Laura dan Burung Hantu

SINOPSIS

“Di dunia ini ada kekuatan hitam, ada kekuatan putih. Kamu pilih yang mana untuk membantu mewujudkan impian-impianmu? Tapi ingat, setiap pilihan akan membawa akibat pada kehidupanmu.”

***

Laura (20) adalah seorang gadis pencemburu yang mudah terbawa oleh khayalannya sendiri. Dia sering membayangkan dirinya menjadi seseorang yang sempurna kecantikannya seperti bidadari. Dia menganggap dirinya bisa terbang dan tinggal di kerajaan kahyangan. Begitu kuat khayalannya dipatri dalam pikiran sehingga dia hidup seperti dalam mimpi. Akibatnya dia juga sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan. Bahkan dalam mimpi dan khayalannya itulah dia menciptakan kenyataan.

Setiap keburukan yang menimpanya atau ancaman yang mengintainya dikhayalkan sebagai burung hantu. Sehingga burung hantu itu selalu hadir dalam kehidupannya.

Note: Silakan baca novel ini sampai tuntas di platform NovelMe dalam tautan di bawah ya.

Terima kasih

https://h5.novelme.com/bookinfo/18126

Aku dan Kambing

Kambing Wajah Hewan - Foto gratis di Pixabay

AKU DAN KAMBING

Seekor kambing melompat
dari tubuhku
menyelamatkan diri dari terkaman
hewan-hewan lain
yang lebih buas
di sana.

Di tempat pemotongan
ia bertanya
pada sebilah pisau
siapa yang harus disembelih:
dia atau aku?

Selamat Hari Raya Kurban, 31 Juli 2020

Burung Gereja dan Asal-Usul Toleransi Agama

Untuk Pendeta Albertus Patty
pdt-albertus-patty-_141225181351-431
Burung gereja yang setiap pagi berkerumun di halaman rumahku, hari ini raib entah ke mana
Tapi samar-samar kudengar kabar bahwa setiap minggu pagi mereka sibuk menyambut para jemaat yang akan melakukan misa-kebaktian di gereja
Sungguh perbuatan yang mulia, mereka mau meramaikan ibadat orang-orang yang berbeda agama, tanpa takut kehilangan akidah
Dulu, kata sahibul hikayat, burung gereja itu sebenarnya adalah burung-burung masjid
Mereka senang berkerumun di sekitar menara untuk mendengarkan azan
Hikayat mengatakan, mereka itu hewan yang paling religius, yang kehidupannya tidak pernah jauh dari rumah ibadah
Suatu hari, di halaman masjid diadakan sunatan massal
Mereka terkejut melihat “burung” anak-anak dipotong-potong begitu rupa dan mengucurkan darah
Kalau anak orang saja bisa dibuat begitu, bagaimana dengan kita. Begitu pikir mereka
30063030-288-k521091
Sejak itu mereka berbondong-bondong pindah ke gereja
Bermain dengan bebas di halaman gereja tanpa rasa takut dipotong, dan membuat sarang di sekitarnya
Para pendeta dan pastur tidak pernah berpikir untuk membaptis mereka, karena
jumlahnya terlalu banyak dan sulit diidentifikasi
Maka sampai sekarang, konon, burung-burung gereja itu tetap muslim
Mereka bersahabat baik dengan pastur/ pendeta dan para jemaat
Dan tanpa diminta mereka akan ikut menjaga acara-acara penting gereja seperti misa atau kebaktian
Itulah asal-usul toleransi agama
Kadang mereka juga dicap burung kafir atau burung murtad
Tapi mereka tidak peduli
 
***
Baca juga:

Kerukunan dan Toleransi Itu Beda, Son

Sementara Kita Saling Berbisik: Mengenang SDD

Pagi tadi saya membuka twitter dan mata saya tertumbuk ke trending topic di posisi paling atas: #PakSapardi. Saya curiga ada apa-apa, karena beberapa hari sebelumnya beliau masuk rumah sakit. Tidak berapa lama kemudian, muncul lagi trending topic #EyangSapardi. Dengan tangan bergetar saya membuka trending topic tersebut, daaan… “kecurigaan” saya terbukti. Pak Sapardi Djoko Damono, sastrawan besar Indonesia yang akrab disapa SDD itu, meninggal dunia di Eka Hospital, BSD, Tangerang Selatan, pada hari Minggu, 19 Juli 2020 pukul 09.17 WIB. Beliau meninggal di usia 80 tahun. Sebelumnya menderita beberapa penyakit (komplikasi).

Sastrawan-Sapardi-Djoko-Damono-Tutup-Usia-Foto-Prelo36496eb435756c1e

Deretan ucapan belasungkawa memenuhi linimasa twitter. Tidak sedikit juga yang mengutip sajak-sajaknya, atau mengungkapkan kenangan pribadinya bersama penyair “Hujan Bulan Juni” tersebut.  Dan hari ini di media sosial, orang seakan diberi tahu bahwa sajak SDD bukan hanya Hujan Bulan Juni, atau Aku Ingin, melainkan banyak, banyak sekali yang bagus, yang jarang diekspose, kecuali oleh mereka yang memang memiliki minat besar pada puisi, atau yang memiliki selera bahasa estetika. Memang yang terkenal dua sajak itu (Hujan Bulan Juni dan Aku Ingin), bahkan saking terkenalnya sampai-sampai sajak Aku Ingin dicetak di surat-surat undangan pernikahan.

4Y6d1223

Sebenarnya selain dua sajak itu, sajak-sajak SDD yang lain juga tak kurang syahdunya, sebut saja misalnya Hatiku Selembar Daun, Pada Suatu Hari Nanti, Pertemuan, Dalam Diriku, Sementara Kita Saling Berbisik, dll. Sajak yang saya sebut terakhir itu, Sementara Kita Saling Berbisik (SKSB), adalah sajak favorit saya. Walaupun semua sajak SDD bagi saya selalu memiliki gema dalam diam, sajak SKSB bagi saya sangat istimewa karena seperti suara yang dibisikkan ke dalam jantung jiwa tentang apa yang tidak selalu saya pahami: hidup, cinta, perjalanan, waktu… !! Bahkan setiap kali saya berbicara dengan SDD saya merasa beliau sedang berbisik. Beliau memang tipe manusia yang lembut. Bicaranya lembut, tatapan matanya lembut, bahasa tubuhnya lembut. Itulah sebabnya puisi-puisi yang lahir dari tangan beliau juga puisi-puisi yang lembut.   

kita

Sebuah hukum alam mungkin berlaku, bahwa seorang pengarang akan lebih dikenal secara utuh setelah kematiannya. Sebab, setelah kematian itulah pengarang justru hidup selamanya. Karya-karyanya diburu, biografinya dibaca, legacy-nya diawetkan di museum ingatan.

