Di perahu itu api menyala angin laut menampar muka para pengungsi yang tersesat di kesunyian samudera doa-doa bergema di haluan membujuk dewi penunjuk jalan.
Ketika perahu melaju ke utara bulan muncul dari balik dermaga nun di sana, ombak pasir berdesir masa depan memanggil-manggil kawanan ikan bernyanyi di bagan-bagan api memercik dari rimbun pepohonan.
Sejarah bermula dari atas perahu para pengungsi turun dan membakarnya hingga tak tersisa sebab mereka tak ingin kembali ke daratan China api yang membubung ke angkasa menjadi cahaya yang menerangi kota ini sepanjang masa.
Bagan Siapiapi, 24/09/17
Note:
Dalam menulis puisi di atas saya berutang budi kepada Ika (Riska Syafitri), perempuan Melayu asli Bagan, bu dosen dan calon doktor, yang menceritakan kisah kota ini kepadasaya. Ini orangnya:
Bagansiapiapi: a Small Town, a Call to Visit
Pernahkah anda berkunjung ke Bagansiapiapi? Kalau belum, saya anjurkan segeralah pergi ke sana. Anda tidak akan menyesal. Ini kota kecil, memang. Tapi justru di situ keunikannya. Letaknya sangat strategis karena berdekatan dengan Selat Malaka yang merupakan lalu lintas perdagangan internasional. Kalau Bandung dikenal dengan sebutan Paris van Java, Garut disebut Swiss van Java, maka Bagansiapiapi dijuluki sebagai Hong Kong van Andalas. Keren ‘kan?
Bagansiapiapi adalah ibu kota Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Dan merupakan kota terbersih ke-2 tingkat Provinsi Riau setelah kota Bengkalis. Nama Bagansiapiapi berhubungan dengan kisah kedatangan orang-orang Tionghoa ke kota ini. Syahdan, orang-orang Tionghoa pertama kali datang ke Bagansiapiapi menggunakan kapal tongkang. Mereka berasal dari daerah Songkhla di Thailand, yang sebenarnya juga merupakan perantau-perantau Tionghoa dari Tiongkok Selatan. Sampai sekarang, orang-orang Tionghoa ini menetap di Bagansiapiapi, bersama penduduk asli dari suku Melayu. Mereka kini hidup rukun. Setidaknya dalam dua dasawarsa terakhir tak pernah terdengar ada gejolak.
Saya kira bagus kalau ada calon-calon sarjana yang membuat riset tentang akulturasi budaya di kota ini. Untuk tesis atau disertasi. Kalau Ambon bisa menjadi laboratorium toleransi agama, Bagan bisa menjadi laboratorium toleransi budaya. Ambon, kita tahu, pernah dilanda kerusuhan agama (Islam dan Kristen) yang sangat keras pada 1999 – 2003). Tapi kemudian pulih dan kini menjadi percontohan toleransi agama dengan berbagai inisiatif dan inovasi perdamaian yang dibuat oleh warga. Bagan pun pernah dilanda huru-hara etnik, seperti kerusuhan Melayu vs China (1998), dan Melayu vs Batak (2001). Pengalaman memberi banyak pelajaran. Sejarah memberi banyak ruang untuk begerak. Kita memang tidak bisa berbuat apa-apa untuk masa lalu, tapi masa lalu bisa menjadi bahan untuk kita menciptakan masa depan yang lebih baik.
Plasa di Bagansiapiapi, keindahan di tengah kota
Setiap tahun, pada bulan Juni, selalu diadakan ritual Bakar Tongkang, untuk mengenang sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa di Bagansiapiapi. Pembakaran perahu Tongkang itu untuk menandai bahwa mereka tidak akan kembali ke kampung halamannya di Tiongkok. Ritual ini telah menjadi ikon dan andalan pariwisata Bagansiapiapi yang mampu menyedot puluhan ribu wisatawan dalam dan luar negeri setiap tahun.
Perayaan Tahun Baru Imlek di Bagansiapiapi selalu meriah. Momen ini sekaligus juga merupakan tradisi pulang kampung bagi orang Tionghoa yang merantau ke luar daerah untuk berkumpul kembali bersama keluarga. Perayaan Imlek di Bagansiapiapi berlangsung 15 hari sampai malam Cap Go Meh. Lampion beraneka bentuk dan ukuran menghiasi rumah-rumah penduduk, perkantoran, kelenteng dan vihara, bahkan di sepanjang jalan-jalan besar di pusat kota sehingga kota Bagansiapiapi seakan bermandikan cahaya lampion di malam hari.
