[Poem] Dust in the Shoes

Dust in the Shoes

Every time I ask how much you love me

you enter your shoes and tell me about the journey

to your dream home by sowing love throughout the seasons

of the years of suffering, but when you arrive at the

gate of the house there is nothing in

your shoes except dust.

(IG: gauspoem)

Screenshot_2020-05-02-13-22-15-2

Puisi-puisi saya yang dipublikasikan di sini telah saya posting terlebih dulu di instagram. Untuk mendapatkan puisi saya lebih awal setiap harinya sila follow my IG and mention for following back. 

IG: gauspoem

[Puisi] NYA

20200501_140112

Puisi-puisi saya yang dipublikasikan di sini telah saya posting terlebih dulu di instagram. Untuk mendapatkan puisi saya lebih awal setiap harinya sila follow my IG and mention for following back. 

IG: gauspoem

Jalan Terjal

 

Jalan Terjal2

IG: ahmadgaus68

Baca juga:

Sketsa Hujan

Doa Penawar Rindu

Masa Depan Bahasa dan Sastra Indonesia

SAIL AND LAND

 

br

 

 

SAIL

if I must sail later

I want to depart from your breasts

and land at your base

 

BERLAYAR

Kalau nanti aku harus pergi berlayar

aku ingin bertolak dari payudaramu

dan berlabuh di pangkalmu

 

Baca juga:

KAU

SURAT CINTA UNTUK CORONA

Corona6

Surat Cinta untuk Corona

Dear Corona,

KUTULIS surat ini saat hujan turun di sore hari

Setelah panas terik yang membakar sepanjang siang tadi

Orang-orang berharap engkau tersungkur di tanah

Lalu bangkaimu diseret air hujan hingga jauh ke laut

Begitulah, sengaja kuawali surat ini dengan meringkas “kebencian kolektif” yang ditujukan kepadamu.

Agar engkau tahu di mana posisimu sejauh ini.

SEKARANG  tidak ada orang yang pergi ke taman untuk melihat pelangi

Atau mengikat janji dengan kekasihnya di sore hari yang indah

Mereka takut engkau ada di sana

Sebab saat ini engkau memang lebih menakutkan daripada nenek sihir dengan sapunya.

OH YA,  ngomong-ngomong soal nenek sihir, pernahkah kau mendengar cerita tentang penyihir yang seumur hidupnya tidak pernah tertawa?

Sekali waktu dia tertawa, seekor tikus bisa berubah menjadi gadis cantik. Alangkah saktinya.

ADA juga kisah tentang penyihir jahat yang jiwanya tersimpan dalam buah pir.

Begitu orang-orang tahu buah pir dapat menurunkan berat badan, penyihir itu mati berkali-kali. Karma bagi penjahat.

Kesaktianmu mungkin sama dengan para penyihir itu

(Dan mungkin juga kelemahanmu)

Abrakadabra!

Sekali tepuk engkau berhasil menaklukkan dunia

Mengubah aturan di semua negara

Memaksakan moralitas baru dalam hubungan sosial

Menghentikan kemacetan lalu lintas di kota-kota yang sibuk

Mengeluarkan orang-orang dari penjara dalam jumlah yang sangat besar

ENGKAU  juga memberi intrupsi pada pemahaman agama yang dogmatik

Mengusir kaum beriman dari rumah-rumah ibadah

Tapi memaksa orang untuk lebih dekat dengan Tuhan.

ENGKAU sebuah paradoks untuk kebatilan dan kebenaran

Nilai-nilai sekarang bukan hanya nisbi tapi jungkir balik

Banyak fenomena harus ditafsir ulang

JADI, engkau memang hebat, Corona

Tidak pernah ada yang bisa melakukan itu sebelumnya

Tapi tahukah kau bahwa seluruh dunia memusuhimu

Perang global sudah dideklarasikan untuk melawanmu

Dan engkau sendirian.