Saya bergetar membaca salah satu bait sajak SDD yang satu ini: “Yang fana adalah waktu. Kita abadi.” Larik sajak ini mengingatkan saya pada larik terkenal dari penyair “Binatang Jalang” Chairil Anwar: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Keduanya menegaskan kefanaan diri, namun melalui kefanaan itu ada keabadian.

tumblr_o85960FovT1vwv8yao1_640

Kenangan

Suatu hari di tahun 2011 saya berkunjung ke rumah Pak Sapardi Djoko Damono (SDD) di kompleks dosen UI di Ciputat, Tangerang Selatan. Setelah berbincang tentang segala hal dari soal kemacetan hingga kesehatan, saya menyerahkan sebuah naskah antologi puisi karya para mahasiswa saya di Swiss German University (SGU). Sejak tahun 2007 hingga sekarang saya mengajar mata kuliah bahasa dan budaya di kampus tersebut. Saya meminta beliau membacanya, dan kalau berkenan membuat kata pengantar, setidaknya membuat endorsemen barang satu dua kalimat. “Saya baca dulu,” ujarnya.

Keesokan harinya saya menerima pesan dari beliau, “Saya mau menulis kata pengantar, ya,” tulisnya. Alangkah senangnya saya. Saat saya masuk kelas,  saya beritahukan hal itu kepada mahasiswa saya, mereka pun senang. Sebab puisi-puisi SDD adalah puisi yang paling banyak dibaca oleh mahasiswa saya saat mereka harus tampil ke depan kelas membaca puisi.

Tidak sampai satu minggu Pak Sapardi  mengirimkan kata pengantar untuk buku itu ke email saya. Tidak sabar saya langsung membacanya. Di antaranya beliau menulis begini:

“Buku yang berisi kumpulan karangan mahasiswa SGU ini mengingatkan saya tentang pentingnya kebebasan siapa pun untuk mendapat akses ke pemahaman dan penciptaan bahasa. Boleh dikatakan bahwa para penulis ini belajar apa yang kita sebut “ilmu keras”, tetapi ternyata memiliki niat dan kemampuan untuk masuk ke dunia kreativitas yang mungkin dianggap “lembek”, yakni kesusastraan. Mungkin sekali sewaktu masih belajar di sekolah menengah, mereka dianggap tidak perlu mempelajari kesusastraan: tidak “sepantasnya” mengungkapkan pengalaman dan perasaan dalam karya sastra, tidak elok menulis esai tentang karya sastra. Namun, ternyata mereka memiliki minat dan kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut.”

Satu bulan kemudian buku yang memuat sekitar 80-an puisi itu terbit. Lalu saya mengantar beberapa mahasiswa SGU ke rumah Pak Sapardi untuk menyampaikan kado sebagai tanda ucapan terima kasih kepada beliau karena telah bersedia memberi kata pengantar buku mereka. Tentu mereka senang sekali; suatu kehormatan yang sangat besar bahwa buku antologi mahasiswa diberi kata pengantar oleh begawan sastra.

istana-angin-sgu

 

****

Puisi-puisi itu sendiri sebetulnya berasal dari tugas-tugas mahasiswa dalam kuliah yang saya ampu. Jumlah mahasiswa 250 orang dari semua jurusan, berarti ada 250 puisi yang saya seleksi dan terpilihlah 80 puisi yang dimuat dalam buku itu. Saya tidak tahu apakah sebelumnya pernah ada buku puisi yang terbit yang berasal dari tugas-tugas kelas. 

Saya teringat pesan yang disampaikan Pak Sapardi kepada para mahasiswa saya waktu berkunjung ke rumahnya itu. “Kalau kita mau mengembangkan bahasa Indonesia, kita harus menulis puisi, tidak ada cara lain,” ujarnya. Buku itu pun kemudian diluncurkan di kampus SGU dengan menghadirkan Pak Sapardi bersama penyair Agus R. Sardjono.

ClMEPg3VAAAIaD8

Intermezo: Saya menggunakan kerangka puisi di atas untuk membuat puisi saya sendiri yang ditujukan untuk SDD. Coba lihat perbandingannya:

Kursi SDD

Pada Desember 2017 saya bertemu dengan SDD di Selangor, Malaysia,  dimana beliau dan saya diundang menjadi pembicara dalam suatu seminar tentang sastra Melayu. Saya berangkat bersama penyair Aan Mansyur. Dan di sana sudah ada beberapa sastrawan Indonesia yang juga diundang ke acara tersebut, antara lain Goenawan Mohamad, penyair Dorothea Rosa Herliani, novelis Nukila Amal, dll.

AAN - KL 08 des 17

Aan Mansyur, Penyair Ada Apa dengan Cinta 2

GM

Sarapan pagi bersama penyair senior Indonesia, Goenawan Mohamad dan seniman Malaysia, Pauline Fan

Begitu keluar dari ruang seminar, saya tunjukkan salah satu puisi saya di dalam buku Senja di Jakarta yang  berjudul Kursi Ruang Tunggu, sebagai “tanggapan” terhadap puisi beliau yang sangat terkenal, Hujan Bulan Juni, dan beliau membacanya terkekeh-kekeh.. (Puisinya lihat di atas).

SDD

Selamat jalan Eyang Sapardi

Yang fana adalah waktu, engkau abadi…

ahmadgaus-

Esai di atas versi lengkapnya dimuat di Geotimes.co.id, berikut link-nya:

https://geotimes.co.id/kolom/mengenang-sdd-penyair-yang-berbisik/?fbclid=IwAR2vSBXcsS4R-M40Vpu39IhFHUPkMGcUX_tJg7r_VGaDytuBkV2QcAkYD6E

*****

Indahnya Cinta Segitiga

Dua orang perempuan saling menyayangi. Tapi, keduanya mencintai pria yang sama. Cinta segitiga terjalin begitu saja. Ada cemburu. Ada marah. Ada curiga. Tapi kasih sayang di antara kedua perempuan itu membuat mereka harus menafsirkan kembali cintanya pada si pria. Mereka tidak ingin kehilangan sahabat, tapi juga tidak mau ditinggal kekasih. Akhirnya sebuah kompromi dilakukan. Cinta segitiga terjalin mesra.

Masalah baru muncul ketika datang seseorang yang lain (pria atau wanita, hayoo tebak?). Cinta segitiga akhirnya berkembang menjadi persegi panjang. Romantis, seru, menggairahkan, penuh kelembutan, dan sekaligus brutal. Ikuti kisahnya dalam novel Hujan dalam Pelukan di platform NovelMe, selagi masih gratis, sebelum di-setting di halaman berbayar.  Ini link-nya : https://share.novelme.id/starShare.html?novelId=22983

 

Hagia Shopia Siapa Punya?

Akhir-akhir ini banyak postingan beredar di grup-grup WA yang memuji-muji tindakan Erdogan yang mengubah museum Hagia Sophia menjadi masjid. Tindakan Presiden Turki itu dikaitkan dengan Sultan Muhamad al-Fateh di masa lalu yang lebih dulu merebut gereja Hagia Sophia itu dari umat Kristiani dan dijadikan masjid.

