[Puisi] Bangsa Merdeka

Puisi “Bangsa Merdeka” diambil dari kumpulan puisi saya “Senja di Jakarta” yang terbit pada November 2017. Video pembacaan puisi dibuat pada 14 Agustus 2018 sebagai bagian dari kampanye spirit kemerdekaan oleh Yayasan Indonesia Bahagia (YIB). Lokasi: Atap Gedung Film, Jakarta. Videografer: Ira Diana

 

BANGSA MERDEKA

Kalau engkau bertanya kepadaku
benarkah kita sudah merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
ribuan jendela di mata orang-orang tua
yang duduk di atas kursi roda
di sana engkau akan melihat
bukit-bukit gerilya dan hutan belantara
tempat pembantaian manusia
ladang-ladang tebu yang dibombardir
kampung-kampung ibu mereka yang diteror mortir
dan sungai-sungai berwarna merah
yang hingga kini masih mengalir
di mata mereka.

Kalau engkau bertanya kepadaku
mengapa kita harus merdeka
akan kuajak kau pergi ke desa
melihat anak-anak berangkat ke sekolah
melintasi pematang-pematang sawah
menggendong tas berisi buku-buku
sejarah yang berdarah
dan sejumput impian mewah: menjadi dokter,
insinyur, tentara, guru, wartawan, seniman,
pegawai negeri, atau apa saja
yang membuat mereka berguna
untuk bangsa.

Sebab bangsa adalah pusaka yang diwariskan
oleh kakek-nenek moyang mereka
sebab bangsa adalah himne yang dinyanyikan
dengan linangan airmata.

Kalau engkau bertanya kepadaku
apa arti merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
pintu-pintu penjara
tempat dulu orang-orang tua kita
meringkuk di dalamnya
disiksa oleh para penjarah bangsa.

Dan kalau engkau masih bertanya
apakah kita sudah merdeka
untuk apa kita merdeka
dan apa arti merdeka
kusarankan kau
masuklah ke dalam penjara.

Jakarta, 16 Agustus 2017

BukuSenja

 

 

 

[Puisi] Kepada Yth. Cebong dan Kampret

 

 

Kepada Yth.
CEBONG DAN KAMPRET

Sebuah negeri tergelincir dari tanganku
Jatuh ke dalam kolam
Sekawanan burung masuk ke tubuhku
Membawa reruntuhan kota
Ekosistem kehidupan telah berubah
Dan aku terpaksa menyesuaikan diri
Meminum air yang bercampur dengan puing-puing bangunan yang belum lama berdiri dan runtuh
Menghirup udara yang tercemar dari polusi besi-besi tua yang gemar berteriak.

Aku tidak tahu kapan pastinya tubuhku bermutasi
Ekor dan sayapku tumbuh begitu saja
Meniru orang-orang, aku pun mulai bisa berenang seperti anak katak
Dan belajar terbang seperti kelelawar
Menyusup ke dalam kepala orang lain dan mencuri pikiran mereka
Kutanam di tengah kota yang telah mati
Dan tumbuh menjadi pohon dengan daun-daun yang dapat berbicara
Menggantikan lidah yang sudah hangus karena tidak pernah berhenti saling menista.

Orang-orang terbangun dari tidur dengan isi kepala dipenuhi burung.
Mereka berhamburan dari mulut dan lubang telinga
Terbang ke sana ke mari memenuhi seantero kota
Kaki mereka mencengkram batu-batu yang menyala
Dan dijatuhkan di atas pemukiman warga
Penduduk berlarian ke luar rumah dengan wajah menengadah dan mulut menganga
Menelan batu-batu itu sampai memenuhi perut mereka
Lalu meledak seperti bom bunuh diri
Langit gelap gulita. Bumi rata.

Apakah semua harus dihancurkan dulu?
Sebelum dibangun kembali oleh anak-anak yang belum lahir
Anak-anak manusia — bukan anak katak atau kelelawar.

 

Pontianak, 31 Juli 2018

Wassalam,

Ahmad Gaus AF
penulis, aktivis

Note: Puisi “Cebong dan Kampret” dibacakan di Aula Universitas Tanjung Pura, Pontianak, 31 Juli 2018. Dibacakan kembali dalam pertemuan para aktivis Komunitas Bela Indonesia (KBI) di Hotel Best Western Premier The Hive, Jakarta, 7 Agustus 2018

Pontianak Untan

“Pertemuan Komunitas Bela Indonesia, Jakarta, 7 Agustus 2018”

Best Western Premier The Hive Jkt

Komunitas Bela Indonesia

 

 

Bunga Rampai dari Malaysia

 

Selangor 10 des 17

 

sdd.jpg
Jauh-jauh ke Malaysia ketemu tetangga, Prof. Sapardi Djoko Damono (SDD) yang tinggal di Ciputat juga, 3 km dari rumah saya, hehe. Saya tunjukkan dalam buku ini ada puisi yang saya tulis untuk beliau berjudul “Kursi Ruang Tunggu” yang notebene merupakan adaptasi dari puisi beliau yang sangat terkenal, “Hujan Bulan Juni”; dan beliau terkekeh-kekeh.

 

GM
Sarapan pagi bersama Goenawan Mohamad dan Pauline Fan di Hotel Grand Bluewave, Selangor, 9 Desember 2017.

 

AAN - KL 08 des 17
Perjalanan dari KL ke Selangor bersama Aan Mansyur, penyair “Ada Apa dengan Cinta 2”

 

IMG-20171210-WA0018
Diskusi panel dengan tema: “Kesusastraan Agama dalam Bahasa Melayu Nusantara” bersama Dr. Azhar (Singapura), Eekmal (Malaysia), dan Mustaqim (Malaysia), di Museum Sultan Shah Alam, Selangor, 10 Desember 2017.

 

Senja di Jakarta

Buku SENJA DI JAKARTA sedang dicetak lagi, karena banyak yang pesan dan saya kehabisan stok. Tapi insya Allah akhir tahun ini (2017) sudah selesai dan anda bisa pesan mulai sekarang: via WA 085750431305. Harga Rp. 50.000,- belum ongkos kirim. Setiap buku yang dipesan akan ditandatangani. 🙂

 

 

 

SENJA DI JAKARTA

BukuSenja
Buku puisi terbaru saya sudah terbit pada November 2017 oleh Penerbit Kosa Kata Kita

 

 

 

RG
Peluncuran Buku Puisi “SENJA DI JAKARTA” di The Reading Group, Singapura, 3 November 2017

 

jean
Ms Jean dan Buku SENJA DI JAKARTA, di ajang Singapore Writers Festival, 4 November 2017

 

Riri
Riri Riza, Produser dan Sutradara; mau diapain ini buku, Mas? hehe..
Irena
Dibaca di kelas Bahasa dan Budaya, Swiss German University (SGU) Tangerang,oleh Irena, Mahasiswi Smst 5 Jurusan Biomedical Engineering
Mekah
Alhamdulillah, sudah sampai di depan Kabah

 

Imi
Sudah ada di Jepang juga..

 

Fadiah
Testimoni, Fadiah (Singapura)
KKK
ETALASE

Jika anda berminat membeli buku ini sila menghubungi nomor telp/WA: 0857.5043.1305

 

Salam Puisi,

AHMAD GAUS

 

 

 

 

 

 

CINTA DAN PERNIKAHAN

IMG-20200422-WA0019
Puisi di bawah ini dibacakan di acara resepsi pernikahan Yuan dan Pri (dalam foto ini), rekan kerja saya di Lembaga Sensor Film/LSF, pada 22 Oktober 2016 — GOR Sunter, Jakarta Utara.

Cinta dan Pernikahan

Puisi Ahmad Gaus

CINTA itu satu tapi banyak

ia menyatu tapi berserak

seperti ribuan gerimis di senja hari

yang diserap warna pelangi.

