[Puisi] Revolusi dalam Selimut

woman-sleeping-paris-19283419
Sumber Ilustrasi: https://www.dreamstime.com/royalty-free-stock-images-woman-sleeping-paris-image19283419

 

REVOLUSI DALAM SELIMUT

Orang hilang menempelkan poster dirinya di pusat keramaian. Pagi hari ketika penduduk sibuk membangunkan pasar yang tertidur di bawah jembatan layang. Seseorang melihatnya berlari mengenakan baju perang, lalu menyelinap ke dalam kamar.

Jendela masih asik bercakap-cakap dengan halaman. Berarti Tuhan sudah pergi pagi ini, pikirnya. Maka diambilnya pedang yang tergantung di dinding dan diselipkan ke dalam selimut. Ia pun tertidur sambil memeluk guling yang terbuat dari kulit perempuan.

Dalam mimpi di pagi hari itu ribuan orang mengeluk-elukkannya sebagai raja. Duduk manis di singgasana dan berkhutbah tentang azab Tuhan bagi siapa saja yang tertidur saat api revolusi dikobarkan. Kemudian ia membujuk orang-orang untuk memenggal kepala mereka dan menggantungkannya di pintu kota.

Waspadalah! Orang-orang saling menyapa dalam rupa manusia. Tapi di tubuh mereka tidak ada siapa-siapa, kecuali api yang ragu-ragu mau membakar kota atau dirinya.

 

16/5/2017

 

 

Cerita Natal Seorang Gadis Kecil

lourdes church front
Sumber ilustrasi: http://mikesbogotablog.blogspot.com/2015/04/the-new-face-of-iglesia-de-lourdes.html

CERITA NATAL SEORANG GADIS KECIL

Aku berdiri di halaman gereja
Anak-anak bergaun palma
Menghias pohon Natal dengan lampu aneka warna
Bunga-bunga gladiola, langit merah saga.

Saat lonceng dibunyikan, mereka berlarian
Kemudian larut dalam doa yang dilantunkan
Damai dalam pelukan kasih Tuhan.

Dari kejauhan aku mendengar suara azan
Dibawa angin senja berteluk awan
Azan dan kidung Tuhan saling bersahutan
Menjalin nada, orkestra kehidupan.

Seorang gadis kecil menghampiriku

“Pakailah ini,” katanya menyodorkan topi santa

Aku terdiam. Lama. Kemudian dengan halus aku menolaknya
Ia nampak kecewa. Matanya berkaca-kaca
Aku membungkukkan badan dan berbisik ke telinganya

“Sayang, bukannya aku tidak mau, tapi topi itu terlalu kecil buat kepalaku!”

Ia tersenyum mengerti

“Kalau begitu ambillah ini,” ujarnya menyodorkan replika pohon Natal, “Tanamlah di tubuhmu!”

“Maaf sayang, ini pun aku tidak bisa menerimanya.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak punya lahan untuk menanamnya,
seluruh tubuhku sudah dipenuhi masjid!”

Ia terdiam. Aku yakin dia tidak mengerti apa yang kukatakan.

Tapi ia bertanya lagi, “Apakah di halaman masjid tidak boleh ditanami pepohonan?”

Aku tersentak. Akhirnya kuraih dia dalam pelukan
Kujelaskan bahwa halaman masjid sekarang penuh oleh kendaraan yang parkir. Tidak ada tempat untuk menanam pohon lagi.
Dia tertunduk. Sedih.

“Jangan kuatir, sayang, pohon Natal ini akan kutanam di samping masjid, dan akan kurawat, setuju?”

Dia mengangguk.

“Terima kasih, Om, Natal itu untuk anak-anak!” ucapnya tersenyum.

Aku pun tersenyum, walaupun tidak mengerti maksud ucapannya.

***

Tangerang Selatan, 24 Desember 2016
Ahmad Gaus

Baca juga:

Senyum Kristus

Cinta Perawan Rima

Kerukunan dan Toleransi Itu Beda, Son

Cinta Perawan Rima

Rima

 

Datang dan Pergi

DATANG DAN PERGI

Ada yang datang seperti kabut
begitu tenang dan lembut
merambat di tepi-tepi hati
lalu pergi
dengan hati-hati.

