Pro-Kontra Islam Nusantara

Kuliah Twitter seputar Pro-kontra Islam Nusantara
Oleh Ahmad Gaus AF — penulis, aktivis, dosen ilmu kebudayaan
isnu
Salah satu buku yang diterbitkan sebagai referensi mengenai Islam Nusantara

1. Hari-hari ini pro-kontra Islam Nusantara kembali mencuat. Beberapa daerah di Sumatera terang-terangan menolak Islam Nusantara. Untuk menanggapi isu tersebut saya mau kultwit sedikit, sekadar apresiasi dan kritik. Yang berminat silakan gelar tikar. Siapkan kopi (+ rokok). 🙂 Tagarnya: #Isnus

2. Islam Nusantara adalah Islam yang beradaptasi dengan budaya lokal — budaya khas Nusantara dan tidak ada di kawasan-kawasan Islam lain seperti Arab dan Timur Tengah, Asia Tengah, dan lain-lain. #Isnus

3. Hasil adaptasi Islam dan budaya Nusantara telah melahirkan — misalnya — tradisi lebaran, tabuh beduk, ketupat lebaran, halal bihalal, sarung, dll. Itulah #Isnus

4. Konsep #Isnus merefleksikan kerendah-hatian Islam dalam melihat budaya setempat sebagai produk sejarah panjang dan telah melahirkan adat, norma, sistem sosial, dan sebagainya. Maka ada kaidah fikih, al-adat muhakkamah (adat dapat menjadi hukum), artinya tidak harus hukum Islam. #Isnus

5. Faktanya ada Islam Sunda, Islam Jawa, Islam Ambon, dll, yang merupakan ekspresi kultural. Ini bukan aliran Islam tersendiri. Sebab sistem tauhid dan peribadatannya sama belaka. #Isnus

6. Menurut cendekiawan Minang, Prof Azyumardi Azra, filosofi “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” adalah contoh refleksi Islam Nusantara. Islam datang dan menyebar melalui proses pribumisasi. #Isnus

7. Dengan begitu #Isnus berarti membumikan Islam di kawasan Nusantara, agar agama ini bersenyawa dengan — dan memiliki akar dalam — budaya setempat. Sehingga Islam dan budaya saling mengisi, bukan saling menolak atau bersaing yang akan melahirkan konflik.

8. Budaya lokal sudah ada sebelum agama Islam masuk, bagaimana mungkin Islam mau menyainginya? Lebih produktif kalau bersinergi dalam proses akulturasi dan asimilasi, sehingga lahir peradaban hibrid yang menunjukkan kekayaan sebuah bangsa. #Isnus

9. Akulturasi ialah ketika Islam sebagai unsur asing datang ke Nusantara dan berjumpa dengan budaya setempat. Budaya setempat mau menerima dan mengolahnya menjadi budaya sendiri. Masjid Menara Kudus adalah contoh akulturasi di mana Islam berpadu dengan budaya Hindu yang sudah lama ada. #Isnus

10. Asimilasi ialah ketika Islam yang dari tanah Arab diterima sebagai agama di Nusantara tapi unsur-unsur  budaya Arabnya tidak. Maka Muslim Indonesia berislam dengan budaya mereka sendiri. Lebaran dan opor ayamnya adalah contoh asimilasi ini. #Isnus

11. Tentu saja sebagai nilai, Islam itu universal dan kosmopolitan. Tapi sebagai realitas sosial ia akan harus menyesuaikan diri dengan konteks budaya lokal. #Isnus

12. Dulu dakwah Wali Songo bisa diterima oleh masyarakat karena mereka memanfaatkan budaya lokal Nusantara seperti wayang. Maka proses islamisasi yang sukses di Nusantara sebenarnya berutang budi pada budaya-budaya Nusantara. #Isnus

13. Dengan kata lain, Islam Nusantara ialah Islam yang mengakar pada budaya-budaya Nusantara yang beragam, sehingga artikulasi budaya Islam bisa berbeda di berbagai wilayah, namun mereka dipersatukan oleh tauhid yang sama.

