Categories
Puisi

[Puisi] Menjaring Bayang-Bayang

Bogor4

MENJARING BAYANG-BAYANG

Aku dan bayang-bayangku adalah satu kesatuan
Ke timur atau ke barat, ke utara atau ke selatan
Kami selalu pergi bersama-sama
Tidak ada yang bisa memisahkan kami kecuali kegelapan

Di dalam gelap aku tidak pernah bertanya ke mana bayang-bayangku pergi
Dan dia tidak pernah peduli apa yang aku lakukan

Aku membutuhkan bayang-bayangku
Karena dia memberitahu aku tentang cahaya
Tapi aku juga takut dengan bayang-bayangku sendiri
Karena dia menjelmakan sisi yang paling gelap dari diriku

Aku dan bayang-bayang tidak pernah saling mengejar
Karena kami memahami posisi masing-masing
Kadang dia ada di belakang mengikutiku
Kadang dia di depan dan aku yang mengikutinya

Bayang-bayang selalu melekat padaku
Tapi aku tidak memilikinya
Dia adalah milik cahaya
Bahkan aku tidak mengenalinya
Hanya kegelapan yang mengenalinya dengan baik
Karena dia adalah anak kandung kegelapan

Cahaya dan kegelapan bersaing menjaring bayang-bayangku
Hasilnya adalah gambaran diriku dalam satu dimensi… gelap dan tidak utuh!
Itulah sebabnya aku tidak percaya pada bayang-bayangku sendiri
Walaupun aku tahu dia akan terus bersamaku
Sampai nanti aku mati

Catatan:
Puisi dibacakan dalam workshop Lembaga Sensor Film (LSF) “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now” di Ibis Styles, Bogor, 1 September 2018

Bogor1
Bersama Hasanuddin Ali (di samping kiri saya), penulis buku “Millennial Nusantara” yang menjadi salah satu narasumber dalam workshop LSF “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now”.
Bogor5
Bersama teman-teman LSF. Ketua LSF, Dr. Ahmad Yani Basuki duduk di tengah (berjaket hitam)

 

Categories
Puisi

[Puisi] Masyarakat Senja

 

tvsmith

MASYARAKAT SENJA

Senja berbaris mengenakan baju hitam. Orang-orang berdiri di atas jembatan, menunggu matahari terperosok ke dalam jurang. Dari sudut kota seorang pemuda datang tergopoh-gopoh, “Hai, lihat itu ada yang menangis di atas langit.” Suaranya perlahan-lahan menghilang ditelan kerumunan.

Sebuah peristiwa tengah disiapkan, untuk menyambut pergantian. Perempuan-perempuan menari di atas punggung kuda yang berlari kencang dari masa silam. Anak-anak dilemparkan ke atas bukit, dibekali panah beracun. Para resi keluar dari tempat pertapaan, memanggul senjata.

“Ada apa?” Pemuda itu masih belum mengerti.

Para nabi membawa kabar langit suci. Manusia membangun rumah sendiri-sendiri. Berdesakan dalam ruang sunyi, dengan sedikit lubang pintu untuk mengintip. Mereka hanya ke luar ketika langit mulai gelap. Malaikat-malaikat turun mengantarkan cahaya. Meninggalkannya di atas menara rumah-rumah Tuhan. Namun manusia mengurung diri. Dunia murung dalam keasingannya yang abadi.

Orang-orang itu menaiki bukit dan bersorak-sorai. Merayakan kemenangan atas matahari yang terperosok dalam kepala. Bumi hitam. Langit hitam. Dan segala yang dapat ditangkap oleh pancaindera. Tapi di atas bukit, angkasa tidak bertuan. Dunia terlalu kecil untuk menjadi medan pertempuran yang tak berkesudahan.

Alam Sutera, 08/09/17

Puisi “Masyarakat Senja” dimuat dalam kumpulan puisi saya, Senja di Jakarta (2017)

Foto ilustrasi:

Senja di teluk Kinabalu, Sabah-Malaysia, 24 April 2018, bersama para sastrawan Malaysia dan Indonesia: Fatin Hamama, Fanny Jonathan, D. Kemalawati, Isbedy Setiawan ZS, Datuk Jasni Matlani, dkk.