BETAPA bahagia sepasang kekasih

disatukan dalam ikatan cinta

lebih bahagia jika mereka mampu

melepaskan ikatan-ikatan itu

dan merajutnya menjadi sayap-sayap merpati

yang membawa mereka terbang bersama

ke langit tinggi.

CINTA itu melepaskan, bukan membelenggu

jika engkau mencintai kekasihmu

jangan meminta dia bersimpuh di kakimu

pinanglah kekasihmu sebagaimana engkau

meminang impianmu

yang kau lukis menjadi kupu-kupu

bermata salju, bersayap langit biru.

SEPASANG kekasih menabur cinta sepanjang jalan

permadaninya ayat-ayat Tuhan

istananya surga di ketinggian

karena cinta itu setinggi-tinggi kebenaran

bila perjalanan telah sampai di pintu kematian

setiap kekasih akan dimintai pertanggungjawaban.

PERNIKAHAN adalah kebersamaan yang berjarak

biarkan ia seperti itu

supaya engkau tetap memiliki dirimu

dan kekasihmu tidak kehilangan dirinya.

JANGAN menghidangkan seluruh cintamu di meja makan

sebab semua akan dilahap habis lalu dilupakan

yang harus kau berikan cinta itu

bukan hanya mulut kekasihmu

tapi juga matanya, telinganya, jiwanya, pikirannya, hatinya

sampai dia tidak memintanya lagi

sampai engkau tidak perlu memberinya lagi

sebab dia tahu bahwa hidupmu adalah cinta itu sendiri

dan cinta adalah hidupmu itu sendiri.