Gereja/Masjid Sophia itu selama ratusan tahun memang menjadi “rebutan” antara umat Kristiani dan umat Islam. Selama Kekaisaran Bizantium, Hagia Sophia merupakan bangunan gereja. Era Kekaisaran Bizantium berakhir pada 1453 setelah ditaklukkan oleh Sultan Mehmed II dari Kekaisaran Ottoman. Kemudian status Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi masjid.

200703-seibert-hagia-sophia-hero_awtsib

Setelah Turki menjadi republik, Presiden Kemal Attaturk “menetralkan” gereja/masjid itu menjadi museum pada 1934. Dengan demikian melepaskan kepemilikan emosional dari dua umat tsb. Bukan rumah ibadah Kristiani, bukan pula rumah ibadah Muslim. Melainkan situs warisan dunia milik peradaban Timur dan Barat, Islam dan Kristen.

Nah, pada 10 Juli lalu, Presiden Turki, Erdogan mengubah Hagia Shopia dari museum menjadi masjid. Padahal Hagia Sophia sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco pada 1985. Dengan status itu, maka perubahan fungsi bangunan harus dikonsultasikan dulu ke Unesco. Erdogan sama sekali mengabaikan itu. Tindakannya itu, yang mengatasnamakan kedaulatan negara, adalah tindakan sepihak, mengabaikan hak masyarakat internasional, tidak etis, dan sekaligus konyol.

Kalau diurut bahwa bangunan itu awal mulanya adalah gereja, tindakan itu juga sangat memalukan. Tidak menunjukkan sensitivitas dalam hubungan antar-agama. Tidak mendukung perdamaian dunia. Dan lebih serius lagi, tidak mencerminkan akhlak Nabi yang sangat menghornati rumah ibadah agama lain. Para khalifah dan sahabat Nabi pun tidak pernah ada yang melakukan itu.

Itulah mengapa banyak umat Islam tidak bahagia dengan keputusan Erdogan tsb. Karena ini menyangkut “perasaan’, hubungan baik Islam dan Kristen, serta masalah sopan santun. Coba bayangkan kalau Masjid Cordoba di Spanyol diubah menjadi gereja (karena dulunya memang gereja) oleh pemerintah di sana karena dia punya kuasa untuk melakukan itu. Bagaimana perasaan umat Islam. Begitulah sekarang yang dirasakan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia.

Dulu khalifah Umar bin Khatab menaklukkan Yerusalem. Pemimpin umat Katolik di sana sudah memberikan kunci gereja terbesar kepadanya untuk dijadikan masjid. Tapi Umar menolaknya. Beliau membiarkan gereja itu tetap sebagai gereja. Itulah akhlak Islam.

agiasofia-thumb-large-thumb-large-thumb-large

Ketika sahabat Nabi, Khalid bin Walid menaklukkan Damascus, beliau dan pasukannya membutuhkan tempat untuk shalat Jumat. Banyak gereja-gereja besar yang bisa dialihfungsikan menjadi masjid. Tapi beliau tidak mau melakukannya. Tidak terpikir untuk mengubah gereja menjadi masjid karena akan melukai hati orang-orang Kristen. Beliau mengajak pasukannya untuk membangun masjid sendiri. Begitulah akhlak Islam.

ckGJWLAsvj
Paus Fransiscus

Nah, Haga Shopia ini sudah lebih seribu tahun berdiri sebagai gereja, lalu orang Islam mengubahnya menjadi masjid. Attaturk pernah menjadikannya situs netral dengan menjadikannya museum yang berarti bisa diakses dan sekaligus dibanggakan oleh umat Islam maupun Kristen. Sekonyong-konyong, minggu lalu, Erdogan mengubahnya menjadi masjid. Dunia tersentak. Paus Fransiscus bersedih. Dan sebagai muslim, saya sungguh malu.[]

 

Tulisan ini juga dimuat di:

https://arrahim.id/gaus/tindakan-erdogan-untuk-hagia-sophia-cukup-memalukan/

-Ahmad Gaus-

Anak-Anak Panti Asuhan dan Cita-Cita Mereka

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit.. jikapun engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” ~ Ir. Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama RI

Kata-kata itu saya sampaikan kepada anak-anak Panti Asuhan Permate Batam, Kepulauan Riau, dalam suatu kunjungan di minggu petang lalu bersama para aktivis/ pekerja sosial Ilma Sovri Yanti Ilyas dan Farid Ari Fandi. Dengan anak-anak panti itu kami berbagi inspirasi seputar moto ‘man jadda wajada‘ (siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil). Rentang usia mereka dari pra sekolah hingga SMA.

IMG-20181202-WA0065

Saya bercerita tentang orang-orang besar yang hidupnya sangat sulit dan prihatin namun berkat kemauan kuat dan kerja keras akhirnya mereka berhasil dan bermanfaat bagi orang banyak. Bung Karno, Bung Hatta, dll. Juga kisah seorang musisi terkenal Amerika yang keluar dari sekolah dan menjadi pedagang koran eceran, bekerja di toko sepatu, untuk menabung demi membeli gitar bekas. Tapi dari gitar bekas itulah Iahir lagu yang terkenal di seluruh dunia: I wanna lay you down on a bed of roses… (BJ).

Kuncinya adalah: man jadda wajada! Lalu anak-anak itu mengacungkan tangannya. Aku ingin jadi Bung Karno. Aku ingin jadi polisi. Aku ingin jadi pilot. Aku ingin jadi artis. Aku ingin sekolah ke Belanda. Aku ingin ke Amerika….

Lalu kami bersama-sama menyanyikan lagu “Di Timur Matahari” dan “Tukang Kayu”. Cukup satu kali saya memberi contoh, anak-anak itu langsung menghapal lirik lagunya: “Katakan padaku hai tukang kayu. Bagaimana caranya memotong kayu. Lihat, lihat, kawanku, beginilah caranya memotong kayu…..”

IMG-20181202-WA0049Anak-anak itu sangat manja, sangat menikmati saat kita mengelus kepalanya.. maka eluslah mereka walaupun dari jauh dengan doa dan dukungan nyata.

Rasulullah SAW bersabda: “Demi Yang Mengutusku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya. (HR. Thabrani dari Abu Hurairah). (Imam Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath, VIII/346. Hadist no. 8828).

Ditunggu uluran tangan Anda di:

YAYASAN PANTI ASUHAN PERMATE

NO REK BRI 033101000778533

No kontak ibu asuh panti, Ibu Siti: 085264400790

IMG_20181224_070547_091

Terima kasih, semoga Allah memberi kesehatan, keberkahan, umur panjang, dan rezeki yang berlimpah untuk anda yang mau berbagi dengan anak-anak yang bersemangat itu.

