Categories
Puisi

Puisi: Sehelai Kain dari Surga

bidadari

Sehelai Kain dari Surga
Puisi Ahmad Gaus

Kain itu dicuri dari surga
ketika bidadari melepas pakaiannya
dan mandi bersama para pangeran.

Seseorang yang cemas
bergegas membawanya pergi
membuat duplikat kain itu
dan menjualnya di toko busana.

Ini pakaian resmi para bidadari
jika engkau mengenakannya akan terhindar
dari api neraka, katanya.

Sejak itu, para pedagang
membuat kain-kain tiruan para bidadari
mencari uang dengan mengutip
ayat-ayat suci.

Para lelaki dengan mata jalang
menutup setiap inci tubuh perempuan
dengan nafsu yang bergolak.

Kita harus menyelamatkan perempuan
atau mereka menebarkan setiap helai rambutnya
jadi bara neraka, ujar seseorang.

Tubuh perempuan
menjadi tema khutbah
diseminarkan dengan penuh semangat.

Di atas cat walk
kaum perempuan tidak peduli
dengan tubuh mereka.

Sebagian mereka terbang
dengan sayap-sayap merpati
pulang ketika langit gelap gulita.

Sebagian lagi tidur di kolong jembatan
dengan baju compang-camping
tak peduli pakaian bidadari.

Di load speaker masjid
kaum lelaki terus saja menyuarakan kecemasan
ke mana perginya moral?

Mereka menghitung berbagai kerusakan
akibat aurat yang terbuka
Peradaban dibangun di atas sehelai kain
dunia dijelaskan dengan peraturan
yang dikalungkan di leher-leher
yang jenjang.

Ini zaman panas
setiap orang membawa api bagi yang lainnya
sedikit saja lengah engkau akan
dicemplungkan ke neraka jahanam.

Ini zaman monopoli
dalil dan kebenaran sudah direnggut
oleh otoritas moral
kaum perempuan tidak memiliki tubuhnya sendiri.

Di tempat-tempat ibadah
kaum perempuan tergolek tanpa busana
dikelilingi orang-orang berjubah
yang melukis tubuh mereka
pada halaman-halaman kitab suci.

Pesan-pesan wahyu diganti
dengan bara api yang dinyalakan
dalam pikiran mereka sendiri
kitab suci hanya tinggal huruf
dan sekumpulan teks
yang mati.

Banda Aceh, Januari 2012

Categories
Esai Puisi

[Esai] Membaca Puisi-puisi Gelap Afrizal Malna

Afrizal4

Memutus Tradisi Sunyi dan Luka
Membaca Puisi-Puisi Gelap Afrizal Malna
Catatan Ahmad Gaus

Puisi-puisi Afrizal Malna kerap dianggap menyimpang dari tradisi maupun wawasan estetika puisi yang pernah ada sebelumnya. Kefasihan penyair botak itu dalam memainkan kata-kata dan idiom-idiom yang digali dari khazanah dunia modern membedakannya dengan penyair lainnya. Ketika banyak penyair masih gamang menghadapi kemelut budaya industri dan teknologi, Afrizal memilih untuk bergelut di dalamnya dan menjadikannya sebagai kancah pergulatan estetik dan intelektualnya.1)

Zaman peralihan yang mengantarkan masyarakat dari budaya agraris ke budaya industri memang menimbulkan sejumlah anomali nilai dan sekaligus ketegangan eksistensial manusia di hadapan produk teknologi. Dan itu terutama dialami oleh masyarakat kota (urban) yang menjadi lokus perenungan Afrizal. Sebagai penyair, ia tidak berdiri di ruang hampa. Dan sebagai pewaris tradisi kepenyairan ia sendiri kerap tidak sungkan-sungkan mengakui wawasan estetikanya dipengaruhi oleh para penyair sebelumnya. Seorang budayawan bahkan mengatakan bahwa puisi-puisi Afrizal ialah hasil eksplorasi dari puisi Chairil Anwar dan Sutardji Calzoum Bachri.2)

Yang unik dari puisi-puisi Afrizal memang sudut pandangnya yang dominan pada dunia benda di lingkungan budaya modern (urban). Penyair melukiskan dunia modern beserta objek-objeknya sedemikian rupa sehingga menciptakan nuansa dan gaya puitik tersendiri.3) Karena ruang (kota) yang dipilihnya sendiri sebagai kancah pergulatan, dan ia menjadikan dirinya sendiri sebagai bagian dari “benda” di ruang itu, dan berdialog secara mesra dengan televisi, kabel, pabrik, hotel, pecahan kaca, maka ia tidak mengalami kesunyian atau terluka. Inilah yang menjadikan dirinya unik

Bisa dibilang, puisi-puisi Afrizal Malna adalah anti-tesis dari puisi-puisi tentang sunyi dan luka dari para penyair raksasa sebelumnya: sunyi yang duka dan kudus (Amir Hamzah), sunyi yang buas dan menderu (Chairil Anwar), dan sunyi yang absurd dan menyayat – sepisaupa sepisaupi, sepisausepi (Sutardji Calzoum Bachri). Jika mainstream puisi sunyi meneriakkan kegelisahan eksistensial aku-lirik, puisi-puisi Afrizal meneriakkan hak hidup seluruh makhluk yang bernyawa maupun tak, untuk mengada bersama.

Dalam puisi-puisi Afrizal, aku-lirik berubah menjadi aku-publik4) — lagi-lagi menjadi antitesis dari tradisi puisi sebelumnya — yang beranggotakan: televisi, bensin, coklat, saputangan, gerobak, sandal jepit, lemari, kucing, toilet, linggis, nenek moyang, panci, kartu nama, pabrik, sejarah, pipa air, parfum, popok bayi, dan nama-nama benda yang hanya biasa disebut dalam kamus, bukan dalam puisi. Benda-benda itu dihidupkan, dibunyikan, bahkan diberi loudspeaker.

Puisi Afrizal adalah puisi tentang keramaian dan kebisingan di supermarket, kios elektronik, jalan raya, jembatan, lobi hotel, bioskop, dan lain-lain. Apakah itu kebisingan yang sesungguhnya (sungguh-sungguh ramai) ataukah sekadar halusinasi sang penyairnya (Afrizal Malna), itu soal lain. Apakah sang penyair menikmati keberadaannya di tengah benda-benda yang bercampur dari masa lalu dan masa sekarang itu, atau justru refleksi dari rasa cemasnya, itu juga soal lain. Esai ini tidak berminat pada pendekatan psikologi. Di tengah gemuruh estetika kesunyian, kehadiran benda-benda yang ditabuh secara bersamaan itu menjadi penting, sebab ia berpotensi memutus tradisi sunyi dan luka dalam penciptaan puisi, dan lahirnya pergerakan baru dalam proses kreatif.

Afrizal01

Kita tahu bahwa resonansi Nyanyi Sunyi Amir Hamzah terus terbawa hingga ke masa-masa penulisan puisi kontemporer. Kesunyian dan luka menyelinap dengan perkasa ke alam bawah sadar para penyair. Ia menjadi melodi yang terus diperdengarkan dalam bait-bait puisi hujan, senja, angin, cemara, laut, pasar, masjid, hingga pabrik terompet. Puisi Afrizal memperdengarkan melodi yang berbeda. Sebab melodi itu diletakkan di dalam ruang yang berisik yang di dalamnya ada benda-benda lain, sehingga suara hujan tidak melulu terdengar sebagai ritme kesunyian.

Tentu saja puisi Afrizal tidak bebas sama sekali dari desah kesunyian, tetapi sunyi pada Afrizal bukan sunyi yang kudus, atau buas, atau absurd seperti pada para penyair sebelumnya, melainkan sunyi yang pejal, yang diisi oleh benda yang kongkret dan memiliki ukuran.5) Karena itu ia tidak mengelak dari sunyi dengan bersimpuh di hadapan Tuhan, sebab Tuhan sendiri ialah benda dalam puisinya. Ingat ketika ia berusaha meminjamkan “sebait tuhan” kepada penyair Sutardji Calzoum Bachri, dalam puisi “Matahari Bachri” — apapun makna konotasi dari frase itu.6)

Jika bagi para penyair seluruh ruang berisi tuhan, maka dalam puisi afrizal ruang ini berisi benda-benda, tuhan hanya salah satu di antaranya. Menarik bagaimana ia menyusun benda-benda itu dalam puisi-puisinya, memberi mereka hak untuk muncul ke permukaan dan dikenal sebagai bagian yang sah dari semesta dan perkembangan zaman. Untuk memahami amanat dalam puisinya mungkin harus mengetahui makna di balik benda-benda itu. Atau, jangan-jangan seperti Sutardji Calzoum Bachri yang membebaskan kata dari makna, Afrizal pun berusaha membebaskan benda dari kungkungan makna konvensionalnya.7) Berikut beberapa puisi Afrizal:

Warisan Kita

Bicara lagi kambingku, pisauku, ladangku, komporku, rumahku, payungku, gergajiku, empang ikanku, genting kacaku, emberku, geretan gasku. Bicara lagi cerminku, kampakku, meja makanku, alat-alat tulisku, gelas minumku, album foto keluargaku, ayam-ayamku, lumbung berasku, ani-aniku.

Bicara lagi suara nenek-moyangku, linggisku, kambingku, kitab-kitabku, piring makanku, pompa airku, paluku, paculku, gudangku, sangkar burungku, sepedaku, bunga-bungaku, talang airku, ranjang tidurku. Bicara lagi kerbauku, lampu senterku, para kerabat-tetanggaku, guntingku, pahatku, lemariku, gerobakku, sandal jepitku, penyerut kayuku, ani-aniku.

Bicara lagi kursi tamuku, penggorenganku, tembakauku, penumbuk padiku, selimutku, baju dinginku, panci masakku, topiku. Bicara lagi kucing-kucingku… pisau

1989

Masyarakat Rosa

Dari manakah aku belajar jadi seseorang yang tidak aku kenal, seperti belajar menyimpan diri sendiri. Dan seperti usiamu kini, mereka mulai mengira dan meyakini orang banyak, bahwa aku bernama Rosa.

Tetapi Rosa hanyalah penyanyi dangdut, yang menghisap keyakinan baru setelah memiliki kartu nama. Di situ Rosa menjelma, dimiliki setiap orang. Mahluk baru itu kian membesar jadi sejumlah pabrik, hotel, dan lintasan kabel-kabel telpon. Rosa membuat aku menggigil saat mendendangkan sebuah lagu, menghisap siapa pun yang mendengarnya. Rosa membesar jadi sebuah dunia, seperti Rosa mengecil jadi dirimu.

Ayahku bernama Rosa pula, ibuku bernama Rosa pula, seperti para kekasihku pula bernama Rosa. Mereka memanggilku pula sebagai Rosa, seperti memanggil diri dan anak-anak mereka. Dan aku beli diriku setiap saat, agar aku jadi seseorang yang selalu baru.

Rosa berhembus dari gaun biru dan rambut basah, dari bibir yang memahami setiap kata, lalu menyebarkan berlembar-lembar cermin jadi Rosa. Tetapi jari-jemarinya kemudian basah dan membiru, ketika menggenggam mikropon yang menghisap dirinya. Di depan layar televisi, ia menggenang: “Itu adalah Rosa, seperti menyerupai diriku.” Gelombang Rosa berhembus, turun seperti pecahan-pecahan kaca. Rosa menjelma jadi lelaki di situ, seperti perempuan yang menjelma jadi Rosa.

Rosa, tontonlah aku. Rosa tidak akan pernah ada tanpa kamera dan fotocopy. Tetapi kemudian Rosa berbicara mengenai kemanusiaan, nasionalisme, keadilan dan kemakmuran, seperti menyebut nama-nama jalan dari sebuah kota yang telah melahirkannya. Semua nama-nama jalan itu, kini telah bernama Rosa pula.

Hujan kemudian turun bersama Rosa, mengucuri tubuh sendiri. Orang-orang bernama Rosa, menepi saling memperbanyak diri. Mereka bertatapan: Rosa … dunia wanita dan lelaki itu, mengenakan kacamata hitam. Mereka mengunyah permen karet, turun dari layar-layar film, dan bernyanyi: seperti lagu, yang menyimpan suaramu dalam mikropon pecah itu.

1989

Mitos-mitos Kecemasan

Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang akan kembali membuat cerita, saat-saat kami kesepian. Kami telah belajar membaca dan menulis di situ. Tetapi kami sering mengalami kebutaan, saat merambahi hari-hari gelap gulita. Lalu kami berdoa, seluruh kerbau bergoyang menggetarkan tanah ini. burung-burung beterbangan memburu langit, mengarak gunung-gunung keliling kota.

Negeri kami menunggu hotel-hotel bergerak membelah waktu, mengucap diri dengan bahasa asing. O, impian yang sedang membagi diri dengan daerah-daerah tak dikenal, siapakah pengusaha besar yang memborong tanah ini. Kami ingin tahu di mana anak-anak kami dilebur jadi bensin. Jalan-jalan bergetar, membuat kota-kota baru sepanjang hari.

Radio menyampaikan suara-suara ganjil di situ, dari kecemasan menggenang, seperti tak ada, yang bisa disapa lagi esok pagi.

1985

Migrasi dari Kamar Mandi

Kita lihat Sartre malam itu, lewat Pintu Tertutup: menawarkan manusia mati dalam sejarah orang lain. Tetapi wajah-wajah Dunia Ketiga yang memerankannya, masih merasa heran dengan ke- matian dalam pikiran: “Neraka adalah orang-orang lain.” Tak ada yang memberi tahu di situ, bagaimana masa lalu berjalan, memposisikan mereka di sudut sana. Lalu aku kutip butir-butir kacang dari atas pangkuanmu: Mereka telah melebihi diriku sendiri.