Rumah Kapitan Tionghoa di Bagansiapiapi, peninggalan masa lalu
Bagansiapiapi terkenal sebagai penghasil ikan terpenting, sehingga dijuluki sebagai kota ikan. Menurut beberapa sumber, di antaranya surat kabar De Indische Mercuur menulis bahwa pada tahun 1928, Bagansiapiapi adalah kota penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah kota Bergen di Norwegia.
Setelah aktivitas perekonomian dari sektor perikanan semakin menurun, budidaya burung walet untuk diambil sarangnya telah menjadi alternatif usaha dan sangat jamak ditemukan di Bagansiapiapi, terutama di pusat kota, di mana banyak ruko-ruko dibangun 3 sampai 4 tingkat, dengan tingkat teratas dijadikan sebagai tempat budi daya burung walet, sedangkan tingkat 1-2 digunakan sebagai toko dan tempat tinggal.
Rumah walet banyak dibangun di Bagansiapiapi
Waktu saya berkunjung ke sana pada September 2017 lalu, saya sempat kaget dengan cuacanya yang kadang tiba-tiba gelap, Saya pikir langit mendung dan akan turun hujan. ternyata langit ditutupi ribuan burung walet yang terbang bergerombol membentuk awan hitam. Suatu pemandangan yang menakjubkan.
Pada malam hari saya dan beberapa teman sempat ngopi di bundaran kota. Menikmati suasana malam kota kecil nun jauh di sana… anak-anak remaja hilir mudik berjalan kaki atau bermotor, kerlip lampu di gedung-gedung tua, kafe-kafe sederhana yang berjejer rapi, warung-warung ikan bakar segar yang baru diangkat oleh nelayan..
Festival Bakar Tongkang, Magnet Pariwisata Kota Bagansiapiapi
Saya tidak akan ceritakan semuanya di sini, supaya anda datang sendiri ke sana, hehe… Ya, buktikan sendiri, dan nikmati sendiri keindahan kota kecil ini. Jangan kuatir dengan akomodasi, karena di Bagan tersedia sejumlah hotel yang cukup representatif. Bagaimana dengan transportasi? Nah ini. Anda harus siap menempuh perjalanan darat dengan mobil travel dari Pekanbaru ke Bagan dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Tarifnya Rp. 250 ribu. Mobil travel bisa dicarter di bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Alternatif lain bisa juga anda naik pesawat ke bandara Pinang Kampai, Dumai, dan dari sini anda ambil mobil travel menuju Bagan. Waktu tempuhnya sekitar 3 jam.
Terserah, enaknya yang mana. Yang penting bulatkan tekad dulu, liburan nanti anda buat rencana perjalanan ke Bagan. Insya Allah, tidak akan menyesal, hehe..
Oh ya betewe kunjungan saya ke Bagansiapiapi waktu itu untuk menjadi salah satu narasumber dalam seminar internasional tentang living values di kampus STAI Ar-Ridho. Saya datang terlambat karena ketinggalan pesawat dari Bandara Cengkareng. Jadi saya berangkat besok paginya. Alhasil pas saya datang sekitar Pk. 14.30 acara sudah hampir selesai hehe.. Tapi panitia yang baik tetap mempersilakan saya bicara walau cuma seorang diri. Sayang foto dokumen saya kurang bagus ya, maaf 🙂
Saya menginap di hotel Lion. Ini foto bersama para pegawai front office-nya. Maklum orang jauh dari Jakarta jadi sebelum pulang foto-foto dulu.
Demikianlah, teman-teman, laporan perjalanan saya ke kota kecil Bagansiapiapi, Hongkong van Andalas. Kalau ada rezeki saya ingin ke sana lagi. Pengen nongkrong lama-lama sambil ngopi di bundaran kota, dan lihat-lihat pelabuhan pantai.
Saat menulis ini saya teringat pertanyaan teman saya saat berkomunikasi di medsos, “Bang, kapan ke Bagan lagi?” Dan saya tiba-tiba jadi sedih.
–-o0o–
Beberapa data dalam tulisan ini bersumber dari: Wikipedia
“Aku ingin berjalan bersamamu
Dalam hujan dan malam gelap
Tapi aku tak bisa melihat matamu.”