14. Budaya-budaya Nusantara yang beragam memberi corak tersendiri pada wajah Islam di sini, yang memperlihatkan pluralitas. Majalah Time menyebut “smiling Islam” (Islam yg tersenyum),  moderat dan toleran. Bukan wajah Islam yang marah seperti di wilayah-wilayah konflik di Timur Tengah. #Isnus

15. Kawasan Islam Arab dan Islam Persia pernah tumbuh menjadi kawasan peradaban yang tinggi. Tapi kawasan Islam Nusantara belum melahirkan peradaban yang tinggi (kecuali dalam tingkat tertentu, peradaban literasi). Inilah tantangan #Isnus.

16. Apakah saya setuju sepenuhnya dengab gagasan #Isnus ini? Secara substansi saya sangat setuju. Sebab inilah wajah Islam yang masih dapat diharapkan mampu memberi sumbangan pada perdamaian dunia. Namun sebagai konsep saya meragukan validitasnya. Mengapa?

17. Menurut Wikipedia, Nusantara is a Javanese word (istilah Jawa).. based on the Majapahit concept of state. Tidak heran kalau pihak yang kontra mengatakan bahwa Islam Nusantara adalah Jawa. #Isnus

18. Menurut Wikipedia, kawasan Nusantara meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina. Setelah Majapahit runtuh, maka yang disebut Nusantara telah menjadi kawasan geopolitik imajiner. #Isnus

19. Maka problem Islam Nusantara ialah terminologi, dari politik ke budaya. Tidak mudah menghilangkan trauma hegemoni politik Jawa atas wilayah-wilayah lain. Dan ini yang terbaca dari penolakan Sumatera atas gagasan #Isnus.

20. Di Malaysia, istilah nusantara berkonotasi budaya, sedangkan istilah melayu berkonotasi politik. Tapi di Indonesia justru sebaliknya. Maka istilah Islam Nusantara secara psikologis masih dipahami sebagai perpanjangan politik Jawa dan jawanisasi. #Isnus

21. Mempertimbangkan istilah atau kata amatlah penting dalam membangun konsep karena di dalamnya ada discourse. Seperti kata Konghucu, “semua tergantung istilah;” atau “kata membangun dunia” (Freire); atau “pada mulanya adalah kata” (Bibel), atau Pertama-tama ialah nama (QS 2:31). #Isnus

22. Kalau yang ingin dituju oleh konsep Islam Nusantara ialah menampilkan aspek budaya-budaya Islam di Indonesia, maka istilah “Islam Melayu” atau “Islam Melayu-Nusantara” sebetulnya lebih memadai secara konseptual. #Isnus

23. Bahasa Melayu sejak dulu telah menjadi bahasa kawasan. Penyebaran Islam di kawasan ini pun menggunakan bahasa Melayu. Bersamaan dengan itu budaya Melayu telah menjadi bagian penting dari budaya umat Islam di seluruh Indonesia. #Isnus

24. Budaya Melayu adalah satu-satunya budaya yang paling potensial untuk dikembangkan sebagai budaya kawasan. Saya pernah membahas ini dalam seminar di Pekan Baru, Riau. Ini link-nya:

25. Akhirnya, soal pro-kontra Islam Nusantara  ini saran saya: jangan menerima membabi buta. Jangan juga menolak asal menolak tanpa memahami substansi yang ditolak. Apalagi menyebar hoax yang aneh-aneh tentang #Isnus, Kata pepatah: “Annasu aduwwun limaa jahilu” (manusia itu musuh atas apa yang tidak diketahuinya).

26. Demikian kuliah singkat saya tentang Islam Nusantara #Isnus. Terima kasih atas atensi, retweet, dan respon semua tweeps. Semoga bermanfaat. Sekarang izinkan saya kembali menikmati lagu-lagu Melayu kesukaan saya: “Selayang Pandang”:

 

[Poem] The Dream

 

rain

 

THE DREAM

 

When I sat at dawn

Searching for the remnants of my dream last night

The shadow of your wings

The beauty of your voice

Singing like a bird

Chase away my loneliness.

You’ve been singing in beauty

And I am the sky — echoing your voice in the wind

When it suddenly blew hard

My dreams fell to pieces.

But I did not despair

Picked them up

Over and over again

As I did not wanna lose you

Even though in my dream.