Wajahmu penuh cerita malam itu, menyempatkan aku mengingat juga: sebuah revolusi setelah hari-hari kemerdekaan, di Peka- longan, Tegal, Brebes; yang mengubah tatanan lama dari tebu, udang dan batik. Kita minum orange juice tanpa masa lalu di situ, di bawah tatapan Sartre yang menurunkan kapak, rantai penyiksa, alat-alat pembakar bahasa. Tetapi mikropon meraihku, mengumumkan migrasi berbahaya, dari kamar mandi ke jalan-jalan tak terduga.

Di Ciledug, Sidoarjo, Denpasar, orang-orang berbenah meninggalkan dirinya sendiri. Migrasi telah kehilangan waktu, kekasihku. Dan aku sibuk mencari lenganmu di situ, dari rotasi-rotasi yang hilang, dari sebuah puisi, yang mengirim kamar mandi ke dalam sejarah orang lain.

1993

***

Barangsiapa mencari amanat dalam puisi-puisi di atas niscaya ia akan kecewa. Tapi untunglah rumusan sesuatu itu puisi atau bukan tidak terletak pada amanat yang bisa diserap. Ada hal lain yang lebih membahagiakan orang ketika membaca puisi yakni penghayatan yang intens terhadapnya. Bisa dimengerti atau membingungkan adalah ranah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa puisi, bagaimanapun, adalah bahasa yang dikreasi oleh penyairnya, bukan bahasa yang sudah lecek karena terlalu sering digunakan orang. Hanya karena sulit dimengerti, puisi-puisi Afrizal Malna kerap juga disebut sebagai puisi gelap, entah penyebutan itu berkonotasi positif atau negatif.

Adalah Sapardi Djoko Damono yang melihat adanya kesejajaran puisi Warisan Kita, yang dikutip di atas, dengan puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri dalam hal aspek bunyi yang menyerupai mantra. Menurut penyair senior itu, terdapat ketegangan antara tulisan dan ucapan dalam puisi-puisi Afrizal Malna. Namun ia juga menambahkan bahwa dua penyair itu (Sutardji dan Afrizal) mampu menjalin kata, larik, dan baitnya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah bangunan puisi yang solid.8)

Bukan soal benar bahwa Afrizal dipengaruhi oleh Sutardji, bahkan juga oleh para penyair lain sebelumnya. Sebab atmosfer pernafasannya ialah wawasan estetika yang sudah terbentuk secara mapan, yang bisa ditelusuri hingga Raja Ali Haji. Lihat puisinya “Buku Harian dari Gurindam Duabelas”, yang memperlihatkan kefasihannya membaca masa lalu: Kau telah ambil lenganku dari sungai Siak, sebelum Raja Ali Haji berkata: Bismillah permulaan kalam.” Dan kapal-kapal bergerak membawa Islam, membawa para nabi, sutra, barang-barang elektronik juga… Jelas bahwa Afrizal meletakkan lokus kreativitasnya pada sinopsis historia puisi yang terserak di alam bawah sadarnya sebagai penyair. Tapi ia tidak berhenti sampai di situ: “para nabi, sutra, dan barang-barang elektonik juga” menandai pergerakan di ruang kreativitasnya.

Bahkan puisinya yang berjudul “ChanelOO” bisa disepadankan dengan puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Tuan”. Perhatikan dan bandingkan keduanya.

Chanel OO

Permisi,
saya sedang bunuh diri sebentar,
Bunga dan bensin di halaman

Teruslah mengaji,
dalam televisi berwarna itu,
dada.

1983

Tuan
Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar.9)

Keterpengaruhan bukanlah sebuah cacat bagi seorang penyair. Bahkan secara ekstrim TS Elliot berkata: “Penyair teri meminjam, penyair kakap mencuri.” Tidak ada penyair — dan pada umumnya penulis — yang lahir sebagai penyair. Ia belajar dari para pendahulunya, mencerna, dan menerima pengaruh mereka dengan lapang dada. Masalahnya, apakah dia selamanya berada di bawah bayang-bayang pendahulunya atau bertumbuh menjadi dirinya sendiri. Afrizal, rasanya, telah menjadi Afrizal yang kita kenal dengan puisi-puisi uniknya yang mudah dibedakan dengan puisi-puisi dari penyair lain, baik pendahulunya maupun yang semasanya. Bahkan pada awal 1990-an pernah lahir genre puisi “Afrizalian” yang menjadi mainstream kuat, yakni puisi dengan mosaik bercitraan dunia urban dan berwarna gelap.10) Ini menandakan bahwa Afrizal memberikan pengaruh penting pada perpuisian Indonesia mutakhir.

Afrizal02

Afrizal telah menerbitkan sejumlah antologi di antaranya Narasi dari Semangka dan Sepatu, Yang Berdiam dalam Mikropon, Mitos-mitos Kecemasan, Membaca Kembali Dada, dan Arsitektur Hujan. Yang disebut terakhir itu bagi saya merupakan masterpiece-nya karena menunjukkan kematangannya sebagai penyair. Antologi puisi lainnya, Abad Yang Berlari, walaupun telah memperlihatkan jatidirinya sebagai penyair yang berbeda dengan yang lain, masih memperlihatkan pencarian bentuk dan penyempurnaan wawasan estetik. Sejajar dengan puisi-puisi awal Amir Hamzah dalam Buah Rindu sebelum mencapai taraf kematangan dalam Nyanyi Sunyi. Adapun puisi-puisi Afrizal sesudah periode Abad Yang Berlari seperti yang termuat dalam antologi Kalung dari Teman (1998) dan Dalam Rahim Ibu Tak Ada Anjing (2003), dapat disebut sebagai pemapanan proses kreativitasnya dalam kerangka wawasan estetika yang sama. Belakangan ia juga menerbitkan kembali puisi-puisinya dalam antologi Pada Bantal Berasap.

Dan kini, atau nanti, setiap kita membaca sebuah puisi semacam itu, dengan tanpa melihat penulisnya kita bisa mengatakan itu puisi Afrizal, atau setidaknya — jika ternyata ditulis oleh penyair lain — bercorak Afrizalian. Itu saja sudah cukup membuktikan bahwa penyair yang lahir di Jakarta, 7 Juni 1957, ini adalah somebody dalam gelanggang sastra di tanah air. Sambil menutup uraian ini, mari kita nikmati lagi puisi-puisi Afrizal Malna.

Kebiasaan Kecil Makan Coklat

“Aku tak suka kakimu berbunyi.”
“Ini coklat, seperti cintaku padamu.”

James Saunders membuat drama dari kereta dan permen coklat di situ, menyusun persahabatan dari orang-orang yang tak bisa saling menemani: Kita adalah kegugupan bersama, sejak berusaha mencari arti lewat permen coklat, dan kutu pada lipatan baju. Jangan menyusun flu di situ, seperti menyusun jendela kereta dari dialog-dialog Romeo. Tetapi Suyatna ingin menemani sebuah dunia, sebuah pentas, dengan dekor dan baju-baju, pita- pita pada jalinan rambut sebahu.

Tak ada stasiun kereta pada kerut keningmu, seperti kegelisahan membuat pesta di malam hari. Lihat di luar sana, orang masih percaya pada semacam kebahagiaan, seperti memasukkan seni peran dalam tas koper. Tetapi kenapa kau tinggalkan dirimu dalam toilet. Jangan ledakkan sapu tanganmu, dari kebiasaan kecil seperti itu.

Aih, biarlah kaki itu terus berbunyi, makan coklat terus berlalu, kutu-kutu di baju, cinta yang penuh kegugupan ditonton orang. Tetapi jangan simpan terus ia di situ, seperti dewa-dewa berdebu dalam koper, berusaha memberi arti dengan mengisap permen gula.

Ini coklat untukmu.

Jangan mengenang diri seperti itu.

1994

Lembu yang Berjalan

Aku bersalaman. Burung berita telah terbang memeluk sayapnya sendiri. Kota telah pergi jauh sampai ke senja. Aku bersalaman. Matahari yang bukan lagi pusat, waktu yang bukan lagi hitungan. Angin telah pergi, tidak lagi ucapkan kotamu, tak lagi ucapkan namamu. Aku bersalaman. Mengecup pesawat TV sendiri… tak ada lagi, berita manusia.

1984

Gadis Kita

O gadisku ke mana gadisku. Kau telah pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota parfum gadisku. Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramaian pasar gadisku. Ja- ngan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku. Nanti engkau dibawa laut, nanti engkau dibawa sabun. Jangan tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku. Nanti polisi marah. Nanti polisi marah. Nanti kucing menggigit kuning pita rambutmu. Jangan mau tubuhmu adalah plastik warna-warni gadisku. Tubuhmu madu, tubuhmu candu. Nanti kita semua tidak punya tuhan, nanti kita semua dibawa hantu gadisku. Kita semua cinta padamu. Kita semua cinta padamu. Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati.

1985

Buku Harian dari Gurindam Duabelas

Kau telah ambil lenganku dari sungai Siak, sebelum Raja Ali Haji berkata: Bismillah permulaan kalam.” Dan kapal-kapal bergerak membawa Islam, membawa para nabi, sutra, barang-barang elektronik juga. Tetapi seseorang mencarimu hingga Piz Gloria, kubah-kubah putih yang mengirimku hingga Senggigi. 150 tahun kematian Friedrich Holderlin, jadi penyair lagi di situ, hanya untuk menjaga cinta. Gerimis membawa kota-kota lain lagi, tanaman palma dan kenangan di jendela: Siti berlari-lari, menyapu halaman jadi buah mangga, apel, dan kecapi juga.

Kini dia bukan lagi kisah batu-batu, pelarian tempo dulu, atau seorang biu mengajar menyapu. Kini setiap tubuhnya membaca Gurindam Duabelas, mengirim buku harian, untuk masa silam seluruh unggas. Kita saling mencari, di antara pikiran yang dicurigai, lebih dari letusan, menumbangkan sebuah bahasa di malam hari. “Puan-puan dan Tuan-tuan,” kata Siti,”aku melayu dari Pejanggi.” … Dan sungai Siak jadi sepi, jadi lebih dalam lagi dari Gurindam Duabelas.

Lenganmu, membuat bahasa lain lagi di situ; untuk orang-orang di pelabuhan, menjual beras, sayuran, radio, ikan-ikan juga. Dan aku berlari-lari. Ada rumah di situ, setelah jalan berkelok. Ini untukmu, bahasa dari letusan itu, penuh suaramu melulu.

1993

Asia Membaca

Matahari telah berlepasan dari dekor-dekornya. Tapi kami masih hadapi langit yang sama, tanah yang sama. Asia. Setelah dewa-dewa pergi, jadi batu dalam pesawat-pesawat TV; setelah waktu-waktu yang menghancurkan, dan cerita lama memanggili lagi dari negeri lain, setiap kata jadi berbau bensin di situ. Dan kami terurai lagi lewat baju-baju lain. Asia. Kapal-kapal membuka pasar, mengganti naga dan lembu dengan minyak bumi. Membawa kami ke depan telpon berdering.

Di situ kami meranggas, dalam taruhan berbagai kekuatan.Mengantar pembisuan jadi jalan-jalan di malam hari. Asia. Lalu kami masuki dekor-dekor baru, bendera-bendera baru, cinta yang lain lagi, mendapatkan hari yang melebihi waktu: Membaca yang tak boleh dibaca, menulis yang tak boleh ditulis.

Tanah berkaca-kaca di situ, mencium bau manusia, menyimpan kami dari segala jaman. Asia. Kami pahami lagi debur laut, tempat para leluhur mengirim burung-burung, mencipta kata. Asia hanya ditemui, seperti malam-malam mencari segumpal tanah yang hilang: Tempat bahasa dilahirkan.

Asia.

1985

CATATAN AKHIR

1. Joko Pinurbo, “Puisi Indonesia, Jelajah Estetik dan Komitmen Sosial”, Jurnal Kebudayaan Kalam 13, 1999.

2. Tommy F. Awuy , “Sastra Indonesia Kontemporer” dalam Jurnal Budaya Kolong 3, Th. I, 1996)

3. Esai ini mengutip dari Wikipedia Indonesia dari buku Barbara Hatley. ”Nation, ‘Tradition’, and Constructions of the Feminine in Modern Indonesian Literature,” dalam Imagining Indonesia, ed. J. Schiller and B. Martin Schiller, hal. 93, dikutip dari Harry Aveling, Rahasia Membutuhkan Kata: Puisi Indonesia 1966-1998 (diterjemahkan dari Secrets Need Words, Indonesian Poetry 1966-1998 oleh Wikan Satriati), IndonesiaTera, 2003.

4. Bagi penyair Agus R. Sarjono, perubahan dari aku-lirik menjadi aku-publik dalam puisi-puisi Afrizal Malna memperlihatkan kegelisahan eksistensial penyairnya. Lihat esai Agus R Sarjono, “Puisi Indonesia Mutakhir” dalam Ulumul Qur’an, No. 1/VIII/1998.