SAHABATKU, hidup ini hanya milik mereka

yang tekun menanam dan merawat cinta

tanpa cinta, surga tidak ada yang punya

maka cintailah dirimu, cintailah kekasihmu

cintailah kebersamaan dan kepedihannya

cintailah pernikahan dan penderitaannya

cintailah cinta dan lika-liku perjalanannya

di situlah engkau akan menemukan

Cinta-mu yang sebenarnya.

~~~

Gedung Film, 19 Oktober 2016

ahmad gaus af

Momen membaca puisi di berbagai acara pernikahan:

IMG-20170111-WA0002

IMG-20161022-WA0005-2

IMG-20200810-WA0008

*****************************

Novel terbaru saya, Hujan dalam Pelukan, dapat dibaca di platform NovelMe, ini link-nya: https://h5.novelme.com/bookinfo/22983

Selamat menikmati, jangan lupa kasih star vote dan subscribe ya, terima kasih

 [warning: only for adult]

Pembacaan Puisi “Senandung Ramadan”

 

 

SENANDUNG RAMADAN

Puisi Ahmad Gaus

 

Bila datang bulan Ramadan

aku terkenang kampung halaman

orang tua, sanak saudara, handai taulan

teman-teman kecilku, bermunculan bagaikan album kenangan

Dulu kami menyambut Ramadan dengan menggunduli kepala

sebagai simbol pembersihan diri, karena Ramadan bulan yang suci

beramai-ramai kami menceburkan diri ke sungai

mandi bersama menyucikan diri

karena bulan Ramadan bulan yang suci.

Di pagi hari, kami bergotong royong membersihkan mushalla

walaupun kecil, mushalla itu sangat  berarti

karena di situlah pertama kali kami belajar mengaji

belajar berwudu, salat, mendaras  Alquran

agar hidup punya pedoman.

Selepas senja matahari terbenam di cakrawala

perlahan-lahan hilal menampakkan wajahnya dari jendela surga.

Bulan puasa telah tiba

ya, bulan puasa telah tiba

bulan yang dinanti berjuta-juta umat manusia.

Beduk ditabuh, obor dinyalakan, kami berpawai keliling desa

menyalami orang-orang tua

memberi kabar Ramadan telah tiba.

Orang-orang di desa menyambut puasa dengan penuh suka cita

melantunkan tasbih, tahmid, tahlil, takbir:

Subhanallah wal-hamdulillah wa Lailahaillallah wallahu akbar

kalimat-kalimat mulia yang lebih utama dari dunia dan seluruh isinya.

Ramadan adalah cerita yang selalu menggenang di pelupuk mata

salat tarawih berjamaah, makan sahur, buka puasa bersama

menggoreskan kenangan yang tak akan terlupakan.

Berpuluh tahun kemudian, hidup terasa berbeda

semakin dewasa, tubuh semakin dibuai kenikmatan dunia

tersesat di belantara kota, dimana semua serba ada

hasrat pada kemewahan memaksa orang menjadi manusia durjana

apa yang diingini harus tersedia, apa yang diminta harus ada

dengan menghalalkan segala cara

saling sikut, saling jegal

peduli setan agama dan moral

dikendalikan oleh keserakahan

terpukau oleh uang dan jabatan.

Di kota, bulan puasa terasa berbeda

anak-anak membakar petasan pengantar tawuran

orang-orang bertawaf di pusat-pusat perbelanjaan.

Di layar televisi, ibadah puasa menjadi komoditi

mubalig-mubalig selebriti menjajakan diri

nasihat-nasihatnya dibungkus promosi

kain sarungnya promosi, pakaiannya promosi

agama telah dibeli oleh agen-agen promosi.

Acara-acara Ramadan penuh dengan dagelan

ustadz-ustadz komedian menjadi tontonan

cerita hikmah Ramadan sekadar selingan

pengisi waktu menunggu azan.

Lalu apa yang tersisa dari bulan Ramadan

selain jualan, bualan, iklan?

Di kota, ibadah puasa terasa berbeda

orang-orang sibuk dengan urusan dunia

didera hidup yang tergesa-gesa

menjadi hamba-hamba waktu yang merana.

Bila datang bulan suci

aku teringat nasihat para sufi

agar mengendalikan nafsu-nafsu jasmani

memutus hasrat-hasrat duniawi.

Puasa membersihkan hati dari koloni setan-setan

sebab hati yang ditempati kawanan setan adalah hati yang sakit

dan hati yang sakit perlu pengobatan khusus

ketahuilah, tidak ada pengobatan yang lebih manjur dari lapar dan haus.

Hanya dengan mengalahkan keinginan badan, hati menjadi suci

dan hanya hati yang suci yang pantas menyambut bulan suci.

Maka betapa lancangnya aku

berani memasuki bulan suci dengan hati penuh benci.

Betapa lancangnya aku berani memasuki gerbang Ramadan yang mulia

dengan hati yang dipenuhi iri-dengki pada sesama.

Pada bulan Ramadan tubuh kita tawan

hasrat-hasratnya kita kalahkan

karena tubuhlah yang membuat kita jauh dari Tuhan.

Ibadah puasa membawa jiwa-jiwa kita terbang ke angkasa

dari atas sana kita melihat dunia bagaikan serpihan jelaga

terombang-ambing di samudra raya.

Bila datang bulan Ramadan

pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka

setan-setan dirantai, agar tidak mengganggu orang yang berpuasa

sebab puasa ibadah paling mulia, paling dicintai Allah Taala

sebab puasa hanya milik Allah semata.

Bila datang bulan Ramadan

aku terkenang kampung halaman

di mana aku dan teman-teman kecilku dibesarkan

dalam buaian suara azan

suara yang akan terus berkumandang

sampai suatu hari nanti aku dikuburkan

kembali ke haribaan Tuhan

itulah sebenar-benarnya kampung halaman…

______________________  oo00oo  ______________________

 

woman-praying-inside-istiqlal-mosque-jakarta-during-ramadan-month-M192FE

Saya menulis puisi Senandung Ramadan sambil mendengarkan lantunan Sholawat Thoriqiyyah dari Thoriqot Qodiriyah Naqsabandiyyah (TQN) yang amat sangat menyentuh hati. Saya sertakan link-nya semoga anda pun menyukainya.

 

Sholawat Thoriqiyyah

 Allâhumma Shalli wa Sallim ‘alâ Muhammadin wa Âli wa Shahbi Ajma’în
Allâhumma Shalli wa Sallim ‘alâ Muhammadin wa Âli wa Shahbi Ajma’în

Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqom minallâhi Rabbil ‘Alamîn
Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqom mirrûhi Jibrîral Amîn

Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Anbiyâi wal Mursalîn
Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqos Syuhadâi wal Mujâhidîn

Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Khulafâir Rôsyidîn
Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Ulamâi wal Âmilîn

Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Auliâi wal Mukhlishîn
Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqos Su’adâi wal Fâizîn

Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Atqiyâi was Sholihîn
Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Budalâi wal Qônitîn

Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Asyifâi wadz Dzâkirîn
Allâhummah dinâ Thorîqol Mustaqîm, Thorîqol Asyifâi wadz Dzâkirîn

(Sholawat Thoriqoh Qodiriyyah Naqsabandiyyah — Suryalaya)

 

kultumLSF

Membaca puisi Senandung Ramadan dalam acara Kultum di Lembaga Sensor Film (LSF) Jakarta, 13 Juni 2016

 

 

Aku Bertanya Pada Cinta

ee877e63d4bb767c294e093bbcda1e5c

AKU BERTANYA PADA CINTA

Aku bertanya pada cinta
sampai kapan akan membiarkan rindu
terbelenggu dalam penjara jiwa.
Ia menggelengkan kepala
menitikkan airmata!

Aku bertanya pada rindu
sampai kapan akan membiarkan cinta
terpenjara dalam belenggu kalbu.
Ia menangis pilu
menumpahkan airmatanya di bahuku!

Akhirnya aku bertanya pada airmata
sudikah ia mempertemukan
cinta dan rindu di taman pelaminan
dimana tak ada lagi kesedihan.
Ia pergi meninggalkanku
sambil menangis tersedu-sedu!

—  Gedung Film, Maret 2016

Baca juga: Mata yang Indah

 

Ambon Manise, Waktu Hujan Sore-Sore  

 

ambonmaniz

Ambon Manise, Waktu Hujan Sore-Sore

Oleh Ahmad Gaus AF

 

Bicara tentang Ambon adalah bicara tentang kebesaran masa lalu dan kegelisahan menatap masa depan. Di antara bangunan-bangunan tua, anak-anak muda berdiri menyaksikan sebuah kota peradaban gemilang. Ambon manise, mutiara yang berkilauan di timur Indonesia dengan sejarah yang agung dan heroik serta hari esok yang tengah didefinisikan kembali. Ambon manise, tempat lahirnya musisi-musisi papan atas negeri ini dari mulai Opa Zeth Lekatompessy, Bob Tutupoly, Broery Marantika, Melky Goeslow, Harvey Malaiholo, Utha Likumahua, hingga Glenn Fredly, dll.

