[Poem] The Dream

 

rain

 

THE DREAM

 

When I sat at dawn

Searching for the remnants of my dream last night

The shadow of your wings

The beauty of your voice

Singing like a bird

Chase away my loneliness.

You’ve been singing in beauty

And I am the sky — echoing your voice in the wind

When it suddenly blew hard

My dreams fell to pieces.

But I did not despair

Picked them up

Over and over again

As I did not wanna lose you

Even though in my dream.

●●●

a poem by ahmad gaus

 

Sumber Ilustrasi:

 

[Puisi] Revolusi dalam Selimut

woman-sleeping-paris-19283419
Sumber Ilustrasi: https://www.dreamstime.com/royalty-free-stock-images-woman-sleeping-paris-image19283419

 

REVOLUSI DALAM SELIMUT

Orang hilang menempelkan poster dirinya di pusat keramaian. Pagi hari ketika penduduk sibuk membangunkan pasar yang tertidur di bawah jembatan layang. Seseorang melihatnya berlari mengenakan baju perang, lalu menyelinap ke dalam kamar.

Jendela masih asik bercakap-cakap dengan halaman. Berarti Tuhan sudah pergi pagi ini, pikirnya. Maka diambilnya pedang yang tergantung di dinding dan diselipkan ke dalam selimut. Ia pun tertidur sambil memeluk guling yang terbuat dari kulit perempuan.

Dalam mimpi di pagi hari itu ribuan orang mengeluk-elukkannya sebagai raja. Duduk manis di singgasana dan berkhutbah tentang azab Tuhan bagi siapa saja yang tertidur saat api revolusi dikobarkan. Kemudian ia membujuk orang-orang untuk memenggal kepala mereka dan menggantungkannya di pintu kota.

Waspadalah! Orang-orang saling menyapa dalam rupa manusia. Tapi di tubuh mereka tidak ada siapa-siapa, kecuali api yang ragu-ragu mau membakar kota atau dirinya.

 

16/5/2017

 

 

Cerita Natal Seorang Gadis Kecil

lourdes church front
Sumber ilustrasi: http://mikesbogotablog.blogspot.com/2015/04/the-new-face-of-iglesia-de-lourdes.html

 

CERITA NATAL SEORANG GADIS KECIL

Aku berdiri di halaman gereja
Anak-anak bergaun palma
Menghias pohon Natal dengan lampu aneka warna
Bunga-bunga gladiola, langit merah saga.

Saat lonceng dibunyikan, mereka berlarian
Kemudian larut dalam doa yang dilantunkan
Damai dalam pelukan kasih Tuhan.

Dari kejauhan aku mendengar suara azan
Dibawa angin senja berteluk awan
Azan dan kidung Tuhan saling bersahutan
Menjalin nada, orkestra kehidupan.

Seorang gadis kecil menghampiriku

“Pakailah ini,” katanya menyodorkan topi santa

Aku terdiam. Lama. Kemudian dengan halus aku menolaknya
Ia nampak kecewa. Matanya berkaca-kaca
Aku membungkukkan badan dan berbisik ke telinganya

“Sayang, bukannya aku tidak mau, tapi topi itu terlalu kecil buat kepalaku!”

Ia tersenyum mengerti

“Kalau begitu ambillah ini,” ujarnya menyodorkan replika pohon Natal, “Tanamlah di tubuhmu!”

“Maaf sayang, ini pun aku tidak bisa menerimanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak punya lahan untuk menanamnya,
seluruh tubuhku sudah dipenuhi masjid!”

Ia terdiam. Aku yakin dia tidak mengerti apa yang kukatakan.

Tapi ia bertanya lagi, “Apakah di halaman masjid tidak boleh ditanami pepohonan?”

Aku tersentak. Akhirnya kuraih dia dalam pelukan
Kujelaskan bahwa halaman masjid sekarang penuh oleh kendaraan yang parkir. Tidak ada tempat untuk menanam pohon lagi.
Dia tertunduk. Sedih.

“Jangan kuatir, sayang, pohon Natal ini akan kutanam di samping masjid, dan akan kurawat, setuju?”

Dia mengangguk.

