Sekali waktu di tengah hujan kita bertemu di sebuah persimpangan bercerita tentang kehidupan kau bilang, sayap-sayapmu hilang dicuri kupu-kupu dalam perjalanan menuju tempat terjauh dalam hidupmu sedang perahuku patah dayungnya saat bertolak ke pulau yang belum pernah kutempuh dalam hidupku
Angin laut menyatukan kita kau ikat rambutmu di layar perahuku dan kusandarkan perahuku dalam tidurmu
Ombak begitu lama mercusuar tidak selalu menyala tapi masih ada isyarat samar-samar dari kelepak burung camar
Sayang, di darat pun tak ada peta sebab perjalanan ini memang buta itulah kenapa kita berpegangan tangan
Menanam flamboyan di tepi-tepi jalan menunggu bunganya berguguran seperti bulan dan menyerah begitu indah pada penderitaan
Kita tahu di sana ada keluh-kesah dan harapan teman abadi kerinduan
Tuhan, jika kerinduanku pada kekasih melebihi kerinduanku kepada-Mu ampuni aku! Sebab, aku bukan penguasa atas apapun yang terbersit di hatiku melainkan Engkau. Dan jika kecintaanku pada kekasih melebihi kecintaanku kepada-Mu maafkan aku! Sebab, aku juga bukan penguasa atas setiap rasa yang berdenyut di jantungku melainkan Engkau.
Dalam zikir-zikir yang kulantunkan untuk memuji nama-Mu tanpa sadar kusebut pula namanya. Jangan murkai aku, Tuhan, jika itu keliru! Sebab, tak mungkin dapat kugerakkan lidahku melainkan atas izin-Mu juga. Dan dalam sujud-sujud malamku untuk mengagungkan-Mu kuagungkan pula namanya di hatiku. Jangan kutuk aku, Tuhan walaupun mungkin menurut-Mu itu perlu!
Dari Engkaulah rindu dan cinta berhulu kepada Engkau pula kelak akan bermuara aku hanya pendayung waktu rindu dan cinta kupinta selautan rahmat-Mu untuk kekasih yang menunggu di ujung senjaku. Maka jadikanlah cinta ini sebagai amal saleh yang akan kujalani selama hidupku dan rindu ini sebagai ibadah yang akan kuamalkan sepanjang hayatku.
Karena Corona kau menjaga jarak
denganku
Bukan satu meter, tapi berpuluh-puluh
kilometer
Karena Corona kau bermuram durja
Padahal biasanya engkau selalu penuh
tawa
Karena Corona kau tak mau lagi
kucumbu
Padahal engkau penuh hasrat
menggebu
Aku memahami bahasa cintamu,
walau lebih halus dari virus Corona
Bersabarlah cintaku, sampai Corona
berlalu
Biar saja pemerintah me-lockdown
kota
Asal jangan kau lockdown cintamu
Is the love I gave her in the past
Gonna be enough to last.
(Ronan Keating, If Tomorrow Never Comes)
Bumi bertanya kepada langit, ‘benarkah ada cinta di antara kita?’
Beribu tahun lamanya langit tidak menjawab
Namun terus mengirimkan airmata
Agar kehidupan di bumi tetap ada
Kalau cinta ada di bibir cakrawala
Aku akan melumatnya hingga berdarah
Agar senja menetes indah
Di tubuh kita
Kalau cinta ada di mata purnama
Aku akan memeras selaputnya yang indah
Agar pagi meneteskan darah
Di jiwa kita
Bahkan seandainya esok hari tak pernah tiba
Dan cinta di dunia ini ternyata tidak pernah ada
Aku tetap ingin bersama
Aku mencintai kamu seperti aku mencintai buku Karena itu caraku membaca kamu tidak jauh berbeda dengan caraku membaca buku Menelusuri baris demi baris, halaman demi halaman Kalau sampai ada yang terlewat, akan banyak kehilangan.
Buku adalah jendela dunia, begitu juga kamu Melalui buku aku bisa keliling ke berbagai negeri dengan hanya duduk di perpustakaan Melalui kamu aku juga bisa mengenal seluruh perempuan di muka bumi tanpa harus mencumbui mereka satu persatu Sebab waktuku tidak akan cukup.
Sebagaimana buku memuat banyak bab, begitu pula kamu Setiap bab merupakan penjelasan dari bab yang lain Karena itu penting membaca buku dari pengantarnya supaya tidak bingung atau kehilangan konteks Itu pernah kualami, saat membacamu langsung dari bab kesimpulan Akhirnya aku tidak mengerti apapun tentang kamu Tapi itu salah kamu juga, sih Tidak menyediakan daftar isi atau indeks tentang dirimu Sehingga aku sering terjebak pada bab yang tidak kusukai, seperti bab marah, bab cemburu, dan semacamnya.