Wassalam,

Ahmad Gaus

Kenapa Anda perlu Berkunjung ke Bagansiapiapi?

KOTA CAHAYA

Di perahu itu api menyala
angin laut menampar muka
para pengungsi yang tersesat
di kesunyian samudera
doa-doa bergema di haluan
membujuk dewi penunjuk jalan.

Ketika perahu melaju ke utara
bulan muncul dari balik dermaga
nun di sana, ombak pasir berdesir
masa depan memanggil-manggil
kawanan ikan bernyanyi di bagan-bagan
api memercik dari rimbun pepohonan.

Sejarah bermula dari atas perahu
para pengungsi turun dan membakarnya
hingga tak tersisa
sebab mereka tak ingin kembali ke daratan China
api yang membubung ke angkasa
menjadi cahaya yang menerangi kota ini
sepanjang masa.

Bagan Siapiapi, 24/09/17

 

Note:

Dalam menulis puisi di atas saya berutang budi kepada Ika (Riska Syafitri), perempuan Melayu asli Bagan, bu dosen dan calon doktor, yang menceritakan kisah kota ini kepada saya. Ini orangnya:

IMG-20200619-WA0050

 

Bagansiapiapi: a Small Town, a Call to Visit

Pernahkah anda berkunjung ke Bagansiapiapi? Kalau belum, saya anjurkan segeralah pergi ke sana. Anda tidak akan menyesal. Ini kota kecil, memang.  Tapi justru di situ  keunikannya. Letaknya sangat strategis karena berdekatan dengan Selat Malaka  yang merupakan lalu lintas perdagangan internasional. Kalau Bandung dikenal dengan sebutan Paris van Java, Garut disebut Swiss van Java, maka Bagansiapiapi dijuluki sebagai Hong Kong van Andalas. Keren ‘kan? 

Bagansiapiapi adalah ibu kota Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Dan merupakan kota terbersih ke-2 tingkat Provinsi Riau setelah kota Bengkalis. Nama Bagansiapiapi berhubungan dengan kisah kedatangan orang-orang Tionghoa ke kota ini. Syahdan, orang-orang Tionghoa pertama kali datang ke Bagansiapiapi menggunakan kapal tongkang. Mereka berasal dari daerah Songkhla di Thailand, yang sebenarnya juga merupakan perantau-perantau Tionghoa dari Tiongkok Selatan. Sampai sekarang, orang-orang Tionghoa ini menetap di Bagansiapiapi, bersama penduduk asli dari suku Melayu. Mereka kini hidup rukun. Setidaknya dalam dua dasawarsa terakhir tak pernah terdengar ada gejolak.

Saya kira bagus kalau ada calon-calon sarjana yang membuat riset tentang akulturasi budaya di kota ini. Untuk tesis atau disertasi. Kalau Ambon bisa menjadi laboratorium toleransi agama, Bagan bisa menjadi laboratorium toleransi budaya.  Ambon, kita tahu, pernah dilanda kerusuhan agama (Islam dan Kristen) yang sangat keras pada 1999 – 2003). Tapi kemudian pulih dan kini menjadi percontohan toleransi agama dengan berbagai inisiatif dan inovasi perdamaian yang dibuat oleh warga.  Bagan pun pernah dilanda huru-hara etnik, seperti kerusuhan Melayu vs China (1998), dan Melayu vs Batak (2001). Pengalaman memberi banyak pelajaran. Sejarah memberi banyak ruang untuk begerak.  Kita memang tidak bisa berbuat apa-apa untuk masa lalu, tapi masa lalu bisa menjadi bahan untuk kita menciptakan masa depan yang lebih baik.

Ip Plaza Bagansiapiapi Rohil Rokan hilir raja baut
Plasa di Bagansiapiapi, keindahan di tengah kota

Setiap tahun, pada bulan Juni, selalu diadakan ritual Bakar Tongkang, untuk mengenang sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa di Bagansiapiapi. Pembakaran perahu Tongkang itu untuk menandai bahwa mereka tidak akan kembali ke kampung halamannya di Tiongkok. Ritual ini telah menjadi ikon dan andalan pariwisata Bagansiapiapi yang mampu menyedot puluhan ribu wisatawan dalam dan luar negeri setiap tahun.

Perayaan Tahun Baru Imlek di Bagansiapiapi selalu meriah. Momen ini sekaligus juga merupakan tradisi pulang kampung bagi orang Tionghoa yang merantau ke luar daerah untuk berkumpul kembali bersama keluarga. Perayaan Imlek di Bagansiapiapi berlangsung 15 hari sampai malam Cap Go Meh. Lampion beraneka bentuk dan ukuran menghiasi rumah-rumah penduduk, perkantoran, kelenteng dan vihara, bahkan di sepanjang jalan-jalan besar di pusat kota sehingga kota Bagansiapiapi seakan bermandikan cahaya lampion di malam hari.

702296_1200
Rumah Kapitan Tionghoa di Bagansiapiapi, peninggalan masa lalu

Bagansiapiapi terkenal sebagai penghasil ikan terpenting, sehingga dijuluki sebagai kota ikan. Menurut beberapa sumber, di antaranya surat kabar De Indische Mercuur menulis bahwa pada tahun 1928, Bagansiapiapi adalah kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah kota Bergen di Norwegia.

Setelah aktivitas perekonomian dari sektor perikanan semakin menurun, budidaya burung walet untuk diambil sarangnya telah menjadi alternatif usaha dan sangat jamak ditemukan di Bagansiapiapi, terutama di pusat kota, di mana banyak ruko-ruko dibangun 3 sampai 4 tingkat, dengan tingkat teratas dijadikan sebagai tempat budi daya burung walet, sedangkan tingkat 1-2 digunakan sebagai toko dan tempat tinggal.

96286077-54images
Rumah walet banyak dibangun di Bagansiapiapi

Waktu saya berkunjung ke sana pada September 2017 lalu, saya sempat kaget dengan cuacanya yang kadang tiba-tiba gelap, Saya pikir langit mendung dan akan turun hujan. ternyata langit ditutupi ribuan burung walet yang terbang bergerombol membentuk awan hitam. Suatu pemandangan yang menakjubkan.

Tipe-dan-jenis-suara-burung-walet-serta-manfaat-bagi-pengusaha-sarang-burung-walet

1536976227

Pada malam hari saya dan beberapa teman sempat ngopi di bundaran kota. Menikmati suasana malam kota kecil nun jauh di sana… anak-anak remaja hilir mudik berjalan kaki atau bermotor, kerlip  lampu di gedung-gedung tua, kafe-kafe sederhana yang berjejer rapi, warung-warung ikan bakar segar yang baru diangkat oleh nelayan.. 