●●●

a poem by ahmad gaus

 

Sumber Ilustrasi:

 

[Puisi] Revolusi dalam Selimut

woman-sleeping-paris-19283419
Sumber Ilustrasi: https://www.dreamstime.com/royalty-free-stock-images-woman-sleeping-paris-image19283419

 

REVOLUSI DALAM SELIMUT

Orang hilang menempelkan poster dirinya di pusat keramaian. Pagi hari ketika penduduk sibuk membangunkan pasar yang tertidur di bawah jembatan layang. Seseorang melihatnya berlari mengenakan baju perang, lalu menyelinap ke dalam kamar.

Jendela masih asik bercakap-cakap dengan halaman. Berarti Tuhan sudah pergi pagi ini, pikirnya. Maka diambilnya pedang yang tergantung di dinding dan diselipkan ke dalam selimut. Ia pun tertidur sambil memeluk guling yang terbuat dari kulit perempuan.

Dalam mimpi di pagi hari itu ribuan orang mengeluk-elukkannya sebagai raja. Duduk manis di singgasana dan berkhutbah tentang azab Tuhan bagi siapa saja yang tertidur saat api revolusi dikobarkan. Kemudian ia membujuk orang-orang untuk memenggal kepala mereka dan menggantungkannya di pintu kota.

Waspadalah! Orang-orang saling menyapa dalam rupa manusia. Tapi di tubuh mereka tidak ada siapa-siapa, kecuali api yang ragu-ragu mau membakar kota atau dirinya.

 

16/5/2017

 

 

[Puisi] Menjaring Bayang-Bayang

Bogor4

MENJARING BAYANG-BAYANG

Aku dan bayang-bayangku adalah satu kesatuan
Ke timur atau ke barat, ke utara atau ke selatan
Kami selalu pergi bersama-sama
Tidak ada yang bisa memisahkan kami kecuali kegelapan

Di dalam gelap aku tidak pernah bertanya ke mana bayang-bayangku pergi
Dan dia tidak pernah peduli apa yang aku lakukan

Aku membutuhkan bayang-bayangku
Karena dia memberitahu aku tentang cahaya
Tapi aku juga takut dengan bayang-bayangku sendiri
Karena dia menjelmakan sisi yang paling gelap dari diriku

Aku dan bayang-bayang tidak pernah saling mengejar
Karena kami memahami posisi masing-masing
Kadang dia ada di belakang mengikutiku
Kadang dia di depan dan aku yang mengikutinya

Bayang-bayang selalu melekat padaku
Tapi aku tidak memilikinya
Dia adalah milik cahaya
Bahkan aku tidak mengenalinya
Hanya kegelapan yang mengenalinya dengan baik
Karena dia adalah anak kandung kegelapan

Cahaya dan kegelapan bersaing menjaring bayang-bayangku
Hasilnya adalah gambaran diriku dalam satu dimensi… gelap dan tidak utuh!
Itulah sebabnya aku tidak percaya pada bayang-bayangku sendiri
Walaupun aku tahu dia akan terus bersamaku
Sampai nanti aku mati

Catatan:
Puisi dibacakan dalam workshop Lembaga Sensor Film (LSF) “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now” di Ibis Styles, Bogor, 1 September 2018

Bogor1
Bersama Hasanuddin Ali (di samping kiri saya), penulis buku “Millennial Nusantara” yang menjadi salah satu narasumber dalam workshop LSF “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now”.
Bogor5
Bersama teman-teman LSF. Ketua LSF, Dr. Ahmad Yani Basuki duduk di tengah (berjaket hitam)

 

Contemporary Islamic Discourse in the Malay – Indonesian World

???????????????????????

Foreword for book launch
“Contemporary Islamic Discourse in the Malay – Indonesian World”
By Dr. Azhar Ibrahim
Select Bookstore 51 Armenian Street, Singapore 179939
Friday, 27 Dec 2013

THRU this forum I would like to express the highest gratitude to my colleagues, Dr. Azhar Ibrahim for his book launching “Contemporary Islamic Discourse in the Malay-Indonesian World”. This book is an ocular proof of the intellectual relations than increasingly productive between Malayan people especially between Singapore and Indonesia.

