Membaca Kembali Pram: Gonjang-Ganjing BUMI MANUSIA

Esai ini berasal dari makalah diskusi memperingati wafatnya Pramoedya Ananta Toer yang diselenggarakan oleh Sanggar Kaki Langit, Tangerang, 30 April 2013. Saya posting di sini setelah diperbaiki dan dilengkapi dengan catatan kaki. Selamat membaca. Semoga bermanfaat. Ahmad Gaus BUMI MANUSIA Duapuluh tahun sebelum menerbitkan Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer menulis sebuah esai berjudul “Dengan DatangnyaContinue reading “Membaca Kembali Pram: Gonjang-Ganjing BUMI MANUSIA”

Puisi Pernikahan

Tentang Pernikahan – Kahlil Gibran – Kalian telah diciptakan berpasangan Dan selamanya kalian akan berpasangan Bersamalah… sampai Sang Maut memisahkan nyawa dari raga Bersamalah… namun biarkanlah ada ruang di antara kebersamaan itu Tempat angin surga menari-nari di antara kalian Berkasih-kasihlah, namun jangan membelenggu cinta Biarkanlah cinta itu bergerak senantiasa Seperti aliran sungai yang mengalir lincahContinue reading “Puisi Pernikahan”

[Esai] Mengapa Orang Saleh Masuk Neraka? Tentang “Robohnya Surau Kami”

Rumah Produksi Rupa Kata Cinema tahun ini akan memproduksi film “Robohnya Surau Kami”, yang diangkat dari cerpen legendaris karya sastrawan Minang, AA Navis. Seberapa menarik karya cerpen tersebut? Berikut catatan iseng saya: ROROHNYA SURAU KAMI Mengapa cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis yang terbit tahun 1955 masih terus dibaca orang hingga sekarang? Sebenarnya bukanContinue reading “[Esai] Mengapa Orang Saleh Masuk Neraka? Tentang “Robohnya Surau Kami””

Menikmati ‘Hujan Bulan Juni’ bersama Tuan Sapardi

HUJAN BULAN JUNI Bulan Juni ialah musim kemarau, dan hujan dipastikan tidak turun. Jika hujan rindu ingin bercumbu dengan bunga-bunga, maka ia harus bersabar menunggu musim kemarau berlalu… “Hujan Bulan Juni” memperlihatkan kekuatan Sapardi sebagai penyair yang mampu keluar dari labirin kesunyian yang melahirkan kefanaan (Amir Hamzah), kepasrahan (Chairil Anwar), atau amukan (Sutardji Calzoum Bachri),Continue reading “Menikmati ‘Hujan Bulan Juni’ bersama Tuan Sapardi”

Wiji Thukul, Penyair Pemberontak

AKU INGIN JADI PELURU Peringatan jika rakyat pergi ketika penguasa pidato kita harus hati-hati barangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyi dan berbisik-bisik ketika membicarakan masalahnya sendiri penguasa harus waspada dan belajar mendengar bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran pasti terancam apabila usul ditolakContinue reading “Wiji Thukul, Penyair Pemberontak”