Ada yang datang seperti ombak
keras mendesak-desak
menghentak batu karang
lalu menghilang.

Ada juga yang datang seperti hujan

membasahi halaman demi halaman
catatan di buku harian
dan hanya bertahan
sebagai kenangan.

Ada lagi yang datang seperti senja
merah saga.

Yang datang dan pergi tidak pernah tahu
di mana aku berdiri menunggu
berpura-pura menjadi
daun pintu.

Pasar Minggu, 28/08/17

[Puisi ini dimuat dalam buku antologi “Senja di Jakarta”, 2017]

Senja di Jakarta


Indahnya Cinta Segitiga

Dua orang perempuan saling menyayangi. Tapi, keduanya mencintai pria yang sama. Cinta segitiga terjalin begitu saja. Ada cemburu. Ada marah. Ada curiga. Tapi kasih sayang di antara kedua perempuan itu membuat mereka harus menafsirkan kembali cintanya pada si pria. Mereka tidak ingin kehilangan sahabat, tapi juga tidak mau ditinggal kekasih. Akhirnya sebuah kompromi dilakukan. Cinta segitiga terjalin mesra.

Masalah baru muncul ketika datang seseorang yang lain (pria atau wanita, hayoo tebak?). Cinta segitiga akhirnya berkembang menjadi persegi panjang. Romantis, seru, menggairahkan, penuh kelembutan, dan sekaligus brutal. Ikuti kisahnya dalam novel Hujan dalam Pelukan di platform NovelMe, selagi masih gratis, sebelum di-setting di halaman berbayar.  Ini link-nya : https://share.novelme.id/starShare.html?novelId=22983

Lihat juga: Perempuan yang Menangis di Jendela

Follow my Instagram: @gauspoem

Homo Homini Lupus

homo_homini_lupus_by_lordofwrappedarrow-d49suym
Sumber ilustrasi: https://www.deviantart.com/lordofwrappedarrow/art/Homo-Homini-Lupus-258327742

HOMO HOMINI LUPUS

Di antara terang dan gelap ada dinding yang tak terlihat. Semacam kaca atau, katakanlah, spektrum yang memisahkan keasingan. Ia berpindah-pindah tempat dari mata ke ruang tahanan, dari hidung ke gudang senjata, dari telinga ke medan pertempuran. Maka pancaindra selalu dihantui mimpi buruk.

Suatu malam, saat kau berada di dalam barisan untuk memerangi manusia, sekumpulan makhluk mengintai dari dinding itu. Mula-mula ada suara gaduh. Kemudian pecahan kaca. Lalu darah berceceran.

Orang-orang dalam barisan itu memunguti pecahan-pecahan kaca yang berserakan dan memakannya. Doa-doa dilantunkan setengah berteriak. Semakin lama semakin banyak orang yang datang. Makhluk-makhluk itu mendekat dan mencekik leher mereka hingga doa-doa yang mereka teriakkan berhamburan menjelma binatang buas. Dalam sekejap saja, ruang di antara terang dan gelap itu berubah menjadi medan perang.

Malam melambaikan tangan dengan cakar-cakarnya yang tajam. Engkau tak sabar menunggu pagi untuk memastikan bahwa yang tergeletak di jalan itu bukan tubuhmu.

22/07/17


N O V E L

“Di dunia ini ada kekuatan hitam, ada kekuatan putih. Kamu pilih yang mana untuk membantu mewujudkan impian-impianmu? Tapi ingat, setiap pilihan akan membawa akibat pada kehidupanmu.”

Kisah pertempuran abadi dua kekuatan yang diwakili oleh dua karakter perempuan muda, baca di sini: https://h5.novelme.com/bookinfo/18126

[Puisi] Sajak Orang Mati

hipwee-The-Dead-Mother
Lukisan: The Dead Mother karya Edvard Munch

SAJAK ORANG MATI

Orang-orang mati bangkit dari kubur dan menghapus nama mereka di batu nisan. Dunia membeku dalam dinginnya kain kafan. Dan tubuh, sekejap saja tinggal tulang belulang. Tapi dunia baru bisa lagi ditegakkan di atas langit yang tak memisahkan kehidupan dan maut. Seperti juga surga dan neraka, seperti juga terang dan gelap.  Di antara keduanya ada ambiguitas, di mana kebenaran selalu disingkirkan.