 

Sabah3

 

Senja di Jakarta

Categories
Puisi

[Puisi] Bahagia Sekarang Juga

[Dibacakan dalam acara #KampanyeKebahagiaan #GerakanIndonesiaBahagia dalam Rangka Memperingati #HariKebahagiaanSedunia, oleh #YayasanIndonesiaBahagia, Taman Suropati, Jakarta Pusat, 25 Maret 2018].

YIB2

BAHAGIA SEKARANG JUGA

SESEORANG terbangun dari tidur di pagi hari
Ia mengamati sekelilingnya, mencari-cari sesuatu
Namun yang ditemukan hanya selimut, seprei, bantal, guling
Dan gadget yang memang selalu diletakkan di dekat bantal
Lalu ia mencarinya di bawah tempat tidur
Tapi yang dicarinya tetap tidak ada
Maka ia masuk lagi ke dalam selimut dan kembali tertidur
Ia berharap kebahagiaan yang hilang di pagi hari itu
Akan datang lagi dalam mimpinya.

Banyak orang terbangun dari tidur
Mencari kebahagiaan di sisa mimpinya tadi malam
Sebab mereka tidak mendapatkannya dalam kehidupan nyata
Sebab kehidupan nyata terlalu keras — terlalu kejam
Mimpi menjadi tempat petualangan yang menyenangkan
Terlepas dari penderitaan dan kesusahan hidup
Tapi kebahagiaan dalam mimpi hanya fatamorgana
Setiap orang akan terbangun — kembali ke dunia nyata
Dan berusaha mendapatkan kebahagiaan.

Tapi di mana kebahagiaan bisa didapat?
Di dalam rumah. Di kantor. Di tempat olahraga.
Di hotel mewah. Di gubuk reot.
Di restoran. Di kaki lima.
Di dalam badan. Di dalam hati.
Dalam jiwa. Dalam pikiran.

Kebahagiaan ada di mana-mana
Dan tidak pernah pergi ke mana-mana
Karena ia tidak berkaki
Tuhan tidak meletakkan kebahagiaan di tempat tersembunyi
Atau di puncak gunung tinggi
Tapi di dalam diri sebagai fitrah azali
Bakat bawaan manusia sejak dini.

Kebahagiaan tidak bisa dicuri
Sebab tidak akan ada yang mampu membelinya
Kebahagiaan juga tidak bisa ditukar
Sebab tidak ada intan permata yang senilai dengannya.

Setiap orang bisa patah hati kapan saja
Karena putus cinta, atau ditinggal pergi orang yang dicintai
Tapi kebahagiaan tidak boleh dibiarkan dibawa pergi
Karena ia adalah harta yang paling berharga
Kalau ia hilang, maka hidup kita akan sengsara
Selamanya dirundung kesepian.

Di zaman media sosial seperti sekarang
Setiap orang memiliki teman lebih dari yang dibutuhkan
Sepuluh, seratus, seribu, beribu-ribu
Tapi tetap saja banyak orang yang merasa kesepian
Banyaknya teman tidak menjamin seseorang bahagia
Semakin sering seseorang berbicara kepada orang lain
Mengadukan keluh kesah hidupnya
Ke hadapan ribuan orang yang tak terlihat
Semakin menunjukkan kesepiannya.

Beribu-ribu teman kita kumpulkan di dunia maya
Semata-mata karena kita dan mereka satu pemahaman
Satu pandangan agama, satu pilihan politik
Satu idola pemimpin yang sama
Kita tertawa-tawa dengan mereka
Sambil menggunjing orang lain
Yang tidak sama dengan kita
Padahal kita tidak pernah bertemu dengan mereka
Sementara orang-orang terdekat kita — Keluarga,
Saudara, Kerabat, Sahabat — dijauhi, dimusuhi
Dicurigai karena beda paham. Beda pilihan.
Beda pandangan politik.

Akhir-akhir ini kehidupan kita menjadi semakin panas
Karena politik telah masuk ke ruang-ruang keluarga
Tempat-tempat ibadah
Kelompok-kelompok arisan
Obrolan-obrolan warung kopi
Lingkungan perkantoran.

Tanpa kita sadari
Politik membawa virus perpecahan yang berbahaya
Dan lebih berbahaya lagi bila politik mengenakan baju agama
Sebab setiap orang akan menganggapnya kebenaran mutlak
Yang harus diperjuangkan dengan jiwa dan raga
Dan seringkali membabi-buta
Akibatnya kehidupan menjadi sumpek — pengap
Setiap orang mengintai pikiran orang lain
Sedikit saja salah bicara kita akan di-bully.