I know Dr. Azhar Ibrahim since 7 years ago in a discussion in Jakarta between The Reading Group Singapore and Indonesian activist. On that time, Singaporean friends brought their ideas about progressive Islamic, which is Islam that reveals the intellectuality, pluralistic, and future oriented not just from past as is became conservative or salafi characteristics.

azhar ibrahim
Dr Azhar Ibrahim Alwee

On the same time, the politics and religious in Indonesia was busy with the inter-group conflict between the radical and progressive. The radical group wants to impose the Islamic symbols to public, including creates the standard of living of the people and nation based on the Islamic Shari’a. The progressive group seen it as a threat for Indonesia where in this nation has many religious views.

The radical group did sweeping to the nightclubs which is considered as a sinner place. They also show the intolerant between other religions. In the last few years we’ve record that this radical group has been doing a physical attack to the Ahmadiyah, Syiah and others. Up to now hundreds of Ahmadiyah and Syiah followers are still in the refuge places because their villages were destroyed.
Other than radical Islamic, Indonesia is also facing the terrorism issues. If the radical Islamic movement and its organization are easily seen because it is live in the society, but it is very difficult to trace terrorism, let alone by the activists like us, even the state intelligence is often missed. They are only seen after the bomb exploded. And their movement is a cross-country (tran-national).

We, Indonesian activist, are often exchange our ideas and experiences with the activists of The Reading Group Singapore, including Dr Azhar Ibrahim. Our concern is how to build a network that enables the progressive Islamic movement into a mutual movement. We try to make the voice of the progressive group be heard out loud, louder than the conservatives and radical. Our goal is to show the face of Islam is tolerant, friendly, and open. Islam is neither angry nor hard.

Due to the religious violence has becoming a global problem, therefore one of the ways to deal with it is by building the broadest possible network. What has been done by our friends from the Reading Group is developing the nodes of a progressive Islamic power among the civil society. They have built that network in Singapore, Indonesia, Malaysia, Thailand, and Philippine.

Dr. Azhar Ibrahim’s book is a review of those activities. I belief that this book will provide a valuable contribution to build the strength of moderate Islamic in the countries that I have mentioned before.

booklaunch

Once again I would like to congratulate Dr Azhar over his great book, and also for my friends the activist of the Reading Group for all you have done. The road is still long. Let us continue to learn and work

THANK YOU,
Ahmad Gaus

Contemporary islamic

Indonesia Lahir dari sebuah PUISI

f-hormat

Indonesia Lahir dari sebuah Puisi
Catatan Ahmad Gaus

Sosok negeri bernama Indonesia belum terbayang di benak Muhammad Yamin ketika ia menulis puisi berjudul Tanah Air pada tahun 1920. Konsep tanah air Indonesia boleh jadi masih terlalu abstrak, walaupun ide-ide tentang nasionalisme mulai dikumandangkan sejak awal abad ke-20. Bahkan, jika nasionalisme dikaitkan dengan kehendak untuk bebas dari penjajahan, puisi Yamin tidak mengekspresikan kehendak tersebut. Ia hanya bertutur tentang keindahan alam tanah airnya, yakni Sumatera. Mengapa Sumatera, tentu saja karena Yamin lahir di pulau yang dulu dikenal dengan sebutan Swarnadwipa (pulau emas) itu, tepatnya di Sawah Lunto, pada 24 Agustus 1903.

Yamin telah mulai memupuk karirnya sebagai penulis di usia belasan tahun. Karya-karya pertamanya dipublikasikan dalam jurnal berbahasa Belanda, Jong Sumatera. Namun Yamin menulis dalam bahasa Melayu, dan ini dinilai sebagai bentuk kepeloporannya dalam merintis penggunaan bahasa Indonesia yang kelak diikrarkan sebagai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda II, 1928 di Jakarta.

Puisi berjudul Tanah Air dimuat di Jong Sumatera Nomor 4 Tahun III, 1920. Puisi ini dianggap penting oleh para pengamat sastra karena merupakan karya pertama yang mencoba keluar dari pakem puisi lama yang lazim ditulis dalam empat larik pada setiap baitnya, sementara Yamin menulisnya dalam sembilan larik. Dan lebih penting lagi, puisi Tanah Air termasuk karya sastra generasi pertama yang mengangkat tema kebangsaan, walaupun dalam pengertian yang masih berkonotasi kedaerahan. Berikut adalah puisi Tanah Air:

Pada batasan bukit Barisan
Memandang aku, ke bawah memandang
Tampaklah Hutan rimba dan ngarai
Lagipun sawah, sungai yang permai
Serta gerangan lihatlah pula
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk daun kelapa
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku.