(“Resah”, oleh Payung Teduh)
MATA YANG INDAH
Mata yang indah adalah seribu kunang-kunang yang berpindah dari lembah ke taman pedestrian dan membawaku kembali duduk di sana — sudut kota yang memulakan segalanya dari keraguan.
Walau langit gelap mata itu tetap purnama tapi aku tak ingin menatapnya karena aku akan tersiksa maka kubiarkan kaki berjalan dalam kegelapan.
Mata yang indah adalah muara pelabuhan bagi biduk-biduk resah dan kebahagiaan dalam mata yang indah kehidupan selalu basah karena di kelopaknya yang rawan hanya ada musim penghujan.
03/09/17 Rumah Budaya Nusantara PUSPO BUDOYO, Tangsel.
Pada 24 Juni 2020 ini Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, berulang tahun yang ke-79. Berikut catatan saya untuk “penyair kapak” tersebut sebagai bahan diskusi di Sanggar Kaki Langit (Sangkala), Tangerang Selatan. (Ahmad Gaus)
Sutardji Calzoum Bachri: Jalan Baru Estetika Puisi
Dalam hal eksperimentasi, puisi Indonesia dasawarsa 1970-an hampir-hampir identik dengan nama Sutardji Calzoum Bachri. Melalui puisi-puisi mantranya yang berideologi pembebasan kata dari makna, puisi Indonesia mendapatkan nafas baru setelah berpuluh tahun dibebani pesan-pesan moral atau perjuangan. Nama Sutardji kemudian tidak pernah dipisahkan dari perdebatan sastra kontemporer. Ia dianggap membawa corak baru dalam penulisan puisi yang didominasi oleh puisi lirik.[1]
Memang, dibandingkan puisi-puisi mainstream pada zamannya, puisi-puisi mantra ala Sutardji melampaui puisi lirik. Aku dalam puisi lirik menirukan kenyataan dan mengekspresikan perasaan individual. Dua hal itu nyaris lenyap dalam puisi-puisi mantra Sutardji. Jejaknya masih terlihat, tapi tidak dianggap penting. Sebab yang penting ialah kehadiran kata-kata itu sendiri, dan bukan representasinya atas kenyataan, apalagi pengertiannya.
Dalam puisi-puisi mantra Sutardji, kata yang dihadirkan adalah kata sebagai dirinya sendiri, bukan kata yang ke dalamnya sudah disusupkan makna tertentu oleh rezim bahasa. Dalam kredo puisinya, Sutardji mengatakan ingin membebaskan kata dari makna dan mengembalikan kata pada awal mulanya, yaitu mantera.
Selama rentang waktu satu dasawarsa (1970-1980), Sutardji bergumul dengan eksperimen puisi-puisi mantranya yang kemudian diterbitkan dalam antologi O yang terbit tahun 1973, kemudian Amuk yang terbit tahun 1977, dan menyusul Kapak yang terbit tahun 1979. Pada tahun 1981, ketiga antologi tersebut dikumpulkan menjadi satu dan diterbitkan kembali dengan judul O Amuk Kapak.[2] Buku setebal 133 halaman ini memuat 67 puisi.
Jika ada pernyataan “puisi ditulis tidak untuk dimengerti”, maka pernyataan itu absah sepenuhnya pada sosok penyair Sutardji. Kredo pembebasan kata dari makna menjadi ikon yang mengukuhkan penyair kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, 24 Juni 1941, ini sebagai Sang Pembebas.[3] Karena kata sudah dibebaskan dari makna, maka kata-kata puisi benar-benar menjadi rahasia sebagaimana lazimnya ungkapan-ungkapan mantra. Makna yang terkandung di dalamnya menjadi berbau magisme yang biasa dihadirkan dalam sebuah komunikasi spiritual. Karena itu, penyair Abdul Hadi WM pernah menyebut puisi-puisi Sutardji sebagai puisi-puisi sufistik.[4]
Menangkap pesan dalam puisi-puisi sufistik—atau dalam istilah Sutardji, puisi mantra—tidak semudah membaca pesan dalam puisi lirik yang merepresentasikan pengalaman atau perasaan sang penyair. Dalam puisi Sutardji, makna itu ada, tapi seperti tiada, bagaikan semut hitam di atas batu hitam yang merayap pada suatu malam yang sangat gelap. Tetapi jelas bahwa semut itu ada. Hanya mata yang tajam yang sanggup melihatnya. Simaklah beberapa puisi Sutardji berikut:
…. aku bukan penyair sekedar aku depan depan yang memburu membebaskan kata memanggilMu
pot pot pot pot pot kalau pot tak mau pot biar pot semau pot mencari pot pot hei Kau dengar manteraku Kau dengar kucing memanggilMu izukalizu pot hei Kau dengar manteraku Kau dengar kucing memanggilMu izukalizu mapakazaba itasatali tutulita papaliko arukabazaku kodega zuzukalibu tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco zukuzangga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zukuzangga zegezegeze aahh…! nama kalian bebas carilah tuhan semaumu
Doa
O Bapak Kapak beri aku leherleher panjang biar kutekak biar ngalir darah resah ke sanggup laut
Mampus!