“Terima kasih, Om, Natal itu untuk anak-anak!” ucapnya tersenyum.

Aku pun tersenyum, walaupun tidak mengerti maksud ucapannya.

***

Tangerang Selatan, 24 Desember 2016
Ahmad Gaus

Baca juga:

Cinta Perawan Rima

Kerukunan dan Toleransi Itu Beda, Son

Datang dan Pergi

DATANG DAN PERGI

Ada yang datang seperti kabut
begitu tenang dan lembut
merambat di tepi-tepi hati
lalu pergi
dengan hati-hati.

Ada yang datang seperti ombak
keras mendesak-desak
menghentak batu karang
lalu menghilang.

Ada juga yang datang seperti hujan

membasahi halaman demi halaman
catatan di buku harian
dan hanya bertahan
sebagai kenangan.

Ada lagi yang datang seperti senja
merah saga.

Yang datang dan pergi tidak pernah tahu
di mana aku berdiri menunggu
berpura-pura menjadi
daun pintu.

Pasar Minggu, 28/08/17

[Puisi ini dimuat dalam buku antologi “Senja di Jakarta”, 2017]

Senja di Jakarta


Indahnya Cinta Segitiga

Dua orang perempuan saling menyayangi. Tapi, keduanya mencintai pria yang sama. Cinta segitiga terjalin begitu saja. Ada cemburu. Ada marah. Ada curiga. Tapi kasih sayang di antara kedua perempuan itu membuat mereka harus menafsirkan kembali cintanya pada si pria. Mereka tidak ingin kehilangan sahabat, tapi juga tidak mau ditinggal kekasih. Akhirnya sebuah kompromi dilakukan. Cinta segitiga terjalin mesra.

Masalah baru muncul ketika datang seseorang yang lain (pria atau wanita, hayoo tebak?). Cinta segitiga akhirnya berkembang menjadi persegi panjang. Romantis, seru, menggairahkan, penuh kelembutan, dan sekaligus brutal. Ikuti kisahnya dalam novel Hujan dalam Pelukan di platform NovelMe, selagi masih gratis, sebelum di-setting di halaman berbayar.  Ini link-nya : https://share.novelme.id/starShare.html?novelId=22983

Lihat juga: Perempuan yang Menangis di Jendela

Follow my Instagram: @gauspoem

Homo Homini Lupus

homo_homini_lupus_by_lordofwrappedarrow-d49suym
Sumber ilustrasi: https://www.deviantart.com/lordofwrappedarrow/art/Homo-Homini-Lupus-258327742

HOMO HOMINI LUPUS

Di antara terang dan gelap ada dinding yang tak terlihat. Semacam kaca atau, katakanlah, spektrum yang memisahkan keasingan. Ia berpindah-pindah tempat dari mata ke ruang tahanan, dari hidung ke gudang senjata, dari telinga ke medan pertempuran. Maka pancaindra selalu dihantui mimpi buruk.

Suatu malam, saat kau berada di dalam barisan untuk memerangi manusia, sekumpulan makhluk mengintai dari dinding itu. Mula-mula ada suara gaduh. Kemudian pecahan kaca. Lalu darah berceceran.

Orang-orang dalam barisan itu memunguti pecahan-pecahan kaca yang berserakan dan memakannya. Doa-doa dilantunkan setengah berteriak. Semakin lama semakin banyak orang yang datang. Makhluk-makhluk itu mendekat dan mencekik leher mereka hingga doa-doa yang mereka teriakkan berhamburan menjelma binatang buas. Dalam sekejap saja, ruang di antara terang dan gelap itu berubah menjadi medan perang.

Malam melambaikan tangan dengan cakar-cakarnya yang tajam. Engkau tak sabar menunggu pagi untuk memastikan bahwa yang tergeletak di jalan itu bukan tubuhmu.

22/07/17


N O V E L

“Di dunia ini ada kekuatan hitam, ada kekuatan putih. Kamu pilih yang mana untuk membantu mewujudkan impian-impianmu? Tapi ingat, setiap pilihan akan membawa akibat pada kehidupanmu.”