SAAT ini, bila kau lewat di kotaku

Orang-orang sudah mengenakan alat perlindungan diri

Kendaraan militer berjaga di setiap sudut dan tempat-tempat keramaian

Sesekali menyemprotkan tembakan ke udara dan pinggir jalan sehingga mengenai siapa saja

Seperti pasukan tempur yang menembak tanpa sasaran karena musuh tidak terlihat

ENGKAU telah membuat semua orang menjadi bodoh

Membuat malu negara-negara maju yang memiliki persenjataan paling canggih

Semua lumpuh, tidak berdaya di hadapanmu

Korban-korban kematian berjatuhan seperti daun-daun kering diterjang angin

ZAMAN yang murung bertambah murung

Kekerasan, kelaparan, kemiskinan, ada di mana-mana

Apalagi yang mau kau tambahkan

Menegakkan keadilan?

Silakan saja

Tapi lihat itu orang-orang yang kehilangan pekerjaan

Orang-orang yang dikuburkan tanpa didampingi keluarganya

Para malaikat pun tak sanggup berdiri di hadapan takdir mereka yang terasing

AAHHH… aku tidak tahu apalagi yang harus kutuliskan di sini, Corona

Tapi yang pasti sore ini sehabis hujan, aku ingin melihat kau menari bersama anak-anak di halaman

Tanpa mengancam

Tanpa ada korban

Itu saja.

WASSALAM

Ahmad Gaus


*****

ADULT ROMANCE:  Apa yang dilakukan oleh mantan-mantan seleb ketika mereka sudah tersingkir dari dunia hiburan karena kalah bersaing dengan para pendatang baru? Sally, salah satu dari mereka, terjebak dalam pelukan para pejabat tinggi yang menjanjikan uang dan kemewahan. Tapi ia menolak semata-mata dijadikan sebagai objek kesenangan daging. Ia  menggoreskan takdirnya sendiri dalam perjuangan yang keras dan penuh risiko. Simak kisahnya dalam novel ini:

Cover Hujan dalam Pelukan

Silakan dibaca di sini: https://h5.novelme.com/bookinfo/22983

[Puisi] Kepada Siapa Engkau Bicara

 

 

kubicki-woman-digital-art-portrait-computer-painting-photoshop-female-design

 

Kepada Siapa Engkau Bicara

 

Akhirnya kau tegakkan lagi kaki-kaki langit itu

Setelah hujan karbon, kiamat debu, dan tubuh-tubuh yang berubah jadi arang

Tapi kepada siapa engkau bicara jika pohon-pohon saja menutup telinga

Hewan-hewan piaraan mengungsi ke hutan

Sebab di sana mereka tidak perlu berpura-pura menjadi manusia.

 

Engkau tahu sejarah sedang berselisih paham dengan pikiran

Ia mengambil jalan lurus atau menikung

Tapi pikiran ingin berbalik arah

Maka duduk saja di persimpangan

Menunggu kereta lewat di keningmu.

 

Lihat, matahari keluar dari ruang pesta dengan tubuh limbung

Mungkin semalaman dicekoki minuman keras

Tapi mau bagaimana lagi, hari ini dia harus berangkat ke sekolah

Belajar lagi menghitung jumlah manusia di jalan raya, rumah ibadah,

gorong-gorong

Belajar lagi mengucapkan nama Tuhan dengan lidah yang lembut

Sementara kita tetap di sini

Mengenang mereka yang pernah menanam pohon-pohon cahaya

dengan wajah murung

Sebab kita tahu dunia sebenarnya sudah hancur

dalam pot bunga.

ahmadgaus

 

Kredit gambar:

Jarostaw Kubicki Mixes up the Media

Kredit Featured Image:

 

 

 

KAMU DAN BUKU

Selamat Hari Buku

 

7db004b68cf48ed66353bde533b8cc5f
 
 
 

KAMU DAN BUKU

Aku mencintai kamu seperti aku mencintai buku
Karena itu caraku membaca kamu tidak jauh berbeda dengan caraku membaca buku
Menelusuri baris demi baris, halaman demi halaman
Kalau sampai ada yang terlewat, akan banyak kehilangan.