Apa yang dinyatakan oleh puisi-puisi di atas selain pengekpresian pengalaman estetika penyairnya? Terlalu gegabah untuk menyimpulkan bahwa puisi-puisi di atas tidak bermakna. Makna tidak harus timbul dari rangkaian kata yang dapat dipahami. Sebab makna adalah senyawa bebas yang dapat direkatkan pada pengalaman individual. Dan individu dalam puisi-puisi Sutardji bukan aku-lirik dalam pengertian konvensional, melainkan subjek yang menyatakan diri dalam kata-kata yang sudah merdeka dari penjajahan makna. Setelah kata-kata dibebaskan dari makna, segenap makna yang dibangunnya justru menjadi mungkin.
Seperti Chairil Anwar yang sangat berani menyimpang dari tradisi penulisan puisi pada zamannya, Sutardji juga mengambil jalan yang berbeda dari jalan umum. Tapi, berbeda dengan Chairil yang menegaskan konsep puisinya sebagai “sebuah dunia yang menjadi”, Sutardji lebih dari itu. Ia menyajikan konsep tentang dunia yang tak dikenal, persisnya, dunia metafisis yang dilupakan akibat modernitas yang membuat pemahaman manusia atas kenyataan menjadi terpecah. Kesatuan transendental manusia dan Tuhan dibatasi oleh teknologi, falsafah, dan ideologi, yang sesungguhnya asing dalam pengalaman primordialnya. Dunia kenyataan dalam pengalaman manusia modern bagaikan belantara topeng dan citra. Kata-kata biasa tidak sanggup lagi memberi petunjuk ke mana arah untuk menemukan jatidiri manusia yang hilang di belantara citra itu, maka dibutuhkan mantra—kata-kata sakti untuk menguak dunia gaib yang bebas dari pencitraan.
Mantra dalam puisi-puisi Sutardji menjadi metafora yang menggambarkan keresahan dan kepedihan jiwa manusia dalam kesepian dan keterasingan akibat modernitas. Simak puisi berikut:
Sepisausepi
sepisau luka sepisau duri sepikul dosa sepukau sepi sepisau duka serisau diri sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi sepisaupa sepisaupi sepisaupa sepisaupi sampai pisauNya ke dalam nyanyi
Puisi di atas sebenarnya berbicara tentang dua hal yang sangat akrab dalam kehidupan sehar-hari, yakni sepi dan pisau. Dengan meleburkan keduanya menjadi “sepisau” lalu “pisausepi” bukan saja memperlihatkan kelenturan sekaligus kejeniusan bahasa puisi ini, namun juga menghadirkan makna yang sama sekali tak terduga—makna baru yang dimungkinkan sebagai hasil pembebasan kata dari penjajahan makna. Sebelum membahas keunikan tipografi puisi dalam O Amuk Kapak, yang membedakannya dengan puisi-puisi mainstream, baik kita simak lagi puisi di bawah.
Batu
batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu jarum
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?
Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan
seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa
gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai se-
dang lambai tak sampai. Kau tahu?
batu risau
batu pukau
batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati
janji?