Kisah pertempuran abadi dua kekuatan yang diwakili oleh dua karakter perempuan muda, baca di sini: https://h5.novelme.com/bookinfo/18126

[Puisi] PERSEKUSI

persecution

PERSEKUSI

Batu-batu yang jatuh dari langit berlarian di tubuhku seperti kawanan serigala. Taring-taringnya mengancamku di balik cermin; dan matanya mengirimkan dendam. Mereka tidak peduli mulutku sudah lama terkunci, tak bisa lagi menjadi pengeras suara yang melontarkan lolongan mereka ke angkasa. Terus saja mereka melolong sepanjang malam.

Dan aku benar-benar tak bisa tidur, sebab suara-suara itu sangat mengganggu, seperti jeritan orang-orang di ruang penyiksaan. Akhirnya kuputuskan untuk masuk lebih jauh lagi — ke jantungku, urat-urat sarafku, pembuluh-pembuluh darahku…

Rupanya inilah negeri masa kanak-kanakku; negeri elok nan damai. Tapi huru-hara itu datang seperti hujan batu yang ditimpakan dari langit dan merenggut semuanya: keluarga, sanak-saudara, sahabat, handai taulan. Gedung-gedung yang megah dan taman-taman yang indah, terkubur batu.

Sudut-sudut kota dijaga kawanan serigala dengan sorot mata penuh dendam. Mereka akan mengejar siapa saja yang menghina pemimpin serigala, mencabik-cabik tubuhnya, dan melemparkannya ke neraka.

03/06/17

 

[Puisi] Sajak Orang Mati

hipwee-The-Dead-Mother
Lukisan: The Dead Mother karya Edvard Munch

SAJAK ORANG MATI

Orang-orang mati bangkit dari kubur dan menghapus nama mereka di batu nisan. Dunia membeku dalam dinginnya kain kafan. Dan tubuh, sekejap saja tinggal tulang belulang. Tapi dunia baru bisa lagi ditegakkan di atas langit yang tak memisahkan kehidupan dan maut. Seperti juga surga dan neraka, seperti juga terang dan gelap.  Di antara keduanya ada ambiguitas, di mana kebenaran selalu disingkirkan.

Orang-orang mati berkabar tentang padang tak bernama. Ruang-ruang yang tak dibentuk oleh murka, waktu yang bebas dari angkara. Orang-orang mati merobek kain kafan dan menghancurkan tulang belulang mereka sendiri. Setelah itu penciptaan kembali.  Waktu menjanjikan keabadian pada orang-orang pilihan, jiwa-jiwa yang hidup dalam kebebasan.

07/07/17

Puisi ini dimuat dalam buku antologi “Senja di Jakarta” (2017)

BukuSenja

[Puisi] Menjaring Bayang-Bayang

Bogor4

MENJARING BAYANG-BAYANG

Aku dan bayang-bayangku adalah satu kesatuan
Ke timur atau ke barat, ke utara atau ke selatan
Kami selalu pergi bersama-sama
Tidak ada yang bisa memisahkan kami kecuali kegelapan

Di dalam gelap aku tidak pernah bertanya ke mana bayang-bayangku pergi
Dan dia tidak pernah peduli apa yang aku lakukan

Aku membutuhkan bayang-bayangku
Karena dia memberitahu aku tentang cahaya
Tapi aku juga takut dengan bayang-bayangku sendiri
Karena dia menjelmakan sisi yang paling gelap dari diriku

Aku dan bayang-bayang tidak pernah saling mengejar
Karena kami memahami posisi masing-masing
Kadang dia ada di belakang mengikutiku
Kadang dia di depan dan aku yang mengikutinya

Bayang-bayang selalu melekat padaku
Tapi aku tidak memilikinya
Dia adalah milik cahaya
Bahkan aku tidak mengenalinya
Hanya kegelapan yang mengenalinya dengan baik
Karena dia adalah anak kandung kegelapan

Cahaya dan kegelapan bersaing menjaring bayang-bayangku
Hasilnya adalah gambaran diriku dalam satu dimensi… gelap dan tidak utuh!
Itulah sebabnya aku tidak percaya pada bayang-bayangku sendiri
Walaupun aku tahu dia akan terus bersamaku
Sampai nanti aku mati

Catatan:
Puisi dibacakan dalam workshop Lembaga Sensor Film (LSF) “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now” di Ibis Styles, Bogor, 1 September 2018

Bogor1
Bersama Hasanuddin Ali (di samping kiri saya), penulis buku “Millennial Nusantara” yang menjadi salah satu narasumber dalam workshop LSF “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now”.

