Author Archives: Ahmad Gaus
Melampaui Nurcholish Madjid
MELAMPAUI NURCHOLISH MADJID
Diam-diam, wacana Islam liberal terus menyeruak dan mengambil bentuk yang kian beragam. Islam liberal ala Nurcholish Madjid tahun 1970-an sudah dianggap kuno. Bahkan kerangka pikir Cak Nur konon sudah tidak bisa lagi digunakan karena sudah obsolet. Kini telah lahir generasi post Cak Nur yang lebih progresif, lebih liberal, selain murid-murid Cak Nur yang lain yang makin bergeser ke kanan dan menjadi pendukung gerakan-gerakan sektarian.
Bagaimana ceritanya? Yuk kita ngupi bareng di acara ini. Kita akan ngerumpi santai tentang murid-murid ideologis Cak Nur yang tercerai berai dalam berbagai sekte dan golongan. ![]()
Rayap dan Laron
Selamat ulang tahun untuk maestro puisi sufistik:
Prof Dr Abdul Hadi WM.
Semoga selalu sehat dan terus berkarya. Sesuai janji saya kemarin, saya buatkan catatan kecil yang tayang di Geotimes.id, hari ini dan setangkai puisi yang dirangkum dari pikiran-pikiran Pak Hadi, sebagai kado ultah. Semoga berkenan.
PASSING OVER: Ziarah Spiritual ala Budhy Munawar-Rachman
PASSING OVER: Ziarah Spiritual ala Budhy Munawar-Rachman
Oleh: Ahmad Gaus AF
Bagi para peminat kajian filsafat dan teologi, khususnya teologi antar-iman, Dr. Budhy Munawar-Rachman bukanlah nama yang asing. Dalam filsafat, Budhy mencarikan tempat yang memadai bagi filsafat Islam dalam dunia yang didominasi oleh filsafat Barat. Di kampus-kampus Islam ia mengajar filsafat Barat, di kampus umum ia mengajar filsafat Islam. Itu menunjukkan bahwa otoritasnya di kedua disiplin tersebut memang tidak diragukan.
Dalam teologi, yang dikembangkan oleh Budhy bukanlah Ilmu Kalam dalam pengertian tradisionalnya, bukan juga perbandingan agama (apalagi ini), melainkan perjumpaan agama-agama atau pencarian titik temu agama-agama (kalimatun sawaa) — mengikuti jejak gurunya, Nurcholish Madjid (Cak Nur). Dalam wacana keagamaan (Islam), Budhy memang menjadikan Cak Nur sebagai referensi utamanya, karena merasa cocok dengan posisi pemikirannya sendiri yang bercorak progresif. Budhy juga aktif mengembangkan pikiran-pikiran Cak Nur dengan bahan-bahannya sendiri dari khazanah filsafat timur dan barat.
Posisi Budhy terhadap Cak Nur kurang lebih sama dengan posisi Ibn Rusyd terhadap Aristoteles, yakni sebagai komentator dengan otoritas yang besar. Budhy menulis banyak buku mengenai pemikiran Cak Nur, salah satunya Ensiklopedi Nurcholish Madjid setebal 4000 halaman (4 jilid). Walaupun berguru secara kaffah kepada Cak Nur, bukan berarti Budhy tidak mengembangkan pemikiran sendiri. Sumbangannya yang terpenting ialah gagasan “passing over“, yang dapat disebut sebagai post-Caknurian. Melalui gagasan ini, Budhy menghadirkan harta karun yang terpendam dari agama-agama dan tradisi spiritualitas, dan sekaligus menawarkan peta jalan baru bagi perjumpaan agama-agama.
Passing over ialah “menyebrang dari satu budaya ke budaya yang lain, dari satu agama ke agama yang lain.” Yang dimaksud ‘menyebrang’ di sini bukan murtad atau menjadi muallaf, justru ini sangat dihindari, melainkan menyelam ke jantung tradisi agama/kepercayaan lain dan membuka diri untuk diperkaya oleh agama/kepercayaan lain tersebut. Jadi semacam ziarah spiritual. Dan sebagai ziarah, maka pada gilirannya proses ini diakhiri dengan gerakan kembali ke agama semula, namun dengan insight yang baru. Begitulah passing over. Dari situ akan diperoleh pengalaman-pengalaman rahasia yang bersifat mistik-spiritual.