Ah
rasa yang dalam!
datang Kau padaku!
aku telah mengecup luka
aku telah membelai aduhai!
aku telah tiarap harap
aku telah mencium aum!
aku telah dipukau au!
aku telah meraba
celah
lobang
pintu
aku telah tinggalkan puri purapuraMu
rasa yang dalam
rasa dari segala risau sepi dari segala nabi tanya dari segala nyata sebab dari segala abad sungsang dari segala sampai duri dari segala rindu luka dari segala laku igau dari segala risau kubu dari segala buku resah dari segala rasa rusuh dari segala guruh sia dari segala saya duka dari segala daku Ina dari sega- la Anu puteri pesonaku!
datang Kau padaku!
apa yang sebab? jawab. apa yang senyap? saat. apa
yang renyai? sangsai! apa yang lengking? aduhai
apa yang ragu? guru. apa yang bimbang? sayang.
apa yang mau? aku! dari segala duka jadilah aku
dari segala tiang jadilah aku dari segala nyeri
jadilah aku dari segala tanya jadilah aku dari se-
gala jawab aku tak tahu
siapa sungai yang paling derai siapa langit yang paling rumit
siapa laut yang paling larut siapa tanah yang paling pijak si-
apa burung yang paling sayap siapa ayah yang paling tunggal
siapa tahu yang paling tidak siapa Kau yang paling aku kalau
tak aku yang paling rindu?
bulan di atas kolam kasikan ikan! bulan di jendela
kasikan remaja! daging di atas paha berikan bosan!
terang di atas siang berikan rabu senin sabtu jumat
kamis selasa minggu! Kau sendirian berikan aku!
Ah
rasa yang dalam
aku telah tinggalkan puri purapuraMu
yang mana sungai selain derai yang mana gantung selain sambung
yang mana nama selain mana yang mana gairah selain resah yang
mana tahu selain waktu yang mana tanah selain tunggu
yang mana tiang
selain
Hyang
mana
Kau
selain
aku?
nah
rasa yang dalam
tinggalkan puri puraMu!
Kasih! jangan menampik
masuk Kau padaku!
Lagi-lagi pertanyaannya, apa yang hendak disampaikan dalam 2 puisi di atas? Kalau memang pengertian, tentunya bukan pengertian yang biasa. Sebab tidak ada yang dapat diindera dengan ungkapan “batu mawar” atau “mengecup aduhai” atau “batu Kau-ku” atau “aku telah tinggalkan puri purapuraMU”. Namun karena kata telah dibebaskan dari makna, kemudian kembali ke fungsi awalnya sebagai mantra, maka keseluruhan bahasa yang digunakan hanya dapat dipahami sebagai kendaraan untuk menghadirkan sugesti kepada pembaca. Terang bahwa Kau dan Mu merujuk kepada Tuhan. Dan untuk mencapai Tuhan yang sudah terjajah oleh pemahaman diskursif pengetahuan dan falsafah tidaklah mudah. Si Aku lirik yang semula terjerembab dalam kebingungan dan hanya berteriak O… sekarang ia meng-Amuk, membawa Kapak untuk membabat semua rintangan yang menghalangi jalan menuju ke aras-Nya.
Keberhasilan puisi-puisi Sutardji sebenarnya adalah kejernihannya dalam menggunakan bahasa mantra untuk menguak dimensi alam gaib. Mantra, dan memang hanya bahasa mantra, yang mampu berkomunikasi dengan dunia mistik. Gejala seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat. Saat kaum muslim, misalnya, memuja dan berkomunikasi dengan Allah, mereka membaca atau melafalkan ayat-ayat suci yang tak mereka pahami. Artinya, ayat-ayat suci berfungsi sebagai mantra, yang di dalamnya dipercaya menyimpan kekuatan magis.
Bahkan kalau kita mau sedikit menengok pada tradisi ilmu kanuragan dalam masyarakat kita, maka kita akan bertemu dengan apa yang disebut wafaq atau jimat. Yakni, tulisan-tulisan ayat suci pada sehelai kain yang disusun dalam pola tertentu sehingga menghasilkan kesaktian apabila dipakai, seperti bisa menghilang, kebal dari pukulan atau tembakan, dan sebagainya. Puisi-puisi Sutardji yang disusun dalam tipografi tertentu yang unik menyerupai tulisan pada jimat. Efek yang hendak dimunculkannya sudah pasti ialah sugesti yang bersifat magis, senafas dengan kata-kata mantra yang digunakannya. Dan sebagaimana dalam jimat yang tersusun dari kata-kata yang tidak merujuk pada makna konvensional. dalam puisi-puisi Sutardji pun kata-kata menyimpang dari fungsinya sebagai pengantar pengertian. Sutardji menandaskan hal ini dalam manifesto kepenyairannya sbb:
Kredo Puisi
Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor(obscene) serta penjajahan gramatika. Bila kata dibebaskan, kreatifitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif. Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari diatas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya. Sebagai penyair saya hanya menjaga–sepanjang tidak mengganggu kebebasannya– agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal. Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata. Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.