Bogor5
Bersama teman-teman LSF. Ketua LSF, Dr. Ahmad Yani Basuki duduk di tengah (berjaket hitam)

 

Bahagia Sekarang Juga

[Dibacakan dalam acara #KampanyeKebahagiaan #GerakanIndonesiaBahagia dalam Rangka Memperingati #HariKebahagiaanSedunia, oleh #YayasanIndonesiaBahagia, Taman Suropati, Jakarta Pusat, 25 Maret 2018].

YIB2

BAHAGIA SEKARANG JUGA

SESEORANG terbangun dari tidur di pagi hari
Ia mengamati sekelilingnya, mencari-cari sesuatu
Namun yang ditemukan hanya selimut, seprei, bantal, guling
Dan gadget yang memang selalu diletakkan di dekat bantal
Lalu ia mencarinya di bawah tempat tidur
Tapi yang dicarinya tetap tidak ada
Maka ia masuk lagi ke dalam selimut dan kembali tertidur
Ia berharap kebahagiaan yang hilang di pagi hari itu
Akan datang lagi dalam mimpinya.

Banyak orang terbangun dari tidur
Mencari kebahagiaan di sisa mimpinya tadi malam
Sebab mereka tidak mendapatkannya dalam kehidupan nyata
Sebab kehidupan nyata terlalu keras — terlalu kejam
Mimpi menjadi tempat petualangan yang menyenangkan
Terlepas dari penderitaan dan kesusahan hidup
Tapi kebahagiaan dalam mimpi hanya fatamorgana
Setiap orang akan terbangun — kembali ke dunia nyata
Dan berusaha mendapatkan kebahagiaan.

Tapi di mana kebahagiaan bisa didapat?
Di dalam rumah. Di kantor. Di tempat olahraga.
Di hotel mewah. Di gubuk reot.
Di restoran. Di kaki lima.
Di dalam badan. Di dalam hati.
Dalam jiwa. Dalam pikiran.

Kebahagiaan ada di mana-mana
Dan tidak pernah pergi ke mana-mana
Karena ia tidak berkaki
Tuhan tidak meletakkan kebahagiaan di tempat tersembunyi
Atau di puncak gunung tinggi
Tapi di dalam diri sebagai fitrah azali
Bakat bawaan manusia sejak dini.

Kebahagiaan tidak bisa dicuri
Sebab tidak akan ada yang mampu membelinya
Kebahagiaan juga tidak bisa ditukar
Sebab tidak ada intan permata yang senilai dengannya.

Setiap orang bisa patah hati kapan saja
Karena putus cinta, atau ditinggal pergi orang yang dicintai
Tapi kebahagiaan tidak boleh dibiarkan dibawa pergi
Karena ia adalah harta yang paling berharga
Kalau ia hilang, maka hidup kita akan sengsara
Selamanya dirundung kesepian.

Di zaman media sosial seperti sekarang
Setiap orang memiliki teman lebih dari yang dibutuhkan
Sepuluh, seratus, seribu, beribu-ribu
Tapi tetap saja banyak orang yang merasa kesepian
Banyaknya teman tidak menjamin seseorang bahagia
Semakin sering seseorang berbicara kepada orang lain
Mengadukan keluh kesah hidupnya
Ke hadapan ribuan orang yang tak terlihat
Semakin menunjukkan kesepiannya.

Beribu-ribu teman kita kumpulkan di dunia maya
Semata-mata karena kita dan mereka satu pemahaman
Satu pandangan agama, satu pilihan politik
Satu idola pemimpin yang sama
Kita tertawa-tawa dengan mereka
Sambil menggunjing orang lain
Yang tidak sama dengan kita
Padahal kita tidak pernah bertemu dengan mereka
Sementara orang-orang terdekat kita — Keluarga,
Saudara, Kerabat, Sahabat — dijauhi, dimusuhi
Dicurigai karena beda paham. Beda pilihan.
Beda pandangan politik.

