Mengapa Orang Saleh Masuk Neraka? Tentang “Robohnya Surau Kami”

film aa navis

Rumah Produksi Rupa Kata Cinema tahun ini akan memproduksi film “Robohnya Surau Kami”, yang diangkat dari cerpen legendaris karya sastrawan Minang, AA Navis. Seberapa menarik karya cerpen tersebut? Berikut catatan iseng saya:

ROROHNYA SURAU KAMI

Mengapa cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis yang terbit tahun 1955 masih terus dibaca orang hingga sekarang? Sebenarnya bukan hanya dibaca tapi juga dikagumi dan dipuji sebagai salah satu karya sastra terbaik dalam genre cerpen di negeri ini. Banyak jawaban bisa diberikan. Salah satunya adalah, ia merupakan hasil eksplorasi estetik penulisnya terhadap latar budaya yang melahirkan dan membesarkannya. Dengan begitu karya sastra memiliki akar pada kultur penulisnya (dalam hal ini kultur Minang).[1] Selain itu, cerpen ini juga menjadi fenomenal karena keberaniannya mengangkat tema yang secara kritis menyinggung kepicikan penganut agama.[2] Tema kritis semacam ini memang muncul juga kelak pada Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin. Namun kritisisme dan nilai estetika pada kedua cerpen ini tetap bisa dibedakan.

Robohnya Surau Kami membuktikan bahwa karya sastra yang baik tidak harus selalu dikaitkan dengan pengaruh sastra Barat. Di tengah derasnya pengaruh asing pada budaya baca-tulis di tanah air tahun 1950-an, cerpen justru semakin mengokohkan keberadaannya dengan mengangkat kultur etnis. Di masa sesudah perang, cerpen menempati kedudukan yang utama dalam kesusastraan Indonesia, ditandai dengan kenyataan bahwa hampir semua majalah membuka rubrik cerpen, dan banyaknya antologi cerpen yang terbit pada masa ini.[3] Tentu tidak semuanya merupakan karya sastra, atau harus dikaitkan dengan sastra. Namun, para sastrawan mulai menaruh perhatian pada cerpen lebih dari masa-masa sebelumnya yang melulu pada puisi dan novel/roman. Karya-karya sastra dalam genre cerpen pun bermunculan, dan Robohnya Surau Kami merupakan salah satu puncaknya.

Cerpen Robohnya Surau Kami kembali diterbitkan pada tahun 1986 bersama dengan 9 (sembilan) cerpen lainnya karya AA Navis.[4] Karena Robohnya Surau Kami dianggap sebagai masterpiece maka ia dijadikan judul buku. Sebagaimana judulnya, surau (mushalla di daerah Minang) menjadi latar utama dalam cerpen ini, dengan tokoh utama sang Kakek yang menjadi penjaga surau. Sang Kakek menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk beribadah dan mengabdikan diri di surau. Ia memiliki keluarga tapi lebih mementingkan Tuhan. Ibadah lebih penting daripada mencari nafkah. Sedangkan untuk kehidupan sehari-harinya ia memperoleh dari sedekah orang-orang kampung.

robohnya-surau-kami1

Sang kakek juga dikenal memiliki keahlian mengasah pisau. Dan untuk itu ia sering diminta bantuan oleh warga kampung. Ia tidak meminta bayaran untuk pekerjaan tersebut, tapi menerima pemberian apa saja sebagai pengganti jasanya. Suatu hari datang Ajo Sidi yang meminta tolong agar pisaunya diasahkan. Ajo Sidi ini dikenal sebagai orang yang pandai bercerita. Ia pun menuturkan cerita kepada Sang Kakek tentang Haji Saleh, seorang alim yang seluruh hidupnya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah. Namun, setelah meninggal dunia, Haji Saleh justru dimasukan ke dalam neraka bersama orang-orang saleh lainnya. Mereka pun lalu protes kepada Tuhan, mengira Tuhan khilaf atau salah mengambil keputusan.

Tuhan bertanya apa yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia. Mereka menjawab bahwa selama hidup di dunia waktunya dihabiskan untuk beribadah, bahkan sampai melupakan keluarga semata-mata demi menyembah Tuhan. Bahkan di antara mereka ada yang sudah naik haji berkali-kali, dan bergelar syeikh. Lalu Tuhan menjawab: “… kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja.”

Mereka tercengang mendengar jawaban itu. Lalu Haji Saleh bertanya kepada malaikat yang menggiring mereka, “Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’

“Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan anak istrimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun.”

Sang Kakek merasa tertekan oleh cerita Ajo Sidi tersebut. Ia merasa dirinyalah haji Saleh dalam cerita itu. Ia pun terus merenung dan akhirnya memutuskan untuk bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri dengan pisau cukur. Mendengar kakek penjaga surau meninggal dunia, warga kampung segera mengurus jenazahnya dan mengantarkannya ke pemakaman. Hanya Ajo Sidi yang tidak terlihat. Ternyata hari itu ia tetap pergi bekerja, dan sebelum berangkat ia hanya berpesan kepada istrinya agar membelikan kain kafan tujuh lapis untuk mengafani jenazah kakek penjaga surau.

Sepeninggal sang kakek, surau yang dulu teduh dan nyaman itu tidak terawat lagi. Anak-anak kerap bermain di tempat yang nyaris tak terlihat lagi seperti surau itu. Bahkan, bilik dan lantai kayu surau itu dijadikan sebagai persediaan kayu bakar bagi warga kampung.

Dari segi tema, cerpen ini memang bukan satu-satunya yang mengangkat isu agama dan menyelipkan kritik pedas terhadap fenomena kehidupan beragama dalam masyarakat saat itu. Sastrawan lain, seperti Ramadhan KH, menulis cerpen Antara Kepercayaan, yang mengeritik gejala intoleransi di antara umat Islam dan Kristen.[5] Bahkan WS Rendra juga menulis cerpen senada berjudul Mungkin Parmo Kemasukan Setan yang mengeritik disiplin ketat yang diterapkan dalam asrama yang dikelola pastor katolik. Parmo yang tinggal di asrama itu suatu saat berlibur di rumah orang tuanya melampiaskan keterkungkungannya dengan tindakan semua gue.[6]

robohnya-surau-kamiAAnavis

Selain Robohnya Surau Kami, buku karya AA Navis ini memuat 9 cerpen lain: Anak Kebanggaan, Angin dari Gunung, Dari Masa ke Masa, Datangnya dan Perginya, Menanti Kelahiran, Nasihat-Nasihat, Penolong, Topi Helm, dan Pada Pembotakan Terakhir. Semua cerpen itu ditulis dalam semangat yang sama sebagai kritik sosial. Karena itu di dalamnya penuh dengan sindiran-sindiran satir atas fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Membaca antologi Robohnya Surau Kami sekali lagi kita diingatkan bahwa karya sastra memang tidak bisa dipisahkan dari denyut nadi kehidupan masyarakat tempat karya itu dilahirkan. Kreativitas bersastra adalah hasil penjelajahan atas realitas sosial di lingkungan penulisnya.

AA Navis atau nama panjangnya Ali Akbar Navis yang lahir di Padang, Sumatra Barat, pada tanggal 17 November 1924, sangat piawai menggali ide-ide cerita dari lingkungan budaya yang sangat dikenalinya, sehingga karya yang dihasilkannya memiliki akar pada kultur penulisnya. Di situlah terletak kekuatan antologi Robohnya Surau Kami. Selain antologi ini, AA Navis juga menghasilkan karya-karya lain: Bianglala: Kumpulan Cerita Pendek (1963), Kemarau: Sebuah Novel (1967), Saraswati: Si Gadis dalam Sunyi: sebuah novel (1970), Dermaga dengan Empat Sekoci: Kumpulan Puisi (1975), Bertanya Kerbau Pada Pedati: Kumpulan Cerpen (2002), Gerhana: Novel (2004), dan lain-lain sekitar 65 karya sastra, 22 buku antologi bersama sastrawan dari dalam dan luar negeri, serta 106 karya ilmiah.

aanaviskaryadandunianya_21185

Pengamat sastra A. Teeuw menilai bahwa A.A. Navis sebenarnya bukan seorang pengarang besar, melainkan seorang pengarang yang menyuarakan suara Sumatera di tengah konsep Jawa (pengarang Jawa) sehingga ia layak disebut sebagai pengarang “Angkatan Terbaru”.[7] Maklum pada masa itu dominasi pengarang Sumatera mulai memudar bersamaan dengan munculnya para pengarang baru yang berasal dari Jawa atau Sunda.[8] Penilaian A. Teeuw benar, tapi harus diberi catatan bahwa, khususnya Robohnya Surau Kami, memang berlatar budaya etnik Sumatera (dhi Minang), namun suara yang terdengar keras adalah persoalan praktek keagamaan (Islam) dan lingkungan alam Indonesia. Perhatikan ucapan ini: “Aku beri kau negeri Indonesia yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh….”

Pada umumnya orang hanya tahu bahwa Robohnya Surau Kami meraih hadiah lomba cerpen dari majalah Kisah pada tahun 1955. Jarang yang tahu bahwa hadiah tersebut adalah hadiah kedua, sedangkan pemenang hadiah pertama ialah cerpen Kejantanan di Sumbing karya Subagio Sastrowardoyo.[9] Yang menarik, sebagaimana dikemukakan oleh sastrawan Abrar Yusra, Robohnya Surau Kami justru lebih terkenal daripada cerpen Kejantanan di Sumbing yang mendapat hadiah pertama.[10]

Catatan
1. Damhuri Muhammad, Darah-Daging Sastra Indonesia (Yogyakarta: Jalasutra, 2010), hal. 5

2. Maman S. Mahayana, Akar Melayu: Sistem Sastra & Konflik Ideologi di Indonesia & Malaysia (Magelang: Indonesia Tera, 2001), hal. 102

3. Maman S. Mahayana, ibid., hal. 103

4. AA Navis, Robohnya Surau Kami (Jakarta: Gramedia, 1986).

5. Dimuat di Majalah Prosa, 1955, diterbitkan kembali dalam Satyagraha Hoerip, ed., Ceritera Pendek Indonesia, I (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Dep. P dan K, 1979), hal. 234-45

6. Maman S. Mahayana, ibid., hal.102

7. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/tokoh/753/A.A.Navis

8. Maman S Mahayan, Akar Melayu, op.cit., hal. 100

9. Korrie Layun Rampan, Leksikon Susastra Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2000), hal. 3 dan 447

10. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/tokoh/753/A.A.Navis

==================================

N O V E L

“Di dunia ini ada kekuatan hitam, ada kekuatan putih. Kamu pilih yang mana untuk membantu mewujudkan impian-impianmu? Tapi ingat, setiap pilihan akan membawa akibat pada kehidupanmu.”

Kisah pertempuran abadi dua kekuatan yang diwakili oleh dua karakter perempuan muda, baca di sini: https://h5.novelme.com/bookinfo/18126


INFO PELATIHAN MENULIS ONLINE

Menulis itu menyenangkan. Banyak orang menemukan kembali gairah hidupnya setelah diperkenalkan dengan dunia tulis-menulis, sebab di dalam aktivitas itu ada energi gerak yang memutar baling-baling kehidupan menuju dunia tanpa batas: dunia imajinasi. Jika anda muak dengan realitas di sekeliling anda, ciptakanlah realitas lain yang menyenangkan di dunia imajinasi. Semakin banyak orang yang dapat anda bawa masuk ke dunia imajinasi anda, semakin besar kemungkinan imajinasi itu menjadi kenyataan. Menulis itu menyenangkan. Ratusan orang telah membuktikannya dalam berbagai pelatihan menulis yang saya pandu. Ayo ikut kelas online menulis kreatif:

Flyer RMD

Menikmati ‘Hujan Bulan Juni’ bersama Tuan Sapardi

HUJAN BULAN JUNI

Hujan Bulan Juni3

Bulan Juni ialah musim kemarau, dan hujan dipastikan tidak turun. Jika hujan rindu ingin bercumbu dengan bunga-bunga, maka ia harus bersabar menunggu musim kemarau berlalu…

“Hujan Bulan Juni” memperlihatkan kekuatan Sapardi sebagai penyair yang mampu keluar dari labirin kesunyian yang melahirkan kefanaan (Amir Hamzah), kepasrahan (Chairil Anwar), atau amukan (Sutardji Calzoum Bachri), menuju ruang kontemplasi yang mencerahkan….

— Catatan Ahmad Gaus

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Puisi di atas berjudul Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono — biasa disingkat SDD — yang ditulis pada 1989 dan dimuat dalam antologi (kumpulan karangan) dengan judul yang sama. Hujan Bulan Juni merupakan puisi yang sangat terkenal dan dideretkan dalam jajaran puisi cinta romantis bersama dengan puisi Aku Ingin yang juga dimuat dalam antologi ini.1) Esai ini tidak secara khusus membahas Hujan Bulan Juni sebagai sebuah puisi melainkan sebagai antologi yang di dalamnya terdapat 96 puisi karya SDD, yang bulan ini (Juni 2013) kembali diterbitkan oleh kelompok penerbit Kompas-Gramedia.

Pertamakali Hujan Bulan Juni diterbitkan oleh kelompok penerbit Kompas-Gramedia (Grasindo) pada tahun 1994. Kemudian diterbitkan kembali oleh penerbit Editum pada tahun 2009 tanpa perubahan yang berarti. Puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni ditulis antara tahun 1964-1994. Sebagian besar puisi di dalamnya pernah terbit dalam antologi Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), dan Perahu Kertas (1983). Proses penyeleksian puisi yang pernah terbit dalam antologi yang berbeda-beda untuk diterbitkan kembali dalam buku Hujan Bulan Juni menunjukkan bahwa buku ini memang dianggap (paling) penting oleh penulisnya.

Hujan Juni

SDD memilih sendiri sajak-sajaknya untuk buku ini dari sekian ratus sajak yang pernah dihasilkannya selama 30 tahun (1964 – 1994). Mengenai ini ia menulis bahwa ada “sesuatu yang mengikat sajak-sajak ini menjadi satu buku.”2) SDD memang tidak menjelaskan apa sesuatu yang mengikat itu. Namun, akunya, sajak-sajak lain tidak dimasukkan dalam antologi ini karena suasananya — atau entah apanya — agak berbeda dengan buku ini.

Secara sepintas lalu judul buku Hujan Bulan Juni yang diambil dari salah satu judul puisinya menunjukkan bahwa suasana yang ingin dibangun dalam buku ini ialah suasana “hujan” dengan berbagai konotasi dan metafornya. Dari 96 puisi yang dimuat dalam Hujan Bulan Juni terdapat 9 judul puisi yang memakai kata “hujan”. Judul-judul tersebut adalah: Hujan Turun Sepanjang Jalan, Hujan dalam Komposisi 1, Hujan dalam Komposisi 2, Hujan dalam Komposisi 3, Di Beranda Waktu Hujan, Kuhentikan Hujan, Hujan Bulan Juni, Hujan-Jalak-dan-Daun-Jambu, Percakapan Malam Hujan. Dan satu judul yang senada: Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang.

