Kata Pengantar Ahmad Gaus untuk Buku Puisi Heri Mulyadi, “Elegi Cinta, Cerita Kata.”
Puisi, Daun, dan Bunga di Musim Semi
ADA yang mengatakan bahwa setiap puisi adalah hasil proses kreatif. Pernyataan ini benar belaka. Tapi tidak cukup. Puisi ialah imajinasi, yaitu proses pra-kreasi. Keduanya tentu berkelindan, namun saya merasa perlu membedakannya beberapa saat setelah saya menyimak puisi-puisi penyair Heri Mulyadi dalam buku ini. Berekspresi dalam puisi artinya meletakkan atau menyusun bahan-bahan yang tersedia (ide, suasana, peristiwa, objek-objek) ke dalam bangunan puisi. Namun karena puisi ialah karya seni, maka berlakulah apa yang dipercayai para seniman bahwa “in art, we are doing morethan just putting materials or actions or combining ideas together.”
Karya seni, termasuk puisi, merefleksikan proses penciptaan yang rumit karena aktivitas semacam itu menuntut seniman untuk memiliki kemampuan melihat hal-hal yang tak terlihat, atau dalam kata-kata Nancy McCormick (2018), the ability to see objects in things not readily seen or observed. Nancy bahkan percaya bahwa sebuah karya seharusnya memang lahir dari hasil “melihat”, bukan lahir dari hasil kreativitas belaka. Itulah yang disebut imajinasi. Sedangkan kreativitas ialah the ability to produce an idea in a new way. Jadi memang berbeda.
Di mana istimewanya puisi-puisi Heri Mulyadi bila dilihat dari kacamata itu? Sebagian puisi yang dimuat dalam buku ini merupakan hasil “penglihatan” Heri yang mampu menerobos alam fenomena yang kasat mata, menyingkap rahasia-rahasia di balik kenyataan keras, dan meletakkan imajinasinya dalam horison pandangan mata yang berlapis-lapis. Sebagian lainnya adalah puisi-puisi yang lahir dari proses pengendapan pikiran dan perasaan yang diekspresikan dalam bait-bait puisi yang terkesan “komunikatif”. Pikiran dan perasaan ada pada setiap orang, namun tidak setiap orang mampu mengekspresikan dengan cara seorang penyair menyampaikannya. Orang-orang memilih jalan lurus dan verbal, penyair memilih jalan menikung dan terjal. Heri lebih sering memilih jalan yang kedua.
Mari kita simak puisi Heri di bawah ini:
Mengejar Tuhan
Di jalan zonder debu ini, angin berkesiut
menyesaki ruang, mengembara
membekap buana, meniupkan
selendang pelangi, berselimut
malam, berpayung hujan
Kisahkanlah: jika sejumput rindu datang,
orang ramai berteriak atas nama tuhan,
masihkah zikir, doa-doa kasih
bagi gembala tersesat, dewa dewi yang
bersemayam di nirwana,
tapa brata pengendali jiwa,
meredam amarah,
benci dan dendam?
Di deru angin kutemui wajah
rupa-rupa tuhan, aku tersungkur:
sujudku belum lagi sampai
kutanya adam, ibrahim, musa dan isa:
pulanglah, katanya, usah engkau berebut
mengejar tuhan
lalu torehkan luka
budha melambai di kejauhan, kidungkan
bhagawat para pariah: jangan kau mati
sebelum mati
muhammad berbisik, jangan buat kedustaan!
Padang-Palembang, 27 Februari 2018
Puisi di atas merefleksikan pengembaraan imajinasi yang konsisten pada objek yang bisu, jauh, dan gaib. Nama-nama dan diksi yang dipilih adalah nomenklatur religius (sebagai representasi kesucian, keagungan) yang dibenturkan dengan fenomena kemanusiaan yang profan dengan hasrat-hasrat manusiawinya seperti amarah, benci dan dendam. Adalah sifat manusia memiliki ambisi untuk mengejar kekuasaan, kedudukan, harta, dan sejenisnya. Juga, manusia sangat bernafsu menguasai kebenaran (yang direpresentasikan oleh judul puisi ini: Mengejar Tuhan). Masalahnya, jika setiap orang/kelompok berebut kebenaran sambil menghalau yang lain, maka yang akan terjadi ialah luka-luka, dan bahkan kebenaran itu sendiri menjauh: … usah engkau berebut/ mengejar tuhan / lalu torehkan luka.. / budha melambai di kejauhan.