Akhir-akhir ini kehidupan kita menjadi semakin panas
Karena politik telah masuk ke ruang-ruang keluarga
Tempat-tempat ibadah
Kelompok-kelompok arisan
Obrolan-obrolan warung kopi
Lingkungan perkantoran.

Tanpa kita sadari
Politik membawa virus perpecahan yang berbahaya
Dan lebih berbahaya lagi bila politik mengenakan baju agama
Sebab setiap orang akan menganggapnya kebenaran mutlak
Yang harus diperjuangkan dengan jiwa dan raga
Dan seringkali membabi-buta
Akibatnya kehidupan menjadi sumpek — pengap
Setiap orang mengintai pikiran orang lain
Sedikit saja salah bicara kita akan di-bully.

Di sekitar kita banyak orang yang hidupnya tidak bahagia
Yakni mereka yang gemar menghujat. Memfitnah. Menghina
Mengancam. Menebar teror. Menganggap rendah orang lain
Menyerang dan mencari-cari keburukan orang
Mereka itulah orang-orang yang tidak bahagia dalam hidupnya.

Sedangkan orang-orang yang bahagia
Adalah mereka yang selalu menebar kebaikan
Menebar kasih sayang. Membagi energi positif
Memaafkan. Mengikhlaskan. Menutupi keburukan orang lain.

Apabila kebahagiaan kita telah direnggut
Oleh kebencian. Oleh permusuhan
Maka kehidupan kita sungguh dalam bahaya.

Kita harus mengatur ulang nafas hidup kita mulai sekarang
Mencegah kekuatan negatif memenuhi lingkungan kita
Menghentikan permusuhan atas nama politik dan agama
Atau atas nama apapun. Menebarkan kembali cinta
Menebarkan kasih sayang
Menjadi orang yang bahagia
Karena hanya orang yang bahagia yang dapat menularkan
Kebahagiaan kepada orang lain
Kepada dunia.

Kebahagiaan adalah kekuatan fitrawi yang suci
Yang tidak boleh hilang dalam keadaan apapun
Dan tidak boleh dibiarkan orang lain merusaknya
Dengan alasan apapun
Karena Tuhan adalah sumber kebahagiaan
Maka hanya orang-orang yang bahagia pula
Yang dapat menjumpai-Nya.

Maka tumbuhkanlah perasaan bahagia
Saat sehat maupun sakit
Saat kaya maupun miskin

Hidup hanya sesaat
Alangkah merugi orang yang tidak bahagia

Maka berbahagialah
Saat sendiri maupun di keramaian
Saat datang maupun pergi
Saat bebas maupun tertindas
Kebijakan tertinggi ialah ketika orang mampu bahagia dalam keadaan menderita

Hidup bahagia tidak membutuhkan alasan
Karena bahagia sendiri adalah alasan untuk hidup
Tidak ada nanti atau esok untuk bahagia
Melainkan sekarang
Bahagia sekarang juga
Bahagia
Sekarang
Juga.

Jakarta, 25.03.18

Ahmad Gaus

YIB Puisi

[Puisi] Kepada Yth. Cebong dan Kampret

 

 

Kepada Yth.
CEBONG DAN KAMPRET

Sebuah negeri tergelincir dari tanganku
Jatuh ke dalam kolam
Sekawanan burung masuk ke tubuhku
Membawa reruntuhan kota
Ekosistem kehidupan telah berubah
Dan aku terpaksa menyesuaikan diri
Meminum air yang bercampur dengan puing-puing bangunan yang belum lama berdiri dan runtuh
Menghirup udara yang tercemar dari polusi besi-besi tua yang gemar berteriak.

Aku tidak tahu kapan pastinya tubuhku bermutasi
Ekor dan sayapku tumbuh begitu saja
Meniru orang-orang, aku pun mulai bisa berenang seperti anak katak
Dan belajar terbang seperti kelelawar
Menyusup ke dalam kepala orang lain dan mencuri pikiran mereka
Kutanam di tengah kota yang telah mati
Dan tumbuh menjadi pohon dengan daun-daun yang dapat berbicara
Menggantikan lidah yang sudah hangus karena tidak pernah berhenti saling menista.