Kata “hujan” juga disebut dalam berbagai puisinya: Pada Suatu Pagi Hari, Dalam Doa II, Aku Ingin, Puisi Cat Air untuk Rizki, Sepasang Sepatu Tua, dan sebagainya. Kalau boleh menyebut puisi di luar antologi ini yang juga menggunakan kata hujan, simak saja misalnya “Di Sebuah Halte Bis” (Hujan tengah malam membimbingmu ke sebuah halte bis dan membaringkanmu di sana), “Lirik untuk Lagu Pop” (jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang gerimis), dan “Kepompong Itu” (…ketika kau menutup jendela waktu hari hujan).

Walaupun banyak kumpulan puisi yang bertemakan hujan, tapi jelas tidak ada yang “basah-kuyup” melebihi Hujan Bulan Juni. Belum lagi puisi tentang hujan yang tidak dimasukkan dalam antologi ini seperti “Tajam Hujanmu” dan “Kuterka Gerimis”, yang dimuat dalam antologi Perahu Kertas.

Playing-in-the-Rain2

Jika selama ini puisi-puisi tentang hujan selalu dikaitkan dengan kesendirian, kehampaan, kerinduan, dan kesepian, maka tidak terlalu keliru pandangan bahwa SDD ialah penyair sunyi yang melanjutkan tradisi Amir Hamzah dan Chairil Anwar, terutama pada puisi-puisi awalnya. Simak misalnya bait dalam puisi yang ditulis pada tahun 1967 berikut: Hujan turun sepanjang jalan/ Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan/ Kembali bernama sunyi..

Mengapa hujan begitu istimewa di mata penyair SDD, tentu ada rahasia yang ingin dia kemukakan melalui pelukisannya atas peristiwa alam tersebut. Berikut tiga contoh puisi berbeda tentang hujan, yang ditulis dalam rentang waktu berjauhan:

Sihir Hujan

Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
— swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.
Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan,
telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
— menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

1982

Percakapan Malam Hujan

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya
kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar
kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba
suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat
manusia. Ia suka terang.”

1973

Hjan bln Juni

Hujan Turun Sepanjang Jalan

Hujan turun sepanjang jalan…
Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan…
Kembali bernama sunyi…
Kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali…
Tak ada yang menolaknya…kita pun mengerti, tiba-tiba
atas pesan yang rahasia…
Tatkala angin basah tak ada bermuat debu…
Tatkala tak ada yang merasa diburu-buru…

1967

Tidak ada diksi yang istimewa dalam ketiga puisi di atas. Semua kata dipungut dari perbendaharaan sehari-hari yang ada di sekitar kita dan akrab: jalan, selokan, mantel, sepatu, pohon, pintu, jendela, debu, tiang listrik. Kata-kata sederhana itu juga dirangkai dalam larik dan bait yang sederhana, nyaris tidak ada dentuman yang tercipta oleh bangunan puisi tersebut. Ia hanya menceritakan suasana saat hujan turun. Cara berceritanya pun sangat sederhana, tidak meledak-ledak.

Namun di balik kesederhanaannya, puisi-puisi tersebut menjadikan benda-benda itu seakan hidup. Kita dapat membayangkan Hujan yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik. SDD sangat piawai menghidupkan suasana melalui kata-kata yang sederhana. Bait-bait yang tersusun dari kata-katanya menjadi sangat indah manakala kita hanyut terbawa oleh suasana yang ia hidupkan melalui proses imagery atau penggambaran. Sang penyair pada dasarnya memang seperti pelukis yang menggambarkan sesuatu dengan kata-kata sehingga apa yang dia lihat dan rasakan juga dapat dilihat dan dirasakan oleh pembaca.3) Di dalam suasana yang sudah dihidupkan oleh penyairnya melalui kata-kata (pada contoh tiga puisi di atas), kita tidak lagi bertemu dengan hujan sebagai benda mati, melainkan makhluk hidup entah malaikat atau manusia, bahkan seseorang yang misterius namun humoris seperti pada puisi “Percakapan Malam Hujan”.

Dalam puisi Hujan Bulan Juni yang menjadi judul antologi ini, goresan tangan SDD pada kanvas puisinya bahkan terasa lebih lembut. Kesederhanaan kata tetap dijaga. Bangunan puisi tegak dengan tiang pancang bait-bait yang transparan. Pengungkapannya halus, alur pikirnya jernih. Puisi ini sering diartikan sebagai ketabahan dari seseorang yang sedang menanti. Sebab, bulan Juni ialah musim kemarau, dan hujan dipastikan tidak turun. Jika ia (hujan) ingin bertemu dengan pohon bunga, maka ia harus bersabar menunggu musim kemarau berlalu.

Di sini SDD tidak lagi bicara tentang sunyi yang gelisah. Ia bahkan tidak menonjolkan si aku-lirik. Kalaupun ada, si aku-lirik hanya menceritakan perilaku hujan yang merahasiakan rindu, menghapus jejak, dan membiarkan isi hatinya. Hujan dipersonifikasi sebagai makhluk yang berjiwa dengan sifat dan perilaku tertentu. Ini juga tampak pada ketiga puisi di atas.

Dengan menerbitkan kembali puisi-puisinya dalam Hujan Bulan Juni yang merefleksikan aneka pengalaman batin dan perjalanan hidup yang terus bergerak, SDD tampaknya ingin jatidiri kepenyairannya dilihat kembali, tidak melulu diletakkan di ruang sunyi. Sebab, sebagaimana diakuinya dalam kata pengantar buku ini, ia tidak tahu apakah selama 30 tahun itu ada perubahan stilistik dan tematik dalam puisinya. Seorang penyair, ujarnya, belajar dari banyak pihak: keluarga, penyair lain, kritikus, teman, pembaca, tetangga, masyarakat luas, koran, televisi, dan sebagainya.

Esai ini berpandangan bahwa SDD tidak hendak menancapkan tonggak kepenyairannya di ruang estetika sunyi yang telah terbangun dengan megahnya sejak masa kejayaan Amir Hamzah. Kita tahu bahwa puisi-puisi awal SDD, kendatipun dipandang sebagai pembebasan dan penemuan baru,4) tetap saja diletakkan di dalam mainstream puisi tentang kesunyian. Salah satu puisinya, Solitude (1965), yang menyuarakan “jagat sunyi” bahkan disebut sebagai visi estetika kepenyairannya, dimana puisi-puisi sebelum dan sesudah itu hanyalah… “dinamika visi estetik dalam keseluruhan kepenyairan SDD.”5) Senada dengan itu, penyair Goenawan Mohamad menyebut antologi puisi SDD yang pertama, Duka-Mu Abadi, sebagai Nyanyi Sunyi kedua (setelah Nyanyi Sunyi yang pertama diciptakan oleh Amir Hamzah).6)

Jika kesunyian dipandang sebagai tema utama dalam puisi-puisi Sapardi, lantas di mana letak kepeloporannya dalam jagat perpuisian tanah air? Bukankah tema itu telah sangat mapan di tangan para penyair besar sejak Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, dan puncaknya pada Sutardji Calzoum Bachri? Jika kita memotret SDD dari Duka-Mu Abadi memang akan terbentang hamparan kesunyian yang—boleh jadi—merupakan kelanjutan dari “tradisi” perpuisian sebelumnya, kendatipun ia membunyikan kesunyian itu dengan cara yang berbeda. Namun saya berpandangan bahwa Hujan Bulan Juni-lah yang merupakan tonggak kepenyairan SDD. Antologi ini memperlihatkan kekuatan SDD sebagai penyair yang mampu keluar dari labirin kesunyian yang melahirkan kefanaan (Amir Hamzah), kepasrahan (Chairil Anwar), atau amukan (Sutardji Calzoum Bachri), menuju ruang kontemplasi yang mencerahkan.

Hujan Bulan Juni2

Puisi-puisi dalam Hujan Bulan Juni lebih dari sekadar membunyikan kesunyian melalui ungkapan perasaan yang melimpah, melainkan juga menghadirkan kesadaran intelektual penyairnya. Sejumlah puisinya tentang kematian, misalnya, memang menghadirkan kesunyian yang mencekam, namun jika dicermati lagi sebenarnya merupakan renungan filosofis yang mendalam, seperti pada puisi Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati, Saat Sebelum Berangkat, Iring-iringan di Bawah Matahari, Dalam Kereta Bawah Tanah Chicago, Ajaran Hidup, dan lain-lain. Begitu juga puisi-puisinya Tiga Lembar Kartu Pos, Pada Suatu Hari Nanti, Dalam Diriku, Tuan, Yang Fana Adalah Waktu, dan lain-lain, yang bertemakan hidup, waktu, dan Tuhan — semuanya merupakan lukisan kesunyian yang, lagi-lagi, merefleksikan perenungan intelektual yang dalam.

Dalam puisi Hujan Bulan Juni SDD mempertentangkan dua realitas, membuat paradoks (hujan yang turun di musim kemarau), yang memungkinkan keniscayaan, sebagai gambaran dari pribadinya yang senantiasa terlibat dan optimistis. Paradoks atau pertentangan itulah yang menjadi kekuatan khas SDD sebagai seorang penyair. Hal itu juga tercermin dari pemakaian kata-kata yang sederhana namun menyimpan makna yang dalam.7).

Seraya menutup uraian ini mari kita simak tiga puisi dari antologi Hujan Bulan Juni yang menjelaskan paradoks yang dimaksud.

DALAM DIRIKU

dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga penuh darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya.

1980

YANG FANA ADALAH WAKTU

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi,
yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu. Kita abadi.

1978

TUAN

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar.

1980

Catatan:

1). Puisi Aku Ingin hanya terdiri dari dua bait: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan kata yang tak sempat diucapkan/kayu kepada api yang menjadikannya abu// Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/ dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/ awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Salah satu indikasi kepopularan dua puisi tersebut ialah telah dibuat musikalisasi puisi oleh Ags. Arya Dipayana (Aku Ingin), dan H. Umar Muslim (Hujan Bulan Juni). Puisi Hujan Bulan Juni juga telah dikomikkan oleh Mansjur Daman, komikus silat pencipta serial Mandala. Sementara itu puisi Aku Ingin sering dicetak dalam surat-surat undangan pernikahan.

2). Kata Pengantar Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni (Jakarta: Grasindo, 1994).

3). A.F. Scott, Curren Literary Term: A Concise Dictionary (London: The Macmilland Press, 1980), p. 139). Lebih jauh mengenai penggambaran (imagery) atau gambar (image) dalam puisi lihat juga, Rachmat Djoko Pradopo, Pengkajian Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994) dan Suminto A. Sayuti, Puisi dan Pengajarannya (Yogyakarta: Yasbut FKSS IKIP Muhammadiyah, 1985).

4). Pengakuan ini disampaikan oleh Goenawan Mohamad. Dikutip dari Hasan Aspahani, “Kenapa Mesti Ada Sore Hari? Kajian Ringkas Duka-Mu Abadi Hingga Kolam”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., Membaca Sapardi (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2010), hal. 253

5). Suminto A. Sayuti, “Puisi Sapardi: Sebuah Jagat Sunyi”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 57

6). Dikutip dari Suminto A. Sayuti, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 61

7). Maman S. Mahayana, “Paradoks”, dalam Riris K. Toha-Sarumpaet dan Melani Budianta, eds., ibid., hal. 161

_________________________________

SDD

Foto 1: Bersama Sapardi Djoko Damono di Selangor, Malaysia

———————————-

Saat bertemu di Selangor, Malaysia, saya tunjukkan salah satu puisi saya di dalam buku Senja di Jakarta yang  berjudul Kursi Ruang Tungga, sebagai “tanggapan” terhadap puisi beliau Hujan Bulan Juni, dan beliau membacanya terkekeh-kekeh..

Kursi SDD

Podcast untuk puisi ini ada di sini –>  Kursi Ruang Tunggu

Follow my instragram @gauspoem and let me know by DM if you want me to follow you back

Wiji Thukul, Penyair Pemberontak

AKU INGIN JADI PELURU

Wiji Thukul2

Peringatan

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

– Wiji Thukul, Solo, 1986 –

Puisi-puisi Wiji Thukul yang dimuat dalam antologi Aku Ingin Jadi Peluru,1) membuktikan bahwa puisi mampu menjadi saksi atas sebuah zaman. Kata-katanya bagaikan bidikan kamera yang mengabadikan setiap momen yang dilihat dan dirasakan untuk dituangkan dalam puisi. Pada Wiji Thukul, momen puitik ialah seluruh hidupnya di sebuah masa yang penuh gejolak dan ketidakpastian. Kehidupannya yang sulit sebagai orang pinggiran tak pernah lelah ia bela. Namun apa lacur, ia harus berhadapan dengan tembok-tembok kekuasaan yang membuatnya tetap terpinggirkan. Dan ia sadar tidak sendirian. Lingkungan terdekatnya sendiri semuanya orang melarat. Bapaknya tukang becak, istrinya buruh jahit, mertuanya pedagang barang rongsokan, tetangga dan teman-temannya adalah buruh pabrik yang dibayar murah, dan jutaan orang lain yang bernasib sama dengan mereka.

Itulah momen-momen puitik penyair Wiji Thukul. Hidupnya sama sekali tidak indah. Realitas yang disaksikan di sekelilingnya juga tidak indah. Begitu juga wajah kekuasaan yang sewenang-wenang dan menindas orang-orang pinggiran. Ia terlibat dan menyelami penderitaan orang kecil lalu menyuarakannya dengan lantang. Itulah sebabnya kita tidak akan menemukan kata-kata mendayu-dayu dalam puisi-puisi Wiji Thukul. Kata-katanya sangat lugas, bahkan jika dibandingkan dengan puisi-puisi pamplet WS Rendra yang kerap masih menggunakan metafor. Bahkan Wiji Thukul dengan sadar menghindari metafor karena menganggapnya tidak perlu. Dalam sebuah puisi yang ditujukan kepada sahabatnya Prof. Dr. W.F. Wertheim (sosiolog Belanda, ahli Asia Tenggara) yang berjudul “Masihkah Kau Membutuhkan Perumpamaan?” ia menulis:

Waktu aku jadi buronan politik
karena bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik
namaku diumumkan di koran-koran
rumahku digrebek –biniku diteror
dipanggil Koramil diinterogasi diintimidasi
(anakku –4 th– melihatnya!)
masihkah kau membutuhkan perumpamaan
untuk mengatakan: AKU TIDAK MERDEKA

Puisi itu ditulis ketika ia menjadi aktivis yang paling dicari oleh rezim Orde Baru. Ada banyak cerita di balik itu. Majalah Tempo edisi 13-19 Mei 2013 membuat edisi khusus mengenang tragedi 1998 yang menulis laporan utama Teka-Teki Wiji Thukul. Pada sampul depan tertulis pertanyaan: Siapa yang telah menghabisinya? Pertanyaan itu hingga sekarang tidak (belum) terjawab. Sejak dinyatakan hilang, tidak ada yang tahu pasti apakah ia masih hidup atau sudah mati. Laporan edisi khusus Tempo itu mencoba mengurai jejak-jejak Wiji Thukul sejak menjadi aktivis hingga saat menjadi buron dan kemudian menghilang. Tempo juga melampirkan suplemen berupa buku kecil yang diberi judul “Para Jendral Marah-marah: Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam Pelarian”.