5. Puisi-puisi Afrizal banyak menggunakan penanda bilangan, misalnya: ”5 sentimeter dari kiri”, “500 meter dari bahasa yang telah kau campakkan”, “karikatur 15 menit”, ”cerita dari 2 hijau”, “biografi Yanti setelah 12 menit”, “pulogadung dari peta 15 menit”, “1 menit dari halaman rumahku”, ”cerita dari tata bahasa 16.000 liter minyak tanah yang berjalan di depanku”, 16.000 liter jadi lehermu, 16.000 liter minyak tanah mulai mencium bau warganegara”

6. Puisi ini dimuat dalam buku Abad yang Berlari (Lembaga Penerbit Altermed, Yayasan Lingkaran Merahputih, 1984), hal. 21), demikian: …. Mabukmu membawa penyair kepada keperihan kamus-kamus, bachri. kepada siapa mengajari tuhan kepada siapa mengajari bintang-bintang. langit menurunkan mataharimu setangga-setangga. dan tanah terus berkibar menyimpan hidup dalam rahasia-rahasia. // Di kubur mabuk, lonceng oleng, kita hanya barisan kata-kata, bachri. siapkan rumput di padang-padang telanjang. aku pinjamkan sebait tuhan untukmu

7. Dalam salah salah satu esainya, pengamat budaya Tommy F. Awuy menyatakan bahwa puisi-puisi Afrizal Malna memaknai benda-benda bukan sesuatu yang “an sich”; setiap benda menjadi simbol masing-masing, bahkan kadang satu benda merupakan wakil dari sekian banyak simbol. Lihat, Wacana Tragedi dan Dekonstruksi Kebudayaan (Yogyakarta, Bentang, 1995).

8. Sapardi Djoko Damono, “Kelisanan dan Keberaksaraan, Kasus Puisi Indonesia Mutakhir”, Jurnal Kebudayaan Kalam 13, 1999.

9. Dikutip dari 3: Buku Puisi Sapardi Djoko Damono (Jakarta: Editium, 2010), hal. 72.

10. Lihat, Ahmadun Yosi Herfanda, “Heterogenitas Puisi Indonesia Mutakhir”, Republika, Minggu, 10 Juni 2007.

 

______________________________________________________________________________________________________
INFO PELATIHAN MENULIS
______________________________________________________________________________________________________

Para siswa SMP dan SMA dari 30 sekolah di kota Ambon dan Maluku Tengah mengikuti pelatihan menulis di bawah bimbingan Ahmad Gaus, bertempat di Imperial Inn, Ambon, 23 Oktober 2013.

Ambon WriterPreneurship3 Ambon Writerpreneurship

_______________________________________________________________________________________________________
Pelatihan menulis bersama Ahmad Gaus dan para narasumber dari MizanGrup, Kompas, Gatra, SCTV, diadakan setiap Kamis sore di auditorium CSRC, Gedung PBB lantai 2 UIN Jakarta.

________________________________________________________________________________________________________

CSRC2

Pelatihan Menulis di CSRC UIN Jakarta

Categories
Esai Makalah Diskusi Puisi

[Esai] Indonesia Lahir dari sebuah PUISI

f-hormat

Indonesia Lahir dari sebuah Puisi
Catatan Ahmad Gaus

Sosok negeri bernama Indonesia belum terbayang di benak Muhammad Yamin ketika ia menulis puisi berjudul Tanah Air pada tahun 1920. Konsep tanah air Indonesia boleh jadi masih terlalu abstrak, walaupun ide-ide tentang nasionalisme mulai dikumandangkan sejak awal abad ke-20. Bahkan, jika nasionalisme dikaitkan dengan kehendak untuk bebas dari penjajahan, puisi Yamin tidak mengekspresikan kehendak tersebut. Ia hanya bertutur tentang keindahan alam tanah airnya, yakni Sumatera. Mengapa Sumatera, tentu saja karena Yamin lahir di pulau yang dulu dikenal dengan sebutan Swarnadwipa (pulau emas) itu, tepatnya di Sawah Lunto, pada 24 Agustus 1903.

Yamin telah mulai memupuk karirnya sebagai penulis di usia belasan tahun. Karya-karya pertamanya dipublikasikan dalam jurnal berbahasa Belanda, Jong Sumatera. Namun Yamin menulis dalam bahasa Melayu, dan ini dinilai sebagai bentuk kepeloporannya dalam merintis penggunaan bahasa Indonesia yang kelak diikrarkan sebagai bahasa persatuan pada Kongres Pemuda II, 1928 di Jakarta.

Puisi berjudul Tanah Air dimuat di Jong Sumatera Nomor 4 Tahun III, 1920. Puisi ini dianggap penting oleh para pengamat sastra karena merupakan karya pertama yang mencoba keluar dari pakem puisi lama yang lazim ditulis dalam empat larik pada setiap baitnya, sementara Yamin menulisnya dalam sembilan larik. Dan lebih penting lagi, puisi Tanah Air termasuk karya sastra generasi pertama yang mengangkat tema kebangsaan, walaupun dalam pengertian yang masih berkonotasi kedaerahan. Berikut adalah puisi Tanah Air:

Pada batasan bukit Barisan
Memandang aku, ke bawah memandang
Tampaklah Hutan rimba dan ngarai
Lagipun sawah, sungai yang permai
Serta gerangan lihatlah pula
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk daun kelapa
Itulah tanah, tanah airku
Sumatera namanya, tumpah darahku.

Sesayup mata, hutan semata
Bergunung bukit, lembah sedikit
Jauh di sana, disebelah situ
Dipagari gunung, satu persatu
Adalah gerangan sebuah surga
Bukannya janat bumi kedua
Firdaus Melayu di atas dunia!
Itulah tanah yang kusayangi,
Sumatera, namanya, yang kujunjungi.

Pada batasan, bukit barisan,
Memandang ke pantai, teluk permai
Tampaklah air, air segala
Itulah laut, samudera Hindia
Tampaklah ombak, gelombang pelbagai
Memecah kepasir lalu berderai
Ia memekik berandai-randai:
“Wahai Andalas, Pulau Sumatera,
“Harumkan nama, selatan utara !”

Puisi itu terdiri dari tiga bait dan masing-masing baitnya memuat sembilan larik. Bentuk ini sudah keluar dari konvensi persajakan tradisional seperti syair atau pantun yang setiap baitnya terdiri dari empat larik dan taat pada keharusan memuat sampiran pada dua larik pertama dan isi pada dua larik terakhir. Eksperimentasi ini telah berhasil membangun pola estetika tersendiri yang membuat perbedaan dengan pola estetika pantun dan syair dalam puisi lama.

Perubahan itu memang tidak bersifat radikal dalam arti memutus sama sekali pola persajakan dengan tradisi sebelumnya karena kita masih bisa merasakan rima sajak pada beberapa lariknya, misalnya kalau kita penggal larik-larik itu dengan tanda “/” maka akan terasa rimanya: Sesayup mata/hutan semata. Bergunung bukit/lembah sedikit. Atau larik ini: Pada batasan/bukit barisan. Memandang ke pantai/ teluk permai.

Yamin

Bukan soal besar apakah Yamin sengaja membiarkan pengaruh persajakan tradisional mewarnai puisinya, ataukah ia memang dengan sadar tidak hendak meninggalkan sama sekali tradisi puisi lama. Yang jelas, dengan puisi Tanah Air itu Yamin telah merintis tradisi sastra Nusantara yang mengarah ke bentuk yang lebih modern.

Memang ada pandangan berbeda mengenai kedudukan puisi Yamin, termasuk puisi-puisinya yang lain selain Tanah Air. Teeuw, misalnya, mengatakan bahwa puisi-puisi Yamin belum memperlihatkan corak puisi modern… terjebak klise… dan ulangan-ulangan yang tak ada artinya.1) Namun demikian, para pengamat pada umumnya menganggap wajar hal itu terjadi karena tidak mudah memutus sama sekali tradisi puisi lama yang telah mapan sebelumnya, terutama pola pantun dan syair.2)

Pada tahun 1922, puisi Tanah Air diterbitkan dalam sebuah buku dengan judul yang sama, dan merupakan buku puisi modern Melayu pertama yang pernah diterbitkan.3) Di dalam buku ini dimuat 15 puisi masing-masing terdiri atas dua bait dan masing-masing baitnya memuat sembilan larik. Jadi di usianya yang belum genap 20 tahun Yamin telah menjadi penyair perintis bagi kelahiran tradisi baru puisi Nusantara. Di masa kemudian puisi-puisi Yamin muda juga diterbitkan dalam sebuah buku Armijn Pane yang memuat judul-judul: Permintaan, Cita-cita, Cinta, Asyik, Pagi-pagi, Gembala, Awan, Tenang, Gubahan, Perasaan, Keluhan, Ibarat, Kenangan, Gamelan, Gita Gembala, Kemegahan, dan Niat.4)

Puisi Tanah Air memang belum secara ekspisit menyebut “Indonesia”. Nama Indonesia muncul pada tahun 1928 sebagai kelanjutan dari kesadaran nasionalisme yang makin sering disuarakan oleh kalangan penulis dan kaum intelektual. Pada tahun ini Yamin menulis puisi Tumpah Darahku, dan di situ kata tanah air tidak lagi berkonotasi Sumatera tempat kelahirannya melainkan telah memperoleh wujud konkretnya sebagai kesatuan geografis yang hendak diperjuangkan untuk lepas dari penjajahan asing. Apa yang tergambar di benak Yamin tentang tanah air pada periode tersebut? Mari kita simak puisinya berikut ini:

Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung-gemunung bagus rupanya
Dilingkari air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya.

Lihatlah kelapa melambai-lambai
Berdesir bunyinya sesayup sampai
Tumbuh di pantai bercerai-cerai
Memagar daratan aman kelihatan
Dengarlah ombak datang berlagu
Mengejar bumi ayah dan ibu
Indonesia namanya tanah airku

Pada puisi berjudul Tumpah Darahku itu kita memang masih merasakan nuansa musikal seperti pada puisi-puisi lama dalam beberapa akhir lariknya. Namun yang lebih penting sebenarnya isi dari puisi itu sendiri yang tidak lagi mendendangkan keindahan kampung halaman melainkan perasaan yang mengharu-biru pada keelokan sebuah negeri di garis katulistiwa. Konsep tanah air telah mengalami transfomasi makna dari pulau Sumatera menjadi sebuah kawasan bernama Indonesia. Estetika romantisme telah berganti wujud menjadi estetika heroisme dimana pesan politiknya sangat kentara sungguhpun puisi itu sejatinya mendendangkan keindahan bumi pertiwi.

Kongres Pemuda II tahun 1928 tercatat sebagai cikal-bakal kemerdekaan Indonesia. Tanpa peristiwa tersebut, konon, Indonesia tidak akan pernah lahir sebagai sebuah bangsa. Jika momen itu begitu penting, maka puisi Tanah Air karya Muhammad Yamin juga sama pentingnya, sebab ia menandai pergerakan zaman dari era kolonialisme menuju kemerdekaan. Teks Sumpah Pemuda jelas terbaca sebagai kelanjutan puisi Tanah Air karya Muhammad Yamin, sebab dialah yang merumuskannya.5) Teks Sumpah Pemuda itu berbunyi demikian:

Kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Rasa cinta Yamin yang mendalam pada tanah air (Sumatera) yang ditulis dengan nada romantis dalam puisi Tanah Air bersinggungan dengan gemuruh perjuangan di ranah politik nasional. Realitas itu mendorongnya untuk segera mengubah haluan romantisme kedaerahan menuju kesadaran nasionalisme yang lebih luas. Perubahan makna tanah air dalam puisi Tanah Air secara ekspisit tercermin pada larik Indonesia namanya tanah airku dalam puisi Tumpah Darahku.

Dua puisi Yamin itu memang harus dilihat dalam garis kontinum – puisi yang kedua merupakan kelanjutan dari puisi yang pertama. Sebab dalam teks Sumpah Pemuda yang dirumuskan Yamin, yang dimaksud bertumpah darah satu ialah tanah air, dan yang dimaksud tanah air ialah Indonesia.

Dalam garis kontinum itulah puisi Tanah Air berada di urutan pertama kategori puisi-puisi yang menyuarakan spirit nasionalisme,6) sekaligus memperlihatkan peranan penting karya sastra dalam mengukuhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

 

Catatan Akhir

1). A. Teeuw, Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru (Djakarta: Jajasan Pembangunan, 1953), hal. 51-53.

2). Suyono Suyatno, Juhriah, dan Joko Adi Sasmito, eds., Antologi Puisi Indonesia Periode Awal (Jakarta: Pusat Bahasa, 2000), hal. 15.

3). http://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Yamin

4). Armin Pane, Sajak-sajak Muda Mr. Muhammad Yasin (Jakarta: Firma Rada, 1954).

5). Dalam kapasitasnya sebagai sekretaris Kongres, Yamin bertugas meramu rumusan Sumpah Pemuda. “Rancangan sumpah itu ditulis Yamin sewaktu Mr Sunario berpidato di sesi terakhir kongres,” tulis Majalah Tempo edisi 2 November 2008 dalam artikel “Secarik Kertas untuk Indonesia”.

6). Lebih jauh mengenai puisi-puisi yang menyuarakan nasionalisme ini lihat, S. Amran Tasai, Maini Trisna Jayawati, dan Ni Nyoman Subardini, eds., Semangat Nasionalisme dalam Puisi Sebelum Kemerdekaan (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2002), hal. 98.

______________________________________________

Categories
Esai Puisi

Menikmati ‘Hujan Bulan Juni’ bersama Tuan Sapardi

HUJAN BULAN JUNI

Hujan Bulan Juni3

Bulan Juni ialah musim kemarau, dan hujan dipastikan tidak turun. Jika hujan rindu ingin bercumbu dengan bunga-bunga, maka ia harus bersabar menunggu musim kemarau berlalu…

“Hujan Bulan Juni” memperlihatkan kekuatan Sapardi sebagai penyair yang mampu keluar dari labirin kesunyian yang melahirkan kefanaan (Amir Hamzah), kepasrahan (Chairil Anwar), atau amukan (Sutardji Calzoum Bachri), menuju ruang kontemplasi yang mencerahkan….
__________________________________________________________________________

Catatan Ahmad Gaus
__________________________________________________________________________

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Puisi di atas berjudul Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono — biasa disingkat SDD — yang ditulis pada 1989 dan dimuat dalam antologi (kumpulan karangan) dengan judul yang sama. Hujan Bulan Juni merupakan puisi yang sangat terkenal dan dideretkan dalam jajaran puisi cinta romantis bersama dengan puisi Aku Ingin yang juga dimuat dalam antologi ini.1) Esai ini tidak secara khusus membahas Hujan Bulan Juni sebagai sebuah puisi melainkan sebagai antologi yang di dalamnya terdapat 96 puisi karya SDD, yang bulan ini (Juni 2013) kembali diterbitkan oleh kelompok penerbit Kompas-Gramedia.