Orang-orang mati berkabar tentang padang tak bernama. Ruang-ruang yang tak dibentuk oleh murka, waktu yang bebas dari angkara. Orang-orang mati merobek kain kafan dan menghancurkan tulang belulang mereka sendiri. Setelah itu penciptaan kembali.  Waktu menjanjikan keabadian pada orang-orang pilihan, jiwa-jiwa yang hidup dalam kebebasan.

07/07/17

Puisi ini dimuat dalam buku antologi “Senja di Jakarta” (2017)

BukuSenja

[Puisi] Menjaring Bayang-Bayang

Bogor4

MENJARING BAYANG-BAYANG

Aku dan bayang-bayangku adalah satu kesatuan
Ke timur atau ke barat, ke utara atau ke selatan
Kami selalu pergi bersama-sama
Tidak ada yang bisa memisahkan kami kecuali kegelapan

Di dalam gelap aku tidak pernah bertanya ke mana bayang-bayangku pergi
Dan dia tidak pernah peduli apa yang aku lakukan

Aku membutuhkan bayang-bayangku
Karena dia memberitahu aku tentang cahaya
Tapi aku juga takut dengan bayang-bayangku sendiri
Karena dia menjelmakan sisi yang paling gelap dari diriku

Aku dan bayang-bayang tidak pernah saling mengejar
Karena kami memahami posisi masing-masing
Kadang dia ada di belakang mengikutiku
Kadang dia di depan dan aku yang mengikutinya

Bayang-bayang selalu melekat padaku
Tapi aku tidak memilikinya
Dia adalah milik cahaya
Bahkan aku tidak mengenalinya
Hanya kegelapan yang mengenalinya dengan baik
Karena dia adalah anak kandung kegelapan

Cahaya dan kegelapan bersaing menjaring bayang-bayangku
Hasilnya adalah gambaran diriku dalam satu dimensi… gelap dan tidak utuh!
Itulah sebabnya aku tidak percaya pada bayang-bayangku sendiri
Walaupun aku tahu dia akan terus bersamaku
Sampai nanti aku mati

Catatan:
Puisi dibacakan dalam workshop Lembaga Sensor Film (LSF) “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now” di Ibis Styles, Bogor, 1 September 2018

Bogor1
Bersama Hasanuddin Ali (di samping kiri saya), penulis buku “Millennial Nusantara” yang menjadi salah satu narasumber dalam workshop LSF “Menjaring Bayang-Bayang Zaman Now”.

Bogor5
Bersama teman-teman LSF. Ketua LSF, Dr. Ahmad Yani Basuki duduk di tengah (berjaket hitam)

 

[Puisi] Masyarakat Senja

tvsmith

MASYARAKAT SENJA

Senja berbaris mengenakan baju hitam. Orang-orang berdiri di atas jembatan, menunggu matahari terperosok ke dalam jurang. Dari sudut kota seorang pemuda datang tergopoh-gopoh, “Hai, lihat itu ada yang menangis di atas langit.” Suaranya perlahan-lahan menghilang ditelan kerumunan.

Sebuah peristiwa tengah disiapkan, untuk menyambut pergantian. Perempuan-perempuan menari di atas punggung kuda yang berlari kencang dari masa silam. Anak-anak dilemparkan ke atas bukit, dibekali panah beracun. Para resi keluar dari tempat pertapaan, memanggul senjata.

“Ada apa?” Pemuda itu masih belum mengerti.

Para nabi membawa kabar langit suci. Manusia membangun rumah sendiri-sendiri. Berdesakan dalam ruang sunyi, dengan sedikit lubang pintu untuk mengintip. Mereka hanya ke luar ketika langit mulai gelap. Malaikat-malaikat turun mengantarkan cahaya. Meninggalkannya di atas menara rumah-rumah Tuhan. Namun manusia mengurung diri. Dunia murung dalam keasingannya yang abadi.