Dalam kata pengantar Tempo disebutkan bahwa buku kecil itu mencoba melengkapi berbagai antologi puisi Thukul yang sudah terbit dan untuk memberi gambaran sekilas macam apa puisi penyair kelahiran Solo, 26 Agustus 1963 itu. Antologi yang dimaksud ialah: Puisi Pelo dan Darman dan Lain-lain (keduanya diterbitkan Taman Budaya Surakarta pada 1984), Mencari Tanah Lapang (Manus Amici, Belanda, 1994), dan Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesia Tera, 2000).

Antologi yang disebut terakhir boleh dibilang paling lengkap karena memuat 5 kumpulan puisi yang sebelumnya pernah terbit, yaitu Lingkungan Kita Si Mulut Besar (46 puisi), Ketika Rakyat Pergi (16 puisi), Darman dan Lain-lain (16 puisi), Puisi Pelo (29 puisi), dan Baju Loak Sobek Pundaknya (28 puisi). Buku kecil yang dimuat sebagai suplemen Majalah Tempo memang merupakan puisi-puisi Thukul yang belum disiarkan secara luas. Manuskripnya sendiri berupa tulisan tangan berasal dari sahabat Thukul yang pernah menjadi Wakil Ketua Komisi Nasional Hak-hak Asasi Manusia, Stanley Adi Prasetya. Thukul memberikan kepadanya sekitar pertengahan Agustus 1996 sebelum menuju pelarian. Baru belakangan Stanley mempublikasikannya dalam tulisan berjudul Puisi Pelarian Wiji Thukul sebagai bagian dari artikelnya di jurnal Dignitas Volume VIII Nomor 1 Tahun 2012, yang diterbitkan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat.

Esai ini tidak merujuk pada kumpulan puisi tersebut, namun wajib menyebutkannya karena menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan Wiji Thukul baik sebagai aktivis maupun penyair yang menjadi korban dari puisi-puisi yang ditulisnya. Bagaimanapun, antologi Aku Ingin Jadi Peluru telah cukup memberi gambaran estetika kepenyairan Thukul, selain merupakan antologi yang paling lengkap, bukan saja dari segi jumlahnya (karena dihimpun dari 5 kumpulan puisinya yang terbit terdahulu) tapi juga dari coraknya yang beragam, tidak melulu tentang pemberontakan.

Orang yang tidak menyukai puisi-puisi abstrak dan rumit dapat memilih Aku Ingin Jadi Peluru sebagai sahabat apresiasi yang cukup menantang. Namun jangan salahkan penulisnya jika setelah membaca itu ia merasa tidak nyaman sebab “bait-baitnya lebih mendatangkan kegelisahan daripada kesenangan.”2) Mungkin karena ia tidak menyuguhkan keindahan imajiner yang meliuk-liuk.

Wiji Thukul

Ada dua hal yang sangat menonjol dalam setiap puisi di sini: bahasanya lugas dan pesannya jelas. Pada umumnya puisi-puisi Thukul bertutur tentang kehidupan orang-orang miskin, terpinggirkan, dan tertindas. Namun, ia memberi kekuatan pada mereka bahwa harapan masih ada kalau mau melawan. Hal itu tampak jelas pada puisi yang dikutip di awal tulisan ini. Juga pada puisi berikut:

Tentang Sebuah Gerakan

tadinya aku pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!

aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?

aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku

aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?

1989

Apa artinya jika “aku” diganti dengan “setiap orang”? Ia telah melepaskan kepentingan pribadinya! Tapi ia bukan pahlawan yang ingin membela orang lain. Ia berangkat dari persoalannya sendiri, bahwa ia butuh rumah, butuh pangan yang cukup, butuh pakaian untuk menutupi kemaluannya. Ini kepentingan pribadi. Lalu ia menyadarkan banyak orang lain yang nasibnya sama untuk bangkit menuntut. Sebab pekerjaan besar semacam itu tidak mungkin ia pikul sendiri. Inilah yang menarik dari puisi di atas. Tampak seperti sebuah kalimat prosa. Tapi, bahkan kalau kita susun menjadi paragraf biasa, bukan dalam bentuk puisi yang tersusun ke bawah, kita tetap akan kesulitan menyebutnya karangan prosa. Sebabnya ialah, ia mengunci akhir bait pertama dengan kalimat puisi “ingat: setiap orang!” Kalimat puisi itu lebih hidup lagi pada bait ketiga: aku bukan orang suci/ yang bisa hidup dari sekepal nasi/ dan air sekendi. Bukan hanya maknanya yang terbangun dalam susunan logis, namun ia juga memperhatikan betul rima akhir.

Dalam puisi ini Thukul mengajak orang-orang yang senasib dengannya untuk memikirkan sebuah gerakan yang akan mengubah hidup mereka. Namun ia tidak memaksa orang-orang lain itu, karenanya ajakan itu hanya disampaikan dengan pertanyaan semacam gumam pada diri sendiri: aku berpikir tentang gerakan/ tapi mana mungkin/ kalau diam?

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Thukul (bait 2 dan 4) mengesankan rasa ragu untuk menggeneralisasi nasibnya dengan nasib orang lain. Dalam wawancaranya yang dimuat di bagian akhir buku ini, Wiji Thukul menyatakan: “… saya tidak membela rakyat. Saya sebenarnya membela diri saya sendiri. Saya tidak ingin disebut pahlawan karena berjasa memperjuangkan nasib rakyat kecil. Sungguh saya hanya bicara soal diri saya sendiri. Lihatlah saya tukang pelitur, istri buruh jahit, bapak tukang becak, mertua pedagang barang rongsokan, dan lingkungan saya semuanya melarat. Mereka semua masuk dalam puisi saya. Jadi saya tidak membela siapa pun. Cuma secara kebetulan, dengan membela diri sendiri ternyata juga menyuarakan hak-hak orang lain yang sementara ini entah di mana.”

Terlepas dari pengakuan itu, puisi-puisi Wiji Thukul memang menjadi api yang membakar harapan banyak orang akan sebuah perubahan. Ia bukan hanya menyuarakan pemberontakan namun juga ancaman yang apabila dibaca secara post-factum tampak jelas kebenarannya, seperti dalam puisi berjudul “Bunga dan Tembok” ini:

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki tumbuh
engkau lebih suka membangun
rumah dan merampas tanah

seumpama bunga
kami adalah bunga yang tak
kaukehendaki adanya
engkau lebih suka membangun
jalan raya dan pagar besi

seumpama bunga
kami adalah bunga yang
dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!

di dalam keyakinan kami
di mana pun – tiran harus tumbang!

Solo, 87-88

Menurut kesaksian seorang sahabatnya, Moelyono, syair-syair Wiji Thukul mengalami pergeseran dari semula bertemakan cerita kehidupan orang tuanya yang miskin, hidupnya yang serba sulit karena Thukul menikah usia muda, menjadi protes sosial yang menghantam kekuasaan. Kesaksian itu benar belaka. Dan setelah periode itu, puisi-puisinya basah kuyup oleh suara kutukan dan pemberontakan. Dalam Puisi Sikap, misalnya, ia benar-benar menegaskan sikapnya terhadap kekuasaan yang dikecamnya sampai mati: (….) andai benar/ ada kehidupan lagi nanti/ setelah kehidupan ini/ maka aku kuceritakan/ kepada semua makhluk/ bahwa sepanjang umurku dulu/ telah kuletakkan rasa takut itu di tumitku/ dan kuhabiskan hidupku/ untuk menentangmu/ hei penguasa zalim

Puisi itu bertanggal 24 Januari ’97, artinya ditulis pada masa kekuasaan mencapai puncak keangkuhannya sambil mengabaikan suara-suara yang menginginkan perubahan. Puisi yang senada dengan itu misalnya Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa, dimana ia menulis: aku bukan artis pembuat berita/ tapi aku memang selalu/ kabar buruk buat/ penguasa. Masih banyak lagi puisinya yang memekakan telinga para penguasa: Catatan, Tong Potong Roti, Tentang Sebuah Gerakan, Bunga dan Tembok, Peringatan, Sajak Suara, dan lain-lain.

Puisi-puisi Wiji Thukul kerap dianggap menyalahi unsur estetika dalam sastra, tidak puitis, bahasanya vulgar dan menghantam. Namun, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo, Wahyu Muryadi, ketika ditanya alasan majalahnya mengangkat laporan khusus mengenai Wiji Thukul, menyatakan justru dengan bahasa seperti itu puisi-puisi Wiji Thukul sangat menakutkan penguasa. Ia membongkar kejahatan yang selama ini disembunyikan. Budayawan Mudji Sutrisno menyebut bahwa puisi bagi Wiji Thukul ialah senjata. Aktivis Fadjroel Rachman mengemukakan hal senada. Di tangan Wiji Thukul, ujarnya, puisi menjadi suara rakyat tertindas yang lantang menentang kezaliman penguasa, karena Thukul menjadi bagian dari rakyat tertindas itu sendiri. Thukul adalah rakyat yang bersuara melalui media puisi. Tidak peduli ia akan disebut penyair atau bukan. Hal ini berbeda dengan Chairil Anwar yang menyatakan: yang bukan penyair tidak ambil bagian.3)

Sebelum dikenal sebagai penyair pemberontak dengan bahasa yang lugas dan keras, Wiji Thukul menulis puisi-puisi bernada lirih yang berkisah tentang kehidupan pribadinya, keluarganya, lingkungannya, dan tentang Tuhan. Puisi-puisi dalam kategori ini cukup banyak: Baju Loak Sobek Pundaknya, Sajak Ibu, Tujuan Kita Satu Ibu, Hujan, Dalam Kamar 6 x 7 Meter, Gentong Kosong, Apa yang Berharga dari Puisiku, Catatan Hari Ini, Catatan Suram, Darman, Gumam Sehari-hari, Kota ini Milik Kalian, Sajak Tiga Bait, dan lain-lain.

Dalam sebuah puisi yang judulnya cukup panjang, “Aku Dilahirkan di Sebuah Pesta yang Tak Pernah Selesai”, Wiji Thukul menulis: … selalu saja ada yang datang dan pergi hingga hari ini// ada bunga putih dan ungu dekat jendela di mana/ mereka dapat memandang dan merasakan/ kesedihan dan kebahagiaan/ tak ada menjadi miliknya// Tuhanku aku terluka dalam keindahan-Mu. Larik terakhir itu mengingatkan kita pada larik puisi Doa dari Chairil Anwar: Tuhanku aku hilang bentuk-remuk. Sama-sama bersimpuh di hadapan Tuhan, namun Chairil tampak berusaha untuk menyatu dan pasrah total, sementara Wiji Thukul tidak menyembunyikan rasa sakitnya di hadapan Tuhan, semacam pemberontakan juga namun dengan cara yang lembut.

Tak pelak lagi, Wiji Thukul adalah “binatang jalang” yang lain di masa yang berbeda dengan Chairil Anwar. Ia bahkan telah mengorbankan hidupnya untuk sebuah perjuangan berdarah-darah demi perubahan hidup bangsanya. Dan ia percaya bahwa “suatu saat kami akan tumbuh bersama dengan keyakinan: engkau harus hancur!/ di dalam keyakinan kami di mana pun – tiran harus tumbang!” (Bunga dan Tembok).

Dan sebagaimana kata-kata dalam puisi Chairil Anwar yang sering dikutip, kata-kata Wiji Thukul pun telah menjadi slogan yang sangat terkenal dan diteriakkan dalam aksi-aksi demonstrasi menentang kelaliman. Di bawah ini adalah beberapa kutipan dari puisi Wiji Thukul:

Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan, apabila engkau memaksa diam, aku siapkan untukmu pemberontakan!!! (Sajak Suara)

Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat, dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah kebenaran pasti terancam. (Peringatan)

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: lawan! (Peringatan)

Sesungguhnya suara itu bukan perampok yang ingin merayah hartamu, ia ingin bicara mengapa kau kokang senjata dan gemetar ketika suara-suara itu menuntut keadilan? (Sajak suara)

Jika kami bunga engkau adalah tembok, tapi di tubuh tembok itu telah kami sebar biji-biji suatu saat kami akan tumbuh bersamad dengan keyakinan: engkau harus hancur! dalam keyakinan kami di manapun – tirani harus tumbang! (Bunga dan tembok)

Mogoklah maka kau akan melihat dunia mereka jembatan ke dunia baru dunia baru ya dunia baru. (Bukan Kata Baru)

Kami satu: buruh kami punya tenaga jika kami satu hati kami tahu mesin berhenti sebab kami adalah nyawa yang menggerakkannya. (Makin Terang Bagi Kami)

Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli, apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu. (Satu Mimpi Satu Barisan)

. . . sajakku adalah kebisuan yang sudah kuhancurkan sehingga aku bisa mengucapkan dan engkau mendengarkan, sajakku melawan kebisuan. (Satu Mimpi Satu Barisan)

Jika tak ada mesin ketik aku akan menulis dengan tangan, jika tak ada tinta hitam aku akan menulis dengan arang, jika tak ada kertas aku akan menulis pada dinding, jika menulis dilarang aku akan menulis dengan tetes darah! (Penyair)

Aku berpikir tentang gerakan tapi mana mungkin kalau diam? (Tentang Sebuah Gerakan)

Aku menulis aku penulis terus menulis sekalipun teror mengepung. (Puisi Di Kamar)

Penjara sekalipun tak bakal mampu mendidikku jadi patuh. (Puisi Menolak Patuh)

Kita tidak sendirian kita satu jalan, tujuan kita satu ibu: pembebasan! (Tujuan Kita Satu Ibu)

Kausiksa aku sangat keras hingga aku makin mengeras, kaupaksa aku terus menunduk tapi keputusan tambah tegak. (Derita Sudah Naik Seleher)

Aku bukan artis pembuat berita tapi memang aku selalu kabar buruk buat para penguasa. (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Puisiku bukan puisi tapi kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan. Ia tak mati-mati meski bola mataku diganti. Ia tak mati-mati meski bercerai dengan rumah. Ia tak mati-mati. Telah kubayar apa yang dia minta umur-tenaga-luka. (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Kata-kata itu selalu menagih padaku ia selalu berkata: kau masih hidup! aku memang masih utuh dan kata-kata belum binasa. (Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa)

Penyair Goenawan Mohamad menulis bahwa Wiji Thukul tidak bisa dipisahkan dari perubahan politik Indonesia menjelang akhir abad ke-20, ketika demokratisasi bergerak lagi melintasi penindasan, kekerasan, bahkan pembunuhan. Goenawan percaya bahwa Thukul sebenarnya seorang pemenang. Tapi ia pemenang yang tak membawa pialanya ke rumah. Ketika rezim yang dilawannya runtuh, ia hilang. Mungkin ia diculik dan dibunuh seperti beberapa aktivis prodemokrasi lain, tanpa meninggalkan jejak.4)

Bagaimanapun nasib Wiji Thukul saat ini, masih hidup atau sudah mati, puisi-puisinya akan terus dibaca. Sebab setiap karya yang ditulis dengan darah dan airmata, akan terus bergema sepanjang masa. Benar ia hilang tanpa jejak, tapi suaranya melambung ke angkasa, suara yang mewakili rasa sakit kemanusiaan yang direnggut secara paksa.