Buku adalah jendela dunia, begitu juga kamu
Melalui buku aku bisa keliling ke berbagai negeri dengan hanya duduk di perpustakaan
Melalui kamu aku juga bisa mengenal seluruh perempuan di muka bumi tanpa harus mencumbui mereka satu persatu
Sebab waktuku tidak akan cukup.

Sebagaimana buku memuat banyak bab, begitu pula kamu
Setiap bab merupakan penjelasan dari bab yang lain
Karena itu penting membaca buku dari pengantarnya supaya tidak bingung atau kehilangan konteks
Itu pernah kualami, saat membacamu langsung dari bab kesimpulan
Akhirnya aku tidak mengerti apapun tentang kamu
Tapi itu salah kamu juga, sih
Tidak menyediakan daftar isi atau indeks tentang dirimu
Sehingga aku sering terjebak pada bab yang tidak kusukai, seperti bab marah, bab cemburu, dan semacamnya.

Belakangan aku sedih karena buku kalah bersaing dengan media sosial
Orang-orang lebih suka update status daripada membaca buku
Era orang mencari pengetahuan melalui buku tampaknya sudah lewat
Kini media sosial menawarkan sesuatu yang lebih memuaskan hasrat agresi manusia, yaitu hoaks

Teknologi digital juga telah membuat buku terdesak ke pinggiran
Banyak penerbit sudah gulung tikar
Lama kelamaan mungkin buku akan hilang dari muka bumi, entahlah

Tapi itu hanya kesedihanku belaka
Kamu mungkin malah senang karena kehilangan saingan beratmu, yaitu buku-buku yang sering ada di bawah bantalku.

 

 
Gedung Film, 17 Mei 2019
Ahmad Gaus
 
Baca juga: Diagram Air Mata

 

TAN EK TJOAN

 

20200621_080356

Tan Ek Tjoan

Sebuah bendera berkibar di atas sepotong roti
Melantunkan nada yang terus bertahan
Dari gegap-gempita nyanyian revolusi
Hingga huru-hara zaman yang bergerak makin ke kanan

Tanah airku, kisah Tan, berada di sebelah kiri jalan
Di antara deretan toko yang kerap menjadi sasaran penjarahan
Nasionalismeku terhimpit di halaman buku-buku sejarah yang tak pernah dibaca
Maka kucetak saja negeriku dengan roti gambang, bimbam, roti cokelat oles, dan nougat.

Roti-roti bernyanyi di atas gerobak dorong
Terseok-seok di gang-gang kecil pinggiran kota
Menyapa orang-orang kampung untuk menemani mereka minum teh di pagi dan sore hari

Roti, roti, roti...
Sebuah nyanyian dari masa lalu yang menyayat jiwa
Roti, roti, roti…
Sepenggal sejarah yang menitikkan airmata

(IG: gauspoem)

 

[Puisi] Elegi untuk Ibu Omi

 

omi1

ELEGI UNTUK IBU OMI *)

Suatu hari nanti kita akan sendiri
Duduk di sisi jendela
Di tepi pagi yang sunyi
Memandangi bunga-bunga di taman
Tumbuh, merekah, kemudian layu dan jatuh ke bumi
Menikmati kicau burung-burung di halaman
Sebelum mereka terbang satu persatu menuju cakrawala

Seperti itu pula orang-orang yang kita cintai
Keluarga, sahabat, handai taulan
Satu demi satu mereka pergi meninggalkan kita
Sebagian telah berpulang menuju keabadian
Sebagian lagi masih menunggu antrian
Di simpang jalan kehidupan

Mereka yang pergi bukan tidak mencintai kita
Tapi masing-masing punya dunia sendiri
Dunia yang tidak bisa kita kunjungi sekalipun hanya dalam mimpi (begitu kata penyair Libanon-Amerika, Khalil Gibran, dalam puisi “On Children”)
Dunia yang dibangun untuk masa depan mereka yang lebih baik
Agar kelak, mereka pun dapat menikmati hidup bahagia seperti kita
Duduk dekat jendela
Ditemani secangkir teh di sore hari yang sunyi

Kesunyian bukanlah tragedi
Seperti ranting tua yang jatuh ke jalan
Dilindas roda kendaraan
Bukan!