Pertamakali Hujan Bulan Juni diterbitkan oleh kelompok penerbit Kompas-Gramedia (Grasindo) pada tahun 1994. Kemudian diterbitkan kembali oleh penerbit Editum pada tahun 2009 tanpa perubahan yang berarti. Puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni ditulis antara tahun 1964-1994. Sebagian besar puisi di dalamnya pernah terbit dalam antologi Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), dan Perahu Kertas (1983). Proses penyeleksian puisi yang pernah terbit dalam antologi yang berbeda-beda untuk diterbitkan kembali dalam buku Hujan Bulan Juni menunjukkan bahwa buku ini memang dianggap (paling) penting oleh penulisnya.

Hujan Juni

SDD memilih sendiri sajak-sajaknya untuk buku ini dari sekian ratus sajak yang pernah dihasilkannya selama 30 tahun (1964 – 1994). Mengenai ini ia menulis bahwa ada “sesuatu yang mengikat sajak-sajak ini menjadi satu buku.”2) SDD memang tidak menjelaskan apa sesuatu yang mengikat itu. Namun, akunya, sajak-sajak lain tidak dimasukkan dalam antologi ini karena suasananya — atau entah apanya — agak berbeda dengan buku ini.

Secara sepintas lalu judul buku Hujan Bulan Juni yang diambil dari salah satu judul puisinya menunjukkan bahwa suasana yang ingin dibangun dalam buku ini ialah suasana “hujan” dengan berbagai konotasi dan metafornya. Dari 96 puisi yang dimuat dalam Hujan Bulan Juni terdapat 9 judul puisi yang memakai kata “hujan”. Judul-judul tersebut adalah: Hujan Turun Sepanjang Jalan, Hujan dalam Komposisi 1, Hujan dalam Komposisi 2, Hujan dalam Komposisi 3, Di Beranda Waktu Hujan, Kuhentikan Hujan, Hujan Bulan Juni, Hujan-Jalak-dan-Daun-Jambu, Percakapan Malam Hujan. Dan satu judul yang senada: Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang.

Kata “hujan” juga disebut dalam berbagai puisinya: Pada Suatu Pagi Hari, Dalam Doa II, Aku Ingin, Puisi Cat Air untuk Rizki, Sepasang Sepatu Tua, dan sebagainya. Kalau boleh menyebut puisi di luar antologi ini yang juga menggunakan kata hujan, simak saja misalnya “Di Sebuah Halte Bis” (Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana), “Lirik untuk Lagu Pop” (jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang gerimis), dan “Kepompong Itu” (…ketika kau menutup jendela waktu hari hujan).

Walaupun banyak kumpulan puisi yang bertemakan hujan, tapi jelas tidak ada yang “basah-kuyup” melebihi Hujan Bulan Juni. Belum lagi puisi tentang hujan yang tidak dimasukkan dalam antologi ini seperti “Tajam Hujanmu” dan “Kuterka Gerimis”, yang dimuat dalam antologi Perahu Kertas.

Playing-in-the-Rain2

Jika selama ini puisi-puisi tentang hujan selalu dikaitkan dengan kesendirian, kehampaan, kerinduan, dan kesepian, maka tidak terlalu keliru pandangan bahwa SDD ialah penyair sunyi yang melanjutkan tradisi Amir Hamzah dan Chairil Anwar, terutama pada puisi-puisi awalnya. Simak misalnya bait dalam puisi yang ditulis pada tahun 1967 berikut: Hujan turun sepanjang jalan/ Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan/ Kembali bernama sunyi..

Mengapa hujan begitu istimewa di mata penyair SDD, tentu ada rahasia yang ingin dia kemukakan melalui pelukisannya atas peristiwa alam tersebut. Berikut tiga contoh puisi berbeda tentang hujan, yang ditulis dalam rentang waktu berjauhan:

Sihir Hujan

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
— swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan,
telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
— menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

1982

Percakapan Malam Hujan

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya
kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar
kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba
suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat
manusia. Ia suka terang.”

1973

Hjan bln Juni

Hujan Turun Sepanjang Jalan

Hujan turun sepanjang jalan…
Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan…
Kembali bernama sunyi…
Kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali…
Tak ada yang menolaknya…kita pun mengerti, tiba-tiba
atas pesan yang rahasia…
Tatkala angin basah tak ada bermuat debu…
Tatkala tak ada yang merasa diburu-buru…

1967

Tidak ada diksi yang istimewa dalam ketiga puisi di atas. Semua kata dipungut dari perbendaharaan sehari-hari yang ada di sekitar kita dan akrab: jalan, selokan, mantel, sepatu, pohon, pintu, jendela, debu, tiang listrik. Kata-kata sederhana itu juga dirangkai dalam larik dan bait yang sederhana, nyaris tidak ada dentuman yang tercipta oleh bangunan puisi tersebut. Ia hanya menceritakan suasana saat hujan turun. Cara berceritanya pun sangat sederhana, tidak meledak-ledak.

Namun di balik kesederhanaannya, puisi-puisi tersebut menjadikan benda-benda itu seakan hidup. Kita dapat membayangkan Hujan yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik. SDD sangat piawai menghidupkan suasana melalui kata-kata yang sederhana. Bait-bait yang tersusun dari kata-katanya menjadi sangat indah manakala kita hanyut terbawa oleh suasana yang ia hidupkan melalui proses imagery atau penggambaran. Sang penyair pada dasarnya memang seperti pelukis yang menggambarkan sesuatu dengan kata-kata sehingga apa yang dia lihat dan rasakan juga dapat dilihat dan dirasakan oleh pembaca.3) Di dalam suasana yang sudah dihidupkan oleh penyairnya melalui kata-kata (pada contoh tiga puisi di atas), kita tidak lagi bertemu dengan hujan sebagai benda mati, melainkan makhluk hidup entah malaikat atau manusia, bahkan seseorang yang misterius namun humoris seperti pada puisi “Percakapan Malam Hujan”.

Dalam puisi Hujan Bulan Juni yang menjadi judul antologi ini, goresan tangan SDD pada kanvas puisinya bahkan terasa lebih lembut. Kesederhanaan kata tetap dijaga. Bangunan puisi tegak dengan tiang pancang bait-bait yang transparan. Pengungkapannya halus, alur pikirnya jernih. Puisi ini sering diartikan sebagai ketabahan dari seseorang yang sedang menanti. Sebab, bulan Juni ialah musim kemarau, dan hujan dipastikan tidak turun. Jika ia (hujan) ingin bertemu dengan pohon bunga, maka ia harus bersabar menunggu musim kemarau berlalu.

Di sini SDD tidak lagi bicara tentang sunyi yang gelisah. Ia bahkan tidak menonjolkan si aku-lirik. Kalaupun ada, si aku-lirik hanya menceritakan perilaku hujan yang merahasiakan rindu, menghapus jejak, dan membiarkan isi hatinya. Hujan dipersonifikasi sebagai makhluk yang berjiwa dengan sifat dan perilaku tertentu. Ini juga tampak pada ketiga puisi di atas.

Dengan menerbitkan kembali puisi-puisinya dalam Hujan Bulan Juni yang merefleksikan aneka pengalaman batin dan perjalanan hidup yang terus bergerak, SDD tampaknya ingin jatidiri kepenyairannya dilihat kembali, tidak melulu diletakkan di ruang sunyi. Sebab, sebagaimana diakuinya dalam kata pengantar buku ini, ia tidak tahu apakah selama 30 tahun itu ada perubahan stilistik dan tematik dalam puisinya. Seorang penyair, ujarnya, belajar dari banyak pihak: keluarga, penyair lain, kritikus, teman, pembaca, tetangga, masyarakat luas, koran, televisi, dan sebagainya.

Esai ini berpandangan bahwa SDD tidak hendak menancapkan tonggak kepenyairannya di ruang estetika sunyi yang telah terbangun dengan megahnya sejak masa kejayaan Amir Hamzah. Kita tahu bahwa puisi-puisi awal SDD, kendatipun dipandang sebagai pembebasan dan penemuan baru,4) tetap saja diletakkan di dalam mainstream puisi tentang kesunyian. Salah satu puisinya, Solitude (1965), yang menyuarakan “jagat sunyi” bahkan disebut sebagai visi estetika kepenyairannya, dimana puisi-puisi sebelum dan sesudah itu hanyalah… “dinamika visi estetik dalam keseluruhan kepenyairan SDD.”5) Senada dengan itu, penyair Goenawan Mohamad menyebut antologi puisi SDD yang pertama, Duka-Mu Abadi, sebagai Nyanyi Sunyi kedua (setelah Nyanyi Sunyi yang pertama diciptakan oleh Amir Hamzah).6)

Jika kesunyian dipandang sebagai tema utama dalam puisi-puisi Sapardi, lantas di mana letak kepeloporannya dalam jagat perpuisian tanah air? Bukankah tema itu telah sangat mapan di tangan para penyair besar sejak Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, dan puncaknya pada Sutardji Calzoum Bachri? Jika kita memotret SDD dari Duka-Mu Abadi memang akan terbentang hamparan kesunyian yang—boleh jadi—merupakan kelanjutan dari “tradisi” perpuisian sebelumnya, kendatipun ia membunyikan kesunyian itu dengan cara yang berbeda. Namun saya berpandangan bahwa Hujan Bulan Juni-lah yang merupakan tonggak kepenyairan SDD. Antologi ini memperlihatkan kekuatan SDD sebagai penyair yang mampu keluar dari labirin kesunyian yang melahirkan kefanaan (Amir Hamzah), kepasrahan (Chairil Anwar), atau amukan (Sutardji Calzoum Bachri), menuju ruang kontemplasi yang mencerahkan.

Hujan Bulan Juni2

Puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni lebih dari sekadar membunyikan kesunyian melalui ungkapan perasaan yang melimpah, melainkan juga menghadirkan kesadaran intelektual penyairnya. Sejumlah puisinya tentang kematian, misalnya, memang menghadirkan kesunyian yang mencekam, namun jika dicermati lagi sebenarnya merupakan renungan filosofis yang mendalam, seperti pada puisi Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati, Saat Sebelum Berangkat, Iring-iringan di Bawah Matahari, Dalam Kereta Bawah Tanah Chicago, Ajaran Hidup, dan lain-lain. Begitu juga puisi-puisinya Tiga Lembar Kartu Pos, Pada Suatu Hari Nanti, Dalam Diriku, Tuan, Yang Fana Adalah Waktu, dan lain-lain, yang bertemakan hidup, waktu, dan Tuhan — semuanya merupakan lukisan kesunyian yang, lagi-lagi, merefleksikan perenungan intelektual yang dalam.

Dalam puisi Hujan Bulan Juni SDD mempertentangkan dua realitas, membuat paradoks (hujan yang turun di musim kemarau), yang memungkinkan keniscayaan, sebagai gambaran dari pribadinya yang senantiasa terlibat dan optimistis. Paradoks atau pertentangan itulah yang menjadi kekuatan khas SDD sebagai seorang penyair. Hal itu juga tercermin dari pemakaian kata-kata yang sederhana namun menyimpan makna yang dalam.7).

Seraya menutup uraian ini mari kita simak tiga puisi dari antologi Hujan Bulan Juni yang menjelaskan paradoks yang dimaksud.

DALAM DIRIKU

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga penuh darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya.

1980

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.

1978

TUAN

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar.

1980

Catatan:

1). Puisi Aku Ingin hanya terdiri dari dua bait: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Salah satu indikasi kepopularan dua puisi tersebut ialah telah dibuat musikalisasi puisi oleh Ags. Arya Dipayana (Aku Ingin), dan H. Umar Muslim (Hujan Bulan Juni). Puisi Hujan Bulan Juni juga telah dikomikkan oleh Mansjur Daman, komikus silat pencipta serial Mandala. Sementara itu puisi Aku Ingin sering dicetak dalam surat-surat undangan pernikahan.

2). Kata Pengantar Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni (Jakarta: Grasindo, 1994).

3). A.F. Scott, Curren Literary Term: A Concise Dictionary (London: The Macmilland Press, 1980), p. 139). Lebih jauh mengenai penggambaran (imagery) atau gambar (image) dalam puisi lihat juga, Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994) dan Suminto A. Sayuti, Puisi dan Pengajarannya (Yogyakarta: Yasbut FKSS IKIP Muhammadiyah, 1985).