Orang-orang itu menaiki bukit dan bersorak-sorai. Merayakan kemenangan atas matahari yang terperosok dalam kepala. Bumi hitam. Langit hitam. Dan segala yang dapat ditangkap oleh pancaindera. Tapi di atas bukit, angkasa tidak bertuan. Dunia terlalu kecil untuk menjadi medan pertempuran yang tak berkesudahan.

Alam Sutera, 08/09/17

Puisi “Masyarakat Senja” dimuat dalam kumpulan puisi saya, Senja di Jakarta (2017)

Foto ilustrasi:

Senja di teluk Kinabalu, Sabah-Malaysia, 24 April 2018, bersama para sastrawan Malaysia dan Indonesia: Fatin Hamama, Fanny Jonathan, D. Kemalawati, Isbedy Setiawan ZS, Datuk Jasni Matlani, dkk.

Senja di Jakarta

[Puisi] Bangsa Merdeka

Puisi “Bangsa Merdeka” diambil dari kumpulan puisi saya “Senja di Jakarta” yang terbit pada November 2017. Video pembacaan puisi dibuat pada 14 Agustus 2018 sebagai bagian dari kampanye spirit kemerdekaan oleh Yayasan Indonesia Bahagia (YIB). Lokasi: Atap Gedung Film, Jakarta. Videografer: Ira Diana

 

BANGSA MERDEKA

Kalau engkau bertanya kepadaku
benarkah kita sudah merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
ribuan jendela di mata orang-orang tua
yang duduk di atas kursi roda
di sana engkau akan melihat
bukit-bukit gerilya dan hutan belantara
tempat pembantaian manusia
ladang-ladang tebu yang dibombardir
kampung-kampung ibu mereka yang diteror mortir
dan sungai-sungai berwarna merah
yang hingga kini masih mengalir
di mata mereka.

Kalau engkau bertanya kepadaku
mengapa kita harus merdeka
akan kuajak kau pergi ke desa
melihat anak-anak berangkat ke sekolah
melintasi pematang-pematang sawah
menggendong tas berisi buku-buku
sejarah yang berdarah
dan sejumput impian mewah: menjadi dokter,
insinyur, tentara, guru, wartawan, seniman,
pegawai negeri, atau apa saja
yang membuat mereka berguna
untuk bangsa.

Sebab bangsa adalah pusaka yang diwariskan
oleh kakek-nenek moyang mereka
sebab bangsa adalah himne yang dinyanyikan
dengan linangan airmata.

Kalau engkau bertanya kepadaku
apa arti merdeka
akan kutunjukkan kepadamu
pintu-pintu penjara
tempat dulu orang-orang tua kita
meringkuk di dalamnya
disiksa oleh para penjarah bangsa.

Dan kalau engkau masih bertanya
apakah kita sudah merdeka
untuk apa kita merdeka
dan apa arti merdeka
kusarankan kau
masuklah ke dalam penjara.

Jakarta, 16 Agustus 2017

BukuSenja

 

 

 

[Puisi] Kepada Yth. Cebong dan Kampret

 

 

Kepada Yth.
CEBONG DAN KAMPRET

Sebuah negeri tergelincir dari tanganku
Jatuh ke dalam kolam
Sekawanan burung masuk ke tubuhku
Membawa reruntuhan kota
Ekosistem kehidupan telah berubah
Dan aku terpaksa menyesuaikan diri
Meminum air yang bercampur dengan puing-puing bangunan yang belum lama berdiri dan runtuh
Menghirup udara yang tercemar dari polusi besi-besi tua yang gemar berteriak.

Aku tidak tahu kapan pastinya tubuhku bermutasi
Ekor dan sayapku tumbuh begitu saja
Meniru orang-orang, aku pun mulai bisa berenang seperti anak katak
Dan belajar terbang seperti kelelawar
Menyusup ke dalam kepala orang lain dan mencuri pikiran mereka
Kutanam di tengah kota yang telah mati
Dan tumbuh menjadi pohon dengan daun-daun yang dapat berbicara
Menggantikan lidah yang sudah hangus karena tidak pernah berhenti saling menista.