Budhy bukan hanya berwacana. Dia sendiri yang memberi contoh (praktik) bahwa passing over itu bisa dilakukan, bahkan perlu, untuk memperkaya pengalaman religius dan spiritualitas, serta mencairkan hubungan antaragama yang membeku, bahkan cenderung mengeras akhir-akhir ini.
Para pemikir dan mistikus besar pada umumnya melakukan passing over sebelum mencapai pencerahan, sebut saja Mahatma Gandhi, yang melakukan passing over ke Kristen dan Islam, dengan tetap sebagai Hindu. Juga tokoh-tokoh seperti Louis Massignon, Henry Corbin, W.C. Smith, Sachiko Murata, William Chittick, Huston Smith, dan yang lainnya, melakukan passing over.
Budhy sendiri, setahu saya melakukan passing over ke Hindu, Katolik, Tao, dan Perenialisme. Budhy mengunjungi pusat-pusat spiritual di Tibet dan India, berguru di Brahma Kumaris, mengalami misa, praktik meditasi, Taichi, dll. Setelah menyebrang, Budhy kembali ke agamanya semula dengan pencerahan. Tidak menjadi muallaf Hindu, Katolik, atau lainnya. Budhy tetap seorang muslim yang saleh. Terakhir malah saya lihat dia menjadi khatib salat jumat pada Ramadan kemarin.
Istilah passing over berasal dari John S. Dunne, profesor teologi di Universitas Notre Dame (AS). Namun praktiknya telah dilakukan oleh para mistikus/sufi di masa lalu. Di Indonesia mungkin banyak juga yang melakukan itu, saya tidak tahu, tapi sejauh ini Budhy Munawar-Rachman lah yang merupakan konseptor sekaligus model atau prototipenya.
Dengan jaringan yang luas sebagai intelektual-aktivis, gagasan Budhy mengenai passing over memiliki pengaruh yang cukup mendalam di kalangan anak muda, satu generasi di bawahnya. Artinya, banyak anak muda yang mengikuti jejaknya. Ini jelas tidak bisa diabaikan, karena merupakan kontribusi penting bagi perjumpaan agama-agama dan dialog antar-iman di Indonesia, saat ini dan masa depan.
Melalui gagasan passing over Budhy juga menempati posisi yang unik dalam peta pemikiran dan diskursus keagamaan di tanah air. Tidak banyak orang seperti dia. Jika kalangan lintas agama ingin agama mereka dibicarakan oleh pihak luar, maka Budhy lah yang akan diundang. Bukan saja karena Budhy memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama mereka, melainkan juga karena mereka menaruh kepercayaan kepada Budhy yang selalu menebar karma baik, dalam ucapan, pikiran, dan tindakan.
Terakhir, walaupun Budhy dan saya sama-sama murid Nurcholish Madjid, bukan berarti kami selalu seia sekata. Dalam beberapa segi pemikiran Cak Nur kami sering berbeda pandangan. Bukan karena ego-intelektual, saya kira, tapi karena spektrum pemikiran Cak Nur itu sendiri yang memang sangat terbuka untuk ditafsirkan. Tapi walaupun sering berbeda pendapat, kami tidak pernah saling mengkafirkan, hehe.. Selamat ulang tahun, Budhy (22 Juni), doa-doa terbaik mengiringimu.
Catatan:
1. Tulisan Budhy Munawar-Rachman mengenai Passing Over dapat dibaca dalam bukunya, Islam Pluralis (Rajawali Press, 2004)
2. Saya dan Prof Komaruddin Hidayat pernah menyusun buku antologi lintas agama. Dan atas saran Budhy, buku itu diberi judul “Passing Over: Melintasi Batas Agama” (Gramedia, 1999, 2004)
Salam
AHMAD GAUS AF
Penulis dan editor, berkhidmat di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Depok.
Tulisan ini sudah tayang di geotimes.id kemarin (21/06). Pemuatannya kembali di sini dan di FB atas izin redaksi dan tanpa perubahan.
https://geotimes.id/kolom/passing-over-ziarah-spiritual-ala-budhy-munawar-rachman/
Jangan Pura-Pura
Nyanyi dulu yuk.. 😁😁
Filsuf Sejati

Nada Cinta

Puisi Ulang Tahun Alifya K Sadra
ALIFYA
Kemarin lusa, 29 Mei 2021, anak pertama saya, Alifya Kemaya Sadra tepat berumur 22 tahun. Teman-temannya merayakan secara sederhana di rumah sambil menikmati bakso buatan mama Alif yang terkenal paling uenaak se-Tangsel 🙂
Sebagai ayah teladan dan idaman, saya menulis puisi dan membacakannya di depan teman-teman Alif, dan sempat divideokan oleh anak saya yang kedua, Raysa Falsafa Nahla. Di twiter saya video itu saya posting dan menanyakan siapa ayah yang menulis puisi untuk anak gadisnya yang berulang tahun dan membacakannya, kalau tidak ada berarti saya ayah yang langka, heheee..