Catatan

1) Wiji Thukul, Aku Ingin Jadi Peluru, editor: Dorothea Rosa Herliany (Magelang: IndonesiaTera, 2000)

2) Solichan Arif, “Cerita Wiji Thukul si Penyair Hilang”, http://www.koran-sindo.com/node/313947

3) Disarikan dari diskusi “Wiji Thukul: Sebuah Angka Peradaban yang Hilang”, yang disiarkan TVRI pada 27 Mei 2013, dipandu oleh Soegeng Sarjadi.

4) Goenawan Mohamad, “Thukul”, Catatan Pinggir, Tempo, 13-19 Mei 2013

Follow my Instagram: @gauspoem

Baca juga: Sutardji Calzoum Bachri: Jalan Baru Estetika Puisi

Menjadi Penulis dan Kaya Raya

WritePreneurship-2

KATA PENGANTAR Oleh DENNY JA
Menjadi Penulis dan Kaya Raya?

Apakah penulis bisa kaya secara materi? Siapa penulis terkaya saat ini? Apa yang ditulisnya? Bagaimana agar bisa seperti mereka? Apakah menjadi kaya raya harus menjadi tujuan utama penulis? Itulah rangkaian pertanyaan yang muncul setelah membaca buku singkat Ahmad Gaus: WriterPreneurship.

Majalah Forbes tahun 2012 memilih 10 penulis terkaya. Di antara mereka yang terkaya adalah James Patterson, dengan penghasilan setahun $94 million. Urutan kedua: Stephen King, dengan penghasilan setahun $39 million. Di antara 10 besar itu terdapat juga nama Bill O’Reilly, dengan penghasilan setahun $24 million.

Menarik!! Penulis di dunia maju bisa sekaya itu. Dalam waktu setahun penghasilan James Patterson mendekati 1 trilyun rupiah. Yang ditulis juga beragam. James Patterson sendiri penulis kuliner. Yang ia tulis resep masakan super lezat, yang membuat bukunya laku jutaan kopi. Stephen King penulis dengan jenis yang lain. Ia menulis novel horor dan misteri. Aneka novelnya dijadikan film. Sementara Bill O’Reilly penulis yang berbeda lagi. Ia banyak menganalisa masalah politik dan menjadi host di TV Fox News.

Menjadi penulis tidak hanya menulis fiksi seperti novel atau puisi. Banyak hal yang bisa direkam dalam buku: resep masakan, riset politik, gosip artis. Dari contoh di atas, materi tulisan yang fiksi, sampai yang sangat serius, semua bisa laku di pasar. Dan banyak jenis tulisan yang ternyata bisa mengantar penulisnya menjadi super rich! Penulisnya tidak hanya kaya, tapi super kaya raya!

-o0o-

Di tahun 20-an, kita mengenal para Founding Fathers seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim. Mereka dikenal sebagai generasi pemikir pejuang dan pejuang pemikir. Umumnya mereka penulis dan intelektual serta menjadi politisi sekaligus. Mereka sangat kaya imajinasi, namun secara material tidak termasuk kaya raya. Di zaman itu bahkan terkesan menjadi penulis atau intelektual itu harus siap hidup secara asketis: kaya batinnya tapi miskin harta. Penulis membuat seseorang harus siap menjadi pemikir dan pejuang. Mereka harus siap hidup sederhana.

Zaman sudah berubah. Penulis yang menjadi pemikir dan pejuang tetap dirindukan. Namun saya sendiri ikut mengkampanyekan perlunya jenis intelektual dan penulis lain. Saya menyebutnya intelektual entrepreneur atau entrepreneur intelektual. Yaitu jenis intelektual yang punya spirit entrepreneurship dan akibatnya kaya raya.

Lebih baik bagi penulis atau intelektual jika ia kaya raya. Dengan menjadi kaya, ia bisa membuat penelitian dan karya secara mandiri. Ia bisa membiayai kegiatan kemasyarakatannya sendiri. Bahkan dengan kaya raya, ia bisa membantu beasiswa untuk orang lain, membangun perpustakaan publik dan kerja sosial. Yang lebih penting lagi, dengan menjadi kaya raya, intelektual atau penulis itu akan punya banyak waktu luang untuk berkarya. Ia juga tidak di bawah kendali orang lain karena ia tidak dibiayai oleh siapapun.

Secara moral, tak ada masalah menjadi kaya. Bahkan saya mengikuti etik calvinis yang dipuji Max Weber. Orang yang kaya di dunia itu, sejauh itu ia peroleh dengan cara yang halal, dan digunakan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan publik, itu adalah tanda orang yang dipilih Tuhan. Saya juga ingin menerapkan prinsip ini untuk dunia penulisan. Penulis yang kaya raya karena karyanya, dengan cara yang halal, adalah penulis yang merupakan “orang pilihan” Tuhan.

Dalam usia menjelang lima puluh tahun, saya banyak berjumpa teman lama yang dulu menjadi intelektual dan penulis yang inspiring. Namun di masa tua, hidupnya serba kesulitan. Ia bahkan tak memiliki biaya untuk berobat ke rumah sakit. Banyak pula yang akhirnya terpaksa bekerja dan “menggadaikan” kapasitas intelektualnya untuk kepentingan yang tak sepenuhnya sejalan dengan visinya.
Saya menganggap ini kesalahan bersikap. Jika sejak awal menjadi penulis dan intelektual selalu dikaitkan dengan hidup sederhana dan rela miskin, itu akibatnya.

-o0o-

Saya sendiri contoh penulis yang melakukan “hijrah” agar bisa kaya raya. Saya mendapatkan rekor MURI sebagai penulis paling produktif yag memiliki program tetap di aneka media sekaligus. Pernah di satu periode, saya menjadi kolumnis tetap beberapa koran yang wajib menulis seminggu sekali di satu koran. Ada tiga sampai lima koran yang harus saya layani sekaligus. Pada saat yang sama saya juga menjadi Host di TV seminggu sekali. Pada saat yang sama saya juga menjadi host di radio seminggu sekali. Semua kerja saya itu sudah dipublikasikan dalam 20 buku sekaligus.

Namun dengan kerja keras seperti itu, tetap saja secara materi tak bisa berlimpah. Sementara saya sudah mempunyai “ideologi,” bahwa penulis harus juga kaya raya. Itulah awal saya melakukan hijrah. Saya mengubah diri saya menjadi penulis jenis lain. Yang saya tulis bukan lagi opini, tapi hasil riset. Target pasar saya bukan lagi publik dan media, tapi pribadi dan partai.

Sayapun menulis begitu banyak hasil survei opini publik. Jika James Patterson penulis terkaya itu menulis resep makan lezat, saya menulis resep untuk menang di pemilu dan pilkada. Bedanya, tulisan survei opini publik saya itu tak bisa dinikmati publik luas. Pembelinya para calon pemimpin yang ingin menang pemilu dan pilkada dengan harga yang mahal sekali. Hidup sayapun berubah.

-o0o-

Buku yang ditulis oleh Ahmad Gaus cukup informatif dari sisi bagaimana menjadi penulis. Bahkan buku ini sangat praktis karena dilengkapi dengan tips dan panduan latihannya. Dengan membaca buku ini, seseorang mudah sekali menguasai ketrampilan menulis.

Yang perlu ditambah dari buku Ahmad Gaus itu justru dari sisi entrepreneurshipnya. Yaitu aneka tips untuk berpikir out of the box, dan menjadi kaya raya melalui penulisan itu. Informasi jenis itu memang tak perlu diberikan oleh buku yang lebih menekankan pada ketrampilan menulis. Sisi entrepreneurship dapat dilengkapi sendiri oleh siapapun yang berminat. Sudah banyak sekali buku yang mengajarkan action plan menjadi kaya raya dari apapun situasinya.

Namun buku Gaus sudah memulai suatu spirit yang benar. Bahwa penulis itu bisa kaya raya dengan karya tulisnya. Saya merevisi pernyataan Gaus itu dengan versi yang lebih keras. Ukuran berhasil atau tidaknya penulis itu adalah kaya raya. Jika ia tidak kaya raya, berarti ia belum menjadi penulis yang berhasil! Ia belum menjadi penulis yang karyanya diburu publik. Ia belum menjadi penulis yang membuat target pasarnya rela mengeluarkan dana besar untuk mendapatkan manfaat dari karyanya.

Mungkinkah penulis menjadi kaya raya tapi karyanya buruk? Itu hal yang mustahil. Baik dan buruk itu sangat relatif. Tak ada lagi penilaian tunggal mengenai baik dan buruk. Tak ada seorang kritikus di atas sana yang menjadi pemberi fatwa ini karya baik dan itu karya buruk. Publik lah yang menjadi penilainya. Jika karya tulis itu dicari dan pembelinya rela mengeluarkan dana besar untuk karya itu, per definisi itu sudah menjadi karya yang bagus. Mungkin ini kontroversial tapi sehat! ***

*) Denny J.A, seorang intelektual entrepreneur yang kini bergiat dalam gerakan Indonesia Tanpa Diskriminasi.

Gereja Tua

gerejatua

PUISI ESAI AHMAD GAUS

Gereja Tua

/1/

AZAN magrib bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan di kampung Setu
Terdengar oleh Nasruddin seperti lomba tarik suara
Orang-orang bergegas pergi sembahyang.

Sejak pulang dari Tanah Suci
Nasruddin tidak pernah lagi datang ke masjid
Salat berjamaah ataupun ikut pengajian
Setiap malam Jumat.

Para tetangga merasa heran
Berharap Nasruddin menjadi haji mabrur
Menggantikan imam masjid yang sudah tua
Menjadi amil1) dan mengurus pengajian
Harapan mereka sia-sia.

Seorang tetangga menyindir
Nasruddin hajinya mardud2), ditolak oleh Tuhan
Penampilannya tidak mencerminkan seorang haji
Tidak pernah terlihat memakai sorban
Apalagi peci haji.

Ada juga yang mengatakan
Nasruddin merasa malu karena bohong
Ia sebenarnya tidak pergi ke Mekah
Tapi ke tempat lain di luar negeri.

Para tetangga masih ingat
Hari pertama Nasruddin tiba dari Tanah Suci
Mereka menyalaminya penuh haru
Nasruddin tampak kaku dan pendiam
Tidak ada cerita yang keluar dari mulutnya
Bagaimana suasana di Baitullah
Wukuf di Padang Arafah
Bermalam di Mina
Melontar jumrah aqabah.

Nasruddin tidak membawa buah tangan
Sajadah, tasbih, dan semua yang diharapkan
Dari orang yang pulang haji
Bahkan sebutir korma pun tidak ada
Jangankan air zam-zam.

Yang lebih mengherankan
Beberapa hari sebelum Nasruddin tiba di tanah air
Ada seekor unta yang diantar entah oleh siapa
Dan kini diikat di depan rumahnya.

Para tetangga bergunjing menertawakan
Baru kali ini ada orang pulang haji membawa unta!
Ha.. ha.. ha.. ha…
Mengapa tidak sekalian saja Kabahnya dibawa!
Hi.. hi.. hi.. hi…

/2/
Nasruddin menutup telinga
Mereka tidak memahami unta
Hewan itu saksi hidup Nabi Muhammad
Setia menemaninya berdagang di Syam3)
Membawanya hijrah ke Madinah
Saat berada dalam ancaman kafir Mekah.

Setiap pagi Nasruddin memandikan unta itu
Kain yang digunakannya terbuat dari bahan halus
Kain yang kasar bisa melukai kulitnya yang bagus
Ia tidak habis pikir bagaimana hewan yang jinak itu
Bisa menaklukkan gurun pasir yang buas.

Unta selalu disebut dalam buku sejarah Islam
Tidak ada hewan yang menyaingi kesetiaannya
Mendampingi perjuangan Nabi dan para sahabat
Tapi jasanya jarang diingat.

Nasruddin menjelaskan itu kepada keluarganya
Seperti para tetangga, mereka juga tidak mengerti
Bahkan menginginkan unta itu segera dijual
Atau mereka akan melepaskannya
Saat Nasruddin tertidur.

Nasruddin kasihan kepada untanya
Para tetangga mencibir
Keluarga sendiri tidak bisa menerima
Akhirnya ia menitipkan unta itu di sebuah gereja
Yang digembala sahabatnya — Pendeta Martin

/3/

Gereja itu sudah ada sejak zaman Belanda
Di papan nama tertulis Gereja Pelita Suci
Tapi warga kampung Setu
Menyebutnya gereja lilin
Pada malam-malam tertentu
Jemaah gereja menyanyi dan berdoa
Sambil memegang lilin yang menyala
Menarik perhatian anak-anak kampung
Yang pulang mengaji.

Sudah tiga puluh tahun
Pendeta Martin tinggal di gereja itu
Melayani Tuhan dan para jemaat
Sekali waktu membuka pengobatan umum
Untuk orang-orang Muslim
Di sekitar gereja.

Pohon palem tua tumbuh di depan gereja
Daunnya dianggap sebagai simbol
Kemenangan dari dosa dan kematian
Ketika Yesus memasuki Yerusalem
Sebelum Ia disalibkan.4)

Di mata Nasruddin
Pohon palem itu seperti pohon kurma
Buahnya yang kering adalah makanan unta
Di batang palem itu dia mengikat untanya
Setiap malam.

Pendeta Martin menyukai unta milik Nasruddin
Sering terlihat bercengkrama di depan gereja
Seperti berbicara kepada manusia
Sebelum Nasruddin datang
Memberi makan dan memandikan untanya.

/4/

Pendeta Martin seorang alim
Memahami dengan baik seluk beluk unta
Suatu pagi dia menjelaskan kepada Nasruddin
Unta adalah makhluk Tuhan yang unik
Perangainya sopan dan memiliki aura religius
Ia mengutip Kitab Kejadian 24 5)
Kata unta disebut 16 kali.