4). Pengakuan ini disampaikan oleh Goenawan Mohamad. Dikutip dari Hasan Aspahani, “Kenapa Mesti Ada Sore Hari? Kajian Ringkas Duka-Mu Abadi Hingga Kolam”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., Membaca Sapardi (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010), hal. 253

5). Suminto A. Sayuti, “Puisi Sapardi: Sebuah Jagat Sunyi”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 57

6). Dikutip dari Suminto A. Sayuti, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 61

7). Maman S. Mahayana, “Paradoks”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 161

_________________________________

 

Foto 1: Bersama Sapardi Djoko Damono di Selangor, Malaysia

Foto 2: Buku antologi puisi karya para mahasiswa/i saya di SGU yang diberi kata pengantar oleh Sapardi Djoko Damono

Categories
Kolom Puisi Resensi Buku

Wiji Thukul, Penyair Pemberontak

AKU INGIN JADI PELURU

Wiji Thukul2

Peringatan

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

– Wiji Thukul, Solo, 1986 –

Puisi-puisi Wiji Thukul yang dimuat dalam antologi Aku Ingin Jadi Peluru,1) membuktikan bahwa puisi mampu menjadi saksi atas sebuah zaman. Kata-katanya bagaikan bidikan kamera yang mengabadikan setiap momen yang dilihat dan dirasakan untuk dituangkan dalam puisi. Pada Wiji Thukul, momen puitik ialah seluruh hidupnya di sebuah masa yang penuh gejolak dan ketidakpastian. Kehidupannya yang sulit sebagai orang pinggiran tak pernah lelah ia bela. Namun apa lacur, ia harus berhadapan dengan tembok-tembok kekuasaan yang membuatnya tetap terpinggirkan. Dan ia sadar tidak sendirian. Lingkungan terdekatnya sendiri semuanya orang melarat. Bapaknya tukang becak, istrinya buruh jahit, mertuanya pedagang barang rongsokan, tetangga dan teman-temannya adalah buruh pabrik yang dibayar murah, dan jutaan orang lain yang bernasib sama dengan mereka.

Itulah momen-momen puitik penyair Wiji Thukul. Hidupnya sama sekali tidak indah. Realitas yang disaksikan di sekelilingnya juga tidak indah. Begitu juga wajah kekuasaan yang sewenang-wenang dan menindas orang-orang pinggiran. Ia terlibat dan menyelami penderitaan orang kecil lalu menyuarakannya dengan lantang. Itulah sebabnya kita tidak akan menemukan kata-kata mendayu-dayu dalam puisi-puisi Wiji Thukul. Kata-katanya sangat lugas, bahkan jika dibandingkan dengan puisi-puisi pamplet WS Rendra yang kerap masih menggunakan metafor. Bahkan Wiji Thukul dengan sadar menghindari metafor karena menganggapnya tidak perlu. Dalam sebuah puisi yang ditujukan kepada sahabatnya Prof. Dr. W.F. Wertheim (sosiolog Belanda, ahli Asia Tenggara) yang berjudul “Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan?” ia menulis:

Waktu aku jadi buronan politik
karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik
namaku diumumkan di koran-koran
rumahku digrebek –biniku diteror
dipanggil Koramil diinterogasi diintimidasi
(anakku –4 th– melihatnya!)
masihkah kau membutuhkan perumpamaan
untuk mengatakan: AKU TIDAK MERDEKA

Puisi itu ditulis ketika ia menjadi aktivis yang paling dicari oleh rezim Orde Baru. Ada banyak cerita di balik itu. Majalah Tempo edisi 13-19 Mei 2013 membuat edisi khusus mengenang tragedi 1998 yang menulis laporan utama Teka-Teki Wiji Thukul. Pada sampul depan tertulis pertanyaan: Siapa yang telah menghabisinya? Pertanyaan itu hingga sekarang tidak (belum) terjawab. Sejak dinyatakan hilang, tidak ada yang tahu pasti apakah ia masih hidup atau sudah mati. Laporan edisi khusus Tempo itu mencoba mengurai jejak-jejak Wiji Thukul sejak menjadi aktivis hingga saat menjadi buron dan kemudian menghilang. Tempo juga melampirkan suplemen berupa buku kecil yang diberi judul “Para Jendral Marah-marah: Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam Pelarian”.

Dalam kata pengantar Tempo disebutkan bahwa buku kecil itu mencoba melengkapi berbagai antologi puisi Thukul yang sudah terbit dan untuk memberi gambaran sekilas macam apa puisi penyair kelahiran Solo, 26 Agustus 1963 itu. Antologi yang dimaksud ialah: Puisi Pelo dan Darman dan Lain-lain (keduanya diterbitkan Taman Budaya Surakarta pada 1984), Mencari Tanah Lapang (Manus Amici, Belanda, 1994), dan Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000).

Antologi yang disebut terakhir boleh dibilang paling lengkap karena memuat 5 kumpulan puisi yang sebelumnya pernah terbit, yaitu Lingkungan Kita Si Mulut Besar (46 puisi), Ketika Rakyat Pergi (16 puisi), Darman dan Lain-lain (16 puisi), Puisi Pelo (29 puisi), dan Baju Loak Sobek Pundaknya (28 puisi). Buku kecil yang dimuat sebagai suplemen Majalah Tempo memang merupakan puisi-puisi Thukul yang belum disiarkan secara luas. Manuskripnya sendiri berupa tulisan tangan berasal dari sahabat Thukul yang pernah menjadi Wakil Ketua Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia, Stanley Adi Prasetya. Thukul memberikan kepadanya sekitar pertengahan Agustus 1996 sebelum menuju pelarian. Baru belakangan Stanley mempublikasikannya dalam tulisan berjudul Puisi Pelarian Wiji Thukul sebagai bagian dari artikelnya di jurnal Dignitas Volume VIII Nomor 1 Tahun 2012, yang diterbitkan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat.

Esai ini tidak merujuk pada kumpulan puisi tersebut, namun wajib menyebutkannya karena menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan Wiji Thukul baik sebagai aktivis maupun penyair yang menjadi korban dari puisi-puisi yang ditulisnya. Bagaimanapun, antologi Aku Ingin Jadi Peluru telah cukup memberi gambaran estetika kepenyairan Thukul, selain merupakan antologi yang paling lengkap, bukan saja dari segi jumlahnya (karena dihimpun dari 5 kumpulan puisinya yang terbit terdahulu) tapi juga dari coraknya yang beragam, tidak melulu tentang pemberontakan.

Orang yang tidak menyukai puisi-puisi abstrak dan rumit dapat memilih Aku Ingin Jadi Peluru sebagai sahabat apresiasi yang cukup menantang. Namun jangan salahkan penulisnya jika setelah membaca itu ia merasa tidak nyaman sebab “bait-baitnya lebih mendatangkan kegelisahan daripada kesenangan.”2) Mungkin karena ia tidak menyuguhkan keindahan imajiner yang meliuk-liuk.

Wiji Thukul

Ada dua hal yang sangat menonjol dalam setiap puisi di sini: bahasanya lugas dan pesannya jelas. Pada umumnya puisi-puisi Thukul bertutur tentang kehidupan orang-orang miskin, terpinggirkan, dan tertindas. Namun, ia memberi kekuatan pada mereka bahwa harapan masih ada kalau mau melawan. Hal itu tampak jelas pada puisi yang dikutip di awal tulisan ini. Juga pada puisi berikut:

Tentang Sebuah Gerakan

tadinya aku pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!

aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?

aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?

1989

Apa artinya jika “aku” diganti dengan “setiap orang”? Ia telah melepaskan kepentingan pribadinya! Tapi ia bukan pahlawan yang ingin membela orang lain. Ia berangkat dari persoalannya sendiri, bahwa ia butuh rumah, butuh pangan yang cukup, butuh pakaian untuk menutupi kemaluannya. Ini kepentingan pribadi. Lalu ia menyadarkan banyak orang lain yang nasibnya sama untuk bangkit menuntut. Sebab pekerjaan besar semacam itu tidak mungkin ia pikul sendiri. Inilah yang menarik dari puisi di atas. Tampak seperti sebuah kalimat prosa. Tapi, bahkan kalau kita susun menjadi paragraf biasa, bukan dalam bentuk puisi yang tersusun ke bawah, kita tetap akan kesulitan menyebutnya karangan prosa. Sebabnya ialah, ia mengunci akhir bait pertama dengan kalimat puisi “ingat: setiap orang!” Kalimat puisi itu lebih hidup lagi pada bait ketiga: aku bukan orang suci/ yang bisa hidup dari sekepal nasi/ dan air sekendi. Bukan hanya maknanya yang terbangun dalam susunan logis, namun ia juga memperhatikan betul rima akhir.

Dalam puisi ini Thukul mengajak orang-orang yang senasib dengannya untuk memikirkan sebuah gerakan yang akan mengubah hidup mereka. Namun ia tidak memaksa orang-orang lain itu, karenanya ajakan itu hanya disampaikan dengan pertanyaan semacam gumam pada diri sendiri: aku berpikir tentang gerakan/ tapi mana mungkin/ kalau diam?

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Thukul (bait 2 dan 4) mengesankan rasa ragu untuk menggeneralisasi nasibnya dengan nasib orang lain. Dalam wawancaranya yang dimuat di bagian akhir buku ini, Wiji Thukul menyatakan: “… saya tidak membela rakyat. Saya sebenarnya membela diri saya sendiri. Saya tidak ingin disebut pahlawan karena berjasa memperjuangkan nasib rakyat kecil. Sungguh saya hanya bicara soal diri saya sendiri. Lihatlah saya tukang pelitur, istri buruh jahit, bapak tukang becak, mertua pedagang barang rongsokan, dan lingkungan saya semuanya melarat. Mereka semua masuk dalam puisi saya. Jadi saya tidak membela siapa pun. Cuma secara kebetulan, dengan membela diri sendiri ternyata juga menyuarakan hak-hak orang lain yang sementara ini entah di mana.”

Terlepas dari pengakuan itu, puisi-puisi Wiji Thukul memang menjadi api yang membakar harapan banyak orang akan sebuah perubahan. Ia bukan hanya menyuarakan pemberontakan namun juga ancaman yang apabila dibaca secara post-factum tampak jelas kebenarannya, seperti dalam puisi berjudul “Bunga dan Tembok” ini:

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!

di dalam keyakinan kami
di mana pun – tiran harus tumbang!

Solo, 87-88

Menurut kesaksian seorang sahabatnya, Moelyono, syair-syair Wiji Thukul mengalami pergeseran dari semula bertemakan cerita kehidupan orang tuanya yang miskin, hidupnya yang serba sulit karena Thukul menikah usia muda, menjadi protes sosial yang menghantam kekuasaan. Kesaksian itu benar belaka. Dan setelah periode itu, puisi-puisinya basah kuyup oleh suara kutukan dan pemberontakan. Dalam Puisi Sikap, misalnya, ia benar-benar menegaskan sikapnya terhadap kekuasaan yang dikecamnya sampai mati: (….) andai benar/ ada kehidupan lagi nanti/ setelah kehidupan ini/ maka aku kuceritakan/ kepada semua makhluk/ bahwa sepanjang umurku dulu/ telah kuletakkan rasa takut itu di tumitku/ dan kuhabiskan hidupku/ untuk menentangmu/ hei penguasa zalim

Puisi itu bertanggal 24 Januari ’97, artinya ditulis pada masa kekuasaan mencapai puncak keangkuhannya sambil mengabaikan suara-suara yang menginginkan perubahan. Puisi yang senada dengan itu misalnya Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa, dimana ia menulis: aku bukan artis pembuat berita/ tapi aku memang selalu/ kabar buruk buat/ penguasa. Masih banyak lagi puisinya yang memekakan telinga para penguasa: Catatan, Tong Potong Roti, Tentang Sebuah Gerakan, Bunga dan Tembok, Peringatan, Sajak Suara, dan lain-lain.

Puisi-puisi Wiji Thukul kerap dianggap menyalahi unsur estetika dalam sastra, tidak puitis, bahasanya vulgar dan menghantam. Namun, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Wahyu Muryadi, ketika ditanya alasan majalahnya mengangkat laporan khusus mengenai Wiji Thukul, menyatakan justru dengan bahasa seperti itu puisi-puisi Wiji Thukul sangat menakutkan penguasa. Ia membongkar kejahatan yang selama ini disembunyikan. Budayawan Mudji Sutrisno menyebut bahwa puisi bagi Wiji Thukul ialah senjata. Aktivis Fadjroel Rachman mengemukakan hal senada. Di tangan Wiji Thukul, ujarnya, puisi menjadi suara rakyat tertindas yang lantang menentang kezaliman penguasa, karena Thukul menjadi bagian dari rakyat tertindas itu sendiri. Thukul adalah rakyat yang bersuara melalui media puisi. Tidak peduli ia akan disebut penyair atau bukan. Hal ini berbeda dengan Chairil Anwar yang menyatakan: yang bukan penyair tidak ambil bagian.3)

Sebelum dikenal sebagai penyair pemberontak dengan bahasa yang lugas dan keras, Wiji Thukul menulis puisi-puisi bernada lirih yang berkisah tentang kehidupan pribadinya, keluarganya, lingkungannya, dan tentang Tuhan. Puisi-puisi dalam kategori ini cukup banyak: Baju Loak Sobek Pundaknya, Sajak Ibu, Tujuan Kita Satu Ibu, Hujan, Dalam Kamar 6 x 7 Meter, Gentong Kosong, Apa yang Berharga dari Puisiku, Catatan Hari Ini, Catatan Suram, Darman, Gumam Sehari-hari, Kota ini Milik Kalian, Sajak Tiga Bait, dan lain-lain.

Dalam sebuah puisi yang judulnya cukup panjang, “Aku Dilahirkan di Sebuah Pesta yang Tak Pernah Selesai”, Wiji Thukul menulis: … selalu saja ada yang datang dan pergi hingga hari ini// ada bunga putih dan ungu dekat jendela di mana/ mereka dapat memandang dan merasakan/ kesedihan dan kebahagiaan/ tak ada menjadi miliknya// Tuhanku aku terluka dalam keindahan-Mu. Larik terakhir itu mengingatkan kita pada larik puisi Doa dari Chairil Anwar: Tuhanku aku hilang bentuk-remuk. Sama-sama bersimpuh di hadapan Tuhan, namun Chairil tampak berusaha untuk menyatu dan pasrah total, sementara Wiji Thukul tidak menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan Tuhan, semacam pemberontakan juga namun dengan cara yang lembut.