Glenn
Bersama Glenn Fredly, salah satu musisi papan atas asal Ambon. Foto ini diambil di salah satu kedai kopi di Ambon pada Januari 2018, dalam perbincangan mengenai acara “Musik untuk Perdamaian.” Glenn meninggal dunia pada 8 April 2020 di Jakarta karena meningitis. Selamat jalan, kawan. Damailah di sisi-Nya.

Ambon manise, kota teluk yang tak pernah gagal menampilkan keindahan senja dalam panorama laut, burung camar, dan perahu nelayan; kota penghasil rempah-rempah terbaik di dunia, yang dibangun oleh patriotisme para pejuang dan dikenang oleh airmata anak-anak rantau dalam alunan lagu Sio Mama.

Dahulu kala, kota ini merupakan tujuan para pengembara Eropa yang membawa misi suci untuk memancangkan hasrat akan kemegahan (gold), kejayaan (glory), dan ketuhanan (gospel). Dari aspek tradisi dan sumber daya alam, Ambon memiliki segalanya. Sampai sekarang, tradisi pela-gandong masih menjadi rujukan utama bagi siapapun manakala orang berbicara tentang toleransi agama dengan basis kearifan lokal.

Dua kekuatan kolonial yang berekspansi ke timur saat itu, Portugis dan Belanda, menjadikan Ambon sebagai pusat aktivitas dan pertahanan mereka. Pada mulanya, jual-beli rempah-rempah menjadi alasan utama kedatangan mereka. Namun melihat eksotisme alam dan kelimpahan sumber daya mengubah motiv komersial menjadi penguasaan. Pada tahun 1522 Portugis membuat monopoli perdagangan cengkeh dan pala dan menentukan harga yang sangat rendah sehingga amat merugikan rakyat. Dalam usahanya menguasai suatu wilayah, mereka juga tak segan-segan bertindak sewenang-wenang dan kejam terhadap rakyat yang tidak berdaya. Hal ini membuat rakyat bersikap antipati.

Jasa terbesar Portugis adalah pembangunan benteng kota Laha pada tahun 1575. Tahun itulah yang kemudian ditetapkan sebagai momen berdirinya kota Ambon. Namun 30 tahun kemudian, pada 23 Maret 1605, Belanda datang dan berhasil merebut benteng kota Laha dari Portugis sehingga Ambon jatuh ke tangan pendatang baru tersebut. Pada mulanya Belanda datang dengan niat yang sama: perdagangan. Namun niat itu pun segera berubah dengan dibentuknya VOC atau Vereenigde Oostindische Compagnie (Perusahaan Perdagangan Hindia Timur) pada 1605 dengan tujuan utamanya memonopoli perdagangan rempah-rempah. Rakyat kembali menjadi korban. Periode selanjutnya ialah penindasan demi penindasan sampai kemudian muncul gelombang perlawanan rakyat terhadap pemerintah kolonial Belanda yang dipimpin oleh Kapitan Pattimura, Anthony Ribok, Paulus Tiahahu, Martha Christina Tiahahu, Latumahina, Said Perintah, dan Thomas Pattiwael.

patung-martha christina tiahahu barry kusuma

Patung Martha Christina Tiahahu, Salah Satu Pahlawan Ambon

       Dalam sebuah penyerbuan besar-besaran yang dilakukan tentara Belanda terhadap rakyat, Kapitan Pattimura ditangkap dan kemudian dihukum mati oleh Belanda pada tanggal 15 Mei 1817. Di depan tiang gantung, alih-alih menyerah kepada Belanda, Pattimura justru kembali mengobarkan semangat rakyat untuk terus berjuang melawan Belanda dengan kata-katanya yang sangat terkenal: “Pattimura tua boleh mati, tetapi akan muncul Pattimura-Pattimura muda.”

Sampai sekarang, hari wafatnya Kapitan Pattimura itu selalu diperingati setiap tahun dengan pawai obor, untuk menghormati jasa-jasa beliau dalam memimpin perlawanan rakyat menghadapi kekuatan militer Belanda yang sangat besar dan kuat. Perang Pattimura adalah perang nasional dimana Pattimura berhasil menggalang dukungan dari Bali, Sulawesi, dan Jawa, selain dari kerajaan Ternate dan Tidore. Tentu akan sulit memetakan sejarah kemerdekaan Indonesia seandainya tidak pernah ada perlawanan rakyat Ambon terhadap kolonial Belanda. Dan mereka bisa dikalahkan hanya karena politik adu domba, tipu muslihat, dan bumi hangus oleh pihak Belanda.

Lanskap sejarah ini memberi landasan yang kuat bagi masyarakat Ambon — dan Maluku pada umumnya — untuk menjadi bagian penting dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai daerah yang pertamakali mengobarkan perang terhadap penjajah, Ambon berada di baris pertama dalam perkara menegakkan martabat bangsa. Tanpa Ambon dan sejarah patriotismenya, NKRI tidak akan pernah ada.

***

       Ambon kini tengah mematut diri di depan cermin sejarah yang berbeda — sejarah konflik saudara yang baru saja usai kemarin petang, yang belum seratus persen pulih dari trauma. Kondisi ini kadang menyulitkan warga dan para pembuat kebijakan untuk membuat peta jalan (road map) baru bagi sejumput harapan akan kehidupan hari esok yang lebih cerah. Konflik dan perdamaian sama-sama memiliki peluang untuk tumbuh di atas reruntuhan gedung-gedung yang terbakar. Di sudut-sudut jalan, dimana bangunan-bangunan yang rusak akibat kerusuhan massal masih terlihat, anak-anak muda berkumpul, bermain gitar, dan bernyanyi bersama, seakan sedang mengubur memori kelam tentang konflik yang mengerikan itu. Tapi ingatan bukanlah ruang kedap suara. Jerit pilu sanak famili dan kerabat yang menjadi korban konflik kerap masih terngiang di seantero kota yang belakangan menjadi habitat yang keras bagi anak-anak muda.

Seorang aktivis perdamaian, Elsye Syauta Latuheru, yang saya temui di kantornya di kota Ambon di penghujung bulan Agustus 2013 menuturkan hal yang amat pedih tentang anak-anak yang tumbuh di lingkungan yang keras sebagai dampak ikutan (by-product) dari konflik besar Muslim-Kristen tahun 1999 dan seterusnya. Konflik itu menggoncangkan seluruh sendi kehidupan masyarakat, meluluh-lantakkan perekonomian, dan menghancur-leburkan harapan. Anak-anak ini, ujar Elsye, mewarisi lingkungan sosial yang terbelah antara “kami” dan “mereka”. Kaum Muslim dan Kristen memahami posisi mereka dalam batas yang tegas: di luar kami tidak ada yang lain selain musuh. Bahasa yang dibangun adalah bahasa kekerasan. Bahkan, kekerasan cenderung menjadi pola anak-anak muda dalam menyelesaikan berbagai masalah.

Runtuhnya perekonomian masyarakat, sempitnya lapangan kerja, dan menguatnya segregasi atau pemisahan total antara Muslim dan Kristen di ruang-ruang publik, ikut memperumit pemulihan rasa aman dan integrasi sosial pasca konflik. Ditambah lagi stereotip yang terus dibangun di antara dua komunitas yang bertikai, seakan ingin mewariskan dendam kepada generasi penerus. Elsye menuturkan, anak-anak Ambon kini cenderung pesimistik menatap masa depan, sebab apapun yang mereka bangun akan porak-poranda manakala konflik kembali pecah. “Itu sangat berbahaya dan kita ingin menghentikan semuanya,” tandas Elsye yang aktif mengunjungi daerah-daerah rawan konflik untuk meyakinkan warga bahwa perdamaian masih bisa dirajut dengan kebersamaan, bahwa dendam dan permusuhan hanya memperparah keadaan serta mempersuram masa depan Ambon.

Tentu saja Elsye tidak sendirian. Dalam 10 tahun terakhir banyak kalangan di Ambon yang menyadari betapa konflik berkepanjangan telah membuat mereka terisolasi dari dunia luar; orang takut datang ke Ambon; biro-biro perjalanan menutup agen; investor angkat kaki; reputasi Ambon sebagai kota teladan toleransi terancam pudar. Maka, ibarat sebuah pendulum yang mulai bergerak ke arah berlawanan, kini kesadaran tentang perdamaian menjadi matra baru bagi warga yang merindukan masa-masa indah hidup bersama walaupun berbeda agama. Saling berbagi kebahagiaan di hari-hari besar seperti Natal dan Idul Fitri mulai dihidupkan kembali. Konser-konser seni dan festival musik yang melibatkan anak-anak muda dari dua komunitas agama gencar dilakukan, tidak hanya di ballroom hotel dan ruang-ruang pertunjukan namun juga di alun-alun kota, bahkan di trotoar jalan.