Orang-orang terbangun dari tidur dengan isi kepala dipenuhi burung.
Mereka berhamburan dari mulut dan lubang telinga
Terbang ke sana ke mari memenuhi seantero kota
Kaki mereka mencengkram batu-batu yang menyala
Dan dijatuhkan di atas pemukiman warga
Penduduk berlarian ke luar rumah dengan wajah menengadah dan mulut menganga
Menelan batu-batu itu sampai memenuhi perut mereka
Lalu meledak seperti bom bunuh diri
Langit gelap gulita. Bumi rata.

Apakah semua harus dihancurkan dulu?
Sebelum dibangun kembali oleh anak-anak yang belum lahir
Anak-anak manusia — bukan anak katak atau kelelawar.

 

Pontianak, 31 Juli 2018

Wassalam,

Ahmad Gaus AF
penulis, aktivis

Note: Puisi “Cebong dan Kampret” dibacakan di Aula Universitas Tanjung Pura, Pontianak, 31 Juli 2018. Dibacakan kembali dalam pertemuan para aktivis Komunitas Bela Indonesia (KBI) di Hotel Best Western Premier The Hive, Jakarta, 7 Agustus 2018

Pontianak Untan

“Pertemuan Komunitas Bela Indonesia, Jakarta, 7 Agustus 2018”

Best Western Premier The Hive Jkt

Komunitas Bela Indonesia

 

 

[Puisi] Seribu Tahun Lagi

floating-leaf

 

SERIBU TAHUN LAGI

Kulayari malam dengan perahu

selembar daun yang jatuh dari mimpimu

laut gelap menunggu!

Kapal-kapal berlintasan di kepalaku

mengangkut udara kota yang beku

dan menaburkannya di sepanjang

aliran darahku.

Dengarlah!

Aku bukan pengelana yang gagah perkasa

menaklukkan badai, menembus rimba belantara

mencari cinta sampai ke ujung dunia

Aku hanya debu

mengikuti angin yang setia mengirim rindu

kepada dermaga dan batu-batu.

Tubuhku ringan tanpa beban

terapung-apung di tengah lautan

esok, tirai fajar akan membuka kelopak matamu

atau harus seribu tahun lagi menunggu!

  —  Bintaro, 22 Januari  2016

Aku Tidak Memesan Malam

 

bulannn

AKU TIDAK MEMESAN MALAM

puisi ahmad gaus

 

Aku tidak memesan malam

ia datang begitu saja

dituangkan angin ke cangkir kopi

“Untuk apa?” tanyaku

“Aduklah, lalu minum,” katanya, “sebentar lagi sepi akan datang

ia akan menemanimu mengobrol.”

 

Hei, siapa pula yang memesan sepi?

aku sedang ingin sendiri

seisi rumah sudah kukeluarkan

kuletakkan di pinggir jalan

pakaian yang kukenakan telah kulucuti

kusedekahkan pada pengemis yang nyaris telanjang

bahkan tangan, kaki, alat vital, mata, telinga, hidung

telah kuberikan pada orang-orang yang lewat

terserah mau mereka apakan

aku ingin menyendiri

benar-benar sendiri.

 

Dunia sekelilingku telah menjadi asing

orang-orang tak kukenal hilir mudik

menuju tempat-tempat hiburan

merayakan malam dengan tangisan yang meriah

sebagian lagi berjubel di pusat-pusat perbelanjaan

memasukkan sepi ke kantong-kantong plastik.

 

Biarlah aku tetap seperti ini

tanpa malam, tanpa sepi

sebab keduanya sama saja:

telah tercemar oleh bau busuk keramaian

hanya kesendirian yang membuatku nyaman

hidup apa adanya, penuh kepasrahan

seperti bayi yang baru dilahirkan

dan dibuang ke dalam selokan

lalu menyusu dari polutan.

 

 

Ciputat, 10/1/2016