Festival-bakar-tongkang
Festival Bakar Tongkang, Magnet Pariwisata Kota Bagansiapiapi

Saya tidak akan ceritakan semuanya di sini, supaya anda datang sendiri ke sana, hehe… Ya, buktikan sendiri, dan nikmati sendiri keindahan kota kecil ini. Jangan kuatir  dengan akomodasi, karena di Bagan tersedia sejumlah hotel yang cukup representatif. Bagaimana dengan transportasi? Nah ini. Anda harus siap menempuh perjalanan darat dengan mobil travel dari Pekanbaru ke Bagan dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Tarifnya Rp. 250 ribu. Mobil travel bisa dicarter di bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Alternatif lain bisa juga anda naik pesawat ke bandara Pinang Kampai,  Dumai, dan dari sini anda ambil mobil travel menuju Bagan. Waktu tempuhnya sekitar 3 jam.

Terserah, enaknya yang mana. Yang penting bulatkan tekad dulu, liburan nanti anda  buat rencana perjalanan ke Bagan. Insya Allah, tidak akan menyesal, hehe.. 

IMG-20170923-WA0017-1

Oh ya betewe kunjungan saya ke Bagansiapiapi waktu itu untuk menjadi salah satu narasumber dalam seminar internasional tentang living values di kampus STAI Ar-Ridho. Saya datang terlambat karena ketinggalan pesawat dari Bandara Cengkareng. Jadi saya berangkat besok paginya. Alhasil pas saya datang sekitar Pk. 14.30 acara sudah hampir selesai hehe.. Tapi panitia yang baik tetap mempersilakan saya bicara walau cuma seorang diri. Sayang foto dokumen saya kurang bagus ya, maaf 🙂

Saya menginap di hotel Lion. Ini foto bersama para pegawai front office-nya. Maklum orang jauh dari Jakarta jadi sebelum pulang foto-foto dulu.

IMG-20170925-WA0000

Demikianlah, teman-teman, laporan perjalanan saya ke kota kecil Bagansiapiapi, Hongkong van Andalas. Kalau ada rezeki saya ingin ke sana lagi.  Pengen nongkrong lama-lama sambil ngopi di bundaran kota, dan lihat-lihat pelabuhan pantai. 

Saat menulis ini saya teringat pertanyaan teman saya saat berkomunikasi di medsos, “Bang, kapan ke Bagan lagi?” Dan saya tiba-tiba jadi sedih.

-o0o–

Beberapa data dalam tulisan ini bersumber dari: Wikipedia

 

 

 

Mata yang Indah

“Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu.”

(“Resah”, oleh Payung Teduh)

MATA YANG INDAH

Mata yang indah
adalah seribu kunang-kunang
yang berpindah dari lembah
ke taman pedestrian
dan membawaku kembali duduk
di sana — sudut kota yang memulakan segalanya dari keraguan.

Walau langit gelap
mata itu tetap purnama
tapi aku tak ingin menatapnya
karena aku akan tersiksa
maka kubiarkan kaki berjalan
dalam kegelapan.

Mata yang indah adalah muara
pelabuhan bagi biduk-biduk
resah dan kebahagiaan
dalam mata yang indah
kehidupan selalu basah
karena di kelopaknya yang rawan
hanya ada musim penghujan.

03/09/17
Rumah Budaya Nusantara
PUSPO BUDOYO, Tangsel.

Baca juga: [Puisi] Z

Sutardji Calzoum Bachri: Jalan Baru Estetika Puisi

Pada 24 Juni 2020 ini Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, berulang tahun yang ke-79. Berikut catatan saya untuk “penyair kapak” tersebut sebagai bahan diskusi di Sanggar Kaki Langit (Sangkala), Tangerang Selatan. (Ahmad Gaus)

Sutardji Calzoum Bachri: Jalan Baru Estetika Puisi

Dalam hal eksperimentasi, puisi Indonesia dasawarsa 1970-an hampir-hampir identik dengan nama Sutardji Calzoum Bachri. Melalui puisi-puisi mantranya yang berideologi pembebasan kata dari makna, puisi Indonesia mendapatkan nafas baru setelah berpuluh tahun dibebani pesan-pesan moral atau perjuangan. Nama Sutardji kemudian tidak pernah dipisahkan dari perdebatan sastra kontemporer. Ia dianggap membawa corak baru dalam penulisan puisi yang didominasi oleh puisi lirik.[1]

Memang, dibandingkan puisi-puisi mainstream pada zamannya, puisi-puisi mantra ala Sutardji melampaui puisi lirik. Aku dalam puisi lirik menirukan kenyataan dan mengekspresikan perasaan individual. Dua hal itu nyaris lenyap dalam puisi-puisi mantra Sutardji. Jejaknya masih terlihat, tapi tidak dianggap penting. Sebab yang penting ialah kehadiran kata-kata itu sendiri, dan bukan representasinya atas kenyataan, apalagi pengertiannya.

tardji

Dalam puisi-puisi mantra Sutardji, kata yang dihadirkan adalah kata sebagai dirinya sendiri, bukan kata yang ke dalamnya sudah disusupkan makna tertentu oleh rezim bahasa. Dalam kredo puisinya, Sutardji mengatakan ingin membebaskan kata dari makna dan mengembalikan kata pada awal mulanya, yaitu mantera.

Selama rentang waktu satu dasawarsa (1970-1980), Sutardji bergumul dengan eksperimen puisi-puisi mantranya yang kemudian diterbitkan dalam antologi O yang terbit tahun 1973, kemudian Amuk yang terbit tahun 1977, dan menyusul Kapak yang terbit tahun 1979. Pada tahun 1981, ketiga antologi tersebut dikumpulkan menjadi satu dan diterbitkan kembali dengan judul O Amuk Kapak.[2] Buku setebal 133 halaman ini memuat 67 puisi.

Jika ada pernyataan “puisi ditulis tidak untuk dimengerti”, maka pernyataan itu absah sepenuhnya pada sosok penyair Sutardji. Kredo pembebasan kata dari makna menjadi ikon yang mengukuhkan penyair kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941, ini sebagai Sang Pembebas.[3] Karena kata sudah dibebaskan dari makna, maka kata-kata puisi benar-benar menjadi rahasia sebagaimana lazimnya ungkapan-ungkapan mantra. Makna yang terkandung di dalamnya menjadi berbau magisme yang biasa dihadirkan dalam sebuah komunikasi spiritual. Karena itu, penyair Abdul Hadi WM pernah menyebut puisi-puisi Sutardji sebagai puisi-puisi sufistik.[4]

Sutarji-O-Amuk-Kapak-1

Menangkap pesan dalam puisi-puisi sufistik—atau dalam istilah Sutardji, puisi mantra—tidak semudah membaca pesan dalam puisi lirik yang merepresentasikan pengalaman atau perasaan sang penyair. Dalam puisi Sutardji, makna itu ada, tapi seperti tiada, bagaikan semut hitam di atas batu hitam yang merayap pada suatu malam yang sangat gelap. Tetapi jelas bahwa semut itu ada. Hanya mata yang tajam yang sanggup melihatnya. Simaklah beberapa puisi Sutardji berikut:

Mantera

lima percik mawar

tujuh sayap merpati

sesayat langit perih

dicabik puncak gunung

sebelas duri sepi

dalam dupa rupa

tiga menyan luka

mengasapi duka

puah!

kau jadi Kau

Kasihku

O
 
dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai
siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia
waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswaswaswas
duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
oku okau okosong orindu okalian obolong o risau o Kau O…

AMUK

…. aku bukan penyair sekedar
aku depan
depan yang memburu
membebaskan kata memanggilMu

pot pot pot
pot pot
kalau pot tak mau pot
biar pot semau pot
mencari pot
pot
hei Kau dengar manteraku
Kau dengar kucing memanggilMu
izukalizu
pot
hei Kau dengar manteraku
Kau dengar kucing memanggilMu
izukalizu mapakazaba itasatali
tutulita papaliko arukabazaku kodega zuzukalibu
tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco zukuzangga
zegezegeze zukuzangga zegezegeze zukuzangga
zegezegeze zukuzangga zegezegeze aahh…!
nama kalian bebas carilah tuhan semaumu

Doa

O Bapak Kapak
beri aku leherleher panjang
biar kutekak
biar ngalir darah resah
ke sanggup laut

Mampus!

Apa yang dinyatakan oleh puisi-puisi di atas selain pengekpresian pengalaman estetika penyairnya? Terlalu gegabah untuk menyimpulkan bahwa puisi-puisi di atas tidak bermakna. Makna tidak harus timbul dari rangkaian kata yang dapat dipahami. Sebab makna adalah senyawa bebas yang dapat direkatkan pada pengalaman individual. Dan individu dalam puisi-puisi Sutardji bukan aku-lirik dalam pengertian konvensional, melainkan subjek yang menyatakan diri dalam kata-kata yang sudah merdeka dari penjajahan makna. Setelah kata-kata dibebaskan dari makna, segenap makna yang dibangunnya justru menjadi mungkin.

tardji2

Seperti Chairil Anwar yang sangat berani menyimpang dari tradisi penulisan puisi pada zamannya, Sutardji juga mengambil jalan yang berbeda dari jalan umum. Tapi, berbeda dengan Chairil yang menegaskan konsep puisinya sebagai “sebuah dunia yang menjadi”, Sutardji lebih dari itu. Ia menyajikan konsep tentang dunia yang tak dikenal, persisnya, dunia metafisis yang dilupakan akibat modernitas yang membuat pemahaman manusia atas kenyataan menjadi terpecah. Kesatuan transendental manusia dan Tuhan dibatasi oleh teknologi, falsafah, dan ideologi, yang sesungguhnya asing dalam pengalaman primordialnya. Dunia kenyataan dalam pengalaman manusia modern bagaikan belantara topeng dan citra. Kata-kata biasa tidak sanggup lagi memberi petunjuk ke mana arah untuk menemukan jatidiri manusia yang hilang di belantara citra itu, maka dibutuhkan mantra—kata-kata sakti untuk menguak dunia gaib yang bebas dari pencitraan.

Mantra dalam puisi-puisi Sutardji menjadi metafora yang menggambarkan keresahan dan kepedihan jiwa manusia dalam kesepian dan keterasingan akibat modernitas. Simak puisi berikut:

Sepisausepi

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi

sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupoi
sepikul diri keranjang duri

sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya ke dalam nyanyi

Puisi di atas sebenarnya berbicara tentang dua hal yang sangat akrab dalam kehidupan sehar-hari, yakni sepi dan pisau. Dengan meleburkan keduanya menjadi “sepisau” lalu “pisausepi” bukan saja memperlihatkan kelenturan sekaligus kejeniusan bahasa puisi ini, namun juga menghadirkan makna yang sama sekali tak terduga—makna baru yang dimungkinkan sebagai hasil pembebasan kata dari penjajahan makna. Sebelum membahas keunikan tipografi puisi dalam O Amuk Kapak, yang membedakannya dengan puisi-puisi mainstream, baik kita simak lagi puisi di bawah.

 

Batu

batu mawar

batu langit

batu duka

batu rindu

batu jarum

batu bisu

kaukah itu

            teka

                       teki

yang

tak menepati janji?

Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan

hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan

seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?

Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa

gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk

diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai se-

dang lambai tak sampai. Kau tahu?

batu risau

batu pukau

batu Kau-ku

batu sepi

batu ngilu

batu bisu

kaukah itu

                       teka

            teki

            yang

tak menepati

            janji?

Ah

 rasa yang dalam!

datang Kau padaku!

      aku telah mengecup luka

      aku telah membelai aduhai!

      aku telah tiarap harap

      aku telah mencium aum!

      aku telah dipukau au!

                      aku telah meraba

                                                 celah

                                                         lobang

                                                                    pintu

                       aku telah tinggalkan puri purapuraMu

                                    rasa yang dalam

rasa dari segala risau sepi dari segala nabi tanya dari segala nyata sebab dari segala abad sungsang dari segala sampai duri dari segala rindu luka dari segala laku igau dari segala risau kubu dari segala buku resah dari segala rasa rusuh dari segala guruh sia dari segala saya duka dari segala daku Ina dari sega- la Anu puteri pesonaku!

datang Kau padaku!

apa yang sebab? jawab. apa yang senyap? saat. apa

yang renyai? sangsai! apa yang lengking? aduhai

apa yang ragu? guru. apa yang bimbang? sayang.

apa yang mau? aku! dari segala duka jadilah aku

dari segala tiang jadilah aku dari segala nyeri

jadilah aku dari segala tanya jadilah aku dari se-

gala jawab aku tak tahu

siapa sungai yang paling derai siapa langit yang paling rumit

siapa laut yang paling larut siapa tanah yang paling pijak si-

apa burung yang paling sayap siapa ayah yang paling tunggal

siapa tahu yang paling tidak siapa Kau yang paling aku kalau

tak aku yang paling rindu?

bulan di atas kolam kasikan ikan! bulan di jendela

kasikan remaja! daging di atas paha berikan bosan!

terang di atas siang berikan rabu senin sabtu jumat

kamis selasa minggu! Kau sendirian berikan aku!

Ah

rasa yang dalam

aku telah tinggalkan puri purapuraMu

yang mana sungai selain derai yang mana gantung selain sambung

yang mana nama selain mana yang mana gairah selain resah yang

mana tahu selain waktu yang mana tanah selain tunggu

yang mana tiang

                           selain

                                     Hyang

                                                mana

                                                         Kau

                                                                selain

                                                                          aku?

                                                              nah

rasa yang dalam

tinggalkan puri puraMu!

Kasih! jangan menampik

masuk Kau padaku!