Di antara para pegiat perdamaian, peran kalangan pendidik atau guru jelas tidak bisa diabaikan. Tatkala segregasi sosial menguat, ada kebijakan anak-anak Muslim hanya boleh bersekolah di wilayah Muslim, dan sebaliknya anak-anak Kristen hanya boleh bersekolah di wilayah Kristen. Kebijakan yang disebut “rayonisasi” ini dibuat dalam jangka pendek untuk mengantisipasi kemungkinan konflik terulang jika dua komunitas bercampur. Namun dalam jangka panjang dalam rangka pembangunan perdamaian yang permanen, kebijakan ini justru kontraproduktif. Para guru sadar benar akan hal itu. Maka, berbagai upaya mereka lakukan untuk mempertemukan dua komunitas remaja Muslim dan Kristen dalam berbagai event yang mereka buat, seperti perkemahan lintas agama dan festival seni dan olahraga. Untuk para guru dibuat program live-in dimana guru Muslim akan menginap di rumah atau wilayah Kristen dan begitu pula sebaliknya guru Kristen menginap di rumah seorang Muslim di wilayah Muslim. Semua itu adalah proses belajar kembali untuk hidup bersama dan berbaur — sesuatu yang sesungguhnya sangat lumrah dalam masyarakat Ambon sebelum konflik 1999 pecah.

Bagaimanapun, segregasi di dunia pendidikan harus segera diakhiri karena di sanalah anak-anak belajar mengenal lingkungan mereka. Lingkungan sekolah sangat menentukan bagaimana pola pikir anak-anak dibentuk. Jika lingkungan sekolah dibuat homogen (Islam saja atau Kristen saja) sementara masyarakat bercorak heterogen, maka sekolah sebenarnya tengah mengasingkan anak-anak dari realitas sosial mereka sendiri; sekolah menjadi ruang isolasi yang memperkokoh tembok-tembok perbedaan. Dalam upaya mempercepat pembauran dan integrasi sosial seperti yang terus diupayakan dalam 10 tahun terakhir, sekolah justru harus menjadi pelopor. Sayangnya, pemerintah tampaknya belum berani mengambil langkah peleburan kembali secara total sekolah-sekolah yang tersegregasi selama bertahun-tahun, padahal tokoh-tokoh masyarakat dan para aktivis perdamaian telah bersuara keras mengeritik kebijakan pemerintah tersebut. Beruntunglah mereka tidak berputus ada dan kehilangan semangat. Para tokoh dan aktivis perdamaian ini terus bergerilya menebarkan benih-benih perdamaian di kalangan akar rumput, termasuk di lingkungan sekolah dengan melibatkan para pendidik (guru).

Buku berjudul Cerita dari Ambon ini mendokumentasikan kerja-kerja bina damai yang dilakukan kalangan LSM (lembaga swadaya masyarakat) dengan melibatkan para pemangku kepentingan di dunia pendidikan. Banyak cerita mengharukan tentang bagaimana para pendidik berjuang menyambungkan kembali tali-tali persaudaraan yang sempat terputus di antara generasi muda berbeda agama sebagai akibat dari konflik sosial orang-orang tua mereka di masa lalu. Benih-benih perdamaian disebarkan melalui berbagai aktivitas di lingkungan sekolah, antara guru dengan guru, guru dengan murid, dalam berbagai event pertemuan antar-sekolah, dan sebagainya. Selain itu, nilai-nilai perdamaian juga diintegrasikan ke dalam materi-materi pengajaran. Tujuannya agar anak-anak didik menghirup udara damai kapan pun dan di mana pun mereka berada, menumbuhkan rasa aman, dan menatap masa depan bersama dengan perasaan optimis.

Ada 31 guru SMP/Tsanawiyah dan SMA/Aliyah yang menuturkan pengalamannya dalam buku ini. Mereka pada mulanya adalah para peserta (seluruhnya berjumlah 40 guru) pada workshop “Program Bina Damai Ambon Melalui Pembangunan Kapasitas Civil Society” atau Enhancing Protection and Respect for Religious Freedom and Human Rights in Indonesia” yang selenggarakan oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ambon Reconciliation and Mediation Center (ARMC) IAIN Ambon, dengan dukungan dari The Asia Foundation (TAF).

Workshop ini merupakan upaya melakukan intervensi program pendidikan berperspektif perdamaian di Ambon sebagai hasil dari kegiatan needs assessment atau riset pendahuluan yang telah dilaksanakan pada Agustus hingga September 2013. Kegiatan needs assessment yang dimaksud dilakukan oleh tiga orang peneliti CSRC yakni Chaider S. Bamualim, Muchtadlirin, dan saya sendiri (Ahmad Gaus AF). Awalnya, ketiga peneliti melakukan observasi dan wawancara mendalam dengan kalangan stake holders perdamaian di Ambon, yakni para tokoh adat, pemuka agama, aktivis perdamaian, tokoh pemuda, tokoh LSM, dan para pendidik (guru). Akhirnya, hasil temuan needs assessment mengerucut pada rekomendasi melakukan intervensi program perdamaian di dunia pendidikan.

Kami memandang penting dunia pendidikan dalam membangun perdamaian karena masa depan Ambon terletak di pundak generasi muda yang kini tengah mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Dan hitam-putihnya cara berpikir mereka sangat ditentukan oleh para pendidik. Untuk itu CSRC UIN Jakarta, ARMC IAIN Ambon, dan TAF mengundang para guru untuk urun rembuk mengenai pembinaan perdamaian di kalangan generasi muda. Dari lingkungan pendidikan, suara perdamaian akan teresonansi ke ruang publik sehingga tercipta suasana dialog, komunikasi, dan kerjasama yang produktif di antara kelompok-kelompok lintas agama dan etnik.

Rekomendasi dari kegiatan needs assessment itu kemudian menelurkan workshop yang dilakukan sebanyak 4 kali, yaitu: “Workshop Format Ideal Pendidikan Perdamaian di Ambon” dan “Workshop Integrasi Nilai-nilai Perdamaian ke dalam Sistem Pembelajaran Sekolah”, yang diselenggarakan pada 16-20 Juni 2014. Menyusul kemudian “Workshop Strategi Pembelajaran Nilai-nilai Perdamaian di Ambon” pada tanggal 19-21 Agustus 2014, dan “Workshop Advokasi Pendidikan Perdamaian di Ambon” yang dilaksanakan 22-23 Agustus 2014.

Untuk melihat sejauh mana program tersebut berhasil memengaruhi para guru dalam mengambil inisiatif perdamaian di lingkungan sekolah masing-masing, CSRC merasa perlu membuat evaluasi dengan melakukan pengamatan lapangan dan wawancara mendalam dengan para alumni program. Dalam hal ini CSRC menurunkan 3 (tiga) orang peneliti yakni Idris Hemay, Hidayat al-Fannanie, dan Tutur Ahsanul Mustofa, untuk menemui mereka secara terpisah dimana setiap peserta program menuturkan pengalamannya mempraktikkan materi-materi yang mereka peroleh selama mengikuti workshop dalam aktivitas di sekolah masing-masing. Kisah-kisah mereka yang diturunkan dalam buku ini merupakan cerita yang mengandung the most significant change (MSC), yakni cerita yang berhubungan dengan perubahan-perubahan paling penting yang terjadi di lapangan pasca program workshop “Bina Damai di Ambon Melalui Pembangunan Kapasitas Masyarakat Sipil”.

Sebagian besar guru yang menjadi peserta workshop adalah mereka yang mengajar di lingkungan sekolah yang nyaris homogen, kalau ia seorang Muslim mengajar di sekolah yang hampir seratus persen murid dan gurunya beragama Islam, begitu juga sebaliknya seorang guru Kristen mengajar di sekolah yang mayoritas murid dan gurunya beragama Kristen. Kondisi inilah yang dideteksi sebagai bom waktu di masa depan, sehingga perlu segera dilakukan antisipasi dengan menanamkan benih-benih perdamaian di kalangan para peserta didik agar mereka siap untuk hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat plural.

Beragam cara dilakukan para guru untuk menyampaikan pesan-pesan damai di sekolah sehingga kelak terbawa ke lingkungan yang lebih besar: masyarakat. Beberapa kisah yang mengandung the most significant change (MSC) atau cerita tentang perubahan-perubahan penting yang dilakukan para guru di antaranya menyangkut aktivitas bagaimana mereka mengubah mindset siswa dengan cara:

  • Memasukan nilai-nilai perdamaian ke dalam indikator penilaian sikap siswa;
  • Menyampaikan materi tentang toleransi;
  • Mengadakan outbound agar siswa bisa berbaur dengan yang lainnya;
  • Memutarkan film-film yang berisi pesan bagaimana hidup harmonis di tengah keberagaman tanpa rasa benci dan curiga.

Beberapa indikator lain tentang adanya perubahan penting dapat dilihat dari metode yang dipraktikkan secara berbeda-beda oleh setiap guru. Rasanya editor tidak perlu mengupas satu persatu atau bagian per bagian dari cerita MSC dalam buku ini. Silakan pembaca menikmati sendiri alur kisah mereka supaya dapat langsung merasakan pergulatan para pendidik dalam menegakkan nilai-nilai perdamaian di kalangan siswa/remaja.

Dalam praktiknya, kegiatan ini dari mulai needs assessment sampai workshop dan evaluasi, tidak hanya melibatkan kalangan pendidikan, namun juga tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah. Sebab kami sadar bahwa proses bina damai sendiri — walaupun dimulai di sekolah — tidak mungkin dilakukan tanpa melibatkan seluruh elemen masyarakat. Pada kegiatan workhsop keempat yang diselenggarakan pada 22-23 Agustus 2014, misalnya, kami mengundang kalangan agamawan, tokoh pemuda, pejabat kementerian agama propinsi Maluku, kepala sekolah, pengelola yayasan-yayasan pendidikan, para guru, aktivis LSM, dan kalangan pers. Pada kesempatan itu pula mereka membentuk “Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Perdamaian di Maluku” yang secara bersama-sama dideklarasikan demi terlaksananya konsep pendidikan perdamaian di Ambon. Aliansi ini berada di bawah koordinasi Abidin Wakano dengan 3 ketua, yaitu Theo Latumahina, Embong Salampessy, dan Heny L. Likliwatil. Aliansi ini akan mensosialisasikan deklarasi tersebut kepada masyarakat luas, pemerintah dan DPRD, yang diharapkan akan mengeluarkan peraturan daerah (Perda) untuk menjadi payung bagi terimplementasinya pendidikan perdamaian di Ambon.

workshop-advokasi5

“Deklarasi Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Perdamaian di Maluku”

       Kisah-kisah yang tertuang dalam buku ini menjadi bukti kuatnya kehendak para pendidik di Ambon untuk mewariskan masa depan Ambon yang damai kepada generasi penerus. “Konflik telah menjadi masa lalu, dan tidak seorang pun yang ingin memutar kembali jarum waktu,” tandas Heny L. Liklikwatil, guru agama Kristen di SMPN 9 dalam sebuah percakapan sore hari dengan penulis dan seorang aktivis perdamaian Ambon, di kediamannya di desa Halong (kini negeri adat), 1 September 2013. Saat percakapan berlangsung hujan turun begitu deras. Sambil menyeruput teh panas di tengah obrolan yang kian seru, teman saya menyenandungkan lagu Waktu Hujan Sore-Sore, lagu yang sangat terkenal dari Ambon sehingga sudah seperti lagu nasional karena setiap anak sekolah di negeri ini mengenal lagu tersebut. Menurut kawan saya, lagu itu menceritakan keceriaan orang-orang Ambon dalam menjadikan momen hujan sebagai momen kebersamaan: tua-muda, laki-perempuan, Muslim-Kristen berbaur, bernyanyi, dan berdansa bersama.

Waktu hujan sore-sore kilat sambar pohon kenari
E jojaro deng mongare mari dansa dan menari
Pukul tifa toto buang kata balimbing di kereta
Nona dansa dengan tuan jangan sindir nama beta
E menari sambil goyang badanee
Menari lombo pegang lenso manisee
Rasa ramai jangan pulang duluee

E menari sambil goyang badanee
Menari lombo pegang lenso manisee
Rasa ramai jangan pulang duluee

       Kini inisiatif perdamaian telah diambil, aksi telah dilakukan, gema takbir dan nyanyian kudus telah dikumandangkan bersama, Salam-Sarane karja rame-rame atau Muslim-Kristen bekerja bersama-sama karena telah disatukan dalam semangat kearifan lokal orang basudara. Semoga semuanya menjadi bola salju yang terus bergulir dan membesar, membentuk kekuatan baru dalam menancapkan kembali fondasi sosial yang lebih kokoh, menjadikan Ambon manise sebagai baileo (rumah adat) bersama bagi warga Muslim dan Kristen.[]

Wassalam, Editor

Ahmad Gaus AF

Catatan: Esai ini adalah ‘Kata Pengantar’ saya selaku editor untuk buku Cerita dari Ambon, terbitan CSRC-UIN Jakarta dan The Asia Foundation, 2015.

Esai ini diperbarui pada tanggal 10 April 2020, dan didedikasikan untuk musisi Ambon, Glenn Fredly yang wafat pada 08 April 2020. RIP, kawan.

Glenn2

Glenn-Pela
Bersama Glenn di acara Pela Panas Pendidikan, Ambon, 25 Januari 2018

 

 

 

 

 

 

[Puisi] Pintu-Pintu Menuju Tuhan (Kepada Nurcholish Madjid)

Rektor Universitas Paramadina  Nurcholish Majid, wajah, Jakarta 12 Juli 2000 [TEMPO/ Bernard Chaniago; 30d/348/2000; 2000/07/20].
Cak Nur

Hari ini, 29 Agustus 2015 genap sepuluh tahun wafatnya Nurcholish Madjid (29 Agustus 2005). Untuk mengenang almarhum saya menulis sebuah puisi yang judulnya diambil dari buku karya beliau, Pintu-Pintu Menuju Tuhan (Paramadina, 1992). Puisi ini saya bacakan di sela-sela diskusi “Mengenang 10 Tahun Wafatnya Cak Nur” yang diadakan oleh ISAIS (Institute for Southeast Asian Islamic Studies) UIN Suska Riau, pada Kamis 27 Agustus lalu. Diskusi yang dipandu oleh Ali Hasan Palawa dan digelar di aula Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska tersebut menghadirkan tiga penulis buku tentang Cak Nur sebagai narasumber yaitu Budhi Munawar Rachman (Penulis Ensiklopedi Nurcholish Madjid), Muhammad Wahyuni Nafis (penulis buku Cak Nur Sang Guru Bangsa, dan saya sendiri, Ahmad Gaus, selaku penulis buku Api Islam Nurcholish Madjid).

GausSusqa2

Diskusi Refleksi 10 Tahun Mengenang Wafatnya Nurcholish Madjid di UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 27 Agustus 2015.

PINTU-PINTU MENUJU TUHAN

 Kepada Nurcholish Madjid, ‘Allah yarham’

Oleh: Ahmad Gaus

BANYAK pintu menuju Tuhan

Kita berdiri di satu pintu pilihan

Walaupun harus berdesakan

Walaupun harus berhimpitan.

PARA sufi mengajarkan

Semua jalan musyahadah kepada Tuhan

Akan sampai juga pada tujuan

Karena disinari cahaya-cahaya kebenaran.

DAN CAHAYA-cahaya itu terang adanya

Dalam Kitab yang pasti kebenarannya

Walladzina jahadu finaa

Lanahdiyannahum subulanaa

(Mereka yang bersungguh-sungguh mencari jalan Kami

Akan Kami tunjukkan berbagai jalan Kami QS. Al-Ankabut:29/69).

JIKA engkau harus memegang satu kebenaran

Silakan, tapi jangan lupa bersikap toleran

Sebab kebenaran yang engkau pertengkarkan

Nisbi adanya, bukan mutlak-mutlakan.

BANYAK pintu menuju Tuhan

Banyak jalan menuju kebenaran

Mengapa harus memaksa orang lain berada di satu jalan

Berdesakan, berhimpitan, berjatuhan.

MEREKA yang mendapat petunjuk Tuhan

Adalah orang-orang beriman

Mereka mungkin bersimpangan jalan

Namun menuju satu tujuan.

SEPERTI ribuan sungai yang mengalir

Semua bergerak menuju hilir

Tidak ada satu pun yang mangkir

Semua bermuara di samudra akhir.

(WALLAHU a’lam bis-shawab)

TUHAN Maha Tahu yang benar

Engkau dan aku hanya mengerti sekadar

Karena itu tidak patut membuat onar

Menuding orang lain sesat dan tersasar.

______________________

Seputar Heboh Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”

jamal2

Seputar Heboh Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh”
(Siapa Yang Mendanai Program Ini?)

Oleh Ahmad Gaus
(Anggota Tim 8)

SETELAH diluncurkan pada 3 Januari 2014 lalu di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh terus menuai polemik. Salah satu titik polemik ialah: siapa yang mendanai program buku ini? Sebagai anggota Tim 8 yang melahirkan buku tersebut saya merasa perlu menjelaskan ini agar tidak muncul kesalahpahaman dan fitnah—yang sebenarnya sudah terjadi, bahkan merajalela.