Heri melakukan dialog imajiner dengan para nabi dan orang-orang suci sebagai upaya mencari jawaban atas apa yang ia lihat di alam fenomena yang boleh jadi tak nampak pada pandangan mata orang lain. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan lirih dan retoris. Realitas yang keras ditransendensikan. Dan ia mampu mengekspresikannya dalam bait-bait puisi yang sublim tanpa harus menggunakan metafora yang sulit dijangkau jejaknya. Namun jelas bahwa ia berada cukup lama di alam imajinasi pra-kreasi sebelum menemukan bentuk pengungkapan dalam bait-bait puisi yang indah dan sublim. Puisi-puisi Heri yang bercorak seperti ini adalah: Nyanyian Senja Jeselton Point, Elegi Cinta, Mencari, Semburat, Penjahat Cinta, Malappuram Suatu Malam, Kidung Petang Bharata Pura, dan yang lainnya.
***
Sampai saat ini orang percaya bahwa puisi ialah ekspresi pikiran dan perasaan penulisnya. Dalam arti ini, puisi menjadi sosok kembar sang pengarang. Namun saya ingin menegaskan bahwa kompleksitas sebuah puisi tidak mungkin dirujuk sepenuhnya pada biografi sang pengarang yang tengah dilanda perasaan tertentu (jatuh cinta, bahagia, kecewa, marah, rindu, dan sebagainya). Juga tidak pada pikirannya yang tengah disusupi aneka problem, misalnya. Banyak puisi yang lahir begitu saja dari pohon imajinasi, muncul seperti daun dan bunga di musim semi.
Dalam pemahaman seperti ini, tidak setiap puisi memiliki hubungan dengan kenyataan yang terasakan atau terpikirkan, yang di dalamnya telah mengandung makna secara inhern. Justru tugas puisi ialah, dalam bahasa Riffaterre, creating of meaning (menciptakan makna). Dan tidak ada makna yang lebih agung dari sesuatu yang berada di luar pikiran dan perasaan manusia yang nisbi. Maka kehadiran Sang Penyair menjadi syarat bagi sebuah puisi agung. DIA -lah yang menulis, sedangkan si penyair hanya perantara, media yang mengantarkan suara Sang Pemilik makna. Dalam buku ini banyak puisi Heri yang merupakan ungkapan ketundukan seorang hamba kepada Sang Khaliq, kepasrahan hidup yang fana pada keabadian. Salah satu contoh puisi seperti itu ialah Perjalanan ke Mihrab 45.
Para teoritikus sastra pada umumnya bicara soal makna, tapi melupakan potensi makna, yang mengelilingi sebuah puisi. Maksud saya, makna terdapat dalam lipatan-lipatan teks, sementara potensi makna berada di luar teks. Kalau bukan dengan pemahaman seperti ini niscaya kita akan kesulitan membaca bait terakhir puisi Heri yang berjudul Perjalanan tersebut karena pesan yang terlahir lebih dari apa yang disampaikan. Berikut penggalan puisi tersebut:
Tak ada perayaan untukmu
karena jalan masihlah panjang
terus dan teruslah
beribu mihrab menunggu di ujung sajadah
Atau bait pertama dari puisi berjudul Kidung Petang Bharata Pura ini:
Bernyanyilah petang di jalan sunyi
hening melukis langit bermandi tembaga
seekor belibis rindu sarang
dan burung-burung kuntul tak lelah
mematuk paruh di kemilau Bharata Pura yang bisu
Sebagian puisi Heri dapat dibaca secara normatif, namun sebagian lagi mengajak kita bertamasya dalam labirin semiotika dimana tanda jejaknya harus ditafsir secara hati-hati. Setiap objek, ide, situasi, merepresentasikan makna tersendiri yang bekerja dalam jalinan teks puisi. Tujuannya menciptakan kejutan, paradoks, penajaman makna, atau pemerkayaan pesan yang hendak disampaikan.
Karena tanda tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari tanda-tanda lainnya, maka sebuah puisi kadang menjadi jebakan bukan saja bagi pembaca yang menafsir namun juga bagi sang penyair. Penyair yang tidak hati-hati dalam menjalin tanda akan menyajikan puisi yang retak, cacat, bahkan anarkis. Pembaca sendiri akan terjerumus ke dalam lorong gelap tanpa pintu. Sebagian besar puisi Heri berhasil keluar dari jebakan ini. Namun pada beberapa puisi ia tampaknya, entah sengaja atau tidak, lebih menampakkan subjektivitas yang sebenarnya cukup berbahaya bagi pembacaan umum. Puisi yang bernada politik niscaya kurang mampu melejitkan cakrawala imajinasi dan menampung keragaman sudut pandang.