Sesayup mata, hutan semata
Bergunung bukit, lembah sedikit
Jauh di sana, disebelah situ
Dipagari gunung, satu persatu
Adalah gerangan sebuah surga
Bukannya janat bumi kedua
Firdaus Melayu di atas dunia!
Itulah tanah yang kusayangi,
Sumatera, namanya, yang kujunjungi.

Pada batasan, bukit barisan,
Memandang ke pantai, teluk permai
Tampaklah air, air segala
Itulah laut, samudera Hindia
Tampaklah ombak, gelombang pelbagai
Memecah kepasir lalu berderai
Ia memekik berandai-randai:
“Wahai Andalas, Pulau Sumatera,
“Harumkan nama, selatan utara !”

Puisi itu terdiri dari tiga bait dan masing-masing baitnya memuat sembilan larik. Bentuk ini sudah keluar dari konvensi persajakan tradisional seperti syair atau pantun yang setiap baitnya terdiri dari empat larik dan taat pada keharusan memuat sampiran pada dua larik pertama dan isi pada dua larik terakhir. Eksperimentasi ini telah berhasil membangun pola estetika tersendiri yang membuat perbedaan dengan pola estetika pantun dan syair dalam puisi lama.

Perubahan itu memang tidak bersifat radikal dalam arti memutus sama sekali pola persajakan dengan tradisi sebelumnya karena kita masih bisa merasakan rima sajak pada beberapa lariknya, misalnya kalau kita penggal larik-larik itu dengan tanda “/” maka akan terasa rimanya: Sesayup mata/hutan semata. Bergunung bukit/lembah sedikit. Atau larik ini: Pada batasan/bukit barisan. Memandang ke pantai/ teluk permai.

Yamin

Bukan soal besar apakah Yamin sengaja membiarkan pengaruh persajakan tradisional mewarnai puisinya, ataukah ia memang dengan sadar tidak hendak meninggalkan sama sekali tradisi puisi lama. Yang jelas, dengan puisi Tanah Air itu Yamin telah merintis tradisi sastra Nusantara yang mengarah ke bentuk yang lebih modern.

Memang ada pandangan berbeda mengenai kedudukan puisi Yamin, termasuk puisi-puisinya yang lain selain Tanah Air. Teeuw, misalnya, mengatakan bahwa puisi-puisi Yamin belum memperlihatkan corak puisi modern… terjebak klise… dan ulangan-ulangan yang tak ada artinya.1) Namun demikian, para pengamat pada umumnya menganggap wajar hal itu terjadi karena tidak mudah memutus sama sekali tradisi puisi lama yang telah mapan sebelumnya, terutama pola pantun dan syair.2)

Pada tahun 1922, puisi Tanah Air diterbitkan dalam sebuah buku dengan judul yang sama, dan merupakan buku puisi modern Melayu pertama yang pernah diterbitkan.3) Di dalam buku ini dimuat 15 puisi masing-masing terdiri atas dua bait dan masing-masing baitnya memuat sembilan larik. Jadi di usianya yang belum genap 20 tahun Yamin telah menjadi penyair perintis bagi kelahiran tradisi baru puisi Nusantara. Di masa kemudian puisi-puisi Yamin muda juga diterbitkan dalam sebuah buku Armijn Pane yang memuat judul-judul: Permintaan, Cita-cita, Cinta, Asyik, Pagi-pagi, Gembala, Awan, Tenang, Gubahan, Perasaan, Keluhan, Ibarat, Kenangan, Gamelan, Gita Gembala, Kemegahan, dan Niat.4)

Puisi Tanah Air memang belum secara ekspisit menyebut “Indonesia”. Nama Indonesia muncul pada tahun 1928 sebagai kelanjutan dari kesadaran nasionalisme yang makin sering disuarakan oleh kalangan penulis dan kaum intelektual. Pada tahun ini Yamin menulis puisi Tumpah Darahku, dan di situ kata tanah air tidak lagi berkonotasi Sumatera tempat kelahirannya melainkan telah memperoleh wujud konkretnya sebagai kesatuan geografis yang hendak diperjuangkan untuk lepas dari penjajahan asing. Apa yang tergambar di benak Yamin tentang tanah air pada periode tersebut? Mari kita simak puisinya berikut ini:

Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gemunung bagus rupanya
Dilingkari air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya.