Sutardji Calzoum Bachri
Bandung, 30 Maret 1973.
Demikianlah, puisi mantra telah mengantarkan Sutardji Calzoum Bachri sebagai salah satu penyair terpenting di tanah air — ia bahkan dikenal sebagai Presiden Penyair Indonesia. Perannya tidak bisa direduksi menjadi sekadar pionir pembebasan kata dari makna, yang untuk itu sering dijuluki sang pembebas, el libertador, atau penggagas puisi mantra yang membedakan dirinya dengan penyair-penyair lain[5] Lebih dari itu, ia menjalankan peran profetik untuk suatu perubahan yang mendasar dalam kesusastraan. Dalam suatu kesempatan, penyair kelahiran Rengat, Indragiri Hulu, Riau, 24 Juni 1941, ini bahkan pernah menyatakan bahwa peran penyair dalam mencipta puisi secara ekstrem bisa disamakan dengan peran Tuhan dengan ciptaannya, yakni sama-sama tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.[6]
2008. Presiden SBY memberikan penghargaan Bintang Budaya Parama kepada Sutardji sebagai penghargaan atas kiprahnya dalam bidang kebudayaan.
Sutardji tampaknya menyadari bahwa sastra sebagai sebentuk seni dalam budaya masyarakat tengah berada dalam gerusan modernitas yang memenjarakan kesadaran eksistensial manusia. Karena itu puisi-puisinya ditulis untuk memerdekakan manusia. Tak bisa lain, puisi mantra ialah puisi-puisi religius, yakni usaha transedental sang penyair untuk menemukan jalan lain menuju Tuhan, sekaligus jalan baru bagi estetika puisi untuk keluar dari kesunyian yang mencekam ala Nyanyi Sunyi (Amir Hamzah) atau kesunyian yang buas ala Binatang Jalang (Chairil Anwar).
Sebelum menutup uraian ini, mari kita nikmati lagi beberapa puisi dari Sutardji di bawah ini:
Walau
walau penyair besar
takkan sampai sebatas allah
dulu pernah kuminta tuhan
dalam diri
sekarang tak
kalau mati
mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
jiwa membumbung dalam baris sajak
tujuh puncak membilang bilang
nyeri hari mengucap ucap
di butir pasir kutulis rindu rindu
walau huruf habislah sudah
alifbataku belum sebatas allah
1979
Tragedi Winka dan Sihka
kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
sihka
sihka
sihka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
sih
sih
sih
sih
sih
ka
Ku
Hilang (Ketemu)
batu kehilangan diam
jam kehilangan waktu
pisau kehilangan tikam
mulut kehilangan lagu
langit kehilangan jarak
tanah kehilangan tunggu
santo kehilangan berak
Kau kehilangan aku
batu kehilangan diam
jam kehilangan waktu
pisau kehilangan tikam
mulut kehilangan lagu
langit kehilangan jarak
tanah kehilangan tunggu
santo kehilangan berak
Kamu ketemu aku
Tapi
aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih
aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya
aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi
aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang hampir
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau
tanpa apa aku datang padamu
wah!
1976
Para Peminum
di lereng-lereng
para peminum
mendaki gunung mabuk
kadang mereka terpeleset
jatuh
dan mendaki lagi
memetik bulan
di puncak
mereka oleng
tapi mereka bilang
– kami takkan karam
dalam laut bulan –
mereka nyanyi nyanyi
jatuh
dan mendaki lagi
di puncak gunung mabuk
mereka berhasil memetik bulan
mereka menyimpan bulan
dan bulan menyimpan mereka
di puncak
semuanya diam dan tersimpan
Sajak-sajak Sutardji telah diterjemahkan oleh Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Selain menulis puisi, Sutardji juga menulis cerpen dan esai sastra. Kumpulan cerpennya diterbitkan oleh penerbit Indonesia Tera pada tahun 2001 dengan judul Hujan Menulis Ayam. Sementara itu, kumpulan esainya diterbitkan oleh penerbit yang sama pada tahun 2007 dengan judul Isyarat.
Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand. Beberapa penghargaan lain yang pernah diterimanya antara lain: Penghargaan Sastra Kabupaten Kepulauan Riau oleh Bupati Kepulauan Riau (1979); Anugrah Seni Pemerintah Republik Indonesia (1993); Menerima Anugrah Sastra Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Jakarta. (1990); Penghargaan Sastra Chairil Anwar (1998), dan anugrah gelar Sastrawan Perdana oleh Pemerintah Daerah Riau (2001).
Karya-karya Sutardji yang sudah terbit antara lain:
– O, diterbitkan oleh Yayasan Indonesia (tahun 1971). – Kucing, diterbitkan oleh Sinar Harapan (tahun 1973) – Amuk (tahun 1977) – Kapak – Amuk, Kapak, antologi, diterbitkan oleh Sinar Harapan (tahun 1981) – Aku Datang Padamu. – Perjalanan Kubur David Copperfield. – Realites’90 Tanah Air Mata.
Penghargaan:
– Anugerah Seni, dari Pemerintah Republik Indonesia (tahun 1990) – Anugerah Seni atas karyanya berjudul Amuk, dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) (tahun 1977) – Anugerah Sastra Chairil Anwar (tahun 1998), – Anugerah Sastra Asia Tenggara (South East Asia Writer Awards), dari Ratu Sirikit, Thailand (tahun 1979). – Seniman Perdana, dari Dewan Kesenian Riau (tahun 2001). – Sebagai Pelopor Penyair Angkatan ’70.’
Catatan:
[1] Untuk melihat berbagai pandangan mengenai Sutardji Calzoum Bachri, lihat Maman S. Mahayana, ed., Raja Mentera, Presiden Penyair (Depok: Yayasan Panggung Melayu, 2007).
[3] Lihat, “Sutardji Calzoum Bachri, Sang Pembebas”, dalam Jamal D. Rahman, et al., Dermaga Sastra Indonesia: Kepengarangan Tanjung Pinang dari Raja Ali Haji sampai Suryatati A. Manan (Jakarta: Komodo Books, 2010), hal. 157
[4] Lihat dalam Ahmadun Yosi Herfanda, Inspiring stories: 30 kisah para tokoh beken yang menggugah (Solo: Tiga Serangkai, 2008) hal. 282
[5] Istilah puisi mantra belakangan tidak selalu berkonotasi sakral. Sebuah tudingan bahwa Sutardji bukan penyair melainkan tukang mantra tentu bermaksud menurunkan kesakralan posisi itu. Mengenai ini lihat, Nurel Javissarqi, Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri (Pustaka Pujangga dan Sastranesia, 2011)
[6] Lihat makalah Orasi Budaya Sutardji Calzoum Bachri, “Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair”, dalam acara Pekan Presiden Penyair. Makalah ini dimuat di harian Republika, 9 September 2007.
Tuhan, jika kerinduanku pada kekasih melebihi kerinduanku kepada-Mu ampuni aku! Sebab, aku bukan penguasa atas apapun yang terbersit di hatiku melainkan Engkau. Dan jika kecintaanku pada kekasih melebihi kecintaanku kepada-Mu maafkan aku! Sebab, aku juga bukan penguasa atas setiap rasa yang berdenyut di jantungku melainkan Engkau.
Dalam zikir-zikir yang kulantunkan untuk memuji nama-Mu tanpa sadar kusebut pula namanya. Jangan murkai aku, Tuhan, jika itu keliru! Sebab, tak mungkin dapat kugerakkan lidahku melainkan atas izin-Mu juga. Dan dalam sujud-sujud malamku untuk mengagungkan-Mu kuagungkan pula namanya di hatiku. Jangan kutuk aku, Tuhan walaupun mungkin menurut-Mu itu perlu!
Dari Engkaulah rindu dan cinta berhulu kepada Engkau pula kelak akan bermuara aku hanya pendayung waktu rindu dan cinta kupinta selautan rahmat-Mu untuk kekasih yang menunggu di ujung senjaku. Maka jadikanlah cinta ini sebagai amal saleh yang akan kujalani selama hidupku dan rindu ini sebagai ibadah yang akan kuamalkan sepanjang hayatku.
