Selamat menjalani Tri Hari Suci untuk para sahabat blogerku yang beragama Kristen/Katolik.
Pengorbanan ala Kristus masih dibutuhkan untuk membangun dunia yang lebih damai. Mari ikuti jalan penderitaan Yesus (Via Dolorosa). Mari bersama menuju Golgota.
Salam Kasih,
Ahmad Gaus
Please share this poster if you want to be a part of building a peaceful world:
****
Anda tertarik menulis biografi, bagaimana caranya? Baca tautan berikut ini: Menulis Biografi
Mau menulis buku biografi tapi tidak tahu bagaimana memulainya, atau tidak tahu caranya, karena anda bukan seorang penulis. Tidak tahu pula siapa yang harus dihubungi. Bukan masalah besar. Yang penting anda punya keinginan untuk membagi kisah hidup anda kepada orang lain (anak-cucu, saudara, sahabat, kolega, handai taulan, teman kecil, dll).
Alangkah senangnya sahabat-sahabat anda kalau nama mereka disebut dalam biografi anda. Mungkin itu akan menjadi hadiah terbaik anda kepada mereka.
Menulis buku biografi juga tidak harus menunggu tua. Juga tidak perlu menjadi super hero dulu baru menulis biografi. Kenapa? Coba simak catatan singkat di bawah ini berikut beberapa contoh buku biografi yang saya tulis:
BANYAK orang yang suka membaca buku, tapi lebih banyak lagi yang suka membaca biografi. Kenapa? Karena dari biografi orang akan belajar tentang kehidupan seseorang. Adalah hal yang manusiawi belaka bahwa orang senang membaca cerita hidup orang lain. Dan buku biografi mewujudkan kesenangan itu.
Nurcholish Madjid atau akrab disapa Cak Nur adalah seorang cendekiawan dan guru bangsa. Beliau juga Pendiri dan Rektor Universitas Paramadina.
Memang banyak jenis atau genre buku, dari buku-buku wacana, sastra, ilmu pengetahuan, buku tips atau “how to”, hingga komik dan panduan wisata. Namun buku biografi tetaplah jenis buku yang paling diminati. Pasalnya, buku biografi bukan jenis buku berat yang harus berpikir keras untuk membacanya. Biografi hanya berisi cerita hidup sang tokoh — tentang kesuksesan, kebahagiaan, hobi, cita-cita, petualangan, kegagalan, kesulitan, perjuangan, dan tentu saja hal-hal yang lucu dalam pengalaman hidup sang tokoh. Semuanya human interest.
Kemal Ranadireksa adalah eks Direktur BNI, dan salah seorang pendiri Bank Mandiri.
Utomo Dananjaya atau Mas Tom adalah Pakar Pendidikan dan Tokoh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).
Sebuah biografi memang ditulis untuk membagikan cerita kehidupan kita kepada orang lain. Cerita itu bisa menjadi inspirasi bagi pembaca tentang bagaimana sang tokoh mengatasi kesulitan, juga memberi semangat kepada pembaca.
Siapa yang boleh menulis biografi, atau memiliki buku biografi? Semua orang boleh. Jangan kira bahwa yang boleh mempunyai buku biografi hanya mantan-mantan presiden, pejuang, pengusaha sukses, diplomat hebat, selebriti papan atas. Tidak.
Djohan EFfendi adalah Menteri Sekretaris Negara di masa Presiden KH Abdurrahman Wahid
Pengalaman saya sendiri sebagai penulis biografi, sebagian tokoh yang saya tulis adalah “orang-orang biasa”, bukan tokoh besar. Mengapa mereka mau menulis biografi, karena mereka ingin berbagi cerita dengan keluarga, sahabat, kolega, dan kelak untuk anak cucu. Itu saja sudah cukup memenuhi arti penting sebuah biografi.