Tak pelak lagi, Wiji Thukul adalah “binatang jalang” yang lain di masa yang berbeda dengan Chairil Anwar. Ia bahkan telah mengorbankan hidupnya untuk sebuah perjuangan berdarah-darah demi perubahan hidup bangsanya. Dan ia percaya bahwa “suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan: engkau harus hancur!/ di dalam keyakinan kami di mana pun – tiran harus tumbang!” (Bunga dan Tembok).

Dan sebagaimana kata-kata dalam puisi Chairil Anwar yang sering dikutip, kata-kata Wiji Thukul pun telah menjadi slogan yang sangat terkenal dan diteriakkan dalam aksi-aksi demonstrasi menentang kelaliman. Di bawah ini adalah beberapa kutipan dari puisi Wiji Thukul:

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan, apabila engkau memaksa diam, aku siapkan untukmu pemberontakan!!! (Sajak Suara)

Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat, dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran pasti terancam. (Peringatan)

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: lawan! (Peringatan)

Sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu, ia ingin bicara mengapa kau kokang senjata dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan? (Sajak suara)

Jika kami bunga engkau adalah tembok, tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji suatu saat kami akan tumbuh bersamad dengan keyakinan: engkau harus hancur! dalam keyakinan kami di manapun – tirani harus tumbang! (Bunga dan tembok)

Mogoklah maka kau akan melihat dunia mereka jembatan ke dunia baru dunia baru ya dunia baru. (Bukan Kata Baru)

Kami satu: buruh kami punya tenaga jika kami satu hati kami tahu mesin berhenti sebab kami adalah nyawa yang menggerakkannya. (Makin Terang Bagi Kami)

Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli, apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu. (Satu Mimpi Satu Barisan)

. . . sajakku adalah kebisuan yang sudah kuhancurkan sehingga aku bisa mengucapkan dan engkau mendengarkan, sajakku melawan kebisuan. (Satu Mimpi Satu Barisan)

Jika tak ada mesin ketik aku akan menulis dengan tangan, jika tak ada tinta hitam aku akan menulis dengan arang, jika tak ada kertas aku akan menulis pada dinding, jika menulis dilarang aku akan menulis dengan tetes darah! (Penyair)

Aku berpikir tentang gerakan tapi mana mungkin kalau diam? (Tentang Sebuah Gerakan)

Aku menulis aku penulis terus menulis sekalipun teror mengepung. (Puisi Di Kamar)

Penjara sekalipun tak bakal mampu mendidikku jadi patuh. (Puisi Menolak Patuh)

Kita tidak sendirian kita satu jalan, tujuan kita satu ibu: pembebasan! (Tujuan Kita Satu Ibu)

Kausiksa aku sangat keras hingga aku makin mengeras, kaupaksa aku terus menunduk tapi keputusan tambah tegak. (Derita Sudah Naik Seleher)

Aku bukan artis pembuat berita tapi memang aku selalu kabar buruk buat para penguasa. (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Puisiku bukan puisi tapi kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan. Ia tak mati-mati meski bola mataku diganti. Ia tak mati-mati meski bercerai dengan rumah. Ia tak mati-mati. Telah kubayar apa yang dia minta umur-tenaga-luka. (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Kata-kata itu selalu menagih padaku ia selalu berkata: kau masih hidup! aku memang masih utuh dan kata-kata belum binasa. (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Penyair Goenawan Mohamad menulis bahwa Wiji Thukul tidak bisa dipisahkan dari perubahan politik Indonesia menjelang akhir abad ke-20, ketika demokratisasi bergerak lagi melintasi penindasan, kekerasan, bahkan pembunuhan. Goenawan percaya bahwa Thukul sebenarnya seorang pemenang. Tapi ia pemenang yang tak membawa pialanya ke rumah. Ketika rezim yang dilawannya runtuh, ia hilang. Mungkin ia diculik dan dibunuh seperti beberapa aktivis prodemokrasi lain, tanpa meninggalkan jejak.4)

Bagaimanapun nasib Wiji Thukul saat ini, masih hidup atau sudah mati, puisi-puisinya akan terus dibaca. Sebab setiap karya yang ditulis dengan darah dan airmata, akan terus bergema sepanjang masa. Benar ia hilang tanpa jejak, tapi suaranya melambung ke angkasa, suara yang mewakili rasa sakit kemanusiaan yang direnggut secara paksa.

Catatan

1) Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru, editor: Dorothea Rosa Herliany (Magelang: IndonesiaTera, 2000)

2) Solichan Arif, “Cerita Wiji Thukul si Penyair Hilang”, http://www.koran-sindo.com/node/313947

3) Disarikan dari diskusi “Wiji Thukul: Sebuah Angka Peradaban yang Hilang”, yang disiarkan TVRI pada 27 Mei 2013, dipandu oleh Soegeng Sarjadi.

4) Goenawan Mohamad, “Thukul”, Catatan Pinggir, Tempo, 13-19 Mei 2013

Categories
Puisi

Gereja Tua

gerejatua

PUISI ESAI AHMAD GAUS

Gereja Tua

/1/

AZAN magrib bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan di kampung Setu
Terdengar oleh Nasruddin seperti lomba tarik suara
Orang-orang bergegas pergi sembahyang.

Sejak pulang dari Tanah Suci
Nasruddin tidak pernah lagi datang ke masjid
Salat berjamaah ataupun ikut pengajian
Setiap malam Jumat.

Para tetangga merasa heran
Berharap Nasruddin menjadi haji mabrur
Menggantikan imam masjid yang sudah tua
Menjadi amil1) dan mengurus pengajian
Harapan mereka sia-sia.

Seorang tetangga menyindir
Nasruddin hajinya mardud2), ditolak oleh Tuhan
Penampilannya tidak mencerminkan seorang haji
Tidak pernah terlihat memakai sorban
Apalagi peci haji.

Ada juga yang mengatakan
Nasruddin merasa malu karena bohong
Ia sebenarnya tidak pergi ke Mekah
Tapi ke tempat lain di luar negeri.

Para tetangga masih ingat
Hari pertama Nasruddin tiba dari Tanah Suci
Mereka menyalaminya penuh haru
Nasruddin tampak kaku dan pendiam
Tidak ada cerita yang keluar dari mulutnya
Bagaimana suasana di Baitullah
Wukuf di Padang Arafah
Bermalam di Mina
Melontar jumrah aqabah.

Nasruddin tidak membawa buah tangan
Sajadah, tasbih, dan semua yang diharapkan
Dari orang yang pulang haji
Bahkan sebutir korma pun tidak ada
Jangankan air zam-zam.

Yang lebih mengherankan
Beberapa hari sebelum Nasruddin tiba di tanah air
Ada seekor unta yang diantar entah oleh siapa
Dan kini diikat di depan rumahnya.

Para tetangga bergunjing menertawakan
Baru kali ini ada orang pulang haji membawa unta!
Ha.. ha.. ha.. ha…
Mengapa tidak sekalian saja Kabahnya dibawa!
Hi.. hi.. hi.. hi…

/2/
Nasruddin menutup telinga
Mereka tidak memahami unta
Hewan itu saksi hidup Nabi Muhammad
Setia menemaninya berdagang di Syam3)
Membawanya hijrah ke Madinah
Saat berada dalam ancaman kafir Mekah.

Setiap pagi Nasruddin memandikan unta itu
Kain yang digunakannya terbuat dari bahan halus
Kain yang kasar bisa melukai kulitnya yang bagus
Ia tidak habis pikir bagaimana hewan yang jinak itu
Bisa menaklukkan gurun pasir yang buas.

Unta selalu disebut dalam buku sejarah Islam
Tidak ada hewan yang menyaingi kesetiaannya
Mendampingi perjuangan Nabi dan para sahabat
Tapi jasanya jarang diingat.

Nasruddin menjelaskan itu kepada keluarganya
Seperti para tetangga, mereka juga tidak mengerti
Bahkan menginginkan unta itu segera dijual
Atau mereka akan melepaskannya
Saat Nasruddin tertidur.

Nasruddin kasihan kepada untanya
Para tetangga mencibir
Keluarga sendiri tidak bisa menerima
Akhirnya ia menitipkan unta itu di sebuah gereja
Yang digembala sahabatnya — Pendeta Martin

/3/

Gereja itu sudah ada sejak zaman Belanda
Di papan nama tertulis Gereja Pelita Suci
Tapi warga kampung Setu
Menyebutnya gereja lilin
Pada malam-malam tertentu
Jemaah gereja menyanyi dan berdoa
Sambil memegang lilin yang menyala
Menarik perhatian anak-anak kampung
Yang pulang mengaji.

Sudah tiga puluh tahun
Pendeta Martin tinggal di gereja itu
Melayani Tuhan dan para jemaat
Sekali waktu membuka pengobatan umum
Untuk orang-orang Muslim
Di sekitar gereja.

Pohon palem tua tumbuh di depan gereja
Daunnya dianggap sebagai simbol
Kemenangan dari dosa dan kematian
Ketika Yesus memasuki Yerusalem
Sebelum Ia disalibkan.4)

Di mata Nasruddin
Pohon palem itu seperti pohon kurma
Buahnya yang kering adalah makanan unta
Di batang palem itu dia mengikat untanya
Setiap malam.

Pendeta Martin menyukai unta milik Nasruddin
Sering terlihat bercengkrama di depan gereja
Seperti berbicara kepada manusia
Sebelum Nasruddin datang
Memberi makan dan memandikan untanya.

/4/

Pendeta Martin seorang alim
Memahami dengan baik seluk beluk unta
Suatu pagi dia menjelaskan kepada Nasruddin
Unta adalah makhluk Tuhan yang unik
Perangainya sopan dan memiliki aura religius
Ia mengutip Kitab Kejadian 24 5)
Kata unta disebut 16 kali.

Sambil bercakap dengan Pendeta Martin
Nasruddin memandikan untanya dengan kain basah
Campuran air hangat dan minyak zaitun
Ia mengelus punggung onta itu
Membayangkan di atasnya pernah duduk
Nabi Muhammad, rasul utusan Tuhan

Nasruddin percaya kepada Pendeta Martin
Unta memiliki aura religius
Dalam Alquran Tuhan berfirman,
Tidakkah mereka memperhatikan
Bagaimana unta-unta itu diciptakan?6)

Pendeta Martin menjelaskan Injil Lukas 18:25
Gambaran orang-orang berharta yang sulit masuk surga
Bagaikan sulitnya unta masuk ke lubang jarum.

Nasruddin heran, apakah Tuhan berbicara buruk tentang unta?
Sang Pendeta menepis, itu hanya metafora
Orang-orang Yahudi kaya memiliki kebiasaan
Harta mereka dibawa di kiri-kanan punggung unta
Mereka tidak bisa memasuki pintu
Rumah-rumah Yahudi yang menyerupai lubang jarum
Bentuknya sempit dan memanjang
Siapa yang ingin memasuki lubang itu
Harus melepaskan hartanya.

/5/

Minggu kedua setelah pulang haji
Nasruddin berlatih menaiki unta
Lekuk punggungnya bagaikan bukit Tursina
Tempat Nabi Musa menerima wahyu.

Di atas punggung unta
Nasruddin membayangkan Rasulullah
Berhijrah ke Madinah
Di sana kaum Anshar berebut
Menghendaki Nabi tinggal di rumah mereka
Nabi membiarkan untanya berhenti sendiri
Dan unta itu duduk di pelataran
Rumah milik Abu Ayyub al-Anshari
Di situlah Nabi tinggal.

Di Madinah banyak orang berilmu
Memilih profesi sebagai konsultan unta
Mereka dibayar oleh para saudagar kaya
Setelah menaksir kemampuan hewan itu
Menyesuaikan diri dengan padang pasir
Tidak makan dan minum
Selama berminggu-minggu.

/6/

Unta hewan yang pintar
Nabi memperlakukannya begitu mulia
Tidak sia-sia Nasruddin membelinya
Jauh-jauh dari Arab
Ditentang keluarganya sendiri
Ditertawakan oleh para tetangga
Dianggap orang gila.

Masih terngiang di telinganya
Cemoohan orang-orang yang curiga
Nasruddin naik haji hanya terpaksa
Karena semua keluarganya sudah haji
Ia juga tidak pernah mengikuti latihan manasik7)
Menghapalkan doa tawaf dan sa’i.

Di dalam pesawat menuju Jedah
Para calon haji sibuk membaca buku
Fikih panduan menunaikan ibadah haji
Nasruddin membaca buku-buku ekonomi
Ia ingin umat Islam maju
Bisa membangun teknologi tinggi
Supaya pergi ke Tanah Suci
Naik pesawat buatan sendiri.

Ustadz pembimbing haji menegurnya
Meluruskan niat menuju Mekah
Meminta ampun di depan Kabah
Menghapus dosa-dosa.

/7/

Ketika pulang haji
Nasruddin bercerita kepada Pendeta Martin
Tujuannya pergi ke Tanah Suci
Bukan untuk menghapus dosa
Bukan pula mencari pahala
Ia ingin menyelami denyut nadi
Negeri para nabi dilahirkan
Tempat yang disucikan
Pertaruhan orang-orang beriman.

Banyak orang berkali-kali naik haji
Lebih banyak yang tidak mampu memaksakan diri
Menjual harta benda, sawah, dan ladang
Semua dipertaruhkan demi iman
Tapi ibadah haji dibisniskan
Dana umat diselewengkan.

Pendeta Martin terkejut
Semua umat beragama punya tabiat sama
Menjual agama untuk kepentingan pribadi.

Kita harus berbuat sesuatu, kata Nasruddin
Pendeta Martin mengamini
Umat di bawah bernasib sama
Hidup susah dan menderita
Kondisi yang subur untuk diadu domba
Bukan soal Islam atau Kristen
Kemiskinan tidak pandang agama.