Belakangan aku sedih karena buku kalah bersaing dengan media sosial Orang-orang lebih suka update status daripada membaca buku Era orang mencari pengetahuan melalui buku tampaknya sudah lewat Kini media sosial menawarkan sesuatu yang lebih memuaskan hasrat agresi manusia, yaitu hoaks
Teknologi digital juga telah membuat buku terdesak ke pinggiran Banyak penerbit sudah gulung tikar Lama kelamaan mungkin buku akan hilang dari muka bumi, entahlah
Tapi itu hanya kesedihanku belaka Kamu mungkin malah senang karena kehilangan saingan beratmu, yaitu buku-buku yang sering ada di bawah bantalku.
Kalau tidak ada aral melintang, nanti sore aku akan menemuimu Untuk menyatakan cinta Bukankah kau telah menunggu masa itu Dalam kesunyian ratusan tahun bunga mawar Maka berdirilah di pintu masa kanak-kanakmu Sambut aku dengan mata coklatmu Atau tikam aku dengan nyanyian masa lalu Yang kau tirukan dari suara burung hantu
Masa lalu berjalan seperti awan yang bersembunyi di ranting malam Sekali waktu menyusup ke balik gaunmu dan membuat aku cemburu Mengalun lirih seperti suara gerimis diterpa angin petang Tapi tiba-tiba engkau menangis ketika gerimis menjelma Hujan lebat yang mengoyak-ngoyak rambutmu
Bulan Desember memang bukan saat yang tepat untuk menyatakan cinta Sebab angin bulan ini terlalu kencang Menerbangkan atap gedung dan merobohkan pohon angsana Apatah lagi cuma sekuntum bunga mawar di tanganku Sekali hentak saja cintaku bisa hancur berkeping-keping
Harusnya memang aku bersabar menunggu bulan Juni Ketika rintik hujan turun begitu pelan dan pedih Seperti dilukiskan dalam puisi Hujan Bulan Juni oleh penyair Sapardi Djoko Damono Kerinduan dibiarkan menjadi rahasia alam yang tak pernah terucapkan Kerinduan begitu arif, begitu bijak
Tapi aku tidak akan setabah hujan bulan Juni Bahkan diam-diam aku berharap hujan turun lebih deras dari biasanya Supaya ada alasan untuk tidak menyatakan cinta Yang kutunggu hanyalah waktu yang tepat Untuk menyelipkan cinta pada pita rambut kanak-kanakmu Agar dengan begitu engkau tetap abadi dalam waktu.
Puisi di bawah ini dibacakan di acara resepsi pernikahan Yuan dan Pri (dalam foto ini), rekan kerja saya di Lembaga Sensor Film/LSF, pada 22 Oktober 2016 — GOR Sunter, Jakarta Utara.
Cinta dan Pernikahan
Puisi Ahmad Gaus
CINTA itu satu tapi banyak
ia menyatu tapi berserak
seperti ribuan gerimis di senja hari
yang diserap warna pelangi.
BETAPA bahagia sepasang kekasih
disatukan dalam ikatan cinta
lebih bahagia jika mereka mampu
melepaskan ikatan-ikatan itu
dan merajutnya menjadi sayap-sayap merpati
yang membawa mereka terbang bersama
ke langit tinggi.
CINTA itu melepaskan, bukan membelenggu
jika engkau mencintai kekasihmu
jangan meminta dia bersimpuh di kakimu
pinanglah kekasihmu sebagaimana engkau
meminang impianmu
yang kau lukis menjadi kupu-kupu
bermata salju, bersayap langit biru.
SEPASANG kekasih menabur cinta sepanjang jalan
permadaninya ayat-ayat Tuhan
istananya surga di ketinggian
karena cinta itu setinggi-tinggi kebenaran
bila perjalanan telah sampai di pintu kematian
setiap kekasih akan dimintai pertanggungjawaban.
PERNIKAHAN adalah kebersamaan yang berjarak
biarkan ia seperti itu
supaya engkau tetap memiliki dirimu
dan kekasihmu tidak kehilangan dirinya.
JANGAN menghidangkan seluruh cintamu di meja makan
sebab semua akan dilahap habis lalu dilupakan
yang harus kau berikan cinta itu
bukan hanya mulut kekasihmu
tapi juga matanya, telinganya, jiwanya, pikirannya, hatinya
sampai dia tidak memintanya lagi
sampai engkau tidak perlu memberinya lagi
sebab dia tahu bahwa hidupmu adalah cinta itu sendiri