Jusuf Talib adalah mantan politisi Golkar
Jadi, sekali lagi, tidak usah menjadi pahlawan dulu untuk membuat biografi. Jika anda seorang ayah/ibu, kakek/nenek, atau bahkan pemuda/pemudi yang ingin bercerita, anda pantas menulis biografi. Biarkan anda dikenal melalui buku anda sendiri. Biarkan anda dikenang oleh anak cucu, saudara, dan teman-teman anda melalui biografi anda. Sebab mereka tidak tahu riwayat hidup anda. Siapa yang akan membuat hidup anda menjadi berharga kalau bukan anda sendiri?
Irjen Farouk Muhammad adalah mantan Kapolda Maluku dan NTB, juga Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).
Bagus kalau anda bisa menulis biografi anda sendiri, tapi kalau tidak juga bukan masalah besar. Sebab, ada orang yang memang memiliki keahlian untuk melakukan itu. Saya termasuk orang yang berkhidmat pada pekerjaan itu sejak lama.
Sampai sekarang sudah puluhan buku biografi yang saya tulis, baik yang memakai nama saya sebagai writer, maupun sebagai ghost writer (penulis hantu) dimana nama saya tidak muncul karena sang tokoh menginginkan seolah dia sendiri yang menulis buku tersebut. Bagi saya sebagai penulis profesional tidak masalah, yang penting bayarannya cocok, heheee..
Taufiq EFfendi adalah Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara di Era Presiden SBY. Sekarang politisi Gerindra
Dalam esai ini, sebagaimana yang anda lihat, saya sertakan contoh beberapa buku biografi yang pernah saya tulis.
Jika anda berminat untuk menulis biografi, silakan hubungi saya di email: gaus.poem@gmail.com atau WA: 081293397561
Ada orang yang bilang: Cinta itu indah walaupun tanpa kata-kata indah. Menurut saya, cinta akan lebih indah dengan kata-kata indah (puisi). Saya yakin anda setuju dengan pendapat saya.
Ada juga yang bilang bahwa: “Sebait puisi yang dihadiahkan untuk sang kekasih lebih bernilai daripada segenggam emas.” Kalau yang ini mungkin hanya laki-laki yang setuju.
Selamat ulang tahun ke-82 untuk Cak Nur (Nurcholish Madjid). Pemikir sejati tidak pernah mati !!
Cak Nur merupakan sosok yang fenomenal, sekaligus juga kontroversial, karena pikiran-pikirannya berbeda dari kebanyakan orang. Ia melawan arus, mengagetkan, dan membuat guncangan yang besar. Hal itu menunjukkan pengaruhnya yang penting. Kata cendekiawan Muhammadiyah, Dr. Moeslim Abdurrahman (alm), pikiran-pikiran keislaman yang berkembang di Indonesia sejak tahun 1970-an hanyalah catatan kaki dari pemikiran Nucholish Madjid.
Mengapa Cak Nur menempati posisi yang begitu penting dalam diskursus keislaman di Indonesia? Pertama, tentu saja masalah otoritas. Ia tumbuh di lingkungan pesantren, kuliah di IAIN, dan belajar kepada maha guru Islam Prof Fazlur Rahman di Universitas Chicago. Karya-karya intelektualnya memperlihatkan otoritas tersebut. Kedua, dia memikirkan hal-hal yang tidak dipikirkan/ tidak terpikirkan oleh orang lain. Dia pemikir sejati. Di antara tembok-tembok komunalisme yang menguat di kalangan Islam, Cak Nur mengetengahkan Islam sebagai ajaran fitrah, ajaran hanif, yang bersifat terbuka, dan lintas batas.
Itu yang sekarang hilang. Islam sekadar menjadi kategori sosiologis yang sempit, dan makin dibuat sempit oleh kecenderungan fanatik, fundamentalistik dan ototiter dalam memahami agama. Padahal kata Cak Nur, mengutip hadis Nabi, sebaik-baik agama di sisi Allah adalah al-hanifiyyat as-samhah, yakni upaya terus menerus mencari kebenaran dengan lapang dada, toleran, tanpa kefanatikan, dan tidak membelenggu jiwa.