Puisi sebenarnya adalah campuran antara yang bukan puisi dan puisi itu sendiri. Gagasan yang kita sampaikan, posisi kita dalam sebuah peristiwa atau isu, intensi atau niat kita menyampaikannya — semua itu berada di luar puisi, bukan puisi, atau istilah resminya ekstra estetika. Sedangkan “yang puisi” itu sendiri, atau lingkaran estetika, mencakup semua unsur lahir-batin yang membentuk puisi seperti penyusunan larik dan bait, pemilihan diksi, gaya bahasa, rima, irama, alur, daya gugah, daya pikat, daya cekam, keharuan, imajinasi, dan unsur inovasi.
Tidak semua orang berhasil masuk ke dalam lingkaran estetika ini dengan gemilang. Bahkan mereka yang sudah terbiasa menulis puisi, atau penyair, kadang masih termangu-mangu di beranda depan lingkaran estetika. Lihat saja bagaimana beberapa waktu lalu banyak orang yang tiba-tiba menjadi penyair yang menulis puisi tandingan untuk puisi berjudul Ibu Indonesia karya Sukmawati Sukarnoputri yang menghebohkan itu. Ramai-ramai menulis puisi untuk sekadar menghujat. Jadilah puisi seperti slogan-slogan kampanye yang dijejali banyak narasi di luar daya tampung puisi itu sendiri. Jadilah puisi seperti retorika atau propaganda yang dipenuhi semua hal, kecuali puisi itu sendiri.
Sebagai seorang penyair yang telah melahirkan banyak karya, saya melihat Heri Mulyadi cukup piawai dalam menjalin kata, mencipta makna, merangkai pesan, membawa masuk unsur-unsur ekstra-estetika ke dalam tubuh puisi dengan halus dan cermat. Walhasil, sebagai seorang seniman yang menyerukan keindahan, Heri tampaknya tetap setia berada di dalam lingkaran estetika puisi sebagaimana saya maksudkan di atas. Selamat menikmati puisi-puisi sang penyair kelahiran Tanjungkarang, Lampung, ini.[]
Gedung Film, Oktober 2018
Ahmad Gaus AF, Dosen Sastra dan Budaya, Swiss German University (SGU) – Tangerang
Follow my IG: @gauspoem and get interesting prizes every weekend
Jika Anda berminat membeli buku ini sila hubungi penerbitnya: 082178522158
Selamat malam, Clara maukah kau temani aku sejenak saja menyusuri tepian pantai di sana atau sekadar bercengkrama di dermaga menunggu saat purnama tiba di seberang jembatan Sukarno
Aku ingin mendengar sekali lagi deru nafasmu yang terengah seperti isyarat bahwa ada sesuatu yang tengah berubah
Di lorong-lorong kota seribu gereja menunggu sebuah lilin yang masih menyala lonceng-lonceng makin keras dibunyikan ayat-ayat suci makin keras dibacakan udara kota berhimpitan
Maka kau harus terus menjaga agar api itu tetap menyala sebab kalau sampai padam seluruh kota ini akan gelap gulita lalu kau mau ke mana mange wisa ko, Clara?
Manado, 28 Oktober 2018 Ahmad Gaus penulis, aktivis
Deklarasi Sumpah Pemuda Milenial oleh Jaringan Komunitas Bela Indonesia (KBI), di Jembatan Sukarno, Manado, 28 Oktober 2018
akhirnya kujumpai kau di sini
di atas sungai batang arau
sebuah jembatan terbentang
menghubungkan bukit hijau
dan masa lampau
yang mengambang di udara
deretan kisah lama masih ada tragedi dan roman airmata gedung-gedung tua yang berhimpitan di sepanjang tepian kupandangi lagi matamu, bibirmu rambutmu yang dipintal cakrawala
kapal-kapal datang dan pergi tapi engkau tetap berdiri bertahan dengan cintamu di ambang waktu
Padang, 14/10/18
Pantai Padang– di bukit sana terletak makam Siti Nurbaya, tokoh legendaris dalam roman karya Marah Rusli.
Specks of dust in the night sky kept my loneliness in company. The moon sits perfectly in the window. Reluctantly contemplating to deliver message from the lover – who is the horizon.
I imagine he comes up to me, bringing about an influx of deafening silence in my chest. Calling back seagulls, who flew miles away to another bay to make love. Reminiscing memories buried in sand and stone. In my shore the mist sleeping so soundly. Coral reefs stood still waiting, and endlessly waiting for the souls Souls who can resuscitate them with new life
My tongue is squeezed under the foam. Words cross the island, and they are worn out for carrying the truth And finally, place them under the rainbow stairs when strong winds hit the beach in the afternoon.
Accordingly, tonight my song flowed into the still lake. Because, who else can play such beautiful a tone other than silence, and who else can blink a life soul other than the clear eyes.