Kesunyian itu seperti tsunami yang berdiam di dalam botol
Menunggu tangan-tangan malaikat menumpahkannya di kanvas kehidupan
Dari kesunyian lahir bayi-bayi mungil bernama kearifan, kebijakan, dan peradaban

Kesunyian adalah sahabat lama yang kita nantikan
Sebab dialah yang akan menemani kita
Mengumpulkan serpihan jiwa yang berserakan
Di sepanjang perjalanan

Kesunyian menguji kesabaran kita hingga batas terjauh
Untuk menghubungkan dua dunia
Yang fana dan yang baqa

Kesunyian bukanlah alasan untuk merasa sunyi
Sebab seluruh semesta ini, kata penyair sufi Jalaluddin Rumi, ada di dalam diri
Mengapa kita harus merasa sunyi

Suatu hari nanti kita akan sendiri
Duduk di tepi jendela, di ujung senja yang sunyi
Tapi kita semua membutuhkan kesunyian
Sebab pada dasarnya kita memang harus belajar mempersiapkan diri
Menuju kesunyian yang abadi.

PIM 3 Jakarta, 26/01/2019

*) Ibu Omi Komaria Madjid adalah istri almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur), cendekiawan, guru bangsa, dan pemimpin besar revolusi pemikiran yang pernah dimiliki bangsa ini.

Note:
Puisi ini dibacakan di acara pertemuan Caknurian II dan tasyakuran ulang tahun ke-70 Ibu Omi Madjid di Pondok Indah Mal 3, Jakarta. Terima kasih kepada Prof Komaruddin Hidayat sebagai host acara, dan Kiai Ulil Abshar Abdalla yang menginspirasi lahirnya puisi ini. Terima kasih juga untuk teman-teman yang hadir di acara ini. Ingatlah: Semua akan berpuisi pada waktunya. 😂

omi2

omi3

 

 

 

 

[Puisi] Surat Kecil untuk Tuhan

surat kecil1

SURAT KECIL UNTUK TUHAN

Anak-anak lahir dari rahim semesta. Tangisan mereka adalah musik paling tua yang diciptakan oleh hening. Hingga seisi alam hanyut dalam alunan isaknya. Langit ikut mendengar dan menumpahkan airmata. Anak-anak membawa alat musik, berlarian di jalan-jalan, karena hujan adalah isak tangis mereka sendiri. Setiap butirnya dikumpulkan dan diberikan kepada orang-orang yang lewat — mengira itulah orangtua mereka.

Anak-anak berasal dari negeri asing. Seperti para pengungsi yang datang bergelombang. Ada yang beruntung mendapat suaka, belaian tangan bapak, dan pasokan air susu yang berlimpah dari payudara ibunya. Namun sebagian lagi menjadi para pengungsi yang tersesat. Mereka dibesarkan oleh debu, tembok berduri, dan gerbong-gerbong kosong, tempat mereka memandang langit —  dari mana mereka dikirim.

Dan malam ini Kau lihat sendiri, mereka berusaha sembunyi-sembunyi, mencuri bulan dengan galah yang ujungnya diberi belati. 

puisi: ahmad gaus

(Terinspirasi oleh film “Surat Kecil untuk Tuhan” produksi Falcon Picture yang beredar di bioskop bulan Juni 2017)

20140615_215958_sekolah-kolong-jembatan

 

[Puisi] MATA IBU

ibu-01

Mata Ibu

Dari apakah Tuhan menciptakan mata ibu
Begitu luas hingga mampu menampung isi semesta
Tempat matahari beredar
Dan bulan yang selalu purnama
Bintang-bintang bertaburan di sana

Di dalam mata ibu ada lautan
Tempat aku berlayar menuju pulau tujuan
Kota-kota yang pernah aku kunjungi
Ada di dalamnya