Manusia tidak boleh terpenjara di dalam kotak-kotak yang sempit. Sebab Islam itu rahmatan lil alamin. Kebaikan untuk semua. Maka salah satu kritik Cak Nur yang paling keras ialah terhadap komunalisme (seperti partai Islam, negara Islam, ideologi Islam, dsb). Karena di dalam kotak komunalisme semacam itu Islam menjadi sempit. Padahal Islam adalah rahmatan lil alamin.
Gagasan sekularisasi Cak Nur terkait dengan pandangan ini. Jadi yang dimaksud sekularisasi oleh Cak Nur ialah tauhid tapi dalam bahasa sosiologi. Tauhid yang benar ialah menduniawikan hal-hal yang memang bersifat duniawi (seperti ideologi, negara, partai) dan tidak mensakralkannya.
Ketiga, Cak Nur berani mengangkat perkara-perkara yang tidak diangkat oleh orang lain, oleh ulama lain. Ia adalah pemikir Islam pertama di Indonesia yang berani “membunyikan” ayat-ayat toleransi. Selama ini ayat-ayat toleransi dalam al-Quran ditelantarkan, dianggap tidak ada, atau disembunyikan karena kepentingan-kepentingan tertentu. Banyak sekali ayat-ayat yang berhubungan dengan toleransi agama di dalam al-Quran, tapi orang tahunya cuma satu, yaitu lakum dinukum waliyadin.
Mengapa? Karena para mubaligh menyampaikannya hanya itu.
Padahal lakum dinukum itu bukan ayat toleransi. Itu ayat tentang menyembah Tuhan. Kalau Cak Nur berbicara mengenai toleransi maka ia mengutip al-Baqarah 62, al-Maidah 69, Ass-Syura 13, dsb.
Karena orang salah memilih dalil, maka setiap kali bicara toleransi, justru yang terjadi ialah menutup kemungkinan lahirnya sikap-sikap toleran. Akibatnya adalah lahirnya kesadaran palsu tentang toleransi. Toleransi menjadi ajaran pinggiran yang dianggap tidak penting. Cak Nur mengingatkan bahwa toleransi adalah ajaran pokok dalam Islam karena semangatnya bertebaran dalam al-Quran. Bahkan juga terkandung di dalam rukun iman yang enam. Jadi toleransi adalah bagian integral dari keimanan itu sendiri.
“Islam Peradaban”
Dengan pandangan toleransi semacam itu, maka di tangan Cak Nur Islam menjadi agama yang sangat humanis. Biarkan orang beriman atau tidak sesuai dengan pilihan bebas mereka (Q18:29). Sebab, iman hanya bermakna kalau lahir dari kebebasan, bukan dipaksa. Bukan wewenang manusia untuk menghukumi mereka sesat, itu urusan Tuhan. Urusan manusia adalah fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.
Ketika Cak Nur bicara toleransi maka yang ia bicarakan ialah kemungkinan mengembangkan doktrin toleransi itu sejauh yang dimungkinkan oleh al-Quran sehingga menjadi upaya emansipasi. Kata-katanya yang sering dikutip adalah: “Semakin dekat orang Islam pada al-Quran maka ia semakin toleran; semakin jauh dari al-Quran maka ia semakin tidak toleran.”
Islam yang dikembangkan oleh Cak Nur ialah Islam Peradaban yang agung, yang terbuka; bukan Islam syariah yang parsial dan tertutup, apalagi Islam politik yang partisan. Pikiran-pikiran Cak Nur saat ini tumbuh subur dan berkembang di kalangan kaum muda lintas agama. Sedangkan di kampus-kampus Islam saya kira kurang dieksplorasi sehingga tidak ada lagi semacam revolusi teologi ala Cak Nur.