Lagi-lagi pertanyaannya, apa yang hendak disampaikan dalam 2 puisi di atas? Kalau memang pengertian, tentunya bukan pengertian yang biasa.  Sebab tidak ada yang  dapat diindera dengan ungkapan “batu mawar”  atau “mengecup aduhai” atau “batu Kau-ku” atau “aku telah tinggalkan puri purapuraMU”. Namun karena kata telah dibebaskan dari makna, kemudian kembali ke fungsi awalnya sebagai mantra, maka keseluruhan bahasa yang digunakan hanya dapat dipahami sebagai kendaraan untuk menghadirkan sugesti kepada pembaca. Terang bahwa Kau dan Mu merujuk kepada Tuhan. Dan untuk mencapai Tuhan yang sudah terjajah oleh pemahaman diskursif pengetahuan dan falsafah tidaklah mudah. Si Aku lirik yang semula terjerembab dalam kebingungan dan hanya berteriak O… sekarang ia meng-Amuk, membawa Kapak untuk membabat semua rintangan yang menghalangi jalan menuju ke aras-Nya.

20151207_10142720140929_123630_5428efde1ea04

Keberhasilan puisi-puisi Sutardji sebenarnya adalah kejernihannya dalam menggunakan bahasa mantra untuk menguak dimensi alam gaib.  Mantra, dan memang hanya bahasa mantra,  yang mampu berkomunikasi dengan dunia mistik. Gejala seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat. Saat kaum muslim, misalnya, memuja dan berkomunikasi dengan Allah, mereka membaca atau melafalkan ayat-ayat suci yang tak mereka pahami. Artinya, ayat-ayat suci berfungsi sebagai mantra, yang di dalamnya dipercaya menyimpan kekuatan magis.

Bahkan kalau kita mau sedikit menengok pada tradisi ilmu kanuragan dalam masyarakat kita, maka kita akan bertemu dengan apa yang disebut wafaq atau jimat. Yakni, tulisan-tulisan ayat suci pada sehelai kain yang disusun dalam pola tertentu sehingga menghasilkan kesaktian apabila dipakai, seperti bisa menghilang, kebal dari pukulan atau tembakan, dan sebagainya. Puisi-puisi Sutardji yang disusun dalam tipografi tertentu yang unik menyerupai tulisan pada jimat. Efek yang hendak dimunculkannya sudah pasti ialah sugesti yang bersifat magis, senafas dengan kata-kata mantra yang digunakannya. Dan sebagaimana dalam jimat yang tersusun dari kata-kata yang tidak merujuk pada makna konvensional. dalam puisi-puisi Sutardji pun kata-kata menyimpang dari fungsinya sebagai pengantar pengertian. Sutardji menandaskan hal ini dalam manifesto kepenyairannya sbb:

Kredo Puisi

Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.

Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.

Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.

Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor(obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata dibebaskan, kreatifitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari diatas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga–sepanjang tidak mengganggu kebebasannya– agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata.
Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.

Sutardji Calzoum Bachri

Bandung, 30 Maret 1973.

Demikianlah, puisi mantra telah mengantarkan Sutardji Calzoum Bachri sebagai salah satu penyair terpenting di tanah air — ia bahkan dikenal sebagai Presiden Penyair Indonesia. Perannya tidak bisa direduksi menjadi sekadar pionir pembebasan kata dari makna, yang untuk itu sering dijuluki sang pembebas, el libertador, atau penggagas puisi mantra yang membedakan dirinya dengan penyair-penyair lain[5] Lebih dari itu, ia menjalankan peran profetik untuk suatu perubahan yang mendasar dalam kesusastraan. Dalam suatu kesempatan, penyair kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, Riau, 24 Juni 1941, ini bahkan pernah menyatakan bahwa peran penyair dalam mencipta puisi secara ekstrem bisa disamakan dengan peran Tuhan dengan ciptaannya, yakni sama-sama tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.[6]

sutardjiistana
2008. Presiden SBY memberikan  penghargaan Bintang Budaya Parama kepada Sutardji sebagai penghargaan atas kiprahnya dalam bidang kebudayaan.

Sutardji tampaknya menyadari bahwa sastra sebagai sebentuk seni dalam budaya masyarakat tengah berada dalam gerusan modernitas yang memenjarakan kesadaran eksistensial manusia. Karena itu puisi-puisinya ditulis untuk memerdekakan manusia. Tak bisa lain, puisi mantra ialah puisi-puisi religius, yakni usaha transedental sang penyair untuk menemukan jalan lain menuju Tuhan, sekaligus jalan baru bagi estetika puisi untuk keluar dari kesunyian yang mencekam ala Nyanyi Sunyi (Amir Hamzah) atau kesunyian yang buas ala Binatang Jalang (Chairil Anwar).

Sebelum menutup uraian ini, mari kita nikmati lagi beberapa puisi dari Sutardji di bawah ini:

Walau

walau penyair besar

takkan sampai sebatas allah

dulu pernah kuminta tuhan

dalam diri

sekarang tak

kalau mati

mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat

jiwa membumbung dalam baris sajak

tujuh puncak membilang bilang

nyeri hari mengucap ucap

di butir pasir kutulis rindu rindu

walau huruf habislah sudah

alifbataku belum sebatas allah

1979

Tragedi Winka dan Sihka

kawin

           kawin

                      kawin

                                 kawin

                                            kawin

                                                       ka

                                                 win

                                              ka

                                      win

                                  ka

                           win

                      ka

              win

         ka

 winka

                       winka

                                 winka

                                           sihka

                                                    sihka

                                                             sihka

                                                                      sih

                                                                  ka

                                                             sih

                                                        ka

                                                   sih

                                               ka

                                          sih

                                      ka

                                 sih

                             ka

                                 sih

                                      sih

                                           sih

                                                sih

                                                     sih

                                                          sih

                                                               ka

                                                                   Ku

Hilang (Ketemu)

batu kehilangan diam

jam kehilangan waktu

pisau kehilangan tikam

mulut kehilangan lagu

langit kehilangan jarak

tanah kehilangan tunggu

santo kehilangan berak

Kau kehilangan aku

batu kehilangan diam

jam kehilangan waktu

pisau kehilangan tikam

mulut kehilangan lagu

langit kehilangan jarak

tanah kehilangan tunggu

santo kehilangan berak

Kamu ketemu aku

 Tapi

aku bawakan bunga padamu

tapi kau bilang masih

aku bawakan resahku padamu

tapi kau bilang hanya

aku bawakan darahku padamu

tapi kau bilang cuma

aku bawakan mimpiku padamu

tapi kau bilang meski

aku bawakan dukaku padamu

tapi kau bilang tapi

aku bawakan mayatku padamu

tapi kau bilang hampir

aku bawakan arwahku padamu

tapi kau bilang kalau

tanpa apa aku datang padamu

   wah!