Pagi hingga petang
Malam hingga larut
Nasruddin dan Pendeta Martin selalu berdiskusi
Apa yang bisa dilakukan untuk umat
Percakapan tentang buku-buku dan kitab suci
Makin mengakrabkan keduanya.

Unta Nasruddin senang berada di gereja tua itu
Para jemaat sangat menyayanginya
Mengajaknya bercakap-cakap
Memperlakukannya sebagai manusia.

/8/

Setiap pagi Nasruddin menuntun unta
Kadang berada di punggungnya
Berjalan mengelilingi kampung
Menyisir tepi-tepi jalanan kota.

Orang-orang yang melihat Nasruddin
Menganggapnya manusia aneh
Menunggang unta di tengah kemacetan
Terjepit di antara ribuan kendaraan bermotor.

Nasruddin tidak peduli
Naik unta dianggap peristiwa historis
Napak tilas perjalanan agama Islam
Dari zaman Nabi Muhammad.

Di punggung unta ada sejarah
Kapitalisme perdagangan kaum Muslim masa awal8)
Terpancar dari Madinah ke Baghdad
Granada, Cordoba, Damaskus
Lalu Paris, New York, London
Pusat-pusat kapitalisme dunia
Tumbuh pesat di atas kuburan
Sejarah peradaban Islam.

/9/

Suatu hari Nasruddin dan untanya
Masuk ke pelataran kantor-kantor perbankan
Bursa efek dan pusat-pusat bisnis
Perbelanjaan modern.

Nasruddin melihat untanya seperti gelisah
Membandingkan keadaan ekonomi negeri Syam
Yang ramai di zaman Nabi Muhammad
Dengan perekonomian di zaman ini.

Nasruddin membiarkan saja
Ia ingin unta itu tahu dunia sudah berbeda
Jauh keadaannya dibandingkan 14 abad silam
Kaum Muslim hidup dalam kapitalisme global
Di bawah kendali negara-negara industri maju
Dan mereka bukan pemeluk agama Muhammad.

Unta itu menatap Nasruddin
Pandangannya kosong
Mulutnya bergerak-gerak,

“Siapa saya sekarang?” tanyanya

“Kamu adalah masa lalu,” jawab Nasruddin.

Ia tahu pernyataan itu sangat keras
Bisa melukai perasaan unta
Tapi ia sengaja mengatakan itu
Agar untanya mengerti
Dunia masa kini bukan lagi miliknya.

“Apakah saya masih berguna?”

“Masih, tapi sekadar alat analisa?”

“Apa bisa lebih spesifik?” tanya unta itu penasaran.

Nasruddin menjelaskan,

Begini. Kamu adalah simbol perekonomian kaum Muslim
Tapi itu dulu, ketika ekonomi Islam masih sangat dominan
Sekarang dunia sudah berubah
Tidak bisa lagi dijelaskan melalui sudut pandang Islam
Perkembangan ekonomi global
Didominasi oleh sistem kapitalisme Barat
Semuanya ahistoris dalam sejarah Islam.

Unta itu menyibakkan ekornya
Matanya berkejap-kejap
Seperti sedang menutupi perasaannya
Sesaat kemudian,

Baiklah, bukannya saya tidak mau disalahkan
Tapi rasanya kurang fair kalau hanya melihat dari pihak saya
Ini pasti ada yang salah dengan umat Islam sendiri.

Nasruddin terperangah
Ia merasa unta itu mulai menebar tuduhan
Memfitnah kaum Muslim.

“Apa yang salah dengan umat Islam?” kejar Nasruddin

Unta itu menatap Nasruddin
Ia tahu majikannya mulai kesal
Lalu ia melanjutkan,

Lihat, apa yang dilakukan kaum Muslim
Selama berabad-abad
Mereka hanya mengutak-atik syariah
Bertengkar soal akidah
Perkara semacam itu tidak pernah selesai
Di zaman saya dulu, pembebasan Islam itu kongkrit
Pesan-pesan Alquran sangat hidup
Tapi sekarang menjadi abstrak
Kaum Muslim tidak mampu menghidupkannya
Mereka tertidur selama berabad-abad
Seperti para pemuda Ashabul Kahfi
Ketika bangun dunia sudah berubah
Mereka tidak sanggup hidup
Akhirnya memilih mati.

Kata-kata itu seperti godam
Palu besar yang dipukulkan ke kepala Nasruddin
Matanya dipenuhi kunang-kunang
Samar-samar menatap cahaya
Lampu-lampu kendaraan yang mulai menyala.

/10/

Hari mulai senja
Nasruddin menuntun untanya
Memasuki halaman gereja
Tapi langkahnya terhalang
Garis polisi di sekeliling pagar
Batu-batu berserakan di bagian dalam
Genting yang hancur dan pecahan kaca.

Suasana di dalam gelap dan sepi
Azan magrib berkumandang
Bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan di kampung Setu
Terdengar oleh Nasruddin
Seperti tangisan para jemaat gereja.

Orang-orang yang lewat menuju masjid
Menghampiri Nasruddin dan bercerita
Tapi pagi puluhan massa datang dari mana
Menyerang gereja dan memukuli Pendeta Martin
Sekarang dia dirawat di rumah sakit.

Bumi yang dipijak berguncang
Langit tidak mengirimkan berita
Orang-orang itu membantu Nasruddin
Membawa untanya ke dekat masjid
Nasruddin bergegas menuju rumah sakit
Bibirnya tak henti membaca doa.

Malang tak dapat ditolak
Beberapa menit sebelum ia datang
Pendeta Martin sudah berpulang
Menghadap Tuhan Bapak
Di kerajaan surga.

/11/

Gereja itu masih dikelilingi garis polisi
Batu-batu dan pecahan genting dilumat sepi
Sesepi kematian penghuninya yang tragis
Berita ini jangan dieksposes, kata petugas
Nanti memancing kemarahan yang lebih besar
Semua sudah ditangani pihak berwajib.

Pendeta Martin pergi terlalu cepat
Banyak pekerjaan sudah dibuat
Membangun solidaritas
Menghilangkan sekat-sekat
Antarumat beragama.

Nasruddin bersandar di pohon palem
Membayangkan orang-orang dari mana
Datang sambil meneriakkan takbir
Menyerang
Lalu menghilang.

Beberapa jemaat gereja menghampiri Nasruddin
Menghiburnya dengan kutipan Alkitab
Seorang dari mereka berkata,

Tuan, bila gereja ini masih diizinkan ada
Sudilah Tuan membiarkan unta ini
Tetap tinggal di sini bersama kami
Seperti pesan Bapak Pendeta sebelum wafat
Kami berjanji akan merawatnya
Sebaik Tuan menyayanginya.

Nasruddin tertunduk
Tangannya mengusap punggung unta
Di atasnya pernah duduk
Seorang Nabi utusan Tuhan
Kemudian ia berbisik ke telinga unta,

Kita akan tinggal di sini
Saya akan menggantikan Bapak Pendeta
Menjaga gereja ini.

Azan zuhur berkumandang
Bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan
Di kampung Setu.

Orang-orang yang lewat menuju masjid
Menyalami jemaat gereja
Menyampaikan belasungkawa
Seorang yang bersurban dan berpeci haji
Menghampiri Nasruddin dan berkata,

Biarlah unta ini kami bawa
Kami akan buatkan rumah untuknya
Di samping masjid.

Catatan Kaki

1. Amil adalah orang yang bertugas mengurus jenazah. Biasa dibedakan dengan amil zakat yaitu orang atau lembaga yang bertugas dalam pengumpulan dan pengelolaan zakat.

2. Status haji mardud didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh al-Thabrani: “Tidak ada talbiyah bagimu dan tidak ada keberuntungan atasmu karena makananmu haram, pakaianmu haram, dan hajimu mardud (ditolak).” Biasanya dibedakan dengan haji makbul yaitu haji yang diterima karena terpenuhi syarat-syaratnya, dan dibedakan juga dengan haji mabrur yaitu haji yang sejati, karena ibadah haji mampu mengubah perilaku seseorang menjadi lebih baik.

3. Negeri Syam sekarang dikenal dengan nama Suriah. Sejak usia 12 tahun Muhammad telah sering diajak oleh pamannya, Abu Thalib, untuk berdagang di Syam. Uraian yang lengkap mengenai ini lihat Imam Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, terjemahan, Jld 1, Jakarta, Darul Falah, Cet. V, 2005.

4. Daun palem adalah simbol dari kemenangan, diasosiasikan dengan kejayaan Yesus memasuki kota Yerusalem. Lihat, Yohanes 12:12-13.

5. Kejadian 24 adalah bagian dari Kitab Kejadian dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Termasuk dalam kumpulan kitab Taurat yang disusun oleh Musa. Lihat, http;//id.wikipedia.org/wiki/Kejadian_24

6. Surat al-Ghasiyah ayat 17: Afalaa yandhuruuna ila ‘i-ibili kayfa khuliqat

7. Manasik = tata cara pelaksanaan ibadah haji

8. Istilah kapitalisme perdagangan (commercial capitalism) berasal dari seorang sosiolog dan historian Prancis, Maxime Rodinson, yang meyakini bahwa masyarakat Muslim awal mempraktikkan kapitalisme jenis ini. Lihat Maxime Rodinson, Islam and Capitalism (terjemahan Inggris oleh Brian Pearce), London, Allen Lane, 1974. Lihat juga, Gene W. Heck, Charlemagne, Muhammad, and the Arab Roots of Capitalism, Walter de Gruyter, 2006

Puisi di atas adalah salah satu puisi yang dimuat dalam buku Ahmad Gaus, Kutunggu Kamu di Cisadane: Antologi Puisi Esai (KomodoBook, 2012)

Follow My Twitter @AhmadGaus
Face Book: Gaus Ahmad
Email: gausaf@yahoo.com
_______________________________

Categories
Puisi

Kota-kota dalam Koloni Airmata

Kota-kota dalam Koloni Airmata
Puisi Ahmad Gaus

Hujan menepi pada dinding beton rumah-rumah yang menyekap ingatan tentang rasa sakit. Sejarah yang dikubur oleh cairan timah yang membeku dalam tubuh orang-orang yang mengaumkan kepedihan. Dalam reportoar para pembenci di atas panggung yang disulap menjadi zona perang.

Para penjaga malam negeri ini menjerit kesakitan. Mencabut luka satu demi satu reruntuhan peradaban yang telah asing. Orang-orang menjelma serigala—mencabik-cabik tubuh mereka sendiri, menggali urat nadi untuk menghanyutkan rasa sakit yang mengeras dalam genangan darah.

Mereka berbaris membentuk pasukan burung, berarak di atas langit yang robek oleh desingan peluru. Para malaikat melantunkan salawat, memisahkan roh-roh jahat dari butiran hujan—sebab hujan adalah airmata yang menguap ke angkasa, tangisan yang direnggut penguasa-penguasa durjana.

Kota-kota kini dalam koloni airmata dan kabut dan dingin yang menebal di setiap persendian. Orang-orang bergegas memburu bayangan langit yang runtuh menjadi percikan api. Semua mimpi berserakan dan terbakar. Sebab mereka tak mampu lagi membedakan warna senja dan fajar yang mulai menyingsing di kaki bukit.

Categories
Penggalan Buku Puisi

Hukum Bermazhab dalam Sastra dan Pintu Ijtihad Puisi yang Tidak Pernah Ditutup

Pengantar untuk Buku Puisi Esai:
KUTUNGGU KAMU DI CISADANE
Oleh Ahmad Gaus

Duapuluh tahun kemudian saya kembali menulis puisi. Selama rentang waktu itu saya hanya menulis artikel opini atau kolom di media massa, serta sejumlah buku. Dunia puisi sudah saya tinggalkan, dan nyaris tidak pernah diingat lagi. Saya sudah menganggapnya sebagai masa lalu, catatan kelam dalam karir kepenulisan saya.

Tahun 1991 adalah puncak kebencian saya terhadap puisi—kurun waktu di mana saya banyak menulis dan mengirimkan puisi-puisi saya ke media massa, tapi tidak pernah dimuat. Akhirnya saya muat sendiri dalam majalah mahasiswa yang saya pimpin. Mungkin ini pelajaran penting: seorang penulis tidak perlu bisa menuangkan gagasannya ke dalam semua bentuk tulisan. Saya merasa tidak berbakat menulis karya fiksi seperti puisi dan cerpen (cerita pendek). Ada cerpen yang saya tulis sejak tahun 2007 dan sampai sekarang belum juga selesai. Ada juga puisi yang saya selesaikan selama 3 tahun, padahal puisi itu pendek saja. Mungkin karena saya menuliskannya dengan keraguan yang sempurna—keraguan bahwa saya tidak berbakat menjadi penyair!

Tetapi, saya memang tidak bercita-cita menjadi penyair. Bahkan sampai sekarang. Perkara dulu—saat remaja—saya suka menulis puisi, biasanya karena sedang jatuh cinta. Ada juga puisi-puisi yang saya tulis karena perasaan “dendam” kepada sejumlah penyair yang begitu licik bermain dengan kata-kata. Sejak duduk di bangku Tsanawiyah/SMP saya membaca puisi-puisi karya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan yang lainnya, dengan kekaguman yang meletup-letup. Lalu saya mencoba meniru mereka, menulis puisi. Kemudian saya mengirimkannya ke media massa. Untuk sebagian besar saya tidak tahu nasib puisi-puisi itu, mungkin masuk dalam keranjang sampah. Ada juga redaksi yang berbaik hati mengembalikannya dalam amplop tertutup, dan saya membukanya dengan tangan gemetar di toilet sekolah. Isinya selalu saja: Anda belum beruntung!