Di sekitar kita banyak orang yang hidupnya tidak bahagia
Yakni mereka yang gemar menghujat. Memfitnah. Menghina
Mengancam. Menebar teror. Menganggap rendah orang lain
Menyerang dan mencari-cari keburukan orang
Mereka itulah orang-orang yang tidak bahagia dalam hidupnya.

Sedangkan orang-orang yang bahagia
Adalah mereka yang selalu menebar kebaikan
Menebar kasih sayang. Membagi energi positif
Memaafkan. Mengikhlaskan. Menutupi keburukan orang lain.

Apabila kebahagiaan kita telah direnggut
Oleh kebencian. Oleh permusuhan
Maka kehidupan kita sungguh dalam bahaya.

Kita harus mengatur ulang nafas hidup kita mulai sekarang
Mencegah kekuatan negatif memenuhi lingkungan kita
Menghentikan permusuhan atas nama politik dan agama
Atau atas nama apapun. Menebarkan kembali cinta
Menebarkan kasih sayang
Menjadi orang yang bahagia
Karena hanya orang yang bahagia yang dapat menularkan
Kebahagiaan kepada orang lain
Kepada dunia.

Kebahagiaan adalah kekuatan fitrawi yang suci
Yang tidak boleh hilang dalam keadaan apapun
Dan tidak boleh dibiarkan orang lain merusaknya
Dengan alasan apapun
Karena Tuhan adalah sumber kebahagiaan
Maka hanya orang-orang yang bahagia pula
Yang dapat menjumpai-Nya.

Maka tumbuhkanlah perasaan bahagia
Saat sehat maupun sakit
Saat kaya maupun miskin

Hidup hanya sesaat
Alangkah merugi orang yang tidak bahagia

Maka berbahagialah
Saat sendiri maupun di keramaian
Saat datang maupun pergi
Saat bebas maupun tertindas
Kebijakan tertinggi ialah ketika orang mampu bahagia dalam keadaan menderita

Hidup bahagia tidak membutuhkan alasan
Karena bahagia sendiri adalah alasan untuk hidup
Tidak ada nanti atau esok untuk bahagia
Melainkan sekarang
Bahagia sekarang juga
Bahagia
Sekarang
Juga.

Jakarta, 25.03.18

Ahmad Gaus

YIB Puisi

 

 

 

Categories
Buku Baru Ahmad Gaus

SENJA DI JAKARTA

BukuSenja
Buku puisi terbaru saya sudah terbit pada November 2017 oleh Penerbit Kosa Kata Kita

 

 

 

RG
Peluncuran Buku Puisi “SENJA DI JAKARTA” di The Reading Group, Singapura, 3 November 2017

 

jean
Ms Jean dan Buku SENJA DI JAKARTA, di ajang Singapore Writers Festival, 4 November 2017

 

Riri
Riri Riza, Produser dan Sutradara; mau diapain ini buku, Mas? hehe..
Irena
Dibaca di kelas Bahasa dan Budaya, Swiss German University (SGU) Tangerang,oleh Irena, Mahasiswi Smst 5 Jurusan Biomedical Engineering
Mekah
Alhamdulillah, sudah sampai di depan Kabah

 

Imi
Sudah ada di Jepang juga..

 

Fadiah
Testimoni, Fadiah (Singapura)
KKK
ETALASE

Jika anda berminat membeli buku ini sila menghubungi nomor telp/WA: 0857.5043.1305

 

Salam Puisi,

AHMAD GAUS

 

 

 

 

 

 

Categories
Puisi

[Puisi] Aku Bertanya Pada Cinta

ee877e63d4bb767c294e093bbcda1e5c

AKU BERTANYA PADA CINTA

Aku bertanya pada cinta
sampai kapan akan membiarkan rindu
terbelenggu dalam penjara jiwa.
Ia menggelengkan kepala
menitikkan airmata!

Aku bertanya pada rindu
sampai kapan akan membiarkan cinta
terpenjara dalam belenggu kalbu.
Ia menangis pilu
menumpahkan airmatanya di bahuku!

