa memilih hidup menjadi seniman adalah sebuah penderitaan. Jatuh bangun dalam membangun sebuah kelompok musik yang solid tidak mudah, dan kalian sudah mengalaminya: bubar, ditinggal pergi, gonta-ganti personil. Tapi dalam penderitaan itu kalian mengukir nama besar dan reputasi yang abadi.
Om Yon, dulu waktu di SD kami bertamasya ke Taman Mini (TMII) dengan bus carteran. Di seantero sudut TMII dipasang pengeras-pengeras suara yang melantunkan lagu-lagu kalian (Koes Plus) seperti: Nusantara, Kolam Susu, Bis Sekolah, Diana, dll. Kalian hebat, karenanya terus diingat. Aku menyukai semua aliran musik yang kalian bawakan, dari mulai Pop, Rock, Melayu, Dangdut, hingga Keroncong.
Sampai sekarang aku masih selalu mendengarkan lagu-lagu kalian (Koes Plus) saat bekerja di depan laptop atau sedang bepergian. Lagu berjudul “Rindu” (melayu), termasuk salah satu lagu favoritku, selain Mengapa, Manis dan Sayang, Sendiri dan Rahasia, Ya Fatimah… dll.
Lagu kalian tentang cinta, kerinduan, penderitaan, mengingatkan kita tentang kehidupan yang fana. Kalian sejatinya bukan hanya bernyanyi tapi juga melantunkan filosofi hidup yang dalam, luas, dan tidak bersekat. Karena itu musik di tangan kalian benar-benar wakil dari suara alam yang indah dan memesona, universal dan menggetarkan jiwa.
Betapa tinggi elang akan terbang
Lebih jauh lagi tinggi lamunan
Betapa megah hidupmu kau bilang
Dalam tidurmu semua akan hilang
(Perasaan, Koes Plus)
Selamat ulang tahun Om Yon, selamat berbahagia di sisi Tuhan. Terima kasih Koes Plus, dan untuk Om Yok, semoga selalu sehat, panjang umur dan bahagia.
Salam,
Ahmad Gaus
Ikatan Guru Indonesia (IGI)
Di era demokrasi saat ini kita tidak perlu lagi berpikir hanya boleh ada satu organisasi profesi. Sebab, organisasi-organisasi kemasyarakatan (ormas), termasuk organisasi profesi, pada dasarnya adalah gerakan sosial mandiri yang hadir untuk memperjuangkan aspirasi anggotanya.
Dalam masyarakat dengan tingkat heterogenitas yang sangat tinggi seperti kita, dan lapisan yang begitu tebal, adalah absurd untuk membayangkan hanya ada satu organ yang memperjuangkan aspirasi masyarakat. Justru semakin banyak organ semakin baik. Mereka akan berkompetisi dan bekerja keras untuk kemaslahatan masyarakat, dan terutama para anggotanya.
Ormas adalah kekuatan civil society yang menjadi tulang punggung demokrasi. Tanpa civil society tidak ada akan demokrasi. Maka kehadiran IGI (Ikatan Guru Indonesia), walaupun sudah ada PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), harus dilihat dalam perspektif ini. Keduanya, juga yang lain kalau ada, berhak hadir untuk menyejahterakan masyarakat, terutama para anggotanya. Dan secara lebih luas, mereka juga berkontribusi pada perkembangan dan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.
Selamat buat IGI. Teruslah bekerja untuk anggota, teruslah berkarya untuk bangsa.
Terima kasih telah mengundang saya sebagai narasumber di acara Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan kemarin, 25 September 2021 di Swiss Belhotel, Serpong, kerjasama IGI dan Sekjen MPR RI. Semoga kelak kita bisa lagi berkolaborasi.
Salam,
Ahmad Gaus
MANTAN DAN KENANGAN
Buat kamu yang sedang duduk menghadap jendela, yang membayangkan mantan menjelma di depan mata secara tiba-tiba, berhati-hatilah karena kamu sudah berada di atas menara halusinasi paling tinggi.
Kalau saya ada di situ saya akan beri kamu tangga supaya kamu bisa turun dengan perlahan dan hari-hati. Sebab kalau tidak, kamu akan terpeleset dan jatuh. Apalagi kalau melompat dari menara halusinasi itu. Kamu bisa mati konyol. Hanya gara-gara mantan.
Memang gampang-gampang susah melupakan mantan. Karena konon mantan itu seperti file di komputer yang walaupun sudah dihapus tapi sebenarnya masih ada di recycle bin. Atau seperti virus di flashdisk yang dihapus berkali-kali tapi datang lagi, muncul lagi. Jadi harus sering-sering dibersihkan.
Teman saya cerita, dia putus dengan pacarnya lalu nyambung lagi, terus putus lagi, nyambung lagi dan putus lagi. Begitu saja beberapa kali sampai akhirnya pacarnya menikah dengan orang lain. Capek juga kali ya, nggak ada kepastian soalnya.
Akhirnya dia menyimpulkan bahwa; “Mantan itu seperti benang yang putus. Bisa sih disatukan lagi tapi tidak akan sempurna, dan pasti meninggalkan bekas. Mantan mengajarkan kita arti kesabaran, keikhlasan, dan sekaligus kegoblokan karena kita harus membuang banyak waktu dalam hidup yang singkat ini untuk menjaga jodoh orang lain.” Rasain. 🙂
Jadi ingat ya, boleh ingat mantan tapi sekadarnya saja. Simpan mantan di recycle bin sebagai kenangan.
Salam kenangan
Ahmad Gaus
Follow my IG: @gauspoem