Lihatlah kelapa melambai-lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai-cerai
Memagar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengejar bumi ayah dan ibu
Indonesia namanya tanah airku

Pada puisi berjudul Tumpah Darahku itu kita memang masih merasakan nuansa musikal seperti pada puisi-puisi lama dalam beberapa akhir lariknya. Namun yang lebih penting sebenarnya isi dari puisi itu sendiri yang tidak lagi mendendangkan keindahan kampung halaman melainkan perasaan yang mengharu-biru pada keelokan sebuah negeri di garis katulistiwa. Konsep tanah air telah mengalami transfomasi makna dari pulau Sumatera menjadi sebuah kawasan bernama Indonesia. Estetika romantisme telah berganti wujud menjadi estetika heroisme dimana pesan politiknya sangat kentara sungguhpun puisi itu sejatinya mendendangkan keindahan bumi pertiwi.

Kongres Pemuda II tahun 1928 tercatat sebagai cikal-bakal kemerdekaan Indonesia. Tanpa peristiwa tersebut, konon, Indonesia tidak akan pernah lahir sebagai sebuah bangsa. Jika momen itu begitu penting, maka puisi Tanah Air karya Muhammad Yamin juga sama pentingnya, sebab ia menandai pergerakan zaman dari era kolonialisme menuju kemerdekaan. Teks Sumpah Pemuda jelas terbaca sebagai kelanjutan puisi Tanah Air karya Muhammad Yamin, sebab dialah yang merumuskannya.5) Teks Sumpah Pemuda itu berbunyi demikian:

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Rasa cinta Yamin yang mendalam pada tanah air (Sumatera) yang ditulis dengan nada romantis dalam puisi Tanah Air bersinggungan dengan gemuruh perjuangan di ranah politik nasional. Realitas itu mendorongnya untuk segera mengubah haluan romantisme kedaerahan menuju kesadaran nasionalisme yang lebih luas. Perubahan makna tanah air dalam puisi Tanah Air secara ekspisit tercermin pada larik Indonesia namanya tanah airku dalam puisi Tumpah Darahku.

Dua puisi Yamin itu memang harus dilihat dalam garis kontinum – puisi yang kedua merupakan kelanjutan dari puisi yang pertama. Sebab dalam teks Sumpah Pemuda yang dirumuskan Yamin, yang dimaksud bertumpah darah satu ialah tanah air, dan yang dimaksud tanah air ialah Indonesia.

Dalam garis kontinum itulah puisi Tanah Air berada di urutan pertama kategori puisi-puisi yang menyuarakan spirit nasionalisme,6) sekaligus memperlihatkan peranan penting karya sastra dalam mengukuhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

 

Catatan Akhir

1). A. Teeuw, Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru (Djakarta: Jajasan Pembangunan, 1953), hal. 51-53.

2). Suyono Suyatno, Juhriah, dan Joko Adi Sasmito, eds., Antologi Puisi Indonesia Periode Awal (Jakarta: Pusat Bahasa, 2000), hal. 15.

3). http://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Yamin

4). Armin Pane, Sajak-sajak Muda Mr. Muhammad Yasin (Jakarta: Firma Rada, 1954).

5). Dalam kapasitasnya sebagai sekretaris Kongres, Yamin bertugas meramu rumusan Sumpah Pemuda. “Rancangan sumpah itu ditulis Yamin sewaktu Mr Sunario berpidato di sesi terakhir kongres,” tulis Majalah Tempo edisi 2 November 2008 dalam artikel “Secarik Kertas untuk Indonesia”.

6). Lebih jauh mengenai puisi-puisi yang menyuarakan nasionalisme ini lihat, S. Amran Tasai, Maini Trisna Jayawati, dan Ni Nyoman Subardini, eds., Semangat Nasionalisme dalam Puisi Sebelum Kemerdekaan (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2002), hal. 98.

______________________________________________