Puncak Tertinggi Ramadan
Puisi ini dibacakan oleh: Shahnaz Haque pada acara Halal Bihalal Cak Nurian Urban Sufism, Minggu 16 Mei 2021. Sayang saya belum mendapatkan rekaman audionya jadi belum bisa ditampilkan. Versi podcast akan dibuat menyusul ya 🙂
PUNCAK TERTINGGI RAMADAN
DARI Ramadan ke Ramadan, apa yang kita dapatkan
Selain berkurangnya umur dan bertambahnya usia
Ramadan hanya lewat di depan rumah seperti pedagang keliling
Kita membeli barang atau makanan yang dibutuhkan
Lalu membiarkan pedagang itu pergi
Tidak peduli kapan dia akan datang lagi
Besok, lusa, bulan depan, masa bodoh
SEMENTARA itu ada orang yang merasa sedih berpisah dengan bulan Ramadan
Kepergiannya ditangisi, kadang dengan emosi yang berlebihan
Agar semua orang tahu bahwa dia pencinta sejati bulan Ramadan
Dia meratap pilu karena harus menunggu Ramadan satu tahun lagi
Lama sekali
PADAHAL, Ramadan adalah waktu metafisik
Waktu yang tidak berdetak pada jam dinding
Waktu yang tidak bergantung pada kalender
Melainkan waktu yang berada di puncak kesadaran ruhaniyah
BAGI orang-orang yang sudah sampai ke puncak tertinggi Ramadan, setiap saat adalah Ramadan
Setiap malam adalah Lailatul Qadar
Dan setiap hari adalah Hari Raya
DI PUNCAK tertinggi Ramadan, seperti halnya di puncak gunung, semua terlihat indah
Karena dipandang dengan jiwa yang indah, yang berada di puncak ketinggian ruhani
Jiwa yang memancarkan cahaya kasih Tuhan ke segenap penjuru
TAPI, untuk sampai ke puncak itu tidaklah mudah, seperti halnya mendaki gunung
Wamaa adraaka mal ‘aqabah, Tahukah engkau apa itu jalan mendaki yang sulit
Fakku raqabah, yaitu melepaskan semua belenggu ragawiyah
Suatu pendakian menuju perjumpaan dengan Tuhan di atas gunung ruhani
ITULAH puncak tertinggi Ramadan dalam kehidupan sehari-hari
Di mana tidak ada lagi pertentangan antara ketuhanan dan kemanusiaan
Ketuhanan berarti kemanusiaan
Kemanusiaan berarti ketuhanan
Di puncak tertinggi Ramadan, manusia adalah umat yang satu, ummatan wahidah
Di antara mereka tidak ada batas, seperti langit yang terbuka tiada bertepi
DI PUNCAK tertinggi Ramadan kita telah melampaui al-‘aqabah, jalan mendaki yang sulit, untuk ber-fakku raqabah
Yaitu, melepaskan diri dari belenggu pandangan sempit dan sektarian
Yang membeda-bedakan manusia berdasarkan harta dan jabatan
Yang memilah-milah manusia berdasarkan suku dan keturunan
Yang memisah-misahkan manusia menjadi Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen, Konghucu, Islam, dan lainnya
DI PUNCAK tertinggi Ramadan, umat manusia adalah satu, ummatan wahidah
Sebab mereka adalah penampakan wujud Tuhan yang Tunggal di muka bumi.
Terima kasih
Ahmad Gaus
Follow my IG: @gauspoem
Perkara Toa
Selebriti Zaskia Adya Mecca belum lama ini mengeluhkan soal suara loud speaker masjid atau toa yang terlalu keras ketika membangunkan sahur. Dalam status instagramnya, Zaskia menilai bahwa cara membangunkan sahur seperti itu tidak etis dan tidak menghargai orang lain.
Kontan saja Zaskia menuai kecaman dari para netizen. Mereka menyebut bahwa Zaskia sudah terkena sindrom Islamofobia. Yakni, tidak suka dengan segala sesuatu yang berbau syiar Islam.