Orang-orang terbangun dari tidur dengan isi kepala dipenuhi burung.
Mereka berhamburan dari mulut dan lubang telinga
Terbang ke sana ke mari memenuhi seantero kota
Kaki mereka mencengkram batu-batu yang menyala
Dan dijatuhkan di atas pemukiman warga
Penduduk berlarian ke luar rumah dengan wajah menengadah dan mulut menganga
Menelan batu-batu itu sampai memenuhi perut mereka
Lalu meledak seperti bom bunuh diri
Langit gelap gulita. Bumi rata.

Apakah semua harus dihancurkan dulu?
Sebelum dibangun kembali oleh anak-anak yang belum lahir
Anak-anak manusia — bukan anak katak atau kelelawar.

 

Pontianak, 31 Juli 2018

Wassalam,

Ahmad Gaus AF
penulis, aktivis

Note: Puisi “Cebong dan Kampret” dibacakan di Aula Universitas Tanjung Pura, Pontianak, 31 Juli 2018. Dibacakan kembali dalam pertemuan para aktivis Komunitas Bela Indonesia (KBI) di Hotel Best Western Premier The Hive, Jakarta, 7 Agustus 2018

Pontianak Untan

“Pertemuan Komunitas Bela Indonesia, Jakarta, 7 Agustus 2018”

Best Western Premier The Hive Jkt

Komunitas Bela Indonesia

 

 

Bunga Rampai dari Malaysia

 

Selangor 10 des 17

 

sdd.jpg
Jauh-jauh ke Malaysia ketemu tetangga, Prof. Sapardi Djoko Damono (SDD) yang tinggal di Ciputat juga, 3 km dari rumah saya, hehe. Saya tunjukkan dalam buku ini ada puisi yang saya tulis untuk beliau berjudul “Kursi Ruang Tunggu” yang notebene merupakan adaptasi dari puisi beliau yang sangat terkenal, “Hujan Bulan Juni”; dan beliau terkekeh-kekeh.

 

GM
Sarapan pagi bersama Goenawan Mohamad dan Pauline Fan di Hotel Grand Bluewave, Selangor, 9 Desember 2017.

 

AAN - KL 08 des 17
Perjalanan dari KL ke Selangor bersama Aan Mansyur, penyair “Ada Apa dengan Cinta 2”

 

IMG-20171210-WA0018
Diskusi panel dengan tema: “Kesusastraan Agama dalam Bahasa Melayu Nusantara” bersama Dr. Azhar (Singapura), Eekmal (Malaysia), dan Mustaqim (Malaysia), di Museum Sultan Shah Alam, Selangor, 10 Desember 2017.

 

Senja di Jakarta

Buku SENJA DI JAKARTA sedang dicetak lagi, karena banyak yang pesan dan saya kehabisan stok. Tapi insya Allah akhir tahun ini (2017) sudah selesai dan anda bisa pesan mulai sekarang: via WA 085750431305. Harga Rp. 50.000,- belum ongkos kirim. Setiap buku yang dipesan akan ditandatangani. 🙂

 

 

 

SENJA DI JAKARTA

BukuSenja
Buku puisi terbaru saya sudah terbit pada November 2017 oleh Penerbit Kosa Kata Kita

 

 

 

RG
Peluncuran Buku Puisi “SENJA DI JAKARTA” di The Reading Group, Singapura, 3 November 2017

 

jean
Ms Jean dan Buku SENJA DI JAKARTA, di ajang Singapore Writers Festival, 4 November 2017

 

Riri
Riri Riza, Produser dan Sutradara; mau diapain ini buku, Mas? hehe..

Irena
Dibaca di kelas Bahasa dan Budaya, Swiss German University (SGU) Tangerang,oleh Irena, Mahasiswi Smst 5 Jurusan Biomedical Engineering

Mekah
Alhamdulillah, sudah sampai di depan Kabah

 

Imi
Sudah ada di Jepang juga..

 

Fadiah
Testimoni, Fadiah (Singapura)

KKK
ETALASE

Buku ini gratis, unduh di sini

Buku Gratis

 

Salam Puisi,

AHMAD GAUS