Sambil bercakap dengan Pendeta Martin
Nasruddin memandikan untanya dengan kain basah
Campuran air hangat dan minyak zaitun
Ia mengelus punggung onta itu
Membayangkan di atasnya pernah duduk
Nabi Muhammad, rasul utusan Tuhan

Nasruddin percaya kepada Pendeta Martin
Unta memiliki aura religius
Dalam Alquran Tuhan berfirman,
Tidakkah mereka memperhatikan
Bagaimana unta-unta itu diciptakan?6)

Pendeta Martin menjelaskan Injil Lukas 18:25
Gambaran orang-orang berharta yang sulit masuk surga
Bagaikan sulitnya unta masuk ke lubang jarum.

Nasruddin heran, apakah Tuhan berbicara buruk tentang unta?
Sang Pendeta menepis, itu hanya metafora
Orang-orang Yahudi kaya memiliki kebiasaan
Harta mereka dibawa di kiri-kanan punggung unta
Mereka tidak bisa memasuki pintu
Rumah-rumah Yahudi yang menyerupai lubang jarum
Bentuknya sempit dan memanjang
Siapa yang ingin memasuki lubang itu
Harus melepaskan hartanya.

/5/

Minggu kedua setelah pulang haji
Nasruddin berlatih menaiki unta
Lekuk punggungnya bagaikan bukit Tursina
Tempat Nabi Musa menerima wahyu.

Di atas punggung unta
Nasruddin membayangkan Rasulullah
Berhijrah ke Madinah
Di sana kaum Anshar berebut
Menghendaki Nabi tinggal di rumah mereka
Nabi membiarkan untanya berhenti sendiri
Dan unta itu duduk di pelataran
Rumah milik Abu Ayyub al-Anshari
Di situlah Nabi tinggal.

Di Madinah banyak orang berilmu
Memilih profesi sebagai konsultan unta
Mereka dibayar oleh para saudagar kaya
Setelah menaksir kemampuan hewan itu
Menyesuaikan diri dengan padang pasir
Tidak makan dan minum
Selama berminggu-minggu.

/6/

Unta hewan yang pintar
Nabi memperlakukannya begitu mulia
Tidak sia-sia Nasruddin membelinya
Jauh-jauh dari Arab
Ditentang keluarganya sendiri
Ditertawakan oleh para tetangga
Dianggap orang gila.

Masih terngiang di telinganya
Cemoohan orang-orang yang curiga
Nasruddin naik haji hanya terpaksa
Karena semua keluarganya sudah haji
Ia juga tidak pernah mengikuti latihan manasik7)
Menghapalkan doa tawaf dan sa’i.

Di dalam pesawat menuju Jedah
Para calon haji sibuk membaca buku
Fikih panduan menunaikan ibadah haji
Nasruddin membaca buku-buku ekonomi
Ia ingin umat Islam maju
Bisa membangun teknologi tinggi
Supaya pergi ke Tanah Suci
Naik pesawat buatan sendiri.

Ustadz pembimbing haji menegurnya
Meluruskan niat menuju Mekah
Meminta ampun di depan Kabah
Menghapus dosa-dosa.

/7/

Ketika pulang haji
Nasruddin bercerita kepada Pendeta Martin
Tujuannya pergi ke Tanah Suci
Bukan untuk menghapus dosa
Bukan pula mencari pahala
Ia ingin menyelami denyut nadi
Negeri para nabi dilahirkan
Tempat yang disucikan
Pertaruhan orang-orang beriman.

Banyak orang berkali-kali naik haji
Lebih banyak yang tidak mampu memaksakan diri
Menjual harta benda, sawah, dan ladang
Semua dipertaruhkan demi iman
Tapi ibadah haji dibisniskan
Dana umat diselewengkan.

Pendeta Martin terkejut
Semua umat beragama punya tabiat sama
Menjual agama untuk kepentingan pribadi.

Kita harus berbuat sesuatu, kata Nasruddin
Pendeta Martin mengamini
Umat di bawah bernasib sama
Hidup susah dan menderita
Kondisi yang subur untuk diadu domba
Bukan soal Islam atau Kristen
Kemiskinan tidak pandang agama.

Pagi hingga petang
Malam hingga larut
Nasruddin dan Pendeta Martin selalu berdiskusi
Apa yang bisa dilakukan untuk umat
Percakapan tentang buku-buku dan kitab suci
Makin mengakrabkan keduanya.

Unta Nasruddin senang berada di gereja tua itu
Para jemaat sangat menyayanginya
Mengajaknya bercakap-cakap
Memperlakukannya sebagai manusia.

/8/

Setiap pagi Nasruddin menuntun unta
Kadang berada di punggungnya
Berjalan mengelilingi kampung
Menyisir tepi-tepi jalanan kota.

Orang-orang yang melihat Nasruddin
Menganggapnya manusia aneh
Menunggang unta di tengah kemacetan
Terjepit di antara ribuan kendaraan bermotor.

Nasruddin tidak peduli
Naik unta dianggap peristiwa historis
Napak tilas perjalanan agama Islam
Dari zaman Nabi Muhammad.

Di punggung unta ada sejarah
Kapitalisme perdagangan kaum Muslim masa awal8)
Terpancar dari Madinah ke Baghdad
Granada, Cordoba, Damaskus
Lalu Paris, New York, London
Pusat-pusat kapitalisme dunia
Tumbuh pesat di atas kuburan
Sejarah peradaban Islam.

/9/

Suatu hari Nasruddin dan untanya
Masuk ke pelataran kantor-kantor perbankan
Bursa efek dan pusat-pusat bisnis
Perbelanjaan modern.

Nasruddin melihat untanya seperti gelisah
Membandingkan keadaan ekonomi negeri Syam
Yang ramai di zaman Nabi Muhammad
Dengan perekonomian di zaman ini.

Nasruddin membiarkan saja
Ia ingin unta itu tahu dunia sudah berbeda
Jauh keadaannya dibandingkan 14 abad silam
Kaum Muslim hidup dalam kapitalisme global
Di bawah kendali negara-negara industri maju
Dan mereka bukan pemeluk agama Muhammad.

Unta itu menatap Nasruddin
Pandangannya kosong
Mulutnya bergerak-gerak,

“Siapa saya sekarang?” tanyanya

“Kamu adalah masa lalu,” jawab Nasruddin.

Ia tahu pernyataan itu sangat keras
Bisa melukai perasaan unta
Tapi ia sengaja mengatakan itu
Agar untanya mengerti
Dunia masa kini bukan lagi miliknya.

“Apakah saya masih berguna?”

“Masih, tapi sekadar alat analisa?”

“Apa bisa lebih spesifik?” tanya unta itu penasaran.

Nasruddin menjelaskan,

Begini. Kamu adalah simbol perekonomian kaum Muslim
Tapi itu dulu, ketika ekonomi Islam masih sangat dominan
Sekarang dunia sudah berubah
Tidak bisa lagi dijelaskan melalui sudut pandang Islam
Perkembangan ekonomi global
Didominasi oleh sistem kapitalisme Barat
Semuanya ahistoris dalam sejarah Islam.

Unta itu menyibakkan ekornya
Matanya berkejap-kejap
Seperti sedang menutupi perasaannya
Sesaat kemudian,

Baiklah, bukannya saya tidak mau disalahkan
Tapi rasanya kurang fair kalau hanya melihat dari pihak saya
Ini pasti ada yang salah dengan umat Islam sendiri.

Nasruddin terperangah
Ia merasa unta itu mulai menebar tuduhan
Memfitnah kaum Muslim.

“Apa yang salah dengan umat Islam?” kejar Nasruddin

Unta itu menatap Nasruddin
Ia tahu majikannya mulai kesal
Lalu ia melanjutkan,

Lihat, apa yang dilakukan kaum Muslim
Selama berabad-abad
Mereka hanya mengutak-atik syariah
Bertengkar soal akidah
Perkara semacam itu tidak pernah selesai
Di zaman saya dulu, pembebasan Islam itu kongkrit
Pesan-pesan Alquran sangat hidup
Tapi sekarang menjadi abstrak
Kaum Muslim tidak mampu menghidupkannya
Mereka tertidur selama berabad-abad
Seperti para pemuda Ashabul Kahfi
Ketika bangun dunia sudah berubah
Mereka tidak sanggup hidup
Akhirnya memilih mati.

Kata-kata itu seperti godam
Palu besar yang dipukulkan ke kepala Nasruddin
Matanya dipenuhi kunang-kunang
Samar-samar menatap cahaya
Lampu-lampu kendaraan yang mulai menyala.

/10/

Hari mulai senja
Nasruddin menuntun untanya
Memasuki halaman gereja
Tapi langkahnya terhalang
Garis polisi di sekeliling pagar
Batu-batu berserakan di bagian dalam
Genting yang hancur dan pecahan kaca.

Suasana di dalam gelap dan sepi
Azan magrib berkumandang
Bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan di kampung Setu
Terdengar oleh Nasruddin
Seperti tangisan para jemaat gereja.

Orang-orang yang lewat menuju masjid
Menghampiri Nasruddin dan bercerita
Tapi pagi puluhan massa datang dari mana
Menyerang gereja dan memukuli Pendeta Martin
Sekarang dia dirawat di rumah sakit.

Bumi yang dipijak berguncang
Langit tidak mengirimkan berita
Orang-orang itu membantu Nasruddin
Membawa untanya ke dekat masjid
Nasruddin bergegas menuju rumah sakit
Bibirnya tak henti membaca doa.

Malang tak dapat ditolak
Beberapa menit sebelum ia datang
Pendeta Martin sudah berpulang
Menghadap Tuhan Bapak
Di kerajaan surga.

/11/

Gereja itu masih dikelilingi garis polisi
Batu-batu dan pecahan genting dilumat sepi
Sesepi kematian penghuninya yang tragis
Berita ini jangan dieksposes, kata petugas
Nanti memancing kemarahan yang lebih besar
Semua sudah ditangani pihak berwajib.

Pendeta Martin pergi terlalu cepat
Banyak pekerjaan sudah dibuat
Membangun solidaritas
Menghilangkan sekat-sekat
Antarumat beragama.

Nasruddin bersandar di pohon palem
Membayangkan orang-orang dari mana
Datang sambil meneriakkan takbir
Menyerang
Lalu menghilang.

Beberapa jemaat gereja menghampiri Nasruddin
Menghiburnya dengan kutipan Alkitab
Seorang dari mereka berkata,

Tuan, bila gereja ini masih diizinkan ada
Sudilah Tuan membiarkan unta ini
Tetap tinggal di sini bersama kami
Seperti pesan Bapak Pendeta sebelum wafat
Kami berjanji akan merawatnya
Sebaik Tuan menyayanginya.

Nasruddin tertunduk
Tangannya mengusap punggung unta
Di atasnya pernah duduk
Seorang Nabi utusan Tuhan
Kemudian ia berbisik ke telinga unta,

Kita akan tinggal di sini
Saya akan menggantikan Bapak Pendeta
Menjaga gereja ini.

Azan zuhur berkumandang
Bersahutan dari loud speaker
Tiga masjid yang berdekatan
Di kampung Setu.

Orang-orang yang lewat menuju masjid
Menyalami jemaat gereja
Menyampaikan belasungkawa
Seorang yang bersurban dan berpeci haji
Menghampiri Nasruddin dan berkata,

Biarlah unta ini kami bawa
Kami akan buatkan rumah untuknya
Di samping masjid.

Catatan Kaki

1. Amil adalah orang yang bertugas mengurus jenazah. Biasa dibedakan dengan amil zakat yaitu orang atau lembaga yang bertugas dalam pengumpulan dan pengelolaan zakat.

2. Status haji mardud didasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh al-Thabrani: “Tidak ada talbiyah bagimu dan tidak ada keberuntungan atasmu karena makananmu haram, pakaianmu haram, dan hajimu mardud (ditolak).” Biasanya dibedakan dengan haji makbul yaitu haji yang diterima karena terpenuhi syarat-syaratnya, dan dibedakan juga dengan haji mabrur yaitu haji yang sejati, karena ibadah haji mampu mengubah perilaku seseorang menjadi lebih baik.

3. Negeri Syam sekarang dikenal dengan nama Suriah. Sejak usia 12 tahun Muhammad telah sering diajak oleh pamannya, Abu Thalib, untuk berdagang di Syam. Uraian yang lengkap mengenai ini lihat Imam Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, terjemahan, Jld 1, Jakarta, Darul Falah, Cet. V, 2005.

4. Daun palem adalah simbol dari kemenangan, diasosiasikan dengan kejayaan Yesus memasuki kota Yerusalem. Lihat, Yohanes 12:12-13.

5. Kejadian 24 adalah bagian dari Kitab Kejadian dalam Alkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Termasuk dalam kumpulan kitab Taurat yang disusun oleh Musa. Lihat, http;//id.wikipedia.org/wiki/Kejadian_24

6. Surat al-Ghasiyah ayat 17: Afalaa yandhuruuna ila ‘i-ibili kayfa khuliqat

7. Manasik = tata cara pelaksanaan ibadah haji

8. Istilah kapitalisme perdagangan (commercial capitalism) berasal dari seorang sosiolog dan historian Prancis, Maxime Rodinson, yang meyakini bahwa masyarakat Muslim awal mempraktikkan kapitalisme jenis ini. Lihat Maxime Rodinson, Islam and Capitalism (terjemahan Inggris oleh Brian Pearce), London, Allen Lane, 1974. Lihat juga, Gene W. Heck, Charlemagne, Muhammad, and the Arab Roots of Capitalism, Walter de Gruyter, 2006

Puisi di atas adalah salah satu puisi yang dimuat dalam buku Ahmad Gaus, Kutunggu Kamu di Cisadane: Antologi Puisi Esai (KomodoBook, 2012)

Follow My Twitter @AhmadGaus
Face Book: Gaus Ahmad
Email: gausaf@yahoo.com
_______________________________

Hujan Lebat di Pasir Ris

rainBeach

/24/ Hujan Lebat di Pasir Ris

TENDA-TENDA yang berjajar di tepi pantai diterpa angin kencang. Matahari sore membiaskan cahaya merah pudar di kaki langit. Posisi pantai yang terletak di timur laut mata angin itu memang tidak sepenuhnya menyajikan keindahan panorama sunset. Namun keindahan yang sesungguhnya telah terpatri di hati Sally.

Ia merasa semua perhatian dari teman-teman barunya tertumpah kepadanya. Belum pernah ia merasa begitu dimanja — sejak tubuhnya terbenam di dunia yang sangat keras, dunia yang memaksanya untuk berdiri di atas kaki yang lunglai. Kini ia tahu ada dunia lain yang sangat bersemangat. Dunia yang hidup dalam pikiran anak-anak muda yang begitu optimis melihat ke depan.