Maka saya segera memutar haluan. Energi dan waktu tidak ingin lagi disia-siakan untuk sesuatu yang tidak pasti. Saya kembali melanjutkan kebiasaan menulis artikel opini. Sejak duduk di bangku kelas 2 Aliyah/SMA artikel dan esai saya sudah dimuat di beberapa koran. Saya masih ingat honor pertama saya dikirimkan melalui pos wesel dan nyangkut di Balai Desa. Bapak Ketua RT di kampung saya, Haji Aman namanya, memberikannya kepada saya saat bertemu di mushalla sebelum salat magrib. Sambil menyerahkan itu, entah mengapa dia begitu iseng mengumumkan kepada para jamaah salat magrib jumlah yang tertera dalam wesel sebesar Rp7.500,00. Itu tahun 1986.

Ketika mulai duduk di bangku kuliah, tulisan-tulisan saya mengalir lebih deras. Bahkan saat duduk di semester empat, saya diberi kehormatan untuk mengisi kolom tetap di harian Jayakarta (kalau tidak salah diterbitkan oleh Kodam Jaya). Koran itu, seperti juga koran-koran lainnya hanya membuka rubrik budaya pada edisi minggu. Saya pun kerap membaca puisi-puisi dari para penyair yang tersebar di koran-koran edisi minggu itu. Tentu saja saya juga membaca majalah sastra seperti Horison. Jadi, walaupun tidak menulis puisi, diam-diam saya tetap menikmatinya.

Hampir semua puisi yang saya baca di media massa sebenarnya merupakan puisi yang sulit untuk dipahami. Saya sendiri menikmatinya bukan terutama karena saya dapat memahaminya, melainkan justru karena saya tidak memahaminya. Ada pola yang—entah dari mana dan sejak kapan—membentuk semacam kesadaran dalam diri saya bahwa semakin sulit sebuah puisi dipahami, semakin baik bagi saya. Semakin abstrak bahasanya semakin indah.

Membaca puisi ialah memasuki lorong-lorong gelap yang saya tidak tahu apakah di kiri-kanannya ada ranjau dan di ujung sana ada jurang. Tapi saya sudah terbiasa menikmati berada di dalam kegelapan itu. Sebuah puisi—seperti juga sebuah lukisan—yang mendorong lahirnya banyak penafsiran menunjukkan kekayaan makna puisi tersebut. Guru bahasa Indonesia saya di SMA dulu mengatakan bahwa puisi Chairil Anwar yang berjudul “Nisan” ditafsirkan berbeda-beda oleh para pengamat sastra asing. Begitu juga puisi pendek dari Sitor Situmorang berjudul Malam Lebaran, isinya hanya satu baris /”Bulan di atas kuburan”/ namun menimbulkan ragam penafsiran. Semakin banyak tafsir semakin baik, karena itu berarti puisi tersebut sangat kaya makna.

***
Belakangan saya tahu bahwa pola pikir semacam itu tidak bebas pengaruh. Ada semacam discourse dalam dunia perpuisian yang menghegemoni kesadaran publik bahwa yang disebut puisi ialah “ini”, bukan “itu”. Estetika puisi ialah “begini”, dan bukan “begitu”. Mungkin itu yang membuat puisi semakin rigid. Dunianya dikelilingi oleh tembok tinggi, di dalamnya hanya terdapat para penyair yang duduk satu meja dengan sesama penyair sambil minum anggur, mendiskusikan hal-hal penting tentang senja dan pohon cemara. Sementara itu—mengutip Chairil Anwar—“mereka yang bukan penyair tidak ambil bagian.”

Di tangan para penyairlah, hidup dan matinya puisi dipertaruhkan. Publik tidak ambil bagian karena mereka hanya konsumen—seperti umat dalam tradisi keagamaan yang harus ikut saja apa kata ulama. Hukum mana yang boleh diikuti dan tidak, sudah ada ketentuannya. Para penyair juga kerap diperlakukan seperti ulama yang kepada mereka dinisbatkan mana karya puisi dan mana yang bukan, mana sekte kepenyairan yang benar dan mana aliran sesat. Puisi-puisi jenis baru tidak tercipta karena seakan-akan ada paham bahwa “pintu ijtihad sudah ditutup”. Para penyair baru harus mengikuti saja salah satu mazhab yang sudah ada.

Jika benar begitu, maka inilah saat dimana dunia perpuisian sebenarnya justru membutuhkan lahirnya tradisi baru yang memberi nafas baru bagi dunia literasi. Sejarah kesusastraan di tanah air mencatat adanya dinamika pembaruan semacam itu, dan meletakkannya dalam arus perubahan budaya. Begitulah pergeseran dari Angkatan Balai Pustaka ke Pujangga Baru, kemudian Angkatan 1945, dan seterusnya. Karena itu, kelahiran tradisi baru dalam penulisan puisi sejatinya akan memulihkan fungsi pembaruan dalam kesusastraan.

Atas dasar itu, saya sangat terkesan bahwa seorang Sapardi Djoko Damono memberi apresiasi yang begitu besar terhadap puisi-puisi esai karya Denny JA dalam buku Atas Nama Cinta. Kita tahu bahwa Sapardi merupakan salah satu “paradigma” dalam dunia perpuisian modern di tanah air. Ia menjadi kiblat bagi banyak penyair muda. Karya-karyanya diakui telah menjelma menjadi kerajaan estetika tersendiri—estetika lirisisme, seperti yang mengemuka dalam diskusi “Imperium Puisi Liris” di Bentara Budaya Jakarta, Maret 2008. Sebagian karya puisi yang lahir dari tangan penyair-penyair muda, saya kira, juga bercorak sapardian.

Puisi-puisi esai karya Denny JA adalah kekecualian terhadap paradigma sapardian tersebut. Puisi sapardian bercorak liris, sementara puisi Denny JA bercorak esai—maka kemudian diberi nama “puisi esai”, sebuah gabungan istilah yang juga baru dalam kesusastraan Indonesia.

Kenyataan bahwa Sapardi memberi apresiasi dan dorongan bagi lahirnya karya-karya puisi jenis baru, memperlihatkan bahwa ia tidak ingin melihat puisi Indonesia terperangkap dalam statisme. Ada kerinduan terhadap terobosan, karena selama puluhan tahun penulisan puisi mengalami stagnasi, tidak ada perubahan yang berarti. Padahal, “pintu ijtihad” untuk menciptakan puisi-puisi jenis baru tidak pernah ditutup, dan mazhab-mazhab dalam sastra juga bermunculan, misalnya dulu ada mazhab sastra realisme sosial, mazhab sastra untuk sastra—yang merupakan derivasi dari ideologi seni untuk seni (l’art pour l’art), mazhab sastra kontekstual yang dipelopori oleh Ariel Heriyanto dan Arief Budiman, dan belakangan ada mazhab sastra dakwah.

***
Saya sendiri, pada mulanya, membaca puisi-puisi esai Denny JA dengan perasaan heran dan penuh tanya; ini puisi atau bukan? Kok penuturannya bercerita. Rupanya pengaruh paradigma lirisisme masih sangat kuat dalam kesadaran saya, sehingga nyaris kehilangan perspektif untuk menilai sebuah karya puisi yang bukan dari mazhab lirisisme.

Setelah berulang-ulang membacanya, saya meyakini puisi jenis ini sebenarnya yang biasa dibaca di panggung-panggung agustusan karena mudah dipahami. Saya menyebut panggung agustusan untuk menunjukkan bahwa popularitas sebuah puisi ialah ketika ia dibaca oleh masyarakat awam di atas panggung, dan agustusan adalah panggung yang paling populis.

Membaca puisi esai mengingatkan saya pada jenis tulisan opini. Di dalamnya ada gagasan yang tidak disembunyikan. Dituangkan dalam format puisi, namun cara bertuturnya esai. Yakni, dengan bahasa komunikasi sehari-hari. Bukankah puisi itu sendiri sebenarnya ialah komunikasi? Saya berpikir bahwa siapa saja bisa membuat puisi semacam ini—yang bukan penyair pun bisa ambil bagian!

Maka saya mulai menulis kembali puisi, setelah lebih dari dua puluh tahun tidak melakukannya. Melalui puisi esai, saya menemukan cara baru beropini. Dan inilah lima buah puisi esai saya yang dimuat dalam antologi ini, yang semuanya memotret dinamika kehidupan sosio-politik dan religius di tanah air beserta para aktornya.
***

Seperti halnya ritual-ritual dalam agama Islam yang saya peluk, dimana ada hukum yang fleksibel untuk mengikuti salah satu mazhab, maka pilihan saya untuk bermazhab pada puisi esai ini pun ada di dalam kerangka fleksibilitas tersebut. Sebagai penganut mazhab Syafii saya tidak menuduh sesat penganut mazhab Hanafi, Hanbali, Maliki, bahkan Dja’fari (Syiah). Sebagai penganut mazhab puisi esai, saya juga tidak hendak menisbikan mazhab puisi liris, puisi eMbeling, dan sebagainya. Bahkan saya tetap mengapresiasi, menikmati, dan seandainya mampu, mencipta puisi-puisi jenis itu.

Kiranya tidak perlu saya menjelaskan satu persatu dari lima puisi esai saya yang dimuat dalam buku ini. Saya serahkan kepada pembaca untuk menilainya. Sebagai mazhab baru dalam sastra Indonesia, puisi esai niscaya terus mencari bentuk melalui berbagai kreasi, walaupun mungkin tidak akan ada, dan memang tidak perlu ada, bentuk final dan standar. Puisi-puisi saya ini boleh jadi hanya salah satu varian saja dari apa yang dinamakan puisi esai itu.

Sebelum menutup pengantar ini, saya ingin menyampaikan penghargaan yang tulus kepada banyak pihak yang memungkinkan terbitnya buku ini. Pertama-tama saya harus berterima kasih kepada Denny JA yang terus mendorong agar buku ini segera diterbitkan. Kritik, saran, dan masukan-masukannya telah menjadi bagian dari karya ini baik yang disampaikan melalui email maupun dalam berbagai pertemuan di Ciputat School—sebuah forum yang difasilitasi oleh Denny JA untuk menginspirasi pencerahan budaya.

Teman-teman lain di Ciputat School yang membaca naskah awal puisi-puisi ini juga ikut memberi masukan, bahkan kritik yang pedas, sehingga acapkali saya tidak bisa tidur nyenyak atas kritik-kritik tersebut. Namun saya tahu semuanya dilakukan dengan tulus demi kesempurnaan yang relatif. Para pegiat Ciputat School yang saya maksud ialah: Elza Peldi Taher, Jonminofri, Ihsan Ali Fauzi, Zuhairi Misrawi, Anick HT, Neng Dara Affiah, Novriantoni Kahar, Budhy Munawar-Rachman, Nur Iman Subono, Ali Munhanif, Jojo Rahardjo, dan lain-lain yang tidak cukup halaman untuk menyebutkannya satu persatu.

Teman-teman di Jurnal Sajak juga telah banyak memberi dukungan. Mereka adalah Agus R. Sarjono, Acep Zamzam Noor, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Tugas Suprianto, dan khususnya Jamal D Rahman, yang bersedia meluangkan waktu menulis kata pengantar untuk buku ini.

Akhirnya, buku ini dipersembahkan kepada para bidadari yang selalu menyemarakkan hari-hari saya dengan canda dan tawa mereka: istri tercinta, Jumiatie Zaini dan anak-anak kami, Alifya Kemaya Sadra dan Raysa Falsafa Nahla, serta keponakan kami yang tinggal bersama kami, Winda Widyana.
Karya ini jelas sangat jauh dari sempurna untuk dipublikasikan. Namun saya berpegang pada satu adagium di dunia penulisan: Terbitkan karyamu hari ini, besok engkau buat yang lebih baik lagi! Selamat membaca.

Ciputat, 1 Juli 2012
Ahmad Gaus

_________________________________________________________________________________________________________
Buku KUTUNGGU KAMU DI CISADANE tersedia di gerai-gerai Gramedia. Anda juga bisa memesan melalui alamat2 di bawah ini:

FB: Gaus Ahmad
Twitter: @AhmadGaus
Email: gausaf@yahoo.com
PIN: 21907D51
_________________________________________________________________________________________________________

Categories
Puisi

Puisi Ibu – karya @raysanahla

Ibu selalu mengurusku
Ia sayang padaku
Tapi jika aku menangis
Ia marah

10 Maret 2010

Ini Echa (Raysa Falsafa Nahla), 8 tahun.

Categories
Pelatihan Menulis Puisi

Puisi Esai adalah Puisi yang Bercerita

Bumi Siliwangi, Isolapos.com

“ Puisi Esai adalah puisi yang bercerita dengan merujuk kepada fakta sosial yang pernah terjadi,” ujar Ahmad Gaus, pembicara dalam Workshop Menulis Puisi dan Esai yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang bekerja sama dengan Jurnal Sajak, Senin (16/7).

Ahmad menambahkan puisi esai merupakan cara baru menulis puisi. “Butuh retorika yang keras agar puisi ini berkembang,” tutur ahmad
Menurutnya, puisi esai merupakan bentuk komunikasi yang mudah dipahami dengan bahasa puisi yang dapat menggugah emosi. “Puisi ini tidak cukup hanya pengalaman, namun harus ada bingkai sosial,” ujar Ahmad.

Menanggapi hal tersebut, Jamal D. Rahman pembicara ke dua dalam seminar tersebut mengatakan, penyair perlu memanfaatkan bahasa sebaik-baiknya.
Selain itu, Menurut Jamal puisi esai dapat menyadarkan kepada para penyair tentang pentingnya riset. “Karena ada fakta dan fenomena sosial yang dihadirkan,” ujar Jamal. [ Julia Hartini]

Ahmad Gaus : Puisi Esai Adalah Puisi yang Bercerita