Mula-mula polemik itu berlangsung di media sosial, terutama fesbuk dan twitter. Sebagian sastrawan dan pegiat sastra menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap hasil kerja tim yang menghasilkan buku tersebut. Sebagian orang menulis di blog, dan ada beberapa pegiat sastra yang menulis di media cetak. Tak perlu dijelaskan rumor dan gosip yang disebar melalui broadcast messenger dan pesan pendek (SMS) yang ditujukan kepada Tim 8.

Terhadap polemik-polemik itu sikap kami pertama-tama tentu harus menerima ketidakpuasan tersebut. Namun, ketika ketidakpuasan itu diekspresikan melalui hujatan, caci-maki, bahkan fitnah, kami merasa itu sudah tidak proporsional. Belakangan, sebagian pegiat sastra bahkan melangkah lebih jauh lagi dengan mengeluarkan petisi yang berisi ajakan kepada publik untuk melakukan aksi boikot, mendesak pemerintah menarik buku itu dari peredaran, bahkan juga berencana membakar buku tersebut.

Ketika diwawancarai wartawan apa pendapat saya perihal rencana boikot dan aksi pembakaran itu, saya katakan bahwa aksi itu sangat memprihatinkan. Sastrawan seharusnya memberi pencerahan kepada masyarakat tentang bagaimana cara berbeda pendapat, bukan memberi contoh tindakan anti-intelektual dan cenderung barbar. Para penandatangan petisi itu akan dicatat oleh sejarah sebagai orang-orang yang ikut membungkam kebebasan berpendapat. Mereka tidak berhak bicara apapun lagi tentang kebebasan berkarya jika mereka sendiri ingin mengambil paksa hak itu dari orang lain, dan mereka hendak melakukan itu dengan meminjam tangan kekuasaan.

Kenapa Denny JA?

Titik krusial lain dari polemik itu adalah masuknya nama Denny JA ke dalam buku yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia tersebut. Kami Tim 8 terdiri dari Agus R Sarjono, Jamal D Rahman, Maman S Mahayana, Acep Zamzam Noer, Nenden Lilis Aisyah, Berthold Damshauser, Joni Ariadinata, dan Ahmad Gaus, tentu memiliki pertimbangan mengapa nama Denny JA dianggap pantas masuk ke dalam buku tersebut. Argumen-argumen mengenai ini sudah kami jelaskan panjang lebar di dalam buku setebal 767 halaman. Namun, para pencerca itu rupanya tidak mau menerima penjelasan tersebut, atau jangan-jangan malah belum membacanya. Lebih gawat lagi ada yang menuduh kami (Tim 8) telah “dibeli” oleh Denny JA supaya namanya dimasukkan. Walhasil, buku tersebut dianggap tidak valid sebagai karya akademik.

Tim 8 sebetulnya dibentuk sendiri oleh beberapa orang dari kami, kemudian mengajak yang lainnya. Dananya pun tidak dimintakan kepada pemerintah (APBN), sehingga Tim ini sebenarnya tidak bertanggung jawab kepada pemerintah atau publik kecuali pertanggungjawaban akademik karena ini karya ilmiah. Beberapa orang dari Tim 8 menghubungi para filantrofis seperti ET dan FE yang pernah berencana membuat majalah sastra namun belum terealisasi. Ternyata, mereka mau mendanai kegiatan ini. Tentu tidak etis menyebut nama lengkap orang-orang ini sampai mereka sendiri yang mengatakannya. Tapi yang pasti, di negara demokrasi masyarakat sipil mengambil inisiatif mendanai kegiatan apa saja dibolehkan, asalkan bukan kegiatan makar atau tindakan kriminal. Demikian juga kegiatan membuat ranking, misalnya ranking; 20 politisi paling kontroversial sepanjang masa, 30 pejabat negara berpakaian paling rapi, 10 artis paling dibenci, dst. Kita boleh tidak setuju, tapi tidak boleh melarang publikasi hasil ranking tersebut.

Kembali ke masalah mengapa nama Denny JA masuk ke dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Banyak orang menanyakan hal itu kepada saya, karena sayalah yang ditunjuk oleh Tim 8 untuk menulis bagian itu. Selain menulis tentang Denny JA, saya juga menulis artikel tentang Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Afrizal Malna, dan Ayu Utami. Nama yang terakhir ini pun dipersoalkan oleh beberapa penulis senior (perempuan) yang hadir dalam acara peluncuran buku di PDS HB Jassin yang menganggapnya tidak pantas masuk ke dalam daftar tersebut. Saya jawab, baca saja dulu sampai tuntas karena di situ ada argumennya, kalau sudah membaca tetapi tidak setuju juga, berarti memang kita berbeda paham. Kalau berbeda paham, kita harus saling menghargai, dan tidak perlu memaksa kami menghapus nama itu dari buku.

Tentang pertanyaan mengapa nama Denny JA masuk ke dalam daftar itu, jawaban saya adalah, justru aneh kalau nama dia tidak masuk. Sebab, dialah yang paling fenomenal dengan puisi esainya sekarang ini. Denny JA adalah wakil kontemporer dari dinamika sastra dalam 3 tahun terakhir. Sampai saat ini saya belum mendengar ada penyair yang karya puisinya dibaca oleh begitu banyak orang seperti puisi esai yang digagas oleh Denny JA. Hanya satu tahun setelah buku puisi esainya yang berjudul Atas Nama Cinta dipublikasikan di web (2012), puisi itu dibaca oleh hampir 8 juta orang dengan ribuan respon, seperti bisa dilihat di website puisi-esai.com. Sebagai perbandingan, di kalangan selebriti saja, rekor semacam itu hanya bisa dicapai oleh Agnes Monica yang video youtube-nya “Matahariku” dihit oleh 7 juta netters.

Bagi saya ini prestasi Denny JA yang sangat fenomenal, dan sekaligus keajaiban puisi esai yang baru berkembang namun telah memikat begitu banyak orang. Sebab saya pernah membaca sebuah buku yang di situ ditulis bahwa ada penyair yang menerbitkan buku puisinya 1000 eksemplar, dan sudah lebih dari 20 tahun menumpuk di gudang alias tidak terjual. Artinya, masyarakat tidak meminati puisi itu. Padahal setiap puisi ditulis untuk dibaca. Denny JA menulis puisi yang diminati dan dibaca masyarakat, yaitu puisi esai, puisi yang bahasanya mudah dipahami, dan pesannya jelas karena berbicara tentang realitas masyarakat. Lima puisi esai Denny JA itu semuanya berbicara tentang isu-isu diskriminasi orientasi seksual, gender, keyakinan, ras, dan pandangan agama. Semua isu itu riil, ada dan menjadi persoalan dalam masyarakat kita.

Puisi di Era Cyber

Yang paling penting dalam puisi esai-nya Denny JA ialah mengubah isi kepala orang tentang apa yang disebut puisi. Selama ini mainstream puisi kita ialah puisi liris yang berbicara tentang daun, angin, hujan, pohon cemara, atau dalam ungkapan Rendra: “tentang anggur dan rembulan”. Puisi esai berbicara tentang manusia di dalam sejarah yang kongkrit, tentang isu-isu yang bergetar dalam komunitas. Mungkin itu sebabnya puisi esai Denny JA sangat digemari (tapi sekaligus juga dibenci oleh sebagian sastrawan sehingga selalu dihujat-hujat sebagai bukan puisi).

Sekarang zaman sudah berubah. Sastra sekarang berkembang di dunia cyber. Ini juga yang mungkin tidak diperhatikan oleh para sastrawan kita. Padahal saat ini kebanyakan anak muda tidak membaca puisi kecuali di internet. Denny JA melihat peluang itu untuk menyosialisasikan karya-karya puisinya. Dan dia berhasil memkampanyekan temuan barunya itu (puisi esai) melalui website yang diakses oleh banyak orang.

Para penghujat seharusnya melihat dan menghargai sisi ini. Bukan melulu mempersoalkan bahwa dia bukan sastrawan, atau orang baru di dunia sastra, dan seterusnya. Apakah dunia sastra begitu sakralnya sehingga “orang luar” tidak boleh menulis puisi. Rupanya bagi mereka itu, persoalan Denny JA ialah dia bukan saja “orang luar” yang menulis puisi tapi juga “orang luar” yang sangat gegabah mengubah bentuk puisi yang sudah mapan. Bagi kami Tim 8, puisi-puisi esai Denny JA telah mencapai bentuk yang otonom sebagai sebuah karya yang memiliki estetika yang berbeda dengan puisi lirik. Sebagai bukti bahwa inovasi itu telah absah sebagai sebuah karya yang otonom ialah lahirnya buku-buku puisi esai dari penulis lain (saat ini telah terbit 10 buku puisi esai).