Ini adalah hari ketiga ia dan Jihan berkumpul bersama teman-teman barunya di Singapura. Kadang ia merasa cemburu kepada Jihan yang begitu mudah berkomunikasi dengan mereka melalui bahasa orang-orang terpelajar yang tidak selalu ia pahami. Tapi Jihan memang berhak atas semua itu karena dia berpendidikan tinggi, berwawasan luas, berparas cantik, bertubuh sempurna, dan semua predikat baik yang pantas disandangkan kepadanya.

Sedangkan dirinya? Seorang perempuan kampung yang hanya sempat belajar satu tahun di perguruan tinggi. Itu pun di kota kecil yang jauh dari fasilitas modern seperti di kota besar. Terlintas rasa sesal bahwa ia pernah mengambil keputusan berhenti kuliah. Tapi perasaan itu segera ditepis. Ia tidak ingin menyalahkan orangtuanya. Situasilah yang memaksanya mengambil keputusan itu. Sejak ayahnya meninggal, ia mengambil tanggung jawab menjadi tulang punggung keluarga, karena ia anak tertua. Saat itu, Mega adiknya baru duduk di bangku kelas satu SMA dan si bungsu Fitri masih kelas lima SD. Keduanya membutuhkan biaya untuk melanjutkan sekolah. Ia harus bekerja. Mengadu nasib di Jakarta. Kota yang kejam bagi mereka yang lemah.

Tapi Sally tidak merasa lemah. Ia hanya merasa sedih. Kesedihan yang mendadak muncul saat ia berada di puncak bahagia, berkumpul bersama anak-anak muda yang tak henti-henti mencandainya dengan cerita-cerita lucu, sambil menunggu sesi barbeque setelah lelah berdiskusi.

Sally merasa gamang untuk tertawa. Hanya senyuman kecil tersungging di sudut bibirnya. Ia tahu, anak-anak muda itu tulus. Sejak perkenalan beberapa hari lalu, ia merasa mereka bahkan sangat memanjakannya. Jihan yang baik hati seperti sengaja menciptakan situasi agar seluruh perhatian anak-anak muda itu dicurahkan kepadanya. Aaaahh… Jihan memang seperti seorang kakak yang mengemong adiknya. Tapi kini perhatian itu membuatnya jengah. Ia tersudut — oleh perasaannya sendiri.

“Ayo, makanan sudah siap.” Seseorang berteriak.

Tangan-tangan bersilangan di atas meja. Sendok dan garpu beradu. Mulut-mulut mulai mengunyah. Tapi Sally tetap diam. Jihan membantu menyiapkan satu porsi untuknya.

“Makan dulu, Sal,” ujarnya lembut, seperti tahu temannya sedang gelisah memikirkan sesuatu.

“Kamu ingat si peneror itu lagi?”

“Bukan, Jihan, aku ingat ibu dan adik-adikku, kenapa aku tidak memberitahu mereka soal kepergianku ke sini. Firasatku tidak enak.”

“Ah.. itu kan perasaanmu saja, Sal. Ya sudah, kalau begitu kamu hubungi saja mereka sekarang, supaya kamu merasa tenang.”

Saran yang baik. Sally mengambil telepon genggam dari dalam tasnya, berniat menulis pesan kepada adik-adiknya. Namun ia mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali telepon genggam itu. Teman-teman yang lain memperhatikan tingkah laku Sally yang berbeda dari biasanya.

“Sally, kok tidak makan?” tanya Ana.

Mereka yang tengah asik menikmati barbeque menoleh ke arah Sally hampir bersamaan, membuatnya grogi. Tapi ia merasakan semua tatapan itu memancarkan getaran simpati dan perhatian pada dirinya. Tidak ingin merusak suasana, akhirnya ia memutuskan untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Jihan.

“Terima kasih, Ana, rasa laparku baru muncul setelah melihatmu makan begitu lahap,” kata Sally. Kelakarnya memancing gelak tawa.

-o0o-

“Jangan pergi terlalu jauh, Sal,” teriak Jihan.

“Tidak, aku cuma mau menikmati angin pantai,” jawab Sally.

Pasir putih terhampar seperti butiran mutiara. Cahaya matahari sore yang masih tersisa hanya mampu mengintip dari balik awan yang mulai menebal. Anak-anak remaja berwajah oriental berkejaran di atas pasir basah. Tawa mereka berderai saat lidah ombak berhasil menyentuh kaki-kaki putih telanjang.

Sally terus melangkah menyusuri tepian pantai. Semakin menjauh dari teman-temannya yang kembali melanjutkan obrolan sehabis makan. Angin yang menerpa wajahnya terasa basah, entah karena mengandung butiran air laut atau rintik gerimis. Ia tidak peduli. Kakinya terus diayunkan.

Tiba-tiba ia teringat Bahar. Ia merasa bersalah telah menyia-nyiakan cinta pria itu. Mungkin ia akan lebih nyaman bersama Bahar, karena sama-sama dari kampung. Bukan bersama teman-teman barunya yang semuanya orang pandai — berpendidikan tinggi. Mereka lebih cocok dengan Jihan, gadis kota yang sangat mandiri, cantik, dan intelek.

Sally merindukan Bahar ada di sisinya. Tapi di mana Bahar sekarang? Apakah ia sudah kembali bekerja di kapal pesiar di Thailand setelah pertemuannya di kampung hanya meninggalkan perasaan kecewa, sebab Sally tidak memberinya kepastian apapun.

Kini Sally merasa itu adalah tindakan yang bodoh, yang membuatnya sangat tersiksa. Ia ingin Bahar ada di sampingnya. Bergandengan tangan. Berkejaran. Bergulingan di atas pasir — seperti pernah mereka lakukan saat di kampung, di kaki bukit, di area perkebunan tomat. Kalau hujan deras mengguyur ia ingin berada dalam pelukan pria itu. Berdua saja mencari tempat berlindung, atau membiarkan hujan membasahi tubuh mereka. So sweet…!!

Dan ilusi itu terlalu kuat untuk ditepis. Sosok Bahar menguasai pikirannya, dan menjelma di hadapannya.

“Kang Bahar.”

“Salimah.”

“Kok ada di sini?”

“Kenapa Kang Bahar juga ada di sini?”

“Kapalku merapat karena cuaca buruk, tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Thailand.”

“Kalau saya sedang bersembunyi, Kang.”

“Bersembunyi? Dari siapa?”

“Dari orang-orang yang akan membunuhku.”

“Siapa yang akan membunuhmu, Limah? Memang kamu salah apa?”

“Aku tidak salah, Kang, tapi aku dijebak.”

Sekonyong-konyong suara petir menggema. Sally tersentak. Tubuhnya limbung. Bahar meraih tubuh itu. Tubuh yang sudah sangat dikenalnya. Suara petir kembali menyalak. Kali ini disertai hujan yang tiba-tiba turun dengan derasnya. Bahar membopong tubuh Sally, membawanya berlindung di bawah pohon.

Di tempat lain Jihan dan teman-temannya berlarian meninggalkan tenda yang meliuk-liuk diterjang angin dan hujan deras. Tempat yang aman ialah ruang dalam restoran. Tapi pengunjung yang terlalu banyak dan semua masuk ke dalamnya membuat restoran yang luas itu terasa sempit.

“Man Sally? Mana Sally?” Beberapa orang bertanya kepada Jihan. Tampak wajah-wajah yang cemas.

“Tadi pergi ke sana.” Jihan menyahut, menunjuk ke satu arah.

“Kamu susullah dia, Imran, nanti dia tersesat.” Suara Rosnidar bergetar.

Bagaikan mendapat aba-aba, Imran dan kawan-kawan bergegas menerobos hujan. Berlari ke arah yang ditunjuk oleh Jihan. Suara petir bersahutan dengan debur ombak. Mereka terus berlari. Berharap bisa menemukan Sally. Sebelum langit benar-benar gelap.[]

________________
Tulisan di atas adalah cuplikan dari novel terbaru saya yang akan terbit Januari 2013, berjudul PENULIS HANTU.

Saran/respon via Twiter: @AhmadGaus FaceBook: Gaus Ahmad email: gausaf@yahoo.com PIN 21907D51

Negeri Ini Kekurangan Penulis

typing her life

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. Menulis adalah bekerja untuk keabadian — Pramoedya Ananta Toer

“Menulis? Nggaklah, gw gak bakat kalee…!!” Kalimat seperti itu sering saya dengar dari orang-orang yang menganggap kegiatan tulis-menulis sebagai sesuatu yang asing.

Menulis memang menuntut suatu keterampilan khusus. Tapi, semua bentuk keterampilan–termasuk menulis–pada dasarnya bisa dipelajari. Kesalahan banyak orang ialah terlalu percaya pada mitos bahwa seorang penulis itu dilahirkan, bukan dibentuk. Akibatnya, orang yang merasa tidak dilahirkan sebagai penulis memiliki alasan untuk menjauhi profesi ini.

Dalam pandangan tradisional, penulis itu profesi istimewa yang hanya bisa disandangkan pada orang-orang tertentu. Dan celakanya pula, sebagian penulis secara sadar membentuk dunia mereka sebagai dunia yang asing bagi kebanyakan orang. Semakin tidak tersentuh dunia itu semakin istimewa kedudukannya. Saya pernah mendengar seorang penulis terkenal mengeluh karena, menurutnya, sekarang ini semua orang ingin menjadi penulis dan tidak ingin menjadi pembaca. Gejala itu, lanjutnya lagi, bisa dilihat dari blog-blog yang bertebaran di internet yang isinya kebanyakan hanya “sampah”.

Menurut saya pandangan semacam ini lumayan gawat. Bagaimana mungkin seorang penulis tidak bisa mengapresiasi karya orang lain. Urusan “sampah” itu karena dia melihat dari kacamatanya sebagai seorang penulis terkenal. Kalau saja dia mau sedikit berpandangan positif, sampah itu juga bernilai, setidaknya bagi si penulisnya yang sudah bersusah-payah menuangkan pikiran-pikirannya. Itulah gambaran dunia tulis-menulis kita yang dibesarkan oleh kultur elitisme.

Dalam kultur writerpreneurship*), pandangan semacam itu dijauhkan. Setiap orang diajak untuk belajar dan berlatih menjadi penulis. Profesi penulis adalah cita-cita luhur sebagaimana cita-cita untuk menjadi pengusaha, pengacara, pejabat, politisi, ilmuwan, dan sebagainya.

Pandangan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjadi penulis bukanlah ajaran writerpreneurship. Sebagai lapangan kerja, tulis-menulis adalah dunia yang terbuka lebar. Semakin banyak orang yang menjadikan aktivitas tulis-menulis sebagai sumber penghasilan semakin baik, karena itu berarti mengurangi pengangguran dan meringankan beban pemerintah yang tidak selalu bisa menyediakan lapangan kerja. Sebagai lapangan pengabdian, dunia tulis-menulis mengundang siapa saja untuk menyumbangkan pikiran-pikiran terbaiknya melalui karya yang bermanfaat bagi banyak orang.

Dibandingkan dengan penduduknya, jumlah penulis di negeri kita ini masih sangat sedikit. Kalau kita bertanya kepada pelajar atau mahasiswa siapa penulis favorit mereka, mereka lebih hapal dengan nama-nama penulis asing. Tentu ini ada hubungannya dengan membanjirnya novel dan komik terjemahan di toko-toko buku kita.

Para penerbit memiliki pertimbangan sendiri mengapa mereka lebih suka menerbitkan buku-buku terjemahan daripada buku karya anak bangsa sendiri. Pertimbangan utamanya tentu soal pasar buku terjemahan yang sudah pasti. Karena mereka biasanya membeli copyrights buku-buku yang di negeri asalnya menjadi best seller. Dengan hanya meletakkan logo international best seller pada sampul buku terjemahannya, dipastikan buku itu akan habis terjual.

Pertimbangan lainnya karena para penerbit kekurangan naskah buku yang potensial dari dalam negeri, padahal sebagai lembaga bisnis mereka harus terus memutarkan roda perusahaannya. Berapa buku yang terbit di Indonesia? Ternyata, jumlah buku baru yang terbit di Indonesia hanya sekitar 8 ribu judul per tahun. Jumlah itu jauh lebih rendah dibandingkan negara Asia Tenggara lain, seperti Malaysia yang menerbitkan 15 ribu judul per tahun atau Vietnam yang mencapai 45 ribu judul per tahun.

Ini tentu fakta yang menyedihkan. Bagaimana mungkin negeri dengan penduduk 237 juta jiwa kekurangan buku dan penulis. Memang sih, kita bisa mengatakan bahwa bangsa ini dibesarkan oleh tradisi lisan (oral) sehingga tidak terbiasa menulis. Itu adalah alasan klise yang tidak sepatutnya dijadikan halangan psikologis (mental block). Justru seharusnya ia menjadi faktor pendorong bagi tumbuhnya minat pada dunia tulis-menulis.

Dalam ungkapan “negeri ini kekurangan penulis” sebenarnya juga terselip undangan kepada generasi muda untuk menekuni profesi ini. Dunia tulis-menulis adalah dunia yang pintunya masih terbuka lebar dan bisa dimasuki siapa saja. Kalau kita tidak masuk ke dalamnya maka orang lainlah yang akan memasukinya. Orang lain itu adalah para penulis asing yang menjadi tuan di negeri kita. Dalam suatu diskusi saya bertanya kepada peserta siapa penulis Indonesia yang paling dia sukai, dan dia menjawab Kahlil Gibran. Hallooooooo… Kahlil Gibran itu penulis Libanon, bro, masak sih tidak tahu.

Pada kesempatan yang sama saya juga menanyakan kepada peserta lain, siapa penyair Indonesia yang dia kenal, dia menjawab Chairil Anwar. Beberapa peserta yang lain juga menyebut nama penyair Angkatan 45 itu. Wooooyyyyy… masak hari gini penyair Indonesia masih juga Chairil Anwar. Mau dikemanakan WS Rendra, Taufiq Ismail, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Hamid Jabbar, Acep Zamzam Noor, Afrizal Malna, Hasan Aspahani, Agus R. Sarjono, Joko Pinurbo, Jamal D. Rahman, Hanna Fransisca, Susy Ayu, Weni Suryandari…??

Aaahhh… sudahlah! Masyarakat kita memang kurang akrab dengan dunia tulis-menulis. Dan ini menjadi tantangan bagi kita semua untuk terus memenuhi ingatan mereka dengan kreativitas kita sehingga suatu hari nanti akan tercipta masyarakat yang menghargai karya negeri sendiri.

Tulisan di atas disampaikan pada Workshop dan Pelatihan Menulis di Kampus Asia Afrika, Pamulang, Tangsel, 8 Desember 2012.

 *) Tentang WriterPreneurship, selengkapnya silakah Anda baca di buku saya: “WriterPreneurship: Bisnis dan Idealisme di Dunia Penulisan” (Penerbit Referensi, 2012).