Akhirnya aku bertanya pada airmata
sudikah ia mempertemukan
cinta dan rindu di taman pelaminan
dimana tak ada lagi kesedihan.
Ia pergi meninggalkanku
sambil menangis tersedu-sedu!

—  Gedung Film, Maret 2016

Categories
Puisi

[Puisi] Seribu Tahun Lagi

floating-leaf

 

SERIBU TAHUN LAGI

Kulayari malam dengan perahu

selembar daun yang jatuh dari mimpimu

laut gelap menunggu!

Kapal-kapal berlintasan di kepalaku

mengangkut udara kota yang beku

dan menaburkannya di sepanjang

aliran darahku.

Dengarlah!

Aku bukan pengelana yang gagah perkasa

menaklukkan badai, menembus rimba belantara

mencari cinta sampai ke ujung dunia

Aku hanya debu

mengikuti angin yang setia mengirim rindu

kepada dermaga dan batu-batu.

Tubuhku ringan tanpa beban

terapung-apung di tengah lautan

esok, tirai fajar akan membuka kelopak matamu

atau harus seribu tahun lagi menunggu!

  —  Bintaro, 22 Januari  2016

Categories
Puisi

Aku Tidak Memesan Malam

 

bulannn

AKU TIDAK MEMESAN MALAM

puisi ahmad gaus

 

Aku tidak memesan malam

ia datang begitu saja

dituangkan angin ke cangkir kopi

“Untuk apa?” tanyaku

“Aduklah, lalu minum,” katanya, “sebentar lagi sepi akan datang

ia akan menemanimu mengobrol.”

 

Hei, siapa pula yang memesan sepi?

aku sedang ingin sendiri

seisi rumah sudah kukeluarkan

kuletakkan di pinggir jalan

pakaian yang kukenakan telah kulucuti

kusedekahkan pada pengemis yang nyaris telanjang

bahkan tangan, kaki, alat vital, mata, telinga, hidung

telah kuberikan pada orang-orang yang lewat

terserah mau mereka apakan

aku ingin menyendiri

benar-benar sendiri.

 

Dunia sekelilingku telah menjadi asing

orang-orang tak kukenal hilir mudik

menuju tempat-tempat hiburan

merayakan malam dengan tangisan yang meriah

sebagian lagi berjubel di pusat-pusat perbelanjaan

memasukkan sepi ke kantong-kantong plastik.

 

Biarlah aku tetap seperti ini

tanpa malam, tanpa sepi

sebab keduanya sama saja:

telah tercemar oleh bau busuk keramaian

hanya kesendirian yang membuatku nyaman

hidup apa adanya, penuh kepasrahan

seperti bayi yang baru dilahirkan

dan dibuang ke dalam selokan

lalu menyusu dari polutan.

 

 

Ciputat, 10/1/2016

 

Categories
Memoar Puisi

[Puisi] Pintu-Pintu Menuju Tuhan (Kepada Nurcholish Madjid)

Rektor Universitas Paramadina  Nurcholish Majid, wajah, Jakarta 12 Juli 2000 [TEMPO/ Bernard Chaniago; 30d/348/2000; 2000/07/20].
Cak Nur

Hari ini, 29 Agustus 2015 genap sepuluh tahun wafatnya Nurcholish Madjid (29 Agustus 2005). Untuk mengenang almarhum saya menulis sebuah puisi yang judulnya diambil dari buku karya beliau, Pintu-Pintu Menuju Tuhan (Paramadina, 1992). Puisi ini saya bacakan di sela-sela diskusi “Mengenang 10 Tahun Wafatnya Cak Nur” yang diadakan oleh ISAIS (Institute for Southeast Asian Islamic Studies) UIN Suska Riau, pada Kamis 27 Agustus lalu. Diskusi yang dipandu oleh Ali Hasan Palawa dan digelar di aula Fakultas Sains dan Teknologi UIN Suska tersebut menghadirkan tiga penulis buku tentang Cak Nur sebagai narasumber yaitu Budhi Munawar Rachman (Penulis Ensiklopedi Nurcholish Madjid), Muhammad Wahyuni Nafis (penulis buku Cak Nur Sang Guru Bangsa, dan saya sendiri, Ahmad Gaus, selaku penulis buku Api Islam Nurcholish Madjid).

GausSusqa2

Diskusi Refleksi 10 Tahun Mengenang Wafatnya Nurcholish Madjid di UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 27 Agustus 2015.