Tim 8 memilih Denny JA karena sesuai dengan kriteria yang dibuat, terutama kriteria nomor 4 yaitu: “Dia menempati posisi pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau bahkan penentang, dan akhirnya menjadi semacam konvensi, fenomena, dan paradigma baru dalam kesusastraan Indonesia.”

Saya kira sastrawan jenis ini tidak terlalu banyak. Kita bisa menyebut Chairil Anwar yang melawan konvensi bahasa Melayu ala Amir Hamzah yang notebene Raja Penyair Pujangga Baru. Kemudian WS Rendra yang mengembalikan puisi dari kata ke bahasa. Lalu Sutardji Calzoum Bachri yang membebaskan kata dari makna, dan sedikit nama lainnya. Denny JA membuat inovasi baru dalam penulisan puisi yang menurut John Barr, seorang pengamat sastra Amerika, sudah puluhan tahun tidak mengalami perubahan berarti. Denny JA mengembalikan puisi dari kalangan elit penyair ke pangkuan khalayak. Jika dulu orang berpegang pada ungkapan Chairil Anwar: “Yang bukan penyair tidak ambil bagian.” Maka sekarang, melalui kredo puisi esainya, Denny JA menyeru: “Yang bukan penyair pun boleh ambil bagian”. Dulu tidak terbayang bahwa pengacara, hakim, pengusaha, politisi, dsb, menulis puisi karena mereka bukan penyair. Sekarang, seperti seruan Denny JA, mereka dapat menulis puiis berdasarkan problem yang mereka temukan dalam profesinya masing-masing. Puisi esai membuka kemungkinan untuk itu, karena puisi esai pada dasarnya “cara baru beropini” melalui karya sastra.

Penutup

Tulisan ini tidak hendak membela Denny JA sebagai pribadi, melainkan meluruskan hujatan dan fitnah keji yang menimpa Tim 8. Denny JA dipilih karena dia memang layak. Dan Tim 8 tidak dibeli untuk menentukan pilihan itu. Semua nama yang dibawa oleh setiap anggota Tim ke dalam forum diperdebatkan secara bebas dan bertanggungjawab, dalam arti bisa dijelaskan dengan argumen proporsional, tidak mengada-ada. Tapi sejak awal kami memang menyadari bahwa apapun yang kami hasilkan pasti akan menimbulkan kontroversi. Hanya saja, yang tidak kami bayangkan ialah munculnya hujatan dan cercaan yang sama sekali di luar batas nilai-nilai kebudayaan sastra.

Belum lama ini sastrawan yang karyanya tidak dipilih sebagai juara oleh tim juri Katulistiwa Literary Award (KLA) marah-marah dan menggugat keabsahan dewan juri. Polemik merebak di jejaring sosial. Sampai-sampai ada sastrawan yang menulis bahwa para juri pemilihan itu sama sekali tidak bermutu. Pilihan mereka menunjukkan rendahnya selera mereka terhadap sastra, lemahnya pengetahuan mereka, dan kurangnya wawasan mereka. Begitu dia menggugat dewan juri. Lucunya, juri KLA yang kemarin lusa digugat itu kini justru mengolok-olok kami (Tim 8). Rupanya dia sudah lupa bagaimana rasanya sebagai juri yang dihujat dan dicurigai.

Menanggapi polemik tersebut, Richard Oh yang menyelenggarakan acara tahunan KLA tersebut menulis di akun twitternya pada tanggal 27 November 2013, pk 12.05 AM, sbb: “Salah satu ketidakmajuaan sastra kita di dunia rupanya bukan pada kurangnya karya-karya bagus, tapi semangat sikut-menyikut antar sastrawan.”

Sesungguhnya saya berharap bahwa apa yang dikatakan Richard Oh itu tidak benar. Dan dengan ini saya tutup artikel ini, semoga dapat memberi penjelasan memadai sehingga tidak ada lagi fitnah dan hujatan kepada Tim 8 yang telah bersusah payah menyusun buku ini. Terima kasih.

Para Penjahat Atas Nama Tuhan

syiah2

Dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada hari ini (16/11/2013), saya menulis sebuah puisi terkait dengan kondisi kehidupan beragama di tanah air dewasa ini.

Para Penjahat Atas Nama Tuhan
Puisi Ahmad Gaus

Di manakah Tuhan
ketika rumah-Nya diserang
dan dihancurkan?

Engkau tidak akan tahu arti sedih
sebelum kakimu tergelincir dan berdarah
ketika menyeru Tuhan di tengah jerit kesakitan
dalam kobaran api yang membakar
rumah-rumah ibadah.

Engkau tidak akan mengerti
apa artinya terbuang
sampai merasakan sendiri bagaimana
iman direndahkan.

Anak-anak dan perempuan lari ketakutan
menunggu malaikat datang
membawa mereka terbang ke angkasa
bertemu dengan Tuhan yang bersemayam
di atas ‘aras.

Orang-orang tua bertanya
apakah Tuhan mereka telah binasa
dijebloskan ke dalam penjara?

Burung-burung gemetar
melihat orang-orang mengamuk
membawa senjata
batu dan parang.

Di manakah Tuhan
Ketika rumah-Nya disegel
dan dipagari kawat berduri?

Di negeri ini
iman dicurigai bagai sindikat
orang mau beribadah disamakan
dengan penjahat.

Di negeri ini
lebih mudah membuka panti pijat
daripada membuka rumah ibadat
orang mabuk difasilitasi
menyembah Tuhan dihalang-halangi.

Di negeri ini
orang mau beribadah dianggap
mengganggu ketertiban umum
sementara para penjahat yang mengatasnamakan Tuhan
bebas berkeliaran sambil berteriak
Allahu akbar
serang! kejar! bunuh!
Allahu akbar

Setiap hari para pemimpin berpidato
tentang Konstitusi
tapi di mana mereka bersembunyi
ketika orang yang berbeda keyakinan diteror
diinjak-injak?

Orang-orang dibiarkan
dianiaya di kampung mereka
menjadi pengungsi di negeri sendiri
hak hidup mereka direnggut
di hadapan para petinggi negeri.
Kemajemukan diancam
kebebasan disandera
orang-orang dengan pongahnya meringkus kebenaran
memaksakan kehendak dengan kekerasan.

Apakah Tuhan berduka
ketika umat-Nya terlunta-lunta?
Apakah Tuhan merasakan luka
melihat umat-Nya bertaburan isak tangis
dilempari genting dan pecahan kaca?

Jakarta, Hari Toleransi Internasional, 16/11/2013

Note:

Puisi ini dimuat di: http://www.satuharapan.com/read-detail/read/puisi-ahmad-gaus-para-penjahat-atas-nama-tuhan/pbb-toleransi-untuk-perdamaian-dan-masa-depan-berkelanjutan

Puisi ini juga dibacakan di berbagai forum pertemuan lintas agama.

Baca juga:

Beberapa Persoalan dalam Isu dan Kasus Toleransi Agama di Indonesia

Sehelai Kain dari Surga

bidadari

Sehelai Kain dari Surga

Kain itu dicuri dari surga
ketika bidadari melepas pakaiannya
dan mandi bersama para pangeran.

Seseorang yang cemas
bergegas membawanya pergi
membuat duplikat kain itu
dan menjualnya di toko busana.

Ini pakaian resmi para bidadari
jika engkau mengenakannya akan terhindar
dari api neraka, katanya.

Sejak itu, para pedagang
membuat kain-kain tiruan para bidadari
mencari uang dengan mengutip
ayat-ayat suci.

Para lelaki dengan mata jalang
menutup setiap inci tubuh perempuan
dengan nafsu yang bergolak.

Kita harus menyelamatkan perempuan
atau mereka menebarkan setiap helai rambutnya
jadi bara neraka, ujar seseorang.

Tubuh perempuan
menjadi tema khutbah
diseminarkan dengan penuh semangat.

Di atas cat walk
kaum perempuan tidak peduli
dengan tubuh mereka.

Sebagian mereka terbang
dengan sayap-sayap merpati
pulang ketika langit gelap gulita.

Sebagian lagi tidur di kolong jembatan
dengan baju compang-camping
tak peduli pakaian bidadari.

Di load speaker masjid
kaum lelaki terus saja menyuarakan kecemasan
ke mana perginya moral?

Mereka menghitung berbagai kerusakan
akibat aurat yang terbuka
Peradaban dibangun di atas sehelai kain
dunia dijelaskan dengan peraturan
yang dikalungkan di leher-leher
yang jenjang.

Ini zaman panas
setiap orang membawa api bagi yang lainnya
sedikit saja lengah engkau akan
dicemplungkan ke neraka jahanam.

Ini zaman monopoli
dalil dan kebenaran sudah direnggut
oleh otoritas moral
kaum perempuan tidak memiliki tubuhnya sendiri.

Di tempat-tempat ibadah
kaum perempuan tergolek tanpa busana
dikelilingi orang-orang berjubah
yang melukis tubuh mereka
pada halaman-halaman kitab suci.

Pesan-pesan wahyu diganti
dengan bara api yang dinyalakan
dalam pikiran mereka sendiri
kitab suci hanya tinggal huruf
dan sekumpulan teks
yang mati.

 

Banda Aceh, Januari 2012