Follow Twiter saya: @AhmadGaus — FB: Gaus Ahmad — email: gausaf@yahoo.com

The Myth of Religious Violence — Diskusi Ciputat School

Ihsan Alief dan Martin L Sinaga dalam diskusi buku di Ciputat School
Ihsan Alief dan Martin L Sinaga dalam diskusi buku di Ciputat School

Sekularisme Ramah Agama
Sabtu, 01 Desember 2012 10:41

Sepatutnyakah bahasa-bahasa agama yang cenderung agresif dan menganjurkan kekerasan diberi kesempatan untuk memasuki ruang publik? Jika ya, mekanisme politik seperti apa yang bisa mewadahinya? Lantas, bagaimana membangun percakapan yang tepat antara agama dan yang sekular?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendominasi jalannya diskusi dan bedah buku “The Myth of Religious Violence: Secular Ideology and the Roots of Modern Conflict” karya William T. Cavanaugh, Jumat malam, 30 November 2012, di kompleks Futsal Camp, Ciputat. Buku terbitan tahun 2009 ini dikupas bersama-sama dalam sebuah forum diskusi terbatas yang bernama Ciputat School dengan melibatkan kalangan intelektual, akademisi, dan aktivis. Forum yang diinisiasi intelektual progresif dari Yayasan Paramadina Ihsan Ali Fauzi yang juga dikenal gigih mengkader anak-anak muda ini menggelar perbincangan rutin setiap bulan bertema agama dan demokrasi dengan cara membedah buku-buku penting yang relevan dengan sebuah gagasan sekaligus gerakan baru: Indonesia tanpa diskriminasi.

Dalam kesempatan tersebut Dr. Martin Lukito Sinaga didapuk menjadi pembedah utama buku Cavanaugh. Pengajar Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta ini menjelaskan bahwa dengan menempuh jalan mengurai dan menelanjangi mitos-mitos yang sengaja dibangun oleh narasi besar Pencerahan Barat perihal agama yang dituduh selalu menjadi sumber kekerasan, Cavanaugh berikhtiar menawarkan gagasan public religion yang sebelumnya dikembangkan oleh Jose Casanova.

Melalui buku ini Martin, yang juga seorang pendeta, mengamini pentingnya deprivatisasi agama agar dunia modern yang sekular tidak melulu mencurigai agama sebagai biang kekerasan dan perang, tidak pula bernafsu meng-kandang-kan agama di ruang privat. Terlebih, paska tragedi penyerangan menara kembar WTC 11 September 2001 memicu para sarjana dan kalangan intelektual di dunia internasional mewacanakan agar ruang publik mengakomodir secara adil, setara, bahasa-bahasa agama yang universal sebagaimana pula langgam-langgam sekular lainnya.

Sebab, pandangan bahwa agama membawa “cacat bawaan” menyukai kekerasan lantaran kecenderungannya yang absolut, serba membedakan, fanatik, dan tidak rasional adalah temuan khas dunia modern Barat yang terlanjur merebak mendalam di sanubari kaum terdidik di penjuru dunia. Sehingga, kebenarannya tidak dipertanyakan lagi. Agama dianggap berbeda dengan institusi sekular (seperti ekonomi dan politik), yang selalu bekerja dengan prinsip penuh perhitungan, bernalar dan terbuka pada negosiasi. Dan, karena itulah ruang publik harus bersih dan bebas dari “asap agama” dengan membiarkan negara modern mengelola segenap hajat publik termasuk memegang kendali atas konflik dan kekerasan yang terjadi di dalamnya.

Padahal, tanpa bermaksud untuk mengenyampingkan bahwa agama bisa menjadi sumber kekerasan, Cavanaugh yang merupakan rohaniawan Katholik itu justru hendak menandaskan: sejatinya agama dan institusi-institusi sekular seperti negara-bangsa, nasionalisme, dan lainnya sama-sama bisa melakukan kedurjanaan dalam derajat yang absolut dan tidak masuk akal.

Demikian Martin di depan para peserta diskusi yang hadir: Dr. Ali Munhanif, Dr. Chaidir S. Bamualim, Nur Iman Subono (Boni), Elza Peldi Taher, Ahmad Gaus AF, Anick HT, Novriantoni Kahar, Saidiman Ahmad, Zuhairi Misrawi, dan aktivis muda lainnya, demi melanjutkan argumentasi agar sekularisme tidak berlaku semena-mena menyingkirkan agama, sebaliknya memberikan ruang kepada agama dengan public reasoning-nya untuk terlibat dalam urusan-urusan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Model bincang interaktif yang diselenggarakan Ciputat School dalam menyuguhkan oase diskusrsus demokrasi dan kebebasan beragama dari buku-buku terbaik dan berpengaruh selalu menghadirkan para pakar di bidangnya di antaranya Martin Sinaga dan bulan-bulan sebelumnya Lies Marcoes-Natsir, Ulil Abshar Abdalla (JIL), Trisno Sutanto, Ahmad Syafii Mufid (Ketua FKUB Jakarta), dan sebagainya. Beberapa kali menghadirkan para penulisnya langsung seperti Djohan Effendi, Zainal Abidin Bagir (CRCS-UGM), dan lain-lain.

Pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang menggelitik dari forum diskusi pada Jumat malam itu dan mesti menjadi permenungan bersama bangsa ini untuk membangun hubungan agama dan negara yang demokratis mempromosikan HAM: jika dikembalikan masuk ke ruang publik, apakah yang mesti tampil adalah agama yang terlebih dahulu ditapis agar menjadi rasional dan masuk akal atau masih memungkinkankah menghadirkan bahasa-bahasa asli, tanpa penafsiran, sehingga sama sekali tidak mereduksi agama itu sendiri? Jika sekularisme harus ramah dan toleran pada agama, apakah sebaliknya agama bisa ramah dan toleran terhadap sekularisme? (Thowik SEJUK)

Dikutip oleh @AhmadGaus dari: http://sejuk.org/berita/61-berita/276-sekularisme-yang-ramah-agama.html

Kota-kota dalam Koloni Airmata

Hujan menepi pada dinding beton rumah-rumah yang menyekap ingatan tentang rasa sakit. Sejarah yang dikubur oleh cairan timah yang membeku dalam tubuh orang-orang yang mengaumkan kepedihan. Dalam reportoar para pembenci di atas panggung yang disulap menjadi zona perang.

Para penjaga malam negeri ini menjerit kesakitan. Mencabut luka satu demi satu reruntuhan peradaban yang telah asing. Orang-orang menjelma serigala—mencabik-cabik tubuh mereka sendiri, menggali urat nadi untuk menghanyutkan rasa sakit yang mengeras dalam genangan darah.

Mereka berbaris membentuk pasukan burung, berarak di atas langit yang robek oleh desingan peluru. Para malaikat melantunkan salawat, memisahkan roh-roh jahat dari butiran hujan—sebab hujan adalah airmata yang menguap ke angkasa, tangisan yang direnggut penguasa-penguasa durjana.

Kota-kota kini dalam koloni airmata dan kabut dan dingin yang menebal di setiap persendian. Orang-orang bergegas memburu bayangan langit yang runtuh menjadi percikan api. Semua mimpi berserakan dan terbakar. Sebab mereka tak mampu lagi membedakan warna senja dan fajar yang mulai menyingsing di kaki bukit.

Hukum Bermazhab dalam Sastra dan Pintu Ijtihad Puisi yang Tidak Pernah Ditutup

Pengantar untuk Buku Puisi Esai:
KUTUNGGU KAMU DI CISADANE
Oleh Ahmad Gaus

Duapuluh tahun kemudian saya kembali menulis puisi. Selama rentang waktu itu saya hanya menulis artikel opini atau kolom di media massa, serta sejumlah buku. Dunia puisi sudah saya tinggalkan, dan nyaris tidak pernah diingat lagi. Saya sudah menganggapnya sebagai masa lalu, catatan kelam dalam karir kepenulisan saya.

Tahun 1991 adalah puncak kebencian saya terhadap puisi—kurun waktu di mana saya banyak menulis dan mengirimkan puisi-puisi saya ke media massa, tapi tidak pernah dimuat. Akhirnya saya muat sendiri dalam majalah mahasiswa yang saya pimpin. Mungkin ini pelajaran penting: seorang penulis tidak perlu bisa menuangkan gagasannya ke dalam semua bentuk tulisan. Saya merasa tidak berbakat menulis karya fiksi seperti puisi dan cerpen (cerita pendek). Ada cerpen yang saya tulis sejak tahun 2007 dan sampai sekarang belum juga selesai. Ada juga puisi yang saya selesaikan selama 3 tahun, padahal puisi itu pendek saja. Mungkin karena saya menuliskannya dengan keraguan yang sempurna—keraguan bahwa saya tidak berbakat menjadi penyair!

Tetapi, saya memang tidak bercita-cita menjadi penyair. Bahkan sampai sekarang. Perkara dulu—saat remaja—saya suka menulis puisi, biasanya karena sedang jatuh cinta. Ada juga puisi-puisi yang saya tulis karena perasaan “dendam” kepada sejumlah penyair yang begitu licik bermain dengan kata-kata. Sejak duduk di bangku Tsanawiyah/SMP saya membaca puisi-puisi karya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, dan yang lainnya, dengan kekaguman yang meletup-letup. Lalu saya mencoba meniru mereka, menulis puisi. Kemudian saya mengirimkannya ke media massa. Untuk sebagian besar saya tidak tahu nasib puisi-puisi itu, mungkin masuk dalam keranjang sampah. Ada juga redaksi yang berbaik hati mengembalikannya dalam amplop tertutup, dan saya membukanya dengan tangan gemetar di toilet sekolah. Isinya selalu saja: Anda belum beruntung!

Maka saya segera memutar haluan. Energi dan waktu tidak ingin lagi disia-siakan untuk sesuatu yang tidak pasti. Saya kembali melanjutkan kebiasaan menulis artikel opini. Sejak duduk di bangku kelas 2 Aliyah/SMA artikel dan esai saya sudah dimuat di beberapa koran. Saya masih ingat honor pertama saya dikirimkan melalui pos wesel dan nyangkut di Balai Desa. Bapak Ketua RT di kampung saya, Haji Aman namanya, memberikannya kepada saya saat bertemu di mushalla sebelum salat magrib. Sambil menyerahkan itu, entah mengapa dia begitu iseng mengumumkan kepada para jamaah salat magrib jumlah yang tertera dalam wesel sebesar Rp7.500,00. Itu tahun 1986.

Ketika mulai duduk di bangku kuliah, tulisan-tulisan saya mengalir lebih deras. Bahkan saat duduk di semester empat, saya diberi kehormatan untuk mengisi kolom tetap di harian Jayakarta (kalau tidak salah diterbitkan oleh Kodam Jaya). Koran itu, seperti juga koran-koran lainnya hanya membuka rubrik budaya pada edisi minggu. Saya pun kerap membaca puisi-puisi dari para penyair yang tersebar di koran-koran edisi minggu itu. Tentu saja saya juga membaca majalah sastra seperti Horison. Jadi, walaupun tidak menulis puisi, diam-diam saya tetap menikmatinya.

Hampir semua puisi yang saya baca di media massa sebenarnya merupakan puisi yang sulit untuk dipahami. Saya sendiri menikmatinya bukan terutama karena saya dapat memahaminya, melainkan justru karena saya tidak memahaminya. Ada pola yang—entah dari mana dan sejak kapan—membentuk semacam kesadaran dalam diri saya bahwa semakin sulit sebuah puisi dipahami, semakin baik bagi saya. Semakin abstrak bahasanya semakin indah.

Membaca puisi ialah memasuki lorong-lorong gelap yang saya tidak tahu apakah di kiri-kanannya ada ranjau dan di ujung sana ada jurang. Tapi saya sudah terbiasa menikmati berada di dalam kegelapan itu. Sebuah puisi—seperti juga sebuah lukisan—yang mendorong lahirnya banyak penafsiran menunjukkan kekayaan makna puisi tersebut. Guru bahasa Indonesia saya di SMA dulu mengatakan bahwa puisi Chairil Anwar yang berjudul “Nisan” ditafsirkan berbeda-beda oleh para pengamat sastra asing. Begitu juga puisi pendek dari Sitor Situmorang berjudul Malam Lebaran, isinya hanya satu baris /”Bulan di atas kuburan”/ namun menimbulkan ragam penafsiran. Semakin banyak tafsir semakin baik, karena itu berarti puisi tersebut sangat kaya makna.

***
Belakangan saya tahu bahwa pola pikir semacam itu tidak bebas pengaruh. Ada semacam discourse dalam dunia perpuisian yang menghegemoni kesadaran publik bahwa yang disebut puisi ialah “ini”, bukan “itu”. Estetika puisi ialah “begini”, dan bukan “begitu”. Mungkin itu yang membuat puisi semakin rigid. Dunianya dikelilingi oleh tembok tinggi, di dalamnya hanya terdapat para penyair yang duduk satu meja dengan sesama penyair sambil minum anggur, mendiskusikan hal-hal penting tentang senja dan pohon cemara. Sementara itu—mengutip Chairil Anwar—“mereka yang bukan penyair tidak ambil bagian.”

Di tangan para penyairlah, hidup dan matinya puisi dipertaruhkan. Publik tidak ambil bagian karena mereka hanya konsumen—seperti umat dalam tradisi keagamaan yang harus ikut saja apa kata ulama. Hukum mana yang boleh diikuti dan tidak, sudah ada ketentuannya. Para penyair juga kerap diperlakukan seperti ulama yang kepada mereka dinisbatkan mana karya puisi dan mana yang bukan, mana sekte kepenyairan yang benar dan mana aliran sesat. Puisi-puisi jenis baru tidak tercipta karena seakan-akan ada paham bahwa “pintu ijtihad sudah ditutup”. Para penyair baru harus mengikuti saja salah satu mazhab yang sudah ada.

Jika benar begitu, maka inilah saat dimana dunia perpuisian sebenarnya justru membutuhkan lahirnya tradisi baru yang memberi nafas baru bagi dunia literasi. Sejarah kesusastraan di tanah air mencatat adanya dinamika pembaruan semacam itu, dan meletakkannya dalam arus perubahan budaya. Begitulah pergeseran dari Angkatan Balai Pustaka ke Pujangga Baru, kemudian Angkatan 1945, dan seterusnya. Karena itu, kelahiran tradisi baru dalam penulisan puisi sejatinya akan memulihkan fungsi pembaruan dalam kesusastraan.