PINTU-PINTU MENUJU TUHAN

 Kepada Nurcholish Madjid, ‘Allah yarham’

Oleh: Ahmad Gaus

BANYAK pintu menuju Tuhan

Kita berdiri di satu pintu pilihan

Walaupun harus berdesakan

Walaupun harus berhimpitan.

PARA sufi mengajarkan

Semua jalan musyahadah kepada Tuhan

Akan sampai juga pada tujuan

Karena disinari cahaya-cahaya kebenaran.

DAN CAHAYA-cahaya itu terang adanya

Dalam Kitab yang pasti kebenarannya

Walladzina jahadu finaa

Lanahdiyannahum subulanaa

(Mereka yang bersungguh-sungguh mencari jalan Kami

Akan Kami tunjukkan berbagai jalan Kami QS. Al-Ankabut:29/69).

JIKA engkau harus memegang satu kebenaran

Silakan, tapi jangan lupa bersikap toleran

Sebab kebenaran yang engkau pertengkarkan

Nisbi adanya, bukan mutlak-mutlakan.

BANYAK pintu menuju Tuhan

Banyak jalan menuju kebenaran

Mengapa harus memaksa orang lain berada di satu jalan

Berdesakan, berhimpitan, berjatuhan.

MEREKA yang mendapat petunjuk Tuhan

Adalah orang-orang beriman

Mereka mungkin bersimpangan jalan

Namun menuju satu tujuan.

SEPERTI ribuan sungai yang mengalir

Semua bergerak menuju hilir

Tidak ada satu pun yang mangkir

Semua bermuara di samudra akhir.

(WALLAHU a’lam bis-shawab)

TUHAN Maha Tahu yang benar

Engkau dan aku hanya mengerti sekadar

Karena itu tidak patut membuat onar

Menuding orang lain sesat dan tersasar.

______________________

Categories
Puisi

DUA HATI: Antologi Puisi Mini Multimedia

INI PUISI era digital, teks saja tidak cukup. Puisi dipadukan dengan audio-visual. Namanya Puisi Mini Multimedia (PMM), atau #eShortPoem

Di bawah ini beberapa PMM saya yang dibingkai dengan ilustrasi. Dua PMM lainnya saya buatkan versi videonya. Selamat menikmati 🙂

03-Jangkar

10-Rindu

06-Cupid

01-Dua Hati

07-Cemara

02-Perkasa
08-Kutukan
09-Pesta

Categories
Puisi

Waktu Kita Kecil [PUISI]

httpswwwfotoblur.comimages182594
Sumber foto: http://wwww.fotoblur.com/images/182594

WAKTU kita kecil, kita ingin terbang seperti burung, berkelana ke angkasa, mencari dunia yang lebih angker untuk bermain petak umpet. Sebab hanya di tempat seperti itu kita diperebutkan oleh anak-anak perempuan yang takut setan.

Waktu kecil kita ingin menjadi kupu-kupu. Hinggap dari satu bunga ke bunga lain yang tumbuh di antara semak belukar. Bercinta dengan bebasnya di alam terbuka. Angin berhembus kencang menimbulkan getaran keras pada daun-daun dan menggoyangkan tangkai-tangkainya — hingga seluruh birahi tumpah di penghujung petang itu.

Waktu kecil kita berlarian di pematang sawah, atau bermain di tumpukan jerami sehabis panen. Waktu itu belum ada pabrik yang dibangun di atas lahan pertanian. Petang hari kita bermain sepak bola. Lapangannya terbentang dari belakangan rumah sampai ke bukit-bukit. Sama sekali tidak pernah terpikir bahwa kelak kita akan kehilangan itu semua, dan hanya bisa bermain bola di lapangan futsal yang sempit. Tapi mungkin itu bukan permainan bola, hanya sejenis kenangan yang diawetkan.

Waktu kecil kita pergi ke sekolah berjalan kaki tanpa sepatu. Jaraknya berkilo-kilo meter. Buku pun cuma satu untuk mencatat semua mata pelajaran. Waktu itu pemerintah menyediakan buku ajar. Jadi kita tidak perlu membelinya. Atau buku bekas kakak sulung kita yang masih bisa dipakai sampai adik yang kesepuluh.