It’s been three days my bird in the cage doesn’t want to eat. And last night, when I gave food, he refused it smoothly. “I’m not hungry. I just need a pen.” I was surprised to hear that request. “What for?” I ask. “I want to write a biography.” Then I put the pen in the cage.
In the morning I found the bird lying lifeless. On the wings a sign reads: “Lord, my life and death are yours. Today I return everything to you, except these wings. Give them to those who crave freedom.”
Bandung, September 15, 2018
Ahmad Gaus is a writer and social activist. His activities is around tolerance and religious freedom. His dream is to let go of all the birds in cages all over the world. He wrote a number of poems in two anthologies: I Await You on Cisadane River (2013) and Twilight in Jakarta (2017). He also teaches language and culture courses at Swiss German University (SGU) in Tangerang, Indonesia. Besides writing poetry, he also wrote in social, cultural, religious, and political issues.
———————————————————————————————————–
Caged Bird – Poem by Maya Angelou
The free bird leaps
on the back of the wind
and floats downstream
till the current ends
and dips his wings
in the orange sun rays
and dares to claim the sky.
But a bird that stalks
down his narrow cage
can seldom see through
his bars of rage
his wings are clipped and
his feet are tied
so he opens his throat to sing.
The caged bird sings
with fearful trill
of the things unknown
but longed for still
and his tune is heard
on the distant hill
for the caged bird
sings of freedom
The free bird thinks of another breeze
and the trade winds soft through the sighing trees
and the fat worms waiting on a dawn-bright lawn
and he names the sky his own.
But a caged bird stands on the grave of dreams
his shadow shouts on a nightmare scream
his wings are clipped and his feet are tied
so he opens his throat to sing
The caged bird sings
with a fearful trill
of things unknown
but longed for still
and his tune is heard
on the distant hill
for the caged bird
sings of freedom.
About the Author
Maya Angelou
Born on April 4, 1928, in St. Louis, Missouri, writer and civil rights activist Maya Angelou is known for her 1969 memoir, I Know Why the Caged Bird Sings, which made literary history as the first nonfiction best-seller by an African-American woman. In 1971, Angelou published the Pulitzer Prize-nominated poetry collection Just Give Me a Cool Drink of Water ‘Fore I Die. She later wrote the poem “On the Pulse of Morning”—one of her most famous works—which she recited at President Bill Clinton’s inauguration in 1993. Angelou received several honors throughout her career, including two NAACP Image Awards in the outstanding literary work (nonfiction) category, in 2005 and 2009. She died on May 28, 2014.
Zombies build cities from the ground up in the holy human soil. After such a great war, in which they undoubtedly trounce over humans, authority has changed hands. New rules are born. Laws are enforced way above zombie values. Values pouring from the fresh blood of corpses that roam; from the dead who sought revenge.
Who is responsible for all this? Where earth must be rescued from the breeding of new zombies; from an energy so bleak vandalism, terrorism, fanaticism all interwoven in their nature.
Humans have nowhere to evacuate but to prepare for the next war. We are to reclaim the ancestral land back from them. The land they so disgustingly set foot on is now enclosed by the unwanted debris of zombies who roamed into human bodies.
While new buildings are erected from piles of decapitated heads, the streets are made from loose hands. And the lights were removed from the eyes hung on the roadside poles.
The whole city is now under their control. We are to transform ourselves into super-zombies to defeat them. Or else, we shall require help from the almighty extraterrestrials They who can attract all religious doctrines Doctrines which have turned humans into zombies in the first place.
— a poem by ahmad gaus
****
“Di dunia ini ada kekuatan hitam, ada kekuatan putih. Kamu pilih yang mana untuk membantu mewujudkan impian-impianmu? Tapi ingat, setiap pilihan akan membawa akibat pada kehidupanmu.”
Perbenturan dua kekuatan hitam dan putih itu diwakili oleh dua karakter perempuan muda dalam novel Laura dan Burung Hantu, baca selengkapnya di sini: https://h5.novelme.com/bookinfo/18126
My body is a book — full of scribbles my friends write down all the events there with pencils, river water, gadgets, coffee shops social media, cinemas, and many more I don’t even have a slit to write my life story on my own body but yea, never mind after all, people won’t care except what they want to write on my body once upon a time I just followed a bird’s invitation fly and sing at the top of the tree here is more free, he said from a distance I get goose bumps watching my body get blackened full of scribbles.
My body is a book — full of scribbles my friends write down all the events there with pencils, river water, gadgets, coffee shops social media, cinemas, and many more I don’t even have a slit to write my life story on my own body but yea, never mind after all, people won’t care except what they want to write on my body once upon a time I just followed a bird’s calling to fly and sing at the top of the tree here is more free, he said away from a distance I get goose bump watching my body get filled full of scribbles.