Atas dasar itu, saya sangat terkesan bahwa seorang Sapardi Djoko Damono memberi apresiasi yang begitu besar terhadap puisi-puisi esai karya Denny JA dalam buku Atas Nama Cinta. Kita tahu bahwa Sapardi merupakan salah satu “paradigma” dalam dunia perpuisian modern di tanah air. Ia menjadi kiblat bagi banyak penyair muda. Karya-karyanya diakui telah menjelma menjadi kerajaan estetika tersendiri—estetika lirisisme, seperti yang mengemuka dalam diskusi “Imperium Puisi Liris” di Bentara Budaya Jakarta, Maret 2008. Sebagian karya puisi yang lahir dari tangan penyair-penyair muda, saya kira, juga bercorak sapardian.

Puisi-puisi esai karya Denny JA adalah kekecualian terhadap paradigma sapardian tersebut. Puisi sapardian bercorak liris, sementara puisi Denny JA bercorak esai—maka kemudian diberi nama “puisi esai”, sebuah gabungan istilah yang juga baru dalam kesusastraan Indonesia.

Kenyataan bahwa Sapardi memberi apresiasi dan dorongan bagi lahirnya karya-karya puisi jenis baru, memperlihatkan bahwa ia tidak ingin melihat puisi Indonesia terperangkap dalam statisme. Ada kerinduan terhadap terobosan, karena selama puluhan tahun penulisan puisi mengalami stagnasi, tidak ada perubahan yang berarti. Padahal, “pintu ijtihad” untuk menciptakan puisi-puisi jenis baru tidak pernah ditutup, dan mazhab-mazhab dalam sastra juga bermunculan, misalnya dulu ada mazhab sastra realisme sosial, mazhab sastra untuk sastra—yang merupakan derivasi dari ideologi seni untuk seni (l’art pour l’art), mazhab sastra kontekstual yang dipelopori oleh Ariel Heriyanto dan Arief Budiman, dan belakangan ada mazhab sastra dakwah.

***
Saya sendiri, pada mulanya, membaca puisi-puisi esai Denny JA dengan perasaan heran dan penuh tanya; ini puisi atau bukan? Kok penuturannya bercerita. Rupanya pengaruh paradigma lirisisme masih sangat kuat dalam kesadaran saya, sehingga nyaris kehilangan perspektif untuk menilai sebuah karya puisi yang bukan dari mazhab lirisisme.

Setelah berulang-ulang membacanya, saya meyakini puisi jenis ini sebenarnya yang biasa dibaca di panggung-panggung agustusan karena mudah dipahami. Saya menyebut panggung agustusan untuk menunjukkan bahwa popularitas sebuah puisi ialah ketika ia dibaca oleh masyarakat awam di atas panggung, dan agustusan adalah panggung yang paling populis.

Membaca puisi esai mengingatkan saya pada jenis tulisan opini. Di dalamnya ada gagasan yang tidak disembunyikan. Dituangkan dalam format puisi, namun cara bertuturnya esai. Yakni, dengan bahasa komunikasi sehari-hari. Bukankah puisi itu sendiri sebenarnya ialah komunikasi? Saya berpikir bahwa siapa saja bisa membuat puisi semacam ini—yang bukan penyair pun bisa ambil bagian!

Maka saya mulai menulis kembali puisi, setelah lebih dari dua puluh tahun tidak melakukannya. Melalui puisi esai, saya menemukan cara baru beropini. Dan inilah lima buah puisi esai saya yang dimuat dalam antologi ini, yang semuanya memotret dinamika kehidupan sosio-politik dan religius di tanah air beserta para aktornya.
***

Seperti halnya ritual-ritual dalam agama Islam yang saya peluk, dimana ada hukum yang fleksibel untuk mengikuti salah satu mazhab, maka pilihan saya untuk bermazhab pada puisi esai ini pun ada di dalam kerangka fleksibilitas tersebut. Sebagai penganut mazhab Syafii saya tidak menuduh sesat penganut mazhab Hanafi, Hanbali, Maliki, bahkan Dja’fari (Syiah). Sebagai penganut mazhab puisi esai, saya juga tidak hendak menisbikan mazhab puisi liris, puisi eMbeling, dan sebagainya. Bahkan saya tetap mengapresiasi, menikmati, dan seandainya mampu, mencipta puisi-puisi jenis itu.

Kiranya tidak perlu saya menjelaskan satu persatu dari lima puisi esai saya yang dimuat dalam buku ini. Saya serahkan kepada pembaca untuk menilainya. Sebagai mazhab baru dalam sastra Indonesia, puisi esai niscaya terus mencari bentuk melalui berbagai kreasi, walaupun mungkin tidak akan ada, dan memang tidak perlu ada, bentuk final dan standar. Puisi-puisi saya ini boleh jadi hanya salah satu varian saja dari apa yang dinamakan puisi esai itu.

Sebelum menutup pengantar ini, saya ingin menyampaikan penghargaan yang tulus kepada banyak pihak yang memungkinkan terbitnya buku ini. Pertama-tama saya harus berterima kasih kepada Denny JA yang terus mendorong agar buku ini segera diterbitkan. Kritik, saran, dan masukan-masukannya telah menjadi bagian dari karya ini baik yang disampaikan melalui email maupun dalam berbagai pertemuan di Ciputat School—sebuah forum yang difasilitasi oleh Denny JA untuk menginspirasi pencerahan budaya.

Teman-teman lain di Ciputat School yang membaca naskah awal puisi-puisi ini juga ikut memberi masukan, bahkan kritik yang pedas, sehingga acapkali saya tidak bisa tidur nyenyak atas kritik-kritik tersebut. Namun saya tahu semuanya dilakukan dengan tulus demi kesempurnaan yang relatif. Para pegiat Ciputat School yang saya maksud ialah: Elza Peldi Taher, Jonminofri, Ihsan Ali Fauzi, Zuhairi Misrawi, Anick HT, Neng Dara Affiah, Novriantoni Kahar, Budhy Munawar-Rachman, Nur Iman Subono, Ali Munhanif, Jojo Rahardjo, dan lain-lain yang tidak cukup halaman untuk menyebutkannya satu persatu.

Teman-teman di Jurnal Sajak juga telah banyak memberi dukungan. Mereka adalah Agus R. Sarjono, Acep Zamzam Noor, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Tugas Suprianto, dan khususnya Jamal D Rahman, yang bersedia meluangkan waktu menulis kata pengantar untuk buku ini.

Akhirnya, buku ini dipersembahkan kepada para bidadari yang selalu menyemarakkan hari-hari saya dengan canda dan tawa mereka: istri tercinta, Jumiatie Zaini dan anak-anak kami, Alifya Kemaya Sadra dan Raysa Falsafa Nahla, serta keponakan kami yang tinggal bersama kami, Winda Widyana.
Karya ini jelas sangat jauh dari sempurna untuk dipublikasikan. Namun saya berpegang pada satu adagium di dunia penulisan: Terbitkan karyamu hari ini, besok engkau buat yang lebih baik lagi! Selamat membaca.

Ciputat, 1 Juli 2012
Ahmad Gaus

_________________________________________________________________________________________________________
Buku KUTUNGGU KAMU DI CISADANE tersedia di gerai-gerai Gramedia. Anda juga bisa memesan melalui alamat2 di bawah ini:

FB: Gaus Ahmad
Twitter: @AhmadGaus
Email: gausaf@yahoo.com
PIN: 21907D51
_________________________________________________________________________________________________________

Adakah yang lebih menakjubkan selain BUNGA FLAMBOYAN?

Di penghujung musim kemarau, ketika langit bergantian mengirimkan panas dan hujan, itulah saat flamboyan memperlihatkan kecantikannya. Di sepanjang jalan kita melihat bunga flamboyan bermekaran…

Bunga Flamboyan yang selalu menyala, sungguh menakjubkan

Flamboyant: the Amazing Flower

LUKISAN FLAMBOYAN
Puisi Ahmad Gaus

Seperti sungai yang mengalir
ribuan tahun lamanya menuju muara
aku ingin menujumu
beribu-ribu tahun lagi.

Seperti angin yang berhembus
menaburkan pupuk pada putik-putik kembang
aku ingin menyemaikan rindu
pada kelopak hatimu.

Langit kujadikan kanvas
tintanya air mata dan hujan
dan engkau yang terus berlari membawa keranjang
memunguti bunga-bunga flamboyan.

Aku ingin melukismu lagi
menggoreskan warna-warni pelangi pada rambut
dan bola matamu yang menyala
berguguran seperti cahaya.

_________________________________________________________________________

Kirimkan PUISI atau CATATAN INDAHMU tentang FLAMBOYAN. Saya akan beri kenang-kenangan buku untuk beberapa pengirim terbaik, dan akan diposting di blog ini. Buku terbaru saya KUTUNGGU KAMU DI CISADANE dan WRITERPRENEURSHIP: MEMBANGUN KARIR DI DUNIA PENULISAN.

Email: gausaf@yahoo.com
FB: Gaus Ahmad
Twitter: @AhmadGaus

Ditunggu ya 🙂

_________________________________________________________________________

Beberapa Persoalan dalam Isu dan Kasus Toleransi Agama di Indonesia

Oleh Ahmad Gaus

Toleransi Agama di Indonesia

Tanggal 16 Nopember ditetapkan sebagai Hari Toleransi Internasional. Ditetapkan sejak 16 Nopember 1995 oleh UNESCO – United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) – PBB. UNESCO mengadopsi Declaration of Principles on Tolerance – sebuah deklarasi yang menegaskan kembali pentingnya mempromosikan dan menjamin toleransi.

Tujuan Toleransi:

Untuk menangkal prasangka dan kebencian (Ban Ki-Moon, Sekretaris Jenderal PBB, pada pesan Perayaan Hari Toleransi 2011). Prasangka dan kebencian selalu disulut oleh ketidakmampuan kita menerima fakta sosiologis kemajemukan yang ada di sekitar kita.

Banyak aspek di sekitar kita yang memang secara given adalah beragam dan berbeda: suku, agama, ras, orientasi politik, orientasi seksual, dan lainnya. Terhadap berbagai keberagaman itu, tugas kita adalah mengakui dan menyantuninya.

Dengan mengakui dan menyantuni maka perbedaan bukanlah alat pembedaan yang melahirkan peminggiran bagi yang lain, hanya karena alasan berbeda.

Prinsip toleransi:
• Menghargai keberagaman
• Mengakui hak-hak asasi manusia

Keberagaman bukan hanya fakta tapi juga kebutuhan. Dengan meletakkan keberagaman sebagai kebutuhan, maka kita akan terus menerus mengupayakannya untuk tetap berbeda.

Cara Hidup
Toleransi hendaknya menjadi salah satu landasan dan cara kita hidup bersama.

Mengukur Kondisi Toleransi di Indonesia
Apakah toleransi beragama di Indonesia saat ini sudah cukup baik, sangat baik, buruk atau sangat buruk? Apa indikasinya?

Ciri terpenting dari kondisi toleransi di tanah air saat ini ialah toleransi yang pasif, atau biasa disebut ko-eksistensi (lazy tolerance). Hidup berdampingan secara damai. Tapi satu sama lain tidak saling peduli. Karena menganggap “masalahmu adalah masalahmu”, “masalahku adalah masalahku”.

Toleransi semacam ini nyaris tidak menyumbangkan energi bagi penguatan kohesi sosial. Kalau mau menciptakan toleransi yang kokoh, maka toleransi yang pasif itu harus ditingkatkan menjadi toleransi yang aktif-progresif, atau biasa disebut pro-eksistensi. Dalam kondisi ini, setiap elemen sosial yang berbeda (suku, agama), saling menguatkan dan memberdayakan satu sama lain. Contoh: Partisipasi dalam perayaan hari-hari besar keagamaan. Saling membantu dalam mendirikan rumah ibadah, dsb.

Persoalan dalam Toleransi Beragama

Toleransi antar umat beragama hingga kini masih diselimuti persoalan. Klaim kebenaran suatu agama terhadap agama lainnya mendorong penganutnya untuk memaksakan kebenaran itu dan bersifat sangat fanatik terhadap terhadap kelompok agama lain. Lebih tragis lagi ketika penyebaran kebenaran itu disertai aksi kekerasan yang merugikan korban harta benda dan jiwa. Fenomena kekerasan antar pemeluk agama hampir terjadi di seluruh belahan dunia.

Masalah Paradigma

Paradigma lama: Kompetisi misi agama dilakukan untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Dilakukan secara tidak sehat. Melanggar etika sosial bersama.

Paradigma baru: Kompetisi misi agama harus berjalan secara sehat dan menaati hukum yang disepakati. Kompetisi atau berlomba-lomba menjalankan kebaikan (fastabiqul khairat).
Jadi, orientasinya adalah pengembangan internal umat.

Paradigma lama: Misi agama seringkali mengundang pertentangan yang membawa kekerasan dan membangkitkan jihad atau perang antarpemeluk agama.

Paradigma baru: Kegiatan misi agama harus membawa persaudaraan universal (human brotherhood, ukhuwah basyariah). Dalam paradigma baru, ajakan agama-agama lebih mengacu kepada wacana etika kemanusiaan global, untuk menjawab isu-isu global dan lintas agama, seperti masalah kemiskinan, ketidakadilan, krisis lingkungan, pelanggaran HAM, dan sebagainya.

Paradigma lama: Mempersoalkan perbedaan dan menganggapnya sebagai ancaman. Tak jarang berujung dengan kekerasan, intimidasi, persekusi, dsb, yang dilakukan oleh kaum intoleran. (Baca: Para Penjahat Atas Nama Tuhan)

Paradigma baru: Mengacu pada platform bersama (common platform, kalimatun sawa), menganggap perbedaan sebagai kekuatan. Indonesia dipersatukan oleh perbedaan-perbedaan.

Para pendukung paradigma baru terus berupaya mengembangkan theology of religions, yaitu teologi yang tidak hanya milik satu agama, tetapi semua agama, atau teologi pluralis.

Peranan Para Tokoh

Dalam mengatasi krisis toleransi, peranan para pemuka agama, tokoh adat, pemerintahan dsb, sangat diperlukan.

• Pemuka agama: pendekatan religius (khutbah yang bersifat positif)
• Pemuka adat: pendekatan budaya
• Pemerintah: mengayomi dan berdiri di atas semua golongan. Menegakkan hukum.

Artikel di atas adalah materi “Workshop dan Pelatihan Penguatan Moderatisme di Kalangan Kaum Muda Lintas Agama di Papua (18 Januari 2012)” oleh Narasumber: Ahmad Gaus AF.

Materi tersebut sudah saya revisi dan kembangkan untuk kebutuhan diskusi dan seminar lintas agama. Silakan kalau mau mengundang saya untuk acara  sejenis itu, via email saya: gaus.unas@gmail.com

Pendekatan saya adalah teologis dan historis, dengan perspektif kebebasan beragama.  Bahan-bahan diambil dari buku di bawah ini, yang merupakan buku pertama di Indonesia yang mengangkat isu dialog agama dalam kacamata passing over.

IMG-20200517-WA0062

Baca juga: Kerukunan dan Toleransi Itu Beda, Son