TENTANG TULANG RUSUK YANG DICURI OLEH KAWANAN BURUNG
– Untuk Neng Dara Affiah
Setiap manusia dikirim ke dunia untuk mencari tulang rusuknya yang hilang
Konon, sekawanan burung mencurinya di langit ketika manusia tertidur lelap
Lalu menurunkannya di suatu tempat di muka bumi
Setelah itu burung-burung berkicau sepanjang hari, sepanjang masa
Sampai tiba waktunya mereka harus kembali ke langit untuk menghadapi pengadilan.
Sebagian orang berhasil mendapatkan tulang rusuknya yang hilang itu
Sebagian lagi menemukan tulang rusuk yang salah
Sehingga tidak cocok untuk ditempatkan di bagian mana pun dalam dirinya
Bahkan, ya Allah, ada tulang rusuk yang terlepas dari genggaman burung ketika dibawa dari langit
Walhasil, tidak pernah sampai di muka bumi
Orang-orang senang memelihara burung karena dorongan hasrat primordial untuk membalas dendam
Padahal sebagian dari mereka harus kembali ke langit untuk mencari barang curiannya yang hilang dan dibawa ke bumi
Kita tidak akan memahami ini sampai mendengar suara-suara burung yang membangkitkan bulu kuduk.
Sebuah bendera berkibar di atas sepotong roti Melantunkan nada yang terus bertahan Dari gegap-gempita nyanyian revolusi Hingga huru-hara zaman yang bergerak makin ke kanan
Tanah airku, kisah Tan, berada di sebelah kiri jalan Di antara deretan toko yang kerap menjadi sasaran penjarahan Nasionalismeku terhimpit di halaman buku-buku sejarah yang tak pernah dibaca Maka kucetak saja negeriku dengan roti gambang, bimbam, roti cokelat oles, dan nougat.
Roti-roti bernyanyi di atas gerobak dorong Terseok-seok di gang-gang kecil pinggiran kota Menyapa orang-orang kampung untuk menemani mereka minum teh di pagi dan sore hari
Roti, roti, roti... Sebuah nyanyian dari masa lalu yang menyayat jiwa Roti, roti, roti… Sepenggal sejarah yang menitikkan airmata
Specks of dust in the night sky kept my loneliness in company. The moon sits perfectly in the window. Reluctantly contemplating to deliver message from the lover – who is the horizon.
I imagine he comes up to me, bringing about an influx of deafening silence in my chest. Calling back seagulls, who flew miles away to another bay to make love. Reminiscing memories buried in sand and stone. In my shore the mist sleeping so soundly. Coral reefs stood still waiting, and endlessly waiting for the souls Souls who can resuscitate them with new life
My tongue is squeezed under the foam. Words cross the island, and they are worn out for carrying the truth And finally, place them under the rainbow stairs when strong winds hit the beach in the afternoon.
Accordingly, tonight my song flowed into the still lake. Because, who else can play such beautiful a tone other than silence, and who else can blink a life soul other than the clear eyes.
Zombies build cities from the ground up in the holy human soil. After such a great war, in which they undoubtedly trounce over humans, authority has changed hands. New rules are born. Laws are enforced way above zombie values. Values pouring from the fresh blood of corpses that roam; from the dead who sought revenge.
Who is responsible for all this? Where earth must be rescued from the breeding of new zombies; from an energy so bleak vandalism, terrorism, fanaticism all interwoven in their nature.
Humans have nowhere to evacuate but to prepare for the next war. We are to reclaim the ancestral land back from them. The land they so disgustingly set foot on is now enclosed by the unwanted debris of zombies who roamed into human bodies.
While new buildings are erected from piles of decapitated heads, the streets are made from loose hands. And the lights were removed from the eyes hung on the roadside poles.
The whole city is now under their control. We are to transform ourselves into super-zombies to defeat them. Or else, we shall require help from the almighty extraterrestrials They who can attract all religious doctrines Doctrines which have turned humans into zombies in the first place.
— a poem by ahmad gaus
****
“Di dunia ini ada kekuatan hitam, ada kekuatan putih. Kamu pilih yang mana untuk membantu mewujudkan impian-impianmu? Tapi ingat, setiap pilihan akan membawa akibat pada kehidupanmu.”
Perbenturan dua kekuatan hitam dan putih itu diwakili oleh dua karakter perempuan muda dalam novel Laura dan Burung Hantu, baca selengkapnya di sini: https://h5.novelme.com/bookinfo/18126