1976

Para Peminum

di lereng-lereng

para peminum

mendaki gunung mabuk

kadang mereka terpeleset

jatuh

dan mendaki lagi

memetik bulan

di puncak

mereka oleng

tapi mereka bilang

– kami takkan karam

dalam laut bulan –

mereka nyanyi nyanyi

jatuh

dan mendaki lagi

di puncak gunung mabuk

mereka berhasil memetik bulan

mereka menyimpan bulan

dan bulan menyimpan mereka

di puncak

semuanya diam dan tersimpan

Sajak-sajak Sutardji telah diterjemahkan oleh Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (India),  Writing from the World  (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Selain menulis puisi, Sutardji juga menulis cerpen dan esai sastra. Kumpulan cerpennya diterbitkan oleh penerbit Indonesia Tera pada tahun 2001 dengan judul Hujan Menulis Ayam. Sementara itu, kumpulan esainya diterbitkan oleh penerbit yang sama pada tahun 2007 dengan judul Isyarat.

Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand. Beberapa penghargaan lain yang pernah diterimanya antara lain:  Penghargaan Sastra Kabupaten Kepulauan Riau oleh Bupati Kepulauan Riau (1979); Anugrah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993); Menerima Anugrah Sastra Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Jakarta. (1990); Penghargaan Sastra Chairil Anwar (1998), dan anugrah gelar Sastrawan Perdana oleh Pemerintah Daerah Riau (2001).

Karya-karya Sutardji yang sudah terbit antara lain:

– O, diterbitkan oleh Yayasan Indonesia (tahun 1971).
– Kucing, diterbitkan oleh Sinar Harapan (tahun 1973)
– Amuk (tahun 1977)
– Kapak
– Amuk, Kapak, antologi, diterbitkan oleh Sinar Harapan (tahun 1981)
– Aku Datang Padamu.
– Perjalanan Kubur David Copperfield.
– Realites’90 Tanah Air Mata.

Penghargaan:

– Anugerah Seni, dari Pemerintah Republik Indonesia (tahun 1990)
– Anugerah Seni atas karyanya berjudul Amuk, dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) (tahun 1977)
– Anugerah Sastra Chairil Anwar (tahun 1998),
– Anugerah Sastra Asia Tenggara (South East Asia Writer Awards), dari Ratu Sirikit, Thailand (tahun 1979).
– Seniman Perdana, dari Dewan Kesenian Riau (tahun 2001).
– Sebagai Pelopor Penyair Angkatan ’70.’

Catatan:

[1] Untuk melihat berbagai pandangan mengenai Sutardji Calzoum Bachri, lihat Maman S. Mahayana, ed., Raja Mentera, Presiden Penyair (Depok: Yayasan Panggung Melayu, 2007).

[2] Sutardji Calzoum Bachri,  O Amuk Kapak (Jakarta: Sinar Harapan, 1981)

[3] Lihat, “Sutardji Calzoum Bachri, Sang Pembebas”, dalam  Jamal D. Rahman, et al., Dermaga Sastra Indonesia: Kepengarangan Tanjung Pinang dari Raja Ali Haji sampai Suryatati A. Manan (Jakarta: Komodo Books, 2010), hal. 157

[4] Lihat dalam Ahmadun Yosi Herfanda, Inspiring stories: 30 kisah para tokoh beken yang menggugah (Solo: Tiga Serangkai, 2008) hal. 282

[5] Istilah puisi mantra belakangan tidak selalu berkonotasi sakral. Sebuah tudingan bahwa Sutardji bukan penyair melainkan tukang mantra tentu bermaksud menurunkan kesakralan posisi itu. Mengenai ini lihat, Nurel Javissarqi, Menggugat Tanggung Jawab  Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (Pustaka Pujangga dan Sastranesia, 2011)

[6] Lihat makalah Orasi Budaya Sutardji Calzoum Bachri, “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair”, dalam acara Pekan Presiden Penyair. Makalah ini dimuat di harian Republika, 9 September 2007.

FOLLOW MY INSTAGRAM: @gauspoem

Baca Juga: Wiji Thukul, Penyair Pemberontak

Lukisan Flamboyan

 

Lukisan Flamboyan

Seperti sungai yang mengalir

ribuan tahun lamanya menuju muara

aku pun ingin menujumu

beribu-ribu tahun lagi.

Seperti angin yang berembus

menaburkan pupuk pada putik-putik kembang

aku pun ingin menyemaikan rindu

pada kelopak hatimu.

Langit kujadikan kanvas

tintanya air mata dan hujan

dan engkau yang terus berlari membawa keranjang

memunguti bunga-bunga flamboyan.

Aku ingin melukismu lagi

menggoreskan warna-warni pelangi pada rambut

dan bola matamu yang menyala

berguguran seperti cahaya.

Ciputat, 06/06/11

Baca juga: SEBUAH KAMAR

HATI

HATI

Setiap minggu pagi
aku menggiling hatiku
di mesin cuci
dengan detergen pembersih noda
dan cairan pewangi.

Kalau hari cerah
aku menjemurnya
di halaman rumah
tapi akhir-akhir ini banyak pencuri
bikin aku was was saja.

Bayangkan kalau sampai hatiku hilang
besok aku menemuimu membawa apa?

– IG: ahmadgaus68

ADULT ROMANCE:  Kisah cinta segitiga selama ini selalu diidentikkan dengan penderitaan, dan klimaksnya sad ending. Kasihan pembaca, jadi mewek 😦  Tokoh-tokoh ceritanya juga kasihan, udah nggak dibayar, harus sengsara pula. Bisa nggak sih dalam hidup yang singkat ini kita nikmati aja semuanya sebagai anugrah Tuhan, termasuk cinta segitiga? Kalau baca novel ini, jawabannya bisa, asalkan para pelakunya menerapkan prinsip love for all, hatred for none. Bagaimana bisa? Simak kisahnya dalam novel ini, selagi masih gratis, sebelum di-setting di halaman berbayar.  Ini link-nya : https://share.novelme.id/starShare.html?novelId=22983

hujan-ddalam-pelukan-2-1

Baca juga: DUA HATI

Sketsa Hujan

 

Sketsa Hujan

 

Siapa yang memberimu bunga

dan mengalungi lehermu dengan api?

Engkau masih terlelap dalam mimpi

ketika aku memunguti sisa-sisa butiran hujan
dan menyelipkannya di gaunmu yang terbakar.

Jendela kamarmu dipenuhi rumput ilalang
engkau terjaga dan memahat
airmatamu dengan kabut
menjadi patung-patung duka
lalu menghiasnya dalam bingkai waktu yang beku

Musim ini segera berlalu

tapi engkau masih saja terlelap

dalam mimpi panjangmu
sementara di luar

orang-orang berlarian
berebut hujan.

Chennai – India, 15/08/07

— Puisi ini dimuat dalam buku ISTANA ANGIN: Bunga Rampai Puisi Kampus (LotusBooks, 2011 )

 

Baca juga:

Hujan Bulan Desember

November Rain

Menikmati ‘Hujan Bulan Juni’ bersama Tuan Sapardi