Waktu kecil kita bermimpi pindah ke kota, bekerja di kantor besar. Pergi dengan mobil yang disetir sendiri sambil ngebut di jalan raya. Waktu itu belum terpikir kemacetan akan seburuk ini. Di kota kita bisa hidup lebih bebas. Pergi ke mana kita suka tanpa takut diomeli orang tua. Membeli pakaian sendiri. Memilih sepatu sendiri. Memilih pasangan hidup sendiri.

Setelah dewasa, kita ingin kembali ke masa kecil yang dipenuhi impian-impian indah. Kita pun kembali berkumpul dengan anak-anak di sore hari atau malam bulan purnama. Menyaksikan mereka bermain ular naga, galasin, engklek, atau hompimpa yang mengawali permainan yang mendebarkan: petak umpet. Kita terkejut karena semua yang pernah kita impikan dulu masih tersimpan rapi di mata mereka.

Sent from twitter: @AhmadGaus

Categories
Puisi

Sebelum Hujan

Kutulis namamu pada gumpalan awan
agar selalu bisa kubayangkan kau di sana
duduk menungguku dan mengirim rindu melalui butiran hujan.

Aku ingin kembali berada di sana
menghirup harum tubuhmu
yang kenyal dan memabukkan.

Kutulis namamu pada gumpalan awan
sebelum hujan turun mengurai kembali
mimpi-mimpi yang tersimpan ribuan tahun lamanya.

12/12/013

Categories
Puisi Toleransi Agama

Para Penjahat Atas Nama Tuhan

syiah2

Dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada hari ini (16/11/2013), saya menulis sebuah puisi terkait dengan kondisi kehidupan beragama di tanah air dewasa ini.

Para Penjahat Atas Nama Tuhan
Puisi Ahmad Gaus

Di manakah Tuhan
ketika rumah-Nya diserang
dan dihancurkan?

Engkau tidak akan tahu arti sedih
sebelum kakimu tergelincir dan berdarah
ketika menyeru Tuhan di tengah jerit kesakitan
dalam kobaran api yang membakar
rumah-rumah ibadah.

Engkau tidak akan mengerti
apa artinya terbuang
sampai merasakan sendiri bagaimana
iman direndahkan.

Anak-anak dan perempuan lari ketakutan
menunggu malaikat datang
membawa mereka terbang ke angkasa
bertemu dengan Tuhan yang bersemayam
di atas ‘aras.

Orang-orang tua bertanya
apakah Tuhan mereka telah binasa
dijebloskan ke dalam penjara?

Burung-burung gemetar
melihat orang-orang mengamuk
membawa senjata
batu dan parang.

Di manakah Tuhan
Ketika rumah-Nya disegel
dan dipagari kawat berduri?

Di negeri ini
iman dicurigai bagai sindikat
orang mau beribadah disamakan
dengan penjahat.

Di negeri ini
lebih mudah membuka panti pijat
daripada membuka rumah ibadat
orang mabuk difasilitasi
menyembah Tuhan dihalang-halangi.

Di negeri ini
orang mau beribadah dianggap
mengganggu ketertiban umum
sementara para penjahat yang mengatasnamakan Tuhan
bebas berkeliaran sambil berteriak
Allahu akbar
serang! kejar! bunuh!
Allahu akbar

Setiap hari para pemimpin berpidato
tentang Konstitusi
tapi di mana mereka bersembunyi
ketika orang yang berbeda keyakinan diteror
diinjak-injak?

Orang-orang dibiarkan
dianiaya di kampung mereka
menjadi pengungsi di negeri sendiri
hak hidup mereka direnggut
di hadapan para petinggi negeri.
Kemajemukan diancam
kebebasan disandera
orang-orang dengan pongahnya meringkus kebenaran
memaksakan kehendak dengan kekerasan.

Apakah Tuhan berduka
ketika umat-Nya terlunta-lunta?
Apakah Tuhan merasakan luka
melihat umat-Nya bertaburan isak tangis
dilempari genting dan pecahan kaca?

Jakarta, Hari Toleransi Internasional, 16/11/2013

Note:

Puisi ini dimuat di: http://www.satuharapan.com/read-detail/read/puisi-ahmad-gaus-para-penjahat-atas-nama-tuhan/pbb-toleransi-untuk-perdamaian-dan-masa-depan-berkelanjutan

Puisi ini juga dibacakan di berbagai forum pertemuan lintas agama

 

 

rkelanjutan