Benarkah masalahnya sesederhana itu? Masalah toa masjid sudah lama menjadi persoalan yang dikeluhkan warga secara bisik-bisik karena mereka tahu apa risikonya kalau mengangkat masalah itu ke permukaan. Tentu kita masih ingat seorang ibu bernama Meliana di Tanjung Balai, Sumut, yang divonis 18 bulan penjara pada 2018 lalu hanya gara-gara mengeritik loud speaker masjid.
Saat itu ia meminta kepada petugas masjid agar volume speaker suara azan dikecilkan.
Kasus itu pun segera menjadi rumor yang beredar di kalangan warga lengkap dengan bumbu-bumbu penyedapnya. Mereka pun mencari tahu asal-usul agama dan kesukuan Meliana. Walhasil, kasus “sepele” itu berhasil digoreng dan meletup menjadi isu SARA. Rumah Meliana, warga keturunan Tionghoa beragama Konghucu, itu dirusak. Bersamaan dengan itu, rumah ibadah vihara yang ada di kota itu pun dibakar warga.
Kita bertanya-tanya, benarkah orang tidak boleh terusik ketenangannya dengan suara berisik dari loud speaker masjid? Kalau tidak boleh, berarti alangkah otoriter cara kita beragama. Kita tidak mau tahu urusan ketenangan orang lain. Kita merasa penting dan mendesak sekali mengumandangkan azan, pengajian, ceramah, dll., melalui toa, dan orang tidak boleh terganggu. Ini kepentingan agama, kepentingan Tuhan, kalian tidak boleh protes atau merasa terganggu. Begitu kira-kira cara berpikir mereka.
Suatu hari Rasulullah SAW beritikaf di masjid, lalu beliau mendengar orang membaca Al-Quran dengan suara keras. Rasulullah kemudian menyingkap tirai dan berkata, ‘Ketahuilah, setiap kamu sedang bermunajat kepada Tuhan. Jangan sebagian kalian menyakiti sebagian yang lain. Jangan juga sebagian kalian meninggikan suara atas sebagian lainnya dalam membaca.’ Atau ia berkata, ‘dalam shalat,’” (HR Abu Dawud).
Hadits ini menjadi sandaran pendapat Sayyid Abdurrahman Ba’alawi dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin. Ba’alawi menjelaskan bahwa tadarus Al-Quran, zikir atau semacamnya yang membuat “kebisingan” dilarang karena dapat mengganggu orang yang sedang shalat. Selanjutnya ia mengatakan, zikir dan sejenisnya, termasuk membaca Al-Quran, dengan suara keras di masjid hukumnya tidak makruh kecuali jika menggangu konsentrasi orang yang sedang shalat atau mengusik orang yang sedang tidur.
Dalil-dalil di atas saya pinjam dari pandangan KH Taufik Damas yang menanggapi kasus yang sama — karena sebagian orang memang masih membutuhkan dalil. Sebetulnya untuk perkara-perkara menyangkut muamalah dan hidup bertetangga kita tidak memerlukan dalil-dalil, sebab kita memiliki akal sehat, adab, sopan santun, dan tata krama dalam hidup bermasyarakat. Keterlaluan kalau berteriak-teriak lewat toa atau pengeras suara, merasa tidak mengganggu orang lain.
Toa juga tidak satu, melainkan banyak, diarahkan ke empat penjuru angin, dan dari banyak masjid yang berdekatan pula, sehingga satu sama lain saling berbenturan, menimbulkan kebisingan yang luar biasa. Dan orang lain tidak boleh merasa terganggu. Kalau merasa tergangggu berarti dia anti-Islam, islamofobia, bahkan melakukan penodaan agama dan bisa dipenjara, rumahnya dirusak, viharanya dihancurkan, seperti yang dialami oleh Ibu Meliana dalam contoh di atas.
Kalian waras? Kalian ini sedang beragama atau sedang kesurupan?
Salam Waras dalam Beragama
Ahmad Gaus
Musikalisasi 20 Puisi Sufistik Rumi oleh Ovi Hasulie
Kita Melampaui Setiap Kata
20 Sajak Tasawuf Jalaluddin Rumi
Dibacakan oleh: Ovi Hasulie
Klik watch this video on YouTube :
Baca juga: Rumi dan Burung Nuri
Puasa itu Meninggalkan Tubuh
Baca juga: Bertemu Nabi Sebentar Saja
Kalau anda menyukai postingan ini, jangan lupa share ke yang lain semoga bermanfaat. Terima kasih. Ahmad Gaus