Yang terjadi justru kampus-kampus sekarang semakin gandrung kembali ke syariah semata-mata karena “pasar”, tanpa visi keislaman yang jelas dan komprehensif karena tidak mengerti Islam ini mau dibawa ke mana, kecuali ke perkara halal dan haram. Alangkah jauhnya. Haihaata, haihaata.. !!
Salam Peradaban,
Ahmad Gaus
Penulis buku “Api Islam Nurcholish Madjid”, Peneliti CSRC UIN Jakarta, dosen Bahasa dan Budaya, Swiss German University (SGU), Tangerang.
Tulisan ini didedikasikan untuk mengenang almarhum Nurcholish Madjid yang lahir pada tanggal/hari ini (17 Maret).
Versi lengkap dari tulisan saya di atas dimuat pagi ini di Geotimes, berikut saya seratakan link-nya:
Dulu Evie Yana Farida biasa dipanggil amoi, karena keturunan Tionghoa. Sekarang juga masih — kadang-kadang. Dulu dia tinggal di Karawaci Tangerang, daerah pecinan. Tapi sekarang rumah itu sudah menjadi kantor kelurahan. Keluarganya pindah ke Cianjur.
Dulu Evie beribadah di gereja dan kelenteng sekaligus, karena memang agamanya dua. Tapi belakangan tidak lagi, karena sudah memeluk Islam atau menjadi muallaf.
Walaupun pindah agama, Evie tidak meninggalkan agamanya sambil meludah, seperti banyak dilakukan oleh orang yang pindah agama. Maksud saya, ada para muallaf yang menjelek2kan agama sebelumnya, seperti ustadz YW yang mantan pendeta, ustadzah IH yang mantan biarawati, dll.
Memang orang-orang seperti ini akan diberi karpet merah dan tepuk tangan. Karena memang ada umat yang haus dengan “siraman rohani” semacam itu, tapi sebagian besar umat Islam tidak membutuhkannya. Cerita-cerita tentang kejelekan agama lain adalah sampah, masuk ke dalam tong sampah, dan yang menyampaikannya juga tidak akan lebih dari itu.
Setelah menjadi muallaf, Evie menjalankan agamanya dengan keyakinan yang penuh. Namun, sekali lagi, dia tetap memuliakan agama sebelumnya, dan juga agama-agama serta aliran/mazhab yang lain. Evie bahkan mendalami falsafah Budha, Hindu, Syeikh Siti Jenar, dll. Dia mendengarkan Buya Syakur, Gus Baha, Fahruddin Faiz, dll.
Dengan terus belajar dan membuka wawasan, Evie merasa (dalam kata-kata dia sendiri) “Lebih terang benderang sekarang bagaimana seharusnya kita mengamalkan agama kita.” Ia juga mengatakan babwa semakin banyak berteman dengan orang-orang dari agama/aliran lain, “semakin aku menyayangi dan konsisten dengan kepercayaanku.”
Evie mewakili apa yang dalam wacana teologi disebut “passing over” yakni melintas dari agama sendiri, mengenal dan menyelami agama-agama lain atau tradisi spiritualitas yang lain guna memperluas wawasan, memperkaya batin, dan mengerti orang lain. Secara sosiologis passing over juga berperan dalam menciptakan toleransi dan pembangunan perdamaian.
Hanya orang-orang yang memiliki keberanian, rasa kepercayaan diri yang kuat pada imannya, serta memiliki cinta yang tulus pada sesama, yang berani melakukan itu. Dan Evie memilikinya.
Atas keberaniannya itu, maka saya buatkan puisi khusus buat
Evie Yana Faridadi hari ulang tahunnya hari ini. Oh ya, Evie ini adik kelas saya waktu di pondok pesantren Daar el Qolam, Tangerang. Sekarang, atau sejak belasan tahun, dia mengajar di salah satu universitas ternama di Irak utara. Selamat ulang tahun Evie, semoga Allah selalu membimbingmu dan memberi yang terbaik untukmu.