Setiapkali kutatap mata ibu
Aku menemukan potret diriku
Dari bayi hingga tumbuh dewasa
Aku tetaplah kanak-kanak di matanya

Mata ibu tidak pernah terpejam
Walaupun sedang tertidur ia tahu
Ke mana aku berjalan

Mata ibu terbit sebelum fajar
Dan tidak pernah terbenam
Sepanjang siang
Sepanjang malam

Mata ibu lebih terang dari matahari
Karena mata ibu tidak menciptakan bayangan
Sehingga aku tidak bisa bersembunyi dari pandangannya

Mata ibu lebih tajam dari mata pedang
Setiap kali menatapku
Aku tersungkur dengan darah bercucuran
Dan luka-luka yang tak ingin kusembuhkan

Gedung Film, 14/01/19

Lomba Menulis Puisi Natal

UNTUK ANDA YANG MENYUKAI PUISI, saya punya tawaran menarik:  Tulislah sebuah puisi yang berhubungan dengan Natal. Hadiahnya sudah saya siapkan tiga buku puisi saya yang berjudul SENJA DI JAKARTA untuk tiga penulis puisi terbaik (masing-masing satu ya, hehe). Buku ini terbit tahun 2017, sudah diluncurkan di Singapura (November 2017) dan didiskusikan di Malaysia (Desember 2017). Kirimkan puisi anda ke alamat email saya: gaus.poem@gmail.com Saya terima paling lambat tanggal 24 Desember 2018, supaya saya bisa posting di blog saya tepat pada hari Natal. Ok gaeess… selamat menulis puisi dan mendapatkan hadiah buku plus tanda tangan penulis.. 🙂

Berikut contoh 2 puisi saya yang berhubungan dengan Natal:

CERITA NATAL SEORANG GADIS KECIL

Aku berdiri di halaman gereja
Anak-anak bergaun palma
Menghias pohon Natal dengan lampu aneka warna
Bunga-bunga gladiola, langit merah saga.

Saat lonceng dibunyikan, mereka berlarian
Kemudian larut dalam doa yang dilantunkan
Damai dalam pelukan kasih Tuhan.

Dari kejauhan aku mendengar suara azan
Dibawa angin senja berteluk awan
Azan dan kidung Tuhan saling bersahutan
Menjalin nada, orkestra kehidupan.

Seorang gadis kecil menghampiriku

“Pakailah ini,” katanya menyodorkan topi santa

Aku terdiam. Lama. Kemudian dengan halus aku menolaknya
Ia nampak kecewa. Matanya berkaca-kaca
Aku membungkukkan badan dan berbisik ke telinganya

“Sayang, bukannya aku tidak mau, tapi topi itu terlalu kecil buat kepalaku!”

Ia tersenyum mengerti

“Kalau begitu ambillah ini,” ujarnya menyodorkan replika pohon Natal, “Tanamlah di tubuhmu!”

“Maaf sayang, ini pun aku tidak bisa menerimanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak punya lahan untuk menanamnya,
seluruh tubuhku sudah dipenuhi masjid!”

Ia terdiam. Aku yakin dia tidak mengerti apa yang kukatakan.

Tapi ia bertanya lagi, “Apakah di halaman masjid tidak boleh ditanami pepohonan?”

Aku tersentak. Akhirnya kuraih dia dalam pelukan
Kujelaskan bahwa halaman masjid sekarang penuh oleh kendaraan yang parkir. Tidak ada tempat untuk menanam pohon lagi.
Dia tertunduk. Sedih.

“Jangan kuatir, sayang, pohon Natal ini akan kutanam di samping masjid, dan akan kurawat, setuju?”

Dia mengangguk.

“Terima kasih, Om, Natal itu untuk anak-anak!” ucapnya tersenyum.

Aku pun tersenyum, walaupun tidak mengerti maksud ucapannya.

***

Tangerang Selatan, 24 Desember 2016
Ahmad Gaus

Rima

Ini hadiah buku untuk penulis puisi terbaik:

Senja di Jakarta